From 9bbc0a2421f54cebb9ee55197d87aae2f4b366d1 Mon Sep 17 00:00:00 2001
From: Dirk Dougherty
+ Android N memberi Anda kesempatan untuk memastikan aplikasi bekerja pada
+ platform versi berikutnya. Pratinjau ini berisi beberapa API dan perubahan perilaku yang bisa
+ memengaruhi aplikasi Anda, sebagaimana dijelaskan dalam Ringkasan
+ API dan Perubahan Perilaku. Dalam menguji
+ aplikasi dengan pratinjau, ada beberapa perubahan sistem spesifik yang harus Anda fokuskan untuk
+ memastikan pengguna mendapatkan pengalaman yang bagus.
+
+ Panduan ini menjelaskan apa dan bagaimana menguji fitur pratinjau dengan aplikasi Anda. Anda harus
+ mengutamakan pengujian fitur pratinjau spesifik ini, dikarenakan pengaruhnya yang besar pada
+ perilaku aplikasi Anda:
+
+ Untuk informasi selengkapnya tentang cara menyiapkan perangkat atau perangkat maya dengan citra sistem pratinjau
+ untuk pengujian, lihat Menyiapkan
+Android N SDK.
+
+ Model Izin yang baru
+ mengubah cara alokasi izin untuk aplikasi Anda oleh pengguna. Sebagai ganti memberi semua
+ izin selama prosedur pemasangan, aplikasi Anda harus meminta izin kepada pengguna secara individual
+ pada waktu proses. Bagi pengguna, perilaku ini memberi kontrol yang lebih detail atas setiap aktivitas aplikasi, dan
+ juga konteks yang lebih untuk memahami sebab aplikasi meminta izin tertentu. Pengguna
+ bisa memberi atau mencabut izin yang diberikan pada suatu aplikasi secara individual kapan saja. Fitur
+ pratinjau ini kemungkinan besar memengaruhi perilaku aplikasi Anda dan mungkin menghambat fungsi beberapa
+ fitur aplikasi Anda, atau mengurangi kualitas kerjanya.
+
+ Perubahan ini memengaruhi semua aplikasi yang berjalan di platform baru, bahkan aplikasi yang tidak menargetkan versi
+ platform baru. Platform ini memberikan perilaku kompatibilitas terbatas untuk aplikasi lawas, namun Anda
+ harus mulai merencanakan migrasi aplikasi ke model izin baru sekarang juga, dengan tujuan
+ mempublikasikan versi terbaru aplikasi Anda saat peluncuran platform secara resmi.
+
+ Gunakan tip berikut untuk membantu Anda merencanakan dan menjalankan pengujian aplikasi dengan
+ perilaku izin yang baru.
+
+ Perubahan izin memengaruhi struktur dan desain aplikasi Anda, begitu juga
+ pengalaman pengguna dan alur yang Anda sediakan untuk pengguna. Anda harus menilai penggunaan izin
+ aplikasi saat ini dan mulai merencanakan alur baru yang ingin ditawarkan. Rilis platform
+ resmi menyediakan perilaku kompatibilitas, namun Anda harus merencanakan pembaruan aplikasi dan tidak
+ bergantung pada perilaku ini.
+
+ Identifikasi izin yang sebenarnya diperlukan dan digunakan aplikasi Anda, kemudian temukan berbagai
+ jalur kode yang menggunakan layanan yang dilindungi izin. Anda bisa melakukan ini melalui kombinasi
+ pengujian pada platform baru dan analisis kode. Dalam pengujian, Anda harus fokus pada pemilihan
+ izin waktu proses dengan mengubah {@code targetSdkVersion} aplikasi ke versi pratinjau. Untuk
+ informasi selengkapnya, lihat Menyiapkan
+Android N SDK.
+
+ Uji dengan berbagai kombinasi izin yang dicabut dan ditambahkan, untuk menyoroti alur pengguna yang
+ bergantung pada izin. Jika dependensi tidak jelas atau logis, Anda harus mempertimbangkan
+optimalisasi atau kompartementalisasi alur tersebut untuk mengeliminasi dependensi atau menjelaskan alasan
+ diperlukannya izin.
+
+ Untuk informasi selengkapnya tentang perilaku izin waktu proses, pengujian, dan praktik terbaik, lihat
+ halaman pratinjau Izin
+ pengembang.
+
+ Fitur penghematan daya Istirahatkan dan Aplikasi Siaga membatasi jumlah pemrosesan latar belakang yang
+ bisa dikerjakan aplikasi Anda saat perangkat dalam keadaan diam atau saat aplikasi Anda sedang tidak fokus. Pembatasan
+ yang dapat diberlakukan oleh sistem pada aplikasi termasuk akses jaringan terbatas atau tidak ada,
+ tugas latar belakang yang ditangguhkan, Pemberitahuan yang ditangguhkan, permintaan membangunkan yang diabaikan, serta alarm. Untuk memastikan
+ aplikasi Anda berperilaku dengan benar pada optimalisasi penghematan daya ini, Anda harus menguji aplikasi dengan
+ menyimulasikan keadaan baterai yang sedang tinggal sedikit ini.
+ Untuk menguji Istirahatkan dengan aplikasi Anda: Untuk menguji mode Aplikasi Siaga dengan aplikasi Anda: Jika aplikasi Anda mempertahankan identifier perangkat spesifik, seperti ID pendaftaran Google
+Cloud Messaging, dalam penyimpanan internal,
+pastikan Anda mengikuti praktik terbaik untuk mengecualikan lokasi
+penyimpanan dari pencadangan otomatis, seperti dijelaskan dalam Auto
+Backup for Apps.
+ Bersama fitur dan kemampuan baru, Android N
+ menyertakan berbagai macam perubahan sistem dan perubahan perilaku API. Dokumen ini
+ menyoroti beberapa perubahan utama yang harus dipahami dan diperhitungkan
+ dalam aplikasi Anda.
+
+ Jika Anda sebelumnya telah mempublikasikan aplikasi untuk Android, ketahuilah bahwa aplikasi Anda
+ mungkin dipengaruhi oleh perubahan dalam platform.
+
+Android N menyertakan perubahan perilaku sistem yang bertujuan untuk meningkatkan daya tahan baterai
+perangkat dan mengurangi penggunaan RAM. Perubahan ini bisa memengaruhi akses aplikasi Anda ke
+sumber daya sistem, termasuk cara aplikasi Anda berinteraksi dengan aplikasi lain melalui
+intent implisit tertentu.
+
+ Diperkenalkan dalam Android 6.0 (API level 23), Istirahatkan meningkatkan daya tahan baterai dengan
+ menangguhkan aktivitas CPU dan jaringan bila pengguna tidak mencabut perangkat,
+ tidak bergerak, dan layar dinonaktifkan. Android N lebih
+ menyempurnakan Istirahatkan dengan menerapkan subset CPU dan pembatasan jaringan
+ bila perangkat dicabut dan layar dinonaktifkan, namun tidak harus
+ diam, misalnya, bila handset dibawa bepergian di saku pengguna.
+
+ Gambar 1. Ilustrasi tentang cara Istirahatkan menerapkan pembatasan
+ aktivitas sistem level pertama untuk meningkatkan daya tahan baterai.
+
+ Bila perangkat sedang menggunakan daya baterai, dan layar telah nonaktif selama jangka waktu
+ tertentu, perangkat akan memasuki Istirahatkan dan menerapkan subset pembatasan pertama: Perangkat
+ akan menutup akses jaringan aplikasi, serta menangguhkan pekerjaan dan sinkronisasi. Jika perangkat sedang
+ diam selama jangka waktu tertentu setelah memasuki Istirahatkan, sistem akan menerapkan
+ pembatasan Istirahatkan selebihnya terhadap alarm {@link android.os.PowerManager.WakeLock},
+ {@link android.app.AlarmManager}, GPS, dan pemindaian Wi-Fi. Tidak peduli
+ apakah sebagian atau semua pembatasan Istirahatkan diterapkan, sistem akan membangunkan
+ perangkat selama jeda pemeliharaan singkat, dan selama itu aplikasi diizinkan
+ mengakses jaringan dan bisa mengeksekusi semua pekerjaan/sinkronisasi yang telah ditangguhkan.
+
+ Gambar 2. Ilustrasi tentang cara Istirahatkan menerapkan pembatasan
+ aktivitas sistem level kedua setelah perangkat diam selama jangka waktu tertentu.
+
+ Perhatikan, mengaktifkan layar atau mencolokkan steker perangkat akan mengeluarkan dari Istirahatkan
+ dan membuang pembatasan pemrosesan ini. Perilaku tambahan ini tidak
+ memengaruhi rekomendasi dan praktik terbaik dalam menyesuaikan aplikasi Anda dengan versi
+ Istirahatkan sebelumnya yang diperkenalkan dalam Android 6.0 (API level 23), seperti yang dibahas di
+
+ Mengoptimalkan untuk Istirahatkan dan Aplikasi Siaga. Anda tetap harus
+ mengikuti rekomendasi itu, seperti menggunakan Google Cloud Messaging (GCM) untuk
+ mengirim dan menerima pesan, serta mulai merencanakan pembaruan
+ untuk mengakomodasi perilaku Istirahatkan tambahan.
+
+ Android N membuang tiga siaran implisit untuk membantu mengoptimalkan
+ penggunaan memori dan konsumsi daya. Perubahan ini penting karena siaran
+ implisit sering memulai aplikasi yang telah didaftarkan untuk mendengarkannya di
+ latar belakang. Membuang siaran ini bisa sangat menguntungkan
+ kinerja perangkat dan pengalaman pengguna.
+
+ Perangkat seluler seringkali mengalami perubahan konektivitas, seperti saat berpindah
+ antara Wi-Fi dan data seluler. Saat ini, aplikasi bisa memantau perubahan dalam
+ konektivitas dengan mendaftarkan suatu penerima untuk siaran implisit {@link
+ android.net.ConnectivityManager#CONNECTIVITY_ACTION} dalam manifes
+ mereka. Karena banyak aplikasi yang didaftarkan untuk menerima siaran ini, switch jaringan tunggal
+ bisa menyebabkan semuanya aktif dan memproses siaran tersebut
+ secara bersamaan.
+
+ Demikian pula, dalam Android versi sebelumnya, aplikasi bisa mendaftar untuk menerima siaran implisit {@link
+ android.hardware.Camera#ACTION_NEW_PICTURE} dan {@link
+ android.hardware.Camera#ACTION_NEW_VIDEO} dari aplikasi lain, seperti
+ Kamera. Bila pengguna mengambil gambar dengan aplikasi Kamera, semua aplikasi ini akan aktif
+ untuk memproses siaran.
+
+ Untuk meminimalkan masalah ini, Android N menerapkan optimalisasi
+ berikut:
+ Jika aplikasi Anda menggunakan intent ini, Anda harus membuang dependensi padanya
+ secepat mungkin agar Anda bisa menargetkan perangkat Android N dengan benar.
+ Kerangka kerja Android menyediakan beberapa solusi untuk mengurangi kebutuhan akan
+ siaran implisit ini. Misalnya, {@link
+ android.app.job.JobScheduler} API menyediakan mekanisme yang tangguh untuk menjadwalkan
+ operasi jaringan bila kondisi yang ditetapkan, seperti koneksi ke jaringan
+ berbiaya tetap, terpenuhi. Anda juga dapat menggunakan {@link
+ android.app.job.JobScheduler} untuk bereaksi terhadap perubahan pada penyedia materi.
+
+ Untuk informasi selengkapnya tentang optimalisasi latar belakang di N dan cara menyesuaikan aplikasi Anda,
+ lihat Optimalisasi
+ Latar Belakang.
+
+ Android N menyertakan perubahan pada izin yang bisa memengaruhi aplikasi Anda.
+
+ Guna meningkatkan keamanan file privat, direktori privat
+ aplikasi yang menargetkan Android N atau yang lebih tinggi memiliki akses terbatas (
+ Catatan: Seperti sebelumnya, pembatasan ini tidak sepenuhnya diterapkan.
+ Aplikasi mungkin masih memodifikasi izin ke direktori privat mereka menggunakan
+ API asal atau {@link java.io.File File} API. Akan tetapi, kami sangat
+ tidak menyarankan Anda meremehkan izin direktori privat.
+
+Untuk aplikasi yang menargetkan Android N, kerangka kerja Android menerapkan
+kebijakan {@link android.os.StrictMode} API yang melarang mengekspos URI {@code file://}
+di luar aplikasi Anda. Jika sebuah intent berisi URI file meninggalkan aplikasi Anda, aplikasi tersebut akan gagal
+dengan pengecualian {@code FileUriExposedException}.
+
+Untuk berbagi file antar aplikasi, Anda harus mengirim URI {@code content://}
+dan memberikan izin akses sementara pada URI. Cara termudah untuk memberikan izin ini adalah dengan
+menggunakan kelas {@link android.support.v4.content.FileProvider}. Untuk informasi selengkapnya
+mengenai izin dan berbagi file,
+lihat Berbagi File.
+
+ Android N menyertakan perubahan yang bertujuan meningkatkan kegunaan
+ platform untuk pengguna dengan penglihatan yang rendah atau lemah. Perubahan ini umumnya tidak
+ memerlukan perubahan kode dalam aplikasi Anda, akan tetapi Anda harus memeriksa
+ fitur ini dan mengujinya dengan aplikasi untuk menilai kemungkinan dampaknya terhadap pengalaman
+ pengguna.
+
+ Android N memungkinkan pengguna menyetel Display size yang akan memperbesar
+ atau memperkecil semua elemen pada layar, sehingga meningkatkan aksesibilitas perangkat
+ bagi pengguna yang kurang melihat. Pengguna tidak bisa memperbesar layar melewati lebar layar
+ minimum
+ sw320dp, yang merupakan lebar Nexus 4, yakni ponsel ukuran sedang pada umumnya.
+
+ Gambar 3. Layar di sebelah kanan menampilkan efek
+ penambahan Display size perangkat yang menjalankan citra sistem Android N.
+
+ Bila kepadatan perangkat berubah, sistem akan memberi tahu aplikasi yang sedang berjalan dengan
+ cara berikut:
+
+ Sebagian besar aplikasi tidak perlu melakukan perubahan untuk mendukung fitur ini, asalkan
+ aplikasi tersebut mengikuti praktik terbaik Android. Hal-hal tertentu yang harus diperiksa:
+
+ Catatan: Catatan: Jika Anda meng-cache data yang bergantung pada konfigurasi, ada
+ baiknya untuk menyertakan metadata yang relevan seperti ukuran layar
+ atau kepadatan piksel yang sesuai untuk data tersebut. Menyimpan metadata ini memungkinkan Anda untuk
+ memutuskan apakah Anda perlu segarkan data cache setelah perubahan
+ konfigurasi.
+
+ Android N menyertakan Vision Settings di layar Sambutan, di mana pengguna bisa
+ menyiapkan setelan aksesibilitas berikut pada perangkat baru:
+ Magnification gesture, Font size,
+ Display size dan TalkBack. Perubahan ini
+ meningkatkan visibilitas bug terkait dengan setelan layar yang berbeda. Untuk
+ mengurangi dampak fitur ini, Anda harus menguji aplikasi dengan setelan ini
+ diaktifkan. Anda bisa menemukannya pada Settings >
+ Accessibility.
+
+ Android N menyertakan perubahan ruang nama untuk mencegah pemuatan API non-publik.
+ Jika menggunakan NDK, Anda hanya boleh menggunakan API publik dari platform
+ Android. Menggunakan API non-publik dalam rilis Android resmi berikutnya
+ bisa menyebabkan aplikasi mogok.
+
+ Untuk memberi tahu Anda agar menggunakan API non-publik, aplikasi yang berjalan pada perangkat
+ Android N akan menghasilkan kesalahan dalam keluaran logcat bila aplikasi memanggil API non-publik.
+ Kesalahan ini juga ditampilkan di layar perangkat berupa pesan untuk membantu
+ meningkatkan kepedulian terhadap situasi ini. Anda harus memeriksa kode aplikasi untuk
+ membuang penggunaan API platform non-publik dan secara saksama menguji aplikasi Anda menggunakan
+ perangkat pratinjau atau emulator.
+
+ Jika aplikasi Anda bergantung pada pustaka platform, lihat dokumentasi NDK untuk
+ perbaikan tipikal guna menggantikan API privat umum dengan padanan API publik.
+ Anda mungkin juga menautkan ke pustaka platform tanpa menyadarinya,
+ terutama jika aplikasi Anda menggunakan pustaka yang merupakan bagian dari platform ini (seperti
+
+ Perhatian: Beberapa pustaka pihak ketiga mungkin menautkan ke API
+ non-publik. Jika menggunakan pustaka ini, aplikasi Anda bisa mogok saat dijalankan
+ pada rilis resmi Android berikutnya.
+
+ Aplikasi tidak boleh bergantung pada atau menggunakan pustaka bawaan yang tidak disertakan dalam
+ NDK, karena bisa mengalami perubahan, atau dipindahkan dari satu rilis Android ke
+ rilis lainnya. Peralihan dari OpenSSL ke BoringSSL merupakan satu contoh dari perubahan semacam ini.
+ Selain itu, perangkat yang berbeda bisa menawarkan tingkat kompatibilitas yang berbeda, karena
+ tidak ada persyaratan kompatibilitas untuk pustaka platform yang tidak disertakan
+ dalam NDK. Jika Anda harus mengakses pustaka non-NDK pada perangkat yang lebih lama, jadikan
+ pemuatan bergantung pada level Android API.
+
+ Untuk membantu Anda mendiagnosis tipe masalah ini ada beberapa contoh kesalahan Java dan NDK
+ yang mungkin Anda temui saat berusaha membangun aplikasi dengan Android N:
+ Contoh kesalahan Java: Contoh kesalahan NDK:
+ Inilah beberapa perbaikan tipikal untuk aplikasi yang mengalami tipe kesalahan ini:
+
+ Android N berisi perubahan untuk aplikasi yang menargetkan Android for Work, termasuk
+ perubahan pada pemasangan sertifikat, penyetelan ulang sandi, manajemen pengguna
+ tambahan, dan akses ke identifier perangkat. Jika Anda membangun aplikasi untuk
+ lingkungan Android for Work, Anda harus meninjau perubahan ini dan memodifikasi
+ aplikasi sebagaimana mestinya.
+
+ Untuk informasi selengkapnya tentang perubahan Android for Work di Android N, lihat
+ Pembaruan Android for Work.
+
+Android N memperbaiki bug dengan visibilitas anotasi diabaikan.
+Masalah ini mengaktifkan waktu proses untuk mengakses anotasi yang seharusnya tidak bisa
+dilakukan. Anotasi ini termasuk:
+
+Jika aplikasi Anda mengandalkan perilaku ini, tambahkan kebijakan retensi untuk anotasi yang harus
+tersedia di waktu proses. Caranya dengan menggunakan {@code @Retention(RetentionPolicy.RUNTIME)}.
+
+Anda harus menguji aplikasi untuk memastikan
+perilaku ini tidak terjadi.
+Anda bisa melakukannya dengan menyebabkan suatu mogok yang identik
+saat mematikan aplikasi secara manual melalui DDMS.
+
+Aplikasi yang menargetkan N dan yang di atasnya tidak secara otomatis dimatikan saat perubahan kepadatan;
+akan tetapi, aplikasi tersebut mungkin tetap merespons perubahan konfigurasi dengan buruk.
+
+ Contoh kode berikut disediakan untuk Android N. Untuk
+ mengunduh contoh di Android Studio, pilih opsi menu File > Import
+ Samples.
+
+ Catatan: Proyek yang bisa diunduh ini didesain
+ untuk digunakan bersama Gradle dan Android Studio.
+
+ Contoh ini memperagakan cara memanfaatkan antarmuka pengguna
+ multi-jendela bersama aplikasi Anda.
+
+ Ini adalah contoh yang sudah ada sebelumnya, menampilkan layanan sederhana yang mengirimkan
+ pemberitahuan menggunakan NotificationCompat. Setiap percakapan yang belum dibaca dari pengguna
+ dikirimkan sebagai pemberitahuan berbeda.
+
+ Contoh ini telah diperbarui untuk memanfaatkan fitur pemberitahuan baru
+ yang tersedia di Android N.
+
+ Ini adalah contoh yang telah ada sebelumnya yang memperagakan cara menggunakan
+ NotificationManager untuk memberi tahu jumlah pemberitahuan yang saat ini ditampilkan
+ oleh aplikasi.
+
+ Contoh ini telah diperbarui untuk memanfaatkan fitur pemberitahuan baru
+ yang tersedia di Android N.
+
+ Contoh ini memperagakan cara menyimpan dan mengakses data dalam penyimpanan yang dienkripsi
+ dengan perangkat yang selalu tersedia saat perangkat booting.
+
+ Contoh ini memperagakan cara membaca dan menulis data dari direktori
+ spesifik, sekaligus meminta izin lebih sedikit.
+ Android N masih dalam pengembangan aktif, namun Anda bisa mencobanya
+sekarang sebagai bagian dari N Developer Preview. Bagian-bagian di bawah ini akan menyoroti sebagian dari
+fitur baru untuk pengembang.
+ Pastikan memeriksa Perubahan Perilaku untuk mengetahui selengkapnya tentang
+ bagian-bagian perubahan platform yang bisa memengaruhi aplikasi Anda, lihatlah
+ panduan pengembang untuk mengetahui selengkapnya tentang fitur-fitur utama, dan unduh Referensi API untuk mengetahui detail tentang
+ API baru.
+ Di Android N, kami memperkenalkan fitur multitasking baru dan yang banyak diminta
+ke dalam platform — dukungan multi-jendela. Pengguna sekarang bisa membuka dua aplikasi sekaligus di layar.
+ Gambar 1. Aplikasi yang berjalan dalam mode layar terbagi.
+ Khususnya pada tablet dan perangkat yang berlayar lebih besar lainnya, dukungan multi-jendela
+memberi Anda cara baru untuk memikat pengguna. Anda bahkan bisa mengaktifkan fitur seret-dan-lepas di
+aplikasi untuk memudahkan pengguna menyeret materi ke dan dari aplikasi — cara bagus
+untuk menyempurnakan pengalaman pengguna Anda. Tidak sulit menambahkan dukungan multi-jendela ke aplikasi Anda dan mengonfigurasi cara
+menangani tampilan multi-jendela. Misalnya, Anda bisa menetapkan dimensi
+minimum yang diizinkan aktivitas, sehingga mencegah pengguna mengubah ukuran aktivitas di bawah
+ukuran itu. Anda juga bisa menonaktifkan tampilan multi-jendela untuk aplikasi Anda, yang
+ akan memastikan sistem hanya menampilkan aplikasi dalam mode layar penuh.
+ Untuk informasi selengkapnya, lihat dokumentasi pengembang Dukungan Multi-Jendela.
+
+ Di Android N kami telah mengubah desain pemberitahuan agar lebih mudah dan lebih cepat
+digunakan. Beberapa perubahan tersebut antara lain:
+ Gambar 2. Bundel pemberitahuan dan balasan langsung.
+ Untuk mengetahui cara mengimplementasikan fitur-fitur
+ baru ini, lihat panduan Pemberitahuan.
+ Di Android N, kami telah menambahkan compiler Just in Time (JIT) dengan pembuatan profil kode ke
+ART, yang memungkinkannya terus meningkatkan kinerja aplikasi Android saat
+dijalankan. Compiler JIT melengkapi compiler Ahead of Time (AOT) pada ART
+dan membantu memperbaiki kinerja waktu proses, menghemat ruang penyimpanan, dan mempercepat
+pembaruan aplikasi serta pembaruan sistem. Kompilasi yang dipandu profil memungkinkan ART mengelola kompilasi AOT/JIT untuk setiap aplikasi
+sesuai dengan penggunaan sebenarnya, serta kondisi pada perangkat. Misalnya
+,ART menyimpan profil setiap metode terbaik aplikasi dan bisa melakukan kompilasi lebih awal
+serta menyimpan sementara metode-metode tersebut di cache untuk mendapatkan kinerja terbaik. Hal ini membuat bagian lain dari aplikasi
+dibiarkan tidak dikompilasi hingga benar-benar digunakan. Di samping meningkatkan kinerja bagian-bagian penting aplikasi, kompilasi yang dipandu profil
+membantu mengurangi footprint RAM keseluruhan aplikasi, termasuk biner
+terkait. Fitur ini terutama penting pada perangkat dengan memori minim. ART mengelola kompilasi yang dipandu profil dengan cara yang meminimalkan dampak terhadap
+baterai perangkat. ART melakukan prakompilasi hanya bila perangkat sedang diam dan
+mengisi daya, sehingga menghemat waktu dan baterai dengan melakukan pekerjaan tersebut di awal. Salah satu manfaat paling nyata dari compiler JIT pada ART adalah kecepatan
+pemasnagan aplikasi dan pembaruan sistem. Bahkan aplikasi besar yang membutuhkan beberapa menit untuk
+dioptimalkan dan dipasang di Android 6.0 sekarang bisa dipasang hanya dalam hitungan
+detik. Pembaruan sistem juga lebih cepat, karena tidak ada lagi langkah optimalisasi. Android 6.0 memperkenalkan Istirahatkan, yaitu mode sistem yang menghemat baterai dengan menangguhkan
+aktivitas CPU dan jaringan di aplikasi bila perangkat sedang diam, misalnya saat
+diletakkan di atas meja atau dalam laci. Sekarang di Android N, Istirahatkan selangkah lebih maju dalam menghemat baterai kapan saja.
+Setiap kali layar mati dalam jangka waktu tertentu dan perangkat tidak terhubung ke sumber daya,
+Istirahatkan akan menerapkan subset pembatasan umum CPU dan jaringan pada aplikasi.
+Artinya pengguna bisa menghemat daya baterai meskipun perangkat dibawa di dalam
+tasnya.
+ Gambar 3. Istirahatkan sekarang menerapkan
+ pembatasan untuk meningkatkan daya tahan baterai bahkan saat perangkat sedang tidak diam.
+ Tidak lama setelah layar dimatikan saat perangkat menggunakan daya baterai, Istirahatkan
+akan membatasi akses jaringan serta menangguhkan pekerjaan dan sinkronisasi. Selama jeda
+pemeliharaan, aplikasi diizinkan mengakses jaringan dan menjalankan semua
+pekerjaan/sinkronisasi yang ditangguhkan. Menyalakan layar atau mencolokkan perangkat akan mengeluarkan
+perangkat dari Istirahatkan. Bila perangkat dalam kondisi diam lagi, dengan layar mati dan menggunakan daya baterai selama
+jangka waktu tertentu, Istirahatkan akan menerapkan pembatasan CPU dan jaringan pada {@link
+android.os.PowerManager.WakeLock}, alarm {@link android.app.AlarmManager}, dan
+pemindaian GPS/Wi-Fi. Praktik terbaik untuk menyesuaikan aplikasi Anda dengan Istirahatkan adalah sama, baik
+perangkat sedang bergerak maupun diam, jadi jika Anda sudah memperbarui aplikasi untuk
+menjalankan Istirahatkan dengan lancar, berarti Anda sudah siap. Jika belum, mulailah menyesuaikan
+aplikasi Anda dengan Istirahatkan sekarang juga. Project Svelte merupakan upaya berkelanjutan untuk meminimalkan penggunaan RAM oleh sistem dan aplikasi
+di semua jenis perangkat Android dalam ekosistem. Di Android N, Project
+Svelte berfokus pada optimalisasi cara aplikasi berjalan di latar belakang. Proses latar belakang merupakan bagian terpenting dari sebagian besar aplikasi. Bila ditangani dengan benar, proses
+ini bisa memberikan pengalaman pengguna yang mengagumkan — segera, cepat, dan sesuai konteks.
+Bila tidak ditangani dengan benar, proses latar belakang bisa menguras RAM (dan
+baterai) yang sebenarnya tidak perlu serta memengaruhi kinerja sistem untuk aplikasi lain. Sejak Android 5.0, {@link android.app.job.JobScheduler} telah menjadi
+cara yang disukai untuk melakukan pekerjaan latar belakang dengan cara yang baik
+bagi pengguna. Aplikasi bisa menjadwalkan pekerjaan sekaligus memungkinkan sistem mengoptimalkan berdasarkan
+kondisi memori, daya, dan konektivitas. JobScheduler menawarkan kontrol serta
+kemudahan, dan kami ingin semua aplikasi menggunakannya.
+ Opsi baik lainnya adalah
+ Kami terus memperluas Di Android N kami membuang tiga siaran implisit yang umum digunakan —
+ {@link android.net.ConnectivityManager#CONNECTIVITY_ACTION}, {@link
+ android.hardware.Camera#ACTION_NEW_PICTURE}, dan {@link
+ android.hardware.Camera#ACTION_NEW_VIDEO} — karena ketiganya bisa mengaktifkan
+proses latar belakang pada beberapa aplikasi sekaligus serta menguras memori dan baterai. Jika
+aplikasi Anda menerimanya, manfaatkan N Developer Preview untuk
+ beralih ke
+ Lihat dokumentasi Optimalisasi
+ Latar Belakang untuk mengetahui detailnya.
+
+ Gambar 4. Data Saver di Settings.
+ Selama penggunaan perangkat seluler, biaya paket data seluler biasanya
+ melebihi harga perangkat itu sendiri. Bagi banyak pengguna, data seluler adalah sumber daya
+mahal yang ingin mereka hemat. Android N memperkenalkan mode Data Saver, layanan sistem baru yang mengurangi
+penggunaan data seluler oleh aplikasi, baik saat roaming, mendekati akhir siklus tagihan,
+atau saat menggunakan paket data prabayar yang kecil. Data Saver memberi pengguna kemampuan mengontrol cara aplikasi
+menggunakan data seluler dan memungkinkan pengembang memberikan layanan yang lebih efisien bila Data
+Saver aktif. Bila pengguna mengaktifkan Data Saver di Settings dan perangkat
+dalam jaringan berkuota, sistem akan memblokir penggunaan data latar belakang dan memberi tahu aplikasi
+untuk menghemat penggunaan data latar depan — misalnya dengan membatasi
+kecepatan bit untuk streaming, mengurangi kualitas gambar, menangguhkan precaching optimistik,
+dan seterusnya. Pengguna bisa memasukkan aplikasi tertentu ke daftar putih untuk memungkinkan penggunaan data berkuota
+bila Data Saver diaktifkan. Android N memperluas {@link android.net.ConnectivityManager} untuk menyediakan cara pada aplikasi
+untuk mengambil
+preferensi Data Saver pengguna dan memantau
+perubahan preferensi. Semua aplikasi harus memeriksa apakah pengguna telah mengaktifkan Data
+Saver dan berusaha membatasi penggunaan data latar belakang dan latar depan.
+ Android N mengintegrasikan Vulkan™, sebuah API rendering 3D baru, ke dalam platform. Seperti
+ OpenGL™
+ ES, Vulkan merupakan standar terbuka untuk grafik 3D dan rendering yang dikelola
+ oleh Khronos Group.
+
+ Vulkan didesain dari nol untuk meminimalkan overhead CPU dalam driver,
+ dan memungkinkan aplikasi Anda mengontrol operasi GPU lebih langsung. Vulkan
+ juga memungkinkan paralelisasi yang lebih baik dengan mengizinkan beberapa thread menjalankan
+ pekerjaan seperti pembuatan buffer perintah sekaligus.
+
+ Pustaka dan alat pengembangan Vulkan telah dimasukkan ke dalam Android NDK. Ini
+ berisi:
+
+ Vulkan hanya tersedia untuk aplikasi pada perangkat dengan perangkat keras yang mendukung Vulkan,
+ seperti Nexus 5X, Nexus 6P, dan Nexus Player. Kami bekerja sama erat dengan mitra
+ agar secepatnya makin banyak perangkat yang dilengkapi Vulkan.
+
+ Untuk informasi selengkapnya, lihat dokumentasi API.
+
+ Gambar 5. Quick Settings Tile dalam bayangan pemberitahuan.
+ Quick Settings adalah cara populer dan mudah untuk mengekspos setelan dan tindakan utama,
+langsung dari bayangan pemberitahuan. Di Android N, kami telah memperluas lingkup
+Quick Settings untuk membuatnya lebih berguna dan praktis lagi. Kami telah menambahkan ruang lebih banyak untuk petak Quick Settings tambahan, yang bisa
+diakses pengguna di semua bagian area tampilan halaman bernomor dengan mengusap ke kiri atau kanan. Kami juga memberi pengguna
+kontrol untuk mengatur letak dan petak Quick Settings apa yang akan
+ditampilkan — pengguna bisa menambahkan atau memindahkan petak dengan menyeret dan melepasnya. Bagi pengembang, Android N juga menambahkan API baru yang memungkinkan Anda mendefinisikan
+ petak Quick Settings untuk memberi akses mudah kepada pengguna ke berbagai kontrol dan tindakan utama dalam aplikasi Anda.
+ Petak Quick Settings dicadangkan untuk kontrol atau tindakan yang
+ mendesak atau sering digunakan, dan tidak boleh digunakan sebagai pintasan untuk
+ membuka aplikasi.
+
+ Setelah mendefinisikan petak, Anda bisa menyediakannya kepada pengguna, yang bisa mereka tambahkan
+ ke Quick Settings cukup dengan seret dan lepas.
+
+ Untuk informasi tentang pembuatan petak aplikasi, lihat dokumentasi untuk
+ Android N sekarang mendukung pemblokiran nomor di platform dan menyediakan
+API kerangka kerja agar penyedia layanan bisa mengelola daftar nomor blokir. Aplikasi SMS
+default, aplikasi telepon default, dan aplikasi operator bisa membaca dari dan
+menulis ke daftar nomor blokir. Daftar ini tidak dapat diakses oleh aplikasi lain. Dengan membuat pemblokiran nomor sebagai fitur standar pada platformnya, Android menyediakan
+cara konsisten bagi aplikasi untuk mendukung pemblokiran nomor di berbagai
+perangkat. Manfaat lain yang bisa diperoleh aplikasi antara lain: Selain itu, dengan integrasi aplikasi operator melalui Android berarti operator bisa
+membaca daftar nomor blokir pada perangkat dan melakukan pemblokiran di sisi layanan
+bagi pengguna tersebut untuk menghentikan panggilan dan SMS yang tidak diinginkan
+agar tidak sampai ke pengguna lewat media apa pun, misalnya VOIP-endpoint atau meneruskan panggilan telepon.
+ Untuk informasi selengkapnya, lihat
+ Android N memungkinkan aplikasi telepon default untuk menyaring panggilan masuk. Aplikasi
+ telepon melakukannya dengan mengimplementasikan
+ Untuk informasi selengkapnya, lihat Android N kini memungkinkan pengguna memilih banyak lokal di Settings,
+untuk mendukung kasus penggunaan dwibahasa dengan lebih baik. Aplikasi bisa menggunakan
+API baru untuk mendapatkan lokal pilihan pengguna kemudian menawarkan pengalaman pengguna
+yang lebih canggih untuk pengguna multilokal — seperti menampilkan hasil telusur dalam
+banyak bahasa dan tidak menawarkan untuk menerjemahkan halaman web dalam bahasa
+yang sudah diketahui pengguna. Bersama dukungan multilokal, Android N juga memperluas ragam bahasa
+yang tersedia untuk pengguna. Masing-masing ditawarkan lebih dari 25 varian untuk bahasa yang umum
+digunakan seperti Inggris, Spanyol, Prancis, dan Arab. Juga ditambahkan dukungan
+parsial untuk lebih dari 100 bahasa baru. Aplikasi bisa mendapatkan daftar lokal yang disetel oleh pengguna dengan memanggil
+ Untuk mengetahui tentang perilaku resolusi sumber daya baru dan praktik terbaik yang
+harus Anda ikuti, lihat Dukungan Multibahasa.
+ Android N memperkenalkan emoji tambahan dan fitur terkait emoji termasuk
+ emoji warna kulit dan dukungan untuk pemilih
+ variasi. Jika aplikasi Anda mendukung emoji,
+ ikuti panduan berikut untuk memanfaatkan fitur terkait emoji ini.
+
+ Android N kini menawarkan subset ICU4J API dalam kerangka kerja Android pada paket
+
+ Untuk mengetahui selengkapnya tentang Android ICU4J API, lihat Dukungan ICU4J.
+ Android N menambahkan antarmuka kerangka kerja dan dukungan platform untuk OpenGL ES 3.2, termasuk: API kerangka kerja untuk OpenGL ES 3.2 di Android N dilengkapi dengan kelas
+ Untuk informasi tentang menggunakan OpenGL ES, termasuk cara memeriksa versi
+OpenGL ES yang didukung perangkat saat waktu proses, lihat Panduan OpenGL ES API. Android N menambahkan kemampuan untuk merekam dan memutar kembali materi dari layanan masukan
+Android TV melalui API perekaman baru. Karena dibangun dengan API perekaman yang sudah
+ada, layanan masukan TV bisa mengontrol data saluran apa yang bisa direkam, cara menyimpan
+sesi rekaman, dan mengelola interaksi pengguna dengan materi rekaman. Untuk informasi selengkapnya, lihat API Perekaman Android TV. Android for Work menambahkan berbagai fitur dan API baru untuk perangkat yang menjalankan Android N.
+Beberapa fitur unggulannya ada di bawah ini — untuk mengetahui daftar lengkap perubahannya, lihat
+Pembaruan Android for Work.
+ Pemilik profil yang menargetkan N SDK
+ bisa menetapkan pertanyaan keamanan terpisah untuk aplikasi yang berjalan di
+ profil kerja. Pertanyaan kerja ditampilkan bila pengguna mencoba membuka
+ aplikasi kerja apa pun. Jawaban pertanyaan keamanan yang benar akan membuka
+ profil kerja dan mendekripsinya jika diperlukan. Untuk pemilik profil,
+
+ Pemilik profil bisa menyetel kebijakan kode sandi untuk pertanyaan kerja
+ (seperti berapa lama seharusnya PIN, atau apakah sidik jari bisa digunakan
+ untuk membuka kunci profil) menggunakan Pada perangkat dengan profil kerja, pengguna bisa beralih mode kerja. Bila mode
+kerja dinonaktifkan, profil yang dikelola akan dinonaktifkan untuk sementara, yang akan menonaktifkan aplikasi
+profil kerja, sinkronisasi latar belakang, dan pemberitahuan. Termasuk aplikasi pemilik
+profil. Bila profil kerja dinonaktifkan, sistem akan menampilkan ikon status
+tetap untuk mengingatkan pengguna bahwa mereka tidak bisa meluncurkan aplikasi kerja. Peluncur
+menunjukkan bahwa aplikasi kerja dan widget tidak bisa diakses. Pemilik perangkat dan pemilik profil bisa memastikan bahwa aplikasi kerja selalu menghubungkan
+melalui VPN yang ditetapkan. Sistem secara otomatis akan memulai VPN itu setelah booting
+perangkat.
+ Metode Karena layanan VPN bisa diikat langsung oleh sistem tanpa interaksi
+aplikasi, klien VPN perlu menangani titik masuk baru untuk Always-On VPN. Seperti
+sebelumnya, layanan ditunjukkan ke sistem melalui
+tindakan pencocokan filter intent
+ Pengguna bisa secara manual menyetel klien Always-On VPN yang mengimplementasikan
+ metode
+ Aplikasi bisa menyesuaikan alur penyediaan pemilik profil dan pemilik perangkat
+ dengan warna dan logo perusahaan.
+ Android N saat ini menawarkan Vision Settings langsung di layar Sambutan untuk
+persiapan perangkat baru. Ini sangat memudahkan pengguna untuk menemukan dan mengonfigurasi
+fitur aksesibilitas pada perangkat mereka, termasuk isyarat perbesaran, ukuran
+font, ukuran layar, dan TalkBack. Dengan fitur aksesibilitas yang penempatannya semakin jelas, pengguna Anda
+kemungkinan besar akan mencoba aplikasi dengan fitur-fitur yang diaktifkan itu. Pastikan Anda menguji aplikasi
+lebih dini dengan mengaktifkan dahulu setelan ini. Anda bisa mengaktifkannya dari Settings >
+Accessibility. Di Android N, layanan aksesibilitas sekarang bisa membantu pengguna yang mengalami gangguan
+motorik untuk menyentuh layar. API baru memungkinkan membangun layanan dengan
+fitur-fitur seperti pelacakan wajah, pelacakan mata, pemindaian titik, dan seterusnya, untuk
+memenuhi kebutuhan para pengguna tersebut. Untuk informasi selengkapnya, lihat Direct Boot memperbaiki waktu startup perangkat dan memungkinkan aplikasi
+yang telah didaftarkan memiliki fungsionalitas terbatas bahkan setelah boot ulang tak terduga.
+Misalnya, jika perangkat yang dienkripsi melakukan boot ulang selagi pengguna tidur,
+alarm terdaftar, pesan dan panggilan masuk sekarang bisa terus memberi tahu
+pengguna seperti biasa. Ini juga berarti layanan aksesibilitas bisa
+ segera tersedia setelah restart. Direct Boot memanfaatkan enkripsi berbasis file di Android N
+untuk mengaktifkan kebijakan enkripsi yang telah disesuaikan bagi sistem dan data aplikasi.
+Sistem akan menggunakan penyimpanan yang dienkripsi dengan perangkat untuk data sistem terpilih dan data
+aplikasi yang terdaftar secara eksplisit. Secara default, penyimpanan yang dienkripsi dengan kredensial digunakan untuk semua
+ data sistem lainnya, data pengguna, aplikasi, dan data aplikasi. Saat booting, sistem dimulai dalam mode terbatas dengan akses
+ke data yang dienkripsi dengan perangkat saja, dan tanpa akses umum ke aplikasi atau data.
+Jika Anda memiliki komponen yang ingin Anda jalankan dalam mode ini, Anda bisa mendaftarkannya
+dengan menyetel flag dalam manifes. Setelah restart, sistem akan mengaktifkan
+komponen terdaftar dengan menyiarkan intent Dalam dokumen ini
+
+ Izin Pengujian
+
+Tip pengujian
+
+
+
+
+
+
+ adb shell pm list permissions -d -g
+
+ adb shell pm [grant|revoke] <permission.name> ...
+ Strategi pengujian
+
+Menguji Istirahatkan dan Aplikasi Siaga
+
+Menguji aplikasi Anda dengan Istirahatkan
+
+
+
+
+
+
+$ adb shell dumpsys battery unplug
+$ adb shell dumpsys deviceidle step
+$ adb shell dumpsys deviceidle -h
+
+
+ Menguji aplikasi dengan Aplikasi Siaga
+
+
+
+
+
+$ adb shell am broadcast -a android.os.action.DISCHARGING
+$ adb shell am set-idle <packageName> true
+
+
+ $ adb shell am set-idle <packageName> false
+ Auto Backup for Apps dan Identifier Perangkat Spesifik
+
+Dalam dokumen ini
+
+
+
+
+Lihat Juga
+
+
+Baterai dan Memori
+
+Istirahatkan
+
+
+
+Project Svelte: Optimalisasi Latar Belakang
+
+
+
+
+Perubahan Izin
+
+Perubahan izin sistem file
+
+0700).
+ Pengaturan ini mencegah kebocoran metadata dari file privat, seperti ukuran
+ atau eksistensi. Perubahan izin ini memiliki beberapa efek samping:
+
+
+
+file:// di luar domain paket dapat meninggalkan
+ penerima dengan jalur yang tidak bisa di akses. Karena itu, upaya untuk meneruskan URI
+ file:// akan memicu
+ FileUriExposedException. Cara yang disarankan adalah
+ materi file privat menggunakan {@link
+ android.support.v4.content.FileProvider}.
+ Berbagi File Antar Aplikasi
+
+Peningkatan Aksesibilitas
+
+Perbesaran Layar
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+sw320dp
+ dan pastikan aplikasi berjalan dengan semestinya.
+ dp).
+ Vision Settings di Setup Wizard
+
+Penautan Aplikasi NDK ke Pustaka Platform
+
+libpng), namun bukan bagian dari NDK. Dalam hal itu, pastikan
+ APK Anda berisi semua file .so yang ingin ditautkan.
+
+java.lang.UnsatisfiedLinkError: dlopen failed: library "/system/lib/libcutils.so"
+ is not accessible for the namespace "classloader-namespace"
+
+
+
+dlopen failed: cannot locate symbol "__system_property_get" referenced by ...
+
+
+
+
+
+
+
+AndroidRuntime::getJavaVM -> GetJavaVM from <jni.h>
+AndroidRuntime::getJNIEnv -> JavaVM::GetEnv or
+JavaVM::AttachCurrentThread from <jni.h>.
+
+
+#include <sys/system_properties.h>
+
+ Android for Work
+
+
+
+DevicePolicyManager.setCertInstallerPackage(). Jika pemasang
+ belum dipasang, sistem akan melontarkan
+ IllegalArgumentException.
+ DISALLOW_MODIFY_ACCOUNTS diberlakukan.
+ DISALLOW_ADD_USER
+ secara otomatis akan ditetapkan. Ini mencegah pengguna membuat pengguna tambahan yang
+ tidak terkelola. Selain itu, CreateUser() dan
+ createAndInitializeUser() metode tidak digunakan lagi; metode
+ DevicePolicyManager.createAndManageUser() telah menggantikannya.
+ DevicePolicyManagewr.getWifiMacAddress(). Jika Wi-Fi belum pernah
+ diaktifkan pada perangkat tersebut, metode ini akan mengembalikan nilai {@code null}.
+ Retensi Anotasi
+
+
+
+
+Poin Penting Lainnya
+
+
+
+
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/about/versions/nougat/android-7.0-samples.jd b/docs/html-intl/intl/id/about/versions/nougat/android-7.0-samples.jd
new file mode 100644
index 0000000000000..d31c0c041503e
--- /dev/null
+++ b/docs/html-intl/intl/id/about/versions/nougat/android-7.0-samples.jd
@@ -0,0 +1,85 @@
+page.title=Contoh
+page.tags="preview", "samples", "android"
+page.image=images/cards/card-n-samples_2x.png
+@jd:body
+
+
+
+Playground Multi-Jendela
+
+Pemberitahuan Aktif
+
+Layanan Perpesanan
+
+Direct Boot
+
+Scoped Directory Access
+
+Fitur-fitur Utama bagi Pengembang
+
+
+
+
Dukungan Multi-Jendela
+
+
+
+
+
+
+Penyempurnaan Pemberitahuan
+
+
+
+
+MessageStyle. Anda bisa mengonfigurasi pesan, judul percakapan,
+ dan tampilan materi.
+
+
+
+Kompilasi JIT/AOT yang dipandu profil
+
+Jalur Cepat untuk Pasang Aplikasi
+
+Istirahatkan Kapan Saja...
+
+
+Project Svelte: Optimalisasi Latar Belakang
+
+GCMNetworkManager, bagian dari Google Play Services, yang
+ menawarkan penjadwalan pekerjaan serupa dengan kompatibilitas pada semua versi lawas
+ Android.
+JobScheduler dan
+GCMNetworkManager untuk memenuhi lebih banyak
+kasus penggunaan Anda — misalnya, di Android N Anda sekarang bisa menjadwalkan pekerjaan
+latar belakang berdasarkan perubahan di Content Providers. Pada saat yang sama kami mulai
+menghilangkan beberapa pola lama yang bisa mengurangi kinerja sistem,
+terutama pada perangkat yang minim memori.JobScheduler dan API terkait sebagai gantinya. Data Saver
+
+
+
+Vulkan API
+
+
+
+
+Quick Settings Tile API
+
+
+
+
+android.service.quicksettings.Tile dalam Referensi API yang bisa diunduh.
+Pemblokiran Nomor
+
+
+
+
+android.provider.BlockedNumberContract
+ dalam Referensi
+ API yang bisa diunduh.
+Penyaringan Panggilan
+
+CallScreeningService baru,
+ yang memungkinkan aplikasi telepon untuk melakukan sejumlah tindakan berdasarkan
+ {@link android.telecom.Call.Details Call.Details} panggilan masuk, misalnya:
+
+
+
+android.telecom.CallScreeningService
+ dalam Referensi
+ API yang bisa diunduh.
+Dukungan Multilokal, Lebih Banyak Bahasa yang Didukung
+
+
+LocaleList.GetDefault(). Untuk mendukung jumlah lokal yang diperluas, Android N sedang
+ mengubah cara mengatasi masalah sumber daya. Pastikan Anda menguji dan memverifikasi bahwa aplikasi Anda
+berfungsi seperti yang diharapkan dengan logika resolusi sumber daya baru.Emoji Baru
+
+
+
+
+
+ICU4J API di Android
+
+android.icu. Migrasi mudah, dan biasanya hanya perlu
+ mengubah dari ruang nama com.java.icu ke
+ android.icu. Jika Anda sudah menggunakan bundel ICU4J dalam aplikasi,
+ maka beralih ke android.icu API yang disediakan dalam kerangka kerja
+ Android bisa menghasilkan penghematan besar dalam ukuran APK.
+OpenGL™ ES 3.2 API
+
+
+
+
+EXT_texture_sRGB_decode.
+ GLES32. Saat menggunakan OpenGL ES 3.2, pastikan
+mendeklarasikan persyaratan dalam file manifes Anda, dengan tag <uses-feature> dan
+atribut android:glEsVersion. Perekaman Android TV
+
+Android for Work
+
+Pertanyaan Keamanan Profil Kerja
+
+ACTION_SET_NEW_PASSWORD akan meminta pengguna untuk menetapkan pertanyaan
+ kerja, dan ACTION_SET_NEW_PARENT_PROFILE_PASSWORD meminta
+ pengguna menyetel kunci perangkat.
+setPasswordQuality(),
+ setPasswordMinimumLength() dan metode terkait. Pemilik profil
+ juga bisa menyetel kunci perangkat, menggunakan instance DevicePolicyManager
+ yang dikembalikan oleh metode getParentProfileInstance() baru.
+ Selain itu, pemilik profil bisa menyesuaikan layar kredensial untuk
+ pertanyaan kerja menggunakan metode baru setOrganizationColor() dan
+ setOrganizationName().
+Menonaktifkan pekerjaan
+
+Always-On VPN
+
+DevicePolicyManager baru adalah
+ setAlwaysOnVpnPackage() dan
+ getAlwaysOnVpnPackage().
+android.net.VpnService. VPNService dalam pengguna utama dengan menggunakan
+ Settings>More>Vpn.
+Penyediaan yang disesuaikan
+
+DevicePolicyManager.EXTRA_PROVISIONING_MAIN_COLOR menyesuaikan
+ warna alur. DevicePolicyManager.EXTRA_PROVISIONING_LOGO_URI
+ menyesuaikan alur dengan logo perusahaan.
+Penyempurnaan Aksesibilitas
+
+android.accessibilityservice.GestureDescription
+ dalam Referensi API yang bisa diunduh.Direct Boot
+
+LOCKED_BOOT_COMPLETED.
+ Sistem akan memastikan data aplikasi yang dienkripsi dengan perangkat tersedia
+sebelum membuka kunci. Semua data lainnya tidak tersedia sebelum Pengguna mengonfirmasi
+ kredensial layar kunci mereka untuk mendekripsinya.
Keystore yang didukung perangkat keras menyediakan metode yang jauh lebih aman untuk membuat, menyimpan, +dan menggunakan kunci kriptografi pada perangkat Android. Keystore itu melindungi kunci dari +kernel Linux, potensi kerentanan Android, dan ekstraksi +dari perangkat yang di-root.
+ +Agar lebih mudah dan lebih aman dalam menggunakan keystore yang didukung perangkat keras, +Android N memperkenalkan Key Attestation. Aplikasi dan perangkat-nonaktif bisa menggunakan Key +Attestation untuk menentukan apakah penyandingan kunci RSA atau EC +didukung perangkat keras, apa properti dari penyandingan kunci, dan batasan + apa yang diterapkan terhadap penggunaan dan validitasnya.
+ +Aplikasi dan layanan perangkat-nonaktif bisa meminta informasi tentang penyandingan kunci +melalui sertifikat pengesahan X.509 yang harus ditandatangani dengan kunci +pengesahan yang valid. Kunci pengesahan adalah kunci penandatanganan ECDSA yang +telah diinjeksikan ke dalam keystore yang didukung perangkat keras pada perangkat saat di pabriknya. +Karena itu, sertifikat pengesahan yang ditandatangani oleh kunci pengesahan yang +valid akan mengonfirmasi keberadaan keystore yang didukung perangkat keras, bersama + detail pasangan kunci dalam keystore itu.
+ +Untuk memastikan perangkat ini menggunakan citra Android resmi yang +aman dari pabrik, Key Attestation mengharuskan bootloader perangkat +menyediakan informasi berikut pada Trusted +Execution Environment (TEE):
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang fitur keystore yang didukung perangkat keras, +lihat panduan untuk Keystore yang Didukung Perangkat Keras.
+ +Selain Key Attestation, Android N juga memperkenalkan + kunci yang terikat sidik jari yang tidak dipanggil saat pendaftaran sidik jari.
+ +Di Android N, aplikasi bisa menyesuaikan perilaku koneksi aman mereka +(HTTPS, TLS) secara aman, tanpa modifikasi kode, dengan menggunakan +Network Security Config deklaratif sebagai ganti menggunakan API programatik +konvensional yang rawan kesalahan (mis. X509TrustManager).
+ +Fitur yang didukung:
+Untuk informasi selengkapnya, lihat Network Security +Config.
+ +Secara default, aplikasi yang menargetkan Android N hanya mempercayai sertifikat yang disediakan sistem +dan tidak lagi mempercayai Certificate Authorities (CA) yang ditambahkan pengguna. Aplikasi yang menargetkan Android +N dan ingin mempercayai CA yang ditambahkan pengguna harus menggunakan +Network Security Config untuk +menetapkan cara mempercayai CA pengguna.
+ ++ Android N memperkenalkan APK Signature Scheme v2, sebuah skema penandatanganan aplikasi baru yang + menawarkan waktu pasang aplikasi lebih cepat dan lebih banyak perlindungan terhadap perubahan + tidak sah pada file APK. Secara default, Android Studio 2.2 dan Android + Plugin untuk Gradle 2.2 menandatangani aplikasi Anda menggunakan APK Signature Scheme v2 dan + skema penandatanganan tradisional, yang menggunakan penandatanganan JAR. +
+ +
+ Meskipun kami menyarankan untuk menerapkan APK Signature Scheme v2 pada aplikasi Anda, skema
+ baru ini tidak wajib. Jika aplikasi Anda tidak dibangun dengan benar saat menggunakan APK
+ Signature Scheme v2, Anda bisa menonaktifkan skema baru ini. Proses penonaktifan
+ menyebabkan Android Studio 2.2 dan Android Plugin untuk Gradle 2.2 menandatangani aplikasi Anda
+ menggunakan skema penandatanganan tradisional saja. Untuk menandatangani dengan
+ skema tradisional saja, buka file build.gradle level-modul, kemudian
+ tambahkan baris v2SigningEnabled false ke konfigurasi
+ penandatanganan rilis Anda:
+
+ android {
+ ...
+ defaultConfig { ... }
+ signingConfigs {
+ release {
+ storeFile file("myreleasekey.keystore")
+ storePassword "password"
+ keyAlias "MyReleaseKey"
+ keyPassword "password"
+ v2SigningEnabled false
+ }
+ }
+ }
+
+
+Perhatian: Jika Anda menandatangani aplikasi menggunakan APK
+ Signature Scheme v2 dan membuat perubahan lebih jauh pada aplikasi, tanda tangan aplikasi
+ menjadi tidak valid. Untuk alasan ini, gunakan alat seperti zipalign
+ sebelum menandatangani aplikasi Anda menggunakan APK Signature Scheme v2, bukan setelahnya.
+
+ Untuk informasi selengkapnya, baca dokumen Android Studio yang menjelaskan cara + + menandatangani aplikasi di Android Studio dan cara mengonfigurasi + file build untuk menandatangani aplikasi menggunakan Android Plugin untuk Gradle. +
+ +Di Android N, aplikasi bisa menggunakan API baru untuk meminta akses ke direktori penyimpanan
+eksternal tertentu, termasuk direktori di media lepas-pasang seperti kartu
+SD. API baru ini sangat menyederhanakan cara aplikasi Anda mengakses direktori
+penyimpanan eksternal standar, seperti direktori Pictures. Aplikasi
+seperti aplikasi foto bisa menggunakan API ini sebagai ganti menggunakan
+READ_EXTERNAL_STORAGE, yang memberikan akses ke semua direktori
+penyimpanan, atau Storage Access Framework, yang membuat pengguna mengarah ke
+direktori tersebut.
Selain itu, API baru ini menyederhanakan langkah-langkah yang diambil pengguna untuk memberikan akses +penyimpanan eksternal ke aplikasi Anda. Bila Anda menggunakan API baru, sistem akan menggunakan UI izin +sederhana yang memperinci dengan jelas direktori apa yang aksesnya diminta +oleh aplikasi.
+ +Untuk informasi selengkapnya, lihat dokumentasi pengembang +Scoped +Directory Access.
+ +
+Di Android N, pengguna bisa menekan "Alt + /" untuk memunculkan layar Keyboard Shortcuts
+yang menampilkan semua pintasan yang tersedia baik dari sistem maupun dari
+aplikasi yang sedang mendapatkan fokus. Ini diambil secara otomatis dari menu aplikasi
+jika tersedia, namun pengembang bisa menyediakan daftar pintasan yang telah disesuaikan
+untuk layar. Anda bisa melakukannya dengan mengganti metode
+Activity.onProvideKeyboardShortcuts() baru, yang dijelaskan dalam
+Referensi API yang bisa diunduh.
+
+Untuk memunculkan Keyboard Shortcuts Helper dari mana saja di aplikasi Anda, +panggil {@code Activity.requestKeyboardShortcutsHelper()} untuk aktivitas terkait. +
+ ++Kinerja bisa berfluktuasi secara dramatis untuk aplikasi yang berjalan lama, karena +sistem melakukan throttle pada mesin sistem-di-chip saat komponen perangkat mencapai +batas suhunya. Fluktuasi ini memberikan target bergerak bagi pengembang +aplikasi yang sedang membuat aplikasi berkinerja tinggi dan berjalan lama. +
+ ++Untuk menangani batasan ini, Android N menyertakan dukungan untuk +mode kinerja kontinu, yang memungkinkan OEM memberikan petunjuk mengenai kemampuan kinerja +perangkat untuk aplikasi yang berjalan lama. Pengembang aplikasi +bisa menggunakan petunjuk ini untuk menyesuaikan aplikasi agar kinerja perangkat bisa diprediksi +dan pada level yang konsisten dalam jangka waktu lama. +
+ ++Pengembang aplikasi bisa mencoba API baru ini dalam N Developer Preview pada +perangkat Nexus 6P saja. Untuk menggunakan fitur ini, +setel flag jendela kinerja kontinu +yang ingin Anda jalankan dalam mode kinerja kontinu. Setel flag ini menggunakan metode +{@code Window.setSustainedPerformanceMode()}. Sistem secara otomatis +akan menonaktifkan mode ini bila jendela tidak lagi mendapatkan fokus. +
+ ++Android N menambahkan dukungan platform dan optimalisasi untuk VR Mode baru yang memungkinkan +pengembang membuat pengalaman VR berkualitas tinggi di seluler bagi para pengguna. Ada banyak perbaikan +kinerja, termasuk akses ke inti CPU yang eksklusif untuk aplikasi VR. +Di dalam aplikasi, Anda bisa memanfaatkan pelacakan kepala yang cerdas, +dan pemberitahuan stereo yang bekerja untuk VR. Hal terpenting adalah Android N menyediakan +grafis dengan latensi sangat rendah. Untuk informasi selengkapnya tentang membangun aplikasi VR untuk Android N, +lihat Google VR SDK untuk Android. +
+ + ++ Di Android N, pengembang layanan cetak kini bisa menampilkan informasi tambahan + tentang masing-masing printer dan pekerjaan cetak. +
+ ++ Saat mendaftarkan masing-masing printer, layanan cetak kini bisa menyetel + ikon per printer dalam dua cara: +
+ +PrinterInfo.Builder.setResourceIconId()
+ PrinterInfo.Builder.setHasCustomPrinterIcon(), dan menyetel sebuah
+ callback bila ikon diminta menggunakan
+ android.printservice.PrinterDiscoverySession.onRequestCustomPrinterIcon()
+
+ Selain itu, Anda bisa menyediakan aktivitas per printer untuk menampilkan informasi
+ tambahan dengan memanggil PrinterInfo.Builder.setInfoIntent().
+
+ Anda bisa menunjukkan kemajuan dan status pekerjaan cetak di
+ pemberitahuan pekerjaan cetak dengan memanggil masing-masing
+ android.printservice.PrintJob.setProgress() dan
+ android.printservice.PrintJob.setStatus().
+
+ Untuk informasi selengkapnya tentang metode ini,lihat dalam Referensi API yang bisa diunduh. +
+ +
+FrameMetricsListener API memungkinkan aplikasi untuk memantau
+kinerja rendering UI. API tersebut menyediakan kemampuan ini dengan mengekspos Pub/Sub API streaming
+untuk mentransfer info frame-timing untuk jendela aplikasi saat ini. Data yang dikembalikan
+setara dengan yang ditampilkan adb shell
+dumpsys gfxinfo framestats, namun tidak dibatasi pada 120 bingkai.
+
+Anda bisa menggunakan FrameMetricsListener untuk mengukur kinerja UI +level interaksi di produksi, tanpa koneksi USB. API +ini memungkinkan pengumpulan data dengan granularitas lebih tinggi daripada +{@code adb shell dumpsys gfxinfo}. Granularitas lebih tinggi ini dimungkinkan karena +sistem bisa mengumpulkan data untuk interaksi tertentu di aplikasi; sistem +tidak perlu merekam ringkasan global untuk keseluruhan kinerja +aplikasi, atau mengosongkan status global yang ada. Anda bisa menggunakan kemampuan ini +untuk mengumpulkan data kinerja dan menangkap regresi di kinerja UI +untuk kasus penggunaan sungguhan di dalam aplikasi. +
+ +
+Untuk memantau sebuah jendela, implementasikan metode callback FrameMetricsListener.onMetricsAvailable()
+dan daftarkan di jendela itu. Untuk informasi selengkapnya, lihat
+dokumentasi kelas {@code FrameMetricsListener} di
+Referensi API yang bisa diunduh.
+
+API menyediakan objek {@code FrameMetrics}, yang berisi data timing yang +dilaporkan subsistem rendering untuk berbagai tahap pencapaian dalam daur hidup bingkai. +Metrik yang didukung adalah: {@code UNKNOWN_DELAY_DURATION}, +{@code INPUT_HANDLING_DURATION}, {@code ANIMATION_DURATION}, +{@code LAYOUT_MEASURE_DURATION}, {@code DRAW_DURATION}, {@code SYNC_DURATION}, +{@code COMMAND_ISSUE_DURATION}, {@code SWAP_BUFFERS_DURATION}, +{@code TOTAL_DURATION}, dan {@code FIRST_DRAW_FRAME}. +
+ + ++ Di versi Android sebelumnya, aplikasi Anda bisa menggunakan Storage Access + Framework untuk memungkinkan pengguna memilih file dari akun penyimpanan awan mereka, + seperti Google Drive. Akan tetapi, tidak ada cara untuk merepresentasikan file yang + tidak memiliki representasi bytecode langsung; setiap file diharuskan menyediakan + aliran masukan. +
+ ++ Android N menambahkan konsep file maya pada Storage Access + Framework. Fitur file maya memungkinkan + {@link android.provider.DocumentsProvider} Anda mengembalikan URI dokumen yang bisa + digunakan bersama intent {@link android.content.Intent#ACTION_VIEW} sekalipun + tidak memiliki representasi bytecode langsung. Android N juga memungkinkan Anda untuk + menyediakan format alternatif untuk file pengguna, maya atau dengan cara lain. +
+ ++ Untuk mendapatkan URI sebuah dokumen maya di aplikasi Anda, terlebih dahulu Anda membuat + {@link android.content.Intent} untuk membuka UI pemilih file. Karena aplikasi + tidak bisa membuka file maya secara langsung dengan menggunakan metode + {@link android.content.ContentResolver#openInputStream(Uri) openInputStream()}, + aplikasi Anda tidak akan menerima file maya jika Anda memasukkan kategori + {@link android.content.Intent#CATEGORY_OPENABLE}. +
+ ++ Setelah pengguna menentukan pilihan, sistem akan memanggil metode + {@link android.app.Activity#onActivityResult onActivityResult()}. + Aplikasi Anda bisa mengambil URI file maya dan mendapatkan aliran masukan, seperti yang + diperagakan dalam cuplikan kode di bawah. +
+ +
+ // Other Activity code ...
+
+ final static private int REQUEST_CODE = 64;
+
+ // We listen to the OnActivityResult event to respond to the user's selection.
+ @Override
+ public void onActivityResult(int requestCode, int resultCode,
+ Intent resultData) {
+ try {
+ if (requestCode == REQUEST_CODE &&
+ resultCode == Activity.RESULT_OK) {
+
+ Uri uri = null;
+
+ if (resultData != null) {
+ uri = resultData.getData();
+
+ ContentResolver resolver = getContentResolver();
+
+ // Before attempting to coerce a file into a MIME type,
+ // check to see what alternative MIME types are available to
+ // coerce this file into.
+ String[] streamTypes =
+ resolver.getStreamTypes(uri, "*/*");
+
+ AssetFileDescriptor descriptor =
+ resolver.openTypedAssetFileDescriptor(
+ uri,
+ streamTypes[0],
+ null);
+
+ // Retrieve a stream to the virtual file.
+ InputStream inputStream = descriptor.createInputStream();
+ }
+ }
+ } catch (Exception ex) {
+ Log.e("EXCEPTION", "ERROR: ", ex);
+ }
+ }
+
+
++ Untuk informasi selengkapnya tentang mengakses file pengguna, lihat + Panduan Storage + Access Frameworks. +
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/about/versions/nougat/index.jd b/docs/html-intl/intl/id/about/versions/nougat/index.jd new file mode 100644 index 0000000000000..212870a183d5e --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/about/versions/nougat/index.jd @@ -0,0 +1,110 @@ +page.title=Android 7.0 Nougat +page.tags="androidn","versions" +meta.tags="android n", "nougat", "android 7.0" +fullpage=true +forcelocalnav=true +header.hide=1 +footer.hide=1 +@jd:body + + + + + + +Prinsip desain ini dikembangkan oleh dan untuk Tim Pengalaman Pengguna + Android agar selalu mempertimbangkan kepentingan pengguna. +Untuk pengembang dan desainer Android, mereka terus +meletakkan dasar pedoman desain yang lebih detail untuk beragam tipe +perangkat.
+ ++Perhatikan prinsip-prinsip ini saat Anda menerapkan +kreativitas dan pemikiran desain sendiri. Menyimpang dengan sengaja. +
+ +Permukaan yang cantik, animasi yang ditempatkan dengan hati-hati, atau efek suara di saat yang tepat sungguh menyenangkan untuk +dinikmati. Efek yang lembut menimbulkan perasaan serba mudah dan kesadaran bahwa kekuatan yang +bisa diandalkan ada dalam genggaman.
+ +
+
+ Biarkan orang langsung menyentuh dan memanipulasi objek dalam aplikasi Anda. Ini mengurangi upaya kognitif +yang diperlukan untuk menjalankan tugas sekaligus membuatnya lebih memuaskan secara emosional.
+ +
+
+ Orang suka menambahkan sentuhan pribadi karena membantu mereka merasa betah dan memegang kendali. Memberikan +default yang pantas dan indah, tetapi juga mempertimbangkan penyesuaian opsional yang menyenangkan, yang tidak mengganggu +tugas utama.
+ +
+
+ Pelajari preferensi orang dari waktu ke waktu. Daripada meminta mereka untuk membuat pilihan yang sama +berulang-ulang, tempatkan pilihan sebelumnya agar mudah dijangkau.
+ +
+
+ Gunakan frasa pendek dengan kata-kata sederhana. Orang cenderung melewatkan kalimat-kalimat panjang.
+ +
+
+ Pertimbangkan menggunakan gambar untuk menjelaskan gagasan. Gambar menarik perhatian orang dan bisa jauh lebih efisien +dibanding kata-kata.
+ +
+
+ Gunakan tebakan terbaik Anda dan bertindaklah daripada meminta terlebih dahulu. Terlalu banyak pilihan dan keputusan membuat orang +tidak suka. Untuk berjaga-jaga jika Anda salah, izinkan 'pembatalan'.
+ +
+
+ Orang merasa kewalahan ketika melihat terlalu banyak hal sekaligus. Uraikan tugas dan informasi menjadi potongan-potongan +kecil yang mudah dicerna. Sembunyikan opsi yang tidak perlu pada saat ini, dan ajari orang sambil jalan.
+ +
+
+ Beri orang kepercayaan diri bahwa mereka tahu di mana berada. Buat agar tempat-tempat dalam aplikasi Anda terlihat berbeda dan +gunakan transisi untuk menunjukkan hubungan antar layar. Berikan umpan balik tentang tugas yang sedang berlangsung.
+ +
+
+ Simpan apa yang telah susah-payah dibuat orang dan biarkan mereka mengaksesnya dari mana saja. Ingat pengaturan, +sentuhan pribadi, dan kreasi lintas ponsel, tablet, dan komputer. Itu membuat pemutakhiran menjadi +hal termudah di dunia.
+ +
+
+ Bantu orang merasakan perbedaan fungsional dengan membuat mereka terlihat berbeda daripada mirip. +Hindari mode, yaitu tempat yang terlihat mirip tetapi berbeda fungsinya pada input yang sama.
+ +
+
+ Layaknya asisten pribadi yang baik, lindungi orang dari detail yang tidak penting. Orang ingin tetap +fokus, dan kecuali jika memang penting dan sensitif waktu, interupsi bisa melelahkan dan menjengkelkan.
+ +
+
+ Orang merasa senang ketika mereka memahami sendiri sesuatu. Jadikan aplikasi Anda lebih mudah dipelajari dengan +memanfaatkan pola visual dan memori otot dari aplikasi Android lainnya. Misalnya, gerakan menggeser +dapat menjadi pintasan navigasi yang bagus.
+ +
+
+ Bersikap ramahlah dalam meminta orang untuk melakukan koreksi. Mereka ingin merasa pintar ketika menggunakan +aplikasi Anda. Jika terjadi kesalahan, berikan petunjuk perbaikan yang jelas tetapi lepaskan mereka dari detail teknis. +Jika Anda dapat memperbaikinya secara diam-diam, tentu lebih baik.
+ +
+
+ Uraikan tugas-tugas rumit menjadi langkah-langkah kecil yang dapat dilakukan dengan mudah. Beri umpan balik tentang tindakan, +meskipun hanya sesuatu yang sederhana.
+ +
+
+ Buatlah pemula merasa seperti ahli dengan memungkinkan mereka untuk melakukan hal-hal yang mereka pikir tidak akan bisa. +Misalnya, pintasan yang menggabungkan beberapa efek foto dapat membuat foto amatir terlihat mengagumkan hanya +dalam beberapa langkah.
+ +
+
+ Tidak semua tindakan itu sama. Putuskan apa yang terpenting dalam aplikasi Anda dan permudah untuk menemukannya serta +cepat untuk digunakan, seperti tombol rana pada kamera, atau tombol jeda pada pemutar musik.
+ +
+
+ Membuat Aplikasi dengan Desain Bahan
+Pengantar Desain Bahan
+Kertas dan Tinta: Bahan Penting
+Desain Bahan di Aplikasi Google I/O
+Desain bahan adalah panduan komprehensif untuk desain visual, gerak, dan +interaksi lintas platform dan perangkat. Android kini menyertakan dukungan untuk +aplikasi desain bahan. Untuk menggunakan desain bahan di aplikasi Android, ikuti panduan yang didefinisikan +dalam spesifikasi desain bahan dan gunakan +komponen dan fungsionalitas baru yang tersedia di Android 5.0 (API level 21) ke atas.
+ +Android menyediakan elemen berikut untuk membangun aplikasi desain bahan:
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang mengimplementasikan desain bahan pada Android, lihat +Membuat Aplikasi dengan Desain Bahan.
+ + +Tema bahan menyediakan gaya baru untuk aplikasi Anda, widget sistem yang memungkinkan Anda mengatur +palet warnanya, dan animasi default untuk umpan balik sentuh dan transisi aktivitas.
+ + +
+ Tema bahan gelap
+
+ Tema bahan terang
+Untuk informasi selengkapnya, lihat Menggunakan Tema +Bahan.
+ + +Android menyediakan dua widget baru untuk menampilkan kartu dan daftar dengan gaya desain bahan +dan animasi:
+ + +
+ Widget RecyclerView baru adalah versi ListView
+ yang lebih mudah dimasukkan dan mendukung beragam tipe layout serta memberikan peningkatan kinerja.
+ Widget CardView baru memungkinkan Anda menampilkan potongan informasi penting dalam
+ kartu yang memiliki tampilan dan cara kerja yang konsisten.
Untuk informasi selengkapnya, lihat Membuat Daftar +dan Kartu.
+ + +Selain properti X dan Y, tampilan di Android kini memiliki +properti Z. Properti baru ini mewakili ketinggian tampilan, yang menentukan:
+ +Untuk informasi selengkapnya, lihat Mendefinisikan +Bayangan dan Memangkas Tampilan.
+ + +API animasi baru memungkinkan Anda membuat animasi custom untuk umpan balik sentuh dalam kontrol UI, +perubahan status tampilan, dan transisi aktivitas.
+ +API ini memungkinkan Anda:
+ +Animasi umpan balik sentuh dimasukkan ke dalam beberapa tampilan standar, misalnya tombol. API baru +ini memungkinkan Anda menyesuaikan animasi ini dan menambahkannya ke tampilan custom Anda.
+ +Untuk informasi selengkapnya, lihat Mendefinisikan Animasi +Custom.
+ + +Kemampuan baru untuk drawable ini membantu Anda mengimplementasikan aplikasi desain bahan:
+ +Untuk informasi selengkapnya, lihat Bekerja dengan +Drawable.
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/design/patterns/compatibility.jd b/docs/html-intl/intl/id/design/patterns/compatibility.jd new file mode 100644 index 0000000000000..cafaac4faca32 --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/design/patterns/compatibility.jd @@ -0,0 +1,70 @@ +page.title=Kompatibilitas Mundur +page.tags="support" +page.metaDescription=Catatan tentang bagaimana Android 4.x menyesuaikan UI yang didesain untuk perangkat keras dan versi OS yang lebih lama. +@jd:body + + +Mendukung Perangkat Berbeda
+Perubahan signifikan dalam Android 3.0 meliputi:
+Android 4.0 membawa perubahan ini untuk tablet dengan platform ponsel.
+ +Aplikasi Android yang ditulis untuk Android 3.0 dan yang lebih baru menampilkan tindakan dalam action-bar. Tindakan yang tidak +muat dalam action-bar atau tidak cukup penting untuk ditampilkan di tingkat atas akan muncul dalam +action-overflow.
+Pengguna mengakses action-overflow dengan menyentuhnya dalam action-bar.
+ +
+
+ Ponsel Android dengan tombol perangkat keras navigasi biasa tidak menampilkan baris navigasi virtual di +bagian bawah layar. Sebagai gantinya, action-overflow tersedia dari tombol perangkat keras menu. Popup +tindakan yang dihasilkan memiliki gaya yang sama dengan contoh sebelumnya, tetapi ditampilkan di bagian bawah layar.
+ +
+
+ Bila Anda menjalankan aplikasi yang dibuat untuk Android 2.3 atau yang lebih lama pada ponsel +dengan kontrol navigasi virtual, sebuah kontrol action-overflow akan muncul di sebelah kanan baris navigasi virtual. Anda +dapat menyentuh kontrol itu untuk menampilkan tindakan aplikasi dalam gaya menu Android biasa.
+ +
+
+ Dalam beberapa situasi, bila pengguna memanggil suatu tindakan dalam aplikasi Anda, ada baiknya mengonfirmasi atau mengakui tindakan itu melalui teks.
+ +
+ Mengonfirmasi adalah meminta pengguna untuk memverifikasi bahwa mereka benar-benar ingin melanjutkan tindakan yang baru saja mereka panggil. Dalam beberapa kasus, konfirmasi ditampilkan bersama-sama dengan peringatan atau informasi penting yang terkait dengan tindakan yang perlu mereka pertimbangkan.
+
+ Mengakui adalah menampilkan teks untuk memberi tahu pengguna bahwa tindakan yang baru mereka panggil sudah dilakukan. Ini menghilangkan ketidakpastian tentang operasi implisit yang dilakukan sistem. Dalam beberapa kasus, pengakuan ditampilkan bersama dengan opsi untuk membatalkan tindakan.
+Berkomunikasi pada pengguna dengan cara ini bisa membantu mengurangi ketidakpastian tentang hal-hal yang sudah atau akan terjadi. Mengonfirmasi atau mengakui juga dapat mencegah pengguna melakukan kesalahan yang akan mereka sesali.
+ +Tidak semua tindakan memerlukan konfirmasi atau pengakuan. Gunakan bagan alur ini untuk memandu keputusan desain Anda.
+
+
+
+ Dalam contoh ini, pengguna telah meminta untuk menghapus sebuah buku dari perpustakaan Google Play mereka. Sebuah peringatan muncul untuk mengonfirmasi tindakan ini karena perlu dipahami bahwa buku tersebut tidak akan tersedia lagi dari perangkat apa pun.
+Saat membuat dialog konfirmasi, buat judul bermakna dengan mencerminkan tindakan yang diminta.
+
+ Konfirmasi tidak harus ditampilkan dalam peringatan dengan dua tombol. Setelah menjalankan Android Beam, pengguna diminta untuk menyentuh konten yang akan dibagikan (dalam contoh ini, sebuah foto). Jika mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan, mereka tinggal memindahkan ponsel.
+
+ Dalam contoh ini, jika pengguna menyusuri ke belakang atau ke atas dari layar pembuatan email di Gmail, sesuatu yang tak diharapkan bisa terjadi: draf saat itu akan disimpan secara otomatis. Pengakuan dalam bentuk pemberitahuan akan lebih jelas. Ini menghilang setelah beberapa detik.
+Pembatalan tidak cocok di sini karena penyimpanan dilakukan oleh aplikasi, bukan pengguna. Cepat dan mudah untuk melanjutkan penulisan pesan dengan menyusuri daftar draf.
+ +
+ Setelah pengguna menghapus percakapan dari daftar dalam Gmail, sebuah pengakuan muncul tanpa opsi pembatalan. Pengakuan tetap ada sampai pengguna melakukan tindakan yang tidak berkaitan, seperti menggulir daftar.
+
+ Konfirmasi tidak diperlukan. Jika pengguna telah memberikan +1 secara tidak sengaja, tidak masalah. Mereka cukup menyentuh kembali tombol itu untuk membatalkan tindakan.
+Pengakuan tidak diperlukan. Pengguna akan melihat tombol +1 memantul dan berubah merah. Itu tanda yang sangat jelas.
+
+ Konfirmasi tidak diperlukan. Ini adalah tindakan yang disengaja: pengguna harus menyeret dan meletakkan sebuah item di atas target yang relatif besar dan terpisah. Karena itu, kecil kemungkinan terjadi ketidaksengajaan. Tetapi jika pengguna menyesali keputusan itu, maka hanya perlu beberapa detik untuk mengembalikannya lagi.
+Pengakuan tidak diperlukan. Pengguna akan mengetahui bahwa aplikasi itu tidak ada di Layar Beranda karena mereka menghilangkannya dengan cara menyeretnya.
+ +Mengimplementasikan Navigasi yang Efektif
+Navigasi yang konsisten merupakan komponen penting dari keseluruhan pengalaman pengguna. Hampir tidak ada yang lebih membingungkan +pengguna selain navigasi dasar yang perilakunya tidak konsisten dan tidak sesuai harapan. Android 3.0 +memperkenalkan perubahan besar dalam perilaku navigasi global. Mengikuti dengan saksama +panduan untuk Back dan Up akan membuat navigasi aplikasi Anda dapat diprediksi dan dapat diandalkan pengguna.
+Android 2.3 dan versi sebelumnya mengandalkan tombol Back sistem untuk mendukung navigasi dalam +aplikasi. Dengan diperkenalkannya action-bar dalam Android 3.0, mekanisme navigasi kedua muncul: +tombol Up, yang terdiri dari ikon aplikasi dan tanda panah yang menunjuk ke kiri.
+ +
+
+Tombol Up digunakan untuk berpindah dalam aplikasi berdasarkan hubungan hierarki +antar layar. Misalnya, jika layar A menampilkan daftar item, dan memilih sebuah item akan membuka +layar B (yang menampilkan item tersebut secara lebih detail), maka layar B akan menawarkan tombol Up untuk +kembali ke layar A.
+Jika suatu layar merupakan yang teratas dalam aplikasi (yaitu layar Home aplikasi), maka tidak perlu menampilkan tombol +Up.
+ +Tombol Back sistem digunakan untuk berpindah, dalam urutan kronologis terbalik, melalui riwayat +layar yang baru dibuka oleh pengguna. Biasanya ini berdasarkan hubungan sementara +antar layar, dan bukan hierarki aplikasi.
+ +Bila layar yang dilihat sebelumnya juga merupakan induk hierarki dari layar yang sekarang, menekan tombol +Back akan sama hasilnya dengan menekan tombol Up—ini adalah kejadian +biasa. Akan tetapi, berbeda dengan tombol Up, yang memastikan pengguna tetap berada dalam aplikasi Anda, tombol Back +dapat mengembalikan pengguna ke layar Home, atau bahkan ke aplikasi lain.
+ +
+
+Tombol Back juga mendukung beberapa perilaku yang tidak terkait langsung dengan navigasi antar layar: +
+Kadang-kadang layar tidak memiliki posisi pasti dalam hierarki aplikasi, dan bisa dimasuki +dari berbagai titik masuk—seperti layar pengaturan yang dapat dibuka dari layar lain +dalam aplikasi Anda. Dalam hal ini, tombol Up akan memilih untuk kembali ke layar pengarah, yang cara kerjanya +sama dengan tombol Back.
+Mengubah opsi tampilan untuk layar tidak mengubah perilaku Up atau Back: layar tetap +berada di tempat yang sama dalam hierarki aplikasi, dan tidak dibuat riwayat navigasi yang baru.
+Contoh perubahan tampilan tersebut adalah:
+Bila aplikasi Anda mendukung navigasi dari daftar item ke tampilan detail salah satu item tersebut, aplikasi +juga sering diharapkan mendukung navigasi langsung dari item itu ke item sebelumnya atau +sesudahnya dalam daftar. Misalnya, dalam Gmail, begitu mudah untuk bergeser ke kiri atau kanan dari sebuah percakapan +untuk melihat percakapan yang lebih baru atau lebih lama dalam Inbox yang sama. Sama seperti saat mengubah tampilan dalam layar, navigasi +ini tidak mengubah perilaku Up atau Back.
+ +
+
+Akan tetapi, pengecualian khusus terhadap hal ini terjadi saat menjelajah di antara tampilan detail terkait yang tidak disatukan +oleh daftar yang merujuknya—misalnya, saat menjelajahi Play Store di antara aplikasi dari +pengembang yang sama, atau album dari artis yang sama. Dalam hal ini, mengikuti setiap tautan akan membuat +riwayat, sehingga tombol Back akan menyusuri setiap layar yang dilihat sebelumnya. Tombol Up akan terus +melewatkan semua layar terkait ini dan berpindah ke layar kontainer yang terakhir dilihat.
+ +
+
+Anda dapat menjadikan perilaku tombol Up lebih cerdas lagi berdasarkan pengetahuan Anda tentang tampilan +detail. Dengan memperluas contoh Play Store dari atas, bayangkan pengguna yang telah berpindah dari Buku +terakhir yang dilihat ke detail untuk adaptasi Film. Dalam hal itu, tombol Up dapat kembali ke kontainer +(Movies) yang sebelumnya belum dilalui pengguna.
+ +
+
+Anda bisa menggunakan widget atau pemberitahuan layar Home untuk membantu pengguna berpindah langsung ke layar +jauh dalam hierarki aplikasi Anda. Misalnya, widget Inbox dan pemberitahuan pesan baru di Gmail dapat +melewatkan layar Inbox, dan membawa pengguna langsung ke tampilan percakapan.
+ +Untuk kedua kasus ini, tangani tombol Up sebagai berikut:
+ +Dalam hal tombol Back, Anda harus membuat navigasi lebih bisa diprediksi dengan menyisipkan ke dalam +back-stack tugas path navigasi naik lengkap menuju layar teratas aplikasi. Ini memungkinkan pengguna +yang lupa cara masuk ke aplikasi Anda untuk berpindah ke layar teratas aplikasi sebelum +keluar.
+ +Sebagai contoh, widget layar Home di Gmail memiliki tombol untuk menuju langsung ke layar +Compose. Tombol Up atau Back dari layar Compose akan membawa pengguna ke Inbox, dan dari sana tombol +Back berlanjut ke Home.
+ +
+
+Jika aplikasi Anda perlu menampilkan informasi tentang beberapa kejadian sekaligus, aplikasi dapat menggunakan +pemberitahuan tunggal yang mengarahkan pengguna ke layar antara. Layar ini merangkum semua +kejadian tersebut, dan menyediakan path bagi pengguna untuk menjelajah ke dalam aplikasi. Pemberitahuan dengan gaya seperti ini +disebut pemberitahuan tidak langsung.
+ +Berbeda dengan pemberitahuan standar (langsung), menekan tombol Back dari +layar antara pada pemberitahuan tidak langsung akan mengembalikan pengguna ke titik pemicu pemberitahuan tersebut—tidak ada +layar tambahan yang disisipkan ke dalam back-stack. Setelah pengguna melanjutkan ke dalam aplikasi dari +layar antara, tombol Up dan Back akan berperilaku seperti pada pemberitahuan standar, sebagaimana dijelaskan di atas: +menyusuri ke dalam aplikasi dan bukan kembali ke layar antara.
+ +Misalnya, anggaplah seorang pengguna di Gmail menerima pemberitahuan tidak langsung dari Kalender. Menyentuh +pemberitahuan ini akan membuka layar antara, yang menampilkan pengingat beberapa macam +kejadian. Menyentuh Back dari layar antara akan mengembalikan pengguna ke Gmail. Menyentuh kejadian +tertentu akan membawa pengguna dari layar antara ke aplikasi Kalender lengkap untuk menampilkan detail +kejadian. Dari detail kejadian, tombol Up dan Back akan mengarahkan ke tampilan Kalender tingkat atas.
+ +
+
+Pemberitahuan pop-up akan melewatkan laci pemberitahuan, bukan muncul secara langsung di +hadapan pengguna. Ini jarang digunakan, dan harus dicadangkan untuk peristiwa yang memerlukan respons tepat waktu +dan diperlukan interupsi dari konteks pengguna. Misalnya, +Talk menggunakan gaya ini untuk memberi tahu pengguna tentang ajakan dari teman untuk bergabung dalam chatting video, karena +ajakan ini akan kedaluwarsa secara otomatis setelah beberapa detik.
+ +Dalam hal perilaku navigasi, pemberitahuan pop-up sangat mirip perilaku pemberitahuan +tidak langsung pada layar antara. Tombol Back akan menghilangkan pemberitahuan pop-up. Jika pengguna berpindah +dari pop-up ke aplikasi yang memberi tahu, tombol Up dan Back akan mengikuti aturan pemberitahuan standar, +berpindah dalam aplikasi.
+ +
+
+Salah satu kekuatan dasar sistem Android adalah kemampuan aplikasi untuk saling +mengaktifkan, sehingga pengguna dapat berpindah langsung dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya. Misalnya, sebuah +aplikasi yang perlu mengambil foto dapat mengaktifkan aplikasi Kamera, yang akan mengembalikan foto +ke aplikasi perujuk. Ini sangat menguntungkan pengembang, yang bisa dengan mudah memanfaatkan +kode dari aplikasi lain, maupun pengguna, yang menikmati pengalaman konsisten untuk tindakan yang biasa +dilakukan.
+ +Untuk memahami navigasi antar aplikasi, maka perlu memahami perilaku kerangka kerja Android +yang akan dibahas di bawah ini.
+ +Dalam Android, aktivitas adalah komponen aplikasi yang mendefinisikan layar +informasi dan semua tindakan terkait yang dapat dilakukan pengguna. Aplikasi Anda adalah kumpulan +aktivitas, yang terdiri dari aktivitas yang Anda buat dan aktivitas yang Anda gunakan ulang dari aplikasi lain.
+ +Tugas adalah urutan aktivitas yang diikuti pengguna untuk mencapai tujuan. +Tugas tunggal dapat memanfaatkan aktivitas dari satu aplikasi saja, atau dapat memanfaatkan aktivitas dari sejumlah +aplikasi berbeda.
+ +Intent adalah mekanisme bagi satu aplikasi untuk memberi isyarat minta bantuan +aplikasi lain dalam menjalankan suatu tindakan. Aktivitas aplikasi dapat menunjukkan intent + apa saja yang dapat diresponsnya. Untuk intent umum seperti "Share", pengguna mungkin telah menginstal beberapa aplikasi +yang dapat memenuhi permintaan itu.
+ +Untuk memahami cara kerja sama aktivitas, tugas, dan intent, perhatikan bagaimana sebuah aplikasi memungkinkan pengguna +untuk berbagi konten dengan menggunakan aplikasi lain. Misalnya, membuka aplikasi Play Store dari Home akan memulai +Task A baru (lihat gambar di bawah). Setelah menyusuri Play Store dan menyentuh buku yang dipromosikan +untuk melihat detailnya, pengguna tetap berada dalam tugas yang sama, memperluasnya dengan menambahkan aktivitas. Memicu +tindakan Share akan memberi tahu pengguna dengan dialog berisi daftar aktivitas (dari aplikasi berbeda) +yang telah terdaftar untuk menangani intent Share.
+ +
+
+Bila pengguna memilih untuk berbagi melalui Gmail, aktivitas penulisan di Gmail akan ditambahkan sebagai kelanjutan dari +Task A—tidak ada tugas baru yang dibuat. Jika Gmail sedang menjalankan tugasnya di latar belakang, maka +tidak akan terpengaruh.
+ +Dari aktivitas penulisan, mengirim pesan atau menyentuh tombol Back akan mengembalikan pengguna ke +aktivitas detail buku tersebut. Penyentuhan tombol Back berikutnya akan terus mengarahkan kembali melalui Play +Store, sampai akhirnya tiba di Home.
+ +
+
+Akan tetapi, dengan menyentuh tombol Up dari aktivitas penulisan, pengguna menunjukkan keinginan untuk tetap berada di +Gmail. Aktivitas daftar percakapan Gmail muncul, Task B yang baru akan dibuat untuk itu. Tugas baru +selalu terkait ke Home, maka menyentuh tombol Back dari daftar percakapan akan mengembalikan ke sana.
+ +
+
+Task A tetap berjalan di latar belakang, dan pengguna nanti dapat kembali ke sana (misalnya, melalui layar +Recents). Jika Gmail sedang menjalankan tugasnya di latar belakang, maka itu akan digantikan +dengan Task B—konteks sebelumnya akan diabaikan demi tujuan baru pengguna.
+ +Jika register aplikasi Anda menangani intent dengan aktivitas yang jauh di dalam hierarki aplikasi, +lihat Navigasi Aplikasi Anda melalui Widget Layar Home dan +Pemberitahuan untuk panduan mengenai cara menetapkan navigasi Up.
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/components/activities.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/activities.jd new file mode 100644 index 0000000000000..bbc061cdc8cbb --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/activities.jd @@ -0,0 +1,756 @@ +page.title=Aktivitas +page.tags=aktivitas,intent +@jd:body + +{@link android.app.Activity} adalah sebuah komponen aplikasi yang menyediakan layar yang digunakan +pengguna untuk berinteraksi guna melakukan sesuatu, misalnya memilih nomor telepon, mengambil foto, mengirim email, atau +menampilkan peta. Tiap aktivitas diberi sebuah jendela untuk menggambar antarmuka penggunanya. Jendela ini +biasanya mengisi layar, namun mungkin lebih kecil daripada layar dan mengambang di atas +jendela lain.
+ +Sebuah aplikasi biasanya terdiri atas beberapa aktivitas yang terikat secara longgar +satu sama lain. Biasanya, satu aktivitas dalam aplikasi ditetapkan sebagai aktivitas "utama", yang +ditampilkan kepada pengguna saat membuka aplikasi untuk pertama kali. Tiap +aktivitas kemudian bisa memulai aktivitas lain untuk melakukan berbagai tindakan. Tiap kali +aktivitas baru dimulai, aktivitas sebelumnya akan dihentikan, namun sistem mempertahankan aktivitas +dalam sebuah tumpukan ("back-stack"). Bila sebuah aktivitas baru dimulai, aktivitas itu akan didorong ke atas back-stack dan +mengambil fokus pengguna. Back-stack mematuhi mekanisme dasar tumpukan "masuk terakhir, keluar pertama", +jadi, bila pengguna selesai dengan aktivitas saat ini dan menekan tombol Back, aktivitas +akan dikeluarkan dari tumpukan (dan dimusnahkan) dan aktivitas sebelumnya akan dilanjutkan. (Back-stack +dibahas selengkapnya dalam dokumen Tugas +dan Back-Stack.)
+ +Bila aktivitas dihentikan karena ada aktivitas baru yang dimulai, aktivitas lama akan diberi tahu tentang perubahan status ini +melalui metode callback daur hidupnya. +Ada beberapa metode callback yang mungkin diterima aktivitas, karena sebuah perubahan dalam +statusnya—apakah sistem sedang membuatnya, menghentikannya, melanjutkannya, atau menghapuskannya—dan +masing-masing callback memberi Anda kesempatan melakukan pekerjaan tertentu yang +sesuai untuk perubahan status itu. Misalnya, bila dihentikan, aktivitas Anda harus melepas +objek besar, seperti koneksi jaringan atau database. Bila aktivitas dilanjutkan, Anda bisa +memperoleh kembali sumber daya yang diperlukan dan melanjutkan tindakan yang terputus. Transisi status ini +semuanya bagian dari daur hidup aktivitas.
+ +Bagian selebihnya dari dokumen ini membahas dasar-dasar cara membuat dan menggunakan aktivitas, +yang meliputi satu pembahasan lengkap tentang cara kerja daur hidup aktivitas, sehingga Anda bisa dengan benar mengelola +transisi di antara berbagai status aktivitas.
+ + + +Untuk membuat sebuah aktivitas, Anda harus membuat subkelas {@link android.app.Activity} (atau +subkelasnya yang ada). Dalam subkelas itu, Anda perlu mengimplementasikan metode-metode callback yang +dipanggil sistem saat aktivitas bertransisi di antara berbagai status daur hidupnya, misalnya saat +aktivitas sedang dibuat, dihentikan, dilanjutkan, atau dimusnahkan. Dua metode callback +terpenting adalah:
+ +Ada beberapa metode callback daur hidup lainnya yang harus Anda gunakan untuk memberikan +pengalaman pengguna yang mengalir di antara aktivitas dan menangani interupsi tidak terduga yang menyebabkan aktivitas Anda +dihentikan dan bahkan dimusnahkan. Semua metode callback daur hidup akan dibahas nanti, di +bagian tentang Mengelola Daur Hidup Aktivitas.
+ + + +Antarmuka pengguna aktivitas disediakan oleh hierarki objek—tampilan yang diturunkan +dari kelas {@link android.view.View}. Tiap tampilan mengontrol sebuah ruang persegi panjang tertentu +dalam jendela aktivitas dan bisa merespons interaksi pengguna. Misalnya, sebuah tampilan mungkin berupa sebuah +tombol yang mengawali suatu tindakan bila pengguna menyentuhnya.
+ +Android menyediakan sejumlah tampilan siap-dibuat yang bisa Anda gunakan untuk mendesain dan mengatur +layout. "Widget" adalah tampilan yang menyediakan elemen-elemen visual (dan interaktif) untuk layar, +misalnya tombol, bidang teks, kotak cek, atau sekadar sebuah gambar. "Layout" adalah tampilan yang diturunkan dari {@link +android.view.ViewGroup} yang memberikan sebuah model layout unik untuk tampilan anaknya, misalnya +layout linier, layout grid, atau layout relatif. Anda juga bisa mensubkelaskan kelas-kelas {@link android.view.View} dan +{@link android.view.ViewGroup} (atau subkelas yang ada) untuk membuat widget dan +layout Anda sendiri dan menerapkannya ke layout aktivitas Anda.
+ +Cara paling umum untuk mendefinisikan layout dengan menggunakan tampilan adalah dengan file layout XML yang disimpan dalam +sumber daya aplikasi Anda. Dengan cara ini, Anda bisa memelihara desain antarmuka pengguna Anda secara terpisah dari +kode yang mendefinisikan perilaku aktivitas. Anda bisa mengatur layout sebagai UI +aktivitas Anda dengan {@link android.app.Activity#setContentView(int) setContentView()}, dengan meneruskan +ID sumber daya untuk layout itu. Akan tetapi, Anda juga bisa membuat {@link android.view.View} baru dalam +kode aktivitas dan membuat hierarki tampilan dengan menyisipkan {@link +android.view.View} baru ke dalam {@link android.view.ViewGroup}, kemudian menggunakan layout itu dengan meneruskan akar +{@link android.view.ViewGroup} ke {@link android.app.Activity#setContentView(View) +setContentView()}.
+ +Untuk informasi tentang cara membuat antarmuka pengguna, lihat dokumentasi Antarmuka Pengguna.
+ + + +Anda harus mendeklarasikan aktivitas dalam file manifes agar file itu +bisa diakses oleh sistem. Untuk mendeklarasikan aktivitas, bukalah file manifes Anda dan tambahkan sebuah elemen {@code <activity>} +sebagai anak elemen {@code <application>} +. Misalnya:
+ ++<manifest ... > + <application ... > + <activity android:name=".ExampleActivity" /> + ... + </application ... > + ... +</manifest > ++ +
Ada beberapa atribut lain yang bisa Anda sertakan dalam elemen ini, untuk mendefinisikan properti +misalnya label untuk aktivitas, ikon untuk aktivitas, atau tema untuk memberi gaya ke +UI aktivitas. Atribut {@code android:name} + adalah satu-satunya atribut yang diperlukan—atribut ini menetapkan nama kelas aktivitas. Setelah +Anda mempublikasikan aplikasi, Anda tidak boleh mengubah nama ini, karena jika melakukannya, Anda bisa merusak +sebagian fungsionalitas, misalnya pintasan aplikasi (bacalah posting blog berjudul Things +That Cannot Change).
+ +Lihat acuan elemen {@code <activity>} +untuk informasi selengkapnya tentang cara mendeklarasikan aktivitas Anda dalam manifes.
+ + +Elemen {@code +<activity>} juga bisa menetapkan berbagai filter intent—dengan menggunakan elemen {@code +<intent-filter>} —untuk mendeklarasikan cara komponen aplikasi lain +mengaktifkannya.
+ +Bila Anda membuat aplikasi baru dengan Android SDK Tools, aktivitas stub +yang dibuat untuk Anda secara otomatis menyertakan filter intent yang mendeklarasikan respons +aktivitas pada tindakan "main" (utama) dan harus diletakkan dalam kategori "launcher"). Filter intent +terlihat seperti ini:
+ ++<activity android:name=".ExampleActivity" android:icon="@drawable/app_icon"> + <intent-filter> + <action android:name="android.intent.action.MAIN" /> + <category android:name="android.intent.category.LAUNCHER" /> + </intent-filter> +</activity> ++ +
Elemen {@code +<action>} menetapkan bahwa ini adalah titik masuk "main" ke aplikasi. Elemen {@code +<category>} menetapkan bahwa aktivitas ini harus tercantum dalam launcher aplikasi +sistem (untuk memungkinkan pengguna meluncurkan aktivitas ini).
+ +Jika Anda bermaksud agar aplikasi dimuat dengan sendirinya dan tidak memperbolehkan aplikasi lain +mengaktifkan aktivitasnya, maka Anda tidak memerlukan filter intent lain. Hanya satu aktivitas yang boleh +memiliki tindakan "main" dan kategori "launcher", seperti dalam contoh sebelumnya. Aktivitas yang +tidak ingin Anda sediakan untuk aplikasi lain tidak boleh memiliki filter intent dan Anda bisa +memulai sendiri aktivitas dengan menggunakan intent secara eksplisit (seperti dibahas di bagian berikut).
+ +Akan tetapi, jika ingin aktivitas Anda merespons intent implisit yang dikirim dari +aplikasi lain (dan aplikasi Anda sendiri), maka Anda harus mendefinisikan filter intent tambahan untuk +aktivitas. Untuk masing-masing tipe intent yang ingin direspons, Anda harus menyertakan sebuah {@code +<intent-filter>} yang menyertakan elemen +{@code +<action>} dan, opsional, sebuah elemen {@code +<category>} dan/atau elemen {@code +<data>}. Elemen-elemen ini menetapkan tipe intent yang bisa +direspons oleh aktivitas Anda.
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang cara aktivitas Anda merespons intent, lihat dokumen Intent dan Filter Intent. +
+ + + +Anda bisa memulai aktivitas lain dengan memanggil {@link android.app.Activity#startActivity + startActivity()}, dengan meneruskan sebuah {@link android.content.Intent} yang menjelaskan aktivitas + yang ingin Anda mulai. Intent menetapkan aktivitas persis yang ingin Anda mulai atau menjelaskan + tipe tindakan yang ingin Anda lakukan (dan sistem akan memilih aktivitas yang sesuai untuk Anda, +yang bahkan + bisa berasal dari aplikasi berbeda). Intent juga bisa membawa sejumlah kecil data untuk + digunakan oleh aktivitas yang dimulai.
+ +Saat bekerja dalam aplikasi sendiri, Anda nanti akan sering meluncurkan aktivitas yang dikenal saja. + Anda bisa melakukannya dengan membuat intent yang mendefinisikan secara eksplisit aktivitas yang ingin Anda mulai, +dengan menggunakan nama kelas. Misalnya, beginilah cara satu aktivitas memulai aktivitas lain bernama {@code +SignInActivity}:
+ ++Intent intent = new Intent(this, SignInActivity.class); +startActivity(intent); ++ +
Akan tetapi, aplikasi Anda mungkin juga perlu melakukan beberapa tindakan, misalnya mengirim email, + pesan teks, atau pembaruan status, dengan menggunakan data dari aktivitas Anda. Dalam hal ini, aplikasi Anda mungkin + tidak memiliki aktivitasnya sendiri untuk melakukan tindakan tersebut, sehingga Anda bisa memanfaatkan aktivitas + yang disediakan oleh aplikasi lain pada perangkat, yang bisa melakukan tindakan itu untuk Anda. Inilah saatnya +intent benar-benar berharga—Anda bisa membuat intent yang menjelaskan tindakan yang ingin +dilakukan dan sistem + akan meluncurkan aktivitas yang tepat dari aplikasi lain. Jika ada + beberapa aktivitas yang bisa menangani intent itu, pengguna bisa memilih aktivitas yang akan digunakan. Misalnya, + jika Anda ingin memperbolehkan pengguna mengirim pesan email, Anda bisa membuat + intent berikut:
+ ++Intent intent = new Intent(Intent.ACTION_SEND); +intent.putExtra(Intent.EXTRA_EMAIL, recipientArray); +startActivity(intent); ++ +
Ekstra {@link android.content.Intent#EXTRA_EMAIL} yang ditambahkan ke intent adalah sebuah larik string + alamat email yang menjadi tujuan pengiriman email. Bila aplikasi email merespons intent ini, + aplikasi itu akan membaca larik string yang disediakan dalam ekstra dan meletakkannya dalam bidang "to" + pada formulir penulisan email. Dalam situasi ini, aktivitas aplikasi email dimulai dan bila + pengguna selesai, aktivitas Anda akan dilanjutkan.
+ + + + +Kadang-kadang, Anda mungkin ingin menerima hasil dari aktivitas yang Anda mulai. Dalam hal itu, + mulailah aktivitas dengan memanggil {@link android.app.Activity#startActivityForResult + startActivityForResult()} (sebagai ganti {@link android.app.Activity#startActivity + startActivity()}). Untuk menerima hasil dari +aktivitas selanjutnya nanti, implementasikan metode callback {@link android.app.Activity#onActivityResult onActivityResult()} +. Bila aktivitas selanjutnya selesai, aktivitas akan mengembalikan hasil dalam {@link +android.content.Intent} kepada metode {@link android.app.Activity#onActivityResult onActivityResult()} +Anda.
+ +Misalnya, mungkin Anda ingin pengguna mengambil salah satu kontaknya, sehingga aktivitas Anda bisa +melakukan sesuatu dengan informasi dalam kontak itu. Begini caranya membuat intent tersebut dan +menangani hasilnya:
+ +
+private void pickContact() {
+ // Create an intent to "pick" a contact, as defined by the content provider URI
+ Intent intent = new Intent(Intent.ACTION_PICK, Contacts.CONTENT_URI);
+ startActivityForResult(intent, PICK_CONTACT_REQUEST);
+}
+
+@Override
+protected void onActivityResult(int requestCode, int resultCode, Intent data) {
+ // If the request went well (OK) and the request was PICK_CONTACT_REQUEST
+ if (resultCode == Activity.RESULT_OK && requestCode == PICK_CONTACT_REQUEST) {
+ // Perform a query to the contact's content provider for the contact's name
+ Cursor cursor = getContentResolver().query(data.getData(),
+ new String[] {Contacts.DISPLAY_NAME}, null, null, null);
+ if (cursor.moveToFirst()) { // True if the cursor is not empty
+ int columnIndex = cursor.getColumnIndex(Contacts.DISPLAY_NAME);
+ String name = cursor.getString(columnIndex);
+ // Do something with the selected contact's name...
+ }
+ }
+}
+
+
+Contoh ini menunjukkan logika dasar yang harus Anda gunakan dalam metode {@link +android.app.Activity#onActivityResult onActivityResult()} Anda untuk menangani +hasil aktivitas. Syarat pertama memeriksa apakah permintaan berhasil—jika ya, maka + {@code resultCode} akan berupa {@link android.app.Activity#RESULT_OK}—dan apakah permintaan +yang direspons hasil ini dikenal—dalam hal ini, {@code requestCode} cocok dengan +parameter kedua yang dikirim dengan {@link android.app.Activity#startActivityForResult +startActivityForResult()}. Dari sana, kode akan menangani hasil aktivitas dengan membuat query +data yang dihasilkan dalam{@link android.content.Intent} (parameter {@code data}).
+ +Yang terjadi adalah {@link +android.content.ContentResolver} melakukan query terhadap penyedia konten, yang menghasilkan +{@link android.database.Cursor} yang memperbolehkan data query dibaca. Untuk informasi selengkapnya, lihat dokumen +Penyedia Konten.
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang menggunakan intent, lihat dokumen Intent dan Filter +Intent.
+ + +Anda bisa mematikan aktivitas dengan memanggil metode {@link android.app.Activity#finish +finish()}-nya. Anda juga bisa mematikan aktivitas terpisah yang sebelumnya Anda mulai dengan memanggil +{@link android.app.Activity#finishActivity finishActivity()}.
+ +Catatan: Pada umumnya, Anda tidak boleh secara eksplisit mengakhiri aktivitas +dengan menggunakan metode-metode ini. Seperti yang dibahas di bagian berikut tentang daur hidup aktivitas, +sistem Android mengelola hidup aktivitas untuk Anda, sehingga Anda tidak perlu menyelesaikan sendiri +aktivitas tersebut. Memanggil metode-metode ini bisa berpengaruh negatif pada pengalaman +pengguna yang diharapkan dan hanya boleh digunakan bila Anda benar-benar tidak ingin pengguna kembali ke +instance aktivitas ini.
+ + +Mengelola daur hidup aktivitas dengan mengimplementasikan metode-metode callback sangat +penting untuk mengembangkan +aplikasi yang kuat dan fleksibel. Daur hidup aktivitas dipengaruhi langsung oleh kaitannya dengan +aktivitas lain, tugasnya, serta back-stack.
+ +Pada dasarnya, sebuah aktivitas bisa berada dalam tiga status:
+ +Jika aktivitas dihentikan sementara atau dihentikan, sistem bisa mengeluarkannya dari memori baik dengan memintanya agar +diakhiri (memanggil metode {@link android.app.Activity#finish finish()}-nya), atau sekadar mematikan +prosesnya. Bila dibuka lagi (setelah diakhiri atau dimatikan), aktivitas harus dibuat dari +awal.
+ + + +Saat bertransisi ke dalam dan ke luar berbagai status yang dijelaskan di atas, aktivitas diberi tahu +melalui berbagai metode callback. Semua metode callback adalah sangkutan yang +bisa Anda kesampingkan untuk melakukan pekerjaan yang sesuai saat status aktivitas Anda berubah. Aktivitas skeleton +berikut menyertakan setiap metode daur hidup mendasar:
+ + +
+public class ExampleActivity extends Activity {
+ @Override
+ public void {@link android.app.Activity#onCreate onCreate}(Bundle savedInstanceState) {
+ super.onCreate(savedInstanceState);
+ // The activity is being created.
+ }
+ @Override
+ protected void {@link android.app.Activity#onStart onStart()} {
+ super.onStart();
+ // The activity is about to become visible.
+ }
+ @Override
+ protected void {@link android.app.Activity#onResume onResume()} {
+ super.onResume();
+ // The activity has become visible (it is now "resumed").
+ }
+ @Override
+ protected void {@link android.app.Activity#onPause onPause()} {
+ super.onPause();
+ // Another activity is taking focus (this activity is about to be "paused").
+ }
+ @Override
+ protected void {@link android.app.Activity#onStop onStop()} {
+ super.onStop();
+ // The activity is no longer visible (it is now "stopped")
+ }
+ @Override
+ protected void {@link android.app.Activity#onDestroy onDestroy()} {
+ super.onDestroy();
+ // The activity is about to be destroyed.
+ }
+}
+
+
+Catatan: Implementasi Anda terhadap metode-metode daur hidup ini harus +selalu memanggil implementasi superkelas sebelum melakukan pekerjaan apa pun, seperti yang ditampilkan dalam contoh-contoh di atas.
+ +Bersama-sama, semua metode ini mendefinisikan seluruh daur hidup sebuah aktivitas. Dengan mengimplementasikan +metode-metode ini, Anda bisa memantau tiga loop tersarang (nested loop) dalam daur hidup aktivitas:
+ +Masa pakai terlihat (visible lifetime) aktivitas berlangsung antara panggilan ke {@link +android.app.Activity#onStart onStart()} dan panggilan ke {@link +android.app.Activity#onStop onStop()}. Selama ini, pengguna bisa melihat aktivitas +pada layar dan berinteraksi dengannya. Misalnya, {@link android.app.Activity#onStop onStop()} dipanggil +bila sebuah aktivitas baru dimulai dan aktivitas ini tidak lagi terlihat. Di antara dua metode ini, Anda bisa +memelihara sumber daya yang diperlukan untuk menampilkan aktivitas kepada pengguna. Misalnya, Anda bisa mendaftarkan sebuah +{@link android.content.BroadcastReceiver} dalam {@link +android.app.Activity#onStart onStart()} untuk memantau perubahan yang berdampak pada UI Anda, dan mencabut pendaftarannya +dalam {@link android.app.Activity#onStop onStop()} bila pengguna tidak bisa lagi melihat apa yang sedang Anda +tampilkan. Sistem bisa memanggil {@link android.app.Activity#onStart onStart()} dan {@link +android.app.Activity#onStop onStop()} beberapa kali selama masa pakai aktivitas, sambil +aktivitas berganti-ganti antara terlihat dan tersembunyi bagi pengguna.
Masa pakai latar depan aktivitas berlangsung antara panggilan ke {@link +android.app.Activity#onResume onResume()} dan panggilan ke {@link android.app.Activity#onPause +onPause()}. Selama waktu ini, aktivitas berada di depan semua aktivitas lain pada layar dan mendapatkan +fokus input pengguna. Aktivitas bisa sering bertransisi ke dalam dan ke luar latar depan—misalnya, + {@link android.app.Activity#onPause onPause()} dipanggil bila perangkat masuk ke mode tidur atau +bila dialog muncul. Karena status ini bisa sering bertransisi, kode dalam dua metode ini harus +cukup ringan untuk menghindari transisi lamban yang membuat pengguna menunggu.
Gambar 1 mengilustrasikan loop dan path yang mungkin diambil sebuah aktivitas di antara status-status. +Persegi panjang mewakili metode callback yang bisa Anda implementasikan untuk melakukan operasi saat +aktivitas bertransisi di antara status.
+
+
+
Gambar 1. Daur hidup aktivitas.
+ +Metode-metode callback daur hidup yang sama tercantum dalam tabel 1, yang menjelaskan setiap metode callback +secara lebih detail dan menentukan lokasinya masing-masing dalam +daur hidup aktivitas keseluruhan, termasuk apakah sistem bisa mematikan aktivitas setelah +metode callback selesai.
+ +Tabel 1. Rangkuman metode callback +daur hidup aktivitas.
+ +| Metode | Keterangan | Bisa dimatikan setelahnya? | Berikutnya | ||
|---|---|---|---|---|---|
{@link android.app.Activity#onCreate onCreate()} |
+ Dipanggil saat aktivitas pertama kali dibuat.
+ Di sinilah Anda harus melakukan semua persiapan statis normal —
+ membuat tampilan, mengikat data ke daftar, dan sebagainya. Metode ini diberi
+ sebuah objek Bundle yang berisi status aktivitas sebelumnya, jika
+ status itu tertangkap (lihat Menyimpan Status Aktivitas,
+ nanti).
+ Selalu diikuti oleh {@code onStart()}. |
+ Tidak | +{@code onStart()} | +||
| + | {@link android.app.Activity#onRestart
+onRestart()} |
+ Dipanggil setelah aktivitas dihentikan, tepat sebelum
+ dimulai lagi.
+ Selalu diikuti oleh {@code onStart()} |
+ Tidak | +{@code onStart()} | +|
{@link android.app.Activity#onStart onStart()} |
+ Dipanggil tepat sebelum aktivitas menjadi terlihat bagi pengguna.
+ Diikuti oleh {@code onResume()} jika aktivitas maju + ke latar depan, atau {@code onStop()} jika menjadi tersembunyi. |
+ Tidak | +{@code onResume()} atau {@code onStop()} |
+||
| + | {@link android.app.Activity#onResume onResume()} |
+ Dipanggil tepat sebelum aktivitas mulai
+ berinteraksi dengan pengguna. Pada titik ini, aktivitas berada di
+ puncak tumpukan aktivitas, dengan input pengguna menuju kepadanya.
+ Selalu diikuti oleh {@code onPause()}. |
+ Tidak | +{@code onPause()} | +|
{@link android.app.Activity#onPause onPause()} |
+ Dipanggil bila sistem akan memulai pelanjutan
+ aktivitas lain. Metode ini biasanya digunakan untuk menerapkan (commit) perubahan yang tidak tersimpan pada
+ data persisten, menghentikan animasi dan hal-hal lain yang mungkin menghabiskan
+ CPU, dan sebagainya. Metode ini harus melakukan apa saja yang dilakukannya dengan sangat cepat, karena
+ aktivitas berikutnya tidak akan dilanjutkan hingga aktivitas ini kembali.
+ Diikuti oleh {@code onResume()} jika aktivitas + kembali ke depan, atau oleh {@code onStop()} jika menjadi + tidak terlihat bagi pengguna. |
+ Ya | +{@code onResume()} atau {@code onStop()} |
+||
{@link android.app.Activity#onStop onStop()} |
+ Dipanggil bila aktivitas tidak lagi terlihat bagi pengguna. Hal ini
+ bisa terjadi karena aktivitas sedang dimusnahkan, atau karena aktivitas lain
+ (aktivitas yang ada atau yang baru) telah dilanjutkan dan sedang menutupinya.
+ Diikuti oleh {@code onRestart()} jika + aktivitas kembali untuk berinteraksi dengan pengguna, atau oleh + {@code onDestroy()} jika aktivitas ini akan menghilang. |
+ Ya | +{@code onRestart()} atau {@code onDestroy()} |
+||
{@link android.app.Activity#onDestroy
+onDestroy()} |
+ Dipanggil sebelum aktivitas dimusnahkan. Inilah panggilan terakhir
+ yang akan diterima aktivitas. Metode ini bisa dipanggil karena
+ aktivitas selesai (seseorang memanggil {@link android.app.Activity#finish
+ finish()} padanya), atau karena sistem memusnahkan sementara
+ instance aktivitas ini untuk menghemat tempat. Anda bisa membedakan
+ kedua skenario ini dengan metode {@link
+ android.app.Activity#isFinishing isFinishing()}. |
+ Ya | +tidak ada | +||
Kolom berlabel "Bisa dimatikan setelahnya?" menunjukkan apakah sistem bisa +atau tidak mematikan proses yang menjadi host aktivitas kapan saja setelah metode kembali, tanpa +menjalankan baris lain pada kode aktivitas. Tiga metode ini ditandai "ya": ({@link +android.app.Activity#onPause +onPause()}, {@link android.app.Activity#onStop onStop()}, dan {@link android.app.Activity#onDestroy +onDestroy()}). Karena {@link android.app.Activity#onPause onPause()} adalah yang pertama +dari tiga, begitu aktivitas dibuat, {@link android.app.Activity#onPause onPause()} adalah +metode terakhir yang dipastikan akan dipanggil sebelum proses bisa dimatikan—jika +sistem harus memulihkan memori dalam keadaan darurat, maka {@link +android.app.Activity#onStop onStop()} dan {@link android.app.Activity#onDestroy onDestroy()} mungkin +tidak dipanggil. Karena itu, Anda harus menggunakan {@link android.app.Activity#onPause onPause()} untuk menulis +data persisten yang penting (misalnya hasil edit pengguna) ke penyimpanan. Akan tetapi, Anda harus selektif dalam hal +informasi yang harus dipertahankan selama {@link android.app.Activity#onPause onPause()}, karena setiap +prosedur pemblokiran dalam metode ini akan memblokir transisi ke aktivitas berikutnya dan memperlambat +pengalaman pengguna.
+ +Metode-metode yang ditandai "Tidak" dalam kolom Bisa dimatikan melindungi proses yang menjadi host +aktivitas dari dimatikan sejak saat metode dipanggil. Jadi, aktivitas bisa dimatikan +sejak {@link android.app.Activity#onPause onPause()} kembali hingga waktu +{@link android.app.Activity#onResume onResume()} dipanggil. Aktivitas tidak akan lagi bisa dimatikan hingga +{@link android.app.Activity#onPause onPause()} dipanggil lagi dan kembali.
+ +Catatan: Aktivitas yang tidak "bisa dimatikan" secara teknis oleh +definisi dalam tabel 1 masih bisa dimatikan oleh sistem—namun itu hany terjadi dalam +situasi ekstrem bila tidak ada jalan lain. Kapan aktivitas bisa dimatikan +akan dibahas selengkapnya dalam dokumen Proses dan +Threading.
+ + +Pengantar untuk Mengelola Daur Hidup Aktivitas secara ringkas menyebutkan +bahwa +bila aktivitas dihentikan sementara atau dihentikan, status aktivitas akan dipertahankan. Hal itu terjadi karena +objek {@link android.app.Activity} masih ditahan dalam memori saat aktivitas dihentikan sementara atau +dihentikan—semua informasi tentang anggota dan statusnya saat ini masih hidup. Jadi, setiap perubahan +yang dibuat pengguna dalam aktivitas akan dipertahankan sehingga bila aktivitas kembali ke +latar depan (bila "dilanjutkan"), perubahan itu masih ada.
+ +Akan tetapi, bila sistem memusnahkan aktivitas untuk memulihkan memori, objek {@link +android.app.Activity} akan dimusnahkan, sehingga sistem tidak bisa sekadar melanjutkan aktivitas dengan status +tidak berubah. Sebagai gantinya, sistem harus membuat ulang objek {@link android.app.Activity} jika pengguna +menyusuri kembali ke aktivitas tersebut. Namun, pengguna tidak menyadari +bahwa sistem memusnahkan aktivitas dan membuatnya kembali dan, karena itu, mungkin +mengharapkan aktivitas untuk sama persis dengan sebelumnya. Dalam situasi ini, Anda bisa memastikan bahwa +informasi penting tentang status aktivitas tetap terjaga dengan mengimplementasikan +metode callback tambahan yang memungkinkan Anda menyimpan informasi tentang status aktivitas: {@link +android.app.Activity#onSaveInstanceState onSaveInstanceState()}.
+ +Sistem memanggil {@link android.app.Activity#onSaveInstanceState onSaveInstanceState()} +sebelum membuat aktivitas rawan terhadap pemusnahan. Sistem meneruskan ke metode ini +sebuah {@link android.os.Bundle} tempat Anda bisa menyimpan +informasi status tentang aktivitas sebagai pasangan nama-nilai, dengan menggunakan metode-metode misalnya {@link +android.os.Bundle#putString putString()} dan {@link +android.os.Bundle#putInt putInt()}. Kemudian, jika sistem mematikan proses aplikasi Anda +dan pengguna menyusuri kembali ke aktivitas tersebut, sistem akan membuat kembali aktivitas dan meneruskan +{@link android.os.Bundle} ke {@link android.app.Activity#onCreate onCreate()} maupun {@link +android.app.Activity#onRestoreInstanceState onRestoreInstanceState()}. Dengan menggunakan salah satu +metode ini, Anda bisa mengekstrak status tersimpan dari {@link android.os.Bundle} dan memulihkan +status aktivitas. Jika tidak ada informasi status untuk dipulihkan, maka {@link +android.os.Bundle} yang diteruskan kepada adalah Anda null (yang akan terjadi bila aktivitas dibuat untuk +pertama kali).
+ +
+Gambar 2. Ada dua cara yang bisa digunakan aktivitas untuk kembali ke fokus pengguna +dengan status tetap: aktivitas dimusnahkan, kemudian dibuat kembali, dan aktivitas harus memulihkan +status yang disimpan sebelumnya, atau aktivitas dihentikan, kemudian dilanjutkan dengan status aktivitas +tetap.
+ +Catatan: Tidak ada jaminan bahwa {@link +android.app.Activity#onSaveInstanceState onSaveInstanceState()} akan dipanggil sebelum +aktivitas Anda dimusnahkan, karena bisa saja terjadi aktivitas tidak perlu menyimpan status +(misalnya saat pengguna meninggalkan aktivitas Anda dengan menggunakan tombol Back, karena pengguna menutup aktivitas +secara eksplisit +). Jika sistem memanggil {@link android.app.Activity#onSaveInstanceState +onSaveInstanceState()}, ini akan dilakukan sebelum {@link +android.app.Activity#onStop onStop()} dan mungkin sebelum {@link android.app.Activity#onPause +onPause()}.
+ +Akan tetapi, sekalipun Anda tidak melakukan apa-apa dan tidak mengimplementasikan {@link +android.app.Activity#onSaveInstanceState onSaveInstanceState()}, beberapa status aktivitas +akan dipulihkan oleh implementasi default {@link +android.app.Activity#onSaveInstanceState onSaveInstanceState()} dalam kelas {@link android.app.Activity}. Khususnya, +implementasi default akan memanggil metode {@link +android.view.View#onSaveInstanceState onSaveInstanceState()} yang sesuai untuk setiap {@link +android.view.View} dalam layout, yang memungkinkan setiap tampilan untuk memberi informasi tentang dirinya +yang harus disimpan. Hampir setiap widget dalam kerangka kerja Android mengimplementasikan metode ini +sebagaimana mestinya, sehingga setiap perubahan yang terlihat pada UI akan disimpan dan dipulihkan secara otomatis bila +aktivitas Anda dibuat kembali. Misalnya, widget {@link android.widget.EditText} menyimpan teks apa saja +yang dimasukkan oleh pengguna dan widget {@link android.widget.CheckBox} menyimpan baik teks itu diperiksa maupun +tidak. Satu-satunya pekerjaan yang Anda perlukan adalah memberikan ID unik (dengan atribut {@code android:id} +) untuk masing-masing widget yang ingin disimpan statusnya. Jika widget tidak memiliki ID, maka sistem +tidak bisa menyimpan statusnya.
+ +Anda juga bisa menghentikan secara eksplisit sebuah tampilan dalam layout Anda agar tidak menyimpan statusnya dengan mengatur atribut +{@link android.R.attr#saveEnabled android:saveEnabled} ke {@code "false"} atau dengan memanggil +metode {@link android.view.View#setSaveEnabled setSaveEnabled()}. Biasanya, Anda tidak boleh +menonaktifkannya, namun Anda boleh melakukannya jika ingin memulihkan status UI aktivitas secara berbeda.
+Walaupun implementasi default {@link +android.app.Activity#onSaveInstanceState onSaveInstanceState()} menyimpan informasi yang berguna tentang +UI aktivitas, Anda mungkin masih perlu mengesampingkannya untuk menyimpan informasi tambahan. +Misalnya, Anda mungkin perlu menyimpan nilai-nilai anggota yang berubah selama masa pakai aktivitas (yang +mungkin berkorelasi dengan nilai-nilai yang dipulihkan dalam UI, namun anggota-anggota yang menyimpan nilai-nilai UI itu tidak +dipulihkan, secara default).
+ +Karena implementasi default {@link +android.app.Activity#onSaveInstanceState onSaveInstanceState()} membantu menyimpan status UI, jika +Anda mengesampingkan metode ini untuk menyimpan informasi tambahan status, Anda harus selalu memanggil +implementasi superkelas {@link android.app.Activity#onSaveInstanceState onSaveInstanceState()} +sebelum melakukan pekerjaan apa pun. Demikian pula, Anda juga harus memanggil implementasi superkelas {@link +android.app.Activity#onRestoreInstanceState onRestoreInstanceState()} jika Anda mengesampingkannya, sehingga +implementasi default bisa memulihkan status tampilan.
+ +Catatan: Karena {@link android.app.Activity#onSaveInstanceState +onSaveInstanceState()} tidak dijamin +akan dipanggil, Anda harus menggunakannya hanya untuk mencatat status aktivitas sementara (transient) (status +UI)—Anda tidak boleh menggunakannya untuk menyimpan data persisten. Sebagai gantinya, Anda harus menggunakan {@link +android.app.Activity#onPause onPause()} untuk menyimpan data persisten (misalnya data yang harus disimpan +ke database) saat pengguna meninggalkan aktivitas.
+ +Salah satu cara yang baik untuk menguji kemampuan aplikasi dalam memulihkan statusnya adalah cukup dengan memutar +perangkat sehingga orientasi layarnya berubah. Bila orientasi layar berubah, sistem +akan memusnahkan dan membuat kembali aktivitas untuk menerapkan sumber daya alternatif yang mungkin tersedia +untuk konfigurasi layar baru. Karena alasan ini saja, sangat penting bahwa aktivitas Anda +memulihkan statusnya secara lengkap saat dibuat kembali, karena pengguna memutar layar secara rutin saat +menggunakan aplikasi.
+ + +Sebagian konfigurasi perangkat bisa berubah saat runtime (misalnya orientasi layar, ketersediaan keyboard +, dan bahasa). Bila terjadi perubahan demikian, Android akan membuat kembali aktivitas yang berjalan +(sistem akan memanggil {@link android.app.Activity#onDestroy}, kemudian segera memanggil {@link +android.app.Activity#onCreate onCreate()}). Perilaku ini +didesain untuk membantu aplikasi Anda menyesuaikan diri dengan konfigurasi baru dengan cara memuat ulang +aplikasi Anda secara otomatis dengan sumber daya alternatif yang telah Anda sediakan (misalnya layout yang berbeda untuk +layar orientasi dan ukuran yang berbeda).
+ +Jika Anda mendesain aktivitas dengan benar untuk menangani restart karena perubahan orientasi layar dan +memulihkan status aktivitas seperti yang dijelaskan di atas, aplikasi Anda akan lebih tahan terhadap +kejadian tidak terduga lainnya dalam daur hidup aktivitas.
+ +Cara terbaik menangani restart tersebut adalah + menyimpan dan memulihkan status aktivitas Anda dengan menggunakan {@link + android.app.Activity#onSaveInstanceState onSaveInstanceState()} dan {@link +android.app.Activity#onRestoreInstanceState onRestoreInstanceState()} (atau {@link +android.app.Activity#onCreate onCreate()}), seperti yang dibahas di bagian sebelumnya.
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang konfigurasi perubahan yang terjadi saat program berjalan dan cara menanganinya +, bacalah panduan untuk Menangani +Perubahan Runtime.
+ + + +Bila suatu aktivitas memulai aktivitas lain, keduanya akan mengalami transisi daur hidup. Aktivitas pertama +akan berhenti sementara dan berhenti sama sekali (walau tidak akan berhenti jika masih terlihat di latar belakang), saat +aktivitas lain dibuat. Jika aktivitas-aktivitas ini berbagi data yang disimpan ke disk atau di tempat lain, Anda perlu +memahami bahwa aktivitas pertama tidak dihentikan sepenuhnya sebelum aktivitas kedua dibuat. +Sebagai gantinya, proses akan memulai aktivitas kedua secara tumpang tindih dengan proses penghentian +aktivitas pertama.
+ +Urutan callback daur hidup didefinisikan dengan baik, khususnya bila kedua aktivitas berada dalam +proses yang sama dan salah satunya memulai yang lain. Berikut ini adalah urutan operasi yang terjadi bila Aktivitas +A memulai Aktivitas B:
+ +Urutan callback daur hidup yang bisa diramalkan ini memungkinkan Anda mengelola transisi +informasi dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Misalnya, jika Anda harus menulis ke database saat +aktivitas pertama berhenti agar aktivitas berikutnya bisa membacanya, maka Anda harus menulis ke +database selama {@link android.app.Activity#onPause onPause()} sebagai ganti selama {@link +android.app.Activity#onStop onStop()}.
+ + diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/components/bound-services.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/bound-services.jd new file mode 100644 index 0000000000000..6e5e65a167e8a --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/bound-services.jd @@ -0,0 +1,658 @@ +page.title=Layanan Terikat +parent.title=Layanan +parent.link=services.html +@jd:body + + +Layanan terikat adalah server di antarmuka klien-server. Layanan terikat memungkinkan komponen-komponen +(seperti aktivitas) untuk diikat ke layanan, mengirim permintaan, menerima respons, dan bahkan melakukan +komunikasi antarproses (IPC). Layanan terikat biasanya hidup hanya saat melayani +komponen aplikasi lain dan tidak berjalan di latar belakang terus-menerus.
+ +Dokumen ini menampilkan cara membuat layanan terikat, termasuk cara mengikat +ke layanan dari komponen aplikasi lain. Akan tetapi, Anda juga harus mengacu dokumen Layanan untuk +informasi tambahan tentang layanan secara umum, seperti cara menyampaikan pemberitahuan dari layanan, mengatur +layanan agar berjalan di latar depan, dan lain-lain.
+ + +Layanan terikat adalah implementasi kelas {@link android.app.Service} yang memungkinkan +aplikasi lain diikat padanya dan berinteraksi dengannya. Untuk menyediakan pengikatan bagi sebuah +layanan, Anda harus mengimplementasikan metode callback {@link android.app.Service#onBind onBind()}. Metode ini +menghasilkan objek {@link android.os.IBinder} yang mendefinisikan antarmuka pemprograman yang +bisa digunakan klien untuk berinteraksi dengan layanan.
+ +Seperti dibahas dalam dokumen Layanan +, Anda bisa membuat layanan yang dimulai sekaligus diikat. Yakni, layanan bisa +dimulai dengan memanggil {@link android.content.Context#startService startService()}, yang memungkinkan +layanan berjalan terus-menerus, dan juga membolehkan klien untuk mengikat ke layanan dengan memanggil {@link +android.content.Context#bindService bindService()}. +
Jika Anda mengizinkan layanan dimulai dan diikat, lalu ketika layanan telah +dimulai, sistem tidak menghapus layanan ketika semua klien melepas ikatan. Sebagai gantinya, Anda harus +menghentikan layanan secara eksplisit, dengan memanggil {@link android.app.Service#stopSelf stopSelf()} atau {@link +android.content.Context#stopService stopService()}.
+ +Walaupun Anda biasanya harus mengimplementasikan {@link android.app.Service#onBind onBind()} +atau {@link android.app.Service#onStartCommand onStartCommand()}, kadang-kadang perlu +mengimplementasikan keduanya. Misalnya, sebuah pemutar musik bisa merasakan manfaatnya karena layanannya boleh berjalan +terus-menerus dan juga menyediakan pengikatan. Dengan cara ini, sebuah aktivitas bisa memulai layanan untuk memutar beberapa +lagu dan musik terus dimainkan sekalipun pengguna meninggalkan aplikasi. Lalu, bila pengguna +kembali ke aplikasi, aktivitas bisa mengikat ke layanan untuk mendapatkan kembali kontrol atas pemutaran.
+ +Pastikan membaca bagian tentang Mengelola Daur Hidup Layanan +Terikat, untuk informasi selengkapnya tentang daur hidup layanan saat menambahkan pengikatan ke +layanan yang sudah dimulai.
+Klien bisa mengikat ke layanan dengan memanggil {@link android.content.Context#bindService +bindService()}. Bila itu dilakukan, klien harus menyediakan implementasi {@link +android.content.ServiceConnection}, yang memantau koneksi dengan layanan. Metode {@link +android.content.Context#bindService bindService()} kembali dengan serta-merta tanpa sebuah nilai, namun +bila sistem Android membuat koneksi antara klien +dan layanan, sistem akan memanggil {@link +android.content.ServiceConnection#onServiceConnected onServiceConnected()} pada {@link +android.content.ServiceConnection} untuk mengirim {@link android.os.IBinder} yang +bisa digunakan klien untuk berkomunikasi dengan layanan.
+ +Beberapa klien bisa terhubung ke layanan dengan serentak. Akan tetapi, sistem akan memanggil metode +{@link android.app.Service#onBind onBind()} layanan Anda untuk mengambil {@link android.os.IBinder} hanya +bila klien pertama mengikat. Sistem lalu memberikan {@link android.os.IBinder} yang sama ke setiap +klien tambahan yang mengikat, tanpa memanggil {@link android.app.Service#onBind onBind()} lagi.
+ +Bila klien terakhir melepas ikatan dari layanan, sistem akan menghapus layanan (kecuali jika +layanan juga dimulai oleh {@link android.content.Context#startService startService()}).
+ +Bila Anda mengimplementasikan layanan terikat, yang terpenting adalah mendefinisikan antarmuka +yang dihasilkan metode callback {@link android.app.Service#onBind onBind()} Anda. Ada sedikit +cara mendefinisikan antarmuka {@link android.os.IBinder} layanan Anda dan bagian berikut +akan membahas masing-masing teknik.
+ + + +Saat membuat layanan yang menyediakan pengikatan, Anda harus menyediakan {@link android.os.IBinder} +yang menyediakan antarmuka pemrograman yang bisa digunakan klien untuk berinteraksi dengan layanan. Ada +tiga cara untuk mendefinisikan antarmuka:
+ +Inilah teknik yang lebih disukai bila layanan Anda sekadar pekerja latar belakang untuk aplikasi Anda +sendiri. Satu-satunya alasan tidak membuat antarmuka dengan cara ini adalah karena +layanan Anda akan digunakan oleh aplikasi lain atau pada proses-proses terpisah.
Inilah cara termudah melakukan komunikasi antarproses (IPC), karena {@link +android.os.Messenger} akan mengantre semua permintaan ke dalam satu thread sehingga Anda tidak perlu mendesain +layanan agar thread-safe.
+Untuk menggunakan AIDL secara langsung, Anda harus +membuat file {@code .aidl} yang mendefinisikan antarmuka pemrograman. Alat Android SDK menggunakan +file ini untuk menghasilkan kelas abstrak yang mengimplementasikan antarmuka dan menangani IPC, yang nanti +bisa Anda perluas dalam layanan.
+Catatan: Umumnya aplikasi tidak boleh menggunakan AIDL untuk +membuat layanan terikat, karena hal itu mungkin memerlukan kemampuan multi-thread dan +bisa mengakibatkan implementasi yang lebih rumit. Dengan demikian, AIDL tidak cocok untuk sebagian besar aplikasi +dan dokumen ini tidak membahas cara menggunakannya untuk layanan Anda. Jika Anda yakin perlu +menggunakan AIDL secara langsung, lihat dokumen AIDL +.
+ + + + +Jika layanan Anda hanya digunakan oleh aplikasi lokal dan tidak perlu bekerja lintas proses, +maka Anda bisa mengimplementasikan kelas {@link android.os.Binder} Anda sendiri yang memberi klien Anda +akses langsung ke metode publik dalam layanan.
+ +Catatan: Hal ini hanya berhasil jika klien dan layanan berada dalam +aplikasi dan proses yang sama, suatu kondisi yang paling umum. Misalnya, cara ini sangat cocok untuk sebuah aplikasi musik +yang perlu mengikat aktivitas ke layanannya sendiri, yakni memutar musik di +latar belakang.
+ +Berikut cara menyiapkannya:
+Catatan: Alasan layanan dan klien harus berada dalam aplikasi yang sama +adalah agar klien bisa mengkonversi objek yang dihasilkan dan memanggil API-nya dengan benar. Layanan +dan klien juga harus berada dalam proses yang sama, karena teknik ini tidak melakukan +pengarahan (marshalling) apa pun untuk lintas proses.
+ +Misalnya, berikut ini adalah layanan yang memberi klien akses ke metode-metode dalam layanan melalui +implementasi {@link android.os.Binder}:
+ +
+public class LocalService extends Service {
+ // Binder given to clients
+ private final IBinder mBinder = new LocalBinder();
+ // Random number generator
+ private final Random mGenerator = new Random();
+
+ /**
+ * Class used for the client Binder. Because we know this service always
+ * runs in the same process as its clients, we don't need to deal with IPC.
+ */
+ public class LocalBinder extends Binder {
+ LocalService getService() {
+ // Return this instance of LocalService so clients can call public methods
+ return LocalService.this;
+ }
+ }
+
+ @Override
+ public IBinder onBind(Intent intent) {
+ return mBinder;
+ }
+
+ /** method for clients */
+ public int getRandomNumber() {
+ return mGenerator.nextInt(100);
+ }
+}
+
+
+{@code LocalBinder} menyediakan {@code getService()} metode bagi klien untuk mengambil +instance {@code LocalService} saat ini. Cara ini memungkinkan klien memanggil metode publik dalam +layanan. Misalnya, klien bisa memanggil {@code getRandomNumber()} dari layanan.
+ +Berikut ini adalah aktivitas yang mengikat ke {@code LocalService} dan memanggil {@code getRandomNumber()} +bila tombol diklik:
+ +
+public class BindingActivity extends Activity {
+ LocalService mService;
+ boolean mBound = false;
+
+ @Override
+ protected void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
+ super.onCreate(savedInstanceState);
+ setContentView(R.layout.main);
+ }
+
+ @Override
+ protected void onStart() {
+ super.onStart();
+ // Bind to LocalService
+ Intent intent = new Intent(this, LocalService.class);
+ bindService(intent, mConnection, Context.BIND_AUTO_CREATE);
+ }
+
+ @Override
+ protected void onStop() {
+ super.onStop();
+ // Unbind from the service
+ if (mBound) {
+ unbindService(mConnection);
+ mBound = false;
+ }
+ }
+
+ /** Called when a button is clicked (the button in the layout file attaches to
+ * this method with the android:onClick attribute) */
+ public void onButtonClick(View v) {
+ if (mBound) {
+ // Call a method from the LocalService.
+ // However, if this call were something that might hang, then this request should
+ // occur in a separate thread to avoid slowing down the activity performance.
+ int num = mService.getRandomNumber();
+ Toast.makeText(this, "number: " + num, Toast.LENGTH_SHORT).show();
+ }
+ }
+
+ /** Defines callbacks for service binding, passed to bindService() */
+ private ServiceConnection mConnection = new ServiceConnection() {
+
+ @Override
+ public void onServiceConnected(ComponentName className,
+ IBinder service) {
+ // We've bound to LocalService, cast the IBinder and get LocalService instance
+ LocalBinder binder = (LocalBinder) service;
+ mService = binder.getService();
+ mBound = true;
+ }
+
+ @Override
+ public void onServiceDisconnected(ComponentName arg0) {
+ mBound = false;
+ }
+ };
+}
+
+
+Contoh di atas menampilkan cara klien mengikat ke layanan dengan menggunakan implementasi +{@link android.content.ServiceConnection} dan callback {@link +android.content.ServiceConnection#onServiceConnected onServiceConnected()}. Bagian +berikut menyediakan informasi selengkapnya tentang proses pengikatan ke layanan.
+ +Catatan: Contoh di atas tidak secara eksplisit melepas ikatan dari layanan, +namun semua klien harus melepas ikatan pada waktu yang tepat (seperti saat aktivitas sedang jeda).
+ +Untuk contoh kode selengkapnya, lihat kelas {@code +LocalService.java} dan kelas {@code +LocalServiceActivities.java} dalam ApiDemos.
+ + + + + +Bila Anda perlu melakukan IPC, menggunakan {@link android.os.Messenger} untuk antarmuka +lebih sederhana daripada mengimplementasikannya dengan AIDL, karena {@link android.os.Messenger} mengantre +semua panggilan ke layanan, sementara antarmuka AIDL murni mengirim permintaan serentak ke +layanan, yang nanti harus menangani multi-threading.
+Untuk sebagian besar aplikasi, layanan tidak perlu melakukan multi-threading, jadi dengan menggunakan {@link +android.os.Messenger} memungkinkan layanan menangani panggilan satu per satu. Jika +layanan harus multi-thread, Anda harus menggunakan AIDL untuk mendefinisikan antarmuka.
+Jika layanan perlu berkomunikasi dengan proses jauh, Anda bisa menggunakan +{@link android.os.Messenger} untuk menyediakan antarmuka bagi layanan Anda. Teknik ini memungkinkan +Anda melakukan komunikasi antarproses (IPC) tanpa harus menggunakan AIDL.
+ +Berikut ini rangkuman cara menggunakan {@link android.os.Messenger}:
+ +Dengan cara ini, tidak ada "metode" untuk dipanggil klien pada layanan. Sebagai gantinya, +klien mengirim "pesan" (objek-objek {@link android.os.Message}) yang diterima layanan dalam +{@link android.os.Handler}-nya.
+ +Berikut ini contoh layanan sederhana yang menggunakan antarmuka {@link android.os.Messenger}:
+ +
+public class MessengerService extends Service {
+ /** Command to the service to display a message */
+ static final int MSG_SAY_HELLO = 1;
+
+ /**
+ * Handler of incoming messages from clients.
+ */
+ class IncomingHandler extends Handler {
+ @Override
+ public void handleMessage(Message msg) {
+ switch (msg.what) {
+ case MSG_SAY_HELLO:
+ Toast.makeText(getApplicationContext(), "hello!", Toast.LENGTH_SHORT).show();
+ break;
+ default:
+ super.handleMessage(msg);
+ }
+ }
+ }
+
+ /**
+ * Target we publish for clients to send messages to IncomingHandler.
+ */
+ final Messenger mMessenger = new Messenger(new IncomingHandler());
+
+ /**
+ * When binding to the service, we return an interface to our messenger
+ * for sending messages to the service.
+ */
+ @Override
+ public IBinder onBind(Intent intent) {
+ Toast.makeText(getApplicationContext(), "binding", Toast.LENGTH_SHORT).show();
+ return mMessenger.getBinder();
+ }
+}
+
+
+Perhatikan bahwa metode {@link android.os.Handler#handleMessage handleMessage()} dalam +{@link android.os.Handler} adalah tempat layanan menerima {@link android.os.Message} +yang masuk dan memutuskan aksi yang harus dilakukan, berdasarkan anggota {@link android.os.Message#what}.
+ +Klien tinggal membuat {@link android.os.Messenger} berdasarkan {@link +android.os.IBinder} yang dihasilkan layanan dan mengirim pesan menggunakan {@link +android.os.Messenger#send send()}. Misalnya, berikut ini adalah aktivitas sederhana yang mengikat ke +layanan dan mengirim pesan {@code MSG_SAY_HELLO} ke layanan:
+ +
+public class ActivityMessenger extends Activity {
+ /** Messenger for communicating with the service. */
+ Messenger mService = null;
+
+ /** Flag indicating whether we have called bind on the service. */
+ boolean mBound;
+
+ /**
+ * Class for interacting with the main interface of the service.
+ */
+ private ServiceConnection mConnection = new ServiceConnection() {
+ public void onServiceConnected(ComponentName className, IBinder service) {
+ // This is called when the connection with the service has been
+ // established, giving us the object we can use to
+ // interact with the service. We are communicating with the
+ // service using a Messenger, so here we get a client-side
+ // representation of that from the raw IBinder object.
+ mService = new Messenger(service);
+ mBound = true;
+ }
+
+ public void onServiceDisconnected(ComponentName className) {
+ // This is called when the connection with the service has been
+ // unexpectedly disconnected -- that is, its process crashed.
+ mService = null;
+ mBound = false;
+ }
+ };
+
+ public void sayHello(View v) {
+ if (!mBound) return;
+ // Create and send a message to the service, using a supported 'what' value
+ Message msg = Message.obtain(null, MessengerService.MSG_SAY_HELLO, 0, 0);
+ try {
+ mService.send(msg);
+ } catch (RemoteException e) {
+ e.printStackTrace();
+ }
+ }
+
+ @Override
+ protected void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
+ super.onCreate(savedInstanceState);
+ setContentView(R.layout.main);
+ }
+
+ @Override
+ protected void onStart() {
+ super.onStart();
+ // Bind to the service
+ bindService(new Intent(this, MessengerService.class), mConnection,
+ Context.BIND_AUTO_CREATE);
+ }
+
+ @Override
+ protected void onStop() {
+ super.onStop();
+ // Unbind from the service
+ if (mBound) {
+ unbindService(mConnection);
+ mBound = false;
+ }
+ }
+}
+
+
+Perhatikan bahwa contoh ini tidak menampilkan cara layanan merespons klien. Jika ingin +layanan merespons, Anda juga perlu membuat {@link android.os.Messenger} di klien. Lalu +saat menerima callback {@link android.content.ServiceConnection#onServiceConnected +onServiceConnected()}, klien akan mengirim {@link android.os.Message} ke layanan yang berisi +{@link android.os.Messenger} klien dalam parameter {@link android.os.Message#replyTo} +metode {@link android.os.Messenger#send send()}.
+ +Anda bisa melihat contoh cara menyediakan pertukaran pesan dua arah dalam contoh {@code +MessengerService.java} (layanan) dan {@code +MessengerServiceActivities.java} (klien).
+ + + + + +Komponen-komponen aplikasi (klien) bisa mengikat ke layanan dengan memanggil +{@link android.content.Context#bindService bindService()}. Sistem Android +lalu memanggil metode {@link android.app.Service#onBind +onBind()} layanan, yang menghasilkan {@link android.os.IBinder} untuk berinteraksi dengan layanan.
+ +Pengikatan ini bersifat asinkron. {@link android.content.Context#bindService +bindService()} segera kembali dan tidak mengembalikan {@link android.os.IBinder} ke +klien. Untuk menerima {@link android.os.IBinder}, klien harus membuat instance {@link +android.content.ServiceConnection} dan meneruskannya ke {@link android.content.Context#bindService +bindService()}. {@link android.content.ServiceConnection} berisi metode callback yang +dipanggil sistem untuk mengirim {@link android.os.IBinder}.
+ +Catatan: Hanya aktivitas, layanan, dan penyedia konten yang bisa mengikat +ke layanan yang—Anda tidak bisa ikat ke layanan dari penerima siaran.
+ +Jadi, untuk mengikat ke layanan dari klien, Anda harus:
+Implementasi Anda harus mengesampingkan dua metode callback:
+Bila telah dimusnahkan (destroyed), klien Anda akan melepas ikatan dari layanan, namun Anda harus selalu melepas ikatan +bila sudah selesai berinteraksi dengan layanan atau bila aktivitas Anda sedang jeda sehingga layanan bisa +dimatikan saat tidak sedang digunakan. (Waktu yang tepat untuk mengikat dan melepas ikatan dibahas +selengkapnya di bawah ini.)
+Misalnya, cuplikan berikut menghubungkan klien ke layanan yang dibuat di atas dengan +memperluas kelas Binder, sehingga tinggal mengkonversi +{@link android.os.IBinder} yang dihasilkan ke kelas {@code LocalService} dan meminta instance {@code +LocalService}:
+ +
+LocalService mService;
+private ServiceConnection mConnection = new ServiceConnection() {
+ // Called when the connection with the service is established
+ public void onServiceConnected(ComponentName className, IBinder service) {
+ // Because we have bound to an explicit
+ // service that is running in our own process, we can
+ // cast its IBinder to a concrete class and directly access it.
+ LocalBinder binder = (LocalBinder) service;
+ mService = binder.getService();
+ mBound = true;
+ }
+
+ // Called when the connection with the service disconnects unexpectedly
+ public void onServiceDisconnected(ComponentName className) {
+ Log.e(TAG, "onServiceDisconnected");
+ mBound = false;
+ }
+};
+
+
+Dengan {@link android.content.ServiceConnection} ini, klien bisa mengikat ke layanan dengan meneruskannya +ke {@link android.content.Context#bindService bindService()}. Misalnya:
+ ++Intent intent = new Intent(this, LocalService.class); +bindService(intent, mConnection, Context.BIND_AUTO_CREATE); ++ +
Berikut ini beberapa catatan penting tentang mengikat ke layanan:
+Catatan: Anda biasanya tidak boleh mengikat dan melepas ikatan +selama {@link android.app.Activity#onResume onResume()} aktivitas Anda dan {@link +android.app.Activity#onPause onPause()}, karena callback ini terjadi pada setiap transisi daur hidup +dan Anda harus menjaga pemrosesan yang terjadi pada transisi ini tetap minim. Juga, jika +banyak aktivitas dalam aplikasi Anda mengikat ke layanan yang sama dan ada transisi antara +dua aktivitas, layanan bisa dimusnahkan dan dibuat lagi sambil aktivitas saat ini melepas ikatan +(selama jeda) sebelum aktivitas berikutnya mengikat (selama lanjutkan). (Transisi aktivitas ini untuk cara +aktivitas mengoordinasikan daur hidupnya dijelaskan dalam dokumen Aktivitas +.)
+Untuk contoh kode selengkapnya, yang menampilkan cara mengikat ke layanan, lihat kelas {@code +RemoteService.java} dalam ApiDemos.
+ + + + + +Bila layanan dilepas ikatannya dari semua klien, sistem Android akan menghapusnya (kecuali jika layanan juga +dimulai dengan {@link android.app.Service#onStartCommand onStartCommand()}). Dengan demikian, Anda tidak harus +mengelola daur hidup layanan jika layanan itu murni sebuah layanan +terikat—yang dikelola sistem Android untuk Anda berdasarkan apakah layanan terikat ke klien atau tidak.
+ +Akan tetapi, Jika Anda memilih untuk mengimplementasikan metode callback {@link android.app.Service#onStartCommand +onStartCommand()}, maka Anda harus menghentikan layanan secara eksplisit, karena layanan +sekarang dianggap telah dimulai. Dalam hal ini, layanan akan berjalan hingga layanan +menghentikan dirinya sendiri dengan {@link android.app.Service#stopSelf()} atau panggilan komponen lain {@link +android.content.Context#stopService stopService()}, terlepas dari apakah layanan terikat ke +klien atau tidak.
+ +Selain itu, jika layanan Anda telah dimulai dan menerima pengikatan, maka saat sistem memanggil +metode {@link android.app.Service#onUnbind onUnbind()}, Anda bisa memilih untuk mengembalikan +{@code true} jika ingin menerima panggilan ke {@link android.app.Service#onRebind +onRebind()} bila nanti klien mengikat ke layanan (sebagai ganti menerima panggilan ke {@link +android.app.Service#onBind onBind()}). {@link android.app.Service#onRebind +onRebind()} akan menghasilkan void, namun klien tetap menerima {@link android.os.IBinder} dalam callback +{@link android.content.ServiceConnection#onServiceConnected onServiceConnected()}. +Di bawah ini adalah gambar 1 yang mengilustrasikan logika untuk jenis daur hidup ini.
+ + +
+Gambar 1. Daur hidup untuk layanan yang dimulai +dan juga memungkinkan pengikatan.
+ + +Untuk informasi selengkapnya tentang daur hidup layanan yang telah dimulai, lihat dokumen Layanan.
+ + + + diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/components/fragments.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/fragments.jd new file mode 100644 index 0000000000000..9f7199cd8a0b3 --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/fragments.jd @@ -0,0 +1,812 @@ +page.title=Fragmen +parent.title=Aktivitas +parent.link=activities.html +@jd:body + +{@link android.app.Fragment} mewakili perilaku atau bagian dari antarmuka pengguna dalam +{@link android.app.Activity}. Anda bisa mengombinasikan beberapa fragmen dalam satu aktivitas untuk membangun UI +multipanel dan menggunakan kembali sebuah fragmen dalam beberapa aktivitas. Anda bisa menganggap fragmen sebagai bagian +modular dari aktivitas, yang memiliki daur hidup sendiri, menerima kejadian input sendiri, dan +yang bisa Anda tambahkan atau hapus saat aktivitas berjalan (semacam "sub aktivitas" yang +bisa digunakan kembali dalam aktivitas berbeda).
+ +Fragmen harus selalu tertanam dalam aktivitas dan daur hidup fragmen secara langsung +dipengaruhi oleh daur hidup aktivitas host-nya. Misalnya, saat aktivitas dihentikan sementara, +semua fragmen di dalamnya juga dihentikan sementara, dan bila aktivitas dimusnahkan, semua fragmen juga demikian. Akan tetapi, saat +aktivitas berjalan (dalam status daur hidup dilanjutkan, Anda bisa +memanipulasi setiap fragmen secara terpisah, seperti menambah atau menghapusnya. Saat melakukan transaksi +fragmen, Anda juga bisa menambahkannya ke back-stack yang dikelola oleh aktivitas +—setiap entri back-stack merupakan record transaksi fragmen yang +terjadi. Dengan back-stack pengguna dapat membalikkan transaksi fragmen (mengarah mundur), +dengan menekan tombol Back.
+ +Bila Anda menambahkan fragmen sebagai bagian dari layout aktivitas, fragmen itu berada dalam {@link +android.view.ViewGroup} di hierarki tampilan aktivitas tersebut dan fragmen mendefinisikan +layout +tampilannya sendiri. Anda bisa menyisipkan fragmen ke dalam layout aktivitas dengan mendeklarasikan fragmen dalam file layout aktivitas +, sebagai elemen {@code <fragment>}, atau dari kode aplikasi dengan menambahkannya ke + {@link android.view.ViewGroup} yang ada. Akan tetapi, fragmen tidak harus menjadi bagian dari +layout aktivitas; Anda juga bisa menggunakan fragmen tanpa UI-nya sendiri sebagai pekerja tak terlihat untuk +aktivitas tersebut.
+ +Dokumen ini menjelaskan cara membangun aplikasi menggunakan fragmen, termasuk +cara fragmen mempertahankan statusnya bila ditambahkan ke back-stack aktivitas, berbagi +kejadian dengan aktivitas, dan fragmen lain dalam aktivitas, berkontribusi pada action-bar +aktivitas, dan lainnya.
+ + +Android memperkenalkan fragmen di Android 3.0 (API level 11), terutama untuk mendukung desain UI yang lebih +dinamis dan fleksibel pada layar besar, seperti tablet. Karena +layar tablet jauh lebih besar daripada layar handset, maka lebih banyak ruang untuk mengombinasikan dan +bertukar komponen UI. Fragmen memungkinkan desain seperti itu tanpa perlu mengelola perubahan +kompleks pada hierarki tampilan. Dengan membagi layout aktivitas menjadi beberapa fragmen, Anda bisa +mengubah penampilan aktivitas saat runtime dan mempertahankan perubahan itu di back-stack +yang dikelola oleh aktivitas.
+ +Misalnya, aplikasi berita bisa menggunakan satu fragmen untuk menampilkan daftar artikel di +sebelah kiri dan fragmen lainnya untuk menampilkan artikel di sebelah kanan—kedua fragmen ini muncul di satu +aktivitas, berdampingan, dan masing-masing fragmen memiliki serangkaian metode callback daur hidup dan menangani kejadian input +penggunanya sendiri. Sehingga, sebagai ganti menggunakan satu aktivitas untuk memilih +artikel dan aktivitas lainnya untuk membaca artikel, pengguna bisa memilih artikel dan membaca semuanya dalam +aktivitas yang sama, sebagaimana diilustrasikan dalam layout tablet pada gambar 1.
+ +Anda harus mendesain masing-masing fragmen sebagai komponen aktivitas modular dan bisa digunakan kembali. Yakni, karena +setiap fragmen mendefinisikan layoutnya dan perilakunya dengan callback daur hidupnya sendiri, Anda bisa memasukkan +satu fragmen dalam banyak aktivitas, sehingga Anda harus mendesainnya untuk digunakan kembali dan mencegah +memanipulasi satu fragmen dari fragmen lain secara langsung. Ini terutama penting karena dengan +fragmen modular Anda bisa mengubah kombinasi fragmen untuk ukuran layar berbeda. Saat mendesain aplikasi +untuk mendukung tablet maupun handset, Anda bisa menggunakan kembali fragmen dalam +konfigurasi layout berbeda untuk mengoptimalkan pengalaman pengguna berdasarkan ruang layar yang tersedia. Misalnya +, pada handset, fragmen mungkin perlu dipisahkan untuk menyediakan UI panel tunggal +bila lebih dari satu yang tidak cocok dalam aktivitas yang sama.
+ +
+Gambar 1. Contoh cara dua modul UI yang didefinisikan oleh + fragmen bisa digabungkan ke dalam satu aktivitas untuk desain tablet, namun dipisahkan untuk +desain handset.
+ +Misalnya—untuk melanjutkan contoh aplikasi berita— aplikasi bisa menanamkan +dua fragmen dalam Aktivitas A, saat berjalan pada perangkat berukuran tablet. Akan tetapi, pada +layar berukuran handset, ruang untuk kedua fragmen tidak cukup, sehingga Aktivitas A hanya +menyertakan fragmen untuk daftar artikel, dan saat pengguna memilih artikel, +Aktivitas B akan dimulai, termasuk fragmen kedua untuk membaca artikel. Sehingga, aplikasi mendukung +tablet dan handset dengan menggunakan kembali fragmen dalam kombinasi berbeda, seperti diilustrasikan dalam +gambar 1.
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang mendesain aplikasi menggunakan kombinasi fragmen berbeda +untuk konfigurasi layar berbeda, lihat panduan untuk Mendukung Tablet dan Handset.
+ + + +
+Gambar 2. Daur hidup fragmen (saat + aktivitasnya berjalan).
+Untuk membuat fragmen, Anda harus membuat subkelas {@link android.app.Fragment} (atau +subkelasnya yang ada). Kelas {@link android.app.Fragment} memiliki kode yang mirip seperti +{@link android.app.Activity}. Kelas ini memiliki metode callback yang serupa dengan aktivitas, seperti + {@link android.app.Fragment#onCreate onCreate()}, {@link android.app.Fragment#onStart onStart()}, +{@link android.app.Fragment#onPause onPause()}, dan {@link android.app.Fragment#onStop onStop()}. Sebenarnya +, jika Anda mengkonversi aplikasi Android saat ini untuk menggunakan fragmen, Anda mungkin cukup memindahkan +kode dari metode callback aktivitas ke masing-masing metode callback +fragmen.
+ +Biasanya, Anda harus mengimplementasikan setidaknya metode daur hidup berikut ini:
+ +Kebanyakan aplikasi harus mengimplementasikan setidaknya tiga metode ini untuk setiap fragmen, namun ada +beberapa metode callback lain yang juga harus Anda gunakan untuk menangani berbagai tahap +daur hidup fragmen. Semua metode callback daur hidup akan dibahas secara lebih detail, di bagian +tentang Menangani Daur Hidup Fragmen.
+ + +Ada juga beberapa subkelas yang mungkin ingin diperpanjang, sebagai ganti kelas basis {@link +android.app.Fragment}:
+ +Fragmen biasanya digunakan sebagai bagian dari antarmuka pengguna aktivitas dan menyumbangkan +layoutnya sendiri ke aktivitas.
+ +Untuk menyediakan layout fragmen, Anda harus mengimplementasikan metode callback {@link +android.app.Fragment#onCreateView onCreateView()}, yang dipanggil sistem Android +bila tiba saatnya fragmen menggambar layoutnya. Implementasi Anda atas metode ini harus mengembalikan +{@link android.view.View} yang menjadi akar layout fragmen.
+ +Catatan: Jika fragmen adalah subkelas {@link +android.app.ListFragment}, implementasi default akan mengembalikan {@link android.widget.ListView} dari +{@link android.app.Fragment#onCreateView onCreateView()}, sehingga Anda tidak perlu mengimplementasikannya.
+ +Untuk mengembalikan layout dari {@link +android.app.Fragment#onCreateView onCreateView()}, Anda bisa memekarkannya dari sumber daya layout yang didefinisikan di XML. Untuk +membantu melakukannya, {@link android.app.Fragment#onCreateView onCreateView()} menyediakan objek +{@link android.view.LayoutInflater}.
+ +Misalnya, ini adalah subkelas {@link android.app.Fragment} yang memuat layout dari file +{@code example_fragment.xml}:
+ +
+public static class ExampleFragment extends Fragment {
+ @Override
+ public View onCreateView(LayoutInflater inflater, ViewGroup container,
+ Bundle savedInstanceState) {
+ // Inflate the layout for this fragment
+ return inflater.inflate(R.layout.example_fragment, container, false);
+ }
+}
+
+
+Dalam contoh di atas, {@code R.layout.example_fragment} merupakan acuan ke sumber daya layout +bernama {@code example_fragment.xml} yang tersimpan dalam sumber daya aplikasi. Untuk informasi tentang cara +membuat layout di XML, lihat dokumentasi +Antarmuka Pengguna.
+Parameter {@code container} yang diteruskan ke {@link android.app.Fragment#onCreateView +onCreateView()} adalah induk {@link android.view.ViewGroup} (dari layout aktivitas) tempat +layout fragmen +akan disisipkan. Parameter {@code savedInstanceState} adalah {@link android.os.Bundle} yang +menyediakan data tentang instance fragmen sebelumnya, jika fragmen dilanjutkan +(status pemulihan dibahas selengkapnya di bagian tentang Menangani +Daur Hidup Fragmen).
+ +Metode {@link android.view.LayoutInflater#inflate(int,ViewGroup,boolean) inflate()} membutuhkan +tiga argumen:
+Anda kini telah melihat cara membuat fragmen yang menyediakan layout. Berikutnya, Anda perlu menambahkan +fragmen ke aktivitas.
+ + + +Biasanya, fragmen berkontribusi pada sebagian UI ke aktivitas host, yang ditanamkan sebagai +bagian dari hierarki tampilan keseluruhan aktivitas. Ada dua cara untuk menambahkan fragmen ke layout +aktivitas:
+ +Dalam hal ini, Anda bisa +menetapkan properti layout fragmen seakan-akan sebuah tampilan. Misalnya, berikut ini adalah file +layout untuk aktivitas dengan dua fragmen:
++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<LinearLayout xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android" + android:orientation="horizontal" + android:layout_width="match_parent" + android:layout_height="match_parent"> + <fragment android:name="com.example.news.ArticleListFragment" + android:id="@+id/list" + android:layout_weight="1" + android:layout_width="0dp" + android:layout_height="match_parent" /> + <fragment android:name="com.example.news.ArticleReaderFragment" + android:id="@+id/viewer" + android:layout_weight="2" + android:layout_width="0dp" + android:layout_height="match_parent" /> +</LinearLayout> ++
Atribut {@code android:name} dalam {@code <fragment>} menetapkan kelas {@link +android.app.Fragment} untuk dibuat instance-nya dalam layout.
+ +Saat sistem membuat layout aktivitas, sistem membuat instance setiap fragmen sebagaimana yang ditetapkan dalam layout +dan memanggil metode {@link android.app.Fragment#onCreateView onCreateView()} masing-masing, +untuk mengambil setiap fragmen. Sistem akan menyisipkan {@link android.view.View} yang dikembalikan langsung oleh fragmen, + menggantikan elemen {@code <fragment>}.
+ +Catatan: Setiap fragmen memerlukan identifier +unik yang bisa digunakan sistem untuk memulihkan fragmen jika aktivitas dimulai kembali (dan identifier yang bisa digunakan menangkap +fragmen untuk melakukan transaksi, seperti menghapusnya). Ada tiga cara untuk memberikan +ID bagi fragmen:
+Kapan saja saat aktivitas berjalan, Anda bisa menambahkan fragmen ke layout aktivitas. Anda +cukup menetapkan {@link +android.view.ViewGroup} di tempat memasukkan fragmen.
+Untuk membuat transaksi fragmen dalam aktivitas (seperti menambah, menghapus, atau mengganti +fragmen), Anda harus menggunakan API dari {@link android.app.FragmentTransaction}. Anda bisa mengambil instance + {@link android.app.FragmentTransaction} dari {@link android.app.Activity} seperti ini:
+ +
+FragmentManager fragmentManager = {@link android.app.Activity#getFragmentManager()}
+FragmentTransaction fragmentTransaction = fragmentManager.{@link android.app.FragmentManager#beginTransaction()};
+
+
+Selanjutnya Anda bisa menambahkan fragmen menggunakan metode {@link +android.app.FragmentTransaction#add(int,Fragment) add()}, dengan menetapkan fragmen yang akan ditambahkan dan +tampilan tempat menyisipkannya. Misalnya:
+ ++ExampleFragment fragment = new ExampleFragment(); +fragmentTransaction.add(R.id.fragment_container, fragment); +fragmentTransaction.commit(); ++ +
Argumen pertama yang diteruskan ke {@link android.app.FragmentTransaction#add(int,Fragment) add()} + adalah {@link android.view.ViewGroup} tempat fragmen harus dimasukkan, yang ditetapkan oleh +ID sumber daya, dan parameter kedua merupakan fragmen yang akan ditambahkan.
+Setelah membuat perubahan dengan +{@link android.app.FragmentTransaction}, Anda harus + memanggil {@link android.app.FragmentTransaction#commit} untuk menerapkan perubahan.
+Contoh di atas menampilkan cara menambahkan fragmen ke aktivitas untuk menyediakan UI. Akan tetapi, +Anda juga bisa menggunakan fragmen untuk menyediakan perilaku latar belakang bagi aktivitas tanpa menampilkan UI +tambahan.
+ +Untuk menambahkan fragmen tanpa UI, tambahkan fragmen dari aktivitas menggunakan {@link +android.app.FragmentTransaction#add(Fragment,String)} (dengan menyediakan string unik "tag" untuk fragmen +, bukan ID tampilan). Ini akan menambahkan fragmen, namun, karena tidak dikaitkan dengan tampilan +dalam layout aktivitas, ini tidak akan menerima panggilan ke {@link +android.app.Fragment#onCreateView onCreateView()}. Jadi Anda tidak perlu mengimplementasikan metode itu.
+ +Menyediakan tag string untuk fragmen tidak hanya untuk fragmen non-UI—Anda juga bisa +menyediakan tag string untuk fragmen yang memiliki UI—namun jika fragmen tidak memiliki UI +, maka tag string adalah satu-satunya cara untuk mengidentifikasinya. Jika Anda ingin mendapatkan fragmen dari +aktivitas nantinya, Anda perlu menggunakan {@link android.app.FragmentManager#findFragmentByTag +findFragmentByTag()}.
+ +Untuk contoh aktivitas yang menggunakan fragmen sebagai pekerja latar belakang, tanpa UI, lihat sampel {@code
+FragmentRetainInstance.java}, yang disertakan dalam sampel SDK (tersedia melalui
+Android SDK Manager) dan terletak di sistem Anda sebagai
+<sdk_root>/APIDemos/app/src/main/java/com/example/android/apis/app/FragmentRetainInstance.java.
Untuk mengelola fragmen dalam aktivitas, Anda perlu menggunakan {@link android.app.FragmentManager}. Untuk +mendapatkannya, panggil {@link android.app.Activity#getFragmentManager()} dari aktivitas Anda.
+ +Beberapa hal yang dapat Anda lakukan dengan {@link android.app.FragmentManager} antara lain:
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang metode ini dan hal lainnya, lihat dokumentasi kelas {@link +android.app.FragmentManager}.
+ +Seperti yang ditunjukkan di bagian sebelumnya, Anda juga bisa menggunakan {@link android.app.FragmentManager} +untuk membuka {@link android.app.FragmentTransaction}, sehingga Anda bisa melakukan transaksi, seperti +menambah dan menghapus fragmen.
+ + +Fitur menarik terkait penggunaan fragmen di aktivitas adalah kemampuan menambah, menghapus, mengganti, +dan melakukan tindakan lain dengannya, sebagai respons atas interaksi pengguna. Setiap set perubahan +yang Anda lakukan untuk aktivitas disebut transaksi dan Anda bisa melakukan transaksi menggunakan API di {@link +android.app.FragmentTransaction}. Anda juga bisa menyimpan setiap transaksi ke back-stack yang dikelola +aktivitas, sehingga pengguna bisa mengarah mundur melalui perubahan fragmen (mirip mengarah +mundur melalui aktivitas).
+ +Anda bisa mengambil instance {@link android.app.FragmentTransaction} dari {@link +android.app.FragmentManager} seperti ini:
+ +
+FragmentManager fragmentManager = {@link android.app.Activity#getFragmentManager()};
+FragmentTransaction fragmentTransaction = fragmentManager.{@link android.app.FragmentManager#beginTransaction()};
+
+
+Setiap transaksi merupakan serangkaian perubahan yang ingin dilakukan pada waktu yang sama. Anda bisa +mengatur semua perubahan yang ingin dilakukan untuk transaksi mana saja menggunakan metode seperti {@link +android.app.FragmentTransaction#add add()}, {@link android.app.FragmentTransaction#remove remove()}, +dan {@link android.app.FragmentTransaction#replace replace()}. Kemudian, untuk menerapkan transaksi +pada aktivitas, Anda harus memanggil {@link android.app.FragmentTransaction#commit()}.
+ + +Akan tetapi, sebelum memanggil {@link +android.app.FragmentTransaction#commit()}, Anda mungkin perlu memanggil {@link +android.app.FragmentTransaction#addToBackStack addToBackStack()}, untuk menambahkan transaksi +ke back-stack dari transaksi fragmen. Back-stack ini dikelola oleh aktivitas dan memungkinkan +pengguna kembali ke status fragmen sebelumnya, dengan menekan tombol Back.
+ +Misalnya, berikut ini cara mengganti satu fragmen dengan yang fragmen yang lain, dan mempertahankan +status sebelumnya di back-stack:
+ ++// Create new fragment and transaction +Fragment newFragment = new ExampleFragment(); +FragmentTransaction transaction = getFragmentManager().beginTransaction(); + +// Replace whatever is in the fragment_container view with this fragment, +// and add the transaction to the back stack +transaction.replace(R.id.fragment_container, newFragment); +transaction.addToBackStack(null); + +// Commit the transaction +transaction.commit(); ++ +
Dalam contoh ini, {@code newFragment} menggantikan fragmen apa saja (jika ada) yang saat ini berada dalam +kontainer layout yang diidentifikasi oleh ID {@code R.id.fragment_container}. Dengan memanggil @link +android.app.FragmentTransaction#addToBackStack addToBackStack()}, transaksi yang diganti +disimpan ke back-stack sehingga pengguna bisa membalikkan transaksi dan mengembalikan fragmen +sebelumnya dengan menekan tombol Back.
+ +Jika Anda menambahkan beberapa perubahan pada transaksi (seperti {@link +android.app.FragmentTransaction#add add()} atau {@link android.app.FragmentTransaction#remove +remove()}) dan panggil {@link +android.app.FragmentTransaction#addToBackStack addToBackStack()}, maka semua perubahan akan diterapkan +sebelum Anda memanggil {@link android.app.FragmentTransaction#commit commit()} akan ditambahkan ke +back-stack sebagai satu transaksi dan tombol Back akan membalikannya semua.
+ +Urutan menambahkan perubahan pada {@link android.app.FragmentTransaction} tidak berpengaruh, +kecuali:
+Jika Anda tidak memanggil {@link android.app.FragmentTransaction#addToBackStack(String) +addToBackStack()} saat melakukan transaksi yang menghapus fragmen, maka fragmen itu +akan dimusnahkan bila transaksi diikat dan pengguna tidak bisa mengarah kembali ke sana. Sedangkan, jika +Anda memanggil {@link android.app.FragmentTransaction#addToBackStack(String) addToBackStack()} saat +menghapus fragmen, maka fragmen itu akan dihentikan dan akan dilanjutkan jika pengguna mengarah +kembali.
+ +Tip: Untuk setiap transaksi fragmen, Anda bisa menerapkan animasi +transisi, dengan memanggil {@link android.app.FragmentTransaction#setTransition setTransition()} sebelum +mengikatnya.
+ +Memanggil {@link android.app.FragmentTransaction#commit()} tidak akan langsung menjalankan +transaksi. Namun sebuah jadwal akan dibuat untuk dijalankan pada thread UI aktivitas (thread "utama") +begitu thread bisa melakukannya. Akan tetapi, jika perlu Anda bisa memanggil {@link +android.app.FragmentManager#executePendingTransactions()} dari thread UI untuk segera +mengeksekusi transaksi yang diserahkan oleh {@link android.app.FragmentTransaction#commit()}. Hal itu +biasanya tidak perlu kecuali jika transaksi merupakan dependensi bagi pekerjaan dalam thread lain.
+ +Perhatian: Anda bisa mengikat transaksi menggunakan {@link +android.app.FragmentTransaction#commit commit()} hanya sebelum aktivitas menyimpan +statusnya (saat pengguna meninggalkan aktivitas). Jika Anda mencoba mengikatnya setelah itu, +eksepsi akan dilontarkan. Ini karena status setelah pengikatan bisa hilang jika aktivitas +perlu dipulihkan. Untuk situasi yang memperbolehkan Anda meniadakan pengikatan (commit), gunakan {@link +android.app.FragmentTransaction#commitAllowingStateLoss()}.
+ + + + +Meskipun {@link android.app.Fragment} diimplementasikan sebagai objek yang tidak bergantung pada +{@link android.app.Activity} dan bisa digunakan dalam banyak aktivitas, instance tertentu +dari fragmen secara langsung terkait dengan aktivitas yang dimuatnya.
+ +Khususnya, fragmen bisa mengakses instance {@link android.app.Activity} dengan {@link +android.app.Fragment#getActivity()} dan dengan mudah melakukan tugas-tugas seperti mencari tampilan dalam + layout aktivitas:
+ +
+View listView = {@link android.app.Fragment#getActivity()}.{@link android.app.Activity#findViewById findViewById}(R.id.list);
+
+
+Demikian pula, aktivitas Anda bisa memanggil metode di fragmen dengan meminta acuan ke +{@link android.app.Fragment} dari {@link android.app.FragmentManager}, menggunakan {@link +android.app.FragmentManager#findFragmentById findFragmentById()} atau {@link +android.app.FragmentManager#findFragmentByTag findFragmentByTag()}. Misalnya:
+ ++ExampleFragment fragment = (ExampleFragment) getFragmentManager().findFragmentById(R.id.example_fragment); ++ + +
Dalam beberapa kasus, Anda mungkin perlu fragmen untuk berbagi kejadian dengan aktivitas. Cara yang baik untuk melakukannya +adalah mendefinisikan antarmuka callback di dalam fragmen dan mengharuskan aktivitas host +mengimplementasikannya. Saat aktivitas menerima callback melalui antarmuka, aktivitas akan bisa berbagi informasi itu +dengan fragmen lain dalam layout jika perlu.
+ +Misalnya, jika sebuah aplikasi berita memiliki dua fragmen dalam aktivitas—satu untuk menampilkan daftar +artikel (fragmen A) dan satu lagi untuk menampilkan artikel (fragmen B)—maka fragmen A harus +memberi tahu aktivitas bila item daftar dipilih sehingga aktivitas bisa memberi tahu fragmen B untuk menampilkan artikel. Dalam +hal ini, antarmuka {@code OnArticleSelectedListener} dideklarasikan di dalam fragmen A:
+ +
+public static class FragmentA extends ListFragment {
+ ...
+ // Container Activity must implement this interface
+ public interface OnArticleSelectedListener {
+ public void onArticleSelected(Uri articleUri);
+ }
+ ...
+}
+
+
+Selanjutnya aktivitas yang menjadi host fragmen akan mengimplementasikan antarmuka {@code OnArticleSelectedListener} + dan +mengesampingkan {@code onArticleSelected()} untuk memberi tahu fragmen B mengenai kejadian dari fragmen A. Untuk memastikan +bahwa aktivitas host mengimplementasikan antarmuka ini, metode callback fragmen A {@link +android.app.Fragment#onAttach onAttach()} (yang dipanggil sistem saat menambahkan +fragmen ke aktivitas) membuat instance {@code OnArticleSelectedListener} dengan +membuat {@link android.app.Activity} yang diteruskan ke {@link android.app.Fragment#onAttach +onAttach()}:
+ +
+public static class FragmentA extends ListFragment {
+ OnArticleSelectedListener mListener;
+ ...
+ @Override
+ public void onAttach(Activity activity) {
+ super.onAttach(activity);
+ try {
+ mListener = (OnArticleSelectedListener) activity;
+ } catch (ClassCastException e) {
+ throw new ClassCastException(activity.toString() + " must implement OnArticleSelectedListener");
+ }
+ }
+ ...
+}
+
+
+Jika aktivitas belum mengimplementasikan antarmuka, maka fragmen akan melontarkan +{@link java.lang.ClassCastException}. +Jika berhasil, anggota {@code mListener} yang menyimpan acuan ke implementasi aktivitas +{@code OnArticleSelectedListener}, sehingga fragmen A bisa berbagi kejadian dengan aktivitas, dengan memanggil metode +yang didefinisikan oleh antarmuka {@code OnArticleSelectedListener}. Misalnya, jika fragmen A adalah +ekstensi dari {@link android.app.ListFragment}, maka setiap kali +pengguna mengklik item daftar, sistem akan memanggil {@link android.app.ListFragment#onListItemClick +onListItemClick()} di fragmen, yang selanjutnya memanggil {@code onArticleSelected()} untuk berbagi +kejadian dengan aktivitas:
+ +
+public static class FragmentA extends ListFragment {
+ OnArticleSelectedListener mListener;
+ ...
+ @Override
+ public void onListItemClick(ListView l, View v, int position, long id) {
+ // Append the clicked item's row ID with the content provider Uri
+ Uri noteUri = ContentUris.{@link android.content.ContentUris#withAppendedId withAppendedId}(ArticleColumns.CONTENT_URI, id);
+ // Send the event and Uri to the host activity
+ mListener.onArticleSelected(noteUri);
+ }
+ ...
+}
+
+
+Parameter {@code id} yang diteruskan ke {@link +android.app.ListFragment#onListItemClick onListItemClick()} merupakan ID baris dari item yang diklik, +yang digunakan aktivitas (atau fragmen lain) untuk mengambil artikel dari {@link +android.content.ContentProvider} aplikasi.
+ +Informasi selengkapnya tentang +menggunakan penyedia konten tersedia dalam dokumen Penyedia Konten.
+ + + +Fragmen Anda bisa menyumbangkan item menu ke Menu Opsi aktivitas (dan, konsekuensinya, Action-Bar) dengan mengimplementasikan +{@link android.app.Fragment#onCreateOptionsMenu(Menu,MenuInflater) onCreateOptionsMenu()}. Agar +metode ini bisa menerima panggilan, Anda harus memanggil {@link +android.app.Fragment#setHasOptionsMenu(boolean) setHasOptionsMenu()} selama {@link +android.app.Fragment#onCreate(Bundle) onCreate()}, untuk menunjukkan bahwa fragmen +ingin menambahkan item ke Menu Opsi (jika tidak, fragmen tidak akan menerima panggilan ke +{@link android.app.Fragment#onCreateOptionsMenu onCreateOptionsMenu()}).
+ +Setiap item yang selanjutnya Anda tambahkan ke Menu Opsi dari fragmen akan ditambahkan ke item menu +yang ada. Fragmen juga menerima callback ke {@link +android.app.Fragment#onOptionsItemSelected(MenuItem) onOptionsItemSelected()} bila item menu +dipilih.
+ +Anda juga bisa mendaftarkan tampilan dalam layout fragmen untuk menyediakan menu konteks dengan memanggil {@link +android.app.Fragment#registerForContextMenu(View) registerForContextMenu()}. Bila pengguna +membuka menu konteks, fragmen akan menerima panggilan ke {@link +android.app.Fragment#onCreateContextMenu(ContextMenu,View,ContextMenu.ContextMenuInfo) +onCreateContextMenu()}. Bila pengguna memilih item, fragmen akan menerima panggilan ke @link +android.app.Fragment#onContextItemSelected(MenuItem) onContextItemSelected()}.
+ +Catatan: Walaupun fragmen menerima callback pada item yang dipilih +untuk setiap item menu yang ditambahkannya, aktivitaslah yang pertama kali menerima masing-masing callback saat pengguna +memilih item menu. Jika implementasi aktivitas dari callback bila-item-dipilih, +tidak menangani item yang dipilih, maka kejadian akan diteruskan ke callback fragmen. Ini berlaku +untuk Menu Opsi dan menu konteks.
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang menu, lihat panduan pengembang Menu dan Action-Bar.
+ + + + +
+Gambar 3. Efek daur hidup aktivitas pada daur hidup +fragmen.
+Mengelola daur hidup fragmen mirip sekali dengan mengelola daur hidup aktivitas. Seperti +aktivitas, fragmen bisa berada dalam tiga status:
+ +Seperti halnya aktivitas, Anda bisa mempertahankan status fragmen menggunakan {@link +android.os.Bundle}, jika proses aktivitas dimatikan dan Anda harus memulihkan status +fragmen bila aktivitas dibuat kembali. Anda bisa menyimpan status selama callback {@link +android.app.Fragment#onSaveInstanceState onSaveInstanceState()} fragmen dan memulihkannya selama +{@link android.app.Fragment#onCreate onCreate()}, {@link +android.app.Fragment#onCreateView onCreateView()}, atau {@link +android.app.Fragment#onActivityCreated onActivityCreated()}. Untuk informasi selengkapnya tentang menyimpan +status, lihat dokumen Aktivitas +.
+ +Perbedaan paling signifikan dalam daur hidup antara aktivitas dan fragmen ada +pada cara penyimpanannya dalam back-stack masing-masing. Aktivitas ditempatkan ke back-stack aktivitas +yang dikelola oleh sistem saat dihentikan, secara default (sehingga pengguna bisa mengarah kembali +ke aktivitas dengan tombol Back, seperti yang dibahas dalam Tugas dan Back-Stack). +Akan tetapi, fragmen yang ditempatkan ke back-stack dikelola oleh aktivitas host hanya saat +Anda secara eksplisit meminta agar instance disimpan dengan memanggil {@link +android.app.FragmentTransaction#addToBackStack(String) addToBackStack()} selama transaksi yang +menghapus fragmen.
+ +Jika tidak, pengelolaan daur hidup fragmen mirip sekali dengan mengelola daur hidup +aktivitas. Jadi, praktik yang sama untuk mengelola daur hidup +aktivitas juga berlaku untuk fragmen. Namun yang perlu juga Anda pahami adalah bagaimana hidup +aktivitas memengaruhi hidup fragmen.
+ +Perhatian: Jika Anda memerlukan objek {@link android.content.Context} + dalam {@link android.app.Fragment}, Anda bisa memanggil {@link android.app.Fragment#getActivity()}. +Akan tetapi, berhati-hatilah memanggil {@link android.app.Fragment#getActivity()} hanya bila fragmen +terkait dengan aktivitas. Bila fragmen belum terkait, atau terlepas selama akhir daur +hidupnya, {@link android.app.Fragment#getActivity()} akan kembali nol.
+ + +Daur hidup aktivitas tempat fragmen berada akan memengaruhi langsung siklus hidup +fragmen sedemikian rupa sehingga setiap callback daur hidup aktivitas menghasilkan callback yang sama untuk masing-masing +fragmen. Misalnya, bila aktivitas menerima {@link android.app.Activity#onPause}, masing-masing +fragmen dalam aktivitas akan menerima {@link android.app.Fragment#onPause}.
+ +Namun fragmen memiliki beberapa callback daur hidup ekstra, yang menangani interaksi +unik dengan aktivitas untuk melakukan tindakan seperti membangun dan memusnahkan UI fragmen. Metode callback +tambahan ini adalah:
+ +Aliran daur hidup fragmen, karena dipengaruhi oleh aktivitas host-nya, diilustrasikan oleh +gambar 3. Dalam gambar ini, Anda bisa melihat bagaimana setiap status aktivitas menentukan +metode callback mana yang mungkin diterima fragmen. Misalnya, saat aktivitas menerima call back {@link +android.app.Activity#onCreate onCreate()}, fragmen dalam aktivitas akan menerima tidak lebih +dari callback {@link android.app.Fragment#onActivityCreated onActivityCreated()}.
+ +Setelah status aktivitas diteruskan kembali, Anda bisa bebas menambah dan menghapus fragmen untuk +aktivitas tersebut. Sehingga, hanya saat aktivitas berada dalam status dilanjutkan, daur hidup fragmen bisa +berubah secara independen.
+ +Akan tetapi, saat aktivitas meninggalkan status dilanjutkan, fragmen akan kembali didorong +melalui daur hidupnya oleh aktivitas.
+ + + + +Untuk merangkum semua yang telah dibahas dalam dokumen ini, berikut ini contoh aktivitas +yang menggunakan dua fragmen untuk membuat layout dua panel. Aktivitas di bawah ini menyertakan satu fragmen untuk +menampilkan daftar putar Shakespeare dan fragmen lainnya menampilkan rangkuman pemutaran bila dipilih dari +daftar. Aktivitas ini juga menunjukkan cara menyediakan konfigurasi fragmen berbeda, +berdasarkan konfigurasi layar.
+ +Catatan: Kode sumber lengkap untuk aktivitas ini tersedia di +{@code +FragmentLayout.java}.
+ +Aktivitas utama akan menerapkan layout seperti biasa, selama {@link +android.app.Activity#onCreate onCreate()}:
+ +{@sample development/samples/ApiDemos/src/com/example/android/apis/app/FragmentLayout.java main} + +Layout yang diterapkan adalah {@code fragment_layout.xml}:
+ +{@sample development/samples/ApiDemos/res/layout-land/fragment_layout.xml layout} + +Dengan layout ini, sistem akan membuat instance {@code TitlesFragment} (yang mencantumkan +judul) segera setelah aktivitas memuat layout, sementara {@link android.widget.FrameLayout} + (lokasi penempatan fragmen untuk menampilkan rangkuman pemutaran) menempati ruang di sisi kanan +layar, namun pada awalnya masih kosong. Seperti yang akan Anda lihat di bawah ini, sampai pengguna memilih item +dari daftar maka fragmen baru akan ditempatkan ke dalam {@link android.widget.FrameLayout}.
+ +Akan tetapi, tidak semua konfigurasi layar cukup lebar untuk menampilkan +daftar putar dan rangkuman secara berdampingan. Sehingga, layout di atas hanya digunakan untuk konfigurasi +layar mendatar, dengan menyimpannya di {@code res/layout-land/fragment_layout.xml}.
+ +Sehingga, bila layar berada dalam orientasi tegak, sistem akan menerapkan layout berikut, yang +tersimpan di {@code res/layout/fragment_layout.xml}:
+ +{@sample development/samples/ApiDemos/res/layout/fragment_layout.xml layout} + +Layout ini hanya menyertakan {@code TitlesFragment}. Ini artinya saat perangkat berada dalam +orientasi tegak, hanya judul daftar putar yang terlihat. Jadi, saat pengguna mengklik item +daftar dalam konfigurasi ini, aplikasi akan memulai aktivitas baru untuk menampilkan rangkuman, +sebagai ganti pemuatan fragmen kedua.
+ +Berikutnya, Anda bisa melihat bagaimana hal ini dilakukan dalam kelas fragmen. Pertama adalah {@code +TitlesFragment}, yang menampilkan judul daftar putar Shakespeare. Fragmen ini membuat ekstensi {@link +android.app.ListFragment} dan mengandalkannya itu untuk menangani sebagian besar pekerjaan tampilan daftar.
+ +Saat Anda memeriksa kode ini, perhatikan bahwa ada dua kemungkinan perilaku saat pengguna mengklik +item daftar: bergantung pada layout mana yang aktif, bisa membuat dan menampilkan fragmen +baru untuk menampilkan detail dalam aktivitas yang sama (menambahkan fragmen ke {@link +android.widget.FrameLayout}), atau memulai aktivitas baru (tempat fragmen ditampilkan).
+ +{@sample development/samples/ApiDemos/src/com/example/android/apis/app/FragmentLayout.java titles} + +Fragmen kedua, {@code DetailsFragment} menampilkan rangkuman pemutaran untuk item yang dipilih dari +daftar dari {@code TitlesFragment}:
+ +{@sample development/samples/ApiDemos/src/com/example/android/apis/app/FragmentLayout.java details} + +Ingatlah dari kelas {@code TitlesFragment}, bahwa, jika pengguna mengklik item daftar dan +layout saat ini tidak menyertakan tampilan {@code R.id.details} (yaitu tempat +{@code DetailsFragment} berada), maka aplikasi memulai aktivitas {@code DetailsActivity} +untuk menampilkan konten item.
+ +Berikut ini adalah {@code DetailsActivity}, yang hanya menanamkan {@code DetailsFragment} untuk menampilkan rangkuman pemutaran +yang dipilih saat layar dalam orientasi tegak:
+ +{@sample development/samples/ApiDemos/src/com/example/android/apis/app/FragmentLayout.java +details_activity} + +Perhatikan bahwa aktivitas ini selesai sendiri jika konfigurasi mendatar, sehingga aktivitas utama +bisa mengambil alih dan menampilkan {@code DetailsFragment} bersama {@code TitlesFragment}. +Ini bisa terjadi jika pengguna memulai {@code DetailsActivity} saat dalam orientasi tegak, namun kemudian +memutarnya menjadi mendatar (yang akan memulai lagi aktivitas saat ini).
+ + +Untuk contoh lainnya mengenai penggunaan fragmen (dan file sumber lengkap untuk contoh ini), +lihat aplikasi contoh Demo API yang tersedia di +ApiDemos (bisa diunduh dari Komponen contoh SDK).
+ + diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/components/fundamentals.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/fundamentals.jd new file mode 100644 index 0000000000000..2c925e98edb0d --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/fundamentals.jd @@ -0,0 +1,480 @@ +page.title=Dasar-Dasar Aplikasi +@jd:body + +Aplikasi Android ditulis dalam bahasa pemrograman Java. Android SDK Tools mengkompilasi +kode Anda—bersama data dan file sumber daya —ke dalam APK: Paket Android, +yaitu file arsip berekstensi {@code .apk}. Satu file APK berisi semua konten +aplikasi Android dan merupakan file yang digunakan perangkat berbasis Android untuk menginstal aplikasi.
+ +Setelah diinstal di perangkat, setiap aplikasi Android tinggal di sandbox keamanannya sendiri:
+ +Dengan cara ini, sistem Android mengimplementasikan prinsip privilese minim. Ini berarti, +secara default aplikasi hanya memiliki akses ke komponen yang diperlukannya untuk melakukan pekerjaannya dan +tidak lebih dari itu. Hal ini menghasilkan lingkungan yang sangat aman sehingga aplikasi tidak bisa mengakses bagian +sistem bila tidak diberi izin.
+ +Akan tetapi, ada beberapa cara bagi aplikasi untuk berbagi data dengan aplikasi lain dan bagi aplikasi +untuk mengakses layanan sistem:
+ +Hal tersebut mencakup dasar-dasar tentang cara aplikasi Android berada di dalam sistem. Bagian dokumen +selanjutnya memperkenalkan Anda pada:
+Komponen aplikasi adalah blok pembangun penting dari aplikasi Android. +Setiap komponen merupakan titik berbeda yang digunakan sistem untuk memasuki aplikasi. Tidak semua komponen +merupakan titik masuk sebenarnya bagi pengguna dan sebagian saling bergantung, namun masing-masing komponen tersedia +sebagai kesatuan sendiri dan memainkan peran tertentu—masing-masing merupakan +blok pembangun unik yang mendefinisikan perilaku aplikasi secara keseluruhan.
+ +Ada empat macam tipe komponen aplikasi. Setiap tipe memiliki kegunaan tersendiri +dan daur hidupnya sendiri yang mendefinisikan cara komponen dibuat dan dimusnahkan.
+ +Berikut ini empat tipe komponen aplikasi:
+ +Aktivitas diimplementasikan sebagai subkelas {@link android.app.Activity} dan Anda bisa mengetahui selengkapnya +tentang hal ini dalam panduan pengembang Aktivitas +.
+Layanan diimplementasikan sebagai subkelas {@link android.app.Service} dan Anda bisa mengetahui selengkapnya +tentang hal ini dalam panduan +pengembang Layanan.
+Penyedia konten juga berguna untuk membaca dan menulis data privat ke aplikasi Anda +dan tidak dibagikan. Misalnya, aplikasi contoh Note Pad menggunakan +penyedia konten untuk menyimpan catatan.
+ +Penyedia konten diimplementasikan sebagai subkelas {@link android.content.ContentProvider} +dan harus mengimplementasikan seperangkat standar API yang memungkinkan aplikasi +lain melakukan transaksi. Untuk informasi selengkapnya, lihat panduan pengembang +Penyedia Konten.
+Penerima siaran diimplementasikan sebagai subkelas {@link android.content.BroadcastReceiver} +dan setiap siaran dikirim sebagai objek {@link android.content.Intent}. Untuk informasi selengkapnya, +lihat kelas {@link android.content.BroadcastReceiver}.
+Aspek unik dari desain sistem Android adalah aplikasi mana pun bisa memulai +komponen aplikasi lain. Misalnya, jika Anda menginginkan pengguna mengambil +foto dengan kamera perangkat, bisa saja aplikasi lain yang melakukannya dan aplikasi +Anda bisa menggunakannya, sebagai ganti mengembangkan aktivitas sendiri untuk mengambil foto. Anda tidak +harus menyatukan atau bahkan menautkan ke kode dari aplikasi kamera. +Sebagai gantinya, Anda tinggal memulai aktivitas di aplikasi kamera yang akan mengambil +foto. Bila selesai, foto akan dikembalikan ke aplikasi sehingga Anda bisa menggunakannya. Bagi pengguna, +kamera seakan menjadi bagian dari aplikasi Anda.
+ +Saat sistem memulai komponen, sistem akan memulai proses untuk aplikasi itu (jika +belum berjalan) dan membuat instance kelas yang diperlukan untuk komponen. Misalnya, jika aplikasi Anda +memulai aktivitas dalam aplikasi kamera yang mengambil foto, aktivitas itu akan +berjalan dalam proses yang dimiliki oleh aplikasi kamera, bukan dalam proses aplikasi Anda. +Karenanya, tidak seperti aplikasi di sebagian besar sistem lain, aplikasi Android tidak memiliki titik +masuk tunggal (misalnya tidak ada fungsi {@code main()}).
+ +Karena sistem menjalankan setiap aplikasi dalam proses terpisah dengan izin file yang +membatasi akses ke aplikasi lain, aplikasi Anda tidak bisa langsung mengaktifkan komponen dari aplikasi lain. Akan tetapi, sistem +Android bisa melakukannya. Jadi, untuk mengaktifkan +komponen dalam aplikasi lain, Anda harus mengirim pesan ke sistem yang menetapkan intent Anda untuk memulai +komponen tertentu. Selanjutnya sistem akan mengaktifkan komponen untuk Anda.
+ + +Tiga dari empat tipe komponen—aktivitas, layanan, dan +penerima siaran—diaktifkan oleh pesan asinkron yang disebut intent. +Intent saling mengikat setiap komponen saat runtime (Anda bisa menganggapnya +sebagai pembawa pesan yang meminta tindakan dari komponen lain), baik komponen itu milik aplikasi Anda +atau milik aplikasi lain.
+ +Intent dibuat dengan objek {@link android.content.Intent}, yang mendefinisikan pesan untuk +mengaktifkan komponen tertentu atau komponen tipe komponen tertentu—masing-masing intent +bisa eksplisit atau implisit.
+ +Untuk aktivitas dan layanan, intent mendefinisikan tindakan yang akan dilakukan (misalnya, untuk "melihat" atau +"mengirim" sesuatu) dan mungkin menetapkan URI data untuk ditindaklanjuti (salah satu hal yang mungkin perlu diketahui +oleh komponen yang akan dimulai). Misalnya, intent mungkin menyampaikan permintaan suatu +aktivitas untuk menampilkan gambar atau membuka halaman web. Dalam beberapa kasus, Anda bisa memulai +aktivitas untuk menerima hasil, dalam hal ini, aktivitas juga akan mengembalikan hasil +dalam {@link android.content.Intent} (misalnya Anda bisa mengeluarkan intent agar +pengguna bisa memilih kontak pribadi dan memintanya dikembalikan kepada Anda—intent yang dikembalikan menyertakan URI yang +menunjuk ke kontak yang dipilih).
+ +Untuk penerima siaran, intent hanya mendefinisikan +pengumuman yang sedang disiarkan (misalnya, siaran untuk menunjukkan baterai perangkat hampir habis +hanya menyertakan string tindakan yang menunjukkan "baterai hampir habis").
+ +Tipe komponen lainnya dan penyedia konten, tidak diaktifkan oleh intent. Melainkan +diaktifkan saat ditargetkan oleh permintaan dari {@link android.content.ContentResolver}. Resolver +konten menangani semua transaksi langsung dengan penyedia konten sehingga komponen yang melakukan +transaksi dengan penyedia tidak perlu dan sebagai gantinya memanggil metode pada objek {@link +android.content.ContentResolver}. Ini membuat lapisan abstraksi antara penyedia +konten dan komponen yang meminta informasi (demi keamanan).
+ +Ada beberapa metode terpisah untuk mengaktifkan masing-masing tipe komponen:
+Untuk informasi selengkapnya tentang menggunakan intent, lihat dokumen Intent dan Filter + Intent. Informasi selengkapnya tentang mengaktifkan komponen +tertentu juga tersedia dalam dokumen berikut: Aktivitas, Layanan, {@link +android.content.BroadcastReceiver} dan Penyedia Konten.
+ + +Sebelum sistem Android bisa memulai komponen aplikasi, sistem harus mengetahui +keberadaan komponen dengan membaca file {@code AndroidManifest.xml} aplikasi (file +"manifes"). Aplikasi Anda harus mendeklarasikan semua komponennya dalam file ini, yang harus menjadi akar +dari direktori proyek aplikasi.
+ +Manifes melakukan banyak hal selain mendeklarasikan komponen aplikasi, +seperti:
+Tugas utama manifes adalah menginformasikan komponen aplikasi pada sistem. Misalnya, +file manifes bisa mendeklarasikan aktivitas sebagai berikut:
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<manifest ... > + <application android:icon="@drawable/app_icon.png" ... > + <activity android:name="com.example.project.ExampleActivity" + android:label="@string/example_label" ... > + </activity> + ... + </application> +</manifest>+ +
Dalam elemen <application>
+, atribut {@code android:icon} menunjuk ke sumber daya untuk ikon yang mengidentifikasi
+aplikasi.
Dalam elemen <activity>,
+atribut {@code android:name} menetapkan nama kelas yang sepenuhnya memenuhi syarat subkelas {@link
+android.app.Activity} dan atribut {@code android:label} menetapkan string yang akan
+digunakan sebagai label yang terlihat oleh pengguna untuk aktivitas tersebut.
Anda harus mendeklarasikan semua komponen aplikasi dengan cara ini:
+<activity> untuk
+aktivitas<service> untuk
+layanan<receiver> untuk
+penerima siaran<provider> untuk
+penyedia kontenAktivitas, layanan, dan penyedia konten yang Anda sertakan dalam kode sumber, namun tidak +dideklarasikan dalam manifes, tidak akan terlihat pada sistem dan, akibatnya, tidak pernah bisa berjalan. Akan tetapi, +penerima siaran +bisa dideklarasikan dalam manifes atau dibuat secara dinamis dalam kode (sebagai objek +{@link android.content.BroadcastReceiver}) dan didaftarkan pada sistem dengan memanggil +{@link android.content.Context#registerReceiver registerReceiver()}.
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang cara menstrukturkan file manifes untuk aplikasi Anda, +lihat dokumentasi File AndroidManifest.xml.
+ + + +Seperti telah dibahas di atas, dalam Mengaktifkan Komponen, Anda bisa menggunakan +{@link android.content.Intent} untuk memulai aktivitas, layanan, dan penerima siaran. Anda bisa +melakukannya dengan menamai komponen sasaran secara eksplisit (menggunakan nama kelas komponen) dalam intent. Akan tetapi, +kemampuan intent sebenarnya ada pada konsep intent implisit. Intent implisit +cuma menjelaskan tipe tindakan yang akan dilakukan (dan, secara opsional, data tempat Anda ingin +melakukan tindakan) dan memungkinkan sistem untuk menemukan komponen pada perangkat yang bisa melakukan +tindakan tersebut dan memulainya. Jika ada banyak komponen yang bisa melakukan tindakan yang dijelaskan oleh intent, +maka pengguna bisa memilih komponen yang akan digunakan.
+ +Cara sistem mengidentifikasi komponen yang bisa merespons intent adalah dengan membandingkan +intent yang diterima dengan filter intent yang disediakan dalam file manifes aplikasi lainnya pada +perangkat.
+ +Bila mendeklarasikan aktivitas dalam manifes aplikasi, secara opsional Anda bisa menyertakan +filter intent yang mendeklarasikan kemampuan aktivitas agar bisa merespons intent dari +aplikasi lain. Anda bisa mendeklarasikan filter intent untuk komponen dengan +menambahkan elemen {@code +<intent-filter>} sebagai anak elemen deklarasi komponen.
+ +Misalnya, jika Anda telah membangun aplikasi email dengan aktivitas untuk menulis email baru, Anda bisa +mendeklarasikan filter intent untuk merespons intent "kirim" (untuk mengirim email baru) seperti ini:
++<manifest ... > + ... + <application ... > + <activity android:name="com.example.project.ComposeEmailActivity"> + <intent-filter> + <action android:name="android.intent.action.SEND" /> + <data android:type="*/*" /> + <category android:name="android.intent.category.DEFAULT" /> + </intent-filter> + </activity> + </application> +</manifest> ++ +
Kemudian, jika aplikasi lain membuat intent dengan tindakan {@link +android.content.Intent#ACTION_SEND} dan meneruskannya ke {@link android.app.Activity#startActivity +startActivity()}, sistem bisa memulai aktivitas Anda agar pengguna bisa menulis draf dan mengirim +email.
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang membuat filter intent, lihat dokumen Intent dan Filter Intent. +
+ + + +Ada berbagai macam perangkat yang didukung oleh Android dan tidak +semuanya menyediakan fitur dan kemampuan yang sama. Agar aplikasi Anda tidak dihapus pada perangkat yang tidak memiliki +fitur yang diperlukan aplikasi, Anda harus jelas mendefinisikan profil mengenai +tipe perangkat yang didukung aplikasi dengan mendeklarasikan kebutuhan perangkat dan perangkat lunak dalam file +manifes. Kebanyakan deklarasi ini hanya bersifat informasi dan sistem tidak +membacanya, namun layanan eksternal seperti Google Play akan membacanya untuk menyediakan +penyaringan bagi pengguna saat mereka mencari aplikasi dari perangkat.
+ +Misalnya, jika aplikasi memerlukan kamera dan menggunakan API yang disediakan dalam Android 2.1 (API Level 7) +, Anda harus mendeklarasikannya sebagai kebutuhan dalam file manifes seperti ini:
+ ++<manifest ... > + <uses-feature android:name="android.hardware.camera.any" + android:required="true" /> + <uses-sdk android:minSdkVersion="7" android:targetSdkVersion="19" /> + ... +</manifest> ++ +
Sekarang, perangkat yang tidak memiliki kamera dan menggunakan +Android versi lebih rendah dari 2.1 tidak bisa menginstal aplikasi Anda dari Google Play.
+ +Akan tetapi, bisa juga mendeklarasikan bahwa aplikasi Anda menggunakan kamera, namun tidak +mengharuskannya. Dalam hal itu, aplikasi Anda harus mengatur atribut {@code required} + ke {@code "false"} dan memeriksa saat runtime apakah +perangkat memiliki kamera dan menonaktifkan setiap fitur kamera yang sesuai.
+ +Informasi selengkapnya tentang cara mengelola kompatibilitas aplikasi dengan +perangkat yang berbeda disediakan dalam dokumen +Kompatibilitas Perangkat.
+ + + +Aplikasi Android tidak hanya terdiri dari kode—Aplikasi memerlukan sumber daya yang +terpisah dari kode sumber, seperti gambar, file audio, dan apa saja yang berkaitan dengan +presentasi visual dari aplikasi. Misalnya, Anda harus mendefinisikan animasi, menu, gaya, warna, +dan layout antarmuka pengguna aktivitas dengan file XML. Penggunaan sumber daya aplikasi +mempermudah pembaruan berbagai karakteristik aplikasi Anda tanpa memodifikasi kode dan—dengan menyediakan +seperangkat sumber daya alternatif—memungkinkan Anda mengoptimalkan aplikasi untuk berbagai konfigurasi +perangkat berbeda (seperti bahasa dan ukuran layar yang berbeda).
+ +Untuk setiap sumber daya yang Anda sertakan dalam proyek Android, alat bawaan SDK akan mendefinisikan ID integer +unik, yang bisa Anda gunakan untuk mengacu sumber daya dari kode aplikasi atau dari sumber daya lainnya yang +didefinisikan dalam XML. Misalnya, jika aplikasi berisi file gambar bernama {@code +logo.png} (disimpan dalam direktori {@code res/drawable/}), alat SDK akan menghasilkan ID sumber daya +bernama {@code R.drawable.logo}, yang bisa Anda gunakan untuk mengacu gambar dan memasukkannya dalam +antarmuka pengguna.
+ +Salah satu aspek paling penting dari penyediaan sumber daya yang terpisah dari +kode sumber adalah kemampuan Anda menyediakan sumber daya alternatif untuk konfigurasi perangkat +yang berbeda. Misalnya, dengan mendefinisikan string UI dalam XML, Anda bisa menerjemahkan string ke dalam +bahasa lain dan menyimpan string itu dalam file terpisah. Kemudian, berdasarkan qualifier +bahasa yang ditambahkan ke nama direktori sumber daya (seperti {@code res/values-fr/} untuk nilai +string Prancis) dan pengaturan bahasa pengguna, sistem Android akan menerapkan string bahasa yang sesuai +untuk UI Anda.
+ +Android mendukung banyak qualifier berbeda untuk sumber daya alternatif Anda. Qualifier +adalah string pendek yang Anda sertakan dalam nama direktori sumber +daya untuk mendefinisikan konfigurasi perangkat yang harus digunakan sumber daya tersebut. Contoh lainnya, +Anda harus sering membuat layout berbeda untuk aktivitas, bergantung pada +orientasi layar dan ukuran perangkat. Misalnya, saat layar perangkat dalam orientasi +tegak, Anda mungkin ingin layout tombolnya vertikal, tetapi saat layar dalam orientasi +mendatar, tombolnya harus sejajar horizontal. Untuk mengubah layout +sesuai orientasi, Anda bisa mendefinisikan dua layout berbeda dan menerapkan qualifier yang +tepat untuk setiap nama direktori layout. Kemudian, sistem secara otomatis menerapkan +layout yang tepat sesuai dengan orientasi perangkat saat ini.
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang berbagai jenis sumber daya yang bisa disertakan dalam aplikasi dan cara +membuat sumber daya alternatif untuk konfigurasi perangkat berbeda, bacalah Menyediakan Sumber Daya.
+ + + + + diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/components/index.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/index.jd new file mode 100644 index 0000000000000..de40b22d875ec --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/index.jd @@ -0,0 +1,57 @@ +page.title=Komponen Aplikasi +page.landing=true +page.landing.intro=Kerangka kerja aplikasi Android memungkinkan Anda membuat aplikasi yang kaya dan inovatif menggunakan seperangkat komponen yang dapat digunakan kembali. Bagian ini menjelaskan cara membangun komponen yang mendefinisikan blok pembangun aplikasi Anda dan cara menghubungkannya bersama menggunakan intent. +page.metaDescription=Kerangka kerja aplikasi Android memungkinkan Anda membuat aplikasi yang kaya dan inovatif menggunakan seperangkat komponen yang dapat digunakan kembali. Bagian ini menjelaskan cara membangun komponen yang mendefinisikan blok pembangun aplikasi Anda dan cara menghubungkannya bersama menggunakan intent. +page.landing.image=images/develop/app_components.png +page.image=images/develop/app_components.png + +@jd:body + +Dalam posting ini, saya akan menunjukkan cara menggunakan DialogFragments dengan pustaka dukungan v4 (untuk kompatibilitas mundur pada perangkat sebelum Honeycomb) untuk menunjukkan dialog edit sederhana dan mengembalikan hasil ke Aktivitas pemanggil menggunakan antarmuka.
+ + + +Hari ini kami telah merilis pustaka statis yang memperlihatkan API Fragment yang sama (serta LoaderManager baru dan beberapa kelas lain) agar aplikasi yang kompatibel dengan Android 1.6 atau yang lebih baru bisa menggunakan fragmen untuk membuat antarmuka pengguna yang kompatibel dengan tablet.
+ + + +Praktik yang baik dalam membuat aplikasi yang responsif adalah memastikan thread UI utama Anda +melakukan pekerjaan minimum. Setiap tugas yang berpotensi lama dan dapat membuat aplikasi mogok harus +ditangani di thread berbeda.
+ +Bagian ini menjelaskan pentingnya metode callback daur hidup yang diterima setiap instance Aktivitas +dan cara menggunakannya sehingga aktivitas Anda melakukan yang diharapkan pengguna dan tidak menghabiskan sumber daya sistem +saat aktivitas tidak membutuhkannya.
+ + + +Bagian ini menunjukkan kepada Anda cara membuat pengalaman pengguna yang dinamis dengan fragmen dan mengoptimalkan +pengalaman pengguna aplikasi Anda dengan berbagai ukuran layar, sekaligus terus mendukung +perangkat yang menjalankan versi sebelumnya, sesudah versi Android 1.6.
+ + + +Bagian ini membahas beberapa cara umum untuk mengirim dan menerima konten antar +aplikasi menggunakan API Intent dan objek ActionProvider.
+ +{@link android.content.Intent} merupakan objek pertukaran pesan yang bisa Anda gunakan untuk meminta tindakan +dari komponen aplikasi lain. +Walaupun intent memudahkan komunikasi antarkomponen dalam beberapa cara, ada tiga +kasus-penggunaan dasar:
+ +{@link android.app.Activity} menyatakan satu layar dalam aplikasi. Anda bisa memulai instance +baru {@link android.app.Activity} dengan meneruskan {@link android.content.Intent} +ke {@link android.content.Context#startActivity startActivity()}. {@link android.content.Intent} +menjelaskan aktivitas yang akan dimulai dan membawa data yang diperlukan.
+ +Jika Anda ingin menerima hasil dari aktivitas bila selesai, +panggil {@link android.app.Activity#startActivityForResult +startActivityForResult()}. Aktivitas Anda menerima hasil +sebagai objek {@link android.content.Intent} terpisah dalam callback {@link +android.app.Activity#onActivityResult onActivityResult()} aktivitas Anda. +Untuk informasi selengkapnya, lihat panduan Aktivitas.
{@link android.app.Service} adalah komponen yang melakukan operasi di latar belakang +tanpa antarmuka pengguna. Anda bisa memulai layanan untuk melakukan operasi satu-kali +(misalnya mengunduh file) dengan meneruskan {@link android.content.Intent} +ke {@link android.content.Context#startService startService()}. {@link android.content.Intent} +menjelaskan layanan yang akan dimulai dan membawa data yang diperlukan.
+ +Jika layanan didesain dengan antarmuka pengguna klien-server, Anda bisa mengikat ke layanan +dari komponen lain dengan meneruskan {@link android.content.Intent} ke {@link +android.content.Context#bindService bindService()}. Untuk informasi selengkapnya, lihat panduan Layanan.
Siaran adalah pesan yang bisa diterima aplikasi apa saja. Sistem menyampaikan beragam siaran +untuk kejadian sistem, misalnya saat sistem booting atau saat perangkat mulai mengisi daya. +Anda bisa mengirim siaran ke aplikasi lain dengan meneruskan {@link android.content.Intent} +ke {@link android.content.Context#sendBroadcast(Intent) sendBroadcast()}, +{@link android.content.Context#sendOrderedBroadcast(Intent, String) +sendOrderedBroadcast()}, atau {@link +android.content.Context#sendStickyBroadcast sendStickyBroadcast()}.
+Ada dua tipe intent:
+ +Saat Anda membuat intent eksplisit untuk memulai aktivitas atau layanan, sistem akan segera +memulai komponen aplikasi yang telah ditetapkan dalam objek {@link android.content.Intent}.
+ +
+Gambar 1. Ilustrasi yang menggambarkan cara intent implisit +disampaikan melalui sistem untuk memulai aktivitas lain: [1] Aktivitas A membuat sebuah +{@link android.content.Intent} dengan keterangan tindakan dan meneruskannya ke {@link +android.content.Context#startActivity startActivity()}. [2] Sistem Android akan mencari semua +aplikasi untuk filter intent yang cocok dengan intent tersebut. Bila cocok, [3] sistem akan +memulai aktivitas mencocokkan (Aktivitas B) dengan memanggil metode {@link +android.app.Activity#onCreate onCreate()} dan meneruskannya ke {@link android.content.Intent}. +
+Bila Anda membuat intent implisit, sistem Android akan menemukan komponen yang sesuai untuk memulai +dengan membandingkan konten intent dengan filter intent yang dideklarasikan dalam file manifes aplikasi lain di +perangkat. Jika intent cocok dengan filter intent, sistem akan memulai komponen tersebut dan mengiriminya +objek {@link android.content.Intent}. Jika banyak filter intent yang kompatibel, sistem +menampilkan dialog sehingga pengguna bisa memilih aplikasi yang akan digunakan.
+ +Filter intent adalah ekspresi dalam file manifes aplikasi yang +menetapkan tipe intent yang akan diterima +komponen. Misalnya, dengan mendeklarasikan intent filter untuk aktivitas, +Anda akan memungkinkan aplikasi lain untuk langsung memulai aktivitas Anda dengan intent tertentu. +Demikian pula, jika Anda tidak mendeklarasikan filter intent untuk suatu aktivitas, maka aktivitas tersebut hanya bisa dimulai +dengan intent eksplisit.
+ +Perhatian: Untuk memastikan aplikasi Anda aman, selalu gunakan intent +eksplisit saat memulai {@link android.app.Service} dan jangan +mendeklarasikan filter intent untuk layanan. Menggunakan intent implisit untuk memulai layanan akan menimbulkan +bahaya keamanan karena Anda tidak bisa memastikan layanan apa yang akan merespons intent, +dan pengguna tidak bisa melihat layanan mana yang dimulai. Mulai dari Android 5.0 (API level 21), sistem +melontarkan eksepsi jika Anda memanggil {@link android.content.Context#bindService bindService()} +dengan intent implisit.
+ + + + + +Objek {@link android.content.Intent} membawa informasi yang digunakan sistem Android +untuk menentukan komponen mana yang akan dimulai (misalnya nama persis dari suatu komponen atau kategori +komponen yang seharusnya menerima intent), ditambah informasi yang digunakan komponen penerima untuk +melakukan tindakan dengan benar (misalnya tindakan yang harus dilakukan dan data yang harus diolah).
+ + +Informasi utama yang dimuat dalam {@link android.content.Intent} adalah sebagai berikut:
+ +Ini opsional, namun merupakan bagian informasi penting yang membuat intent +menjadi eksplisit, yaitu intent harus dikirim hanya ke komponen aplikasi +yang didefinisikan oleh nama komponen. Tanpa nama komponen, intent menjadi implisit dan +sistem akan memutuskan komponen mana yang harus menerima intent berdasarkan informasi intent lain +(misalnya tindakan, data, dan kategori—yang dijelaskan di bawah ini). Jadi jika Anda ingin memulai komponen +tertentu dalam aplikasi, Anda harus menetapkan nama komponen tersebut.
+ +Catatan: Saat memulai {@link android.app.Service}, Anda harus +selalu menetapkan nama komponen. Jika tidak, maka Anda tidak bisa memastikan layanan apa +yang akan merespons intent tersebut, dan pengguna tidak bisa melihat layanan mana yang dimulai.
+ +Bidang {@link android.content.Intent} ini adalah objek +{@link android.content.ComponentName}, yang bisa Anda tetapkan menggunakan +nama kelas yang sepenuhnya memenuhi syarat dari komponen target, termasuk nama paket aplikasi. Misalnya, +{@code com.example.ExampleActivity}. Anda bisa mengatur nama komponen dengan {@link +android.content.Intent#setComponent setComponent()}, {@link android.content.Intent#setClass +setClass()}, {@link android.content.Intent#setClassName(String, String) setClassName()}, atau dengan konstruktor +{@link android.content.Intent}.
+ +Dalam hal intent siaran, ini adalah tindakan yang terjadi dan dilaporkan. +Tindakan ini sangat menentukan bagaimana keseluruhan intent disusun—terutama +apa yang dimuat dalam data dan ekstra. + +
Anda bisa menetapkan tindakan sendiri yang akan digunakan oleh intent dalam aplikasi Anda (atau digunakan oleh aplikasi +lain untuk memanggil komponen dalam aplikasi Anda), namun Anda harus menggunakan konstanta tindakan +yang didefinisikan oleh kelas {@link android.content.Intent} atau kelas kerangka kerja lain. Berikut ini adalah beberapa +tindakan umum untuk memulai sebuah aktivitas:
+ +Lihat referensi kelas {@link android.content.Intent} untuk konstanta +selengkapnya yang mendefinisikan tindakan generik. Tindakan lain yang didefinisikan +di tempat lain dalam kerangka kerja Android, misalnya dalam {@link android.provider.Settings} untuk tindakan +yang membuka layar tertentu dalam aplikasi Settings di sistem.
+ +Anda bisa menetapkan tindakan untuk sebuah intent dengan {@link android.content.Intent#setAction +setAction()} atau dengan konstruktor {@link android.content.Intent}.
+ +Jika mendefinisikan tindakan Anda sendiri, pastikan untuk memasukkan nama paket aplikasi Anda +sebagai awalan. Misalnya:
+static final String ACTION_TIMETRAVEL = "com.example.action.TIMETRAVEL";+
Saat membuat intent, +seringkali tipe data (tipe MIME-nya) selain URI perlu ditetapkan. +Misalnya, aktivitas yang mampu menampilkan gambar mungkin tidak mampu +memutar file audio, walaupun format URI mungkin serupa. +Jadi menetapkan tipe MIME data Anda akan membantu sistem +Android menemukan komponen terbaik untuk diterima intent. +Akan tetapi, tipe MIME seringkali bisa diambil dari URI—terutama saat datanya merupakan URI +{@code content:}, yang menunjukkan data tersebut berada di perangkat dan dikontrol oleh +{@link android.content.ContentProvider}, yang membuat data tipe MIME terlihat di sistem.
+ +Untuk mengatur data URI saja, panggil {@link android.content.Intent#setData setData()}. +Untuk mengatur tipe MIME saja, panggil {@link android.content.Intent#setType setType()}. Jika perlu, Anda +bisa mengatur keduanya secara eksplisit dengan {@link +android.content.Intent#setDataAndType setDataAndType()}.
+ +Perhatian: Jika ingin mengatur tipe URI dan MIME, +jangan panggil {@link android.content.Intent#setData setData()} dan +{@link android.content.Intent#setType setType()} karena mereka saling menghapuskan nilai satu sama lain. +Selalu gunakan {@link android.content.Intent#setDataAndType setDataAndType()} untuk mengatur +tipe URI maupun MIME.
+Lihat keterangan kelas {@link android.content.Intent} untuk mengetahui daftar lengkap +kategori.
+ +Anda bisa menetapkan kategori dengan {@link android.content.Intent#addCategory addCategory()}.
+Properti yang tercantum di atas (nama komponen, tindakan, data, dan kategori) menyatakan +karakteristik yang mendefinisikan intent. Dengan membaca properti ini, sistem Android +mampu memutuskan komponen aplikasi yang harus dimulainya.
+ +Akan tetapi, intent bisa membawa informasi tambahan yang tidak memengaruhi +cara intent ditetapkan pada komponen aplikasi. Intent juga bisa menyediakan:
+ +Anda bisa menambahkan data ekstra dengan beragam metode {@link android.content.Intent#putExtra putExtra()}, +masing-masing menerima dua parameter: nama kunci dan nilainya. +Anda juga bisa membuat objek {@link android.os.Bundle} dengan semua data ekstra, kemudian memasukkan +{@link android.os.Bundle} dalam {@link android.content.Intent} dengan {@link +android.content.Intent#putExtras putExtras()}.
+ +Misalnya, saat membuat intent yang akan dikirimkan bersama email +{@link android.content.Intent#ACTION_SEND}, Anda bisa menetapkan penerima "kepada" dengan kunci +{@link android.content.Intent#EXTRA_EMAIL}, dan menetapkan "subjek" dengan kunci +{@link android.content.Intent#EXTRA_SUBJECT}.
+ +Kelas {@link android.content.Intent} menetapkan beberapa konstanta {@code EXTRA_*} +untuk tipe data standar. Jika Anda ingin mendeklarasikan kunci ekstra sendiri (untuk intent yang +diterima aplikasi Anda), pastikan untuk memasukkan nama paket aplikasi +sebagai awalan. Misalnya:
+static final String EXTRA_GIGAWATTS = "com.example.EXTRA_GIGAWATTS";+
Untuk informasi selengkapnya, lihat metode {@link android.content.Intent#setFlags setFlags()} .
+Intent eksplisit adalah intent yang Anda gunakan untuk meluncurkan komponen aplikasi tertentu, seperti +aktivitas tertentu atau layanan dalam aplikasi Anda. Untuk membuat intent eksplisit, definisikan +nama komponen untuk objek {@link android.content.Intent} —semua +properti intent lain bersifat opsional.
+ +Misalnya, jika Anda ingin membangun layanan dalam aplikasi Anda, bernama {@code DownloadService}, +yang didesain untuk mengunduh file dari web, Anda bisa memulainya dengan kode berikut ini:
+ +
+// Executed in an Activity, so 'this' is the {@link android.content.Context}
+// The fileUrl is a string URL, such as "http://www.example.com/image.png"
+Intent downloadIntent = new Intent(this, DownloadService.class);
+downloadIntent.setData({@link android.net.Uri#parse Uri.parse}(fileUrl));
+startService(downloadIntent);
+
+
+Konstruktor {@link android.content.Intent#Intent(Context,Class)} + menyediakan {@link android.content.Context} aplikasi dan +objek {@link java.lang.Class} pada komponen. Dengan demikian, +intent ini memulai secara eksplisit kelas {@code DownloadService} dalam aplikasi.
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang membangun dan memulai layanan, lihat panduan +Layanan.
+ + + + +Intent implisit menetapkan tindakan yang bisa memanggil aplikasi pada perangkat yang mampu +melakukan tindakan. Menggunakan intent implisit berguna bila aplikasi Anda tidak bisa melakukan +tindakan, namun aplikasi lain mungkin bisa melakukannya dan Anda ingin pengguna untuk memilih aplikasi mana yang ingin digunakan.
+ +Misalnya, jika memiliki konten yang Anda ingin agar pengguna berbagi konten itu dengan orang lain, buatlah intent +dengan tindakan {@link android.content.Intent#ACTION_SEND} +dan tambahkan ekstra yang menetapkan konten yang akan dibagikan. Bila Anda memanggil +{@link android.content.Context#startActivity startActivity()} dengan intent tersebut, pengguna bisa +memilih aplikasi yang akan digunakan untuk berbagi konten.
+ +Perhatian: Ada kemungkinan pengguna tidak memiliki suatu +aplikasi yang menangani intent implisit yang Anda kirimkan ke {@link android.content.Context#startActivity +startActivity()}. Jika itu terjadi, panggilan akan gagal dan aplikasi Anda akan crash. Untuk memeriksa +apakah aktivitas bisa menerima intent, panggil {@link android.content.Intent#resolveActivity +resolveActivity()} pada objek {@link android.content.Intent} Anda. Jika hasilnya bukan nol, +berarti setidaknya ada satu aplikasi yang bisa menangani intent tersebut dan aman untuk memanggil +{@link android.content.Context#startActivity startActivity()}. Jika hasilnya nol, +Anda tidak boleh menggunakan intent tersebut dan, jika memungkinkan, Anda harus menonaktifkan fitur yang mengeluarkan +intent tersebut.
+ + +
+// Create the text message with a string
+Intent sendIntent = new Intent();
+sendIntent.setAction(Intent.ACTION_SEND);
+sendIntent.putExtra(Intent.EXTRA_TEXT, textMessage);
+sendIntent.setType("text/plain");
+
+// Verify that the intent will resolve to an activity
+if (sendIntent.resolveActivity(getPackageManager()) != null) {
+ startActivity(sendIntent);
+}
+
+
+Catatan: Dalam hal ini, URI tidak digunakan, namun tipe data intent +dideklarasikan untuk menetapkan konten yang dibawa oleh ekstra.
+ + +Saat {@link android.content.Context#startActivity startActivity()} dipanggil, sistem akan +memeriksa semua aplikasi yang terinstal untuk menentukan aplikasi mana yang bisa menangani intent jenis ini ( +intent dengan tindakan {@link android.content.Intent#ACTION_SEND} dan yang membawa data +"teks/polos"). Jika hanya ada satu aplikasi yang bisa menanganinya, aplikasi tersebut akan langsung terbuka dan diberi +intent tersebut. Jika banyak aktivitas menerima intent, sistem akan +menampilkan dialog sehingga pengguna bisa memilih aplikasi mana yang digunakan.
+ + +
+ Gambar 2. Dialog pemilih.
+Bila ada lebih dari satu aplikasi yang merespons intent implisit Anda, +pengguna bisa memilih aplikasi mana yang digunakan dan membuat aplikasi tersebut pilihan default untuk +tindakan tersebut. Ini sangat membantu saat melakukan tindakan di mana pengguna +mungkin ingin menggunakan aplikasi yang sama untuk seterusnya, seperti saat membuka halaman web (pengguna +biasanya memilih hanya satu browser web).
+ +Akan tetapi, jika ada banyak aplikasi yang bisa merespons intent tersebut dan pengguna mungkin ingin menggunakan aplikasi +yang berbeda untuk setiap kalinya, Anda harus menampilkan dialog pemilih secara eksplisit. Dialog pemilih akan meminta +pengguna memilih aplikasi yang akan digunakan untuk tindakan tertentu setiap kali (pengguna tidak bisa memilih aplikasi default untuk +tindakan tersebut). Misalnya, saat aplikasi Anda melakukan "berbagi" dengan tindakan {@link +android.content.Intent#ACTION_SEND}, pengguna mungkin ingin berbagi menggunakan aplikasi berbeda sesuai +dengan situasi mereka saat itu, jadi Anda harus selalu menggunakan dialog pemilih, seperti yang ditampilkan dalam gambar 2.
+ + + + +Untuk menampilkan pemilih, buatlah {@link android.content.Intent} menggunakan {@link +android.content.Intent#createChooser createChooser()} dan teruskan ke {@link +android.app.Activity#startActivity startActivity()}. Misalnya:
+ +
+Intent sendIntent = new Intent(Intent.ACTION_SEND);
+...
+
+// Always use string resources for UI text.
+// This says something like "Share this photo with"
+String title = getResources().getString(R.string.chooser_title);
+// Create intent to show the chooser dialog
+Intent chooser = Intent.createChooser(sendIntent, title);
+
+// Verify the original intent will resolve to at least one activity
+if (sendIntent.resolveActivity(getPackageManager()) != null) {
+ startActivity(chooser);
+}
+
+
+Ini menampilkan dialog dengan daftar aplikasi yang merespons intent yang diteruskan ke metode {@link +android.content.Intent#createChooser createChooser()} dan menggunakan teks yang disediakan sebagai +judul dialog.
+ + + + + + + + + +Untuk mengiklankan intent implisit yang bisa diterima aplikasi Anda, deklarasikan satu atau beberapa filter intent untuk +tiap komponen aplikasi dengan elemen {@code <intent-filter>} +dalam file manifes Anda. +Tiap filter intent menetapkan tipe intent yang diterimanya berdasarkan tindakan intent, +data, dan kategori. Sistem akan mengirim intent implisit ke komponen aplikasi Anda hanya jika +intent tersebut bisa diteruskan melalui salah satu filter intent.
+ +Catatan: Intent eksplisit selalu dikirimkan ke targetnya, +apa pun filter intent yang dideklarasikan komponen.
+ +Komponen aplikasi harus mendeklarasikan filter terpisah untuk setiap pekerjaan unik yang bisa dilakukannya. +Misalnya, satu aktivitas dalam aplikasi galeri gambar bisa memiliki dua filter: satu filter +untuk melihat gambar, dan filter lainnya untuk mengedit gambar. Bila aktivitas dimulai, +aktivitas akan memeriksa {@link android.content.Intent} dan menentukan cara berperilaku berdasarkan informasi +dalam {@link android.content.Intent} (misalnya menampilkan kontrol editor atau tidak).
+ +Tiap filter intent didefinisikan oleh elemen {@code <intent-filter>} +dalam file manifes aplikasi, yang tersarang dalam komponen aplikasi terkait (seperti +elemen {@code <activity>} +). Di dalam {@code <intent-filter>}, +Anda bisa menetapkan tipe intent yang akan diterima dengan menggunakan salah satu atau beberapa +dari tiga elemen ini:
+ +scheme, host, port,
+ path, dll.) dan tipe MIME.Catatan: Untuk menerima intent implisit, Anda + harus menyertakan kategori +{@link android.content.Intent#CATEGORY_DEFAULT} dalam filter intent. Metode + {@link android.app.Activity#startActivity startActivity()}dan + {@link android.app.Activity#startActivityForResult startActivityForResult()} memperlakukan semua intent + seolah-olah mendeklarasikan kategori {@link android.content.Intent#CATEGORY_DEFAULT}. + Jika tidak mendeklarasikan kategori ini dalam filter intent Anda, tidak ada intent implisit yang ditetapkan untuk + aktivitas Anda.
+Misalnya, ini adalah deklarasi aktivitas dengan filter intent yang diterima intent +{@link android.content.Intent#ACTION_SEND} bila tipe data berupa teks:
+ ++<activity android:name="ShareActivity"> + <intent-filter> + <action android:name="android.intent.action.SEND"/> + <category android:name="android.intent.category.DEFAULT"/> + <data android:mimeType="text/plain"/> + </intent-filter> +</activity> ++ +
Anda bisa membuat filter yang menyertakan lebih dari satu instance +{@code <action>}, +{@code <data>}, atau +{@code <category>}. +Jika Anda melakukannya, Anda hanya perlu memastikan bahwa komponen bisa menangani semua kombinasi +elemen filter tersebut.
+ +Bila ingin menangani beragam jenis intent, namun hanya dalam kombinasi +tindakan, data, dan tipe kategori tertentu, maka Anda harus membuat banyak filter intent.
+ + +Menggunakan filter intent bukanlah cara yang aman untuk mencegah aplikasi lain memulai +komponen Anda. Walaupun filter intent membatasi komponen agar hanya merespons +jenis intent implisit tertentu, aplikasi lain bisa saja memulai komponen aplikasi Anda +dengan menggunakan intent eksplisit jika pengembangnya menentukan nama komponen Anda. +Jika perlu hanya aplikasi Anda sendiri yang mampu memulai salah satu komponen, +atur atribut {@code +exported} ke {@code "false"} untuk komponen itu. +
+Intent implisit diuji terhadap filter dengan membandingkan intent dengan masing-masing +dari ketiga elemen. Agar dikirim ke komponen, intent harus lolos ketiga pengujian tersebut. +Jika intent gagal dalam salah satu pengujian, sistem Android tidak akan mengirim intent ke +komponen. Akan tetapi, karena sebuah komponen dapat memiliki beberapa filter intent, intent yang tidak +lolos melalui salah satu filter komponen mungkin akan lolos di filter lain. +Informasi selengkapnya tentang cara sistem menetapkan intent disediakan dalam bagian di bawah ini +tentang Resolusi Intent.
+ +Perhatian: Untuk menghindari menjalankan +{@link android.app.Service} aplikasi yang berbeda secara tidak sengaja, selalu gunakan intent eksplisit untuk memulai layanan Anda sendiri dan jangan +deklarasikan filter intent untuk layanan Anda.
+ +Catatan: +Untuk semua aktivitas, Anda harus mendeklarasikan filter intent dalam file manifes. +Akan tetapi, filter untuk penerima siaran bisa didaftarkan secara dinamis dengan memanggil +{@link android.content.Context#registerReceiver(BroadcastReceiver, IntentFilter, String, +Handler) registerReceiver()}. Anda nanti bisa mencabut pendaftaran penerima dengan {@link +android.content.Context#unregisterReceiver unregisterReceiver()}. Dengan begitu aplikasi Anda +bisa mendengarkan siaran tertentu hanya selama periode waktu yang telah ditetapkan saat aplikasi Anda +berjalan.
+ + + + + + + +Untuk lebih memahami beberapa perilaku filter intent, lihatlah cuplikan berikut +dari file manifes aplikasi berbagi di jaringan sosial.
+ ++<activity android:name="MainActivity"> + <!-- This activity is the main entry, should appear in app launcher --> + <intent-filter> + <action android:name="android.intent.action.MAIN" /> + <category android:name="android.intent.category.LAUNCHER" /> + </intent-filter> +</activity> + +<activity android:name="ShareActivity"> + <!-- This activity handles "SEND" actions with text data --> + <intent-filter> + <action android:name="android.intent.action.SEND"/> + <category android:name="android.intent.category.DEFAULT"/> + <data android:mimeType="text/plain"/> + </intent-filter> + <!-- This activity also handles "SEND" and "SEND_MULTIPLE" with media data --> + <intent-filter> + <action android:name="android.intent.action.SEND"/> + <action android:name="android.intent.action.SEND_MULTIPLE"/> + <category android:name="android.intent.category.DEFAULT"/> + <data android:mimeType="application/vnd.google.panorama360+jpg"/> + <data android:mimeType="image/*"/> + <data android:mimeType="video/*"/> + </intent-filter> +</activity> ++ +
Aktivitas pertama, {@code MainActivity}, merupakan titik masuk utama aplikasi—aplikasi yang +terbuka saat pengguna meluncurkan aplikasi dengan ikon launcher:
+Keduanya harus dipasangkan bersama agar aktivitas muncul dalam launcher aplikasi.
+ +Aktivitas kedua, {@code ShareActivity}, dimaksudkan untuk memudahkan berbagi teks dan konten +media. Walaupun pengguna mungkin memasuki aktivitas ini dengan mengarah ke aktivitas dari {@code MainActivity}, +pengguna juga bisa memasukkan {@code ShareActivity} secara langsung dari aplikasi lain yang mengeluarkan intent +implisit yang cocok dengan salah satu dari kedua filter intent.
+ +Catatan: Tipe MIME, +{@code +application/vnd.google.panorama360+jpg}, merupakan tipe data khusus yang menetapkan +foto panorama, yang bisa Anda tangani dengan API panorama +Google.
+ + + + + + + + + + + + + +Objek {@link android.app.PendingIntent} merupakan pembungkus objek {@link +android.content.Intent}. Tujuan utama {@link android.app.PendingIntent} +adalah memberikan izin pada aplikasi asing +untuk menggunakan {@link android.content.Intent} yang termuat seolah-olah dieksekusi dari +proses aplikasi Anda sendiri.
+ +Kasus penggunaan utama untuk intent tertunda antara lain:
+Karena setiap objek {@link android.content.Intent} didesain untuk ditangani oleh tipe +tertentu dari komponen aplikasi (baik {@link android.app.Activity}, {@link android.app.Service}, maupun + {@link android.content.BroadcastReceiver}), jadi {@link android.app.PendingIntent} harus +dibuat dengan pertimbangan yang sama. Saat menggunakan intent tertunda, aplikasi Anda tidak akan +mengeksekusi intent dengan panggilan seperti {@link android.content.Context#startActivity +startActivity()}. Anda harus mendeklarasikan tipe komponen yang dimaksud saat membuat +{@link android.app.PendingIntent} dengan memanggil metode kreator masing-masing:
+ +Kecuali jika aplikasi Anda menerima intent tertunda dari aplikasi lain, +metode di atas untuk membuat {@link android.app.PendingIntent} menjadi satu-satunya metode +{@link android.app.PendingIntent} yang mungkin Anda butuhkan.
+ +Tiap metode mengambil {@link android.content.Context} aplikasi saat itu, +{@link android.content.Intent} yang ingin Anda bungkus, dan satu atau beberapa flag yang menetapkan +cara penggunaan intent (misalnya apakah intent bisa digunakan lebih dari sekali).
+ +Informasi selengkapnya tentang intent tertunda disediakan pada dokumentasi untuk setiap +kasus penggunaan yang bersangkutan, seperti dalam panduan API Notifications +dan App Widgets.
+ + + + + + + +Saat sistem menerima intent implisit yang memulai suatu aktivitas, sistem tersebut akan mencari +aktivitas terbaik untuk intent dengan membandingkan intent dengan filter intent berdasarkan tiga aspek:
+ +Bagian berikut menjelaskan cara pencocokan intent dengan komponen yang sesuai +sehubungan dengan cara pendeklarasian filter intent dalam file manifes aplikasi.
+ + +Untuk menetapkan tindakan intent yang diterima, filter intent bisa mendeklarasikan nol atau beberapa elemen +{@code +<action>}. Misalnya:
+ ++<intent-filter> + <action android:name="android.intent.action.EDIT" /> + <action android:name="android.intent.action.VIEW" /> + ... +</intent-filter> ++ +
Untuk melewati filter ini, tindakan yang ditetapkan dalam {@link android.content.Intent} +harus sesuai dengan salah satu tindakan yang tercantum dalam filter.
+ +Jika filter tidak mencantumkan tindakan apa pun, maka tidak ada intent +yang dicocokkan, jadi semua intent gagal dalam pengujian. Akan tetapi, jika sebuah {@link android.content.Intent} +tidak menetapkan suatu tindakan, maka akan lolos pengujian (asalkan filter +berisi setidaknya satu tindakan).
+ + + +Untuk menetapkan kategori intent yang diterima, filter intent bisa mendeklarasikan nol atau beberapa elemen +{@code +<category>}. Misalnya:
+ ++<intent-filter> + <category android:name="android.intent.category.DEFAULT" /> + <category android:name="android.intent.category.BROWSABLE" /> + ... +</intent-filter> ++ +
Agar intent bisa lolos pengujian kategori, setiap kategori dalam {@link android.content.Intent} +harus sesuai dengan kategori dalam filter. Kebalikannya tidak diperlukan—filter intent bisa +mendeklarasikan kategori lebih banyak daripada yang ditetapkan dalam {@link android.content.Intent} dan +{@link android.content.Intent} tetap akan lolos. Oleh karena itu, intent tanpa kategori harus +selalu lolos pengujian ini, kategori apa pun yang dideklarasikan dalam filter.
+ +Catatan: +Android secara otomatis menerapkan kategori {@link android.content.Intent#CATEGORY_DEFAULT} +untuk semua intent implisit yang diteruskan ke {@link +android.content.Context#startActivity startActivity()} dan {@link +android.app.Activity#startActivityForResult startActivityForResult()}. +Jadi jika ingin aktivitas Anda menerima intent implisit, aktivitas tersebut harus +menyertakan kategori untuk{@code "android.intent.category.DEFAULT"} dalam filter intent (seperti +yang ditampilkan dalam contoh{@code <intent-filter>} sebelumnya.
+ + + +Untuk menetapkan data intent yang diterima, filter intent bisa mendeklarasikan nol atau beberapa elemen +{@code +<data>}. Misalnya:
+ ++<intent-filter> + <data android:mimeType="video/mpeg" android:scheme="http" ... /> + <data android:mimeType="audio/mpeg" android:scheme="http" ... /> + ... +</intent-filter> ++ +
Tiap elemen <data>
+bisa menetapkan struktur URI dan tipe data (tipe media MIME). Ada atribut
+terpisah — {@code scheme}, {@code host}, {@code port},
+dan {@code path} — untuk setiap bagian URI:
+
{@code <scheme>://<host>:<port>/<path>}
+ ++Misalnya: +
+ +{@code content://com.example.project:200/folder/subfolder/etc}
+ +Dalam URI ini, skemanya adalah {@code content}, host-nya adalah {@code com.example.project}, +port-nya adalah {@code 200}, dan path-nya adalah {@code folder/subfolder/etc}. +
+ +Tiap atribut bersifat opsional dalam elemen {@code <data>}, +namun ada dependensi linear:
+Bila URI dalam intent dibandingkan dengan spesifikasi URI dalam filter, +pembandingannya hanya dengan bagian URI yang disertakan dalam filter. Misalnya:
+Catatan: Spesifikasi path bisa berisi +wildcard bintang (*) untuk hanya mencocokkan nama path secara parsial.
+ +Pengujian data membandingkan URI maupun tipe MIME dalam intent dengan URI +dan tipe MIME yang ditetapkan dalam filter. Aturannya adalah sebagai berikut: +
+ ++Aturan terakhir ini, aturan (d), mencerminkan harapan +bahwa komponen mampu mendapatkan data lokal dari file atau penyedia konten. +Oleh karena itu, filter mereka mencatumkan tipe data saja dan tidak secara eksplisit +harus menamai skema {@code content:} dan {@code file:}. +Ini adalah kasus umum. Elemen {@code <data>} +seperti berikut ini, misalnya, memberi tahu Android bahwa komponen bisa mengambil data gambar dari penyedia +konten dan menampilkannya: +
+ ++<intent-filter> + <data android:mimeType="image/*" /> + ... +</intent-filter>+ +
+Karena sebagian besar data yang tersedia dikeluarkan oleh penyedia konten, filter yang +menetapkan tipe data namun bukan URI mungkin adalah yang paling umum. +
+ ++Konfigurasi umum yang lain adalah filter dengan skema dan tipe data. Misalnya +, elemen {@code <data>} + seperti berikut ini akan memberi tahu Android bahwa +komponen bisa mengambil data video dari jaringan untuk melakukan tindakan: +
+ ++<intent-filter> + <data android:scheme="http" android:type="video/*" /> + ... +</intent-filter>+ + + +
Intent dicocokkan dengan filter intent selain untuk menemukan komponen +target yang akan diaktifkan, juga untuk menemukan sesuatu tentang rangkaian +komponen pada perangkat. Misalnya, aplikasi Home akan menempatkan launcher aplikasi +dengan mencari semua aktivitas dengan filter intent yang menetapkan tindakan +{@link android.content.Intent#ACTION_MAIN} dan +kategori {@link android.content.Intent#CATEGORY_LAUNCHER}.
+ +Aplikasi Anda bisa menggunakan pencocokan intent dengan cara serupa. +{@link android.content.pm.PackageManager} memiliki seperangkat metode {@code query...()} +yang mengembalikan semua komponen yang bisa menerima intent tertentu, dan +serangkaian metode{@code resolve...()} serupa yang menentukan komponen +terbaik untuk merespons intent. Misalnya, +{@link android.content.pm.PackageManager#queryIntentActivities +queryIntentActivities()} akan mengembalikan daftar semua aktivitas yang bisa melakukan +intent yang diteruskan sebagai argumen, dan {@link +android.content.pm.PackageManager#queryIntentServices +queryIntentServices()} akan mengembalikan daftar layanan serupa. +Tidak ada metode yang akan mengaktifkan komponen; mereka hanya mencantumkan komponen yang +bisa merespons. Ada metode serupa, +{@link android.content.pm.PackageManager#queryBroadcastReceivers +queryBroadcastReceivers()}, untuk penerima siaran. +
+ + + + diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/components/loaders.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/loaders.jd new file mode 100644 index 0000000000000..88093cc258a41 --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/loaders.jd @@ -0,0 +1,494 @@ +page.title=Aktivitas +parent.title=Loader +parent.link=activities.html +@jd:body +Diperkenalkan di Android 3.0, loader memudahkan pemuatan data asinkron +dalam aktivitas atau fragmen. Loader memiliki karakteristik ini:
+Ada beberapa kelas dan antarmuka yang mungkin dilibatkan dalam menggunakan +loader pada aplikasi. Semuanya dirangkum dalam tabel ini:
+ +| Kelas/Antarmuka | +Keterangan | +
|---|---|
| {@link android.app.LoaderManager} | +Kelas abstrak yang dikaitkan dengan {@link android.app.Activity} atau
+{@link android.app.Fragment} untuk mengelola satu atau beberapa instance {@link
+android.content.Loader}. Ini membantu aplikasi mengelola
+operasi berjalan lebih lama bersamaan dengan daur hidup {@link android.app.Activity}
+atau {@link android.app.Fragment}; penggunaan paling umumnya adalah dengan
+{@link android.content.CursorLoader}, akan tetapi aplikasi bebas menulis loader-nya
+ sendiri untuk memuat tipe data lainnya.
+ + + Hanya ada satu {@link android.app.LoaderManager} per aktivitas atau fragmen. Namun {@link android.app.LoaderManager} bisa memiliki +beberapa loader. |
+
| {@link android.app.LoaderManager.LoaderCallbacks} | +Antarmuka callback untuk klien berinteraksi dengan {@link +android.app.LoaderManager}. Misalnya, Anda menggunakan metode callback {@link +android.app.LoaderManager.LoaderCallbacks#onCreateLoader onCreateLoader()} +untuk membuat loader baru. | +
| {@link android.content.Loader} | +Kelas abstrak yang melakukan pemuatan data asinkron. Ini +adalah kelas dasar untuk loader. Biasanya Anda akan menggunakan {@link +android.content.CursorLoader}, namun Anda bisa menerapkan subkelas sendiri. Selagi +loader aktif, loader harus memantau sumber datanya dan memberikan hasil +baru bila konten berubah. | +
| {@link android.content.AsyncTaskLoader} | +Loader abstrak yang menyediakan {@link android.os.AsyncTask} untuk melakukan pekerjaan. | +
| {@link android.content.CursorLoader} | +Subkelas {@link android.content.AsyncTaskLoader} yang meng-query +{@link android.content.ContentResolver} dan mengembalikan {@link +android.database.Cursor}. Kelas ini mengimplementasikan protokol {@link +android.content.Loader} dengan cara standar untuk query kursor, +yang dibuat berdasarkan {@link android.content.AsyncTaskLoader} untuk melakukan query kursor +pada thread latar belakang agar tidak memblokir UI aplikasi. Menggunakan loader +ini merupakan cara terbaik untuk memuat data secara asinkron dari {@link +android.content.ContentProvider}, sebagai ganti melakukan query terkelola melalui +fragmen atau API aktivitas. | +
Kelas dan antarmuka dalam tabel di atas merupakan komponen +esensial yang akan Anda gunakan untuk mengimplementasikan loader dalam aplikasi Anda. Anda tidak memerlukan semuanya +untuk setiap loader yang dibuat, namun Anda akan selalu memerlukan acuan ke {@link +android.app.LoaderManager} untuk memulai loader dan implementasi +kelas {@link android.content.Loader} seperti {@link +android.content.CursorLoader}. Bagian berikut ini menunjukkan kepada Anda cara menggunakan +kelas dan antarmuka ini dalam aplikasi.
+ +Bagian ini menjelaskan cara menggunakan loader dalam aplikasi Android. Aplikasi +yang menggunakan loader biasanya berisi yang berikut ini:
+{@link android.app.LoaderManager} mengelola satu atau beberapa instance {@link +android.content.Loader} dalam {@link android.app.Activity} atau +{@link android.app.Fragment}. Hanya ada satu {@link +android.app.LoaderManager} per aktivitas atau fragmen.
+ +Anda biasanya +memulai {@link android.content.Loader} dalam metode {@link +android.app.Activity#onCreate onCreate()} aktivitas, atau dalam metode +{@link android.app.Fragment#onActivityCreated onActivityCreated()} fragmen. Anda +melakukannya dengan cara berikut ini:
+ +// Prepare the loader. Either re-connect with an existing one, +// or start a new one. +getLoaderManager().initLoader(0, null, this);+ +
Metode {@link android.app.LoaderManager#initLoader initLoader()} mengambil +parameter berikut:
+null).Panggilan {@link android.app.LoaderManager#initLoader initLoader()} memastikan bahwa loader +telah dimulai dan aktif. Ia memiliki dua kemungkinan hasil:
+Dalam hal ini, implementasi {@link android.app.LoaderManager.LoaderCallbacks} +yang ditentukan akan dikaitkan dengan loader, dan akan dipanggil bila +status loader berubah. Jika saat panggilan ini status pemanggil sudah +dimulai, dan loader yang diminta sudah ada dan telah menghasilkan +datanya, maka sistem segera memanggil {@link +android.app.LoaderManager.LoaderCallbacks#onLoadFinished onLoadFinished()} +(selama {@link android.app.LoaderManager#initLoader initLoader()}), +sehingga Anda harus siap bila hal ini terjadi. Lihat +onLoadFinished untuk diskusi selengkapnya mengenai callback ini
+ +Perhatikan bahwa metode {@link android.app.LoaderManager#initLoader initLoader()} +mengembalikan {@link android.content.Loader} yang dibuat, namun Anda tidak +perlu menangkap acuan ke sana. {@link android.app.LoaderManager} mengelola +masa hidup loader secara otomatis. {@link android.app.LoaderManager} +memulai dan menghentikan pemuatan jika perlu, dan menjaga status loader +dan konten terkaitnya. Seperti yang tersirat di sini, Anda akan jarang berinteraksi dengan loader +secara langsung (meskipun misalnya menggunakan metode loader untuk menyempurnakan perilaku +loader, lihat contoh LoaderThrottle). +Anda paling sering akan menggunakan metode {@link +android.app.LoaderManager.LoaderCallbacks} untuk mengintervensi proses +pemuatan saat terjadi kejadian tertentu. Untuk diskusi selengkapnya mengenai topik ini, lihat Menggunakan Callback LoaderManager.
+ +Bila Anda menggunakan {@link android.app.LoaderManager#initLoader initLoader()}, seperti +ditampilkan di atas, loader yang ada akan digunakan dengan ID yang ditetapkan jika ada. +Jika tidak ada, ID akan dibuat. Namun kadang-kadang Anda perlu membuang data lama +dan mulai dari awal.
+ +Untuk membuang data lama, gunakan {@link +android.app.LoaderManager#restartLoader restartLoader()}. Misalnya, implementasi +{@link android.widget.SearchView.OnQueryTextListener} ini akan me-restart +bila query pengguna berubah. Loader perlu di-restart +agar dapat menggunakan filter pencarian yang telah direvisi untuk melakukan query baru:
+ +
+public boolean onQueryTextChanged(String newText) {
+ // Called when the action bar search text has changed. Update
+ // the search filter, and restart the loader to do a new query
+ // with this filter.
+ mCurFilter = !TextUtils.isEmpty(newText) ? newText : null;
+ getLoaderManager().restartLoader(0, null, this);
+ return true;
+}
+
+{@link android.app.LoaderManager.LoaderCallbacks} adalah antarmuka callback +yang memungkinkan klien berinteraksi dengan {@link android.app.LoaderManager}.
+Loader, khususnya {@link android.content.CursorLoader}, diharapkan +mempertahankan datanya setelah dihentikan. Ini memungkinkan aplikasi mempertahankan +datanya di aktivitas atau metode {@link android.app.Activity#onStop +onStop()} fragmen dan {@link android.app.Activity#onStart onStart()}, sehingga +bila pengguna kembali ke aplikasi, mereka tidak harus menunggu data +dimuat kembali. Anda menggunakan metode {@link android.app.LoaderManager.LoaderCallbacks} +untuk mengetahui waktu membuat loader baru, dan memberi tahu aplikasi kapan +berhenti menggunakan data loader.
+ +{@link android.app.LoaderManager.LoaderCallbacks} berisi metode +ini:
+Metode ini dijelaskan lebih detail dalam bagian berikutnya.
+ +Saat Anda mencoba mengakses loader (misalnya, melalui {@link +android.app.LoaderManager#initLoader initLoader()}), ia akan memeriksa untuk mengetahui adanya +loader yang ditetapkan oleh ID. Jika tidak ada, ia akan memicu metode {@link +android.app.LoaderManager.LoaderCallbacks} {@link +android.app.LoaderManager.LoaderCallbacks#onCreateLoader onCreateLoader()}. Di +sinilah Anda membuat loader baru. Biasanya ini adalah {@link +android.content.CursorLoader}, namun Anda bisa mengimplementasikan sendiri subkelas {@link +android.content.Loader}.
+ +Dalam contoh ini, metode callback {@link +android.app.LoaderManager.LoaderCallbacks#onCreateLoader onCreateLoader()} + akan membuat {@link android.content.CursorLoader}. Anda harus membuat +{@link android.content.CursorLoader} menggunakan metode konstruktornya, yang +memerlukan set informasi lengkap untuk melakukan query ke {@link +android.content.ContentProvider}. Secara khusus, ia memerlukan:
+null akan mengembalikan semua kolom, jadi tidak efisien. null akan mengembalikan semua baris untuk URI yang diberikan. null akan
+menggunakan urutan sortir default, yang mungkin tidak berurutan.Misalnya:
+
+ // If non-null, this is the current filter the user has provided.
+String mCurFilter;
+...
+public Loader<Cursor> onCreateLoader(int id, Bundle args) {
+ // This is called when a new Loader needs to be created. Â This
+ // sample only has one Loader, so we don't care about the ID.
+ // First, pick the base URI to use depending on whether we are
+ // currently filtering.
+ Uri baseUri;
+Â Â if (mCurFilter != null) {
+Â Â Â Â baseUri = Uri.withAppendedPath(Contacts.CONTENT_FILTER_URI,
+Â Â Â Â Â Â Â Â Uri.encode(mCurFilter));
+Â Â } else {
+Â Â Â Â baseUri = Contacts.CONTENT_URI;
+Â Â }
+
+Â Â // Now create and return a CursorLoader that will take care of
+Â Â // creating a Cursor for the data being displayed.
+Â Â String select = "((" + Contacts.DISPLAY_NAME + " NOTNULL) AND ("
+Â Â Â Â Â Â + Contacts.HAS_PHONE_NUMBER + "=1) AND ("
+Â Â Â Â Â Â + Contacts.DISPLAY_NAME + " != '' ))";
+Â Â return new CursorLoader(getActivity(), baseUri,
+Â Â Â Â Â Â CONTACTS_SUMMARY_PROJECTION, select, null,
+Â Â Â Â Â Â Contacts.DISPLAY_NAME + " COLLATE LOCALIZED ASC");
+}
+Metode ini dipanggil bila loader yang dibuat sebelumnya selesai dimuat. +Metode ini dijamin dipanggil sebelum pelepasan data terakhir +yang disediakan untuk loader ini. Di titik ini Anda harus menyingkirkan semua penggunaan +data lama (karena akan segera dilepas), namun jangan melepas sendiri +data tersebut karena loader memilikinya dan akan menanganinya.
+ + +Loader akan melepas data setelah mengetahui bahwa aplikasi tidak +lagi menggunakannya. Misalnya, jika data adalah kursor dari {@link +android.content.CursorLoader}, Anda tidak boleh memanggil {@link +android.database.Cursor#close close()} sendiri. Jika kursor ditempatkan +dalam {@link android.widget.CursorAdapter}, Anda harus menggunakan metode {@link +android.widget.SimpleCursorAdapter#swapCursor swapCursor()} agar +{@link android.database.Cursor} lama tidak ditutup. Misalnya:
+ ++// This is the Adapter being used to display the list's data.+ +
SimpleCursorAdapter mAdapter; +... + +public void onLoadFinished(Loader<Cursor> loader, Cursor data) { + // Swap the new cursor in. Â (The framework will take care of closing the + // old cursor once we return.) + mAdapter.swapCursor(data); +}
Metode ini dipanggil bila loader yang dibuat sebelumnya sedang di-reset, sehingga datanya +tidak tersedia. Callback ini memungkinkan Anda mengetahui +kapan data akan dilepas sehingga dapat menghapus acuannya ke callback. Â
+Implementasi ini memanggil
+{@link android.widget.SimpleCursorAdapter#swapCursor swapCursor()}
+dengan nilai null:
+// This is the Adapter being used to display the list's data.
+SimpleCursorAdapter mAdapter;
+...
+
+public void onLoaderReset(Loader<Cursor> loader) {
+ // This is called when the last Cursor provided to onLoadFinished()
+ // above is about to be closed. Â We need to make sure we are no
+ // longer using it.
+ mAdapter.swapCursor(null);
+}
+
+
+Sebagai contoh, berikut ini adalah implementasi penuh {@link +android.app.Fragment} yang menampilkan {@link android.widget.ListView} berisi +hasil query terhadap penyedia konten kontak. Ia menggunakan {@link +android.content.CursorLoader} untuk mengelola query pada penyedia.
+ +Agar aplikasi dapat mengakses kontak pengguna, seperti yang ditampilkan dalam contoh ini, +manifesnya harus menyertakan izin +{@link android.Manifest.permission#READ_CONTACTS READ_CONTACTS}.
+ +
+public static class CursorLoaderListFragment extends ListFragment
+Â Â Â Â implements OnQueryTextListener, LoaderManager.LoaderCallbacks<Cursor> {
+
+ // This is the Adapter being used to display the list's data.
+Â Â SimpleCursorAdapter mAdapter;
+
+Â Â // If non-null, this is the current filter the user has provided.
+Â Â String mCurFilter;
+
+Â Â @Override public void onActivityCreated(Bundle savedInstanceState) {
+Â Â Â Â super.onActivityCreated(savedInstanceState);
+
+Â Â Â Â // Give some text to display if there is no data. Â In a real
+Â Â Â Â // application this would come from a resource.
+Â Â Â Â setEmptyText("No phone numbers");
+
+Â Â Â Â // We have a menu item to show in action bar.
+Â Â Â Â setHasOptionsMenu(true);
+
+Â Â Â Â // Create an empty adapter we will use to display the loaded data.
+Â Â Â Â mAdapter = new SimpleCursorAdapter(getActivity(),
+Â Â Â Â Â Â Â Â android.R.layout.simple_list_item_2, null,
+Â Â Â Â Â Â Â Â new String[] { Contacts.DISPLAY_NAME, Contacts.CONTACT_STATUS },
+Â Â Â Â Â Â Â Â new int[] { android.R.id.text1, android.R.id.text2 }, 0);
+Â Â Â Â setListAdapter(mAdapter);
+
+Â Â Â Â // Prepare the loader. Â Either re-connect with an existing one,
+Â Â Â Â // or start a new one.
+Â Â Â Â getLoaderManager().initLoader(0, null, this);
+Â Â }
+
+Â Â @Override public void onCreateOptionsMenu(Menu menu, MenuInflater inflater) {
+Â Â Â Â // Place an action bar item for searching.
+Â Â Â Â MenuItem item = menu.add("Search");
+Â Â Â Â item.setIcon(android.R.drawable.ic_menu_search);
+Â Â Â Â item.setShowAsAction(MenuItem.SHOW_AS_ACTION_IF_ROOM);
+Â Â Â Â SearchView sv = new SearchView(getActivity());
+Â Â Â Â sv.setOnQueryTextListener(this);
+Â Â Â Â item.setActionView(sv);
+Â Â }
+
+Â Â public boolean onQueryTextChange(String newText) {
+Â Â Â Â // Called when the action bar search text has changed. Â Update
+Â Â Â Â // the search filter, and restart the loader to do a new query
+Â Â Â Â // with this filter.
+Â Â Â Â mCurFilter = !TextUtils.isEmpty(newText) ? newText : null;
+Â Â Â Â getLoaderManager().restartLoader(0, null, this);
+Â Â Â Â return true;
+Â Â }
+
+Â Â @Override public boolean onQueryTextSubmit(String query) {
+Â Â Â Â // Don't care about this.
+Â Â Â Â return true;
+Â Â }
+
+Â Â @Override public void onListItemClick(ListView l, View v, int position, long id) {
+Â Â Â Â // Insert desired behavior here.
+Â Â Â Â Log.i("FragmentComplexList", "Item clicked: " + id);
+Â Â }
+
+Â Â // These are the Contacts rows that we will retrieve.
+Â Â static final String[] CONTACTS_SUMMARY_PROJECTION = new String[] {
+Â Â Â Â Contacts._ID,
+Â Â Â Â Contacts.DISPLAY_NAME,
+Â Â Â Â Contacts.CONTACT_STATUS,
+Â Â Â Â Contacts.CONTACT_PRESENCE,
+Â Â Â Â Contacts.PHOTO_ID,
+Â Â Â Â Contacts.LOOKUP_KEY,
+Â Â };
+Â Â public Loader<Cursor> onCreateLoader(int id, Bundle args) {
+Â Â Â Â // This is called when a new Loader needs to be created. Â This
+Â Â Â Â // sample only has one Loader, so we don't care about the ID.
+Â Â Â Â // First, pick the base URI to use depending on whether we are
+Â Â Â Â // currently filtering.
+Â Â Â Â Uri baseUri;
+Â Â Â Â if (mCurFilter != null) {
+Â Â Â Â Â Â baseUri = Uri.withAppendedPath(Contacts.CONTENT_FILTER_URI,
+Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Uri.encode(mCurFilter));
+Â Â Â Â } else {
+Â Â Â Â Â Â baseUri = Contacts.CONTENT_URI;
+Â Â Â Â }
+
+Â Â Â Â // Now create and return a CursorLoader that will take care of
+Â Â Â Â // creating a Cursor for the data being displayed.
+Â Â Â Â String select = "((" + Contacts.DISPLAY_NAME + " NOTNULL) AND ("
+Â Â Â Â Â Â Â Â + Contacts.HAS_PHONE_NUMBER + "=1) AND ("
+Â Â Â Â Â Â Â Â + Contacts.DISPLAY_NAME + " != '' ))";
+Â Â Â Â return new CursorLoader(getActivity(), baseUri,
+Â Â Â Â Â Â Â Â CONTACTS_SUMMARY_PROJECTION, select, null,
+Â Â Â Â Â Â Â Â Contacts.DISPLAY_NAME + " COLLATE LOCALIZED ASC");
+Â Â }
+
+Â Â public void onLoadFinished(Loader<Cursor> loader, Cursor data) {
+Â Â Â Â // Swap the new cursor in. Â (The framework will take care of closing the
+Â Â Â Â // old cursor once we return.)
+Â Â Â Â mAdapter.swapCursor(data);
+Â Â }
+
+Â Â public void onLoaderReset(Loader<Cursor> loader) {
+Â Â Â Â // This is called when the last Cursor provided to onLoadFinished()
+Â Â Â Â // above is about to be closed. Â We need to make sure we are no
+Â Â Â Â // longer using it.
+Â Â Â Â mAdapter.swapCursor(null);
+Â Â }
+}
+Ada beberapa contoh berbeda dalam ApiDemos yang +mengilustrasikan cara menggunakan loader:
+Untuk informasi tentang mengunduh dan menginstal contoh SDK, lihat Mendapatkan +Contoh.
+ diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/components/processes-and-threads.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/processes-and-threads.jd new file mode 100644 index 0000000000000..cdab715bbca84 --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/processes-and-threads.jd @@ -0,0 +1,411 @@ +page.title=Proses dan Thread +page.tags=daur hidup,latar belakang + +@jd:body + +Bila komponen aplikasi dimulai dan tidak ada komponen aplikasi lain yang +berjalan, sistem Android akan memulai proses Linux baru untuk aplikasi dengan satu thread +eksekusi. Secara default, semua komponen aplikasi yang sama berjalan dalam proses dan +thread yang sama (disebut thread "utama"). Jika komponen aplikasi dimulai dan sudah ada +proses untuk aplikasi itu (karena komponen lain dari aplikasi itu sudah ada), maka komponen +akan dimulai dalam proses itu dan menggunakan thread eksekusi yang sama. Akan tetapi, Anda bisa +mengatur komponen berbeda di aplikasi agar berjalan di proses terpisah, dan Anda bisa membuat thread tambahan untuk +setiap proses.
+ +Dokumen ini membahas cara kerja proses dan thread di aplikasi Android.
+ + +Secara default, semua komponen aplikasi yang sama berjalan dalam proses yang sama dan kebanyakan +aplikasi tidak boleh mengubah ini. Akan tetapi, jika Anda merasa perlu mengontrol proses milik +komponen tertentu, Anda dapat melakukannya dalam file manifes.
+ +Entri manifes untuk setiap tipe elemen komponen—{@code +<activity>}, {@code +<service>}, {@code +<receiver>}, dan {@code +<provider>}—mendukung atribut {@code android:process} yang bisa menetapkan +dalam proses mana komponen harus dijalankan. Anda bisa mengatur atribut ini agar setiap komponen +berjalan dalam prosesnya sendiri atau agar beberapa komponen menggunakan proses yang sama sementara yang lainnya tidak. Anda juga bisa mengatur +{@code android:process} agar komponen aplikasi yang berbeda berjalan dalam proses yang sama +—sepanjang aplikasi menggunakan ID Linux yang sama dan ditandatangani +dengan sertifikat yang sama.
+ +Elemen {@code +<application>} juga mendukung atribut {@code android:process}, untuk mengatur +nilai default yang berlaku bagi semua komponen.
+ +Android bisa memutuskan untuk mematikan proses pada waktu tertentu, bila memori tinggal sedikit dan diperlukan oleh +proses lain yang lebih mendesak untuk melayani pengguna. Komponen +aplikasi yang berjalan dalam proses yang dimatikan maka sebagai konsekuensinya juga akan dimusnahkan. Proses dimulai +kembali untuk komponen itu bila ada lagi pekerjaan untuk mereka lakukan.
+ +Saat memutuskan proses yang akan dimatikan, sistem Android akan mempertimbangkan kepentingan relatifnya bagi +pengguna. Misalnya, sistem lebih mudah menghentikan proses yang menjadi host aktivitas yang tidak + lagi terlihat di layar, dibandingkan dengan proses yang menjadi host aktivitas yang terlihat. Karena itu, keputusan +untuk menghentikan proses bergantung pada keadaan komponen yang berjalan dalam proses tersebut. Aturan +yang digunakan untuk menentukan proses yang akan dihentikan dibahas di bawah ini.
+ + +Sistem Android mencoba mempertahankan proses aplikasi selama mungkin, namun +pada akhirnya perlu menghapus proses lama untuk mengambil kembali memori bagi proses baru atau yang lebih penting. Untuk +menentukan proses yang akan +dipertahankan dan yang harus dimatikan, sistem menempatkan setiap proses ke dalam "hierarki prioritas" berdasarkan +komponen yang berjalan dalam proses dan status komponen tersebut. Proses yang memiliki +prioritas terendah akan dimatikan terlebih dahulu, kemudian yang terendah berikutnya, dan seterusnya, jika perlu +untuk memulihkan sumber daya sistem.
+ +Ada lima tingkatan dalam hierarki prioritas. Daftar berikut berisi beberapa +tipe proses berdasarkan urutan prioritas (proses pertama adalah yang terpenting dan +dimatikan terakhir):
+ +Proses yang diperlukan untuk aktivitas yang sedang dilakukan pengguna. Proses +dianggap berada di latar depan jika salah satu kondisi berikut terpenuhi:
+ +Secara umum, hanya ada beberapa proses latar depan pada waktu yang diberikan. Proses dimatikan hanya sebagai +upaya terakhir— jika memori hampir habis sehingga semuanya tidak bisa terus berjalan. Pada umumnya, pada +titik itu, perangkat dalam keadaan memory paging, sehingga menghentikan beberapa proses latar depan +diperlukan agar antarmuka pengguna tetap responsif.
Proses yang tidak memiliki komponen latar depan, namun masih bisa +memengaruhi apa yang dilihat pengguna di layar. Proses dianggap terlihat jika salah satu kondisi +berikut terpenuhi:
+ +Proses yang terlihat dianggap sangat penting dan tidak akan dimatikan kecuali jika hal itu +diperlukan agar semua proses latar depan tetap berjalan.
+Proses yang menjalankan layanan yang telah dimulai dengan metode {@link +android.content.Context#startService startService()} dan tidak termasuk dalam salah satu dari dua kategori +yang lebih tinggi. Walaupun proses pelayanan tidak langsung terkait dengan semua yang dilihat oleh pengguna, proses ini +umumnya melakukan hal-hal yang dipedulikan pengguna (seperti memutar musik di latar belakang +atau mengunduh data di jaringan), jadi sistem membuat proses tetap berjalan kecuali memori tidak cukup untuk +mempertahankannya bersama semua proses latar depan dan proses yang terlihat.
+Proses yang menampung aktivitas yang saat ini tidak terlihat oleh pengguna (metode +{@link android.app.Activity#onStop onStop()} aktivitas telah dipanggil). Proses ini tidak memiliki dampak +langsung pada pengalaman pengguna, dan sistem bisa menghentikannya kapan saja untuk memperoleh kembali memori bagi +proses latar depan, proses yang terlihat, +atau proses layanan. Biasanya ada banyak proses latar belakang yang berjalan, sehingga disimpan +dalam daftar LRU (least recently used atau paling sedikit digunakan) untuk memastikan bahwa proses dengan aktivitas yang paling baru +terlihat oleh pengguna sebagai yang terakhir untuk dimatikan. Jika aktivitas mengimplementasikan metode + daur hidupnya dengan benar, dan menyimpan statusnya saat ini, menghentikan prosesnya tidak akan memiliki efek +yang terlihat pada pengalaman pengguna, karena ketika pengguna kembali ke aktivitas, aktivitas itu memulihkan +semua statusnya yang terlihat. Lihat dokumen Aktivitas + untuk mendapatkan informasi tentang menyimpan dan memulihkan status.
+Sebuah proses yang tidak berisi komponen aplikasi aktif apa pun. Alasan satu-satunya mempertahankan proses +seperti ini tetap hidup adalah untuk keperluan caching, meningkatkan waktu mulai (startup) bila +nanti komponen perlu dijalankan di dalamnya. Sistem sering menghentikan proses ini untuk menyeimbangkan sumber +daya sistem secara keseluruhan antara proses cache dan cache kernel yang mendasarinya.
+Android sebisa mungkin memeringkat proses setinggi +mungkin, berdasarkan prioritas komponen yang sedang aktif dalam proses. Misalnya, jika suatu proses menjadi host sebuah layanan dan +aktivitas yang terlihat, proses akan diperingkat sebagai proses yang terlihat, bukan sebagai proses layanan.
+ +Selain itu, peringkat proses dapat meningkat karena adanya proses lain yang bergantung padanya +—proses yang melayani proses lain tidak bisa diperingkat lebih rendah daripada proses yang +sedang dilayaninya. Misalnya, jika penyedia konten dalam proses A melayani klien dalam proses B, atau +jika layanan dalam proses A terikat dengan komponen dalam proses B, proses A selalu dipertimbangkan sebagai paling rendah +prioritasnya dibandingkan dengan proses B.
+ +Karena proses yang menjalankan layanan diperingkat lebih tinggi daripada aktivitas latar belakang, +aktivitas yang memulai operasi yang berjalan lama mungkin lebih baik memulai layanan untuk operasi itu, daripada hanya +membuat thread pekerja—khususnya jika operasi mungkin akan berlangsung lebih lama daripada aktivitas. + Misalnya, aktivitas yang mengunggah gambar ke situs web harus memulai layanan +untuk mengunggah sehingga unggahan bisa terus berjalan di latar belakang meskipun pengguna meninggalkan aktivitas tersebut. +Menggunakan layanan akan memastikan operasi paling tidak memiliki prioritas "proses layanan", +apa pun yang terjadi pada aktivitas. Ini menjadi alasan yang sama yang membuat penerima siaran harus +menjalankan layanan daripada hanya menempatkan operasi yang menghabiskan waktu di thread.
+ + + + +Bila aplikasi diluncurkan, sistem akan membuat thread eksekusi untuk aplikasi tersebut, yang diberi nama, +"main". Thread ini sangat penting karena bertugas mengirim kejadian ke widget +antarmuka pengguna yang sesuai, termasuk kejadian menggambar. Ini juga merupakan thread yang +membuat aplikasi berinteraksi dengan komponen dari Android UI toolkit (komponen dari paket {@link +android.widget} dan {@link android.view}). Karena itu, thread 'main' juga terkadang +disebut thread UI.
+ +Sistem ini tidak membuat thread terpisah untuk setiap instance komponen. Semua +komponen yang berjalan di proses yang sama akan dibuat instance-nya dalam thread UI, dan sistem akan memanggil +setiap komponen yang dikirim dari thread itu. Akibatnya, metode yang merespons callback sistem + (seperti {@link android.view.View#onKeyDown onKeyDown()} untuk melaporkan tindakan pengguna atau metode callback daur hidup) + selalu berjalan di thread UI proses.
+ +Misalnya saat pengguna menyentuh tombol pada layar, thread UI aplikasi akan mengirim kejadian +sentuh ke widget, yang selanjutnya menetapkan status ditekan dan mengirim permintaan yang tidak divalidasi ke +antrean kejadian. Thread UI akan menghapus antrean permintaan dan memberi tahu widget bahwa widget harus menggambar +dirinya sendiri.
+ +Saat aplikasi melakukan pekerjaan intensif sebagai respons terhadap interaksi pengguna, model +thread tunggal ini bisa menghasilkan kinerja yang buruk kecuali jika Anda mengimplementasikan aplikasi dengan benar. Khususnya jika + semua terjadi di thread UI, melakukan operasi yang panjang seperti akses ke jaringan atau query +database akan memblokir seluruh UI. Bila thread diblokir, tidak ada kejadian yang bisa dikirim, +termasuk kejadian menggambar. Dari sudut pandang pengguna, aplikasi +tampak mogok (hang). Lebih buruk lagi, jika thread UI diblokir selama lebih dari beberapa detik +(saat ini sekitar 5 detik) pengguna akan ditampilkan dialog "aplikasi tidak +merespons" (ANR) yang populer karena reputasi buruknya. Pengguna nanti bisa memutuskan untuk keluar dari aplikasi dan menghapus aplikasi +jika mereka tidak suka.
+ +Selain itu, toolkit Android UI bukan thread-safe. Jadi, Anda tidak harus memanipulasi +UI dari thread pekerja—Anda harus melakukan semua manipulasi pada antarmuka pengguna dari thread +UI. Sehingga hanya ada dua aturan untuk model thread tunggal Android:
+ +Karena model thread tunggal yang dijelaskan di atas, Anda dilarang memblokir thread +UI demi daya respons UI aplikasi. Jika memiliki operasi untuk dijalankan +yang tidak seketika, Anda harus memastikan untuk melakukannya di thread terpisah (thread "latar belakang" atau +thread "pekerja").
+ +Misalnya, berikut ini beberapa kode untuk listener klik yang mengunduh gambar dari +thread terpisah dan menampilkannya dalam {@link android.widget.ImageView}:
+ +
+public void onClick(View v) {
+ new Thread(new Runnable() {
+ public void run() {
+ Bitmap b = loadImageFromNetwork("http://example.com/image.png");
+ mImageView.setImageBitmap(b);
+ }
+ }).start();
+}
+
+
+Awalnya hal ini tampak bekerja dengan baik, karena menciptakan thread baru untuk menangani +operasi jaringan. Akan tetapi, hal tersebut melanggar aturan kedua model thread tunggal: jangan mengakses + toolkit Android UI dari luar thread UI—sampel ini memodifikasi {@link +android.widget.ImageView} dari thread pekerja sebagai ganti thread UI. Ini bisa +mengakibatkan perilaku yang tidak terdefinisi dan tidak diharapkan, yang bisa menyulitkan dan menghabiskan waktu untuk melacaknya.
+ +Untuk memperbaiki masalah ini, Android menawarkan beberapa cara untuk mengakses thread UI dari +thread lainnya. Berikut ini daftar metode yang bisa membantu:
+ +Misalnya, Anda bisa memperbaiki kode di atas dengan menggunakan metode {@link +android.view.View#post(java.lang.Runnable) View.post(Runnable)}:
+ +
+public void onClick(View v) {
+ new Thread(new Runnable() {
+ public void run() {
+ final Bitmap bitmap = loadImageFromNetwork("http://example.com/image.png");
+ mImageView.post(new Runnable() {
+ public void run() {
+ mImageView.setImageBitmap(bitmap);
+ }
+ });
+ }
+ }).start();
+}
+
+
+Kini implementasi ini thread-safe: operasi jaringan dilakukan terpisah dari thread + sementara {@link android.widget.ImageView} dimanipulasi dari thread UI.
+ +Akan tetapi, karena operasi semakin kompleks, jenis kode seperti ini bisa semakin rumit +dan sulit dipertahankan. Untuk menangani interaksi yang lebih kompleks dengan thread pekerja, Anda bisa mempertimbangkan + penggunaan {@link android.os.Handler}di thread pekerja, untuk memproses pesan yang dikirim dari + thread UI. Mungkin solusi terbaiknya adalah memperpanjang kelas {@link android.os.AsyncTask}, +yang akan menyederhanakan eksekusi tugas-tugas thread pekerja yang perlu berinteraksi dengan UI.
+ + +Dengan {@link android.os.AsyncTask}, Anda bisa melakukan pekerjaan asinkron pada antarmuka +pengguna. AsyncTask memblokir operasi di thread pekerja kemudian mempublikasikan hasilnya +di thread UI, tanpa mengharuskan Anda untuk menangani sendiri thread dan/atau handler sendiri.
+ +Untuk menggunakannya, Anda harus menempatkan {@link android.os.AsyncTask} sebagai subkelas dan mengimplementasikan metode callback {@link +android.os.AsyncTask#doInBackground doInBackground()} yang berjalan di kumpulan +thread latar belakang. Untuk memperbarui UI, Anda harus mengimplementasikan {@link +android.os.AsyncTask#onPostExecute onPostExecute()}, yang memberikan hasil dari {@link +android.os.AsyncTask#doInBackground doInBackground()} dan berjalan di thread UI, jadi Anda bisa +memperbarui UI dengan aman. Selanjutnya Anda bisa menjalankan tugas dengan memanggil {@link android.os.AsyncTask#execute execute()} +dari thread UI.
+ +Misalnya, Anda bisa mengimplementasikan contoh sebelumnya menggunakan {@link android.os.AsyncTask} dengan cara +ini:
+ +
+public void onClick(View v) {
+ new DownloadImageTask().execute("http://example.com/image.png");
+}
+
+private class DownloadImageTask extends AsyncTask<String, Void, Bitmap> {
+ /** The system calls this to perform work in a worker thread and
+ * delivers it the parameters given to AsyncTask.execute() */
+ protected Bitmap doInBackground(String... urls) {
+ return loadImageFromNetwork(urls[0]);
+ }
+
+ /** The system calls this to perform work in the UI thread and delivers
+ * the result from doInBackground() */
+ protected void onPostExecute(Bitmap result) {
+ mImageView.setImageBitmap(result);
+ }
+}
+
+
+Kini UI aman dan kode jadi lebih sederhana, karena memisahkan pekerjaan ke +dalam bagian-bagian yang harus dilakukan pada thread pekerja dan thread UI.
+ +Anda harus membaca acuan {@link android.os.AsyncTask} untuk memahami sepenuhnya +cara menggunakan kelas ini, namun berikut ini ikhtisar singkat cara kerjanya:
+ +Perhatian: Masalah lain yang mungkin Anda temui saat menggunakan +thread pekerja adalah restart tak terduga dalam aktivitas karena perubahan konfigurasi runtime + (seperti saat pengguna mengubah orientasi layar), yang bisa memusnahkan thread pekerja. Untuk +melihat cara mempertahankan tugas selama restart ini dan cara membatalkan +tugas dengan benar saat aktivitas dimusnahkan, lihat kode sumber untuk aplikasi sampel Shelves.
+ + +Dalam beberapa situasi, metode yang Anda implementasikan bisa dipanggil dari lebih dari satu thread, +dan karena itu harus ditulis agar menjadi thread-safe.
+ +Ini terutama terjadi untuk metode yang bisa dipanggil dari jauh —seperti metode dalam layanan terikat. Bila sebuah panggilan pada +metode yang dijalankan dalam {@link android.os.IBinder} berasal dari proses yang sama di mana +{@link android.os.IBinder IBinder} berjalan, metode ini akan dieksekusi di thread pemanggil. +Akan tetapi, bila panggilan berasal proses lain, metode akan dieksekusi dalam thread yang dipilih dari + kumpulan (pool) thread yang dipertahankan sistem dalam proses yang sama seperti{@link android.os.IBinder +IBinder} (tidak dieksekusi dalam thread UI proses). Misalnya, karena metode +{@link android.app.Service#onBind onBind()} layanan akan dipanggil dari thread UI +proses layanan, metode yang diimplementasikan dalam objek yang dikembalikan {@link android.app.Service#onBind +onBind()} (misalnya, subkelas yang mengimplementasikan metode RPC) akan dipanggil dari thread +di pool. Karena layanan bisa memiliki lebih dari satu klien, maka lebih dari satu pool thread bisa melibatkan + metode {@link android.os.IBinder IBinder} yang sama sekaligus. Metode {@link android.os.IBinder +IBinder} karenanya harus diimplementasikan sebagai thread-safe.
+ +Penyedia konten juga bisa menerima permintaan data yang berasal dalam proses lain. +Meskipun kelas {@link android.content.ContentResolver} dan {@link android.content.ContentProvider} + menyembunyikan detail cara komunikasi antarproses dikelola, metode {@link +android.content.ContentProvider} yang merespons permintaan itu—metode {@link +android.content.ContentProvider#query query()}, {@link android.content.ContentProvider#insert +insert()}, {@link android.content.ContentProvider#delete delete()}, {@link +android.content.ContentProvider#update update()}, dan {@link android.content.ContentProvider#getType +getType()}— dipanggil dari pool thread pada proses penyedia konten, bukan thread UI +untuk proses tersebut. Mengingat metode ini bisa dipanggil dari thread mana pun +sekaligus, metode-metode ini juga harus diimplementasikan sebagai thread-safe.
+ + +Android menawarkan mekanisme komunikasi antarproses (IPC) menggunakan panggilan prosedur jauh + (RPC), yang mana metode ini dipanggil oleh aktivitas atau komponen aplikasi lain, namun dieksekusi dari +jauh (di proses lain), bersama hasil yang dikembalikan ke +pemanggil. Ini mengharuskan penguraian panggilan metode dan datanya ke tingkat yang bisa +dipahami sistem operasi, mentransmisikannya dari proses lokal dan ruang alamat untuk proses jauh +dan ruang proses, kemudian merakit kembali dan menetapkannya kembali di sana. Nilai-nilai yang dikembalikan +akan ditransmisikan dalam arah berlawanan. Android menyediakan semua kode untuk melakukan transaksi IPC + ini, sehingga Anda bisa fokus pada pendefinisian dan implementasi antarmuka pemrograman RPC.
+ +Untuk melakukan IPC, aplikasi Anda harus diikat ke layanan, dengan menggunakan {@link +android.content.Context#bindService bindService()}. Untuk informasi selengkapnya, lihat panduan pengembang Layanan.
+ + + diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/components/recents.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/recents.jd new file mode 100644 index 0000000000000..286fdc12732eb --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/recents.jd @@ -0,0 +1,256 @@ +page.title=Layar Ikhtisar +page.tags="recents","overview" + +@jd:body + +Layar ikhtisar (juga disebut sebagai layar terbaru, daftar tugas terbaru, atau aplikasi terbaru) +UI tingkat sistem yang mencantumkan +aktivitas dan tugas yang baru saja diakses. Pengguna +bisa menyusuri daftar ini dan memilih satu tugas untuk dilanjutkan, atau pengguna bisa menghapus tugas dari +daftar dengan gerakan mengusap. Dengan dirilisnya Android 5.0 (API level 21), beberapa instance aktivitas yang +sama yang berisi dokumen berbeda dapat muncul sebagai tugas di layar ikhtisar. Misalnya, +Google Drive mungkin memiliki satu tugas untuk setiap beberapa dokumen Google. Setiap dokumen muncul sebagai +tugas dalam layar ikhtisar.
+ +
+Gambar 1. Layar ikhtisar menampilkan tiga dokumen +Google Drive, masing-masing dinyatakan sebagai tugas terpisah.
+ +Biasanya Anda harus mengizinkan sistem mendefinisikan cara menyatakan tugas dan
+aktivitas di layar ikhtisar, dan Anda tidak perlu memodifikasi perilaku ini.
+Akan tetapi, aplikasi Anda dapat menentukan cara dan waktu munculnya aktivitas di layar ikhtisar. Kelas
+{@link android.app.ActivityManager.AppTask} memungkinkan Anda mengelola tugas, dan flag
+ aktivitas kelas {@link android.content.Intent} memungkinkan Anda menentukan kapan aktivitas ditambahkan atau dihapus dari
+layar ikhtisar. Selain itu, atribut
+<activity> memungkinkan Anda menetapkan perilaku di manifes.
Penggunaan flag kelas {@link android.content.Intent} untuk menambahkan tugas memberi kontrol lebih besar
+atas waktu dan cara dokumen dibuka atau dibuka kembali di layar ikhtisar. Bila menggunakan atribut
+<activity>
+, Anda dapat memilih antara selalu membuka dokumen dalam tugas baru atau menggunakan kembali tugas
+yang ada untuk dokumen tersebut.
Bila membuat dokumen baru untuk aktivitas, Anda memanggil metode +{@link android.app.ActivityManager.AppTask#startActivity(android.content.Context, android.content.Intent, android.os.Bundle) startActivity()} + dari kelas {@link android.app.ActivityManager.AppTask}, dengan meneruskannya ke intent yang +menjalankan aktivitas tersebut. Untuk menyisipkan jeda logis agar sistem memperlakukan aktivitas Anda sebagai tugas +baru di layar ikhtisar, teruskan flag {@link android.content.Intent#FLAG_ACTIVITY_NEW_DOCUMENT} +dalam metode {@link android.content.Intent#addFlags(int) addFlags()} dari {@link android.content.Intent} +yang memulai aktivitas itu.
+ +Catatan: Flag {@link android.content.Intent#FLAG_ACTIVITY_NEW_DOCUMENT} +menggantikan flag {@link android.content.Intent#FLAG_ACTIVITY_CLEAR_WHEN_TASK_RESET}, +yang tidak digunakan lagi pada Android 5.0 (API level 21).
+ +Jika Anda menetapkan flag {@link android.content.Intent#FLAG_ACTIVITY_MULTIPLE_TASK} saat membuat +dokumen baru, sistem akan selalu membuat tugas baru dengan aktivitas target sebagai akar. +Dengan pengaturan ini, dokumen yang sama dapat dibuka di lebih dari satu tugas. Kode berikut memperagakan +cara aktivitas utama melakukannya:
+ + +
+public void createNewDocument(View view) {
+ final Intent newDocumentIntent = newDocumentIntent();
+ if (useMultipleTasks) {
+ newDocumentIntent.addFlags(Intent.FLAG_ACTIVITY_MULTIPLE_TASK);
+ }
+ startActivity(newDocumentIntent);
+ }
+
+ private Intent newDocumentIntent() {
+ boolean useMultipleTasks = mCheckbox.isChecked();
+ final Intent newDocumentIntent = new Intent(this, NewDocumentActivity.class);
+ newDocumentIntent.addFlags(Intent.FLAG_ACTIVITY_NEW_DOCUMENT);
+ newDocumentIntent.putExtra(KEY_EXTRA_NEW_DOCUMENT_COUNTER, incrementAndGet());
+ return newDocumentIntent;
+ }
+
+ private static int incrementAndGet() {
+ Log.d(TAG, "incrementAndGet(): " + mDocumentCounter);
+ return mDocumentCounter++;
+ }
+}
+
+
+Catatan: Aktivitas yang dimulai dengan flag {@code FLAG_ACTIVITY_NEW_DOCUMENT} + harus telah menetapkan nilai atribut {@code android:launchMode="standard"} (default) dalam +manifes.
+ +Bila aktivitas utama memulai aktivitas baru, sistem akan mencari tugas yang intent +-nya cocok dengan nama komponen intent dalam tugas-tugas yang sudah ada dan mencari aktivitas dalam data Intent. Jika tugas +tidak ditemukan, atau intent ada dalam flag {@link android.content.Intent#FLAG_ACTIVITY_MULTIPLE_TASK} +, tugas baru akan dibuat dengan aktivitas tersebut sebagai akarnya. Jika ditemukan, sistem akan +mengedepankan tugas itu dan meneruskan intent baru ke {@link android.app.Activity#onNewIntent onNewIntent()}. +Aktivitas baru akan mendapatkan intent dan membuat dokumen baru di layar ikhtisar, seperti dalam +contoh berikut:
+ + +
+@Override
+protected void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
+ super.onCreate(savedInstanceState);
+ setContentView(R.layout.activity_new_document);
+ mDocumentCount = getIntent()
+ .getIntExtra(DocumentCentricActivity.KEY_EXTRA_NEW_DOCUMENT_COUNTER, 0);
+ mDocumentCounterTextView = (TextView) findViewById(
+ R.id.hello_new_document_text_view);
+ setDocumentCounterText(R.string.hello_new_document_counter);
+}
+
+@Override
+protected void onNewIntent(Intent intent) {
+ super.onNewIntent(intent);
+ /* If FLAG_ACTIVITY_MULTIPLE_TASK has not been used, this activity
+ is reused to create a new document.
+ */
+ setDocumentCounterText(R.string.reusing_document_counter);
+}
+
+
+
+Aktivitas juga dapat menetapkan dalam manifesnya agar selalu dimulai ke dalam tugas baru dengan menggunakan
+atribut <activity>
+,
+{@code android:documentLaunchMode}. Atribut ini memiliki empat nilai yang menghasilkan efek berikut
+bila pengguna membuka dokumen dengan aplikasi:
Catatan: Untuk nilai selain {@code none} dan {@code never}, +aktivitas harus didefinisikan dengan {@code launchMode="standard"}. Jika atribut ini tidak ditetapkan, maka +{@code documentLaunchMode="none"} akan digunakan.
+ +Secara default, tugas dokumen secara otomatis dihapus dari layar ikhtisar bila aktivitasnya
+selesai. Anda bisa mengesampingkan perilaku ini dengan kelas {@link android.app.ActivityManager.AppTask},
+dengan flag {@link android.content.Intent} atau atribut
+<activity>.
Kapan saja Anda bisa mengecualikan tugas dari layar ikhtisar secara keseluruhan dengan menetapkan atribut
+<activity>
+,
+{@code android:excludeFromRecents} hingga {@code true}.
Anda bisa menetapkan jumlah maksimum tugas yang dapat disertakan aplikasi Anda dalam layar ikhtisar dengan menetapkan
+atribut <activity>
+ {@code android:maxRecents}
+ ke satu nilai integer. Nilai default-nya adalah 16. Bila telah mencapai jumlah maksimum, tugas yang terakhir
+digunakan akan dihapus dari layar ikhtisar. Nilai maksimum {@code android:maxRecents}
+ adalah 50 (25 pada perangkat dengan memori sedikit); nilai yang kurang dari 1 tidak berlaku.
Dalam aktivitas yang membuat tugas baru di layar ikhtisar, Anda bisa +menetapkan kapan menghapus tugas dan menyelesaikan semua aktivitas yang terkait dengannya +dengan memanggil metode {@link android.app.ActivityManager.AppTask#finishAndRemoveTask() finishAndRemoveTask()}.
+ + +
+public void onRemoveFromRecents(View view) {
+ // The document is no longer needed; remove its task.
+ finishAndRemoveTask();
+}
+
+
+Catatan: Penggunaan metode +{@link android.app.ActivityManager.AppTask#finishAndRemoveTask() finishAndRemoveTask()} +akan mengesampingkan penggunaan tag {@link android.content.Intent#FLAG_ACTIVITY_RETAIN_IN_RECENTS}, seperti +dibahas di bawah ini.
+ +Jika Anda ingin mempertahankan tugas di layar ikhtisar, sekalipun aktivitas sudah selesai, teruskan +flag {@link android.content.Intent#FLAG_ACTIVITY_RETAIN_IN_RECENTS} dalam metode +{@link android.content.Intent#addFlags(int) addFlags()} dari Intent yang memulai aktivitas itu.
+ + +
+private Intent newDocumentIntent() {
+ final Intent newDocumentIntent = new Intent(this, NewDocumentActivity.class);
+ newDocumentIntent.addFlags(Intent.FLAG_ACTIVITY_NEW_DOCUMENT |
+ android.content.Intent.FLAG_ACTIVITY_RETAIN_IN_RECENTS);
+ newDocumentIntent.putExtra(KEY_EXTRA_NEW_DOCUMENT_COUNTER, incrementAndGet());
+ return newDocumentIntent;
+}
+
+
+Untuk memperoleh efek yang sama, tetapkan atribut
+<activity>
+
+{@code android:autoRemoveFromRecents} hingga {@code false}. Nilai default-nya adalah {@code true}
+untuk aktivitas dokumen, dan {@code false} untuk aktivitas biasa. Penggunaan atribut ini akan mengesampingkan flag
+{@link android.content.Intent#FLAG_ACTIVITY_RETAIN_IN_RECENTS}, yang telah dibahas sebelumnya.
{@link android.app.Service} adalah sebuah komponen aplikasi yang bisa melakukan +operasi yang berjalan lama di latar belakang dan tidak menyediakan antarmuka pengguna. Komponen +aplikasi lain bisa memulai layanan dan komponen aplikasi tersebut akan terus berjalan +di latar belakang walaupun pengguna beralih ke aplikasi lain. Selain itu, komponen bisa mengikat ke layanan +untuk berinteraksi dengannya dan bahkan melakukan komunikasi antarproses (IPC). Misalnya, layanan mungkin +menangani transaksi jaringan, memutar musik, melakukan file I/O, atau berinteraksi dengan penyedia konten +dari latar belakang.
+ +Ada dua bentuk dasar layanan:
+ +Walaupun dokumentasi ini secara umum membahas kedua jenis layanan secara terpisah, layanan +Anda bisa menggunakan keduanya—layanan bisa dimulai (untuk berjalan terus-menerus) sekaligus memungkinkan pengikatan. +Cukup mengimplementasikan dua metode callback: {@link +android.app.Service#onStartCommand onStartCommand()} untuk memungkinkan komponen memulainya dan {@link +android.app.Service#onBind onBind()} untuk memungkinkan pengikatan.
+ +Apakah aplikasi Anda sudah dimulai, terikat, atau keduanya, semua komponen aplikasi +bisa menggunakan layanan (bahkan dari aplikasi terpisah), demikian pula semua komponen bisa menggunakan +suatu aktivitas—dengan memulainya dengan {@link android.content.Intent}. Akan tetapi, Anda bisa mendeklarasikan +layanan sebagai privat, pada file manifes, dan memblokir akses dari aplikasi lain. Hal ini +dibahas selengkapnya di bagian tentang Mendeklarasikan layanan dalam +manifes.
+ +Perhatian: Layanan berjalan di +thread utama proses yang menjadi host-nya—layanan tidak membuat thread-nya sendiri +dan tidak berjalan pada proses terpisah (kecuali bila Anda tentukan demikian). Artinya, +jika layanan Anda akan melakukan pekerjaan yang membutuhkan tenaga CPU besar atau operasi yang memblokir (seperti +pemutaran MP3 atau jaringan), Anda perlu membuat thread baru dalam layanan untuk melakukan pekerjaan tersebut. Dengan menggunakan +thread terpisah, Anda mengurangi risiko terjadinya kesalahan Aplikasi Tidak Merespons (Application Not Responding/ANR) dan +thread utama aplikasi bisa tetap dikhususkan pada interaksi pengguna dengan aktivitas Anda.
+ + +Layanan sekadar komponen yang bisa berjalan di latar belakang walaupun pengguna sedang tidak +berinteraksi dengan aplikasi Anda. Sehingga, Anda harus membuat layanan bila memang itu +yang dibutuhkan.
+Bila Anda perlu melakukan pekerjaan di luar thread utama, namun hanya bila pengguna sedang berinteraksi +dengan aplikasi, maka Anda harus membuat thread baru sebagai ganti layanan baru. Misalnya, +bila Anda ingin memutar musik, namun hanya saat aktivitas Anda berjalan, Anda bisa membuat +thread dalam {@link android.app.Activity#onCreate onCreate()}, mulai menjalankannya di {@link +android.app.Activity#onStart onStart()}, kemudian menghentikannya di {@link android.app.Activity#onStop +onStop()}. Pertimbangkan juga untuk menggunakan {@link android.os.AsyncTask} atau {@link android.os.HandlerThread}, +sebagai ganti kelas {@link java.lang.Thread} yang lazim digunakan. Lihat dokumen Proses dan +Threading untuk informasi selengkapnya tentang thread.
+Ingatlah jika menggunakan layanan, layanan tersebut tetap berjalan di thread utama aplikasi Anda secara +default, jadi Anda harus tetap membuat thread baru dalam layanan bila layanan tersebut melakukan operasi yang intensif +atau operasi yang memblokir.
+Untuk membuat layanan, Anda harus membuat subkelas {@link android.app.Service} (atau +salah satu dari subkelasnya yang ada). Dalam implementasi, Anda perlu mengesampingkan sebagian metode callback yang +menangani aspek utama daur hidup layanan dan memberikan mekanisme bagi komponen untuk mengikat +pada layanan, bila dibutuhkan. Metode callback terpenting yang perlu Anda kesampingkan adalah:
+ +Bila komponen memulai layanan dengan memanggil {@link +android.content.Context#startService startService()} (yang menyebabkan panggilan ke {@link +android.app.Service#onStartCommand onStartCommand()}), maka layanan +terus berjalan hingga terhenti sendiri dengan {@link android.app.Service#stopSelf()} atau bila komponen +lain menghentikannya dengan memanggil {@link android.content.Context#stopService stopService()}.
+ +Bila komponen memanggil +{@link android.content.Context#bindService bindService()} untuk membuat layanan (dan {@link +android.app.Service#onStartCommand onStartCommand()} tidak dipanggil), maka layanan hanya berjalan +selama komponen terikat kepadanya. Setelah layanan dilepas ikatannya dari semua klien, +sistem akan menghancurkannya.
+ +Sistem Android akan menghentikan paksa layanan hanya bila memori tinggal sedikit dan sistem harus memulihkan +sumber daya sistem untuk aktivitas yang mendapatkan fokus pengguna. Jika layanan terikat pada suatu aktivitas yang mendapatkan +fokus pengguna, layanan tersebut lebih kecil kemungkinannya untuk dimatikan, dan jika layanan dideklarasikan untuk berjalan di latar depan (akan dibahas kemudian), maka sudah hampir pasti ia tidak akan dimatikan. +Sebaliknya, bila layanan sudah dimulai dan berjalan lama, maka sistem akan menurunkan posisinya +dalam daftar tugas latar belakang seiring waktu dan layanan akan sangat rentan untuk +dimatikan—bila layanan Anda dimulai, maka Anda harus mendesainnya agar bisa menangani restart +oleh sistem dengan baik. Jika sistem mematikan layanan Anda, layanan akan dimulai kembali begitu sumber daya +kembali tersedia (tetapi ini juga bergantung pada nilai yang Anda kembalikan dari {@link +android.app.Service#onStartCommand onStartCommand()}, sebagaimana akan dibahas nanti). Untuk informasi selengkapnya +tentang kapan sistem mungkin akan memusnahkan layanan, lihat dokumen +Proses dan Threading.
+ +Dalam bagian selanjutnya, Anda akan melihat bagaimana membuat masing-masing tipe layanan dan cara menggunakannya +dari komponen aplikasi lain.
+ + + +Sebagaimana aktivitas (dan komponen lainnya), Anda harus mendeklarasikan semua layanan dalam file manifes +aplikasi Anda.
+ +Untuk mendeklarasikan layanan Anda, tambahkan sebuah elemen {@code <service>} +sebagai anak +elemen {@code <application>}. Misalnya:
+ ++<manifest ... > + ... + <application ... > + <service android:name=".ExampleService" /> + ... + </application> +</manifest> ++ +
Lihat acuan elemen {@code <service>} +untuk informasi selengkapnya tentang cara mendeklarasikan layanan Anda dalam manifes.
+ +Ada atribut lain yang bisa Anda sertakan dalam elemen {@code <service>} untuk +mendefinisikan properti seperti izin yang dibutuhkan untuk memulai layanan dan proses +tempat berjalannya layanan. {@code android:name} adalah satu-satunya atribut yang diperlukan +—atribut tersebut menetapkan nama kelas layanan. Setelah +mempublikasikan aplikasi, Anda tidak boleh mengubah nama ini, karena jika melakukannya, Anda bisa merusak +kode karena dependensi terhadap intent eksplisit untuk memulai atau mengikat layanan (bacalah posting blog berjudul Things +That Cannot Change). + +
Untuk memastikan aplikasi Anda aman, selalu gunakan intent eksplisit saat memulai atau mengikat +{@link android.app.Service} Anda dan jangan mendeklarasikan filter intent untuk layanan. Jika +Anda perlu membiarkan adanya ambiguitas tentang layanan mana yang dimulai, Anda bisa +menyediakan filter intent bagi layanan dan tidak memasukkan nama komponen pada {@link +android.content.Intent}, namun Anda juga harus menyesuaikan paket bagi intent tersebut dengan {@link +android.content.Intent#setPackage setPackage()}, yang memberikan klarifikasi memadai bagi +target layanan.
+ +Anda juga bisa memastikan layanan tersedia hanya bagi aplikasi Anda dengan +menyertakan atribut {@code android:exported} +dan mengaturnya ke {@code "false"}. Hal ini efektif menghentikan aplikasi lain agar tidak memulai +layanan Anda, bahkan saat menggunakan intent eksplisit.
+ + + + +Layanan yang sudah dimulai adalah layanan yang dimulai komponen lain dengan memanggil {@link +android.content.Context#startService startService()}, yang menyebabkan panggilan ke metode +{@link android.app.Service#onStartCommand onStartCommand()} layanan.
+ +Bila layanan sudah dimulai, layanan tersebut memiliki daur hidup yang tidak bergantung pada +komponen yang memulainya dan bisa berjalan terus-menerus di latar belakang walaupun +komponen yang memulainya dimusnahkan. Dengan sendirinya, layanan akan berhenti sendiri bila pekerjaannya +selesai dengan memanggil {@link android.app.Service#stopSelf stopSelf()}, atau komponen lain bisa menghentikannya +dengan memanggil {@link android.content.Context#stopService stopService()}.
+ +Komponen aplikasi seperti aktivitas bisa memulai layanan dengan memanggil {@link +android.content.Context#startService startService()} dan meneruskan {@link android.content.Intent} +yang menetapkan layanan dan menyertakan data untuk digunakan layanan. Layanan menerima +{@link android.content.Intent} ini dalam metode {@link android.app.Service#onStartCommand +onStartCommand()}.
+ +Sebagai contoh, anggaplah aktivitas perlu menyimpan data ke database online. Aktivitas tersebut bisa +memulai layanan pendamping dan mengiriminya data untuk disimpan dengan meneruskan intent ke {@link +android.content.Context#startService startService()}. Layanan akan menerima intent dalam {@link +android.app.Service#onStartCommand onStartCommand()}, menghubungkan ke Internet dan melakukan +transaksi database. Bila transaksi selesai, layanan akan berhenti sendiri dan +dimusnahkan.
+ +Perhatian: Layanan berjalan dalam proses yang sama dengan aplikasi +tempatnya dideklarasikan dan dalam thread utama aplikasi tersebut, secara default. Jadi, bila layanan Anda +melakukan operasi yang intensif atau operasi pemblokiran saat pengguna berinteraksi dengan aktivitas dari +aplikasi yang sama, layanan akan memperlambat kinerja aktivitas. Agar tidak memengaruhi +kinerja aplikasi, Anda harus memulai thread baru di dalam layanan.
+ +Biasanya, ada dua kelas yang bisa Anda perluas untuk membuat layanan yang sudah dimulai:
+Bagian selanjutnya membahas cara mengimplementasikan layanan Anda menggunakan +salah satu dari kelas-kelas ini.
+ + +Mengingat kebanyakan layanan yang sudah dimulai tidak perlu menangani beberapa permintaan +sekaligus (yang bisa berupa skenario multi-threading berbahaya), mungkin Anda sebaiknya mengimplementasikan +layanan menggunakan kelas {@link android.app.IntentService}.
+ +Berikut ini yang dilakukan {@link android.app.IntentService}:
+ +Oleh karena itu, Anda hanya perlu mengimplementasikan {@link +android.app.IntentService#onHandleIntent onHandleIntent()} untuk melakukan pekerjaan yang diberikan oleh +klien. (Akan tetapi, Anda juga perlu menyediakan konstruktor kecil bagi layanan.)
+ +Berikut ini contoh implementasi {@link android.app.IntentService}:
+ +
+public class HelloIntentService extends IntentService {
+
+ /**
+ * A constructor is required, and must call the super {@link android.app.IntentService#IntentService}
+ * constructor with a name for the worker thread.
+ */
+ public HelloIntentService() {
+ super("HelloIntentService");
+ }
+
+ /**
+ * The IntentService calls this method from the default worker thread with
+ * the intent that started the service. When this method returns, IntentService
+ * stops the service, as appropriate.
+ */
+ @Override
+ protected void onHandleIntent(Intent intent) {
+ // Normally we would do some work here, like download a file.
+ // For our sample, we just sleep for 5 seconds.
+ long endTime = System.currentTimeMillis() + 5*1000;
+ while (System.currentTimeMillis() < endTime) {
+ synchronized (this) {
+ try {
+ wait(endTime - System.currentTimeMillis());
+ } catch (Exception e) {
+ }
+ }
+ }
+ }
+}
+
+
+Anda hanya memerlukan: konstruktor dan implementasi {@link +android.app.IntentService#onHandleIntent onHandleIntent()}.
+ +Jika Anda memutuskan untuk juga mengesampingkan metode callback lain, seperti {@link +android.app.IntentService#onCreate onCreate()}, {@link +android.app.IntentService#onStartCommand onStartCommand()}, atau {@link +android.app.IntentService#onDestroy onDestroy()}, pastikan memanggil implementasi super, sehingga +{@link android.app.IntentService} bisa menangani hidup thread pekerja dengan baik.
+ +Misalnya, {@link android.app.IntentService#onStartCommand onStartCommand()} harus mengembalikan +implementasi default (yang merupakan cara penyampaian intent ke {@link +android.app.IntentService#onHandleIntent onHandleIntent()}):
+ +
+@Override
+public int onStartCommand(Intent intent, int flags, int startId) {
+ Toast.makeText(this, "service starting", Toast.LENGTH_SHORT).show();
+ return super.onStartCommand(intent,flags,startId);
+}
+
+
+Selain {@link android.app.IntentService#onHandleIntent onHandleIntent()}, satu-satunya metode lain +yang tidak mengharuskan Anda memanggil super kelas adalah {@link android.app.IntentService#onBind +onBind()} (namun Anda hanya perlu mengimplementasikannya bila layanan mengizinkan pengikatan).
+ +Dalam bagian berikutnya, Anda akan melihat bagaimana layanan serupa diimplementasikan saat +memperluas kelas {@link android.app.Service} basis, yang membutuhkan kode lebih banyak lagi, namun mungkin +cocok jika Anda perlu menangani beberapa permintaan memulai sekaligus.
+ + +Seperti telah Anda lihat di bagian sebelumnya, menggunakan {@link android.app.IntentService} membuat +implementasi layanan yang sudah dimulai jadi sangat sederhana. Namun, bila Anda mengharuskan layanan untuk +melakukan multi-threading (sebagai ganti memproses permintaan memulai melalui antrean pekerjaan), maka Anda +bisa memperluas kelas {@link android.app.Service} untuk menangani masing-masing intent.
+ +Sebagai perbandingan, contoh kode berikut ini adalah implementasi kelas {@link +android.app.Service} yang melakukan pekerjaan yang persis sama dengan contoh di atas menggunakan {@link +android.app.IntentService}. Artinya, untuk setiap permintaan memulai, kode tersebut akan menggunakan thread pekerja +untuk melakukan pekerjaan dan memproses permintaan satu per satu.
+ +
+public class HelloService extends Service {
+ private Looper mServiceLooper;
+ private ServiceHandler mServiceHandler;
+
+ // Handler that receives messages from the thread
+ private final class ServiceHandler extends Handler {
+ public ServiceHandler(Looper looper) {
+ super(looper);
+ }
+ @Override
+ public void handleMessage(Message msg) {
+ // Normally we would do some work here, like download a file.
+ // For our sample, we just sleep for 5 seconds.
+ long endTime = System.currentTimeMillis() + 5*1000;
+ while (System.currentTimeMillis() < endTime) {
+ synchronized (this) {
+ try {
+ wait(endTime - System.currentTimeMillis());
+ } catch (Exception e) {
+ }
+ }
+ }
+ // Stop the service using the startId, so that we don't stop
+ // the service in the middle of handling another job
+ stopSelf(msg.arg1);
+ }
+ }
+
+ @Override
+ public void onCreate() {
+ // Start up the thread running the service. Note that we create a
+ // separate thread because the service normally runs in the process's
+ // main thread, which we don't want to block. We also make it
+ // background priority so CPU-intensive work will not disrupt our UI.
+ HandlerThread thread = new HandlerThread("ServiceStartArguments",
+ Process.THREAD_PRIORITY_BACKGROUND);
+ thread.start();
+
+ // Get the HandlerThread's Looper and use it for our Handler
+ mServiceLooper = thread.getLooper();
+ mServiceHandler = new ServiceHandler(mServiceLooper);
+ }
+
+ @Override
+ public int onStartCommand(Intent intent, int flags, int startId) {
+ Toast.makeText(this, "service starting", Toast.LENGTH_SHORT).show();
+
+ // For each start request, send a message to start a job and deliver the
+ // start ID so we know which request we're stopping when we finish the job
+ Message msg = mServiceHandler.obtainMessage();
+ msg.arg1 = startId;
+ mServiceHandler.sendMessage(msg);
+
+ // If we get killed, after returning from here, restart
+ return START_STICKY;
+ }
+
+ @Override
+ public IBinder onBind(Intent intent) {
+ // We don't provide binding, so return null
+ return null;
+ }
+
+ @Override
+ public void onDestroy() {
+ Toast.makeText(this, "service done", Toast.LENGTH_SHORT).show();
+ }
+}
+
+
+Seperti yang bisa Anda lihat, ini membutuhkan lebih banyak pekerjaan daripada menggunakan {@link android.app.IntentService}.
+ +Akan tetapi, karena Anda menangani sendiri setiap panggilan ke {@link android.app.Service#onStartCommand +onStartCommand()}, Anda bisa melakukan beberapa permintaan sekaligus. Itu bukan yang +dilakukan contoh ini, namun jika itu yang diinginkan, Anda bisa membuat thread baru untuk setiap +permintaan dan langsung menjalankannya (sebagai ganti menunggu permintaan sebelumnya selesai).
+ +Perhatikan bahwa metode {@link android.app.Service#onStartCommand onStartCommand()} harus mengembalikan +integer. Integer tersebut merupakan nilai yang menjelaskan cara sistem melanjutkan layanan dalam +kejadian yang dimatikan oleh sistem (sebagaimana dibahas di atas, implementasi default {@link +android.app.IntentService} menangani hal ini untuk Anda, walaupun Anda bisa memodifikasinya). Nilai yang dikembalikan +dari {@link android.app.Service#onStartCommand onStartCommand()} harus berupa salah satu +konstanta berikut ini:
+ +Untuk detail selengkapnya tentang nilai pengembalian ini, lihat dokumentasi acuan untuk setiap +konstanta.
+ + + +Anda bisa memulai layanan dari aktivitas atau komponen aplikasi lain dengan meneruskan +{@link android.content.Intent} (yang menetapkan layanan yang akan dimulai) ke {@link +android.content.Context#startService startService()}. Sistem Android akan memanggil metode {@link +android.app.Service#onStartCommand onStartCommand()} layanan dan meneruskan {@link +android.content.Intent} padanya. (Jangan sekali-kali memanggil {@link android.app.Service#onStartCommand +onStartCommand()} secara langsung.)
+ +Misalnya, aktivitas bisa memulai contoh layanan di bagian sebelumnya ({@code +HelloSevice}) menggunakan intent eksplisit dengan {@link android.content.Context#startService +startService()}:
+ ++Intent intent = new Intent(this, HelloService.class); +startService(intent); ++ +
Metode {@link android.content.Context#startService startService()} segera kembali dan +sistem Android akan memanggil metode {@link android.app.Service#onStartCommand +onStartCommand()} layanan. Jika layanan belum berjalan, sistem mula-mula memanggil {@link +android.app.Service#onCreate onCreate()}, kemudian memanggil {@link android.app.Service#onStartCommand +onStartCommand()}.
+ +Jika layanan juga tidak menyediakan pengikatan, intent yang disampaikan dengan {@link +android.content.Context#startService startService()} adalah satu-satunya mode komunikasi antara +komponen aplikasi dan layanan. Akan tetapi, jika Anda ingin agar layanan mengirimkan hasilnya kembali, maka +klien yang memulai layanan bisa membuat {@link android.app.PendingIntent} untuk siaran +(dengan {@link android.app.PendingIntent#getBroadcast getBroadcast()}) dan menyampaikannya ke layanan +dalam {@link android.content.Intent} yang memulai layanan. Layanan kemudian bisa menggunakan +siaran untuk menyampaikan hasil.
+ +Beberapa permintaan untuk memulai layanan menghasilkan beberapa panggilan pula ke +{@link android.app.Service#onStartCommand onStartCommand()} layanan. Akan tetapi, hanya satu permintaan untuk menghentikan +layanan (dengan {@link android.app.Service#stopSelf stopSelf()} atau {@link +android.content.Context#stopService stopService()}) dibutuhkan untuk menghentikannya.
+ + +Layanan yang sudah dimulai harus mengelola daur hidupnya sendiri. Artinya, sistem tidak menghentikan atau +memusnahkan layanan kecuali jika harus memulihkan memori sistem dan layanan +terus berjalan setelah {@link android.app.Service#onStartCommand onStartCommand()} kembali. Jadi, +layanan tersebut harus berhenti sendiri dengan memanggil {@link android.app.Service#stopSelf stopSelf()} atau +komponen lain bisa menghentikannya dengan memanggil {@link android.content.Context#stopService stopService()}.
+ +Setelah diminta untuk berhenti dengan {@link android.app.Service#stopSelf stopSelf()} atau {@link +android.content.Context#stopService stopService()}, sistem akan menghapus layanan +secepatnya.
+ +Akan tetapi, bila layanan Anda menangani beberapa permintaan ke {@link
+android.app.Service#onStartCommand onStartCommand()} sekaligus, Anda tidak boleh menghentikan
+layanan bila Anda baru selesai memproses permintaan memulai, karena setelah itu mungkin Anda sudah menerima permintaan memulai
+yang baru (berhenti pada permintaan pertama akan menghentikan permintaan kedua). Untuk menghindari
+masalah ini, Anda bisa menggunakan {@link android.app.Service#stopSelf(int)} untuk memastikan bahwa permintaan
+Anda untuk menghentikan layanan selalu berdasarkan pada permintaan memulai terbaru. Artinya, bila Anda memanggil {@link
+android.app.Service#stopSelf(int)}, Anda akan meneruskan ID permintaan memulai (startId
+yang disampaikan ke {@link android.app.Service#onStartCommand onStartCommand()}) yang terkait dengan permintaan berhenti
+Anda. Kemudian jika layanan menerima permintaan memulai baru sebelum Anda bisa memanggil {@link
+android.app.Service#stopSelf(int)}, maka ID tidak akan sesuai dan layanan tidak akan berhenti.
Perhatian: Aplikasi Anda perlu menghentikan layanannya +bila selesai bekerja untuk menghindari pemborosan sumber daya sistem dan tenaga baterai. Jika perlu, +komponen lain bisa menghentikan layanan secara eksplisit dengan memanggil {@link +android.content.Context#stopService stopService()}. Bahkan jika Anda mengaktifkan pengikatan bagi layanan, +Anda harus selalu menghentikan layanan sendiri jika layanan tersebut menerima panggilan ke {@link +android.app.Service#onStartCommand onStartCommand()}.
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang daur hidup layanan, lihat bagian di bawah ini tentang Mengelola Daur Hidup Layanan.
+ + + +Layanan terikat adalah layanan yang memungkinkan komponen aplikasi untuk mengikatnya dengan memanggil {@link +android.content.Context#bindService bindService()} guna membuat koneksi yang berlangsung lama +(dan umumnya tidak mengizinkan komponen untuk memulainya dengan memanggil {@link +android.content.Context#startService startService()}).
+ +Anda sebaiknya membuat layanan terikat bila ingin berinteraksi dengan layanan dari aktivitas +dan komponen lain dalam aplikasi Anda atau mengeskpos sebagian fungsionalitas aplikasi Anda ke +ke aplikasi lain, melalui komunikasi antarproses (IPC).
+ +Untuk membuat layanan terikat, Anda harus mengimplementasikan metode callback {@link +android.app.Service#onBind onBind()} untuk mengembalikan {@link android.os.IBinder} yang +mendefinisikan antarmuka bagi komunikasi dengan layanan. Komponen aplikasi lain kemudian bisa memanggil +{@link android.content.Context#bindService bindService()} untuk mengambil antarmuka dan +mulai memanggil metode pada layanan. Layanan hanya hidup untuk melayani komponen aplikasi yang +terikat padanya, jadi bila tidak ada komponen yang terikat pada layanan, sistem akan memusnahkannya +(Anda tidak perlu menghentikan layanan terikat seperti halnya bila layanan dimulai +melalui {@link android.app.Service#onStartCommand onStartCommand()}).
+ +Untuk membuat layanan terikat, hal yang perlu dilakukan pertama kali adalah mendefinisikan antarmuka yang menetapkan +cara klien berkomunikasi dengan layanan. Antarmuka antara layanan +dan klien ini harus berupa implementasi {@link android.os.IBinder} dan yang harus dikembalikan +layanan Anda dari metode callback {@link android.app.Service#onBind +onBind()}. Setelah menerima {@link android.os.IBinder}, klien bisa mulai +berinteraksi dengan layanan melalui antarmuka tersebut.
+ +Beberapa klien bisa mengikat ke layanan sekaligus. Bila klien selesai berinteraksi dengan +layanan, klien akan memanggil {@link android.content.Context#unbindService unbindService()} untuk melepas ikatan. Bila +tidak ada klien yang terikat pada layanan, sistem akan menghapus layanan tersebut.
+ +Ada beberapa cara untuk mengimplementasikan layanan terikat dan implementasinya lebih +rumit daripada layanan yang sudah dimulai, jadi layanan terikat dibahas dalam dokumen +terpisah tentang Layanan Terikat.
+ + + +Setelah berjalan, layanan bisa memberi tahu pengguna tentang suatu kejadian menggunakan Pemberitahuan Toast atau Pemberitahuan Baris Status.
+ +Pemberitahuan Toast adalah pesan yang muncul sebentar pada permukaan jendela saat ini +kemudian menghilang, sementara pemberitahuan baris status memberikan ikon di baris status dengan +pesan yang bisa dipilih oleh pengguna untuk melakukan suatu tindakan (misalnya memulai suatu aktivitas).
+ +Biasanya, pemberitahuan baris status adalah teknik terbaik bila ada pekerjaan latar belakang yang sudah selesai +(misalnya file selesai +diunduh) dan pengguna kini bisa menggunakannya. Bila pengguna memilih pemberitahuan dari +tampilan diperluas, pemberitahuan akan bisa memulai aktivitas (misalnya menampilkan file yang baru diunduh).
+ +Lihat panduan pengembang Pemberitahuan Toast atau Pemberitahuan Baris Status +untuk informasi selengkapnya.
+ + + +Layanan latar depan adalah layanan yang dianggap sebagai sesuatu yang +diketahui secara aktif oleh pengguna, jadi bukan sesuatu yang akan dihapus oleh sistem bila memori menipis. Sebuah +layanan latar depan harus memberikan pemberitahuan bagi baris status, yang ditempatkan pada +heading "Ongoing" yang artinya pemberitahuan tersebut tidak bisa diabaikan kecuali jika layanan +dihentikan atau dihapus dari latar depan.
+ +Misalnya, pemutar musik yang memutar musik dari suatu layanan harus diatur untuk berjalan di +latar depan, karena pengguna mengetahui operasi tersebut +secara eksplisit. Pemberitahuan di baris status bisa menunjukkan lagu saat ini dan memungkinkan +pengguna untuk menjalankan suatu aktivitas untuk berinteraksi dengan pemutar musik.
+ +Untuk meminta agar layanan Anda berjalan di latar depan, panggil {@link +android.app.Service#startForeground startForeground()}. Metode ini memerlukan dua parameter: sebuah integer +yang mengidentifikasi pemberitahuan secara unik dan {@link +android.app.Notification} untuk baris status. Misalnya:
+ ++Notification notification = new Notification(R.drawable.icon, getText(R.string.ticker_text), + System.currentTimeMillis()); +Intent notificationIntent = new Intent(this, ExampleActivity.class); +PendingIntent pendingIntent = PendingIntent.getActivity(this, 0, notificationIntent, 0); +notification.setLatestEventInfo(this, getText(R.string.notification_title), + getText(R.string.notification_message), pendingIntent); +startForeground(ONGOING_NOTIFICATION_ID, notification); ++ +
Perhatian: ID integer yang Anda berikan ke {@link +android.app.Service#startForeground startForeground()} tidak boleh 0.
+ + +Untuk menghapus layanan dari latar depan, panggil {@link +android.app.Service#stopForeground stopForeground()}. Metode ini memerlukan boolean, yang menunjukkan +apakah pemberitahuan baris status juga akan dihapus. Metode ini tidak menghentikan +layanan. Akan tetapi, jika Anda menghentikan layanan saat masih berjalan di latar depan +maka pemberitahuan juga akan dihapus.
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang pemberitahuan, lihat Membuat Pemberitahuan +Baris Status.
+ + + +Daur hidup layanan jauh lebih sederhana daripada daur hidup aktivitas. Akan tetapi, lebih penting lagi adalah +memerhatikan dengan cermat bagaimana layanan Anda dibuat dan dimusnahkan, karena suatu layanan +bisa berjalan di latar belakang tanpa disadari oleh pengguna.
+ +Daur hidup layanan—dari saat dibuat hingga dimusnahkan—bisa mengikuti +dua path berbeda:
+ +Layanan dibuat bila komponen lain memanggil {@link +android.content.Context#startService startService()}. Layanan kemudian berjalan terus-menerus dan harus +berhenti sendiri dengan memanggil {@link +android.app.Service#stopSelf() stopSelf()}. Komponen lain juga bisa menghentikan +layanan dengan memanggil {@link android.content.Context#stopService +stopService()}. Bila layanan dihentikan, sistem akan menghancurkannya.
Layanan dibuat bila komponen lain (klien) memanggil {@link +android.content.Context#bindService bindService()}. Klien kemudian berkomunikasi dengan layanan +melalui antarmuka {@link android.os.IBinder}. Klien bisa menutup koneksi dengan memanggil +{@link android.content.Context#unbindService unbindService()}. Sejumlah klien bisa mengikat pada +layanan yang sama dan bila semuanya melepas ikatan, sistem akan memusnahkan layanan tersebut. (Layanan +tidak perlu berhenti sendiri.)
Kedua path tersebut tidak benar-benar terpisah. Artinya, Anda bisa mengikat ke layanan yang sudah +dimulai dengan {@link android.content.Context#startService startService()}. Misalnya, layanan +musik latar belakang bisa dimulai dengan memanggil {@link android.content.Context#startService +startService()} dengan {@link android.content.Intent} yang mengidentifikasi musik yang akan diputar. Kemudian, +mungkin saat pengguna ingin mengontrol pemutar musik atau mendapatkan informasi +tentang lagu yang diputar, aktivitas bisa mengikat ke layanan dengan memanggil {@link +android.content.Context#bindService bindService()}. Dalam kasus seperti ini, {@link +android.content.Context#stopService stopService()} atau {@link android.app.Service#stopSelf +stopSelf()} tidak menghentikan layanan sampai semua klien melepas ikatan.
+ + +Seperti halnya aktivitas, layanan memiliki metode callback daur hidup yang bisa Anda implementasikan +untuk memantau perubahan status layanan dan melakukan pekerjaan pada waktu yang tepat. Layanan skeleton +berikut memperagakan setiap metode daur hidup:
+ +
+public class ExampleService extends Service {
+ int mStartMode; // indicates how to behave if the service is killed
+ IBinder mBinder; // interface for clients that bind
+ boolean mAllowRebind; // indicates whether onRebind should be used
+
+ @Override
+ public void {@link android.app.Service#onCreate onCreate}() {
+ // The service is being created
+ }
+ @Override
+ public int {@link android.app.Service#onStartCommand onStartCommand}(Intent intent, int flags, int startId) {
+ // The service is starting, due to a call to {@link android.content.Context#startService startService()}
+ return mStartMode;
+ }
+ @Override
+ public IBinder {@link android.app.Service#onBind onBind}(Intent intent) {
+ // A client is binding to the service with {@link android.content.Context#bindService bindService()}
+ return mBinder;
+ }
+ @Override
+ public boolean {@link android.app.Service#onUnbind onUnbind}(Intent intent) {
+ // All clients have unbound with {@link android.content.Context#unbindService unbindService()}
+ return mAllowRebind;
+ }
+ @Override
+ public void {@link android.app.Service#onRebind onRebind}(Intent intent) {
+ // A client is binding to the service with {@link android.content.Context#bindService bindService()},
+ // after onUnbind() has already been called
+ }
+ @Override
+ public void {@link android.app.Service#onDestroy onDestroy}() {
+ // The service is no longer used and is being destroyed
+ }
+}
+
+
+Catatan: Tidak seperti metode callback daur hidup aktivitas, Anda +tidak perlu memanggil implementasi superkelas metode callback tersebut.
+ +
+Gambar 2. Daur hidup layanan. Diagram di sebelah kiri +menampilkan daur hidup bila layanan dibuat dengan {@link android.content.Context#startService +startService()} dan diagram di sebelah kanan menampilkan daur hidup bila layanan dibuat +dengan {@link android.content.Context#bindService bindService()}.
+ +Dengan mengimplementasikan metode-metode ini, Anda bisa memantau dua loop tersarang (nested loop) daur hidup layanan:
+ +Metode {@link android.app.Service#onCreate onCreate()} dan {@link android.app.Service#onDestroy +onDestroy()} diperlukan semua layanan, baik yang +dibuat oleh {@link android.content.Context#startService startService()} maupun {@link +android.content.Context#bindService bindService()}.
Jika layanan telah dimulai, masa pakai aktif akan berakhir pada saat yang sama dengan +berakhirnya seluruh masa pakai (layanan masih aktif bahkan setelah {@link android.app.Service#onStartCommand +onStartCommand()} kembali). Jika layanan tersebut terikat, masa pakai aktifnya akan berakhir bila {@link +android.app.Service#onUnbind onUnbind()} kembali.
+Catatan: Meskipun layanan yang sudah dimulai dihentikan dengan panggilan ke +{@link android.app.Service#stopSelf stopSelf()} atau {@link +android.content.Context#stopService stopService()}, tidak ada callback tersendiri bagi +layanan tersebut (tidak ada callback {@code onStop()}). Jadi, kecuali jika layanan terikat ke klien, +sistem akan memusnahkannya bila layanan dihentikan—{@link +android.app.Service#onDestroy onDestroy()} adalah satu-satunya callback yang diterima.
+ +Gambar 2 mengilustrasikan metode callback yang lazim bagi suatu layanan. Walaupun gambar tersebut memisahkan +layanan yang dibuat oleh {@link android.content.Context#startService startService()} dari layanan +yang dibuat oleh {@link android.content.Context#bindService bindService()}, ingatlah +bahwa suatu layanan, bagaimana pun dimulainya, bisa memungkinkan klien mengikat padanya. +Jadi, suatu layanan yang awalnya dimulai dengan {@link android.app.Service#onStartCommand +onStartCommand()} (oleh klien yang memanggil {@link android.content.Context#startService startService()}) +masih bisa menerima panggilan ke {@link android.app.Service#onBind onBind()} (bila klien memanggil +{@link android.content.Context#bindService bindService()}).
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang membuat layanan yang menyediakan pengikatan, lihat dokumen Layanan Terikat, +yang menyertakan informasi selengkapnya tentang metode callback {@link android.app.Service#onRebind onRebind()} +di bagian tentang Mengelola Daur Hidup +Layanan Terikat.
+ + + diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/components/tasks-and-back-stack.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/tasks-and-back-stack.jd new file mode 100644 index 0000000000000..4c344ae126aec --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/components/tasks-and-back-stack.jd @@ -0,0 +1,578 @@ +page.title=Tugas dan Back-Stack +parent.title=Aktivitas +parent.link=activities.html +@jd:body + +Sebuah aplikasi biasanya berisi beberapa aktivitas. Setiap aktivitas +harus didesain dengan jenis tindakan tertentu yang bisa dilakukan pengguna dan bisa memulai aktivitas +lain. Misalnya, aplikasi email mungkin memiliki satu aktivitas untuk menampilkan daftar pesan baru. +Bila pengguna memilih sebuah pesan, aktivitas baru akan terbuka untuk melihat pesan tersebut.
+ +Aktivitas bahkan bisa memulai aktivitas yang ada dalam aplikasi lain di perangkat. Misalnya +, jika aplikasi Anda ingin mengirim pesan email, Anda bisa mendefinisikan intent untuk melakukan tindakan +"kirim" dan menyertakan sejumlah data, seperti alamat email dan pesan. Aktivitas dari aplikasi +lain yang mendeklarasikan dirinya untuk menangani jenis intent ini akan terbuka. Dalam hal ini, intent +tersebut untuk mengirim email, sehingga aktivitas "menulis" pada aplikasi email akan dimulai (jika beberapa aktivitas +mendukung intent yang sama, maka sistem akan memungkinkan pengguna memilih mana yang akan digunakan). Bila email telah +dikirim, aktivitas Anda akan dilanjutkan dan seolah-olah aktivitas email adalah bagian dari aplikasi Anda. Meskipun +aktivitas mungkin dari aplikasi yang berbeda, Android akan tetap mempertahankan pengalaman pengguna yang mulus +dengan menjalankan kedua aktivitas dalam tugas yang sama.
+ +Tugas adalah kumpulan aktivitas yang berinteraksi dengan pengguna +saat melakukan pekerjaan tertentu. Aktivitas tersebut diatur dalam tumpukan (back-stack), dalam +urutan membuka setiap aktivitas.
+ + + +Layar Home perangkat adalah tempat memulai hampir semua tugas. Bila pengguna menyentuh ikon di launcher +aplikasi +(atau pintasan pada layar Home), tugas aplikasi tersebut akan muncul pada latar depan. Jika tidak ada +tugas untuk aplikasi (aplikasi tidak digunakan baru-baru ini), maka tugas baru +akan dibuat dan aktivitas "utama" untuk aplikasi tersebut akan terbuka sebagai aktivitas akar dalam back-stack.
+ +Bila aktivitas saat ini dimulai lagi, aktivitas baru akan didorong ke atas back-stack dan +mengambil fokus. Aktivitas sebelumnya tetap dalam back-stack, namun dihentikan. Bila aktivitas +dihentikan, sistem akan mempertahankan status antarmuka penggunanya saat ini. Bila pengguna menekan tombol +Back +, aktivitas saat ini akan dikeluarkan dari atas back-stack (aktivitas dimusnahkan) dan + aktivitas sebelumnya dilanjutkan (status UI sebelumnya dipulihkan). Aktivitas dalam back-stack +tidak pernah disusun ulang, hanya didorong dan dikeluarkan dari back-stack—yang didorong ke back-stack saat dimulai oleh +aktivitas saat ini dan dikeluarkan bila pengguna meninggalkannya menggunakan tombol Back. Dengan demikian, +back-stack +beroperasi sebagai struktur objek "masuk terakhir, keluar pertama". Gambar 1 melukiskan perilaku +ini dengan jangka waktu yang menunjukkan kemajuan antar aktivitas beserta +back-stack pada setiap waktu.
+ +
+Gambar 1. Representasi tentang cara setiap aktivitas baru dalam +tugas menambahkan item ke back-stack. Bila pengguna menekan tombol Back, aktivitas +saat ini +akan dimusnahkan dan aktivitas sebelumnya dilanjutkan.
+ + +Jika pengguna terus menekan Back, maka setiap aktivitas dalam back-stack akan dikeluarkan untuk +menampilkan +yang sebelumnya, sampai pengguna kembali ke layar Home (atau aktivitas mana pun yang sedang dijalankan saat tugas +dimulai. Bila semua aktivitas telah dihapus dari back-stack, maka tugas tidak akan ada lagi.
+ +
Gambar 2. Dua tugas: Tugas B menerima interaksi pengguna +di latar depan, sedangkan Tugas A di latar belakang, menunggu untuk dilanjutkan.
+
Gambar 3. Satu aktivitas dibuat instance-nya beberapa kali.
+Tugas adalah unit kohesif yang bisa dipindahkan ke "latar belakang" bila pengguna memulai tugas baru atau masuk ke +layar Home, melalui tombolHome. Sementara di latar belakang, semua aktivitas dalam +tugas +dihentikan, namun back-stack untuk tugas tidak berubah—tugas kehilangan fokus saat +tugas lain berlangsung, seperti yang ditampilkan dalam gambar 2. Kemudian, tugas bisa kembali ke "latar depan" agar pengguna +bisa melanjutkan tugas di tempat menghentikannya. Anggaplah, misalnya, tugas saat ini (Tugas A) memiliki tiga +aktivitas dalam back-stack—dua pada aktivitas saat ini. Pengguna menekan tombol Home +, kemudian +memulai aplikasi baru dari launcher aplikasi. Bila muncul layar Home, Tugas A akan beralih +ke latar belakang. Bila aplikasi baru dimulai, sistem akan memulai tugas untuk aplikasi tersebut +(Tugas B) dengan back-stack aktivitas sendiri. Setelah berinteraksi dengan aplikasi +tersebut, pengguna akan kembali ke Home lagi dan memilih aplikasi yang semula +memulai Tugas A. Sekarang, Tugas A muncul di +latar depan—ketiga aktivitas dalam back-stack tidak berubah dan aktivitas di atas +back-stack akan dilanjutkan. Pada +titik ini pengguna juga bisa beralih kembali ke Tugas B dengan masuk ke Home dan memilih ikon aplikasi +yang memulai tugas tersebut (atau dengan memilih tugas aplikasi dari +layar ikhtisar). +Ini adalah contoh dari melakukan multitasking di Android.
+ +Catatan: Beberapa tugas bisa berlangsung di latar belakang secara bersamaan. +Akan tetapi, jika pengguna menjalankan banyak tugas di latar belakang sekaligus, sistem mungkin mulai +menghapus aktivitas latar belakang untuk memulihkan memori, yang akan menyebabkan status aktivitas hilang. +Lihat bagian berikut tentang Status aktivitas.
+ +Karena aktivitas di back-stack tidak pernah diatur ulang, jika aplikasi Anda memungkinkan +pengguna untuk memulai aktivitas tertentu dari lebih dari satu aktivitas, instance baru +aktivitas tersebut akan dibuat dan didorong ke back-stack (bukannya memunculkan instance sebelumnya dari +aktivitas ke atas). Dengan demikian, satu aktivitas pada aplikasi Anda mungkin dibuat beberapa +kali (bahkan dari beberapa tugas), seperti yang ditampilkan dalam gambar 3. Dengan demikian, jika pengguna mengarahkan mundur +menggunakan tombol Back, setiap instance aktivitas ini akan ditampilkan dalam urutan saat +dibuka (masing-masing +dengan status UI sendiri). Akan tetapi, Anda bisa memodifikasi perilaku ini jika tidak ingin aktivitas +dibuat instance-nya lebih dari sekali. Caranya dibahas di bagian selanjutnya tentang Mengelola Tugas.
+ + +Untuk meringkas perilaku default aktivitas dan tugas:
+ +Desain Navigasi
+Untuk mengetahui selengkapnya tentang cara kerja navigasi aplikasi di Android, baca panduan Navigasi Desain Android.
+Seperti dibahas di atas, perilaku default sistem akan mempertahankan status aktivitas bila +dihentikan. Dengan cara ini, bila pengguna mengarah kembali ke aktivitas sebelumnya, antarmuka pengguna akan muncul +seperti saat ditinggalkan. Akan tetapi, Anda bisa—dan harus—secara proaktif mempertahankan +status aktivitas menggunakan metode callback, jika aktivitas ini dimusnahkan dan harus +dibuat kembali.
+ +Bila sistem menghentikan salah satu aktivitas (seperti saat aktivitas baru dimulai atau tugas +dipindah ke latar belakang), sistem mungkin memusnahkan aktivitas sepenuhnya jika perlu memulihkan +memori sistem. Bila hal ini terjadi, informasi tentang status aktivitas akan hilang. Jika hal ini terjadi, sistem +masih +mengetahui bahwa aktivitas memiliki tempat di back-stack, namun saat aktivitas tersebut dibawa ke bagian teratas +back-stack, sistem harus membuatnya kembali (bukan melanjutkannya). Untuk +menghindari hilangnya pekerjaan pengguna, Anda harus secara proaktif mempertahankannya dengan menerapkan metode callback +{@link android.app.Activity#onSaveInstanceState onSaveInstanceState()} +dalam aktivitas.
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang cara menyimpan status aktivitas Anda, lihat dokumen +Aktivitas.
+ + + +Cara Android mengelola tugas dan back-stack, seperti yang dijelaskan di atas—dengan menempatkan semua +aktivitas yang dimulai secara berurutan dalam tugas yang sama dan dalam back-stack "masuk terakhir, keluar pertama"—berfungsi +dengan baik untuk kebanyakan aplikasi dan Anda tidak perlu khawatir tentang cara mengaitkan aktivitas +dengan tugas atau cara penempatannya di back-stack. Akan tetapi, Anda bisa memutuskan apakah ingin menyela +perilaku normal. Mungkin Anda ingin agar suatu aktivitas dalam aplikasi untuk memulai tugas baru bila telah +dimulai (sebagai ganti menempatkannya dalam tugas saat ini); atau, bila memulai aktivitas, Anda ingin +memajukan instance yang ada (sebagai ganti membuat instance +baru pada bagian teratas back-stack); atau, Anda ingin back-stack dihapus dari semua +aktivitas selain untuk aktivitas akar bila pengguna meninggalkan tugas.
+ +Anda bisa melakukan semua ini dan lainnya, dengan atribut dalam elemen manifes +{@code <activity>} +dan dengan flag pada intent yang Anda teruskan ke +{@link android.app.Activity#startActivity startActivity()}.
+ +Dalam hal ini, atribut +{@code <activity>} utama yang bisa Anda gunakan adalah:
+ +Dan flag intent utama yang bisa Anda gunakan adalah:
+ +Dalam bagian berikut, Anda akan melihat cara menggunakan beberapa atribut manifes ini dan flag +intent untuk mendefinisikan cara mengaitkan aktivitas dengan tugas dan cara perilakunya di back-stack.
+ +Juga, pertimbangan cara menyatakan dan mengelola tugas dan aktivitas +dibahas secara terpisah di layar ikhtisar. Lihat Layar Ikhtisar +untuk informasi selengkapnya. Biasanya Anda harus mengizinkan sistem mendefinisikan cara menyatakan tugas dan +aktivitas di layar ikhtisar, dan Anda tidak perlu memodifikasi perilaku ini.
+ +Perhatian: Kebanyakan aplikasi tidak harus menyela perilaku +default untuk aktivitas dan tugas. Jika merasa bahwa aktivitas Anda perlu memodifikasi +perilaku default, lakukan dengan hati-hati dan pastikan menguji kegunaan aktivitas selama +dijalankan dan saat mengarahkan kembali ke sana dari aktivitas dan tugas lain dengan tombol Back. +Pastikan menguji perilaku navigasi yang mungkin bertentangan dengan perilaku yang diharapkan pengguna.
+ + +Mode peluncuran memungkinkan Anda mendefinisikan cara mengaitkan instance baru dari suatu aktivitas dengan +tugas saat ini. Anda bisa mendefinisikan beragam mode peluncuran dalam dua cara:
+Bila Anda mendeklarasikan aktivitas dalam file manifes, Anda bisa menetapkan cara mengaitkan aktivitas +dengan tugas-tugas saat mulai.
Saat memanggil{@link android.app.Activity#startActivity startActivity()}, +Anda bisa menyertakan flag dalam {@link android.content.Intent} yang menyatakan cara (atau +apakah) aktivitas baru tersebut harus dikaitkan dengan tugas saat ini.
Dengan demikian, jika Aktivitas A memulai Aktivitas B, Aktivitas B bisa mendefinisikan dalam manifesnya cara +mengaitkan dengan tugas saat ini (jika sama sekali) dan Aktivitas A juga bisa meminta cara mengaitkan Aktivitas B +dengan tugas saat ini. Jika kedua aktivitas mendefinisikan cara mengaitkan Aktivitas B +dengan tugas, maka permintaan Aktivitas A (sebagaimana didefinisikan dalam intent) lebih dihargai daripada +permintaan Aktivitas B (sebagaimana didefinisikan dalam manifesnya).
+ +Catatan: Beberapa mode peluncuran yang tersedia untuk file manifes +tidak tersedia sebagai flag untuk intent dan, juga, beberapa mode peluncuran yang tersedia sebagai flag +untuk intent tidak bisa didefinisikan dalam manifest.
+ + +Saat mendeklarasikan aktivitas dalam file manifes, Anda bisa menetapkan cara mengaitkan aktivitas +dengan tugas menggunakan {@code <activity>} +melalui atribut {@code +launchMode} elemen.
+ +Atribut {@code
+launchMode} menetapkan instruksi tentang cara meluncurkan aktivitas
+ke dalam tugas. Ada empat macam mode peluncuran yang bisa Anda tetapkan ke atribut
+launchMode
+:
Misalnya, anggaplah back-stack tugas terdiri dari aktivitas A akar dengan aktivitas B, C, +dan D di bagian teratas (back-stack adalah A-B-C-D; D yang teratas). Intent masuk untuk aktivitas tipe D. +Jika D memiliki mode peluncuran {@code "standard"} default, instance baru dari kelas ini akan diluncurkan dan +back-stack menjadi A-B-C-D-D. Namun, jika mode peluncuran D adalah {@code "singleTop"}, instance +yang ada dari D akan menerima intent melalui {@link +android.app.Activity#onNewIntent onNewIntent()}, karena ada di bagian teratas back-stack— +back-stack tetap A-B-C-D. Akan tetapi, jika intent masuk untuk aktivitas tipe B, maka +instance B baru akan ditambahkan ke back-stack, sekalipun mode peluncuran adalah{@code "singleTop"}.
+Catatan: Bila instance dari aktivitas baru telah dibuat, +pengguna bisa menekan tombol Back untuk kembali ke aktivitas sebelumnya. Namun bila instance +yang ada dari +aktivitas menangani intent baru, pengguna tidak bisa menekan tombol Back untuk kembali ke +status +aktivitas sebelum intent baru masuk di {@link android.app.Activity#onNewIntent +onNewIntent()}.
+Catatan: Meskipun aktivitas dimulai di tugas baru, tombol +Back tetap akan mengembalikan pengguna ke aktivitas sebelumnya.
Sebagai contoh lainnya, aplikasi Browser Android mendeklarasikan bahwa aktivitas browser web harus +selalu dibuka dalam tugasnya sendiri—dengan menetapkan mode pembuka {@code singleTask} dalam elemen{@code <activity>}. +Ini berarti bahwa jika aplikasi Anda mengeluarkan +intent untuk membuka Browser Android, aktivitasnya tidak akan ditempatkan dalam tugas +yang sama seperti aplikasi Anda. Sebagai gantinya, tugas baru akan dimulai untuk Browser atau, jika Browser +sudah memiliki tugas yang berjalan di latar belakang, tugas tersebut akan dimajukan untuk menangani intent +baru.
+ +Baik aktivitas dimulai dalam tugas baru atau maupun dalam tugas yang sama seperti aktivitas yang memulainya, tombol +Back selalu membawa pengguna ke aktivitas sebelumnya. Akan tetapi, jika +Anda memulai aktivitas yang menetapkan mode pembuka {@code singleTask}, maka jika instance +aktivitas tersebut ada dalam tugas latar belakang, seluruh tugas tersebut akan dibawa ke latar depan. Pada titik +ini, back-stack sekarang menyertakan semua aktivitas dari tugas yang dimajukan, di atas +back-stack. Gambar 4 mengilustrasikan tipe skenario ini.
+ +
+Gambar 4. Representasi tentang cara aktivitas dengan +mode pembuka "singleTask" ditambahkan ke back-stack. Jika aktivitas tersebut sudah menjadi bagian dari +tugas latar belakang dengan back-stack sendiri, maka seluruh back-stack juga +dimajukan, di atas tugas saat ini.
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang menggunakan mode pembuka dalam file manifes, lihat dokumentasi elemen
+<activity>
+, di mana atribut {@code launchMode} dan nilai-nilai yang diterima
+akan dibahas selengkapnya.
Catatan: Perilaku yang Anda tentukan untuk aktivitas dengan atribut {@code launchMode} +bisa dikesampingkan dengan flag yang disertakan bersama intent yang memulai aktivitas Anda, seperti dibahas dalam +bagian berikutnya.
+ + + +Saat memulai aktivitas, Anda bisa memodifikasi asosiasi default aktivitas pada tugasnya + dengan menyertakan flag dalam intent yang Anda kirimkan ke {@link +android.app.Activity#startActivity startActivity()}. Flag yang bisa Anda gunakan untuk memodifikasi perilaku default +adalah:
+ ++
Ini menghasilkan perilaku yang sama dengan nilai {@code "singleTask"} {@code launchMode} +yang dibahas di bagian sebelumnya.
Ini menghasilkan perilaku yang sama dengan nilai {@code "singleTop"} {@code launchMode} +yang dibahas di bagian sebelumnya.
Tidak ada nilai untuk atribut {@code launchMode} + yang menghasilkan perilaku ini.
+{@code FLAG_ACTIVITY_CLEAR_TOP} paling sering digunakan bersama dengan + {@code FLAG_ACTIVITY_NEW_TASK}. +Bila digunakan bersama-sama, flag ini adalah cara penempatan aktivitas yang ada +dalam tugas lain dan meletakkannya dalam posisi yang memungkinkannya merespons intent.
+Catatan: Jika mode pembuka aktivitas yang didesain adalah +{@code "standard"}, +ini juga akan dihapus dari back-stack dan instance baru akan diluncurkan di tempatnya untuk menangani +intent yang masuk. Itu karena instance baru selalu dibuat untuk intent baru bila +mode peluncuran adalah {@code "standard"}.
+Afinitas menunjukkan tugas mana yang disukai aktivitas untuk dimiliki. Secara default, semua +aktivitas aplikasi yang sama memiliki afinitas untuk satu sama lain. Jadi, secara default, semua +aktivitas dalam aplikasi yang sama lebih menyukai berada dalam tugas yang sama. Akan tetapi, Anda bisa memodifikasi +afinitas default untuk suatu aktivitas. Aktivitas yang didefinisikan dalam +aplikasi yang berbeda bisa berbagi afinitas, atau aktivitas yang didefinisikan dalam aplikasi yang sama bisa +diberi afinitas tugas yang berbeda.
+ +Anda bisa memodifikasi afinitas untuk setiap yang diberikan +dengan atribut {@code taskAffinity} +elemen {@code <activity>}.
+ +Atribut {@code taskAffinity} +mengambil nilai string, yang harus unik dari nama paket default +yang dideklarasikan dalam elemen +{@code <manifest>} +, karena sistem menggunakan nama untuk mengidentifikasi afinitas +tugas default untuk aplikasi.
+ +Afinitas berperan dalam dua keadaan:
+Aktivitas baru, secara default, diluncurkan ke dalam tugas aktivitas +yang disebut {@link android.app.Activity#startActivity startActivity()}. Ini didorong ke back-stack +yang sama seperti caller. Akan tetapi, jika intent yang diteruskan ke +{@link android.app.Activity#startActivity startActivity()} +berisi flag {@link android.content.Intent#FLAG_ACTIVITY_NEW_TASK} +, maka sistem akan mencari tugas yang berbeda untuk menampung aktivitas baru. Sering kali, itu adalah tugas baru. +Akan tetapi, tidak harus demikian. Jika sudah ada tugas lama dengan afinitas yang sama seperti +aktivitas baru, aktivitas ini akan diluncurkan ke dalam tugas tersebut. Jika tidak, tugas baru akan dimulai.
+ +Jika flag ini menyebabkan aktivitas memulai tugas baru dan pengguna menekan tombol Home +untuk meninggalkannya, +harus ada cara bagi pengguna untuk mengarahkan kembali ke tugas. Beberapa entitas (seperti +notification manager) selalu memulai aktivitas dalam tugas eksternal, tidak pernah sebagai bagian dari miliknya sendiri, jadi +selalu menempatkan {@code FLAG_ACTIVITY_NEW_TASK} dalam intent yang diteruskan ke +{@link android.app.Activity#startActivity startActivity()}. +Jika Anda memiliki aktivitas yang bisa dipanggil melalui +entitas eksternal yang mungkin menggunakan flag ini, hati-hatilah karena pengguna memiliki cara independen untuk kembali +ke tugas yang telah dimulai, seperti dengan ikon launcher (aktivitas akar dari tugas +memiliki filter intent {@link android.content.Intent#CATEGORY_LAUNCHER}; lihat bagian Memulai tugas di bawah ini).
+Dalam hal ini, aktivitas bisa berpindah dari tugas yang dimulainya ke tugas yang afinitasnya +dimilikinya, bila tugas tersebut di bawa ke latar depan.
+Misalnya, anggaplah sebuah aktivitas melaporkan kondisi cuaca di sejumlah kota terpilih +yang didefinisikan sebagai bagian dari aplikasi perjalanan. Aktivitas memiliki afinitas yang sama dengan aktivitas lain dalam aplikasi +yang sama (afinitas aplikasi default) dan aktivitas ini memungkinkan re-parenting dengan atribut ini. +Bila salah satu aktivitas Anda memulai aktivitas laporan cuaca, awalnya aktivitas ini dimiliki oleh tugas +yang sama dengan aktivitas Anda. Akan tetapi, bila tugas aplikasi perjalanan di bawa ke latar depan, +aktivitas laporan cuaca akan ditetapkan kembali ke tugas itu dan ditampilkan di dalamnya.
+Tip: Jika file {@code .apk} berisi lebih dari satu "aplikasi" +dari sudut pandang pengguna, Anda mungkin perlu menggunakan atribut {@code taskAffinity} + untuk menetapkan afinitas berbeda pada aktivitas yang terkait dengan setiap "aplikasi".
+ + + +Jika pengguna meninggalkan tugas dalam waktu yang lama, sistem akan menghapus tugas semua aktivitas kecuali +aktivitas akar. Bila pengguna kembali ke tugas itu lagi, hanya aktivitas akar yang akan dipulihkan. +Sistem berperilaku seperti ini, karena, setelah sekian waktu, pengguna mungkin telah mengabaikan +apa yang mereka kerjakan sebelum dan kembali ke tugas itu untuk memulai sesuatu yang baru.
+ +Ada beberapa atribut aktivitas yang bisa Anda gunakan untuk memodifikasi perilaku ini:
+ +alwaysRetainTaskState
+clearTaskOnLaunchfinishOnTaskLaunch
+Anda bisa mengatur aktivitas sebagai titik masuk untuk tugas dengan memberikan filter intent dengan +{@code "android.intent.action.MAIN"} sebagai tindakan yang ditetapkan dan +{@code "android.intent.category.LAUNCHER"} +sebagai kategori yang ditetapkan. Misalnya:
+ ++<activity ... > + <intent-filter ... > + <action android:name="android.intent.action.MAIN" /> + <category android:name="android.intent.category.LAUNCHER" /> + </intent-filter> + ... +</activity> ++ +
Filter intent semacam ini akan menyebabkan ikon dan label untuk +aktivitas ditampilkan dalam launcher aplikasi, yang akan memberi cara kepada pengguna untuk meluncurkan aktivitas dan +kembali ke tugas yang dibuatnya kapan saja setelah ia telah diluncurkan. +
+ +Kemampuan kedua ini penting: Pengguna harus bisa meninggalkan tugas dan kemudian kembali ke tugas tersebut +nanti dengan menggunakan launcher aktivitas ini. Karena itu, kedua mode +pembuka yang menandai aktivitas selalu memulai tugas, {@code "singleTask"} dan +{@code "singleInstance"}, hanya boleh digunakan bila aktivitas memiliki filter +{@link android.content.Intent#ACTION_MAIN} +dan {@link android.content.Intent#CATEGORY_LAUNCHER}. Bayangkan, misalnya, apa yang akan +terjadi jika filter tidak ada: Intent meluncurkan aktivitas{@code "singleTask"}, memulai +tugas yang baru, dan pengguna menghabiskan lebih banyak waktu mengerjakan tugas tersebut. Pengguna kemudian menekan tombol +Home. Tugas kini dikirim ke latar belakang dan tidak terlihat. Sekarang pengguna tidak memiliki cara untuk kembali +ke tugas tersebut, karena tidak dinyatakan dalam launcher aplikasi.
+ +Untuk kasus-kasus di mana Anda tidak ingin pengguna bisa kembali ke aktivitas, atur dalam
+<activity>
+ pada
+{@code finishOnTaskLaunch}
+elemen ke {@code "true"} (lihat Menghapus back-stack).
Informasi lebih jauh tentang cara menyatakan dan mengelola tugas dan aktivitas dalam +layar ikhtisar tersedia dalam +Layar Ikhtisar.
+ + diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/index.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/index.jd new file mode 100644 index 0000000000000..f24fab690ed98 --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/index.jd @@ -0,0 +1,74 @@ +page.title=Pengantar Android + +@jd:body + + +Untuk mempelajari cara kerja aplikasi, mulailah dengan +Dasar-Dasar Aplikasi.
+Untuk langsung memulai pemrograman, bacalah Membangun Aplikasi Pertama Anda.
+Android menyediakan kerangka kerja aplikasi yang kaya dan memungkinkan Anda membangun aplikasi dan permainan +inovatif untuk perangkat seluler di lingkungan bahasa pemrograman Java. Dokumen yang tercantum di navigasi +sebelah kiri menyediakan detail tentang cara membangun aplikasi menggunakan berbagai API Android.
+ +Jika Anda masih baru dengan pengembangan Android, Anda perlu memahami +konsep dasar berikut mengenai kerangka kerja aplikasi Android:
+ + + + + + diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/platform/j8-jack.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/platform/j8-jack.jd new file mode 100644 index 0000000000000..4389184459029 --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/platform/j8-jack.jd @@ -0,0 +1,197 @@ +page.title=Fitur Bahasa Java 8 +page.keywords="android N", "Java 8", "Jack" +@jd:body + +Android N memperkenalkan dukungan untuk fitur bahasa Java 8 + yang bisa Anda gunakan saat mengembangkan aplikasi yang menargetkan Android N. + Halaman ini menjelaskan fitur bahasa baru yang didukung dalam Android N + Preview, cara menyiapkan proyek Anda dengan benar untuk menggunakannya, dan setiap masalah + yang diketahui yang mungkin Anda temui. +
+ +Untuk mulai menggunakan fitur-fitur ini, Anda perlu mengunduh dan menyiapkan Android +Studio 2.1 dan Android N Preview SDK, yang menyertakan +Jack toolchain yang diperlukan dan Plugin Android untuk Gradle yang telah diperbarui. Jika Anda belum +memasang Android N Preview SDK, lihat Menyiapkan Pengembangan untuk Android N.
+ + + ++ Catatan: Menggunakan fitur bahasa Java 8 yang baru bukanlah + persyaratan untuk mengembangkan aplikasi yang menargetkan platform Android N. Jika Anda + tidak ingin menulis kode dengan fitur bahasa Java 8, Anda bisa membiarkan nilai kompatibilitas + sumber dan target proyek disetel ke Java 7, namun Anda tetap harus + mengompilasi dengan JDK 8 untuk membangun pada platform Android N. +
+ ++ Saat ini tidak semua fitur bahasa Java 8 didukung Android. Akan tetapi, + fitur berikut sekarang tersedia saat mengembangkan aplikasi yang menargetkan + Android N Preview: +
+ ++ Catatan: Untuk menguji ekspresi lambda dan referensi metode pada + Android versi sebelumnya, bukalah file {@code build.gradle} + Anda, serta setel {@code compileSdkVersion} dan {@code targetSdkVersion} ke 23 atau + yang lebih rendah. Anda tetap perlu mengaktifkan Jack + toolchain untuk menggunakan fitur Java 8 ini. +
+ ++ Selain itu, API fitur bahasa Java 8 berikut ini sekarang tersedia: +
+ ++ Agar dapat menggunakan fitur bahasa Java 8 yang baru, Anda juga perlu menggunakan + Jack toolchain yang baru. Toolchain Android + yang baru ini mengompilasi sumber bahasa Java menjadi dex + bytecode yang bisa dibaca Android, memiliki format pustaka {@code .jack} sendiri, dan menyediakan sebagian besar fitur toolchain + sebagai bagian dari alat bantu tunggal: pengemasan ulang, penciutan, pengaburan, dan + multidex. +
+ +Inilah perbandingan dua toolchain yang digunakan untuk membangun file Android DEX:
++ Untuk mengaktifkan fitur bahasa Java 8 dan Jack bagi proyek Anda, masukkan + yang berikut dalam file {@code build.gradle} level modul Anda: +
+ +
+android {
+ ...
+ defaultConfig {
+ ...
+ jackOptions {
+ enabled true
+ }
+ }
+ compileOptions {
+ sourceCompatibility JavaVersion.VERSION_1_8
+ targetCompatibility JavaVersion.VERSION_1_8
+ }
+}
+
+
++ Instant + Run saat ini tidak berfungsi pada Jack dan akan dinonaktifkan saat menggunakan + toolchain baru. +
+ +Karena Jack tidak menghasilkan file kelas antara saat mengompilasi sebuah +aplikasi, alat yang bergantung pada file-file ini sekarang tidak berfungsi pada Jack. Beberapa +contoh alat ini adalah:
+ +Jika Anda menemukan masalah lain saat menggunakan Jack, laporkan bug.
\ No newline at end of file diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/manifest/manifest-intro.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/manifest/manifest-intro.jd new file mode 100644 index 0000000000000..050abf47da02b --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/manifest/manifest-intro.jd @@ -0,0 +1,517 @@ +page.title=Manifes Aplikasi +@jd:body + ++ Setiap aplikasi harus memiliki file AndroidManifest.xml (bernama persis seperti ini) di direktori akar. + File manifes + menyediakan informasi penting tentang aplikasi ke sistem Android, + informasi yang harus dimiliki sistem agar bisa menjalankan setiap kode +aplikasi. Di antaranya, manifes melakukan hal berikut ini: +
+ ++Diagram di bawah ini menampilkan struktur umum file manifes dan setiap +elemen yang bisa ditampungnya. Setiap elemen, bersama +atributnya, didokumentasikan secara lengkap dalam file terpisah. Untuk melihat +informasi terperinci tentang setiap elemen, klik nama elemen dalam diagram, +dalam daftar abjad elemen yang mengikuti diagram, atau penyebutan nama +elemen lainnya. +
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> + +<manifest> + + <uses-permission /> + <permission /> + <permission-tree /> + <permission-group /> + <instrumentation /> + <uses-sdk /> + <uses-configuration /> + <uses-feature /> + <supports-screens /> + <compatible-screens /> + <supports-gl-texture /> + + <application> + + <activity> + <intent-filter> + <action /> + <category /> + <data /> + </intent-filter> + <meta-data /> + </activity> + + <activity-alias> + <intent-filter> . . . </intent-filter> + <meta-data /> + </activity-alias> + + <service> + <intent-filter> . . . </intent-filter> + <meta-data/> + </service> + + <receiver> + <intent-filter> . . . </intent-filter> + <meta-data /> + </receiver> + + <provider> + <grant-uri-permission /> + <meta-data /> + <path-permission /> + </provider> + + <uses-library /> + + </application> + +</manifest> ++ +
+Semua elemen yang bisa muncul dalam file manifes tercantum di bawah ini +dalam urutan abjad. Ini adalah satu-satunya elemen legal; Anda tidak bisa +menambahkan elemen atau atribut sendiri. +
+ +
+<action>
+<activity>
+<activity-alias>
+<application>
+<category>
+<data>
+<grant-uri-permission>
+<instrumentation>
+<intent-filter>
+<manifest>
+<meta-data>
+<permission>
+<permission-group>
+<permission-tree>
+<provider>
+<receiver>
+<service>
+<supports-screens>
+<uses-configuration>
+<uses-feature>
+<uses-library>
+<uses-permission>
+<uses-sdk>
+
+Sebagian konvensi dan aturan berlaku secara umum untuk semua elemen +dan atribut di manifes: +
+ +<manifest> dan
+<application>
+yang diwajibkan, masing-masing harus ada dan hanya boleh terjadi sekali.
+Umumnya elemen lain bisa terjadi berkali-kali atau sama sekali tidak terjadi — meskipun
+setidaknya sebagian dari elemen itu harus ada untuk agar manifes mencapai sesuatu yang
+berarti.
+
++Jika elemen tidak berisi apa pun, berarti elemen itu berisi elemen lain. +Semua nilai diatur melalui atribut, bukan sebagai data karakter dalam elemen. +
+ +
+Elemen yang sama tingkatan umumnya tidak diurutkan. Misalnya, elemen
+<activity>,
+<provider>, dan
+<service>
+bisa dicampur dalam urutan apa pun. (Elemen
+<activity-alias>
+ merupakan eksepsi untuk aturan ini: Elemen ini harus mengikuti
+<activity>
+ini aliasnya.)
+
Selain untuk beberapa atribut elemen akar
+<manifest>,
+ semua nama atribut dimulai dengan awalan {@code android:} —
+misalnya, {@code android:alwaysRetainTaskState}. Karena awalan ini universal, dokumentasi umumnya meniadakannya saat mengacu atribut
+dengan nama.
+
<application>
+) dan aktivitas komponen — utamanya
+(<activity>),
+layanan
+(<service>),
+penerima siaran
+(<receiver>),
+dan penyedia konten
+(<provider>).
+
++Jika mendefinisikan subkelas, seperti yang selalu Anda definisikan untuk kelas komponen +({@link android.app.Activity}, {@link android.app.Service}, +{@link android.content.BroadcastReceiver}, dan {@link android.content.ContentProvider}), +subkelas dideklarasikan melalui atribut {@code name}. Nama harus menyertakan tujuan +paket lengkap. +Misalnya, subkelas {@link android.app.Service} mungkin dideklarasikan sebagai berikut: +
+ +<manifest . . . > + <application . . . > + <service android:name="com.example.project.SecretService" . . . > + . . . + </service> + . . . + </application> +</manifest>+ +
+Akan tetapi, sebagai shorthand, jika karakter pertama string adalah titik,
+string akan ditambahkan ke nama paket aplikasi (seperti yang ditetapkan dalam elemen
+<manifest>
+ melalui atribut
+package
+). Penetapan berikut sama dengan di atas:
+
<manifest package="com.example.project" . . . > + <application . . . > + <service android:name=".SecretService" . . . > + . . . + </service> + . . . + </application> +</manifest>+ +
+Saat memulai komponen, Android akan membuat instance subkelas yang diberi nama. +Jika subkelas tidak ditetapkan, maka akak dibuat instance kelas dasar. +
<intent-filter . . . > + <action android:name="android.intent.action.EDIT" /> + <action android:name="android.intent.action.INSERT" /> + <action android:name="android.intent.action.DELETE" /> + . . . +</intent-filter>
{@code @[package:]type:name}
+ ++dalam hal ini nama package boleh dihilangkan jika sumber daya ada dalam paket yang sama dengan +dengan aplikasi, type adalah tipe sumber daya — seperti "string" atau +"drawable" — dan name adalah nama yang mengidentifikasi sumber daya tertentu. +Misalnya: +
+ +<activity android:icon="@drawable/smallPic" . . . >+ +
+Nilai tema diekspresikan dengan cara yang sama, namun dengan awal '{@code ?}' +dan bukan '{@code @}': +
+ +{@code ?[package:]type:name} +
+Bagian berikut menjelaskan cara menerapkan sebagian fitur Android +dalam file manifest. +
+ + ++Komponen inti dari aplikasi (aktivitasnya, layanannya, dan penerima +siaran) diaktifkan oleh intent. Intent adalah +sekumpulan informasi (objek {@link android.content.Intent}) yang menjelaskan +tindakan yang diinginkan — termasuk data yang akan ditindaklanjuti, kategori +komponen yang harus melakukan tindakan, dan petunjuk terkait lainnya. +Android mencari komponen yang sesuai untuk merespons intent, meluncurkan +instance komponen baru jika diperlukan, dan meneruskannya ke +objek Intent. +
+ +
+Komponen mengiklankan kemampuannya — jenis intent yang bisa diresponsnya
+ — melalui filter intent. Karena sistem Android
+harus mempelajari intent yang dapat ditangani komponen sebelum meluncurkan komponen,
+filter intent ditetapkan dalam manifes sebagai elemen
+<intent-filter>
+. Sebuah komponen dapat memiliki filter dalam jumlah berapa saja, masing-masing menjelaskan
+kemampuan yang berbeda.
+
+Intent yang secara eksplisit menamai komponen target akan mengaktifkan komponen itu; +filter tidak berperan. Namun intent yang tidak menetapkan target +dengan nama dapat mengaktifkan komponen hanya jika dapat melewati salah satu filter +komponen. +
+ ++Untuk informasi tentang cara objek Intent diuji terhadap filter intent, +lihat dokumen terpisah, +Intent +dan Filter Intent. +
+ + +
+Sejumlah elemen memiliki atribut {@code icon} dan {@code label} untuk
+ikon kecil dan label teks yang bisa ditampilkan kepada pengguna. Sebagian ada juga yang memiliki atribut
+{@code description}untuk teks penjelasan yang lebih panjang yang juga bisa
+ditampilkan pada layar. Misalnya, elemen
+<permission>
+ memiliki ketiga atribut ini, jadi saat pengguna ditanya apakah akan
+memberi izin bagi aplikasi yang memintanya, ikon yang mewakili
+izin, nama izin, dan keterangan yang
+mengikutinya bisa ditampilkan kepada pengguna.
+
+Dalam setiap kasus, ikon dan label yang ditetapkan dalam elemen yang memuatnya menjadi
+{@code icon} default dan pengaturan {@code label} untuk semua subelemen kontainer ini.
+Karena itu, ikon dan label yang ditetapkan dalam elemen
+<application>
+adalah ikon dan label default untuk setiap komponen aplikasi.
+Demikian pula, ikon dan label yang ditetapkan untuk komponen — misalnya, elemen
+<activity>
+— adalah pengaturan default untuk setiap elemen komponen
+<intent-filter>
+. Jika elemen
+<application>
+menetapkan label, namun suatu aktivitas dan filter intent-nya tidak menetapkan label,
+maka label aplikasi akan dianggap sama-sama sebagai label aktvitas dan
+filter intent.
+
+Ikon dan label yang ditetapkan untuk filter intent digunakan untuk mewakili komponen +kapan saja komponen ditampilkan kepada pengguna saat memenuhi fungsi yang +diiklankan oleh filter. Misalnya, filter dengan pengaturan +"{@code android.intent.action.MAIN}" dan +"{@code android.intent.category.LAUNCHER}" mengiklankan aktivitas +sebagai aktivitas yang memulai aplikasi—, yaitu +sebagai salah satu aktivitas yang harus ditampilkan dalam launcher aplikasi. Ikon dan label yang +diatur dalam filter karenanya adalah ikon dan label yang ditampilkan dalam launcher. +
+ + ++Sebuah izin adalah pembatasan yang membatasi akses ke bagian +kode atau ke data pada perangkat. Pembatasan diberlakukan untuk melindungi data dan kode +penting yang bisa disalahgunakan untuk mengganggu atau merusak pengalaman pengguna. +
+ ++Setiap izin diidentifikasi melalui label yang unik. Sering kali, label menunjukkan +tindakan yang dibatasi. Misalnya, berikut ini adalah beberapa izin yang didefinisikan +oleh Android: +
+ +{@code android.permission.CALL_EMERGENCY_NUMBERS}
+
{@code android.permission.READ_OWNER_DATA}
+
{@code android.permission.SET_WALLPAPER}
+
{@code android.permission.DEVICE_POWER}
+Sebuah fitur bisa dilindungi paling banyak oleh satu izin. +
+ +
+Jika aplikasi memerlukan akses ke fitur yang dilindungi oleh izin,
+aplikasi harus mendeklarasikan bahwa aplikasi memerlukan izin itu dengan elemen
+<uses-permission>
+ dalam manifes. Kemudian, bila aplikasi telah diinstal pada
+perangkat, installer akan menentukan apakah izin yang diminta akan diberikan atau tidak
+dengan memeriksa otoritas yang menandatangani
+sertifikat aplikasi dan, dalam beberapa kasus, bertanya pada pengguna.
+Jika izin diberikan, aplikasi tersebut bisa menggunakan
+fitur yang dilindungi. Jika tidak, upaya aplikasi untuk mengakses fitur tersebut akan gagal
+tanpa ada pemberitahuan apa pun kepada pengguna.
+
+Aplikasi juga bisa melindungi komponennya sendiri (aktivitas, layanan,
+penerima siaran, dan penyedia konten) dengan izin. Aplikasi bisa menerapkan
+izin mana pun yang didefinisikan oleh Android (tercantum dalam
+{@link android.Manifest.permission android.Manifest.permission}) atau dideklarasikan
+oleh aplikasi lain. Atau aplikasi bisa mendefinisikannya sendiri. Izin baru dideklarasikan
+dengan elemen
+<permission>
+. Misalnya, aktivitas dapat dilindungi sebagai berikut:
+
+<manifest . . . > + <permission android:name="com.example.project.DEBIT_ACCT" . . . /> + <uses-permission android:name="com.example.project.DEBIT_ACCT" /> + . . . + <application . . .> + <activity android:name="com.example.project.FreneticActivity" + android:permission="com.example.project.DEBIT_ACCT" + . . . > + . . . + </activity> + </application> +</manifest> ++ +
+Perhatikan, dalam contoh ini izin {@code DEBIT_ACCT} tidak hanya
+dideklarasikan dengan elemen
+<permission>
+, penggunaannya juga diminta dengan elemen
+<uses-permission>
+. Penggunaannya harus diminta agar komponen
+aplikasi lainnya bisa menjalankan aktivitas yang dilindungi, meskipun perlindungan itu
+diberlakukan oleh aplikasi itu sendiri.
+
+Dalam contoh yang sama, jika atribut {@code permission} ditetapkan
+untuk izin yang dideklarasikan di tempat lain
+lain (seperti {@code android.permission.CALL_EMERGENCY_NUMBERS}, maka atribut
+tidak perlu mendeklarasikannya lagi dengan elemen
+<permission>
+. Akan tetapi, penggunaannya masih perlu dengan
+<uses-permission>.
+
+Elemen
+<permission-tree>
+mendeklarasikan namespace untuk grup izin yang akan didefinisikan dalam
+kode. Dan
+<permission-group>
+mendefinisikan label untuk seperangkat izin (yang sama-sama dideklarasikan dalam manifes dengan elemen
+<permission>
+dan yang dideklarasikan di tempat lain). Ini hanya memengaruhi cara izin
+dikelompokkan saat ditampilkan kepada pengguna. Elemen
+<permission-group>
+ tidak menetapkan izin mana dimiliki grup;
+elemen hanya memberi nama grup. Izin ditempatkan dalam grup
+dengan memberikan nama grup ke elemen
+<permission>
+ melalui atribut
+permissionGroup
+.
+
+Setiap aplikasi ditautkan dengan pustaka default Android, yang +menyertakan paket dasar untuk membangun aplikasi (dengan kelas umum +seperti Activity, Service, Intent, View, Button, Application, ContentProvider, +dan sebagainya). +
+ +
+Akan tetapi, sebagian paket berada dalam pustakanya sendiri. Jika aplikasi Anda
+menggunakan kode salah satu paket ini, aplikasi secara eksplisit meminta untuk ditautkan dengan
+paket tersebut. Manifes harus berisi elemen
+<uses-library> yang
+terpisah untuk menamai setiap pustaka. (Nama pustaka bisa ditemukan
+dalam dokumentasi paket.)
+
Penyedia Kalender adalah repository untuk kejadian kalender seorang pengguna. API +Penyedia Kalender memungkinkan Anda melakukan query, menyisipkan, memperbarui, dan menghapus +pada kalender, kejadian, peserta, pengingat, dan seterusnya.
+ + +API Penyedia Kalender bisa digunakan oleh aplikasi dan adaptor sinkronisasi. Aturannya +bervariasi menurut tipe program yang membuat panggilan. Dokumen ini +terutama berfokus pada penggunaan API Penyedia Kalender sebagai sebuah aplikasi. Untuk +pembahasan ragam adaptor sinkronisasi, lihat +Adaptor Sinkronisasi.
+ + +Biasanya, untuk membaca atau menulis data kalender, manifes aplikasi harus +berisi izin yang sesuai, yang dijelaskan dalam Izin +Pengguna. Untuk mempermudah dilakukannya operasi umum, +Penyedia Kalender menyediakan satu set intent, seperti dijelaskan dalam Intent +Kalender. Semua intent ini membawa pengguna ke aplikasi Kalender untuk menyisipkan, menampilkan, +dan mengedit kejadian. Pengguna berinteraksi dengan aplikasi Kalender kemudian +kembali ke aplikasi semula. Jadi, aplikasi Anda tidak perlu meminta izin, +juga tidak perlu menyediakan antarmuka pengguna untuk menampilkan atau membuat kejadian.
+ +Penyedia konten menyimpan data dan menjadikannya bisa diakses oleh +aplikasi. Penyedia konten yang ditawarkan oleh platform Android (termasuk Penyedia Kalender) biasanya mengekspos data sebagai satu set tabel berdasarkan +model database relasional, dengan tiap baris berupa record dan tiap kolom berupa data +yang memiliki tipe dan arti tertentu. Melalui API Penyedia Kalender, aplikasi +dan adaptor sinkronisasi bisa mendapatkan akses baca/tulis ke tabel-tabel database yang menyimpan +data kalender seorang pengguna.
+ +Setiap penyedia konten membuka sebuah URI publik (yang dibungkus sebagai objek
+{@link android.net.Uri}
+) yang mengidentifikasikan set datanya secara unik. Penyedia konten yang mengontrol
+ beberapa set data (beberapa tabel) mengekspos URI terpisah untuk tiap set. Semua
+URI untuk penyedia diawali dengan string "content://". String ini
+mengidentifikasi data sebagai dikontrol oleh penyedia konten. Penyedia Kalender
+mendefinisikan konstanta untuk URI masing-masing kelas (tabel). URI ini
+memiliki format <class>.CONTENT_URI. Misalnya,
+{@link android.provider.CalendarContract.Events#CONTENT_URI Events.CONTENT_URI}.
Gambar 1 menampilkan representasi grafis model data Penyedia Kalender. Gambar ini menampilkan +tabel dan bidang utama yang saling berkaitan.
+ +
+Gambar 1. Model data Penyedia Kalender.
+ +Seorang pengguna bisa memiliki beberapa kalender, dan kalender yang berbeda bisa dikaitkan dengan tipe akun yang berbeda (Google Calendar, Exchange, dan seterusnya).
+ +{@link android.provider.CalendarContract} mendefinisikan model data dari informasi yang terkait dengan kalender dan kejadian. Data ini disimpan di sejumlah tabel, yang dicantumkan di bawah ini.
+ +| Tabel (Kelas) | +Keterangan | +
|---|---|
{@link android.provider.CalendarContract.Calendars} |
+
+ Tabel ini menyimpan +informasi khusus kalender. Tiap baris dalam tabel ini berisi data untuk +satu kalender, seperti nama, warna, informasi sinkronisasi, dan seterusnya. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.Events} | + +Tabel ini menyimpan +informasi khusus kejadian. Tiap baris dalam tabel ini berisi informasi untuk satu +kejadian—misalnya, judul kejadian, lokasi, waktu mulai, waktu +selesai, dan seterusnya. Kejadian bisa terjadi satu kali atau bisa berulang beberapa kali. Peserta, +pengingat, dan properti perluasan disimpan dalam tabel terpisah. +Masing-masing memiliki sebuah {@link android.provider.CalendarContract.AttendeesColumns#EVENT_ID} +yang mengacu {@link android.provider.BaseColumns#_ID} dalam tabel Events. | + +
| {@link android.provider.CalendarContract.Instances} | + +Tabel ini menyimpan +waktu mulai dan waktu selesai setiap bentuk kejadian. Tiap baris dalam tabel ini +mewakili satu bentuk kejadian. Untuk kejadian satu kali ada pemetaan 1:1 +antara instance dan kejadian. Untuk kejadian berulang, beberapa baris akan dibuat +secara otomatis yang sesuai dengan beberapa kejadian itu. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.Attendees} | + +Tabel ini menyimpan +informasi peserta (tamu) kejadian. Tiap baris mewakili satu tamu +kejadian. Ini menetapkan tipe tamu dan respons kehadiran tamu +untuk kejadian. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.Reminders} | + +Tabel ini menyimpan +data peringatan/pemberitahuan. Tiap baris mewakili satu peringatan untuk sebuah kejadian. Sebuah +kejadian bisa memiliki beberapa pengingat. Jumlah maksimum pengingat per kejadian +ditetapkan dalam +{@link android.provider.CalendarContract.CalendarColumns#MAX_REMINDERS}, +yang diatur oleh adaptor sinkronisasi yang +memiliki kalender yang diberikan. Pengingat ditetapkan dalam menit sebelum kejadian +dan memiliki metode yang menentukan cara pengguna akan diperingatkan. | +
API Penyedia Kalender didesain agar luwes dan tangguh. Sementara itu +, Anda perlu memberikan pengalaman pengguna akhir yang baik dan +melindungi integritas kalender dan datanya. Untuk mencapainya, berikut ini adalah +beberapa hal yang harus diingat saat menggunakan API ini:
+ +Untuk membaca data kalender, aplikasi harus menyertakan izin {@link +android.Manifest.permission#READ_CALENDAR} dalam file manifesnya. File +harus menyertakan izin {@link android.Manifest.permission#WRITE_CALENDAR} +untuk menghapus, menyisipkan, atau memperbarui data kalender:
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<manifest xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"...> + <uses-sdk android:minSdkVersion="14" /> + <uses-permission android:name="android.permission.READ_CALENDAR" /> + <uses-permission android:name="android.permission.WRITE_CALENDAR" /> + ... +</manifest> ++ + +
Tabel {@link android.provider.CalendarContract.Calendars} berisi data +untuk tiap kalender. Kolom-kolom +berikut ini bisa ditulisi oleh aplikasi maupun adaptor sinkronisasi. +Untuk mengetahui daftar lengkap bidang-bidang yang didukung, lihat +acuan {@link android.provider.CalendarContract.Calendars}.
+| Konstanta | +Keterangan | +
|---|---|
| {@link android.provider.CalendarContract.Calendars#NAME} | +Nama kalender. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.Calendars#CALENDAR_DISPLAY_NAME} | +Nama kalender ini yang ditampilkan kepada pengguna. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.Calendars#VISIBLE} | + +Sebuah boolean yang menunjukkan apakah kalender dipilih untuk ditampilkan. Nilai +0 menunjukkan bahwa kejadian yang terkait dengan kalender ini tidak boleh +ditampilkan. Nilai 1 menunjukkan bahwa kejadian yang terkait dengan kalender ini harus +ditampilkan. Nilai ini memengaruhi pembuatan baris dalam tabel {@link +android.provider.CalendarContract.Instances}. | + + +
| {@link android.provider.CalendarContract.CalendarColumns#SYNC_EVENTS} | + +Sebuah boolean yang menunjukkan apakah kalender harus disinkronkan dan apakah +kejadiannya harus disimpan pada perangkat. Nilai 0 berarti jangan menyinkronkan kalender ini atau +simpan kejadiannya pada perangkat. Nilai 1 berarti menyinkronkan kejadian untuk kalender ini +dan simpan kejadiannya pada perangkat. | +
Berikut ini adalah contoh yang menampilkan cara mendapatkan kalender yang dimiliki oleh +pengguna tertentu. Untuk memudahkan, dalam contoh ini, operasi query ditampilkan dalam +thread antarmuka pengguna ("thread utama"). Dalam praktiknya, hal ini harus dilakukan dalam +thread asinkron, sebagai ganti pada thread utama. Untuk diskusi selengkapnya, lihat +Loader. Jika Anda tidak sekadar +membaca data melainkan memodifikasinya, lihat {@link android.content.AsyncQueryHandler}. +
+ + +
+// Projection array. Creating indices for this array instead of doing
+// dynamic lookups improves performance.
+public static final String[] EVENT_PROJECTION = new String[] {
+ Calendars._ID, // 0
+ Calendars.ACCOUNT_NAME, // 1
+ Calendars.CALENDAR_DISPLAY_NAME, // 2
+ Calendars.OWNER_ACCOUNT // 3
+};
+
+// The indices for the projection array above.
+private static final int PROJECTION_ID_INDEX = 0;
+private static final int PROJECTION_ACCOUNT_NAME_INDEX = 1;
+private static final int PROJECTION_DISPLAY_NAME_INDEX = 2;
+private static final int PROJECTION_OWNER_ACCOUNT_INDEX = 3;
+
+
+Jika Anda membuat query pada {@link
+android.provider.CalendarContract.Calendars#ACCOUNT_NAME
+Calendars.ACCOUNT_NAME}, Anda juga harus menyertakan
+{@link android.provider.CalendarContract.Calendars#ACCOUNT_TYPE Calendars.ACCOUNT_TYPE}
+dalam pemilihan. Itu karena akun yang bersangkutan
+hanya dianggap unik mengingat ACCOUNT_NAME dan
+ACCOUNT_TYPE-nya. ACCOUNT_TYPE adalah string yang sesuai dengan
+autentikator akun yang digunakan bila akun didaftarkan dengan
+{@link android.accounts.AccountManager}. Ada juga sebuah tipe akun khusus yang disebut {@link
+android.provider.CalendarContract#ACCOUNT_TYPE_LOCAL} untuk kalender
+yang tidak terkait dengan akun perangkat. Akun {@link
+android.provider.CalendarContract#ACCOUNT_TYPE_LOCAL} tidak
+disinkronkan.
Di bagian berikutnya pada contoh ini, Anda akan membuat query. Pemilihan
+akan menetapkan kriteria untuk query. Dalam contoh ini, query mencari
+kalender yang memiliki ACCOUNT_NAME
+"sampleuser@google.com", ACCOUNT_TYPE
+"com.google", dan OWNER_ACCOUNT
+"sampleuser@google.com". Jika Anda ingin melihat semua kalender yang
+telah ditampilkan pengguna, bukan hanya kalender yang dimiliki pengguna, hilangkan OWNER_ACCOUNT.
+Query tersebut akan menghasilkan objek {@link android.database.Cursor}
+yang bisa Anda gunakan untuk menyusuri set hasil yang dikembalikan oleh
+query database. Untuk diskusi selengkapnya tentang penggunaan query dalam penyedia konten,
+lihat Penyedia Kalender.
// Run query
+Cursor cur = null;
+ContentResolver cr = getContentResolver();
+Uri uri = Calendars.CONTENT_URI;
+String selection = "((" + Calendars.ACCOUNT_NAME + " = ?) AND ("
+ + Calendars.ACCOUNT_TYPE + " = ?) AND ("
+ + Calendars.OWNER_ACCOUNT + " = ?))";
+String[] selectionArgs = new String[] {"sampleuser@gmail.com", "com.google",
+ "sampleuser@gmail.com"};
+// Submit the query and get a Cursor object back.
+cur = cr.query(uri, EVENT_PROJECTION, selection, selectionArgs, null);
+
+Bagian berikutnya ini menggunakan kursor untuk merunut set hasil. Bagian ini menggunakan +konstanta yang disiapkan pada awal contoh ini untuk menghasilkan nilai-nilai +bagi tiap bidang.
+ +// Use the cursor to step through the returned records
+while (cur.moveToNext()) {
+ long calID = 0;
+ String displayName = null;
+ String accountName = null;
+ String ownerName = null;
+
+ // Get the field values
+ calID = cur.getLong(PROJECTION_ID_INDEX);
+ displayName = cur.getString(PROJECTION_DISPLAY_NAME_INDEX);
+ accountName = cur.getString(PROJECTION_ACCOUNT_NAME_INDEX);
+ ownerName = cur.getString(PROJECTION_OWNER_ACCOUNT_INDEX);
+
+ // Do something with the values...
+
+ ...
+}
+
+
+Untuk melakukan pembaruan kalender, Anda bisa menyediakan {@link
+android.provider.BaseColumns#_ID} kalender itu baik sebagai ID yang ditambahkan ke
+URI
+
+({@link android.content.ContentUris#withAppendedId(android.net.Uri,long) withAppendedId()})
+atau sebagai item pemilihan pertama. Pemilihan
+harus diawali dengan "_id=?", dan
+selectionArg pertama harus berupa {@link
+android.provider.BaseColumns#_ID} kalender.
+Anda juga bisa melakukan pembaruan dengan menuliskan kode ID dalam URI. Contoh ini mengubah
+nama tampilan kalender dengan pendekatan
+({@link android.content.ContentUris#withAppendedId(android.net.Uri,long) withAppendedId()})
+:
private static final String DEBUG_TAG = "MyActivity"; +... +long calID = 2; +ContentValues values = new ContentValues(); +// The new display name for the calendar +values.put(Calendars.CALENDAR_DISPLAY_NAME, "Trevor's Calendar"); +Uri updateUri = ContentUris.withAppendedId(Calendars.CONTENT_URI, calID); +int rows = getContentResolver().update(updateUri, values, null, null); +Log.i(DEBUG_TAG, "Rows updated: " + rows);+ +
Kalender didesain untuk dikelola terutama oleh sebuah adaptor sinkronisasi, sehingga Anda +hanya boleh menyisipkan kalender baru sebagai adaptor sinkronisasi. Biasanya, +aplikasi hanya bisa membuat perubahan semu pada kalender, misalnya mengubah nama tampilan. Jika +perlu membuat sebuah kalender lokal, aplikasi bisa melakukannya dengan melakukan +penyisipan kalender sebagai adaptor sinkronisasi, menggunakan {@link +android.provider.CalendarContract.SyncColumns#ACCOUNT_TYPE} dari {@link +android.provider.CalendarContract#ACCOUNT_TYPE_LOCAL}. +{@link android.provider.CalendarContract#ACCOUNT_TYPE_LOCAL} +adalah sebuah tipe akun khusus untuk kalender yang tidak +terkait dengan akun perangkat. Kalender tipe ini tidak disinkronkan dengan server. Untuk +diskusi tentang adaptor sinkronisasi, lihat Adaptor Sinkronisasi.
+ +Tabel {@link android.provider.CalendarContract.Events} berisi detail +untuk tiap kejadian. Untuk menambah, memperbarui, atau menghapus kejadian, aplikasi harus +menyertakan izin {@link android.Manifest.permission#WRITE_CALENDAR} dalam +file manifesnya.
+ +Kolom-kolom Events berikut ini bisa ditulis oleh aplikasi maupun +adaptor sinkronisasi. Untuk mengetahui daftar lengkap bidang-bidang yang didukung, lihat acuan {@link +android.provider.CalendarContract.Events}.
+ +| Konstanta | +Keterangan | +
|---|---|
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#CALENDAR_ID} | +{@link android.provider.BaseColumns#_ID} kalender yang dimiliki kejadian. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#ORGANIZER} | +Email pengatur (pemilik) kejadian. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#TITLE} | +Judul kejadian. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#EVENT_LOCATION} | +Tempat kejadian. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#DESCRIPTION} | +Keterangan kejadian. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#DTSTART} | +Waktu mulai kejadian dalam milidetik UTC sejak waktu patokan. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#DTEND} | +Waktu selesai kejadian dalam milidetik UTC sejak waktu patokan. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#EVENT_TIMEZONE} | +Zona waktu kejadian. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#EVENT_END_TIMEZONE} | +Zona waktu untuk waktu selesai kejadian. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#DURATION} | + +Durasi kejadian dalam format RFC5545.
+Misalnya, nilai "PT1H" menyatakan bahwa kejadian
+akan berlangsung satu jam, dan nilai "P2W" menunjukkan
+durasi 2 minggu. |
+
+
+
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#ALL_DAY} | + +Nilai 1 menunjukkan kejadian ini memakan waktu sehari penuh, seperti yang didefinisikan oleh +zona waktu lokal. Nilai 0 menunjukkan kejadian adalah kejadian biasa yang mungkin dimulai +dan selesai pada sembarang waktu selama suatu hari. | + + +
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#RRULE} | + +Aturan perulangan untuk format kejadian. Misalnya,
+"FREQ=WEEKLY;COUNT=10;WKST=SU". Anda bisa menemukan
+contoh selengkapnya di sini. |
+
+
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#RDATE} | +Tanggal perulangan kejadian. + Anda biasanya menggunakan {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#RDATE} + bersama dengan {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#RRULE} + untuk mendefinisikan satu set agregat +kejadian berulang. Untuk diskusi selengkapnya, lihat Spesifikasi RFC5545. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#AVAILABILITY} | + +Jika kejadian ini dihitung sebagai waktu sibuk atau waktu bebas yang bisa +dijadwalkan. | + +
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#GUESTS_CAN_MODIFY} | +Apakah tamu bisa memodifikasi kejadian atau tidak. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#GUESTS_CAN_INVITE_OTHERS} | +Apakah tamu bisa mengundang tamu lain atau tidak. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#GUESTS_CAN_SEE_GUESTS} | +Apakah tamu bisa membaca daftar peserta atau tidak. | +
Bila aplikasi Anda menyisipkan kejadian baru, sebaiknya Anda menggunakan +Intent {@link android.content.Intent#ACTION_INSERT INSERT}, seperti dijelaskan dalam Menggunakan intent untuk menyisipkan kejadian. Akan tetapi, jika +perlu, Anda bisa menyisipkan kejadian secara langsung. Bagian ini menjelaskan +caranya.
+ + +Berikut ini adalah aturan untuk menyisipkan kejadian baru:
+Berikut ini adalah contoh penyisipan kejadian. Penyisipan ini dilakukan dalam thread UI +demi kemudahan. Dalam praktiknya, penyisipan dan pembaruan harus dilakukan di +thread asinkron untuk memindahkan tindakan ke dalam thread latar belakang. Untuk +informasi selengkapnya, lihat {@link android.content.AsyncQueryHandler}.
+ + ++long calID = 3; +long startMillis = 0; +long endMillis = 0; +Calendar beginTime = Calendar.getInstance(); +beginTime.set(2012, 9, 14, 7, 30); +startMillis = beginTime.getTimeInMillis(); +Calendar endTime = Calendar.getInstance(); +endTime.set(2012, 9, 14, 8, 45); +endMillis = endTime.getTimeInMillis(); +... + +ContentResolver cr = getContentResolver(); +ContentValues values = new ContentValues(); +values.put(Events.DTSTART, startMillis); +values.put(Events.DTEND, endMillis); +values.put(Events.TITLE, "Jazzercise"); +values.put(Events.DESCRIPTION, "Group workout"); +values.put(Events.CALENDAR_ID, calID); +values.put(Events.EVENT_TIMEZONE, "America/Los_Angeles"); +Uri uri = cr.insert(Events.CONTENT_URI, values); + +// get the event ID that is the last element in the Uri +long eventID = Long.parseLong(uri.getLastPathSegment()); +// +// ... do something with event ID +// +//+ +
Catatan: Perhatikan cara contoh ini menangkap ID kejadian +setelah kejadian dibuat. Inilah cara termudah untuk mendapatkan ID kejadian. Anda akan sering +memerlukan ID kejadian untuk melakukan operasi kalender lainnya—misalnya, untuk menambahkan +peserta atau pengingat ke kejadian.
+ + +Bila aplikasi Anda ingin memperbolehkan pengguna mengedit kejadian, sebaiknya
+gunakan Intent {@link android.content.Intent#ACTION_EDIT EDIT}, seperti
+dijelaskan dalam Menggunakan intent untuk mengedit kejadian.
+Akan tetapi, jika perlu, Anda bisa mengedit kejadian secara langsung. Untuk melakukan pembaruan
+suatu kejadian, Anda bisa memberikan _ID
+kejadian itu sebagai ID yang ditambahkan ke URI ({@link
+android.content.ContentUris#withAppendedId(android.net.Uri,long) withAppendedId()})
+atau sebagai item pemilihan pertama.
+Pemilihan harus dimulai dengan "_id=?", dan
+selectionArg yang pertama harus berupa _ID kejadian. Anda juga bisa
+melakukan pembaruan dengan menggunakan pemilihan tanpa ID. Berikut ini adalah contoh pembaruan
+kejadian. Contoh ini mengubah judul kejadian dengan pendekatan
+{@link android.content.ContentUris#withAppendedId(android.net.Uri,long) withAppendedId()}
+:
private static final String DEBUG_TAG = "MyActivity"; +... +long eventID = 188; +... +ContentResolver cr = getContentResolver(); +ContentValues values = new ContentValues(); +Uri updateUri = null; +// The new title for the event +values.put(Events.TITLE, "Kickboxing"); +updateUri = ContentUris.withAppendedId(Events.CONTENT_URI, eventID); +int rows = getContentResolver().update(updateUri, values, null, null); +Log.i(DEBUG_TAG, "Rows updated: " + rows);+ +
Anda bisa menghapus kejadian dengan {@link +android.provider.BaseColumns#_ID} sebagai ID yang ditambahkan pada URI, atau dengan +pemilihan standar. Jika Anda menggunakan ID yang ditambahkan, Anda tidak bisa melakukan pemilihan. +Ada dua versi penghapusan: sebagai aplikasi dan sebagai adaptor sinkronisasi. Penghapusan +aplikasi mengatur kolom yang dihapus ke 1. Flag ini yang memberi tahu +adaptor sinkronisasi bahwa baris telah dihapus dan bahwa penghapusan ini harus +diberitahukan ke server. Penghapusan adaptor sinkronisasi menghapus kejadian dari +database bersama semua data terkaitnya. Berikut ini adalah contoh aplikasi +yang menghapus kejadian melalui {@link android.provider.BaseColumns#_ID}-nya:
+ + +private static final String DEBUG_TAG = "MyActivity"; +... +long eventID = 201; +... +ContentResolver cr = getContentResolver(); +ContentValues values = new ContentValues(); +Uri deleteUri = null; +deleteUri = ContentUris.withAppendedId(Events.CONTENT_URI, eventID); +int rows = getContentResolver().delete(deleteUri, null, null); +Log.i(DEBUG_TAG, "Rows deleted: " + rows); ++ +
Tiap baris tabel {@link android.provider.CalendarContract.Attendees} +mewakili satu peserta atau tamu dari sebuah kejadian. Memanggil +{@link android.provider.CalendarContract.Reminders#query(android.content.ContentResolver, long, java.lang.String[]) query()} +akan menghasilkan daftar peserta untuk +kejadian dengan {@link android.provider.CalendarContract.AttendeesColumns#EVENT_ID} yang diberikan. +{@link android.provider.CalendarContract.AttendeesColumns#EVENT_ID} ini +harus cocok dengan {@link +android.provider.BaseColumns#_ID} kejadian tertentu.
+ +Tabel berikut mencantumkan
+bidang-bidang yang bisa ditulis. Saat menyisipkan peserta baru, Anda harus menyertakan semuanya
+kecuali ATTENDEE_NAME.
+
| Konstanta | +Keterangan | +
|---|---|
| {@link android.provider.CalendarContract.AttendeesColumns#EVENT_ID} | +ID kejadian. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.AttendeesColumns#ATTENDEE_NAME} | +Nama peserta. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.AttendeesColumns#ATTENDEE_EMAIL} | +Alamat email peserta. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.AttendeesColumns#ATTENDEE_RELATIONSHIP} | +Hubungan peserta dengan kejadian. Salah satu dari: +
|
+
| {@link android.provider.CalendarContract.AttendeesColumns#ATTENDEE_TYPE} | +Tipe peserta. Salah satu dari: +
|
+
| {@link android.provider.CalendarContract.AttendeesColumns#ATTENDEE_STATUS} | +Status kehadiran peserta. Salah satu dari: +
|
+
Berikut ini adalah contoh yang menambahkan satu peserta ke kejadian. Perhatikan bahwa +{@link android.provider.CalendarContract.AttendeesColumns#EVENT_ID} +diperlukan:
+ ++long eventID = 202; +... +ContentResolver cr = getContentResolver(); +ContentValues values = new ContentValues(); +values.put(Attendees.ATTENDEE_NAME, "Trevor"); +values.put(Attendees.ATTENDEE_EMAIL, "trevor@example.com"); +values.put(Attendees.ATTENDEE_RELATIONSHIP, Attendees.RELATIONSHIP_ATTENDEE); +values.put(Attendees.ATTENDEE_TYPE, Attendees.TYPE_OPTIONAL); +values.put(Attendees.ATTENDEE_STATUS, Attendees.ATTENDEE_STATUS_INVITED); +values.put(Attendees.EVENT_ID, eventID); +Uri uri = cr.insert(Attendees.CONTENT_URI, values); ++ +
Tiap baris tabel {@link android.provider.CalendarContract.Reminders} +mewakili satu pengingat untuk sebuah kejadian. Memanggil +{@link android.provider.CalendarContract.Reminders#query(android.content.ContentResolver, long, java.lang.String[]) query()} akan menghasilkan daftar pengingat untuk +kejadian dengan +{@link android.provider.CalendarContract.AttendeesColumns#EVENT_ID} yang diberikan.
+ + +Tabel berikut mencantumkan bidang-bidang yang bisa ditulis untuk pengingat. Semua bidang harus +disertakan saat menyisipkan pengingat baru. Perhatikan bahwa adaptor sinkronisasi menetapkan +tipe pengingat yang didukungnya dalam tabel {@link +android.provider.CalendarContract.Calendars}. Lihat +{@link android.provider.CalendarContract.CalendarColumns#ALLOWED_REMINDERS} +untuk detailnya.
+ + +| Konstanta | +Keterangan | +
|---|---|
| {@link android.provider.CalendarContract.RemindersColumns#EVENT_ID} | +ID kejadian. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.RemindersColumns#MINUTES} | +Menit yang ditunggu untuk memicu kejadian pengingat. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.RemindersColumns#METHOD} | +Metode alarm, seperti yang diatur pada server. Salah satu dari: +
|
+
Contoh ini menambahkan pengingat ke kejadian. Pengingat dipicu 15 +menit sebelum kejadian.
++long eventID = 221; +... +ContentResolver cr = getContentResolver(); +ContentValues values = new ContentValues(); +values.put(Reminders.MINUTES, 15); +values.put(Reminders.EVENT_ID, eventID); +values.put(Reminders.METHOD, Reminders.METHOD_ALERT); +Uri uri = cr.insert(Reminders.CONTENT_URI, values);+ +
Tabel +{@link android.provider.CalendarContract.Instances} menyimpan +waktu mulai dan waktu selesai kejadian. Tiap baris dalam tabel ini +mewakili satu bentuk kejadian. Tabel instance tidak bisa ditulis dan hanya +menyediakan sebuah cara untuk membuat query kejadian.
+ +Tabel berikut mencantumkan beberapa bidang yang bisa Anda query untuk suatu instance. Perhatikan +bahwa zona waktu didefinisikan oleh +{@link android.provider.CalendarContract.CalendarCache#KEY_TIMEZONE_TYPE} +dan +{@link android.provider.CalendarContract.CalendarCache#KEY_TIMEZONE_INSTANCES}.
+ + +| Konstanta | +Keterangan | +
|---|---|
| {@link android.provider.CalendarContract.Instances#BEGIN} | +Waktu mulai instance, dalam milidetik UTC. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.Instances#END} | +Waktu selesai instance, dalam milidetik UTC. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.Instances#END_DAY} | + +Hari selesai Julian dari instance, relatif terhadap +zona waktu Kalender. + + | +
| {@link android.provider.CalendarContract.Instances#END_MINUTE} | + +Menit selesai dari instance yang diukur dari tengah malam di zona waktu +Kalender. | + +
| {@link android.provider.CalendarContract.Instances#EVENT_ID} | +Kejadian _ID untuk instance ini. |
+
| {@link android.provider.CalendarContract.Instances#START_DAY} | +Hari mulai Julian dari instance, relatif terhadap zona waktu Kalender. + | +
| {@link android.provider.CalendarContract.Instances#START_MINUTE} | + +Menit mulai dari instance yang diukur dari tengah malam, relatif terhadap +zona waktu Kalender. + | + +
Untuk membuat query tabel Instances, Anda perlu menetapkan rentang waktu query +dalam URI. Dalam contoh ini, {@link android.provider.CalendarContract.Instances} +mendapatkan akses ke bidang {@link +android.provider.CalendarContract.EventsColumns#TITLE} melalui +implementasi antarmuka {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns}-nya. +Dengan kata lain, {@link +android.provider.CalendarContract.EventsColumns#TITLE} dihasilkan melalui +tampilan database, bukan melalui query terhadap tabel {@link +android.provider.CalendarContract.Instances} mentah.
+ +
+private static final String DEBUG_TAG = "MyActivity";
+public static final String[] INSTANCE_PROJECTION = new String[] {
+ Instances.EVENT_ID, // 0
+ Instances.BEGIN, // 1
+ Instances.TITLE // 2
+ };
+
+// The indices for the projection array above.
+private static final int PROJECTION_ID_INDEX = 0;
+private static final int PROJECTION_BEGIN_INDEX = 1;
+private static final int PROJECTION_TITLE_INDEX = 2;
+...
+
+// Specify the date range you want to search for recurring
+// event instances
+Calendar beginTime = Calendar.getInstance();
+beginTime.set(2011, 9, 23, 8, 0);
+long startMillis = beginTime.getTimeInMillis();
+Calendar endTime = Calendar.getInstance();
+endTime.set(2011, 10, 24, 8, 0);
+long endMillis = endTime.getTimeInMillis();
+
+Cursor cur = null;
+ContentResolver cr = getContentResolver();
+
+// The ID of the recurring event whose instances you are searching
+// for in the Instances table
+String selection = Instances.EVENT_ID + " = ?";
+String[] selectionArgs = new String[] {"207"};
+
+// Construct the query with the desired date range.
+Uri.Builder builder = Instances.CONTENT_URI.buildUpon();
+ContentUris.appendId(builder, startMillis);
+ContentUris.appendId(builder, endMillis);
+
+// Submit the query
+cur = cr.query(builder.build(),
+ INSTANCE_PROJECTION,
+ selection,
+ selectionArgs,
+ null);
+
+while (cur.moveToNext()) {
+ String title = null;
+ long eventID = 0;
+ long beginVal = 0;
+
+ // Get the field values
+ eventID = cur.getLong(PROJECTION_ID_INDEX);
+ beginVal = cur.getLong(PROJECTION_BEGIN_INDEX);
+ title = cur.getString(PROJECTION_TITLE_INDEX);
+
+ // Do something with the values.
+ Log.i(DEBUG_TAG, "Event: " + title);
+ Calendar calendar = Calendar.getInstance();
+ calendar.setTimeInMillis(beginVal);
+ DateFormat formatter = new SimpleDateFormat("MM/dd/yyyy");
+ Log.i(DEBUG_TAG, "Date: " + formatter.format(calendar.getTime()));
+ }
+ }
+
+Aplikasi Anda tidak memerlukan izin untuk membaca dan menulis data kalender. Sebagai gantinya, aplikasi bisa menggunakan intent yang didukung oleh aplikasi Kalender Android untuk menyerahkan operasi baca dan tulis ke aplikasi itu. Tabel berikut mencantumkan intent yang didukung oleh Penyedia Kalender:
+| Tindakan | +URI | + +Keterangan | +Ekstra | +
|---|---|---|---|
+ {@link android.content.Intent#ACTION_VIEW VIEW} |
+
|
+ Membuka kalender pada waktu yang ditetapkan oleh <ms_since_epoch>. |
+ Tidak ada. | +
{@link android.content.Intent#ACTION_VIEW VIEW} + + |
+
|
+ Menampilkan kejadian yang ditetapkan oleh <event_id>. |
+
+ {@link android.provider.CalendarContract#EXTRA_EVENT_BEGIN_TIME CalendarContract.EXTRA_EVENT_BEGIN_TIME} + + + {@link android.provider.CalendarContract#EXTRA_EVENT_END_TIME CalendarContract.EXTRA_EVENT_END_TIME} |
+
| {@link android.content.Intent#ACTION_EDIT EDIT} | +
|
+ Mengedit kejadian yang ditetapkan oleh <event_id>. |
+
+ {@link android.provider.CalendarContract#EXTRA_EVENT_BEGIN_TIME CalendarContract.EXTRA_EVENT_BEGIN_TIME} + + + {@link android.provider.CalendarContract#EXTRA_EVENT_END_TIME CalendarContract.EXTRA_EVENT_END_TIME} |
+
| {@link android.content.Intent#ACTION_EDIT EDIT} + + {@link android.content.Intent#ACTION_INSERT INSERT} |
+
|
+
+ Membuat sebuah kejadian. | +Ekstra apa saja yang tercantum dalam tabel di bawah. | +
Tabel berikut mencantumkan ekstra intent yang didukung oleh Penyedia Kalender: +
+| Ekstra Intent | +Keterangan | +
|---|---|
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#TITLE Events.TITLE} | +Nama kejadian. | +
| {@link android.provider.CalendarContract#EXTRA_EVENT_BEGIN_TIME +CalendarContract.EXTRA_EVENT_BEGIN_TIME} | +Waktu mulai kejadian dalam milidetik sejak waktu patokan. | +
| {@link android.provider.CalendarContract#EXTRA_EVENT_END_TIME +CalendarContract.EXTRA_EVENT_END_TIME} | + +Waktu selesai kejadian dalam milidetik sejak waktu patokan. | +
| {@link android.provider.CalendarContract#EXTRA_EVENT_ALL_DAY +CalendarContract.EXTRA_EVENT_ALL_DAY} | + +Sebuah boolean yang menunjukkan bahwa kejadian sehari penuh. Nilai bisa
+true atau false. |
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#EVENT_LOCATION +Events.EVENT_LOCATION} | + +Lokasi kejadian. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#DESCRIPTION +Events.DESCRIPTION} | + +Keterangan kejadian. | +
| + {@link android.content.Intent#EXTRA_EMAIL Intent.EXTRA_EMAIL} | +Alamat email mereka yang harus diundang berupa daftar yang dipisahkan koma. | +
| + {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#RRULE Events.RRULE} | +Aturan perulangan kejadian. | +
| + {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#ACCESS_LEVEL +Events.ACCESS_LEVEL} | + +Apakah kejadian bersifat privat atau publik. | +
| {@link android.provider.CalendarContract.EventsColumns#AVAILABILITY +Events.AVAILABILITY} | + +Jika kejadian ini dihitung sebagai waktu sibuk atau waktu bebas yang bisa dijadwalkan. | + +
Bagian berikut menjelaskan cara menggunakan semua intent ini.
+ + +Penggunaan Intent {@link android.content.Intent#ACTION_INSERT INSERT} +akan memungkinkan aplikasi Anda menyerahkan tugas penyisipan kejadian ke Kalender itu sendiri. +Dengan pendekatan ini, aplikasi Anda bahkan tidak perlu menyertakan izin {@link +android.Manifest.permission#WRITE_CALENDAR} dalam file manifesnya.
+ + +Bila pengguna menjalankan aplikasi yang menggunakan pendekatan ini, aplikasi akan mengirim +izin ke Kalender untuk menyelesaikan penambahan kejadian. Intent {@link +android.content.Intent#ACTION_INSERT INSERT} menggunakan bidang-bidang ekstra +untuk mengisi formulir lebih dahulu dengan detail kejadian dalam Kalender. Pengguna nanti bisa +membatalkan kejadian, mengedit formulir sebagaimana diperlukan, atau menyimpan kejadian ke +kalender mereka.
+ + + +Berikut ini adalah cuplikan kode yang menjadwalkan kejadian pada tanggal 19 Januari 2012, yang berjalan +dari 7:30 pagi hingga 8:30 pagi Perhatikan hal-hal berikut tentang cuplikan kode ini:
+ ++Calendar beginTime = Calendar.getInstance(); +beginTime.set(2012, 0, 19, 7, 30); +Calendar endTime = Calendar.getInstance(); +endTime.set(2012, 0, 19, 8, 30); +Intent intent = new Intent(Intent.ACTION_INSERT) + .setData(Events.CONTENT_URI) + .putExtra(CalendarContract.EXTRA_EVENT_BEGIN_TIME, beginTime.getTimeInMillis()) + .putExtra(CalendarContract.EXTRA_EVENT_END_TIME, endTime.getTimeInMillis()) + .putExtra(Events.TITLE, "Yoga") + .putExtra(Events.DESCRIPTION, "Group class") + .putExtra(Events.EVENT_LOCATION, "The gym") + .putExtra(Events.AVAILABILITY, Events.AVAILABILITY_BUSY) + .putExtra(Intent.EXTRA_EMAIL, "rowan@example.com,trevor@example.com"); +startActivity(intent); ++ +
Anda bisa memperbarui kejadian secara langsung, seperti dijelaskan dalam Memperbarui kejadian. Namun penggunaan Intent {@link +android.content.Intent#ACTION_EDIT EDIT} memungkinkan aplikasi yang +tidak memiliki izin untuk menyerahkan pengeditan kejadian ke aplikasi Kalender. +Bila pengguna selesai mengedit kejadian dalam Kalender, pengguna akan dikembalikan ke +aplikasi semula.
Berikut ini adalah contoh intent yang mengatur +judul baru bagi kejadian yang ditetapkan dan memungkinkan pengguna mengedit kejadian dalam Kalender.
+ + +long eventID = 208; +Uri uri = ContentUris.withAppendedId(Events.CONTENT_URI, eventID); +Intent intent = new Intent(Intent.ACTION_EDIT) + .setData(uri) + .putExtra(Events.TITLE, "My New Title"); +startActivity(intent);+ +
Penyedia Kalender menyediakan dua cara menggunakan Intent {@link android.content.Intent#ACTION_VIEW VIEW}:
+Berikut ini adalah contoh yang menampilkan cara membuka Kalender pada tanggal tertentu:
+// A date-time specified in milliseconds since the epoch.
+long startMillis;
+...
+Uri.Builder builder = CalendarContract.CONTENT_URI.buildUpon();
+builder.appendPath("time");
+ContentUris.appendId(builder, startMillis);
+Intent intent = new Intent(Intent.ACTION_VIEW)
+ .setData(builder.build());
+startActivity(intent);
+
+Berikut ini adalah contoh yang menampilkan cara membuka kejadian untuk menampilkan:
+long eventID = 208; +... +Uri uri = ContentUris.withAppendedId(Events.CONTENT_URI, eventID); +Intent intent = new Intent(Intent.ACTION_VIEW) + .setData(uri); +startActivity(intent); ++ + +
Hanya ada perbedaan kecil dalam cara aplikasi dan adaptor sinkronisasi +mengakses Penyedia Kalender:
+ +true.ACCOUNT_NAME dan
+ACCOUNT_TYPE yang ditetapkannya.Berikut ini adalah metode pembantu yang bisa Anda gunakan untuk menghasilkan URI bagi penggunaan dengan adaptor sinkronisasi:
+ static Uri asSyncAdapter(Uri uri, String account, String accountType) {
+ return uri.buildUpon()
+ .appendQueryParameter(android.provider.CalendarContract.CALLER_IS_SYNCADAPTER,"true")
+ .appendQueryParameter(Calendars.ACCOUNT_NAME, account)
+ .appendQueryParameter(Calendars.ACCOUNT_TYPE, accountType).build();
+ }
+
+Untuk contoh implementasi adaptor sinkronisasi (yang tidak terkait secara khusus dengan Kalender), lihat +SampleSyncAdapter. diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/providers/contacts-provider.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/providers/contacts-provider.jd new file mode 100644 index 0000000000000..994c56b5300b0 --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/providers/contacts-provider.jd @@ -0,0 +1,2356 @@ +page.title=Penyedia Kontak +@jd:body +
+ Penyedia Kontak adalah komponen Android yang tangguh dan fleksibel dalam mengelola + repository data pusat tentang orang di perangkat. Penyedia Kontak adalah sumber data + yang Anda lihat dalam aplikasi kontak perangkat, dan Anda juga bisa mengakses datanya dalam aplikasi + Anda sendiri serta mentransfer data antara perangkat dan layanan online. Penyedia mengakomodasi + berbagai sumber data dan mencoba mengelola data sebanyak mungkin untuk setiap orang, sehingga + organisasinya menjadi kompleks. Karena itu, API penyedia menyertakan + satu set kelas kontrak dan antarmuka ekstensif yang membantu pengambilan dan + modifikasi data. +
++ Panduan ini menjelaskan hal-hal berikut: +
++ Panduan ini beranggapan bahwa Anda mengetahui dasar-dasar penyedia konten Android. Untuk mengetahui selengkapnya + tentang penyedia konten Android, bacalah + panduan + Dasar-Dasar Penyedia Konten. Contoh aplikasi + Sample Sync Adapter + adalah contoh penggunaan adaptor sinkronisasi untuk mentransfer data antara Penyedia Kontak + dan contoh aplikasi yang memiliki host di Google Web Services. +
++ Penyedia Kontak adalah komponen penyedia konten Android. Komponen ini memelihara tiga tipe + data tentang seseorang, masing-masing disesuaikan dengan tabel yang ditawarkan oleh penyedia, seperti + yang terlihat dalam gambar 1: +
+
++ Gambar 1. Struktur tabel Penyedia Kontak. +
++ Ketiga tabel disebut secara umum menurut nama kelas kontrak. Kelas + mendefinisikan konstanta untuk URI konten, nama kolom, dan nilai kolom yang digunakan oleh tabel-tabel: +
++ Tabel lain yang diwakili oleh kelas kontrak dalam {@link android.provider.ContactsContract} + adalah tabel tambahan yang digunakan Penyedia Kontak untuk mengelola operasinya atau mendukung + fungsi tertentu dalam kontak atau aplikasi telepon perangkat. +
++ Kontak mentah mewakili data seseorang yang berasal dari satu tipe akun dan nama + akun. Karena Penyedia Kontak memungkinkan lebih dari satu layanan online sebagai sumber + data untuk satu orang, Penyedia Kontak memungkinkan multikontak mentah untuk orang yang sama. + Multikontak mentah juga memungkinkan seorang pengguna mengombinasikan data seseorang dari lebih dari satu akun + bertipe akun yang sama. +
++ Sebagian besar data untuk kontak mentah tidak disimpan dalam + tabel {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts}. Sebagai gantinya, data tersebut disimpan dalam satu atau beberapa baris + dalam tabel {@link android.provider.ContactsContract.Data}. Setiap baris data memiliki kolom + {@link android.provider.ContactsContract.DataColumns#RAW_CONTACT_ID Data.RAW_CONTACT_ID} yang + berisi nilai {@code android.provider.BaseColumns#_ID RawContacts._ID} dari + baris {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts} induknya. +
++ Kolom-kolom penting dalam tabel {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts} + tercantum pada tabel 1. Bacalah catatan yang diberikan setelah tabel: +
++ Tabel 1. Kolom-kolom kontak mentah yang penting. +
+| Nama kolom | +Kegunaan | +Catatan | +
|---|---|---|
| + {@link android.provider.ContactsContract.SyncColumns#ACCOUNT_NAME} + | ++ Nama akun untuk tipe akun yang merupakan sumber kontak mentah ini. + Misalnya, nama akun dari akun Google adalah salah satu alamat Gmail + pemilik perangkat. Lihat entri berikutnya untuk + {@link android.provider.ContactsContract.SyncColumns#ACCOUNT_TYPE} untuk informasi + selengkapnya. + | ++ Format nama ini khusus untuk tipe akun ini. Format ini tidak + harus alamat email. + | +
| + {@link android.provider.ContactsContract.SyncColumns#ACCOUNT_TYPE} + | +
+ Tipe akun yang merupakan sumber kontak mentah ini. Misalnya, tipe
+ akun dari akun Google adalah com.google. Selalu batasi tipe akun Anda
+ dengan identifier domain untuk domain yang Anda miliki atau kontrol. Hal ini akan memastikan bahwa tipe
+ akun Anda bersifat unik.
+ |
+ + Tipe akun yang menawarkan data kontak biasanya memiliki adaptor sinkronisasi terkait yang + menyinkronkan dengan Penyedia Kontak. + |
| + {@link android.provider.ContactsContract.RawContactsColumns#DELETED} + | ++ Flag "deleted" untuk kontak mentah. + | ++ Flag ini memungkinkan Penyedia Kontak memelihara baris secara internal hingga adaptor + sinkronisasi bisa menghapus baris dari server mereka dan akhirnya menghapus baris + dari repository. + | +
+ Berikut ini adalah catatan penting tentang + tabel {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts}: +
++ Misalnya, Anda menginginkan aplikasi memelihara data kontak untuk layanan berbasis web + dengan domain {@code com.example.dataservice}, dan akun pengguna untuk layanan Anda + adalah {@code becky.sharp@dataservice.example.com}, pengguna harus menambahkan lebih dahulu "type" + akun ({@code com.example.dataservice}) dan "name" akun + ({@code becky.smart@dataservice.example.com}) sebelum aplikasi Anda bisa menambahkan baris kontak mentah. + Anda bisa menjelaskan ketentuan ini kepada pengguna dalam dokumentasi, atau meminta + pengguna untuk menambahkan tipe dan nama, atau keduanya. Tipe akun dan nama akun + dijelaskan lebih detail di bagian berikutnya. +
+ Untuk memahami cara kerja kontak mentah, perhatikan pengguna "Emily Dickinson" yang mendefinisikan + tiga akun pengguna berikut pada perangkatnya: +
+emily.dickinson@gmail.comemilyd@gmail.com+ Pengguna ini telah mengaktifkan Sync Contacts untuk ketiga akun dalam pengaturan + Accounts. +
+
+ Anggaplah Emily Dickinson membuka jendela browser, masuk ke Gmail sebagai
+ emily.dickinson@gmail.com, membuka
+ Contacts, dan menambahkan "Thomas Higginson". Kemudian, ia masuk ke Gmail sebagai
+ emilyd@gmail.com dan mengirimkan email kepada "Thomas Higginson", yang
+ menambahkan Thomas secara otomatis sebagai kontak. Ia juga mengikuti "colonel_tom" (ID Twitter Thomas Higginson) di
+ Twitter.
+
+ Penyedia Kontak membuat tiga kontak mentah akibat pekerjaan ini: +
+emily.dickinson@gmail.com.
+ Tipe akun penggunanya adalah Google.
+ emilyd@gmail.com.
+ Tipe akun pengguna juga Google. Ada kontak mentah kedua
+ meskipun nama tersebut identik dengan nama sebelumnya karena orang bersangkutan ditambahkan untuk
+ akun pengguna yang berbeda.
+
+ Seperti yang telah disebutkan, data untuk kontak mentah disimpan dalam
+ baris {@link android.provider.ContactsContract.Data} yang ditautkan dengan nilai
+ _ID kontak mentah. Cara ini memungkinkan satu kontak mentah memiliki beberapa instance tipe data
+ yang sama dengan alamat email atau nomor telepon. Misalnya, jika
+ "Thomas Higginson" untuk {@code emilyd@gmail.com} (baris kontak mentah untuk Thomas Higginson
+ yang dikaitkan dengan akun Google emilyd@gmail.com) memiliki alamat email rumah
+ thigg@gmail.com dan alamat email kerja
+ thomas.higginson@gmail.com, Penyedia Kontak akan menyimpan dua baris alamat
+ email dan menautkan keduanya ke kontak mentah.
+
+ Perhatikan bahwa tipe data yang berbeda disimpan dalam satu tabel ini. Baris-baris nama tampilan, + nomor telepon, email, alamat surat, foto, dan data situs web semuanya bisa ditemukan dalam + tabel {@link android.provider.ContactsContract.Data}. Untuk membantu mengelola ini, + tabel {@link android.provider.ContactsContract.Data} memiliki beberapa kolom dengan nama deskriptif, + dalam kolom lain dengan nama generik. Konten kolom bernama deskriptif memiliki arti yang sama + terlepas dari tipe data dalam barisnya, sedangkan konten kolom bernama generik memiliki + arti yang berbeda-beda sesuai dengan tipe data. +
++ Beberapa contoh nama kolom deskriptif adalah: +
+_ID kontak mentah untuk data ini.
+
+ Ada 15 kolom generik bernama DATA1 hingga
+ DATA15 yang tersedia secara umum dan empat kolom generik
+ tambahan SYNC1 hingga SYNC4 yang harus digunakan hanya oleh adaptor
+ sinkronisasi. Konstanta nama kolom generik selalu berfungsi, terlepas dari tipe
+ data dalam baris .
+
+ Kolom DATA1 diindeks. Penyedia Kontak selalu menggunakan kolom ini untuk
+ data yang diharapkan penyedia akan menjadi target yang paling sering dari suatu query. Misalnya,
+ dalam baris email, kolom ini berisi alamat email sebenarnya.
+
+ Sesuai konvensi, kolom DATA15 dicadangkan untuk menyimpan data Binary Large Object
+ (BLOB) seperti thumbnail foto.
+
+ Guna memudahkan pekerjaan dengan kolom untuk tipe baris tertentu, Penyedia Kontak + juga menyediakan konstanta nama kolom bertipe spesifik, yang didefinisikan dalam subkelas + {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds}. Konstanta cuma memberikan nama + konstanta yang berbeda ke nama kolom yang sama, yang membantu Anda mengakses data dalam baris + bertipe spesifik. +
++ Misalnya, kelas {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds.Email} mendefinisikan + konstanta nama kolom bertipe spesifik untuk baris {@link android.provider.ContactsContract.Data} + yang memiliki tipe MIME + {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds.Email#CONTENT_ITEM_TYPE + Email.CONTENT_ITEM_TYPE}. Kelas ini berisi konstanta + {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds.Email#ADDRESS} untuk kolom + alamat email. Nilai sesungguhnya dari + {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds.Email#ADDRESS} adalah "data1", yang + sama dengan nama generik kolom. +
+
+ Perhatian: Jangan tambahkan data custom Anda sendiri ke
+ tabel {@link android.provider.ContactsContract.Data} dengan menggunakan baris yang memiliki salah satu
+ tipe MIME yang telah didefinisikan penyedia. Jika melakukannya, Anda bisa kehilangan data atau menyebabkan penyedia
+ gagal berfungsi. Misalnya, Anda seharusnya tidak menambahkan baris bertipe MIME
+ {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds.Email#CONTENT_ITEM_TYPE
+ Email.CONTENT_ITEM_TYPE} yang berisi nama pengguna sebagai ganti alamat email dalam
+ kolom DATA1. Jika Anda menggunakan tipe MIME custom sendiri untuk baris bersangkutan, maka Anda bebas
+ untuk mendefinisikan nama kolom bertipe spesifik dan menggunakan kolom sekehendak Anda.
+
+ Gambar 2 menampilkan cara kolom deskriptif dan kolom data muncul dalam + baris {@link android.provider.ContactsContract.Data}, dan cara nama kolom bertipe spesifik "melapisi" + nama kolom generik +
+
++ Gambar 2. Nama kolom bertipe spesifik dan nama kolom generik. +
++ Tabel 2 berisi daftar kelas nama kolom bertipe spesifik yang paling umum digunakan: +
++ Tabel 2. Kelas nama kolom bertipe spesifik
+| Kelas pemetaan | +Tipe data | +Catatan | +
|---|---|---|
| {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds.StructuredName} | +Data nama untuk kontak mentah yang dikaitkan dengan baris data ini. | +Kontak mentah hanya memiliki salah satu baris ini. | +
| {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds.Photo} | +Foto utama untuk kontak mentah yang dikaitkan dengan baris data ini. | +Kontak mentah hanya memiliki salah satu baris ini. | +
| {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds.Email} | +Alamat email untuk kontak mentah yang dikaitkan dengan baris data ini. | +Kontak mentah bisa memiliki beberapa alamat email. | +
| {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds.StructuredPostal} | +Alamat pos untuk kontak mentah yang dikaitkan dengan baris data ini. | +Kontak mentah bisa memiliki beberapa alamat email. | +
| {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds.GroupMembership} | +Identifier yang menautkan kontak mentah ke salah satu grup dalam Penyedia Kontak. | ++ Grup adalah fitur opsional pada tipe akun dan nama akun. Grup dijelaskan + lebih detail di bagian Grup kontak. + | +
+ Penyedia Kontak mengombinasikan baris kontak mentah di semua tipe akun dan nama akun + untuk membentuk kontak. Hal ini memudahkan menampilkan dan memodifikasi semua data + yang telah dikumpulkan pengguna untuk seseorang. Penyedia Kontak mengelola pembuatan baris + kontak baru, dan agregasi kontak mentah dengan baris kontak yang ada. Baik aplikasi maupun adaptor sinkronisasi + tidak boleh menambahkan kontak dan sebagian kolom dalam baris kontak yang bersifat hanya baca. +
++ Catatan: Jika Anda mencoba menambahkan kontak ke Penyedia Kontak dengan + {@link android.content.ContentResolver#insert(Uri,ContentValues) insert()}, Anda akan mendapatkan + eksepsi {@link java.lang.UnsupportedOperationException}. Jika Anda mencoba memperbarui sebuah kolom + yang tercantum sebagai "hanya-baca", pembaruan akan diabaikan. +
++ Penyedia Kontak membuat kontak baru untuk merespons penambahan kontak mentah baru + yang tidak cocok dengan kontak yang ada. Penyedia juga melakukan ini jika data + kontak mentah yang ada berubah sehingga tidak lagi cocok dengan kontak yang + sebelumnya dihubungkan. Jika aplikasi atau adaptor sinkronisasi membuat kontak mentah baru yang + memang cocok dengan kontak yang ada, kontak mentah baru akan diagregasikan ke kontak + yang ada. +
+
+ Penyedia Kontak menautkan baris kontak ke baris kontak mentahnya dengan kolom
+ _ID dari baris kontak dalam tabel {@link android.provider.ContactsContract.Contacts Contacts}.
+ Kolom CONTACT_ID tabel kontak mentah
+ {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts} berisi nilai _ID untuk
+ baris kontak yang dikaitkan dengan tiap baris kontak mentah.
+
+ Tabel {@link android.provider.ContactsContract.Contacts} juga memiliki kolom + {@code android.provider.ContactsContract.ContactsColumns#LOOKUP_KEY} yang merupakan + tautan "permanen" ke baris kontak. Karena memelihara kontak + secara otomatis, Penyedia Kontak bisa mengubah nilai {@code android.provider.BaseColumns#_ID} baris kontak + untuk merespons agregasi atau sinkronisasi. Sekalipun ini terjadi, URI konten + {@link android.provider.ContactsContract.Contacts#CONTENT_LOOKUP_URI} yang dikombinasikan dengan + {@code android.provider.ContactsContract.ContactsColumns#LOOKUP_KEY} kontak akan tetap + menunjuk ke baris kontak itu, sehingga Anda bisa menggunakan + {@code android.provider.ContactsContract.ContactsColumns#LOOKUP_KEY} + untuk memelihara tautan ke kontak "favorit", dan seterusnya. Kolom ini memiliki formatnya sendiri, yang + tidak terkait dengan format kolom {@code android.provider.BaseColumns#_ID}. +
++ Gambar 3 menampilkan cara ketiga tabel utama terkait satu sama lain. +
+
++ Gambar 3. Hubungan tabel Contacts, Raw Contacts, dan Details. +
++ Pengguna memasukkan data kontak secara langsung ke dalam perangkat, namun data juga mengalir masuk ke Penyedia Kontak + dari layanan web melalui adaptor sinkronisasi, yang mengotomatiskan + transfer data antara perangkat dan layanan. Adaptor sinkronisasi berjalan di latar belakang + di bawah kontrol sistem, dan memanggil metode {@link android.content.ContentResolver} + untuk mengelola data. +
++ Di Android, layanan web yang digunakan adaptor sinkronisasi diidentifikasi melalui tipe akun. + Setiap adaptor sinkronisasi bekerja dengan satu tipe akun, tetapi bisa mendukung beberapa nama akun untuk + tipe itu. Tipe akun dan nama akun dijelaskan secara singkat di bagian + Sumber data kontak mentah. Definisi berikut menyediakan + detail selengkapnya, dan menjelaskan cara tipe dan nama akun berkaitan dengan adaptor sinkronisasi dan layanan. +
+google.com. Nilai ini sesuai dengan tipe akun yang digunakan oleh
+ {@link android.accounts.AccountManager}.
+ + Tipe akun tidak harus unik. Pengguna boleh mengonfigurasi beberapa akun Google Contacts + dan mengunduh data ke Penyedia Kontak; ini mungkin terjadi jika pengguna memiliki satu set + kontak pribadi untuk satu nama akun pribadi, dan satu set lagi untuk pekerjaan. Nama akun + biasanya unik. Bersama-sama, keduanya mengidentifikasi aliran data tertentu antara Penyedia Kontak dan + layanan eksternal. +
++ Jika Anda ingin mentransfer data layanan ke Penyedia Kontak, Anda perlu menulis + adaptor sinkronisasi sendiri. Hal ini dijelaskan lebih detail di bagian + Adaptor Sinkronisasi Penyedia Kontak. +
++ Gambar 4 menampilkan cara Penyedia Kontak dimasukkan ke dalam aliran data + tentang orang. Dalam kotak bertanda "sync adapters", setiap adaptor diberi label menurut tipe akunnya. +
+
++ Gambar 4. Aliran data Penyedia Kontak. +
++ Aplikasi yang ingin mengakses Penyedia Kontak harus meminta izin + berikut: +
+AndroidManifest.xml dengan elemen
+
+ <uses-permission> sebagai
+ <uses-permission android:name="android.permission.READ_CONTACTS">.
+ AndroidManifest.xml dengan elemen
+
+ <uses-permission> sebagai
+ <uses-permission android:name="android.permission.WRITE_CONTACTS">.
+ + Izin ini tidak diperluas ke data profil pengguna. Profil pengguna dan izin + yang diperlukan dibahas di bagian berikut, + Profil Pengguna. +
++ Ingatlah bahwa data kontak pengguna bersifat pribadi dan sensitif. Pengguna mempersoalkan + privasinya, sehingga tidak ingin aplikasi mengumpulkan data tentang diri atau kontak mereka. + Jika alasan Anda memerlukan izin untuk mengakses data kontak tidak jelas, pengguna mungkin memberi + aplikasi Anda peringkat rendah atau langsung menolak menginstalnya. +
+
+ Tabel {@link android.provider.ContactsContract.Contacts} berisi satu baris yang berisi
+ data profil untuk pengguna perangkat. Data ini menjelaskan data perangkat user bukannya
+ salah satu kontak pengguna. Baris kontak profil ditautkan ke baris
+ kontak mentah untuk setiap sistem yang menggunakan profil.
+ Setiap baris kontak mentah profil bisa memiliki beberapa baris data. Konstanta untuk mengakses profil
+ pengguna tersedia dalam kelas {@link android.provider.ContactsContract.Profile}.
+
+ Akses ke profil pengguna memerlukan izin khusus. Selain itu, izin + {@link android.Manifest.permission#READ_CONTACTS} dan + {@link android.Manifest.permission#WRITE_CONTACTS} diperlukan untuk membaca dan menulis, akses + ke profil pengguna memerlukan masing-masing izin {@code android.Manifest.permission#READ_PROFILE} dan + {@code android.Manifest.permission#WRITE_PROFILE} untuk akses baca dan tulis. + +
++ Ingatlah bahwa Anda harus mempertimbangkan profil pengguna bersifat sensitif. Izin + {@code android.Manifest.permission#READ_PROFILE} memungkinkan Anda mengakses data yang mengidentifikasi secara pribadi + pengguna perangkat. Pastikan memberi tahu pengguna alasan + Anda memerlukan izin akses profil pengguna dalam keterangan aplikasi Anda. +
++ Untuk mengambil baris kontak berisi profil pengguna, + panggil {@link android.content.ContentResolver#query(Uri,String[], String, String[], String) + ContentResolver.query()}. Atur URI konten ke + {@link android.provider.ContactsContract.Profile#CONTENT_URI} dan jangan sediakan + kriteria pemilihan apa pun. Anda juga bisa menggunakan URI konten ini sebagai URI dasar untuk mengambil kontak + mentah atau data untuk profil. Misalnya, cuplikan kode ini mengambil data untuk profil: +
+
+// Sets the columns to retrieve for the user profile
+mProjection = new String[]
+ {
+ Profile._ID,
+ Profile.DISPLAY_NAME_PRIMARY,
+ Profile.LOOKUP_KEY,
+ Profile.PHOTO_THUMBNAIL_URI
+ };
+
+// Retrieves the profile from the Contacts Provider
+mProfileCursor =
+ getContentResolver().query(
+ Profile.CONTENT_URI,
+ mProjection ,
+ null,
+ null,
+ null);
+
++ Catatan: Jika Anda mengambil beberapa baris kontak, dan ingin menentukan apakah salah satu baris + adalah profil pengguna, uji + kolom {@link android.provider.ContactsContract.ContactsColumns#IS_USER_PROFILE} pada baris tersebut. Kolom ini + diatur ke "1" jika kontak adalah profil pengguna. +
++ Penyedia Kontak mengelola data yang mencatat status data kontak dalam + repository. Metadata repository ini disimpan di berbagai tempat, termasuk baris-baris tabel + Raw Contacts, Data, dan Contacts, + tabel {@link android.provider.ContactsContract.Settings}, dan + tabel {@link android.provider.ContactsContract.SyncState}. Tabel berikut menampilkan + efek setiap potongan metadata ini: +
++ Tabel 3. Metadata di Penyedia Kontak
+| Tabel | +Kolom | +Nilai | +Arti | +
|---|---|---|---|
| {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts} | +{@link android.provider.ContactsContract.SyncColumns#DIRTY} | +"0" - tidak berubah sejak sinkronisasi terakhir. | +
+ Menandai kontak mentah yang berubah pada perangkat dan telah disinkronkan kembali ke
+ server. Nilai diatur secara otomatis oleh Penyedia Kontak bila aplikasi
+ Android memperbarui baris.
+ + Adaptor sinkronisasi yang memodifikasi kontak mentah atau tabel data harus selalu menambahkan + string {@link android.provider.ContactsContract#CALLER_IS_SYNCADAPTER} ke + URI konten yang digunakannya. Ini mencegah penyedia menandai baris sebagai kotor. + Sebaliknya, modifikasi oleh adaptor sinkronisasi tampak seperti modifikasi lokal dan + dikirim ke server, meskipun server adalah sumber modifikasi. + + |
+
| "1" - berubah sejak sinkronisasi terakhir, harus disinkronkan kembali ke server. | +|||
| {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts} | +{@link android.provider.ContactsContract.SyncColumns#VERSION} | +Nomor versi baris ini. | ++ Penyedia Kontak menambahkan nilai ini secara otomatis bila baris atau + data terkaitnya berubah. + | +
| {@link android.provider.ContactsContract.Data} | +{@link android.provider.ContactsContract.DataColumns#DATA_VERSION} | +Nomor versi baris ini. | ++ Penyedia Kontak menambahkan nilai ini secara otomatis bila baris data + berubah. + | +
| {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts} | +{@link android.provider.ContactsContract.SyncColumns#SOURCE_ID} | ++ Nilai string yang mengidentifikasi secara unik kontak mentah ini ke akun tempat + kontak dibuat. + | +
+ Bila adaptor sinkronisasi membuat kontak mentah baru, kolom ini harus diatur ke
+ ID unik server untuk kontak mentah itu. Bila aplikasi Android membuat kontak mentah
+ baru, aplikasi harus membiarkan kolom ini kosong. Ini mengisyaratkan pada adaptor
+ sinkronisasi bahwa adaptor harus membuat kontak mentah baru pada server, dan mendapatkan
+ nilai untuk {@link android.provider.ContactsContract.SyncColumns#SOURCE_ID}.
+ + Khususnya, id sumber harus unik untuk setiap tipe + akun dan stabil di semua sinkronisasi: + +
|
+
| {@link android.provider.ContactsContract.Groups} | +{@link android.provider.ContactsContract.GroupsColumns#GROUP_VISIBLE} | +"0" - Kontak dalam grup ini tidak boleh terlihat dalam UI aplikasi Android. | ++ Kolom ini digunakan untuk kompatibilitas dengan server yang memungkinkan pengguna menyembunyikan kontak dalam + grup tertentu. + | +
| "1" - Kontak dalam grup ini boleh terlihat dalam UI aplikasi. | +|||
| {@link android.provider.ContactsContract.Settings} | ++ {@link android.provider.ContactsContract.SettingsColumns#UNGROUPED_VISIBLE} | ++ "0" - Untuk akun dan tipe akun ini, kontak yang bukan milik grup + tidak akan terlihat pada UI aplikasi Android. + | ++ Secara default, kontak tidak terlihat jika tidak satu pun kontak mentahnya milik grup + (Keanggotaan grup untuk kontak mentah ditandai oleh satu atau beberapa baris + {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds.GroupMembership} + dalam tabel {@link android.provider.ContactsContract.Data}). + Dengan mengatur flag ini dalam baris tabel {@link android.provider.ContactsContract.Settings} + untuk tipe akun dan akun, Anda bisa memaksakan kontak tanpa grup agar terlihat. + Satu kegunaan flag ini adalah menampilkan kontak dari server yang tidak menggunakan grup. + | +
| + "1" - Untuk akun dan tipe akun ini, kontak yang bukan milik grup + akan terlihat pada UI aplikasi. + | + +|||
| {@link android.provider.ContactsContract.SyncState} | +(semua) | ++ Gunakan tabel ini untuk menyimpan metadata bagi adaptor sinkronisasi Anda. + | ++ Dengan tabel ini, Anda bisa menyimpan status sinkronisasi dan data lain yang terkait dengan sinkronisasi secara persisten pada + perangkat. + | +
+ Bagian ini menjelaskan panduan untuk mengakses data dari Penyedia Kontak, yang berfokus pada + hal-hal berikut: +
++ Membuat modifikasi dari adaptor sinkronisasi juga secara lebih detail di bagian + Adaptor Sinkronisasi Penyedia Kontak. +
++ Karena disusun secara hierarki, tabel-tabel Penyedia Kontak sering kali berguna untuk + mengambil baris dan semua baris "anak" yang ditautkan dengannya. Misalnya, untuk menampilkan + semua informasi untuk satu orang, Anda mungkin ingin mengambil semua + baris {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts} untuk satu baris + {@link android.provider.ContactsContract.Contacts}, atau semua + baris {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds.Email} untuk satu baris + {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts}. Untuk memudahkan hal ini, Penyedia Kontak + menawarkan konstruksi entitas, yang berfungsi seperti gabungan database di antara + tabel-tabel. +
++ Entitas adalah seperti tabel yang terdiri atas kolom-kolom terpilih dari tabel induk dan tabel anaknya. + Bila membuat query sebuah entitas, Anda memberikan proyeksi dan kriteria pencarian berdasarkan kolom-kolom + yang tersedia dari entitas itu. Hasilnya adalah sebuah {@link android.database.Cursor} yang + berisi satu baris untuk setiap baris tabel anak yang diambil. Misalnya, jika Anda membuat query + {@link android.provider.ContactsContract.Contacts.Entity} untuk satu nama kontak + dan semua baris {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds.Email} untuk semua + kontak mentah bagi nama itu, Anda akan mendapatkan kembali {@link android.database.Cursor} berisi satu baris + untuk setiap baris {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds.Email}. +
++ Entitas menyederhanakan query. Dengan entitas, Anda bisa mengambil semua data kontak untuk satu + kontak atau kontak mentah sekaligus, sebagai ganti harus membuat query tabel induk terlebih dahulu untuk mendapatkan + ID, lalu harus membuat query tabel anak dengan ID itu. Selain itu, Penyedia Kontak akan memproses + query terhadap entitas dalam satu transaksi, yang memastikan bahwa data yang diambil + konsisten secara internal. +
++ Catatan: Entitas biasanya tidak berisi semua kolom tabel induk dan + anak. Jika Anda mencoba menggunakan nama kolom yang tidak ada dalam daftar konstanta + nama kolom untuk entitas, Anda akan mendapatkan {@link java.lang.Exception}. +
++ Cuplikan berikut menampilkan cara mengambil semua baris kontak mentah untuk sebuah kontak. Cuplikan ini + adalah bagian dari aplikasi lebih besar yang memiliki dua aktivitas, "main" dan "detail". Aktivitas utama + menampilkan daftar baris kontak; bila pengguna memilih satu baris, aktivitas akan mengirimkan ID-nya ke aktivitas + detail. Aktivitas detail menggunakan{@link android.provider.ContactsContract.Contacts.Entity} + untuk menampilkan semua baris data dari semua kontak mentah yang dikaitkan dengan kontak + terpilih. +
++ Cuplikan ini diambil dari aktivitas "detail": +
+
+...
+ /*
+ * Appends the entity path to the URI. In the case of the Contacts Provider, the
+ * expected URI is content://com.google.contacts/#/entity (# is the ID value).
+ */
+ mContactUri = Uri.withAppendedPath(
+ mContactUri,
+ ContactsContract.Contacts.Entity.CONTENT_DIRECTORY);
+
+ // Initializes the loader identified by LOADER_ID.
+ getLoaderManager().initLoader(
+ LOADER_ID, // The identifier of the loader to initialize
+ null, // Arguments for the loader (in this case, none)
+ this); // The context of the activity
+
+ // Creates a new cursor adapter to attach to the list view
+ mCursorAdapter = new SimpleCursorAdapter(
+ this, // the context of the activity
+ R.layout.detail_list_item, // the view item containing the detail widgets
+ mCursor, // the backing cursor
+ mFromColumns, // the columns in the cursor that provide the data
+ mToViews, // the views in the view item that display the data
+ 0); // flags
+
+ // Sets the ListView's backing adapter.
+ mRawContactList.setAdapter(mCursorAdapter);
+...
+@Override
+public Loader<Cursor> onCreateLoader(int id, Bundle args) {
+
+ /*
+ * Sets the columns to retrieve.
+ * RAW_CONTACT_ID is included to identify the raw contact associated with the data row.
+ * DATA1 contains the first column in the data row (usually the most important one).
+ * MIMETYPE indicates the type of data in the data row.
+ */
+ String[] projection =
+ {
+ ContactsContract.Contacts.Entity.RAW_CONTACT_ID,
+ ContactsContract.Contacts.Entity.DATA1,
+ ContactsContract.Contacts.Entity.MIMETYPE
+ };
+
+ /*
+ * Sorts the retrieved cursor by raw contact id, to keep all data rows for a single raw
+ * contact collated together.
+ */
+ String sortOrder =
+ ContactsContract.Contacts.Entity.RAW_CONTACT_ID +
+ " ASC";
+
+ /*
+ * Returns a new CursorLoader. The arguments are similar to
+ * ContentResolver.query(), except for the Context argument, which supplies the location of
+ * the ContentResolver to use.
+ */
+ return new CursorLoader(
+ getApplicationContext(), // The activity's context
+ mContactUri, // The entity content URI for a single contact
+ projection, // The columns to retrieve
+ null, // Retrieve all the raw contacts and their data rows.
+ null, //
+ sortOrder); // Sort by the raw contact ID.
+}
+
++ Bila selesai dimuat, {@link android.app.LoaderManager} akan memicu callback ke + {@link android.app.LoaderManager.LoaderCallbacks#onLoadFinished(Loader, D) + onLoadFinished()}. Salah satu argumen masuk pada metode ini adalah + {@link android.database.Cursor} bersama hasil query. Dalam aplikasi Anda sendiri, Anda bisa memperoleh + data dari {@link android.database.Cursor} ini untuk menampilkannya atau menggunakannya lebih jauh. +
++ Bila memungkinkan, Anda harus menyisipkan, memperbarui, dan menghapus data dalam Penyedia Kontak dengan + "batch mode", dengan membuat {@link java.util.ArrayList} dari + objek-objek {@link android.content.ContentProviderOperation} dan memanggil + {@link android.content.ContentResolver#applyBatch(String, ArrayList) applyBatch()}. Karena + Penyedia Kontak menjalankan semua operasi dalam satu + {@link android.content.ContentResolver#applyBatch(String, ArrayList) applyBatch()} transaksi, + modifikasi Anda tidak akan pernah meninggalkan repository kontak dalam keadaan + tidak konsisten. Modifikasi batch juga memudahkan penyisipan kontak mentah dan data detailnya + sekaligus. +
++ Catatan: Untuk memodifikasi satu kontak mentah, pertimbangkan untuk mengirim intent ke + aplikasi kontak perangkat daripada menangani modifikasi dalam aplikasi Anda. + Cara ini dijelaskan lebih detail di bagian + Pengambilan dan modifikasi dengan intent. +
+
+ Modifikasi batch yang berisi operasi dalam jumlah besar bisa memblokir proses lain,
+ yang mengakibatkan pengalaman pengguna yang buruk secara keseluruhan. Untuk menata semua modifikasi yang ingin Anda
+ jalankan dalam sesedikit mungkin daftar terpisah, sambil mencegah modifikasi dari
+ memblokir sistem, Anda harus menetapkan yield point untuk satu atau beberapa operasi.
+ Yield point (titik hasil) adalah objek {@link android.content.ContentProviderOperation} yang mengatur
+ nilai {@link android.content.ContentProviderOperation#isYieldAllowed()}-nya ke
+ true. Bila menemui yield point, Penyedia Kontak akan menghentikan pekerjaannya untuk
+ membiarkan proses lain berjalan dan menutup transaksi saat ini. Bila dimulai lagi, penyedia akan
+ melanjutkan dengan operasi berikutnya di {@link java.util.ArrayList} dan memulai transaksi
+ baru.
+
+ Yield point memang menyebabkan lebih dari satu transaksi per panggilan ke + {@link android.content.ContentResolver#applyBatch(String, ArrayList) applyBatch()}. Karena + itu, Anda harus menetapkan yield point pada operasi terakhir untuk satu set baris terkait. + Misalnya, Anda harus menetapkan yield point pada operasi terakhir di satu set yang menambahkan + baris kontak mentah dan baris data terkait, atau operasi terakhir untuk satu set baris yang terkait + dengan satu kontak. +
++ Yield point juga merupakan unit operasi atomis. Semua akses antara dua yield point bisa + saja berhasil atau gagal sebagai satu unit. Jika Anda mengatur yield point, operasi + atomis terkecil adalah seluruh batch operasi. Jika menggunakan yield point, Anda akan mencegah + operasi menurunkan kinerja sistem, sekaligus memastikan subset + operasi bersifat atomis. +
++ Saat Anda menyisipkan baris kontak mentah baru dan baris data terkaitnya sebagai satu set + objek {@link android.content.ContentProviderOperation}, Anda harus menautkan baris data ke + baris kontak mentah dengan memasukkan nilai + {@code android.provider.BaseColumns#_ID} kontak mentah sebagai + nilai {@link android.provider.ContactsContract.DataColumns#RAW_CONTACT_ID}. Akan tetapi, nilai + ini tidak tersedia saat Anda membuat {@link android.content.ContentProviderOperation} + untuk baris data, karena Anda belum menerapkan + {@link android.content.ContentProviderOperation} untuk baris kontak mentah. Solusinya, + kelas {@link android.content.ContentProviderOperation.Builder} memiliki metode + {@link android.content.ContentProviderOperation.Builder#withValueBackReference(String, int) withValueBackReference()}. + Metode ini memungkinkan Anda menyisipkan atau mengubah kolom dengan + hasil dari operasi sebelumnya. +
++ Metode {@link android.content.ContentProviderOperation.Builder#withValueBackReference(String, int) withValueBackReference()} + memiliki dua argumen: +
+key
+ previousResult
+ previousResult adalah indeks
+ dari salah satu hasil ini, yang diambil dan disimpan bersama nilai key.
+ Cara ini memungkinkan Anda menyisipkan record kontak mentah baru dan mendapatkan kembali nilai
+ {@code android.provider.BaseColumns#_ID}-nya, lalu membuat "acuan balik" ke
+ nilai itu saat Anda menambahkan baris {@link android.provider.ContactsContract.Data}.
+
+ Seluruh larik hasil dibuat saat Anda memanggil
+ {@link android.content.ContentResolver#applyBatch(String, ArrayList) applyBatch()} untuk pertama kali,
+ dengan ukuran setara dengan ukuran {@link java.util.ArrayList} dari
+ objek {@link android.content.ContentProviderOperation} yang Anda sediakan. Akan tetapi, semua
+ elemen dalam larik hasil diatur ke null, dan jika Anda mencoba
+ melakukan acuan balik ke hasil untuk operasi yang belum diterapkan,
+{@link android.content.ContentProviderOperation.Builder#withValueBackReference(String, int) withValueBackReference()}
+ akan mengeluarkan {@link java.lang.Exception}.
+
+
+ Cuplikan kode berikut menampilkan cara menyisipkan kontak mentah baru dan data secara batch. Cuplikan kode ini
+ menyertakan kode yang menetapkan yield point dan menggunakan acuan balik. Cuplikan kode ini adalah
+ versi perluasan dari metodecreateContacEntry(), yang merupakan bagian dari kelas
+ ContactAdder dalam
+ aplikasi contoh
+ Contact Manager.
+
+ Cuplikan pertama mengambil data kontak dari UI. Pada saat ini, pengguna sudah + memilih akun tempat kontak mentah baru harus ditambahkan. +
+
+// Creates a contact entry from the current UI values, using the currently-selected account.
+protected void createContactEntry() {
+ /*
+ * Gets values from the UI
+ */
+ String name = mContactNameEditText.getText().toString();
+ String phone = mContactPhoneEditText.getText().toString();
+ String email = mContactEmailEditText.getText().toString();
+
+ int phoneType = mContactPhoneTypes.get(
+ mContactPhoneTypeSpinner.getSelectedItemPosition());
+
+ int emailType = mContactEmailTypes.get(
+ mContactEmailTypeSpinner.getSelectedItemPosition());
+
++ Cuplikan berikutnya membuat operasi untuk menyisipkan baris kontak mentah ke dalam + tabel {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts}: +
++ /* + * Prepares the batch operation for inserting a new raw contact and its data. Even if + * the Contacts Provider does not have any data for this person, you can't add a Contact, + * only a raw contact. The Contacts Provider will then add a Contact automatically. + */ + + // Creates a new array of ContentProviderOperation objects. + ArrayList<ContentProviderOperation> ops = + new ArrayList<ContentProviderOperation>(); + + /* + * Creates a new raw contact with its account type (server type) and account name + * (user's account). Remember that the display name is not stored in this row, but in a + * StructuredName data row. No other data is required. + */ + ContentProviderOperation.Builder op = + ContentProviderOperation.newInsert(ContactsContract.RawContacts.CONTENT_URI) + .withValue(ContactsContract.RawContacts.ACCOUNT_TYPE, mSelectedAccount.getType()) + .withValue(ContactsContract.RawContacts.ACCOUNT_NAME, mSelectedAccount.getName()); + + // Builds the operation and adds it to the array of operations + ops.add(op.build()); ++
+ Berikutnya, kode akan membuat baris data untuk baris-baris nama tampilan, telepon, dan email. +
++ Setiap objek pembangun operasi menggunakan + {@link android.content.ContentProviderOperation.Builder#withValueBackReference(String, int) withValueBackReference()} + untuk mendapatkan + {@link android.provider.ContactsContract.DataColumns#RAW_CONTACT_ID}. Acuan menunjuk + balik ke objek {@link android.content.ContentProviderResult} dari operasi pertama, + yang menambahkan baris kontak mentah dan mengembalikan nilai {@code android.provider.BaseColumns#_ID} + barunya. Hasilnya, setiap data ditautkan secara otomatis oleh + {@link android.provider.ContactsContract.DataColumns#RAW_CONTACT_ID}-nya + ke baris {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts} baru yang memilikinya. +
++ Objek {@link android.content.ContentProviderOperation.Builder} yang menambahkan baris email + diberi flag {@link android.content.ContentProviderOperation.Builder#withYieldAllowed(boolean) + withYieldAllowed()}, yang mengatur yield point: +
++ // Creates the display name for the new raw contact, as a StructuredName data row. + op = + ContentProviderOperation.newInsert(ContactsContract.Data.CONTENT_URI) + /* + * withValueBackReference sets the value of the first argument to the value of + * the ContentProviderResult indexed by the second argument. In this particular + * call, the raw contact ID column of the StructuredName data row is set to the + * value of the result returned by the first operation, which is the one that + * actually adds the raw contact row. + */ + .withValueBackReference(ContactsContract.Data.RAW_CONTACT_ID, 0) + + // Sets the data row's MIME type to StructuredName + .withValue(ContactsContract.Data.MIMETYPE, + ContactsContract.CommonDataKinds.StructuredName.CONTENT_ITEM_TYPE) + + // Sets the data row's display name to the name in the UI. + .withValue(ContactsContract.CommonDataKinds.StructuredName.DISPLAY_NAME, name); + + // Builds the operation and adds it to the array of operations + ops.add(op.build()); + + // Inserts the specified phone number and type as a Phone data row + op = + ContentProviderOperation.newInsert(ContactsContract.Data.CONTENT_URI) + /* + * Sets the value of the raw contact id column to the new raw contact ID returned + * by the first operation in the batch. + */ + .withValueBackReference(ContactsContract.Data.RAW_CONTACT_ID, 0) + + // Sets the data row's MIME type to Phone + .withValue(ContactsContract.Data.MIMETYPE, + ContactsContract.CommonDataKinds.Phone.CONTENT_ITEM_TYPE) + + // Sets the phone number and type + .withValue(ContactsContract.CommonDataKinds.Phone.NUMBER, phone) + .withValue(ContactsContract.CommonDataKinds.Phone.TYPE, phoneType); + + // Builds the operation and adds it to the array of operations + ops.add(op.build()); + + // Inserts the specified email and type as a Phone data row + op = + ContentProviderOperation.newInsert(ContactsContract.Data.CONTENT_URI) + /* + * Sets the value of the raw contact id column to the new raw contact ID returned + * by the first operation in the batch. + */ + .withValueBackReference(ContactsContract.Data.RAW_CONTACT_ID, 0) + + // Sets the data row's MIME type to Email + .withValue(ContactsContract.Data.MIMETYPE, + ContactsContract.CommonDataKinds.Email.CONTENT_ITEM_TYPE) + + // Sets the email address and type + .withValue(ContactsContract.CommonDataKinds.Email.ADDRESS, email) + .withValue(ContactsContract.CommonDataKinds.Email.TYPE, emailType); + + /* + * Demonstrates a yield point. At the end of this insert, the batch operation's thread + * will yield priority to other threads. Use after every set of operations that affect a + * single contact, to avoid degrading performance. + */ + op.withYieldAllowed(true); + + // Builds the operation and adds it to the array of operations + ops.add(op.build()); ++
+ Cuplikan terakhir menampilkan panggilan ke + {@link android.content.ContentResolver#applyBatch(String, ArrayList) applyBatch()} yang + menyisipkan baris-baris kontak mentah dan data baru. +
+
+ // Ask the Contacts Provider to create a new contact
+ Log.d(TAG,"Selected account: " + mSelectedAccount.getName() + " (" +
+ mSelectedAccount.getType() + ")");
+ Log.d(TAG,"Creating contact: " + name);
+
+ /*
+ * Applies the array of ContentProviderOperation objects in batch. The results are
+ * discarded.
+ */
+ try {
+
+ getContentResolver().applyBatch(ContactsContract.AUTHORITY, ops);
+ } catch (Exception e) {
+
+ // Display a warning
+ Context ctx = getApplicationContext();
+
+ CharSequence txt = getString(R.string.contactCreationFailure);
+ int duration = Toast.LENGTH_SHORT;
+ Toast toast = Toast.makeText(ctx, txt, duration);
+ toast.show();
+
+ // Log exception
+ Log.e(TAG, "Exception encountered while inserting contact: " + e);
+ }
+}
+
++ Operasi batch juga memungkinkan Anda menerapkan kontrol konkurensi optimistis, + sebuah metode yang menerapkan transaksi modifikasi tanpa harus mengunci repository yang mendasari. + Untuk menggunakan metode ini, terapkan transaksi dan periksa modifikasi lain yang + mungkin telah dibuat bersamaan. Jika ternyata modifikasi tidak konsisten, Anda + mengembalikan transaksi ke kondisi semula dan mencobanya kembali. +
++ Kontrol konkurensi optimistis berguna untuk perangkat seluler, apabila hanya ada satu pengguna setiap + kalinya, dan akses simultan ke repository data jarang terjadi. Karena penguncian tidak digunakan, + tidak ada waktu yang terbuang untuk memasang kunci atau menunggu transaksi lain untuk melepas kunci. +
++ Untuk menggunakan kontrol konkurensi optimistis saat memperbarui satu baris + {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts}, ikuti langkah-langkah ini: +
++ Jika baris kontak mentah diperbarui oleh operasi lain antara waktu Anda membaca baris dan + waktu Anda mencoba memodifikasinya, "asert" {@link android.content.ContentProviderOperation} + akan gagal, dan seluruh batch operasi akan dibatalkan. Anda nanti bisa memilih untuk mencoba ulang + batch atau melakukan tindakan lain. +
++ Cuplikan berikut memperagakan cara membuat "asert" + {@link android.content.ContentProviderOperation} setelah membuat query satu kontak mentah yang menggunakan + {@link android.content.CursorLoader}: +
+
+/*
+ * The application uses CursorLoader to query the raw contacts table. The system calls this method
+ * when the load is finished.
+ */
+public void onLoadFinished(Loader<Cursor> loader, Cursor cursor) {
+
+ // Gets the raw contact's _ID and VERSION values
+ mRawContactID = cursor.getLong(cursor.getColumnIndex(BaseColumns._ID));
+ mVersion = cursor.getInt(cursor.getColumnIndex(SyncColumns.VERSION));
+}
+
+...
+
+// Sets up a Uri for the assert operation
+Uri rawContactUri = ContentUris.withAppendedId(RawContacts.CONTENT_URI, mRawContactID);
+
+// Creates a builder for the assert operation
+ContentProviderOperation.Builder assertOp = ContentProviderOperation.netAssertQuery(rawContactUri);
+
+// Adds the assertions to the assert operation: checks the version and count of rows tested
+assertOp.withValue(SyncColumns.VERSION, mVersion);
+assertOp.withExpectedCount(1);
+
+// Creates an ArrayList to hold the ContentProviderOperation objects
+ArrayList ops = new ArrayList<ContentProviderOperationg>;
+
+ops.add(assertOp.build());
+
+// You would add the rest of your batch operations to "ops" here
+
+...
+
+// Applies the batch. If the assert fails, an Exception is thrown
+try
+ {
+ ContentProviderResult[] results =
+ getContentResolver().applyBatch(AUTHORITY, ops);
+
+ } catch (OperationApplicationException e) {
+
+ // Actions you want to take if the assert operation fails go here
+ }
+
++ Mengirimkan intent ke aplikasi kontak perangkat memungkinkan Anda mengakses Penyedia Kontak + secara tidak langsung. Intent akan memulai UI aplikasi kontak perangkat, tempat pengguna bisa + melakukan pekerjaan yang terkait dengan kontak. Dengan tipe akses ini, pengguna bisa: +
+ Jika pengguna menyisipkan atau memperbarui data, Anda bisa mengumpulkan data lebih dahulu dan mengirimkannya sebagai + bagian dari intent. +
++ Bila Anda menggunakan intent untuk mengakses Penyedia Kontak melalui aplikasi kontak perangkat, Anda + tidak perlu menulis UI atau kode sendiri untuk mengakses penyedia. Anda juga tidak harus + meminta izin untuk membaca dari atau menulis ke penyedia. Aplikasi kontak perangkat bisa + mendelegasikan izin membaca untuk kontak kepada Anda, dan karena Anda membuat modifikasi pada + penyedia melalui aplikasi lain, Anda tidak perlu memiliki izin menulis. +
++ Proses umum pengiriman intent untuk mengakses penyedia dijelaskan secara detail dalam panduan + + Dasar-Dasar Penyedia Konten di bagian "Akses data melalui intent". Tindakan, + tipe MIME, dan nilai data yang Anda gunakan untuk tugas yang tersedia dirangkum dalam Tabel 4, sedangkan + nilai ekstra yang bisa Anda gunakan bersama + {@link android.content.Intent#putExtra(String, String) putExtra()} tercantum dalam + dokumentasi acuan untuk {@link android.provider.ContactsContract.Intents.Insert}: +
++ Tabel 4. Intent Penyedia Kontak. +
+| Tugas | +Tindakan | +Data | +Tipe MIME | +Catatan | +
|---|---|---|---|---|
| Memilih kontak dari daftar | +{@link android.content.Intent#ACTION_PICK} | +
+ Salah satu dari:
+
|
+ + Tidak digunakan + | +
+ Menampilkan daftar kontak mentah atau daftar data dari kontak mentah, sesuai dengan tipe
+ URI konten yang Anda sediakan.
+
+ Panggil
+ {@link android.app.Activity#startActivityForResult(Intent, int) startActivityForResult()},
+ yang menghasilkan URI konten dari baris terpilih. Bentuk URI adalah
+ URI konten tabel dengan |
+
| Menyisipkan kontak mentah baru | +{@link android.provider.ContactsContract.Intents.Insert#ACTION Insert.ACTION} | +N/A | ++ {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts#CONTENT_TYPE + RawContacts.CONTENT_TYPE}, tipe MIME untuk satu set kontak mentah. + | ++ Menampilkan layar Add Contact aplikasi kontak perangkat. Nilai + ekstra yang Anda tambahkan ke intent akan ditampilkan. Jika dikirimkan bersama + {@link android.app.Activity#startActivityForResult(Intent, int) startActivityForResult()}, + URI konten dari kontak mentah yang baru saja ditambahkan akan dikembalikan ke + {@link android.app.Activity#onActivityResult(int, int, Intent) onActivityResult()} + metode callback aktivitas Anda pada argumen {@link android.content.Intent}, di + bidang "data". Untuk mendapatkan nilainya, panggil {@link android.content.Intent#getData()}. + | +
| Mengedit kontak | +{@link android.content.Intent#ACTION_EDIT} | ++ {@link android.provider.ContactsContract.Contacts#CONTENT_LOOKUP_URI} untuk + kontak. Aktivitas editor memungkinkan pengguna mengedit setiap data yang dikaitkan + dengan kontak ini. + | ++ {@link android.provider.ContactsContract.Contacts#CONTENT_ITEM_TYPE + Contacts.CONTENT_ITEM_TYPE}, kontak tunggal. | ++ Menampilkan layar Edit Contact dalam aplikasi kontak. Nilai ekstra yang Anda tambahkan + ke intent akan ditampilkan. Bila pengguna mengklik Done untuk menyimpan + hasil edit, aktivitas Anda kembali ke latar depan. + | +
| Menampilkan picker yang juga bisa menambahkan data. | +{@link android.content.Intent#ACTION_INSERT_OR_EDIT} | ++ N/A + | ++ {@link android.provider.ContactsContract.Contacts#CONTENT_ITEM_TYPE} + | +
+ Intent ini selalu menampilkan layar picker aplikasi kontak. Pengguna bisa memilih
+ kontak untuk diedit, atau menambahkan kontak baru. Layar edit atau layar tambah
+ akan muncul, sesuai dengan pilihan pengguna, dan data ekstra yang Anda kirimkan dalam intent
+ akan ditampilkan. Jika aplikasi Anda menampilkan data kontak seperti email atau nomor telepon, gunakan
+ intent ini untuk memungkinkan pengguna menambahkan data ke kontak yang ada.
+
+ + Catatan: Tidak perlu mengirimkan nilai nama dalam ekstra intent ini, + karena pengguna selalu mengambil nama yang ada atau menambahkan nama baru. Lebih-lebih, + jika Anda mengirimkan nama, dan pengguna memilih untuk melakukan edit, aplikasi kontak akan + menampilkan nama yang Anda kirimkan, yang menimpa nilai sebelumnya. Jika pengguna tidak + menyadari hal ini dan menyimpan hasil edit, nilai lama akan hilang. + + |
+
+ Aplikasi kontak perangkat tidak memperbolehkan Anda menghapus kontak mentah atau datanya dengan + intent. Sebagai gantinya, untuk menghapus kontak mentah, gunakan + {@link android.content.ContentResolver#delete(Uri, String, String[]) ContentResolver.delete()} + atau {@link android.content.ContentProviderOperation#newDelete(Uri) + ContentProviderOperation.newDelete()}. +
++ Cuplikan berikut menampilkan cara menyusun dan mengirimkan intent yang menyisipkan kontak dan data + mentah baru: +
++// Gets values from the UI +String name = mContactNameEditText.getText().toString(); +String phone = mContactPhoneEditText.getText().toString(); +String email = mContactEmailEditText.getText().toString(); + +String company = mCompanyName.getText().toString(); +String jobtitle = mJobTitle.getText().toString(); + +// Creates a new intent for sending to the device's contacts application +Intent insertIntent = new Intent(ContactsContract.Intents.Insert.ACTION); + +// Sets the MIME type to the one expected by the insertion activity +insertIntent.setType(ContactsContract.RawContacts.CONTENT_TYPE); + +// Sets the new contact name +insertIntent.putExtra(ContactsContract.Intents.Insert.NAME, name); + +// Sets the new company and job title +insertIntent.putExtra(ContactsContract.Intents.Insert.COMPANY, company); +insertIntent.putExtra(ContactsContract.Intents.Insert.JOB_TITLE, jobtitle); + +/* + * Demonstrates adding data rows as an array list associated with the DATA key + */ + +// Defines an array list to contain the ContentValues objects for each row +ArrayList<ContentValues> contactData = new ArrayList<ContentValues>(); + + +/* + * Defines the raw contact row + */ + +// Sets up the row as a ContentValues object +ContentValues rawContactRow = new ContentValues(); + +// Adds the account type and name to the row +rawContactRow.put(ContactsContract.RawContacts.ACCOUNT_TYPE, mSelectedAccount.getType()); +rawContactRow.put(ContactsContract.RawContacts.ACCOUNT_NAME, mSelectedAccount.getName()); + +// Adds the row to the array +contactData.add(rawContactRow); + +/* + * Sets up the phone number data row + */ + +// Sets up the row as a ContentValues object +ContentValues phoneRow = new ContentValues(); + +// Specifies the MIME type for this data row (all data rows must be marked by their type) +phoneRow.put( + ContactsContract.Data.MIMETYPE, + ContactsContract.CommonDataKinds.Phone.CONTENT_ITEM_TYPE +); + +// Adds the phone number and its type to the row +phoneRow.put(ContactsContract.CommonDataKinds.Phone.NUMBER, phone); + +// Adds the row to the array +contactData.add(phoneRow); + +/* + * Sets up the email data row + */ + +// Sets up the row as a ContentValues object +ContentValues emailRow = new ContentValues(); + +// Specifies the MIME type for this data row (all data rows must be marked by their type) +emailRow.put( + ContactsContract.Data.MIMETYPE, + ContactsContract.CommonDataKinds.Email.CONTENT_ITEM_TYPE +); + +// Adds the email address and its type to the row +emailRow.put(ContactsContract.CommonDataKinds.Email.ADDRESS, email); + +// Adds the row to the array +contactData.add(emailRow); + +/* + * Adds the array to the intent's extras. It must be a parcelable object in order to + * travel between processes. The device's contacts app expects its key to be + * Intents.Insert.DATA + */ +insertIntent.putParcelableArrayListExtra(ContactsContract.Intents.Insert.DATA, contactData); + +// Send out the intent to start the device's contacts app in its add contact activity. +startActivity(insertIntent); ++
+ Karena repository kontak berisi data penting dan sensitif yang diharapkan pengguna agar + benar dan terbaru. Penyedia Kontak memiliki aturan yang didefinisikan dengan baik demi integritas data. Anda + bertanggung jawab untuk mematuhi aturan ini saat memodifikasi data kontak. Aturan-aturan penting itu + dicantumkan di sini: +
++ Dengan membuat dan menggunakan tipe MIME custom sendiri, Anda bisa menyisipkan, mengedit, menghapus, dan mengambil + baris data sendiri dalam tabel {@link android.provider.ContactsContract.Data}. Baris Anda + dibatasi untuk menggunakan kolom yang didefinisikan dalam + {@link android.provider.ContactsContract.DataColumns}, meskipun Anda bisa memetakan nama kolom + bertipe spesifik sendiri ke nama kolom default. Dalam aplikasi kontak perangkat, + data untuk baris Anda ditampilkan, tetapi tidak bisa diedit atau dihapus, dan pengguna tidak bisa menambahkan + data lain. Untuk memudahkan pengguna mengubah baris data custom Anda, Anda harus menyediakan aktivitas + editor dalam aplikasi Anda sendiri. +
+
+ Untuk menampilkan data custom, sediakan file contacts.xml berisi elemen
+ <ContactsAccountType> dan satu atau beberapa elemen anak
+ <ContactsDataKind>. Hal ini dijelaskan lebih detail di
+ bagian <ContactsDataKind> element.
+
+ Untuk mengetahui selengkapnya tentang tipe MIME custom, bacalah panduan + + Membuat Penyedia Konten. +
++ Penyedia Kontak didesain khusus untuk menangani sinkronisasi + data kontak antara perangkat dan layanan online. Hal ini memungkinkan pengguna mengunduh + data yang ada dari perangkat baru dan mengunggah data yang ada ke akun baru. + Sinkronisasi juga memastikan bahwa pengguna memiliki data terbaru, apa pun + sumber penambahan dan perubahan itu. Keuntungan lain dari sinkronisasi adalah membuat + data kontak tersedia sekalipun perangkat tidak terhubung ke jaringan. +
++ Walaupun Anda bisa menerapkan sinkronisasi dengan berbagai cara, sistem Android menyediakan + kerangka kerja sinkronisasi plug-in yang mengotomatiskan tugas-tugas berikut: +
+ Untuk menggunakan kerangka kerja ini, Anda harus menyediakan plug-in adaptor sinkronisasi. Setiap adaptor sinkronisasi bersifat unik bagi + layanan dan penyedia konten, tetapi mampu menangani beberapa nama akun untuk layanan yang sama. Kerangka + kerja ini juga memungkinkan beberapa adaptor sinkronisasi untuk layanan dan penyedia yang sama. +
++ Anda mengimplementasikan adaptor sinkronisasi sebagai subkelas + {@link android.content.AbstractThreadedSyncAdapter} dan menginstalnya sebagai bagian dari aplikasi + Android. Sistem akan mempelajari adaptor sinkronisasi dari elemen-elemen di manifes + aplikasi Anda dan dari file XML khusus yang ditunjuk oleh manifes. File XML mendefinisikan + tipe akun untuk layanan online dan otoritas untuk penyedia konten, yang bersama-sama + mengidentifikasi adaptor secara unik. Adaptor sinkronisasi tidak menjadi aktif hingga pengguna menambahkan + akun untuk tipe akun adaptor sinkronisasi dan memungkinkan sinkronisasi untuk penyedia + konten yang disinkronkan dengan adaptor sinkronisasi. Pada saat itu, sistem mulai mengelola adaptor, + memanggilnya seperlunya untuk menyinkronkan antara penyedia konten dan server. +
+
+ Catatan: Menggunakan tipe akun sebagai bagian dari identifikasi adaptor sinkronisasi memungkinkan
+ sistem mendeteksi dan menghimpun adaptor-adaptor sinkronisasi yang mengakses berbagai layanan dari
+ organisasi yang sama. Misalnya, adaptor sinkronisasi untuk semua layanan online Google semuanya memiliki tipe akun
+ yang sama com.google. Bila pengguna menambahkan akun Google ke perangkatnya, semua
+ adaptor sinkronisasi yang terinstal untuk layanan Google akan dicantumkan bersama; setiap adaptor sinkronisasi
+ yang tercantum akan menyinkronkan diri dengan berbagai penyedia konten pada perangkat.
+
+ Karena sebagian besar layanan mengharuskan pengguna untuk memeriksa identitas sebelum mengakses + data, sistem Android menawarkan kerangka kerja autentikasi yang serupa dengan, dan sering kali + digunakan bersama, kerangka kerja adaptor sinkronisasi. Kerangka kerja autentikasi menggunakan + autentikator plug-in yang merupakan subkelas + {@link android.accounts.AbstractAccountAuthenticator}. Autentikator memeriksa + identitas pengguna dalam langkah-langkah berikut: +
+ Jika layanan menerima kredensial, autentikator bisa + menyimpan kredensial itu untuk digunakan nanti. Karena kerangka kerja autentikator plug-in, + {@link android.accounts.AccountManager} bisa menyediakan akses ke setiap token autentikasi yang didukung suatu autentikator + dan dipilihnya untuk diekspos, seperti token autentikasi OAuth2. +
++ Meskipun autentikasi tidak diharuskan, sebagian besar layanan kontak menggunakannya. + Akan tetapi, Anda tidak wajib menggunakan kerangka kerja autentikasi Android untuk melakukan autentikasi. +
++ Untuk mengimplementasikan adaptor sinkronisasi bagi Penyedia Kontak, perlu Anda memulai dengan membuat + aplikasi Android yang berisi elemen-elemen berikut: +
+
+ Dalam contoh aplikasi
+ Sample Sync Adapter, nama kelas layanan ini adalah
+ com.example.android.samplesync.syncadapter.SyncService.
+
+ Dalam contoh aplikasi
+ Sample Sync Adapter, adaptor sinkronisasi didefinisikan dalam kelas
+ com.example.android.samplesync.syncadapter.SyncAdapter.
+
+ Dalam contoh aplikasi
+ Sample Sync Adapter, nama kelas layanan ini adalah
+ com.example.android.samplesync.authenticator.AuthenticationService.
+
+ Dalam contoh aplikasi
+ Sample Sync Adapter, autentikator didefinisikan dalam kelas
+ com.example.android.samplesync.authenticator.Authenticator.
+
<service>
+ di manifes aplikasi. Elemen-elemen ini
+ berisi
+<meta-data>
+elemen anak yang menyediakan data tertentu ke
+ sistem:
+ <meta-data>
+ untuk layanan adaptor sinkronisasi menunjuk ke
+ file XML res/xml/syncadapter.xml. Pada gilirannya, file ini mendefinisikan
+ URI untuk layanan web yang akan disinkronkan dengan Penyedia Kontak,
+ dan tipe akun untuk layanan web.
+ <meta-data>
+ untuk autentikator menunjuk ke file XML
+ res/xml/authenticator.xml. Pada gilirannya, file ini menetapkan
+ tipe akun yang didukung autentikator, serta sumber daya UI yang
+ muncul selama proses autentikasi. Tipe akun yang ditetapkan dalam elemen ini
+ harus sama dengan tipe akun yang ditetapkan untuk adaptor
+ sinkronisasi.
+ + Tabel-tabel {@code android.provider.ContactsContract.StreamItems} dan + {@code android.provider.ContactsContract.StreamItemPhotos} + mengelola data yang masuk dari jaringan sosial. Anda bisa menulis adaptor sinkronisasi yang menambahkan data aliran + dari jaringan Anda sendiri ke tabel-tabel ini, atau Anda bisa membaca data aliran dari tabel-tabel ini dan + menampilkannya dalam aplikasi sendiri, atau keduanya. Dengan fitur-fitur ini, layanan dan aplikasi + jaringan sosial Anda bisa diintegrasikan ke dalam pengalaman jaringan sosial Android. +
+
+ Item aliran selalu dikaitkan dengan kontak mentah.
+ {@code android.provider.ContactsContract.StreamItemsColumns#RAW_CONTACT_ID} menautkan ke
+ nilai _ID untuk kontak mentah. Tipe akun dan nama akun kontak
+ mentah juga disimpan dalam baris item aliran.
+
+ Simpanlah data dari aliran Anda dalam kolom-kolom berikut: +
++ Untuk menampilkan informasi pengidentifikasi item aliran Anda, gunakan + {@code android.provider.ContactsContract.StreamItemsColumns#RES_ICON}, + {@code android.provider.ContactsContract.StreamItemsColumns#RES_LABEL}, dan + {@code android.provider.ContactsContract.StreamItemsColumns#RES_PACKAGE} untuk menautkan ke sumber daya + dalam aplikasi Anda. +
++ Tabel {@code android.provider.ContactsContract.StreamItems} juga berisi kolom-kolom + {@code android.provider.ContactsContract.StreamItemsColumns#SYNC1} hingga + {@code android.provider.ContactsContract.StreamItemsColumns#SYNC4} untuk penggunaan eksklusif oleh + adaptor sinkronisasi. +
++ Tabel {@code android.provider.ContactsContract.StreamItemPhotos} menyimpan foto-foto yang dikaitkan + dengan item aliran. Kolom +{@code android.provider.ContactsContract.StreamItemPhotosColumns#STREAM_ITEM_ID} tabel ini + menautkan ke nilai dalam kolom {@code android.provider.BaseColumns#_ID} + tabel {@code android.provider.ContactsContract.StreamItems}. Acuan foto disimpan dalam + tabel pada kolom-kolom ini: +
++ Tabel-tabel ini sama fungsinya dengan tabel-tabel utama lainnya dalam Penyedia Kontak, kecuali: +
+null. Query
+ menghasilkan sebuah Kursor yang berisi baris tunggal, dengan kolom tunggal
+ {@code android.provider.ContactsContract.StreamItems#MAX_ITEMS}.
+ + Kelas {@code android.provider.ContactsContract.StreamItems.StreamItemPhotos} mendefinisikan + subtabel {@code android.provider.ContactsContract.StreamItemPhotos} yang berisi + baris foto untuk satu item aliran. +
++ Data aliran sosial yang dikelola oleh Penyedia Kontak, bersama aplikasi kontak + perangkat, menawarkan cara andal untuk menghubungkan sistem jaringan sosial Anda + dengan kontak yang ada. Tersedia fitur-fitur berikut: +
++ Sinkronisasi rutin item aliran dengan Penyedia Kontak sama dengan + sinkronisasi lainnya. Untuk mengetahui selengkapnya tentang sinkronisasi, lihat bagian + Adaptor Sinkronisasi Penyedia Kontak. Mendaftarkan pemberitahuan dan + mengundang kontak dibahas dalam dua bagian berikutnya. +
++ Untuk mendaftarkan adaptor sinkronisasi agar menerima pemberitahuan saat pengguna menampilkan kontak + yang dikelola oleh adaptor sinkronisasi Anda: +
+contacts.xml dalam direktori res/xml/
+ proyek Anda. Jika sudah memiliki file ini, langkah ini boleh dilewati.
+ <ContactsAccountType xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android">.
+ Jika elemen ini sudah ada, langkah ini boleh dilewati.
+ viewContactNotifyService="serviceclass" ke elemen, dengan
+ serviceclass sebagai nama kelas mutlak (fully qualified) dari layanan
+ yang seharusnya menerima intent dari aplikasi kontak perangkat. Untuk layanan
+ notifier, gunakan kelas yang memperluas {@link android.app.IntentService}, guna memudahkan layanan
+ untuk menerima intent. Data dalam intent yang masuk berisi URI konten dari kontak
+ mentah yang diklik pengguna. Untuk layanan notifier, Anda bisa mengikatnya ke kemudian memanggil
+ adaptor sinkronisasi Anda untuk memperbarui data bagi kontak mentah.
+ + Untuk mendaftarkan aktivitas agar dipanggil saat pengguna mengklik item aliran atau foto atau keduanya: +
+contacts.xml dalam direktori res/xml/
+ proyek Anda. Jika sudah memiliki file ini, langkah ini boleh dilewati.
+ <ContactsAccountType xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android">.
+ Jika elemen ini sudah ada, langkah ini boleh dilewati.
+ viewStreamItemActivity="activityclass" ke elemen, dengan
+ activityclass sebagai nama kelas mutlak (fully-qualified) dari aktivitas
+ yang harus menerima intent dari aplikasi kontak perangkat.
+ viewStreamItemPhotoActivity="activityclass" ke elemen, dengan
+ activityclass adalah kelas nama mutlak aktivitas
+ yang harus menerima intent dari aplikasi kontak perangkat.
+
+ Elemen <ContactsAccountType> dijelaskan lebih detail di
+ bagian Elemen <ContactsAccountType>.
+
+ Intent yang masuk berisi URI konten dari materi atau foto yang diklik pengguna. + Untuk mendapatkan aktivitas terpisah bagi item teks dan foto, gunakan kedua atribut dalam file yang sama. +
++ Pengguna tidak harus meninggalkan aplikasi perangkat kontak untuk mengundang kontak ke situs + jaringan sosial Anda. Sebagai gantinya, Anda bisa meminta aplikasi kontak perangkat mengirimkan intent untuk mengundang + kontak ke salah satu aktivitas Anda. Untuk mempersiapkannya: +
+contacts.xml dalam direktori res/xml/
+ proyek Anda. Jika sudah memiliki file ini, langkah ini boleh dilewati.
+ <ContactsAccountType xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android">.
+ Jika elemen ini sudah ada, langkah ini boleh dilewati.
+ inviteContactActivity="activityclass"inviteContactActionLabel="@string/invite_action_label"
+ activityclass adalah nama kelas mutlak
+ aktivitas yang harus menerima intent ini. Nilai invite_action_label
+ adalah string teks yang ditampilkan dalam menu Add Connection dalam
+ aplikasi kontak perangkat.
+
+ Catatan: ContactsSource adalah nama tag yang sudah usang untuk
+ ContactsAccountType.
+
+ File contacts.xml berisi elemen XML yang mengontrol interaksi adaptor sinkronisasi
+ Anda dan aplikasi dengan aplikasi kontak dan Penyedia Kontak. Elemen-elemen ini
+ dijelaskan di bagian-bagian selanjutnya.
+
+ Elemen <ContactsAccountType> mengontrol interaksi aplikasi
+ Anda dengan aplikasi kontak. Sintaksnya adalah sebagai berikut:
+
+<ContactsAccountType + xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android" + inviteContactActivity="activity_name" + inviteContactActionLabel="invite_command_text" + viewContactNotifyService="view_notify_service" + viewGroupActivity="group_view_activity" + viewGroupActionLabel="group_action_text" + viewStreamItemActivity="viewstream_activity_name" + viewStreamItemPhotoActivity="viewphotostream_activity_name"> ++
+ dimuat dalam: +
+
+ res/xml/contacts.xml
+
+ bisa berisi: +
+
+ <ContactsDataKind>
+
+ Keterangan: +
++ Mendeklarasikan komponen Android dan label UI yang memungkinkan pengguna mengundang salah satu kontak ke + jaringan sosial, memberi tahu pengguna bila salah satu aliran jaringan sosial diperbarui, dan + seterusnya. +
+
+ Perhatikan bahwa awalan atribut android: tidak perlu untuk atribut-atribut
+ <ContactsAccountType>.
+
+ Atribut: +
+NotifierService.java dalam contoh aplikasi
+ Sample Sync Adapter.
+
+ + Misalnya, jika Anda menginstal aplikasi Google+ di perangkat dan menyinkronkan + Google+ dengan aplikasi kontak, Anda akan melihat lingkaran Google+ tercantum sebagai grup + dalam tab Groups aplikasi kontak Anda. Jika Anda mengklik + lingkaran Google+, Anda akan melihat orang-orang di lingkaran itu tercantum sebagai satu "grup". Di atas + tampilan, Anda akan melihat ikon Google+; jika mengklik ikon itu, kontrol akan beralih ke + aplikasi Google+. Aplikasi kontak melakukan ini dengan + {@code viewGroupActivity}, yang menggunakan ikon Google+ sebagai nilai + {@code viewGroupActionLabel}. +
++ Identifier sumber daya string diperbolehkan untuk atribut ini. +
+
+ Elemen <ContactsDataKind> mengontrol tampilan baris data custom
+ aplikasi Anda dalam UI aplikasi kontak. Sintaksnya adalah sebagai berikut:
+
+<ContactsDataKind + android:mimeType="MIMEtype" + android:icon="icon_resources" + android:summaryColumn="column_name" + android:detailColumn="column_name"> ++
+ dimuat dalam: +
+<ContactsAccountType>
++ Keterangan: +
+
+ Gunakan elemen ini untuk memerintahkan aplikasi kontak agar menampilkan konten baris data custom sebagai
+ bagian dari detail kontak mentah. Setiap elemen anak <ContactsDataKind>
+ <ContactsAccountType> mewakili tipe baris data custom yang
+ ditambahkan adaptor sinkronisasi Anda ke tabel {@link android.provider.ContactsContract.Data}. Tambahkan satu
+ elemen <ContactsDataKind> untuk setiap tipe MIME custom yang Anda gunakan. Anda tidak harus
+ menambahkan elemen jika Anda memiliki baris data custom yang datanya tidak ingin ditampilkan.
+
+ Atribut: +
+vnd.android.cursor.item/vnd.example.locationstatus bisa berupa tipe MIME
+ custom untuk baris data yang mencatat lokasi kontak yang terakhir diketahui.
+ + Di samping fitur-fitur utama yang dijelaskan di bagian sebelumnya, Penyedia Kontak menawarkan + fitur-fitur berguna ini untuk digunakan bersama data kontak: +
++ Penyedia Kontak secara opsional bisa melabeli kumpulan kontak terkait dengan data + grup. Jika server yang dikaitkan dengan akun pengguna + ingin mempertahankan grup, adaptor sinkronisasi untuk tipe akun dari akun itu harus mentransfer + data grup antara Penyedia Kontak dan server. Bila pengguna menambahkan kontak baru ke + server, kemudian memasukkan kontak ini dalam grup baru, adaptor sinkronisasi harus menambahkan grup baru + ke tabel {@link android.provider.ContactsContract.Groups}. Grup atau grup-grup yang memiliki kontak + disimpan dalam tabel {@link android.provider.ContactsContract.Data}, dengan menggunakan + tipe MIME {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds.GroupMembership}. +
++ Jika Anda mendesain adaptor sinkronisasi yang akan menambahkan data kontak mentah dari + server ke Penyedia Kontak, dan Anda tidak menggunakan grup, maka Anda harus memberi tahu + penyedia itu agar membuat data Anda terlihat. Dalam kode yang dijalankan bila pengguna menambahkan akun + ke perangkat, perbarui baris {@link android.provider.ContactsContract.Settings} + yang ditambahkan Penyedia Kontak untuk akunnya. Dalam baris ini, atur nilai kolom + {@link android.provider.ContactsContract.SettingsColumns#UNGROUPED_VISIBLE + Settings.UNGROUPED_VISIBLE} ke 1. Bila melakukannya, Penyedia Kontak akan selalu + membuat data kontak Anda terlihat, meskipun Anda tidak menggunakan grup. +
++ Tabel {@link android.provider.ContactsContract.Data} menyimpan foto sebagai baris dengan tipe MIME + {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds.Photo#CONTENT_ITEM_TYPE + Photo.CONTENT_ITEM_TYPE}. Kolom + {@link android.provider.ContactsContract.RawContactsColumns#CONTACT_ID} baris yang ditautkan ke + kolom {@code android.provider.BaseColumns#_ID} kontak mentah yang memiliki kolom itu. + Kelas {@link android.provider.ContactsContract.Contacts.Photo} mendefinisikan subtabel + {@link android.provider.ContactsContract.Contacts} yang berisi informasi foto untuk foto + utama kontak, yang merupakan foto utama dari kontak mentah utama kontak itu. Demikian pula, + kelas {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts.DisplayPhoto} mendefinisikan subtabel + {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts} yang berisi informasi foto untuk + foto utama kontak mentah. +
++ Dokumentasi acuan untuk {@link android.provider.ContactsContract.Contacts.Photo} dan + {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts.DisplayPhoto} berisi contoh-contoh + pengambilan informasi foto. Tidak ada kelas praktis untuk mengambil + thumbnail utama kontak mentah, tetapi Anda bisa mengirim query ke + tabel {@link android.provider.ContactsContract.Data}, dengan memilih + {@code android.provider.BaseColumns#_ID} kontak mentah, + {@link android.provider.ContactsContract.CommonDataKinds.Photo#CONTENT_ITEM_TYPE + Photo.CONTENT_ITEM_TYPE}, dan kolom {@link android.provider.ContactsContract.Data#IS_PRIMARY} + untuk menemukan baris foto utama kontak mentah. +
++ Data aliran sosial untuk seseorang bisa juga disertai foto. Data ini disimpan dalam + tabel {@code android.provider.ContactsContract.StreamItemPhotos}, yang dijelaskan lebih detail + di bagian Foto aliran sosial. +
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/providers/content-provider-basics.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/providers/content-provider-basics.jd new file mode 100644 index 0000000000000..4af92771f7e1c --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/providers/content-provider-basics.jd @@ -0,0 +1,1196 @@ +page.title=Dasar-Dasar Penyedia Konten +@jd:body ++ Penyedia konten mengelola akses ke repository data pusat. Penyedia + adalah bagian dari aplikasi Android, yang sering menyediakan UI-nya sendiri untuk menggunakan + data. Akan tetapi, penyedia konten terutama dimaksudkan untuk digunakan oleh + aplikasi lain, yang mengakses penyedia itu melalui objek klien penyedia. Bersama-sama, penyedia + dan klien penyedia menawarkan antarmuka standar yang konsisten ke data yang juga menangani + komunikasi antar-proses dan akses data aman. +
++ Topik ini menerangkan dasar-dasar dari hal-hal berikut: +
++ Penyedia konten menyajikan data ke aplikasi eksternal sebagai satu atau beberapa tabel yang + serupa dengan tabel-tabel yang ditemukan dalam database relasional. Sebuah baris mewakili instance beberapa tipe + data yang dikumpulkan penyedia, dan tiap kolom dalam baris mewakili sepotong + data yang dikumpulkan untuk sebuah instance. +
++ Misalnya, salah satu penyedia bawaan di platform Android adalah kamus pengguna, yang + menyimpan ejaan kata-kata tidak-standar yang ingin disimpan pengguna. Tabel 1 mengilustrasikan + wujud data yang mungkin ada dalam tabel penyedia ini: +
++ Tabel 1: Contoh tabel kamus pengguna. +
+| word | +app id | +frequency | +locale | +_ID | +
|---|---|---|---|---|
| mapreduce | +user1 | +100 | +en_US | +1 | +
| precompiler | +user14 | +200 | +fr_FR | +2 | +
| applet | +user2 | +225 | +fr_CA | +3 | +
| const | +user1 | +255 | +pt_BR | +4 | +
| int | +user5 | +100 | +en_UK | +5 | +
+ Dalam tabel 1, tiap baris mewakili instance sebuah kata yang mungkin tidak
+ ditemukan dalam kamus standar. Tiap kolom mewakili beberapa data untuk kata itu, misalnya
+ bahasa lokal tempat kata itu ditemukan kali pertama. Header kolom adalah nama kolom yang disimpan dalam
+ penyedia. Untuk mengacu ke bahasa lokal suatu baris, Anda mengacu ke kolom locale-nya. Untuk
+ penyedia ini, kolom _ID berfungsi sebagai "kunci utama" kolom yang
+ dipelihara oleh penyedia secara otomatis.
+
+ Catatan: Penyedia tidak diharuskan memiliki kunci utama, dan tidak diharuskan
+ menggunakan _ID sebagai nama kolom kunci utama jika kunci itu ada. Akan tetapi,
+ jika Anda ingin mengikat data dari penyedia ke {@link android.widget.ListView}, salah satu
+ nama kolom harus _ID. Ketentuan ini dijelaskan secara lebih detail di bagian
+ Menampilkan hasil query.
+
+ Aplikasi mengakses data dari penyedia konten dengan + sebuah objek klien {@link android.content.ContentResolver}. Objek ini memiliki metode yang memanggil + metode dengan nama identik dalam objek penyedia, instance salah satu + subkelas konkret dari {@link android.content.ContentProvider}. Metode-metode + {@link android.content.ContentResolver} menyediakan fungsi-fungsi dasar + "CRUD" (create, retrieve, update, dan delete) pada penyimpanan yang persisten. +
++ Objek {@link android.content.ContentResolver} dalam + proses aplikasi klien dan objek {@link android.content.ContentProvider} dalam aplikasi yang memiliki + penyedia itu secara otomatis akan menangani komunikasi antar-proses. + {@link android.content.ContentProvider} juga berfungsi sebagai lapisan abstraksi antara + repository datanya dan penampilan eksternal data sebagai tabel. +
++ Catatan: Untuk mengakses penyedia, aplikasi Anda biasanya harus meminta + izin tertentu dalam file manifesnya. Hal ini dijelaskan lebih detail di bagian + Izin Penyedia Konten +
++ Misalnya, untuk mendapatkan daftar kata dan lokalnya dari Penyedia Kamus Pengguna, + Anda memanggil {@link android.content.ContentResolver#query ContentResolver.query()}. + Metode {@link android.content.ContentResolver#query query()} memanggil + metode {@link android.content.ContentProvider#query ContentProvider.query()} yang didefinisikan oleh + Penyedia Kamus Pengguna. Baris-baris kode berikut menunjukkan sebuah + panggilan {@link android.content.ContentResolver#query ContentResolver.query()}: +
+
+// Queries the user dictionary and returns results +mCursor = getContentResolver().query( + UserDictionary.Words.CONTENT_URI, // The content URI of the words table + mProjection, // The columns to return for each row + mSelectionClause // Selection criteria + mSelectionArgs, // Selection criteria + mSortOrder); // The sort order for the returned rows ++
+ Tabel 2 menampilkan cara argumen untuk + {@link android.content.ContentResolver#query + query(Uri,projection,selection,selectionArgs,sortOrder)} cocok dengan sebuah pernyataan SELECT di SQL: +
++ Tabel 2: Query() dibandingkan dengan query SQL. +
+| Argumen query() | +Kata kunci/parameter SELECT | +Catatan | +
|---|---|---|
Uri |
+ FROM table_name |
+ Uri memetakan ke tabel dalam penyedia yang bernama table_name. |
+
projection |
+ col,col,col,... |
+
+ projection adalah satu larik kolom yang harus disertakan untuk tiap baris
+ yang diambil.
+ |
+
selection |
+ WHERE col = value |
+ selection menetapkan kriteria untuk memilih baris. |
+
selectionArgs |
+
+ (Tidak ada padanan persis. Argumen pemilihan mengganti ? placeholder dalam
+ klausa pemilihan.)
+ |
+ |
sortOrder |
+ ORDER BY col,col,... |
+
+ sortOrder menetapkan urutan munculnya baris dalam
+ {@link android.database.Cursor} yang dihasilkan.
+ |
+
+ URI konten adalah URI yang mengidentifikasi data dalam penyedia. URI Konten + menyertakan nama simbolis seluruh penyedia (otoritasnya) dan sebuah + nama yang menunjuk ke tabel (path). Bila Anda memanggil + metode klien untuk mengakses tabel dalam penyedia, URI konten untuk tabel itu adalah salah satu + argumennya. +
++ Dalam baris kode sebelumnya, konstanta + {@link android.provider.UserDictionary.Words#CONTENT_URI} mengandung URI konten dari + tabel "words" kamus pengguna. Objek {@link android.content.ContentResolver} + akan mengurai otoritas URI, dan menggunakannya untuk "mengetahui" penyedia dengan + membandingkan otoritas tersebut dengan sebuah tabel sistem berisi penyedia yang dikenal. +{@link android.content.ContentResolver} kemudian bisa mengirim argumen query ke penyedia + yang benar. +
++ {@link android.content.ContentProvider} menggunakan bagian path dari URI konten untuk memilih + tabel yang akan diakses. Penyedia biasanya memiliki path untuk tiap tabel yang dieksposnya. +
++ Dalam baris kode sebelumnya, URI lengkap untuk tabel "words" adalah: +
++content://user_dictionary/words ++
+ dalam hal ini string user_dictionary adalah otoritas penyedia, dan string
+ words adalah path tabel. String
+ content:// (skema) selalu ada,
+ dan mengidentifikasinya sebagai URI konten.
+
+ Banyak penyedia yang memperbolehkan Anda mengakses satu baris dalam tabel dengan menambahkan sebuah ID nilai
+ ke akhir URI. Misalnya, untuk mengambil sebuah baris yang _ID-nya adalah
+ 4 dari kamus pengguna, Anda bisa menggunakan URI konten ini:
+
+Uri singleUri = ContentUris.withAppendedId(UserDictionary.Words.CONTENT_URI,4); ++
+ Anda akan sering menggunakan nilai-nilai ID bila telah mengambil satu set baris kemudian ingin memperbarui atau menghapus + salah satunya. +
++ Catatan: Kelas-kelas {@link android.net.Uri} dan {@link android.net.Uri.Builder} + berisi metode praktis untuk membangun objek dari string URI yang tersusun dengan baik. +{@link android.content.ContentUris} berisi metode praktis untuk menambahkan nilai ID ke + URI. Cuplikan kode sebelumnya menggunakan {@link android.content.ContentUris#withAppendedId + withAppendedId()} untuk menambahkan id ke URI konten User Dictionary. +
+ + + ++ Bagian ini menerangkan cara mengambil data dari penyedia, dengan menggunakan Penyedia Kamus Pengguna + sebagai contoh. +
++ Demi kejelasan, cuplikan kode di bagian ini memanggil + {@link android.content.ContentResolver#query ContentResolver.query()} pada "UI thread"". Akan tetapi, dalam + kode sesungguhnya, Anda harus melakukan query secara asinkron pada sebuah thread terpisah. Satu cara melakukannya + adalah menggunakan kelas {@link android.content.CursorLoader}, yang dijelaskan + lebih detail dalam panduan + Loader. Juga, baris-baris kode tersebut hanyalah cuplikan; tidak menunjukkan sebuah aplikasi + lengkap. +
++ Untuk mengambil data dari penyedia, ikutilah langkah-langkah dasar ini: +
+
+ Untuk mengambil data dari penyedia, aplikasi Anda memerlukan "izin akses baca" untuk
+ penyedia itu. Anda tidak bisa meminta izin ini saat runtime; sebagai gantinya, Anda harus menetapkan bahwa
+ Anda memerlukan izin ini dalam manifes, dengan menggunakan elemen
+<uses-permission>
+ dan nama persis izin yang didefinisikan oleh
+ penyedia itu. Bila menetapkan elemen ini dalam manifes, Anda secara efektif "meminta"
+ izin ini untuk aplikasi Anda. Bila pengguna menginstal aplikasi Anda, mereka secara implisit akan memberikan
+ permintaan ini.
+
+ Untuk menemukan nama persis dari izin akses baca untuk penyedia yang sedang Anda gunakan, serta + nama-nama izin akses lain yang digunakan oleh penyedia, lihatlah dalam + dokumentasi penyedia. +
++ Peran izin dalam yang mengakses penyedia dijelaskan lebih detail di bagian + Izin Penyedia Konten. +
+
+ Penyedia Kamus Pengguna mendefinisikan izin
+ android.permission.READ_USER_DICTIONARY dalam file manifesnya, sehingga
+ aplikasi yang ingin membaca dari penyedia itu harus meminta izin ini.
+
+ Langkah berikutnya dalam mengambil data penyedia adalah membuat query. Cuplikan kode pertama ini + mendefinisikan beberapa variabel untuk mengakses Penyedia Kamus Pengguna: +
+
+
+// A "projection" defines the columns that will be returned for each row
+String[] mProjection =
+{
+ UserDictionary.Words._ID, // Contract class constant for the _ID column name
+ UserDictionary.Words.WORD, // Contract class constant for the word column name
+ UserDictionary.Words.LOCALE // Contract class constant for the locale column name
+};
+
+// Defines a string to contain the selection clause
+String mSelectionClause = null;
+
+// Initializes an array to contain selection arguments
+String[] mSelectionArgs = {""};
+
+
++ Cuplikan berikutnya menampilkan cara menggunakan + {@link android.content.ContentResolver#query ContentResolver.query()}, dengan menggunakan Penyedia Kamus Pengguna + sebagai contoh. Query klien penyedia serupa dengan query SQL, dan berisi satu + set kolom yang akan dihasilkan, satu set kriteria pemilihan, dan urutan sortir. +
+
+ Set kolom yang harus dikembalikan query disebut dengan proyeksi
+ (variabel mProjection).
+
+ Ekspresi yang menetapkan baris yang harus diambil dipecah menjadi klausa pemilihan dan
+ argumen pemilihan. Klausa pemilihan adalah kombinasi ekspresi logis dan boolean,
+ nama kolom, dan nilai (variabel mSelectionClause). Jika Anda menetapkan
+ parameter ? yang bisa diganti, sebagai ganti nilai, metode query akan mengambil nilai
+ dari larik argumen pemilihan (variabel mSelectionArgs).
+
+ Dalam cuplikan berikutnya, jika pengguna tidak memasukkan sebuah kata, klausa pemilihan akan diatur ke
+ null, dan query menghasilkan semua kata dalam penyedia. Jika pengguna memasukkan
+ sebuah kata, klausa pemilihan akan diatur ke UserDictionary.Words.WORD + " = ?" dan
+ elemen pertama larik argumen pemilihan diatur ke kata yang dimasukkan pengguna.
+
+/*
+ * This defines a one-element String array to contain the selection argument.
+ */
+String[] mSelectionArgs = {""};
+
+// Gets a word from the UI
+mSearchString = mSearchWord.getText().toString();
+
+// Remember to insert code here to check for invalid or malicious input.
+
+// If the word is the empty string, gets everything
+if (TextUtils.isEmpty(mSearchString)) {
+ // Setting the selection clause to null will return all words
+ mSelectionClause = null;
+ mSelectionArgs[0] = "";
+
+} else {
+ // Constructs a selection clause that matches the word that the user entered.
+ mSelectionClause = UserDictionary.Words.WORD + " = ?";
+
+ // Moves the user's input string to the selection arguments.
+ mSelectionArgs[0] = mSearchString;
+
+}
+
+// Does a query against the table and returns a Cursor object
+mCursor = getContentResolver().query(
+ UserDictionary.Words.CONTENT_URI, // The content URI of the words table
+ mProjection, // The columns to return for each row
+ mSelectionClause // Either null, or the word the user entered
+ mSelectionArgs, // Either empty, or the string the user entered
+ mSortOrder); // The sort order for the returned rows
+
+// Some providers return null if an error occurs, others throw an exception
+if (null == mCursor) {
+ /*
+ * Insert code here to handle the error. Be sure not to use the cursor! You may want to
+ * call android.util.Log.e() to log this error.
+ *
+ */
+// If the Cursor is empty, the provider found no matches
+} else if (mCursor.getCount() < 1) {
+
+ /*
+ * Insert code here to notify the user that the search was unsuccessful. This isn't necessarily
+ * an error. You may want to offer the user the option to insert a new row, or re-type the
+ * search term.
+ */
+
+} else {
+ // Insert code here to do something with the results
+
+}
+
++ Query ini analog dengan pernyataan SQL: +
++SELECT _ID, word, locale FROM words WHERE word = <userinput> ORDER BY word ASC; ++
+ Dalam pernyataan SQL ini, nama kolom yang sesungguhnya digunakan sebagai ganti konstanta kelas kontrak. +
++ Jika data dikelola oleh penyedia konten berada dalam database SQL, memasukkan data tak dipercaya eksternal + ke dalam pernyataan SQL mentah bisa menyebabkan injeksi SQL. +
++ Perhatikan klausa pemilihan ini: +
++// Constructs a selection clause by concatenating the user's input to the column name +String mSelectionClause = "var = " + mUserInput; ++
+ Jika melakukannya, Anda akan membuat pengguna menyambungkan SQL merusak ke pernyataan SQL Anda.
+ Misalnya, pengguna bisa memasukkan "nothing; DROP TABLE *;" untuk mUserInput, yang
+ akan menghasilkan klausa pemilihan var = nothing; DROP TABLE *;. Karena
+ klausa pemilihan diperlakukan sebagai pernyataan SQL, hal ini bisa menyebabkan penyedia itu menghapus semua
+ tabel dalam database SQLite yang mendasarinya (kecuali penyedia disiapkan untuk menangkap upaya
+ injeksi SQL).
+
+ Untuk menghindari masalah ini, gunakan klausa pemilihan yang menggunakan ? sebagai
+ parameter yang bisa diganti dan larik argumen pemilihan yang terpisah. Bila Anda melakukannya, input pengguna
+ akan dibatasi secara langsung pada query agar tidak ditafsirkan sebagai bagian dari pernyataan SQL.
+ Karena tidak diperlakukan sebagai SQL, input pengguna tidak bisa menyuntikkan SQL merusak. Sebagai ganti menggunakan
+ penyambungan untuk menyertakan input pengguna, gunakan klausa pemilihan ini:
+
+// Constructs a selection clause with a replaceable parameter +String mSelectionClause = "var = ?"; ++
+ Buat larik argumen pemilihan seperti ini: +
+
+// Defines an array to contain the selection arguments
+String[] selectionArgs = {""};
+
++ Masukkan nilai dalam larik argumen pemilihan seperti ini: +
++// Sets the selection argument to the user's input +selectionArgs[0] = mUserInput; ++
+ Sebuah klausa pemilihan yang menggunakan ? sebagai parameter yang bisa diganti dan sebuah larik
+ argumen pemilihan adalah cara yang lebih disukai untuk menyebutkan pemilihan, sekalipun penyedia tidak
+ dibuat berdasarkan database SQL.
+
+ Metode klien {@link android.content.ContentResolver#query ContentResolver.query()} selalu + menghasilkan {@link android.database.Cursor} berisi kolom-kolom yang ditetapkan oleh + proyeksi query untuk baris yang cocok dengan kriteria pemilihan query. Objek + {@link android.database.Cursor} menyediakan akses baca acak ke baris dan kolom yang + dimuatnya. Dengan metode {@link android.database.Cursor}, Anda bisa mengulang baris-baris dalam + hasil, menentukan tipe data tiap kolom, mengambil data dari kolom, dan memeriksa + properti lain dari hasil. Beberapa implementasi {@link android.database.Cursor} + akan memperbarui objek secara otomatis bila data penyedia berubah, atau memicu metode dalam objek pengamat + bila {@link android.database.Cursor} berubah, atau keduanya. +
++ Catatan: Penyedia bisa membatasi akses ke kolom berdasarkan sifat + objek yang membuat query. Misalnya, Penyedia Kontak membatasi akses untuk beberapa kolom pada + adaptor sinkronisasi, sehingga tidak akan mengembalikannya ke aktivitas atau layanan. +
++ Jika tidak ada baris yang cocok dengan kriteria pemilihan, penyedia + akan mengembalikan objek {@link android.database.Cursor} dengan + {@link android.database.Cursor#getCount Cursor.getCount()} adalah 0 (kursor kosong). +
+
+ Jika terjadi kesalahan internal, hasil query akan bergantung pada penyedia tertentu. Penyedia bisa
+ memilih untuk menghasilkan null, atau melontarkan {@link java.lang.Exception}.
+
+ Karena {@link android.database.Cursor} adalah "daftar" baris, cara yang cocok untuk menampilkan + konten {@link android.database.Cursor} adalah mengaitkannya dengan {@link android.widget.ListView} + melalui {@link android.widget.SimpleCursorAdapter}. +
++ Cuplikan berikut melanjutkan kode dari cuplikan sebelumnya. Cuplikan ini membuat + objek {@link android.widget.SimpleCursorAdapter} berisi {@link android.database.Cursor} + yang diambil oleh query, dan mengatur objek ini menjadi adaptor bagi + {@link android.widget.ListView}: +
+
+// Defines a list of columns to retrieve from the Cursor and load into an output row
+String[] mWordListColumns =
+{
+ UserDictionary.Words.WORD, // Contract class constant containing the word column name
+ UserDictionary.Words.LOCALE // Contract class constant containing the locale column name
+};
+
+// Defines a list of View IDs that will receive the Cursor columns for each row
+int[] mWordListItems = { R.id.dictWord, R.id.locale};
+
+// Creates a new SimpleCursorAdapter
+mCursorAdapter = new SimpleCursorAdapter(
+ getApplicationContext(), // The application's Context object
+ R.layout.wordlistrow, // A layout in XML for one row in the ListView
+ mCursor, // The result from the query
+ mWordListColumns, // A string array of column names in the cursor
+ mWordListItems, // An integer array of view IDs in the row layout
+ 0); // Flags (usually none are needed)
+
+// Sets the adapter for the ListView
+mWordList.setAdapter(mCursorAdapter);
+
+
+ Catatan: Untuk mendukung {@link android.widget.ListView} dengan
+ {@link android.database.Cursor}, kursor harus berisi kolom bernama _ID.
+ Karena itu, query yang ditampilkan sebelumnya mengambil kolom _ID untuk
+ tabel "words", walaupun {@link android.widget.ListView} tidak menampilkannya.
+ Pembatasan ini juga menjelaskan mengapa sebagian besar penyedia memiliki kolom _ID untuk masing-masing
+ tabelnya.
+
+ Daripada sekadar menampilkan hasil query, Anda bisa menggunakannya untuk tugas-tugas lain. Misalnya, + Anda bisa mengambil ejaan dari kamus pengguna kemudian mencarinya dalam + penyedia lain. Caranya, ulangi baris-baris dalam {@link android.database.Cursor}: +
+
+
+// Determine the column index of the column named "word"
+int index = mCursor.getColumnIndex(UserDictionary.Words.WORD);
+
+/*
+ * Only executes if the cursor is valid. The User Dictionary Provider returns null if
+ * an internal error occurs. Other providers may throw an Exception instead of returning null.
+ */
+
+if (mCursor != null) {
+ /*
+ * Moves to the next row in the cursor. Before the first movement in the cursor, the
+ * "row pointer" is -1, and if you try to retrieve data at that position you will get an
+ * exception.
+ */
+ while (mCursor.moveToNext()) {
+
+ // Gets the value from the column.
+ newWord = mCursor.getString(index);
+
+ // Insert code here to process the retrieved word.
+
+ ...
+
+ // end of while loop
+ }
+} else {
+
+ // Insert code here to report an error if the cursor is null or the provider threw an exception.
+}
+
++ Implementasi {@link android.database.Cursor} berisi beberapa metode "get" untuk + mengambil berbagai tipe data dari objek. Misalnya, cuplikan sebelumnya + menggunakan {@link android.database.Cursor#getString getString()}. Implementasi juga memiliki + metode {@link android.database.Cursor#getType getType()} yang menghasilkan nilai yang menunjukkan + tipe data kolom. +
+ + + ++ Aplikasi penyedia bisa menetapkan izin yang harus dimiliki aplikasi lain untuk + mengakses data penyedia. Izin ini akan memastikan bahwa pengguna mengetahui data + yang coba diakses oleh aplikasi. Berdasarkan ketentuan penyedia, aplikasi lain + meminta izin yang diperlukannya untuk mengakses penyedia. Pengguna akhir akan melihat + izin yang diminta saat menginstal aplikasi. +
++ Jika aplikasi penyedia tidak menetapkan izin apa pun, maka aplikasi lain tidak memiliki + akses ke data penyedia. Akan tetapi, komponen-komponen dalam aplikasi penyedia selalu memiliki + akses penuh untuk baca dan tulis, izin apa pun yang ditetapkan. +
+
+ Seperti disebutkan sebelumnya, Penyedia Kamus Pengguna mensyaratkan izin
+ android.permission.READ_USER_DICTIONARY untuk mengambil data darinya.
+ Penyedia memiliki izin android.permission.WRITE_USER_DICTIONARY
+ yang terpisah untuk menyisipkan, memperbarui, atau menghapus data.
+
+ Untuk mendapatkan izin yang diperlukan untuk mengakses penyedia, aplikasi memintanya dengan elemen
+<uses-permission>
+ dalam file manifesnya. Bila Android Package Manager memasang aplikasi, pengguna
+ harus menyetujui semua izin yang diminta aplikasi. Jika pengguna menyetujui semuanya,
+ Package Manager akan melanjutkan instalasi; jika pengguna tidak menyetujui, Package Manager
+ akan membatalkan instalasi.
+
+ Elemen
+<uses-permission>
+ berikut meminta akses baca ke Penyedia Kamus Pengguna:
+
+ <uses-permission android:name="android.permission.READ_USER_DICTIONARY"> ++
+ Dampak izin pada akses penyedia dijelaskan secara lebih detail dalam panduan + Keamanan dan Izin. +
+ + + ++ Lewat cara yang sama dengan cara mengambil data dari penyedia, Anda juga menggunakan interaksi antara + klien penyedia dan {@link android.content.ContentProvider} penyedia untuk memodifikasi data. + Anda memanggil metode {@link android.content.ContentResolver} dengan argumen yang diteruskan ke + metode {@link android.content.ContentProvider} yang sesuai. Penyedia dan klien penyedia + menangani secara otomatis keamanan dan komunikasi antar-proses. +
++ Untuk menyisipkan data ke penyedia, Anda memanggil metode + {@link android.content.ContentResolver#insert ContentResolver.insert()}. + Metode ini menyisipkan sebuah baris baru ke penyedia itu dan menghasilkan URI konten untuk baris itu. + Cuplikan ini menampilkan cara menyisipkan sebuah kata baru ke Penyedia Kamus Pengguna: +
++// Defines a new Uri object that receives the result of the insertion +Uri mNewUri; + +... + +// Defines an object to contain the new values to insert +ContentValues mNewValues = new ContentValues(); + +/* + * Sets the values of each column and inserts the word. The arguments to the "put" + * method are "column name" and "value" + */ +mNewValues.put(UserDictionary.Words.APP_ID, "example.user"); +mNewValues.put(UserDictionary.Words.LOCALE, "en_US"); +mNewValues.put(UserDictionary.Words.WORD, "insert"); +mNewValues.put(UserDictionary.Words.FREQUENCY, "100"); + +mNewUri = getContentResolver().insert( + UserDictionary.Word.CONTENT_URI, // the user dictionary content URI + mNewValues // the values to insert +); ++
+ Data untuk baris baru masuk ke dalam satu objek {@link android.content.ContentValues}, yang
+ serupa bentuknya dengan kursor satu-baris. Kolom dalam objek ini tidak perlu memiliki
+ tipe data yang sama, dan jika Anda tidak ingin menetapkan nilai sama sekali, Anda bisa mengatur kolom
+ ke null dengan menggunakan {@link android.content.ContentValues#putNull ContentValues.putNull()}.
+
+ Cuplikan ini tidak menambahkan kolom _ID, karena kolom ini dipelihara
+ secara otomatis. Penyedia menetapkan sebuah nilai unik _ID ke setiap baris yang
+ ditambahkan. Penyedia biasanya menggunakan nilai ini sebagai kunci utama tabel.
+
+ URI konten yang dihasilkan dalam newUri akan mengidentifikasi baris yang baru ditambahkan, dengan
+ format berikut:
+
+content://user_dictionary/words/<id_value> ++
+ <id_value> adalah konten _ID untuk baris baru.
+ Kebanyakan penyedia bisa mendeteksi bentuk URI konten ini secara otomatis kemudian melakukan
+ operasi yang diminta pada baris tersebut.
+
+ Untuk mendapatkan nilai _ID dari {@link android.net.Uri} yang dihasilkan, panggil
+ {@link android.content.ContentUris#parseId ContentUris.parseId()}.
+
+ Untuk memperbarui sebuah baris, gunakan objek {@link android.content.ContentValues} dengan
+ nilai-nilai yang diperbarui, persis seperti yang Anda lakukan pada penyisipan, dan kriteria pemilihan persis seperti yang Anda lakukan pada query.
+ Metode klien yang Anda gunakan adalah
+ {@link android.content.ContentResolver#update ContentResolver.update()}. Anda hanya perlu menambahkan
+ nilai-nilai ke objek {@link android.content.ContentValues} untuk kolom yang sedang Anda perbarui. Jika Anda
+ ingin membersihkan konten kolom, aturlah nilai ke null.
+
+ Cuplikan berikut mengubah semua baris yang kolom lokalnya memiliki bahasa "en" ke
+ lokal null. Nilai hasil adalah jumlah baris yang diperbarui:
+
+// Defines an object to contain the updated values
+ContentValues mUpdateValues = new ContentValues();
+
+// Defines selection criteria for the rows you want to update
+String mSelectionClause = UserDictionary.Words.LOCALE + "LIKE ?";
+String[] mSelectionArgs = {"en_%"};
+
+// Defines a variable to contain the number of updated rows
+int mRowsUpdated = 0;
+
+...
+
+/*
+ * Sets the updated value and updates the selected words.
+ */
+mUpdateValues.putNull(UserDictionary.Words.LOCALE);
+
+mRowsUpdated = getContentResolver().update(
+ UserDictionary.Words.CONTENT_URI, // the user dictionary content URI
+ mUpdateValues // the columns to update
+ mSelectionClause // the column to select on
+ mSelectionArgs // the value to compare to
+);
+
++ Anda juga harus membersihkan input pengguna bila memanggil + {@link android.content.ContentResolver#update ContentResolver.update()}. Untuk mengetahui selengkapnya tentang + hal ini, bacalah bagian Melindungi dari input merusak. +
++ Menghapus baris serupa dengan mengambil baris data: Anda menetapkan kriteria pemilihan untuk baris + yang ingin Anda hapus dan metode klien akan menghasilkan jumlah baris yang dihapus. + Cuplikan berikut menghapus baris yang appid-nya sama dengan "user". Metode menghasilkan + jumlah baris yang dihapus. +
+
+
+// Defines selection criteria for the rows you want to delete
+String mSelectionClause = UserDictionary.Words.APP_ID + " LIKE ?";
+String[] mSelectionArgs = {"user"};
+
+// Defines a variable to contain the number of rows deleted
+int mRowsDeleted = 0;
+
+...
+
+// Deletes the words that match the selection criteria
+mRowsDeleted = getContentResolver().delete(
+ UserDictionary.Words.CONTENT_URI, // the user dictionary content URI
+ mSelectionClause // the column to select on
+ mSelectionArgs // the value to compare to
+);
+
++ Anda juga harus membersihkan input pengguna bila memanggil + {@link android.content.ContentResolver#delete ContentResolver.delete()}. Untuk mengetahui selengkapnya tentang + hal ini, bacalah bagian Melindungi dari input merusak. +
+ ++ Penyedia konten bisa menawarkan berbagai tipe data. Penyedia Kamus Pengguna hanya menawarkan + teks, namun penyedia juga bisa menawarkan format berikut: +
++ Tipe data lain yang sering digunakan penyedia adalah Binary Large OBject (BLOB) yang diimplementasikan sebagai + larik byte 64 KB. Anda bisa melihat tipe data yang tersedia dengan memperhatikan metode "get" + kelas {@link android.database.Cursor}. +
++ Tipe data tiap kolom dalam penyedia biasanya tercantum dalam dokumentasinya. + Tipe data untuk Penyedia Kamus Pengguna tercantum dalam dokumentasi acuan + untuk kelas kontraknya {@link android.provider.UserDictionary.Words} (kelas kontrak + dijelaskan di bagian Kelas-kelas Kontrak). + Anda juga bisa menentukan tipe data dengan memanggil {@link android.database.Cursor#getType + Cursor.getType()}. +
++ Penyedia juga memelihara informasi tipe data MIME untuk tiap URI konten yang didefinisikannya. Anda bisa + menggunakan informasi tipe MIME untuk mengetahui apakah aplikasi Anda bisa menangani data yang + disediakan penyedia, atau memilih tipe penanganan berdasarkan tipe MIME. Anda biasanya memerlukan + tipe MIME saat menggunakan penyedia yang berisi + struktur atau file data yang kompleks. Misalnya, tabel {@link android.provider.ContactsContract.Data} + dalam Penyedia Kontak menggunakan tipe MIME untuk memberi label tipe data kontak yang disimpan di tiap + baris. Untuk mendapatkan tipe MIME yang sesuai dengan URI konten, panggil + {@link android.content.ContentResolver#getType ContentResolver.getType()}. +
++ Bagian Acuan Tipe MIME menerangkan + sintaks tipe MIME baik yang standar maupun custom. +
+ + + ++ Tiga bentuk alternatif akses penyedia adalah penting dalam pengembangan aplikasi: +
++ Akses batch dan modifikasi melalui intent dijelaskan dalam bagian-bagian berikut. +
++ Akses batch ke penyedia berguna untuk menyisipkan baris dalam jumlah besar, atau menyisipkan + baris ke dalam beberapa tabel dalam panggilan metode yang sama, atau biasanya melakukan satu set + operasi lintas batas proses sebagai transaksi (operasi atomik). +
++ Untuk mengakses penyedia dalam "mode batch", + buat satu larik objek {@link android.content.ContentProviderOperation}, kemudian + kirim larik itu ke penyedia konten dengan + {@link android.content.ContentResolver#applyBatch ContentResolver.applyBatch()}. Anda meneruskan + otoritas penyedia konten ke metode ini, daripada URI konten tertentu. + Ini memungkinkan tiap objek {@link android.content.ContentProviderOperation} dalam larik untuk bekerja + terhadap tabel yang berbeda. Panggilan ke {@link android.content.ContentResolver#applyBatch + ContentResolver.applyBatch()} menghasilkan satu larik hasil. +
+
+ Keterangan kelas kontrak {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts}
+ menyertakan cuplikan kode yang memperagakan penyisipan batch. Contoh aplikasi
+ Contacts Manager
+ berisi contoh akses batch dalam file sumber ContactAdder.java-nya
+.
+
+ Jika aplikasi Anda memang memiliki izin akses, Anda masih mungkin perlu menggunakan + intent untuk menampilkan data dalam aplikasi lain. Misalnya, aplikasi Kalender menerima + intent {@link android.content.Intent#ACTION_VIEW}, yang menampilkan tanggal atau kejadian tertentu. + Hal ini memungkinkan Anda menampilkan informasi kalender tanpa harus membuat UI sendiri. + Untuk mengetahui selengkapnya tentang fitur ini, lihat panduan + Penyedia Kalender. +
++ Aplikasi yang Anda kirimi intent tidak harus aplikasi + yang terkait dengan penyedia. Misalnya, Anda bisa mengambil satu kontak dari + Penyedia Kontak, kemudian mengirim intent {@link android.content.Intent#ACTION_VIEW} + berisi URI konten untuk gambar kontak itu ke penampil gambar. +
++ Intent bisa menyediakan akses tidak langsung ke penyedia konten. Anda memperbolehkan pengguna mengakses + data dalam penyedia sekalipun aplikasi Anda tidak memiliki izin akses, baik dengan + mendapatkan intent yang dihasilkan aplikasi yang memiliki izin, atau dengan mengaktifkan + aplikasi yang memiliki izin dan membiarkan pengguna melakukan pekerjaan di dalamnya. +
++ Anda bisa mengakses data dalam penyedia konten, sekalipun tidak memiliki + izin akses yang sesuai, dengan mengirimkan intent ke aplikasi yang memang memiliki izin dan + menerima hasil berupa intent berisi izin "URI". + Inilah izin untuk URI konten tertentu yang berlaku hingga aktivitas yang menerima + izin selesai. Aplikasi yang memiliki izin tetap akan memberikan + izin sementara dengan mengatur flag dalam intent yang dihasilkan: +
++ Catatan: Flag ini tidak memberikan akses baca atau tulis umum ke penyedia + yang otoritasnya dimuat dalam URI konten. Aksesnya hanya untuk URI itu sendiri. +
+
+ Penyedia mendefinisikan izin URI untuk URI konten dalam manifesnya, dengan menggunakan atribut
+android:grantUriPermission
+ dari elemen
+<provider>
+, serta elemen anak
+<grant-uri-permission>
+ dari elemen
+<provider>.
+ Mekanisme izin URI dijelaskan secara lebih detail dalam panduan
+ Keamanan dan Izin,
+ di bagian "Izin URI".
+
+ Misalnya, Anda bisa mengambil data untuk satu kontak di Penyedia Kontak, sekalipun tidak + memiliki izin {@link android.Manifest.permission#READ_CONTACTS}. Anda mungkin ingin melakukan + ini dalam aplikasi yang mengirim kartu ucapan elektronik ke seorang kenalan pada hari ulang tahunnya. Sebagai ganti + meminta {@link android.Manifest.permission#READ_CONTACTS}, yang memberi Anda akses ke semua + kontak pengguna dan semua informasinya, Anda lebih baik membiarkan pengguna mengontrol + kontak-kontak yang akan digunakan oleh aplikasi Anda. Caranya, gunakan proses berikut: +
++ Satu cara mudah agar pengguna bisa memodifikasi data yang izin aksesnya tidak Anda miliki adalah + mengaktifkan aplikasi yang memiliki izin dan membiarkan pengguna melakukan pekerjaannya di sana. +
++ Misalnya, aplikasi Kalender menerima + intent {@link android.content.Intent#ACTION_INSERT}, yang memungkinkan Anda mengaktifkan + UI penyisipan aplikasi itu. Anda bisa meneruskan data "extras" dalam intent ini, yang + digunakan aplikasi untuk mengisi dahulu UI-nya. Karena kejadian berulang memiliki sintaks yang rumit, + cara yang lebih disukai untuk menyisipkan kejadian ke dalam Penyedia Kalender adalah mengaktifkan aplikasi Kalender dengan + {@link android.content.Intent#ACTION_INSERT}, kemudian membiarkan pengguna menyisipkan kejadian di sana. +
+ ++ Kelas kontrak mendefinisikan konstanta yang membantu aplikasi menggunakan URI konten, nama + kolom, tindakan intent, dan fitur lain pada penyedia konten. Kelas kontrak tidak + disertakan secara otomatis bersama penyedia; pengembang penyedia harus mendefinisikannya kemudian + membuatnya tersedia bagi pengembang lain. Banyak penyedia yang disertakan pada platform Android + memiliki kelas kontrak yang sesuai dalam {@link android.provider} paketnya. +
++ Misalnya, Penyedia Kamus Pengguna memiliki kelas kontrak + {@link android.provider.UserDictionary} yang berisi URI konten dan konstanta nama kolom. URI + konten untuk tabel "words" didefinisikan dalam konstanta + {@link android.provider.UserDictionary.Words#CONTENT_URI UserDictionary.Words.CONTENT_URI}. + Kelas {@link android.provider.UserDictionary.Words} juga berisi konstanta nama kolom, + yang digunakan dalam cuplikan contoh pada panduan ini. Misalnya, sebuah proyeksi query bisa + didefinisikan sebagai: +
+
+String[] mProjection =
+{
+ UserDictionary.Words._ID,
+ UserDictionary.Words.WORD,
+ UserDictionary.Words.LOCALE
+};
+
++ Kelas kontrak lain adalah {@link android.provider.ContactsContract} untuk Penyedia Kontak. + Dokumentasi acuan untuk kelas ini menyertakan contoh cuplikan kode. Salah satu + subkelasnya, {@link android.provider.ContactsContract.Intents.Insert}, adalah + kelas kontrak yang berisi konstanta untuk intent dan data intent. +
+ + + ++ Penyedia konten bisa menghasilkan tipe media MIME standar, atau string tipe MIME custom, atau keduanya. +
++ Tipe MIME memiliki format +
++type/subtype ++
+ Misalnya, tipe MIME text/html yang dikenal luas memiliki tipe text dan
+ subtipe html. Jika penyedia menghasilkan tipe ini untuk sebuah URI, artinya
+ query dengan URI itu akan menghasilkan teks berisi tag HTML.
+
+ String tipe MIME custom, yang juga disebut dengan tipe MIME "khusus vendor", memiliki nilai-nilai + tipe dan subtipe yang lebih kompleks. Nilai tipe selalu +
++vnd.android.cursor.dir ++
+ untuk beberapa baris, atau +
++vnd.android.cursor.item ++
+ untuk satu baris. +
++ Subtipe adalah khusus penyedia. Penyedia bawaan Android biasanya memiliki subtipe + sederhana. Misalnya, bila aplikasi Contacts membuat satu baris untuk nomor telepon, + aplikasi akan mengatur tipe MIME berikut di baris itu: +
++vnd.android.cursor.item/phone_v2 ++
+ Perhatikan bahwa nilai subtipe adalah sekadar phone_v2.
+
+ Pengembang penyedia lain bisa membuat pola subtipe sendiri berdasarkan
+ otoritas dan nama-nama tabel penyedia. Misalnya, perhatikan penyedia yang berisi jadwal kereta api.
+ Otoritas penyedia adalah com.example.trains, dan berisi tabel-tabel
+ Line1, Line2, dan Line3. Untuk merespons URI konten
+
+
+content://com.example.trains/Line1 ++
+ untuk tabel Line1, penyedia menghasilkan tipe MIME +
++vnd.android.cursor.dir/vnd.example.line1 ++
+ Untuk merespons URI konten +
++content://com.example.trains/Line2/5 ++
+ untuk baris 5 di tabel Line2, penyedia menghasilkan tipe MIME +
++vnd.android.cursor.item/vnd.example.line2 ++
+ Kebanyakan penyedia konten mendefinisikan konstanta kelas kontrak untuk tipe MIME yang digunakannya. Kelas kontrak + {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts} pada Penyedia Kontak + misalnya, mendefinisikan konstanta + {@link android.provider.ContactsContract.RawContacts#CONTENT_ITEM_TYPE} untuk tipe MIME + baris kontak mentah tunggal. +
++ URI konten untuk baris-baris tunggal dijelaskan di bagian + URI Konten. +
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/providers/content-provider-creating.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/providers/content-provider-creating.jd new file mode 100644 index 0000000000000..7fbc613ff79c9 --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/providers/content-provider-creating.jd @@ -0,0 +1,1214 @@ +page.title=Membuat Penyedia Konten +@jd:body ++ Penyedia konten mengelola akses ke repository data pusat. Anda mengimplementasikan + penyedia sebagai satu atau beberapa kelas dalam aplikasi Android, bersama elemen-elemen dalam + file manifes. Salah satu kelas Anda mengimplementasikan subkelas + {@link android.content.ContentProvider}, yang merupakan antarmuka antara penyedia Anda dan + aplikasi lain. Walaupun penyedia konten dimaksudkan untuk menyediakan data bagi + aplikasi lain, Anda tentu saja bisa memiliki aktivitas dalam aplikasi yang memungkinkan pengguna + melakukan query dan memodifikasi data yang dikelola oleh penyedia Anda. +
++ Bagian selebihnya dalam topik ini adalah daftar langkah-langkah dasar untuk membangun penyedia konten dan daftar + API yang akan digunakan. +
+ + + ++ Sebelum Anda mulai membangun penyedia, lakukanlah hal-hal berikut: +
++ Anda tidak mengharuskan penyedia untuk menggunakan database SQLite jika hanya digunakan dalam + aplikasi sendiri. +
++ Berikutnya, ikuti langkah-langkah ini untuk membangun penyedia: +
++ Penyedia konten adalah antarmuka ke data yang disimpan dalam format terstruktur. Sebelum membuat + antarmuka, Anda harus memutuskan cara menyimpan data. Anda bisa menyimpan data dalam bentuk apa saja yang Anda + sukai, kemudian mendesain antarmuka untuk membaca dan menulis data yang diperlukan. +
++ Berikut ini adalah beberapa teknologi penyimpanan data yang tersedia di Android: +
++ Ingatlah bahwa Anda tidak harus menggunakan database untuk mengimplementasikan repository. Penyedia + muncul secara eksternal sebagai satu set tabel, yang serupa dengan sebuah database relasional, namun ini + bukan persyaratan untuk implementasi internal penyedia. +
++ Berikut ini adalah beberapa tip untuk mendesain struktur data penyedia: +
+_ID.
+ + Anda juga bisa menggunakan BLOB untuk mengimplementasikan tabel yang tidak bergantung skema. Dalam + tipe tabel ini, Anda mendefinisikan kolom kunci utama, kolom tipe MIME, dan satu atau beberapa + kolom generik sebagai BLOB. Arti dari data dalam kolom-kolom BLOB ditunjukkan + oleh nilai dalam kolom tipe MIME. Cara ini memungkinkan Anda menyimpan berbagai tipe baris dalam + tabel yang sama. Tabel "data" + {@link android.provider.ContactsContract.Data} Penyedia Kontak adalah contoh tabel yang tidak bergantung skema + tersebut. +
++ URI konten adalah URI yang mengidentifikasi data dalam penyedia. URI Konten + berisi nama simbolis seluruh penyedia (otoritasnya) dan sebuah + nama yang menunjuk ke tabel atau file (path). Bagian id opsional menunjuk ke + satu baris dalam tabel. Setiap metode akses data + {@link android.content.ContentProvider} memiliki sebuah URI konten sebagai argumen; hal ini memungkinkan Anda + menentukan tabel, baris, atau file yang akan diakses. +
++ Dasar-dasar URI konten dijelaskan dalam topik + + Dasar-Dasar Penyedia Konten. +
+
+ Penyedia biasanya memiliki otoritas tunggal, yang berfungsi sebagai nama internal Android-nya. Untuk
+ menghindari konflik dengan penyedia lain, Anda harus menggunakan kepemilikan domain internet (secara terbalik)
+ sebagai basis otoritas penyedia Anda. Karena saran ini juga berlaku untuk
+ nama-nama paket Android, Anda bisa mendefinisikan otoritas penyedia sebagai perluasan dari nama
+ paket yang berisi penyedia. Misalnya, jika nama paket Android Anda adalah
+ com.example.<appname>, Anda harus memberikan penyedia Anda
+ otoritas com.example.<appname>.provider.
+
+ Pengembang biasanya membuat URI konten dari otoritas dengan menambahkan path yang menunjuk ke
+ masing-masing tabel. Misalnya, jika Anda memiliki dua tabel table1 dan
+ table2, Anda mengombinasikan otoritas dari contoh sebelumnya untuk menghasilkan
+ URI konten
+ com.example.<appname>.provider/table1 dan
+ com.example.<appname>.provider/table2. Path tidak
+ dibatasi pada segmen tunggal, dan tidak harus berupa tabel untuk masing-masing tingkat path.
+
+ Berdasarkan standar, penyedia menawarkan akses ke satu baris dalam tabel dengan menerima URI konten
+ dengan sebuah nilai ID untuk baris itu di akhir URI. Juga berdasarkan standar, penyedia mencocokkan
+ nilai ID dengan kolom _ID tabel, dan melakukan akses yang diminta terhadap baris
+ yang cocok.
+
+ Standar ini memudahkan pola desain umum untuk aplikasi yang mengakses penyedia. Aplikasi
+ melakukan query terhadap penyedia dan menampilkan {@link android.database.Cursor} yang dihasilkan
+ dalam {@link android.widget.ListView} dengan menggunakan {@link android.widget.CursorAdapter}.
+ Definisi {@link android.widget.CursorAdapter} mengharuskan salah satu kolom dalam
+ {@link android.database.Cursor} berupa _ID
+
+ Pengguna kemudian mengambil salah satu baris yang ditampilkan dari UI untuk menemukan atau memodifikasi
+ data. Aplikasi mengambil baris yang sesuai dari {@link android.database.Cursor} yang mendukung
+ {@link android.widget.ListView}, mengambil nilai _ID untuk baris ini, menambahkannya ke
+ URI konten, dan mengirim permintaan akses ke penyedia. Penyedia nanti bisa melakukan
+ query atau modifikasi terhadap baris yang persis diambil pengguna.
+
+ Untuk membantu Anda memilih tindakan yang diambil bagi URI konten yang masuk, API penyedia menyertakan
+ kelas praktis {@link android.content.UriMatcher}, yang memetakan "pola-pola" URI konten ke
+ nilai-nilai integer. Anda bisa menggunakan nilai-nilai integer dalam pernyataan switch yang
+ memilih tindakan yang diinginkan untuk URI konten atau URI yang cocok dengan pola tertentu.
+
+ Pola URI konten mencocokkan dengan URI konten menggunakan karakter wildcard: +
+*: Mencocokkan string yang memiliki karakter yang sah dengan panjang berapa saja.
+ #: Mencocokkan string karakter numerik dengan panjang berapa saja.
+
+ Sebagai contoh desain dan pemrograman penanganan URI konten, perhatikan penyedia dengan
+ otoritas com.example.app.provider yang mengenali URI konten berikut
+ yang menunjuk ke tabel-tabel:
+
content://com.example.app.provider/table1: Tabel bernama table1.
+ content://com.example.app.provider/table2/dataset1: Tabel bernama
+ dataset1.
+ content://com.example.app.provider/table2/dataset2: Tabel bernama
+ dataset2.
+ content://com.example.app.provider/table3: Tabel bernama table3.
+
+ Penyedia juga mengenali URI konten ini jika baris ID ditambahkan ke URI,
+ misalnya content://com.example.app.provider/table3/1 untuk baris yang diidentifikasi oleh
+ 1 dalam table3.
+
+ Pola-pola URI konten berikut akan menjadi mungkin: +
+content://com.example.app.provider/*
+ content://com.example.app.provider/table2/*:
+ dataset1
+ dan dataset2, namun tidak mencocokkan URI konten untuk table1 atau
+ table3.
+ content://com.example.app.provider/table3/#: Mencocokkan URI konten
+ untuk satu baris di table3, misalnya
+ content://com.example.app.provider/table3/6 untuk baris yang diidentifikasi oleh
+ 6.
+
+ Cuplikan kode berikut menunjukkan cara kerja metode di {@link android.content.UriMatcher}.
+ Kode ini menangani URI seluruh tabel secara berbeda dengan URI untuk
+ satu baris, menggunakan pola URI konten
+ content://<authority>/<path> untuk tabel, dan
+ content://<authority>/<path>/<id> untuk satu baris.
+
+ Metode {@link android.content.UriMatcher#addURI(String, String, int) addURI()} memetakan
+ otoritas dan path ke nilai integer. Metode {@link android.content.UriMatcher#match(Uri)
+ match()} menghasilkan nilai integer URI. Pernyataan switch
+ memilih antara melakukan query seluruh tabel dan melakukan query satu record:
+
+public class ExampleProvider extends ContentProvider {
+...
+ // Creates a UriMatcher object.
+ private static final UriMatcher sUriMatcher;
+...
+ /*
+ * The calls to addURI() go here, for all of the content URI patterns that the provider
+ * should recognize. For this snippet, only the calls for table 3 are shown.
+ */
+...
+ /*
+ * Sets the integer value for multiple rows in table 3 to 1. Notice that no wildcard is used
+ * in the path
+ */
+ sUriMatcher.addURI("com.example.app.provider", "table3", 1);
+
+ /*
+ * Sets the code for a single row to 2. In this case, the "#" wildcard is
+ * used. "content://com.example.app.provider/table3/3" matches, but
+ * "content://com.example.app.provider/table3 doesn't.
+ */
+ sUriMatcher.addURI("com.example.app.provider", "table3/#", 2);
+...
+ // Implements ContentProvider.query()
+ public Cursor query(
+ Uri uri,
+ String[] projection,
+ String selection,
+ String[] selectionArgs,
+ String sortOrder) {
+...
+ /*
+ * Choose the table to query and a sort order based on the code returned for the incoming
+ * URI. Here, too, only the statements for table 3 are shown.
+ */
+ switch (sUriMatcher.match(uri)) {
+
+
+ // If the incoming URI was for all of table3
+ case 1:
+
+ if (TextUtils.isEmpty(sortOrder)) sortOrder = "_ID ASC";
+ break;
+
+ // If the incoming URI was for a single row
+ case 2:
+
+ /*
+ * Because this URI was for a single row, the _ID value part is
+ * present. Get the last path segment from the URI; this is the _ID value.
+ * Then, append the value to the WHERE clause for the query
+ */
+ selection = selection + "_ID = " uri.getLastPathSegment();
+ break;
+
+ default:
+ ...
+ // If the URI is not recognized, you should do some error handling here.
+ }
+ // call the code to actually do the query
+ }
+
+
+ Kelas lainnya, {@link android.content.ContentUris}, menyediakan metode praktis untuk menggunakan
+ bagian id URI konten. Kelas-kelas {@link android.net.Uri} dan
+ {@link android.net.Uri.Builder} menyertakan metode praktis untuk mengurai
+ objek {@link android.net.Uri} yang ada dan membuat objek baru.
+
+ Instance {@link android.content.ContentProvider} mengelola akses + ke satu set data terstruktur dengan menangani permintaan dari aplikasi lain. Semua bentuk + akses pada akhirnya akan memanggil {@link android.content.ContentResolver}, yang kemudian memanggil + metode konkret {@link android.content.ContentProvider} untuk mendapatkan akses. +
++ Kelas abstrak {@link android.content.ContentProvider} mendefinisikan enam metode abstrak yang + harus Anda implementasikan sebagai bagian dari subkelas konkret Anda sendiri. Semua metode ini kecuali + {@link android.content.ContentProvider#onCreate() onCreate()} dipanggil oleh aplikasi klien + yang berupaya mengakses penyedia konten Anda: +
++ Perhatikan bahwa metode-metode ini memiliki signature yang sama dengan + metode-metode {@link android.content.ContentResolver} yang sama namanya. +
++ Implementasi metode-metode ini harus memperhitungkan hal-hal berikut: +
+
+ Metode
+ {@link android.content.ContentProvider#query(Uri, String[], String, String[], String)
+ ContentProvider.query()} harus menghasilkan objek {@link android.database.Cursor}, atau jika
+ gagal, melontarkan {@link java.lang.Exception}. Jika menggunakan database SQLite sebagai
+ penyimpanan data, Anda bisa mengembalikan{@link android.database.Cursor} yang dikembalikan oleh salah satu metode
+ query() dari kelas {@link android.database.sqlite.SQLiteDatabase}.
+ Jika query tidak mencocokkan baris apa pun, Anda harus mengembalikan instance {@link android.database.Cursor}
+ yang metode {@link android.database.Cursor#getCount()}-nya mengembalikan 0.
+ Anda harus mengembalikan null hanya jika terjadi kesalahan internal selama proses query.
+
+ Jika Anda tidak menggunakan database SQLite sebagai penyimpanan data, gunakan salah satu subkelas konkret + {@link android.database.Cursor}. Misalnya, kelas {@link android.database.MatrixCursor} + mengimplementasikan kursor dengan masing-masing baris berupa larik {@link java.lang.Object}. Dengan kelas ini, + gunakan {@link android.database.MatrixCursor#addRow(Object[]) addRow()} untuk menambahkan baris baru. +
++ Ingatlah bahwa sistem Android harus mampu mengomunikasikan {@link java.lang.Exception} + lintas batas proses. Android bisa melakukannya untuk eksepsi berikut yang mungkin berguna + dalam menangani kesalahan query: +
++ Metode {@link android.content.ContentProvider#insert(Uri, ContentValues) insert()} menambahkan satu + baris baru ke tabel yang sesuai, dengan menggunakan nilai-nilai dalam argumen {@link android.content.ContentValues}. + Jika kolom nama tidak ada dalam argumen {@link android.content.ContentValues}, Anda + mungkin perlu menyediakan nilai default untuknya, baik dalam kode penyedia atau dalam skema database + Anda. +
+
+ Metode ini harus mengembalikan URI konten untuk baris baru. Untuk membuatnya, tambahkan nilai
+ _ID baris baru (atau kunci utama lainnya) ke tabel URI konten, dengan menggunakan
+ {@link android.content.ContentUris#withAppendedId(Uri, long) withAppendedId()}.
+
+ Metode {@link android.content.ContentProvider#delete(Uri, String, String[]) delete()} + tidak harus menghapus baris-baris dari penyimpanan data Anda secara fisik. Jika menggunakan adaptor sinkronisasi + bersama penyedia, Anda harus mempertimbangkan penandaan baris yang dihapus + dengan flag "delete"; bukan menghilangkan baris itu sepenuhnya. Adaptor sinkronisasi bisa + memeriksa baris yang dihapus dan menghilangkannya dari server sebelum menghapusnya dari penyedia. +
+
+ Metode {@link android.content.ContentProvider#update(Uri, ContentValues, String, String[])
+ update()} mengambil argumen {@link android.content.ContentValues} yang sama dengan yang digunakan oleh
+ {@link android.content.ContentProvider#insert(Uri, ContentValues) insert()}, dan
+ argumen-argumen selection dan selectionArgs yang sama dengan yang digunakan oleh
+ {@link android.content.ContentProvider#delete(Uri, String, String[]) delete()} dan
+ {@link android.content.ContentProvider#query(Uri, String[], String, String[], String)
+ ContentProvider.query()}. Hal ini bisa memungkinkan Anda menggunakan kembali kode di antara metode-metode ini.
+
+ Sistem Android memanggil {@link android.content.ContentProvider#onCreate() + onCreate()} saat memulai penyedia. Anda harus melakukan tugas-tugas inisialisasi yang berjalan cepat saja + dalam metode ini, serta menunda pembuatan database dan pemuatan data hingga penyedia benar-benar + menerima permintaan terhadap data. Jika Anda melakukan tugas yang memakan waktu dalam + {@link android.content.ContentProvider#onCreate() onCreate()}, Anda akan memperlambat + startup penyedia. Pada gilirannya, hal ini akan memperlambat respons dari penyedia terhadap + aplikasi lain. +
++ Misalnya, jika menggunakan database SQLite, Anda bisa membuat + sebuah objek {@link android.database.sqlite.SQLiteOpenHelper} baru di + {@link android.content.ContentProvider#onCreate() ContentProvider.onCreate()}, + kemudian membuat tabel-tabel SQL saat pertama kali membuka database itu. Untuk memperlancar hal ini, + saat pertama Anda memanggil {@link android.database.sqlite.SQLiteOpenHelper#getWritableDatabase + getWritableDatabase()}, metode ini memanggil metode + {@link android.database.sqlite.SQLiteOpenHelper#onCreate(SQLiteDatabase) + SQLiteOpenHelper.onCreate()} secara otomatis. +
++ Dua cuplikan berikut memperagakan interaksi antara + {@link android.content.ContentProvider#onCreate() ContentProvider.onCreate()} dan + {@link android.database.sqlite.SQLiteOpenHelper#onCreate(SQLiteDatabase) + SQLiteOpenHelper.onCreate()}. Cuplikan pertama adalah implementasi + {@link android.content.ContentProvider#onCreate() ContentProvider.onCreate()}: +
+
+public class ExampleProvider extends ContentProvider
+
+ /*
+ * Defines a handle to the database helper object. The MainDatabaseHelper class is defined
+ * in a following snippet.
+ */
+ private MainDatabaseHelper mOpenHelper;
+
+ // Defines the database name
+ private static final String DBNAME = "mydb";
+
+ // Holds the database object
+ private SQLiteDatabase db;
+
+ public boolean onCreate() {
+
+ /*
+ * Creates a new helper object. This method always returns quickly.
+ * Notice that the database itself isn't created or opened
+ * until SQLiteOpenHelper.getWritableDatabase is called
+ */
+ mOpenHelper = new MainDatabaseHelper(
+ getContext(), // the application context
+ DBNAME, // the name of the database)
+ null, // uses the default SQLite cursor
+ 1 // the version number
+ );
+
+ return true;
+ }
+
+ ...
+
+ // Implements the provider's insert method
+ public Cursor insert(Uri uri, ContentValues values) {
+ // Insert code here to determine which table to open, handle error-checking, and so forth
+
+ ...
+
+ /*
+ * Gets a writeable database. This will trigger its creation if it doesn't already exist.
+ *
+ */
+ db = mOpenHelper.getWritableDatabase();
+ }
+}
+
++ Cuplikan berikutnya adalah implementasi + {@link android.database.sqlite.SQLiteOpenHelper#onCreate(SQLiteDatabase) + SQLiteOpenHelper.onCreate()}, yang menyertakan kelas helper: +
+
+...
+// A string that defines the SQL statement for creating a table
+private static final String SQL_CREATE_MAIN = "CREATE TABLE " +
+ "main " + // Table's name
+ "(" + // The columns in the table
+ " _ID INTEGER PRIMARY KEY, " +
+ " WORD TEXT"
+ " FREQUENCY INTEGER " +
+ " LOCALE TEXT )";
+...
+/**
+ * Helper class that actually creates and manages the provider's underlying data repository.
+ */
+protected static final class MainDatabaseHelper extends SQLiteOpenHelper {
+
+ /*
+ * Instantiates an open helper for the provider's SQLite data repository
+ * Do not do database creation and upgrade here.
+ */
+ MainDatabaseHelper(Context context) {
+ super(context, DBNAME, null, 1);
+ }
+
+ /*
+ * Creates the data repository. This is called when the provider attempts to open the
+ * repository and SQLite reports that it doesn't exist.
+ */
+ public void onCreate(SQLiteDatabase db) {
+
+ // Creates the main table
+ db.execSQL(SQL_CREATE_MAIN);
+ }
+}
+
+
+
+
++ Kelas {@link android.content.ContentProvider} memiliki dua metode untuk menghasilkan tipe-tipe MIME: +
++ Metode {@link android.content.ContentProvider#getType(Uri) getType()} mengembalikan + {@link java.lang.String} dengan format MIME yang menjelaskan tipe data yang dikembalikan oleh + argumen URI konten. Argumen {@link android.net.Uri} bisa berupa pola, bukannya URI tertentu; + dalam hal ini, Anda harus mengembalikan tipe data terkait URI konten yang cocok dengan + polanya. +
++ Untuk tipe data umum misalnya teks, HTML, atau JPEG, + {@link android.content.ContentProvider#getType(Uri) getType()} harus mengembalikan + tipe MIME standar untuk data itu. Daftar lengkap tipe standar ini tersedia di situs web + IANA MIME Media Types. + +
++ Untuk URI konten yang menunjuk ke baris atau baris-baris data tabel, + {@link android.content.ContentProvider#getType(Uri) getType()} harus mengembalikan + tipe MIME dalam format MIME khusus vendor Android: +
+vnd
+ android.cursor.item/
+ android.cursor.dir/
+ vnd.<name>.<type>
+
+ Anda menyediakan <name> dan <type>.
+ Nilai <name> harus unik secara global,
+ dan nilai <type> harus unik bagi pola URI
+ yang sesuai. Pilihan tepat untuk <name> adalah nama perusahaan Anda atau
+ sebagian dari nama paket Android aplikasi Anda. Pilihan tepat untuk
+ <type> adalah string yang mengidentifikasi tabel yang terkait dengan
+ URI.
+
+ Misalnya, jika otoritas penyedia adalah
+ com.example.app.provider, dan penyedia mengekspos tabel bernama
+ table1, tipe MIME untuk beberapa baris dalam table1 adalah:
+
+vnd.android.cursor.dir/vnd.com.example.provider.table1 ++
+ Untuk satu baris table1, tipe MIME adalah:
+
+vnd.android.cursor.item/vnd.com.example.provider.table1 ++
+ Jika penyedia Anda menawarkan file, implementasikan + {@link android.content.ContentProvider#getStreamTypes(Uri, String) getStreamTypes()}. + Metode ini menghasilkan larik {@link java.lang.String} tipe MIME untuk file + yang bisa dikembalikan penyedia Anda untuk URI konten bersangkutan. Anda harus memfilter tipe MIME yang Anda tawarkan dengan argumen filter + tipe MIME, sehingga Anda hanya mengembalikan tipe MIME yang ingin ditangani klien. +
+
+ Misalnya, perhatikan penyedia yang menawarkan gambar foto sebagai file dalam format .jpg,
+ .png, dan .gif.
+ Jika aplikasi memanggil {@link android.content.ContentResolver#getStreamTypes(Uri, String)
+ ContentResolver.getStreamTypes()} dengan string filter image/* (sesuatu yang
+ merupakan "gambar"),
+ maka metode {@link android.content.ContentProvider#getStreamTypes(Uri, String)
+ ContentProvider.getStreamTypes()} harus mengembalikan larik:
+
+{ "image/jpeg", "image/png", "image/gif"}
+
+
+ Jika aplikasi tertarik pada file .jpg, maka aplikasi bisa memanggil
+ {@link android.content.ContentResolver#getStreamTypes(Uri, String)
+ ContentResolver.getStreamTypes()} dengan string filter *\/jpeg, dan
+ {@link android.content.ContentProvider#getStreamTypes(Uri, String)
+ ContentProvider.getStreamTypes()} harus mengembalikan:
+
+{"image/jpeg"}
+
+
+ Jika penyedia Anda tidak menawarkan tipe MIME apa pun yang diminta dalam string filter,
+ {@link android.content.ContentProvider#getStreamTypes(Uri, String) getStreamTypes()}
+ harus mengembalikan null.
+
+ Kelas kontrak adalah kelas public final yang berisi definisi konstanta untuk URI, nama kolom, tipe MIME, dan
+metadata lain yang melekat ke penyedia. Kelas
+ membentuk sebuah kontrak antara penyedia dan aplikasi lain dengan memastikan bahwa penyedia
+ bisa diakses dengan benar sekalipun ada perubahan pada nilai URI sesungguhnya, nama kolom,
+ dan seterusnya.
+
+ Kelas kontrak juga membantu pengembang karena kelas ini biasanya memiliki nama-nama simbolik untuk konstantanya, + sehingga memperkecil kemungkinan pengembang menggunakan nilai yang salah untuk nama kolom atau URI. Karena berupa + kelas, kelas ini bisa berisi dokumentasi Javadoc. Lingkungan pengembangan terpadu (IDE) seperti + Eclipse secara otomatis bisa melengkapi nama-nama konstanta dari kelas kontrak dan menampilkan Javadoc untuk + konstanta. +
+
+ Pengembang tidak bisa mengakses file kelas milik kelas kontrak dari aplikasi Anda, namun bisa
+ mengompilasinya secara statis ke dalam aplikasi mereka dari file .jar yang Anda sediakan.
+
+ Kelas {@link android.provider.ContactsContract} dan kelas-kelas tersarangnya adalah contoh + kelas kontrak. +
++ Izin dan akses untuk semua aspek sistem Android dijelaskan secara detail dalam + topik Keamanan dan Izin. + Topik Penyimpanan Data juga + menjelaskan keamanan dan izin terkait dengan berbagai tipe penyimpanan. + Singkatnya, poin-poin pentingnya adalah: +
++ Jika Anda ingin menggunakan izin penyedia konten untuk mengontrol akses ke data Anda, maka Anda harus + menyimpan data Anda dalam file internal, database SQLite, atau "cloud" (misalnya, + di server jauh), dan Anda harus membuat file dan database tetap privat bagi aplikasi Anda. +
+
+ Semua aplikasi bisa membaca dari atau menulis ke penyedia Anda, sekalipun data yang mendasari adalah
+ privat, karena secara default penyedia Anda tidak mengatur izin. Untuk mengubahnya,
+ atur izin untuk penyedia dalam file manifes, dengan menggunakan atribut atau elemen anak
+ dari elemen
+ <provider>. Anda bisa mengatur izin yang berlaku pada seluruh penyedia,
+ atau pada tabel tertentu, atau bahkan pada record tertentu, atau ketiganya.
+
+ Anda mendefinisikan izin untuk penyedia dengan satu atau beberapa elemen
+
+ <permission> dalam file manifes. Untuk membuat
+ izin unik bagi penyedia, gunakan scoping (pengaturan lingkup) bergaya Java untuk
+ atribut
+ android:name. Misalnya, beri nama izin membaca dengan
+ com.example.app.provider.permission.READ_PROVIDER.
+
+
+ Daftar berikut menjelaskan lingkup penyedia izin, mulai dengan + izin yang berlaku pada seluruh penyedia kemudian menjadi semakin sempit. + Izin yang lebih sempit akan didahulukan daripada izin yang berlingkup lebih luas: +
+
+ android:permission dari
+ elemen
+ <provider>.
+
+ android:readPermission dan
+
+ android:writePermission dari elemen
+
+ <provider>. Kedua izin akan didahulukan daripada izin yang diharuskan oleh
+
+ android:permission.
+
+ <path-permission> dari
+ elemen
+ <provider>. Untuk setiap URI konten yang ditetapkan, Anda bisa menetapkan
+ satu izin baca/tulis, satu izin baca, atau satu izin tulis, atau ketiganya. Izin baca dan
+ tulis akan didahulukan daripada izin baca/tulis. Juga,
+ izin tingkat path akan didahulukan daripada izin tingkat penyedia.
+ + Perhatikan izin yang Anda perlukan untuk mengimplementasikan penyedia dan aplikasi email, bila Anda + ingin memperbolehkan aplikasi penampil gambar dari luar menampilkan lampiran foto dari + penyedia Anda. Untuk memberikan akses yang diperlukan kepada penampil gambar tanpa mengharuskan izin, + siapkan izin sementara untuk URI konten bagi foto. Desainlah aplikasi email Anda agar + bila pengguna ingin menampilkan foto, aplikasi itu akan mengirim intent berisi + URI konten foto dan flag izin ke penampil gambar. Penampil gambar nanti bisa + melakukan query penyedia email untuk mengambil foto, sekalipun penampil itu tidak + memiliki izin baca normal untuk penyedia Anda. +
+
+ Untuk mengaktifkan izin sementara, atur atribut
+
+ android:grantUriPermissions dari
+ elemen
+ <provider>, atau tambahkan satu atau beberapa elemen anak
+
+ <grant-uri-permission> ke
+ elemen
+ <provider> Anda. Jika menggunakan izin sementara, Anda harus memanggil
+ {@link android.content.Context#revokeUriPermission(Uri, int)
+ Context.revokeUriPermission()} kapan saja Anda menghilangkan dukungan untuk URI konten dari
+ penyedia, dan URI konten dikaitkan dengan izin sementara.
+
+ Nilai atribut menentukan seberapa banyak penyedia Anda yang dijadikan bisa diakses.
+ Jika atribut diatur ke true, maka sistem akan memberikan
+ izin sementara kepada seluruh penyedia, dengan mengesampingkan izin lain yang diharuskan
+ oleh izin tingkat penyedia atau tingkat path.
+
+ Jika flag ini diatur ke false, maka Anda harus menambahkan elemen-elemen anak
+
+ <grant-uri-permission> ke
+ elemen
+ <provider> Anda. Tiap elemen anak menetapkan URI konten atau
+ URI yang telah diberi akses sementara.
+
+ Untuk mendelegasikan akses sementara ke sebuah aplikasi, intent harus berisi + {@link android.content.Intent#FLAG_GRANT_READ_URI_PERMISSION} atau flag + {@link android.content.Intent#FLAG_GRANT_WRITE_URI_PERMISSION}, atau keduanya. Keduanya + diatur dengan metode {@link android.content.Intent#setFlags(int) setFlags()}. +
+
+ Jika atribut
+ android:grantUriPermissions tidak ada, atribut ini diasumsikan sebagai
+ false.
+
+ Seperti halnya komponen {@link android.app.Activity} dan {@link android.app.Service},
+ subkelas {@link android.content.ContentProvider}
+ harus didefinisikan dalam file manifes untuk aplikasinya, dengan menggunakan elemen
+
+ <provider>. Sistem Android mendapatkan informasi berikut dari
+ elemen:
+
+android:name
+ )
+
+ android:grantUriPermssions: Flag izin sementara.
+
+ android:permission: Izin baca/tulis tunggal untuk tingkat penyedia.
+
+ android:readPermission: Izin baca untuk tingkat penyedia.
+
+ android:writePermission: Izin tulis untuk tingkat penyedia.
+ + Izin dan atribut-atribut yang sesuai dijelaskan lebih detail + di bagian + Mengimplementasikan Izin Penyedia Konten. +
+
+ android:enabled: Flag yang memperbolehkan sistem untuk memulai penyedia.
+
+ android:exported: Flag yang memperbolehkan aplikasi lain untuk menggunakan penyedia ini.
+
+ android:initOrder: Urutan yang digunakan untuk memulai penyedia ini,
+ relatif terhadap penyedia lain dalam proses yang sama.
+
+ android:multiProcess: Flag yang memperbolehkan sistem untuk memulai penyedia
+ dalam proses yang sama dengan proses klien pemanggil.
+
+ android:process: Nama proses tempat penyedia harus
+ berjalan.
+
+ android:syncable: Flag yang menunjukkan bahwa data penyedia harus
+ disinkronkan dengan data di server.
+
+ Atribut-atribut ini didokumentasikan dengan lengkap dalam topik panduan pengembang untuk elemen
+
+ <provider>.
+
+
+ android:icon: Sumber daya drawable, berisi ikon untuk penyedia.
+ Ikon ini muncul di sebelah label penyedia dalam daftar aplikasi dalam menu
+ Settings > Apps > All.
+
+ android:label: Label informatif yang menjelaskan penyedia atau
+ datanya, atau keduanya. Label ini muncul dalam daftar aplikasi di
+ Settings > Apps > All.
+
+ Atribut-atribut ini didokumentasikan dengan lengkap dalam topik panduan pengembang untuk elemen
+
+ <provider>.
+
+ Aplikasi bisa mengakses penyedia konten secara tidak langsung dengan sebuah {@link android.content.Intent}. + Aplikasi tidak memanggil satu pun dari metode-metode {@link android.content.ContentResolver} atau + {@link android.content.ContentProvider}. Sebagai gantinya, aplikasi mengirim intent yang memulai aktivitas, + yang sering kali merupakan bagian dari aplikasi penyedia sendiri. Aktivitas tujuan bertugas + mengambil dan menampilkan data dalam UI-nya. Bergantung pada tindakan dalam intent, + aktivitas tujuan juga bisa meminta pengguna untuk membuat modifikasi pada data penyedia. + Intent juga bisa berisi data "ekstra" yang menampilkan aktivitas tujuan + dalam UI; pengguna nanti memiliki pilihan untuk mengubah data ini sebelum menggunakannya untuk mengubah + data di penyedia. +
++ +
++ Anda mungkin perlu menggunakan akses intent guna membantu memastikan integritas data. Penyedia Anda mungkin bergantung + pada data yang disisipkan, diperbarui, dan dihapusnya sesuai dengan logika bisnis yang didefinisikan dengan ketat. Jika + demikian halnya, memperbolehkan aplikasi lain mengubah data Anda secara langsung bisa menyebabkan + data yang tidak sah. Jika Anda ingin pengembang menggunakan akses intent, pastikan untuk mendokumentasikannya secara saksama. + Jelaskan kepada mereka alasan akses intent yang menggunakan UI aplikasi Anda sendiri adalah lebih baik daripada mencoba + memodifikasi data dengan kode mereka. +
++ Menangani sebuah intent masuk yang ingin memodifikasi data penyedia Anda tidak berbeda dengan + menangani intent lainnya. Anda bisa mengetahui selengkapnya tentang penggunaan intent dengan membaca topik + Intent dan Filter Intent. +
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/providers/content-providers.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/providers/content-providers.jd new file mode 100644 index 0000000000000..2dcd55e8fc29e --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/providers/content-providers.jd @@ -0,0 +1,108 @@ +page.title=Penyedia konten +@jd:body ++ Penyedia konten mengelola akses ke set data terstruktur. Penyedia ini membungkus + data, dan menyediakan mekanisme untuk mendefinisikan keamanan data. Penyedia konten adalah antarmuka + standar yang menghubungkan data dalam satu proses dengan kode yang berjalan dalam proses lain. +
++ Bila Anda ingin mengakses data di penyedia konten, Anda menggunakan + {@link android.content.ContentResolver} objek dalam + {@link android.content.Context} aplikasi untuk berkomunikasi dengan penyedia sebagai klien. + Objek {@link android.content.ContentResolver} berkomunikasi dengan objek penyedia, yakni + instance kelas yang mengimplementasikan {@link android.content.ContentProvider}. Objek penyedia + menerima permintaan data dari klien, melakukan tindakan yang diminta, dan + mengembalikan hasilnya. +
++ Anda tidak perlu mengembangkan penyedia sendiri jika tidak bermaksud untuk berbagi data dengan + aplikasi lain. Akan tetapi, Anda memerlukan penyedia buatan sendiri untuk menyediakan saran pencarian custom + dalam aplikasi Anda sendiri. Anda juga memerlukan penyedia sendiri jika ingin menyalin dan +menempelkan data atau file yang kompleks dari aplikasi Anda ke aplikasi lain. +
+
+ Android sendiri berisi penyedia konten yang mengelola data seperti informasi audio, video, gambar, dan
+ kontak pribadi. Anda bisa melihat sebagian informasi ini tercantum dalam dokumentasi
+ acuan untuk paket
+ android.provider
+ . Dengan beberapa batasan, semua penyedia ini bisa diakses oleh aplikasi Android
+ apa saja.
+
+ Topik-topik berikut menjelaskan penyedia konten secara lebih detail: +
+Android 4.4 (API level 19) memperkenalkan Storage Access Framework (SAF, Kerangka Kerja Akses Penyimpanan). SAF + memudahkan pengguna menyusuri dan membuka dokumen, gambar, dan file lainnya +di semua penyedia penyimpanan dokumen pilihannya. UI standar yang mudah digunakan +memungkinkan pengguna menyusuri file dan mengakses yang terbaru dengan cara konsisten di antara berbagai aplikasi dan penyedia.
+ +Layanan penyimpanan cloud atau lokal bisa dilibatkan dalam ekosistem ini dengan mengimplementasikan sebuah +{@link android.provider.DocumentsProvider} yang membungkus layanannya. Aplikasi klien +yang memerlukan akses ke dokumen sebuah penyedia bisa berintegrasi dengan SAF cukup dengan beberapa +baris kode.
+ +SAF terdiri dari berikut ini:
+ +Beberapa fitur yang disediakan oleh SAF adalah sebagai berikut:
+SAF berpusat di seputar penyedia konten yang merupakan +subkelas dari kelas {@link android.provider.DocumentsProvider}. Dalam penyedia dokumen, data +distrukturkan sebagai hierarki file biasa:
+
Gambar 1. Model data penyedia dokumen. Root menunjuk ke satu Document, +yang nanti memulai pemekaran seluruh pohon.
+ +Perhatikan yang berikut ini:
+Seperti dinyatakan di atas, model data penyedia dokumen dibuat berdasarkan hierarki file +biasa. Akan tetapi, Anda bisa menyimpan secara fisik data dengan cara apa pun yang disukai, +selama data bisa diakses melalui API {@link android.provider.DocumentsProvider}. Misalnya, Anda +bisa menggunakan penyimpanan cloud berbasis tag untuk data Anda.
+ +Gambar 2 menampilkan contoh cara aplikasi foto bisa menggunakan SAF +untuk mengakses data tersimpan:
+
Gambar 2. Arus Storage Access Framework
+ +Perhatikan yang berikut ini:
+Gambar 3 menunjukkan picker yang di digunakan pengguna mencari gambar telah memilih +akun Google Drive:
+ +
Gambar 3. Picker
+ +Bila pengguna memilih Google Drive, gambar-gambar akan ditampilkan, seperti yang ditampilkan dalam +gambar 4. Dari titik itu, pengguna bisa berinteraksi dengan gambar dengan cara apa pun +yang didukung oleh penyedia dan aplikasi klien. + +

Gambar 4. Gambar
+ +Pada Android 4.3 dan yang lebih rendah, jika Anda ingin aplikasi mengambil file dari +aplikasi lain, aplikasi Anda harus memanggil intent seperti {@link android.content.Intent#ACTION_PICK} +atau {@link android.content.Intent#ACTION_GET_CONTENT}. Pengguna nanti harus memilih +satu aplikasi yang akan digunakan untuk mengambil file dan aplikasi yang dipilih harus menyediakan antarmuka pengguna +bagi untuk menyusuri dan mengambil dari file yang tersedia.
+ +Pada Android 4.4 dan yang lebih tinggi, Anda mempunyai opsi tambahan dalam menggunakan intent +{@link android.content.Intent#ACTION_OPEN_DOCUMENT}, +yang menampilkan UI picker yang dikontrol oleh sistem yang memungkinkan pengguna +menyusuri semua file yang disediakan aplikasi lain. Dari satu UI ini, pengguna +bisa mengambil file dari aplikasi apa saja yang didukung.
+ +{@link android.content.Intent#ACTION_OPEN_DOCUMENT} +tidak dimaksudkan untuk menjadi pengganti {@link android.content.Intent#ACTION_GET_CONTENT}. +Yang harus Anda gunakan bergantung pada kebutuhan aplikasi:
+ +Bagian ini menjelaskan cara menulis aplikasi klien berdasarkan +{@link android.content.Intent#ACTION_OPEN_DOCUMENT} dan +intent {@link android.content.Intent#ACTION_CREATE_DOCUMENT}.
+ + ++Cuplikan berikut menggunakan {@link android.content.Intent#ACTION_OPEN_DOCUMENT} +untuk mencari penyedia dokumen yang +berisi file gambar:
+ +private static final int READ_REQUEST_CODE = 42;
+...
+/**
+ * Fires an intent to spin up the "file chooser" UI and select an image.
+ */
+public void performFileSearch() {
+
+ // ACTION_OPEN_DOCUMENT is the intent to choose a file via the system's file
+ // browser.
+ Intent intent = new Intent(Intent.ACTION_OPEN_DOCUMENT);
+
+ // Filter to only show results that can be "opened", such as a
+ // file (as opposed to a list of contacts or timezones)
+ intent.addCategory(Intent.CATEGORY_OPENABLE);
+
+ // Filter to show only images, using the image MIME data type.
+ // If one wanted to search for ogg vorbis files, the type would be "audio/ogg".
+ // To search for all documents available via installed storage providers,
+ // it would be "*/*".
+ intent.setType("image/*");
+
+ startActivityForResult(intent, READ_REQUEST_CODE);
+}
+
+Perhatikan yang berikut ini:
+Setelah pengguna memilih dokumen di picker, +{@link android.app.Activity#onActivityResult onActivityResult()} akan dipanggil. +URI yang menunjuk ke dokumen yang dipilih dimasukkan dalam parameter {@code resultData} +. Ekstrak URI dengan {@link android.content.Intent#getData getData()}. +Setelah mendapatkannya, Anda bisa menggunakannya untuk mengambil dokumen yang diinginkan pengguna. Misalnya +:
+ +@Override
+public void onActivityResult(int requestCode, int resultCode,
+ Intent resultData) {
+
+ // The ACTION_OPEN_DOCUMENT intent was sent with the request code
+ // READ_REQUEST_CODE. If the request code seen here doesn't match, it's the
+ // response to some other intent, and the code below shouldn't run at all.
+
+ if (requestCode == READ_REQUEST_CODE && resultCode == Activity.RESULT_OK) {
+ // The document selected by the user won't be returned in the intent.
+ // Instead, a URI to that document will be contained in the return intent
+ // provided to this method as a parameter.
+ // Pull that URI using resultData.getData().
+ Uri uri = null;
+ if (resultData != null) {
+ uri = resultData.getData();
+ Log.i(TAG, "Uri: " + uri.toString());
+ showImage(uri);
+ }
+ }
+}
+
+
+Setelah Anda memiliki URI untuk dokumen, Anda akan mendapatkan akses ke metadatanya. Cuplikan +ini memegang metadata sebuah dokumen yang disebutkan oleh URI, dan mencatatnya:
+ +public void dumpImageMetaData(Uri uri) {
+
+ // The query, since it only applies to a single document, will only return
+ // one row. There's no need to filter, sort, or select fields, since we want
+ // all fields for one document.
+ Cursor cursor = getActivity().getContentResolver()
+ .query(uri, null, null, null, null, null);
+
+ try {
+ // moveToFirst() returns false if the cursor has 0 rows. Very handy for
+ // "if there's anything to look at, look at it" conditionals.
+ if (cursor != null && cursor.moveToFirst()) {
+
+ // Note it's called "Display Name". This is
+ // provider-specific, and might not necessarily be the file name.
+ String displayName = cursor.getString(
+ cursor.getColumnIndex(OpenableColumns.DISPLAY_NAME));
+ Log.i(TAG, "Display Name: " + displayName);
+
+ int sizeIndex = cursor.getColumnIndex(OpenableColumns.SIZE);
+ // If the size is unknown, the value stored is null. But since an
+ // int can't be null in Java, the behavior is implementation-specific,
+ // which is just a fancy term for "unpredictable". So as
+ // a rule, check if it's null before assigning to an int. This will
+ // happen often: The storage API allows for remote files, whose
+ // size might not be locally known.
+ String size = null;
+ if (!cursor.isNull(sizeIndex)) {
+ // Technically the column stores an int, but cursor.getString()
+ // will do the conversion automatically.
+ size = cursor.getString(sizeIndex);
+ } else {
+ size = "Unknown";
+ }
+ Log.i(TAG, "Size: " + size);
+ }
+ } finally {
+ cursor.close();
+ }
+}
+
+
+Setelah mendapatkan URI dokumen, Anda bisa membuka dokumen atau melakukan apa saja +yang diinginkan padanya.
+ +Berikut ini adalah contoh cara membuka {@link android.graphics.Bitmap}:
+ +private Bitmap getBitmapFromUri(Uri uri) throws IOException {
+ ParcelFileDescriptor parcelFileDescriptor =
+ getContentResolver().openFileDescriptor(uri, "r");
+ FileDescriptor fileDescriptor = parcelFileDescriptor.getFileDescriptor();
+ Bitmap image = BitmapFactory.decodeFileDescriptor(fileDescriptor);
+ parcelFileDescriptor.close();
+ return image;
+}
+
+
+Perhatikan bahwa Anda tidak boleh melakukan operasi ini pada thread UI. Lakukan hal ini di latar belakang +, dengan menggunakan {@link android.os.AsyncTask}. Setelah membuka bitmap, Anda +bisa menampilkannya dalam {@link android.widget.ImageView}. +
+ +Berikut ini adalah contoh cara mendapatkan {@link java.io.InputStream} dari URI. Dalam cuplikan ini +, baris-baris file dibaca ke dalam sebuah string:
+ +private String readTextFromUri(Uri uri) throws IOException {
+ InputStream inputStream = getContentResolver().openInputStream(uri);
+ BufferedReader reader = new BufferedReader(new InputStreamReader(
+ inputStream));
+ StringBuilder stringBuilder = new StringBuilder();
+ String line;
+ while ((line = reader.readLine()) != null) {
+ stringBuilder.append(line);
+ }
+ fileInputStream.close();
+ parcelFileDescriptor.close();
+ return stringBuilder.toString();
+}
+
+
+Aplikasi Anda bisa membuat dokumen baru dalam penyedia dokumen dengan menggunakan intent +{@link android.content.Intent#ACTION_CREATE_DOCUMENT} +. Untuk membuat file, Anda memberikan satu tipe MIME dan satu nama file pada intent, dan +menjalankannya dengan kode permintaan yang unik. Selebihnya akan diurus untuk Anda:
+ + +
+// Here are some examples of how you might call this method.
+// The first parameter is the MIME type, and the second parameter is the name
+// of the file you are creating:
+//
+// createFile("text/plain", "foobar.txt");
+// createFile("image/png", "mypicture.png");
+
+// Unique request code.
+private static final int WRITE_REQUEST_CODE = 43;
+...
+private void createFile(String mimeType, String fileName) {
+ Intent intent = new Intent(Intent.ACTION_CREATE_DOCUMENT);
+
+ // Filter to only show results that can be "opened", such as
+ // a file (as opposed to a list of contacts or timezones).
+ intent.addCategory(Intent.CATEGORY_OPENABLE);
+
+ // Create a file with the requested MIME type.
+ intent.setType(mimeType);
+ intent.putExtra(Intent.EXTRA_TITLE, fileName);
+ startActivityForResult(intent, WRITE_REQUEST_CODE);
+}
+
+
+Setelah membuat dokumen baru, Anda bisa mendapatkan URI-nya dalam +{@link android.app.Activity#onActivityResult onActivityResult()}, sehingga Anda +bisa terus menulis ke dokumen itu.
+ +Jika Anda memiliki URI dokumen dan +{@link android.provider.DocumentsContract.Document#COLUMN_FLAGS Document.COLUMN_FLAGS} + dokumen berisi +{@link android.provider.DocumentsContract.Document#FLAG_SUPPORTS_DELETE SUPPORTS_DELETE}, +Anda bisa menghapus dokumen tersebut. Misalnya:
+ ++DocumentsContract.deleteDocument(getContentResolver(), uri); ++ +
Anda bisa menggunakan SAF untuk mengedit dokumen teks langsung di tempatnya. +Cuplikan ini memicu +intent {@link android.content.Intent#ACTION_OPEN_DOCUMENT} dan menggunakan +kategori {@link android.content.Intent#CATEGORY_OPENABLE} untuk menampilkan +dokumen yang bisa dibuka saja. Ini akan menyaring lebih jauh untuk menampilkan file teks saja:
+ +
+private static final int EDIT_REQUEST_CODE = 44;
+/**
+ * Open a file for writing and append some text to it.
+ */
+ private void editDocument() {
+ // ACTION_OPEN_DOCUMENT is the intent to choose a file via the system's
+ // file browser.
+ Intent intent = new Intent(Intent.ACTION_OPEN_DOCUMENT);
+
+ // Filter to only show results that can be "opened", such as a
+ // file (as opposed to a list of contacts or timezones).
+ intent.addCategory(Intent.CATEGORY_OPENABLE);
+
+ // Filter to show only text files.
+ intent.setType("text/plain");
+
+ startActivityForResult(intent, EDIT_REQUEST_CODE);
+}
+
+
+Berikutnya, dari {@link android.app.Activity#onActivityResult onActivityResult()} +(lihat Memproses hasil) Anda bisa memanggil kode untuk mengedit. +Cuplikan berikut mendapatkan {@link java.io.FileOutputStream} +dari {@link android.content.ContentResolver}. Secara default, snipet menggunakan mode “tulis”. +Inilah praktik terbaik untuk meminta jumlah akses minimum yang Anda perlukan, jadi jangan meminta +baca/tulis jika yang Anda perlukan hanyalah tulis:
+ +private void alterDocument(Uri uri) {
+ try {
+ ParcelFileDescriptor pfd = getActivity().getContentResolver().
+ openFileDescriptor(uri, "w");
+ FileOutputStream fileOutputStream =
+ new FileOutputStream(pfd.getFileDescriptor());
+ fileOutputStream.write(("Overwritten by MyCloud at " +
+ System.currentTimeMillis() + "\n").getBytes());
+ // Let the document provider know you're done by closing the stream.
+ fileOutputStream.close();
+ pfd.close();
+ } catch (FileNotFoundException e) {
+ e.printStackTrace();
+ } catch (IOException e) {
+ e.printStackTrace();
+ }
+}
+
+Bila aplikasi Anda membuka file untuk membaca atau menulis, sistem akan memberi +aplikasi Anda izin URI untuk file itu. Pemberian ini berlaku hingga perangkat pengguna di-restart. +Namun anggaplah aplikasi Anda adalah aplikasi pengeditan gambar, dan Anda ingin pengguna bisa +mengakses 5 gambar terakhir yang dieditnya, langsung dari aplikasi Anda. Jika perangkat pengguna telah +di-restart, maka Anda harus mengirim pengguna kembali ke picker sistem untuk menemukan +file, hal ini jelas tidak ideal.
+ +Untuk mencegah terjadinya hal ini, Anda bisa mempertahankan izin yang diberikan +sistem ke aplikasi Anda. Secara efektif, aplikasi Anda akan "mengambil" pemberian izin URI yang bisa dipertahankan +yang ditawarkan oleh sistem. Hal ini memberi pengguna akses kontinu ke file +melalui aplikasi Anda, sekalipun perangkat telah di-restart:
+ + +final int takeFlags = intent.getFlags() + & (Intent.FLAG_GRANT_READ_URI_PERMISSION + | Intent.FLAG_GRANT_WRITE_URI_PERMISSION); +// Check for the freshest data. +getContentResolver().takePersistableUriPermission(uri, takeFlags);+ +
Ada satu langkah akhir. Anda mungkin telah menyimpan +URI terbaru yang diakses aplikasi, namun URI itu mungkin tidak lagi valid,—aplikasi lain +mungkin telah menghapus atau memodifikasi dokumen. Karena itu, Anda harus selalu memanggil +{@code getContentResolver().takePersistableUriPermission()} untuk memeriksa +data terbaru.
+ ++Jika Anda sedang mengembangkan aplikasi yang menyediakan layanan penyimpanan untuk file (misalnya +layanan penyimpanan cloud), Anda bisa menyediakan file melalui +SAF dengan menulis penyedia dokumen custom. Bagian ini menjelaskan +caranya.
+ + +Untuk mengimplementasikan penyedia dokumen custom, tambahkan yang berikut ini ke manifes aplikasi +Anda:
+<provider> yang mendeklarasikan penyedia penyimpanan custom
+Anda. com.example.android.storageprovider.MyCloudProvider.com.example.android.storageprovider) plus tipe penyedia konten
+(documents). Misalnya, {@code com.example.android.storageprovider.documents}.android:exported yang diatur ke "true".
+Anda harus mengekspor penyedia sehingga aplikasi lain bisa membacanya.android:grantUriPermissions yang diatur ke
+"true". Pengaturan ini memungkinkan sistem memberi aplikasi lain akses
+ke konten dalam penyedia Anda. Untuk pembahasan cara mempertahankan pemberian bagi
+dokumen tertentu, lihat Mempertahankan izin.<bool name="atLeastKitKat">false</bool>
<bool name="atLeastKitKat">true</bool>
Berikut ini adalah kutipan contoh manifes berisi penyedia yang:
+ +<manifest... > + ... + <uses-sdk + android:minSdkVersion="19" + android:targetSdkVersion="19" /> + .... + <provider + android:name="com.example.android.storageprovider.MyCloudProvider" + android:authorities="com.example.android.storageprovider.documents" + android:grantUriPermissions="true" + android:exported="true" + android:permission="android.permission.MANAGE_DOCUMENTS" + android:enabled="@bool/atLeastKitKat"> + <intent-filter> + <action android:name="android.content.action.DOCUMENTS_PROVIDER" /> + </intent-filter> + </provider> + </application> + +</manifest>+ +
Intent +{@link android.content.Intent#ACTION_OPEN_DOCUMENT} hanya tersedia +pada perangkat yang menjalankan Android 4.4 dan yang lebih tinggi. +Jika ingin aplikasi Anda mendukung {@link android.content.Intent#ACTION_GET_CONTENT} +untuk mengakomodasi perangkat yang menjalankan Android 4.3 dan yang lebih rendah, Anda harus +menonaktifkan filter inten {@link android.content.Intent#ACTION_GET_CONTENT} dalam +manifes untuk perangkat yang menjalankan Android 4.4 atau yang lebih tinggi. Penyedia +dokumen dan {@link android.content.Intent#ACTION_GET_CONTENT} harus dianggap +saling eksklusif. Jika Anda mendukung keduanya sekaligus, aplikasi Anda akan +muncul dua kali dalam UI picker sistem, yang menawarkan dua cara mengakses +data tersimpan Anda. Hal ini akan membingungkan pengguna.
+ +Berikut ini adalah cara yang disarankan untuk menonaktifkan +filter intent {@link android.content.Intent#ACTION_GET_CONTENT} untuk perangkat +yang menjalankan Android versi 4.4 atau yang lebih tinggi:
+ +<bool name="atMostJellyBeanMR2">true</bool>
<bool name="atMostJellyBeanMR2">false</bool>
+<!-- This activity alias is added so that GET_CONTENT intent-filter + can be disabled for builds on API level 19 and higher. --> +<activity-alias android:name="com.android.example.app.MyPicker" + android:targetActivity="com.android.example.app.MyActivity" + ... + android:enabled="@bool/atMostJellyBeanMR2"> + <intent-filter> + <action android:name="android.intent.action.GET_CONTENT" /> + <category android:name="android.intent.category.OPENABLE" /> + <category android:name="android.intent.category.DEFAULT" /> + <data android:mimeType="image/*" /> + <data android:mimeType="video/*" /> + </intent-filter> +</activity-alias> ++
Biasanya bila Anda menulis penyedia konten custom, salah satu tugas adalah +mengimplementasikan kelas kontrak, seperti dijelaskan dalam panduan pengembang + +Penyedia Konten. Kelas kontrak adalah kelas {@code public final} +yang berisi definisi konstanta untuk URI, nama kolom, tipe MIME, dan +metadata lain yang berkenaan dengan penyedia. SAF +menyediakan kelas-kelas kontrak ini untuk Anda, jadi Anda tidak perlu menulisnya +sendiri:
+ +Misalnya, berikut ini adalah kolom-kolom yang bisa Anda hasilkan di kursor bila +penyedia dokumen Anda membuat query dokumen atau akar:
+ +private static final String[] DEFAULT_ROOT_PROJECTION =
+ new String[]{Root.COLUMN_ROOT_ID, Root.COLUMN_MIME_TYPES,
+ Root.COLUMN_FLAGS, Root.COLUMN_ICON, Root.COLUMN_TITLE,
+ Root.COLUMN_SUMMARY, Root.COLUMN_DOCUMENT_ID,
+ Root.COLUMN_AVAILABLE_BYTES,};
+private static final String[] DEFAULT_DOCUMENT_PROJECTION = new
+ String[]{Document.COLUMN_DOCUMENT_ID, Document.COLUMN_MIME_TYPE,
+ Document.COLUMN_DISPLAY_NAME, Document.COLUMN_LAST_MODIFIED,
+ Document.COLUMN_FLAGS, Document.COLUMN_SIZE,};
+
+
+Langkah berikutnya dalam menulis penyedia dokumen custom adalah menjadikan +kelas abstrak sebagai subkelas {@link android.provider.DocumentsProvider}. Setidaknya, Anda perlu + mengimplementasikan metode berikut:
+ +Hanya inilah metode yang diwajibkan kepada Anda secara ketat untuk diimplementasikan, namun ada +banyak lagi yang mungkin Anda inginkan. Lihat {@link android.provider.DocumentsProvider} +untuk detailnya.
+ +Implementasi {@link android.provider.DocumentsProvider#queryRoots +queryRoots()} oleh Anda harus menghasilkan {@link android.database.Cursor} yang menunjuk ke semua +direktori akar penyedia dokumen, dengan menggunakan kolom-kolom yang didefinisikan dalam +{@link android.provider.DocumentsContract.Root}.
+ +Dalam cuplikan berikut, parameter {@code projection} mewakili bidang-bidang +tertentu yang ingin didapatkan kembali oleh pemanggil. Cuplikan ini membuat kursor baru +dan menambahkan satu baris ke satu akar— kursor, satu direktori level atas, seperti +Downloads atau Images. Kebanyakan penyedia hanya mempunyai satu akar. Anda bisa mempunyai lebih dari satu, +misalnya, jika ada banyak akun pengguna. Dalam hal itu, cukup tambahkan sebuah +baris kedua ke kursor.
+ +
+@Override
+public Cursor queryRoots(String[] projection) throws FileNotFoundException {
+
+ // Create a cursor with either the requested fields, or the default
+ // projection if "projection" is null.
+ final MatrixCursor result =
+ new MatrixCursor(resolveRootProjection(projection));
+
+ // If user is not logged in, return an empty root cursor. This removes our
+ // provider from the list entirely.
+ if (!isUserLoggedIn()) {
+ return result;
+ }
+
+ // It's possible to have multiple roots (e.g. for multiple accounts in the
+ // same app) -- just add multiple cursor rows.
+ // Construct one row for a root called "MyCloud".
+ final MatrixCursor.RowBuilder row = result.newRow();
+ row.add(Root.COLUMN_ROOT_ID, ROOT);
+ row.add(Root.COLUMN_SUMMARY, getContext().getString(R.string.root_summary));
+
+ // FLAG_SUPPORTS_CREATE means at least one directory under the root supports
+ // creating documents. FLAG_SUPPORTS_RECENTS means your application's most
+ // recently used documents will show up in the "Recents" category.
+ // FLAG_SUPPORTS_SEARCH allows users to search all documents the application
+ // shares.
+ row.add(Root.COLUMN_FLAGS, Root.FLAG_SUPPORTS_CREATE |
+ Root.FLAG_SUPPORTS_RECENTS |
+ Root.FLAG_SUPPORTS_SEARCH);
+
+ // COLUMN_TITLE is the root title (e.g. Gallery, Drive).
+ row.add(Root.COLUMN_TITLE, getContext().getString(R.string.title));
+
+ // This document id cannot change once it's shared.
+ row.add(Root.COLUMN_DOCUMENT_ID, getDocIdForFile(mBaseDir));
+
+ // The child MIME types are used to filter the roots and only present to the
+ // user roots that contain the desired type somewhere in their file hierarchy.
+ row.add(Root.COLUMN_MIME_TYPES, getChildMimeTypes(mBaseDir));
+ row.add(Root.COLUMN_AVAILABLE_BYTES, mBaseDir.getFreeSpace());
+ row.add(Root.COLUMN_ICON, R.drawable.ic_launcher);
+
+ return result;
+}
+
+Implementasi +{@link android.provider.DocumentsProvider#queryChildDocuments queryChildDocuments()} +oleh Anda harus menghasilkan {@link android.database.Cursor} yang menunjuk ke semua file dalam +direktori yang ditentukan, dengan menggunakan kolom-kolom yang didefinisikan dalam +{@link android.provider.DocumentsContract.Document}.
+ +Metode ini akan dipanggil bila Anda memilih akar aplikasi dalam picker UI. +Metode mengambil dokumen anak dari direktori di bawah akar. Metode ini bisa dipanggil pada level apa saja dalam +hierarki file, bukan hanya akar. Cuplikan ini +membuat kursor baru dengan kolom-kolom yang diminta, lalu menambahkan informasi tentang +setiap anak langsung dalam direktori induk ke kursor. +Satu anak bisa berupa gambar, direktori lain—file apa saja:
+ +@Override
+public Cursor queryChildDocuments(String parentDocumentId, String[] projection,
+ String sortOrder) throws FileNotFoundException {
+
+ final MatrixCursor result = new
+ MatrixCursor(resolveDocumentProjection(projection));
+ final File parent = getFileForDocId(parentDocumentId);
+ for (File file : parent.listFiles()) {
+ // Adds the file's display name, MIME type, size, and so on.
+ includeFile(result, null, file);
+ }
+ return result;
+}
+
+
+Implementasi +{@link android.provider.DocumentsProvider#queryDocument queryDocument()} +oleh Anda harus menghasilkan {@link android.database.Cursor} yang menunjuk ke file yang disebutkan, +dengan menggunakan kolom-kolom yang didefinisikan dalam {@link android.provider.DocumentsContract.Document}. +
+ +Metode {@link android.provider.DocumentsProvider#queryDocument queryDocument()} +menghasilkan informasi yang sama yang diteruskan dalam +{@link android.provider.DocumentsProvider#queryChildDocuments queryChildDocuments()}, +namun untuk file tertentu:
+ + +@Override
+public Cursor queryDocument(String documentId, String[] projection) throws
+ FileNotFoundException {
+
+ // Create a cursor with the requested projection, or the default projection.
+ final MatrixCursor result = new
+ MatrixCursor(resolveDocumentProjection(projection));
+ includeFile(result, documentId, null);
+ return result;
+}
+
+
+Anda harus mengimplementasikan {@link android.provider.DocumentsProvider#openDocument +openDocument()} untuk menghasilkan {@link android.os.ParcelFileDescriptor} yang mewakili +file yang disebutkan. Aplikasi lain bisa menggunakan {@link android.os.ParcelFileDescriptor} +yang dihasilkan untuk mengalirkan data. Sistem memanggil metode ini setelah pengguna memilih file +dan aplikasi klien meminta akses ke file itu dengan memanggil +{@link android.content.ContentResolver#openFileDescriptor openFileDescriptor()}. +Misalnya:
+ +@Override
+public ParcelFileDescriptor openDocument(final String documentId,
+ final String mode,
+ CancellationSignal signal) throws
+ FileNotFoundException {
+ Log.v(TAG, "openDocument, mode: " + mode);
+ // It's OK to do network operations in this method to download the document,
+ // as long as you periodically check the CancellationSignal. If you have an
+ // extremely large file to transfer from the network, a better solution may
+ // be pipes or sockets (see ParcelFileDescriptor for helper methods).
+
+ final File file = getFileForDocId(documentId);
+
+ final boolean isWrite = (mode.indexOf('w') != -1);
+ if(isWrite) {
+ // Attach a close listener if the document is opened in write mode.
+ try {
+ Handler handler = new Handler(getContext().getMainLooper());
+ return ParcelFileDescriptor.open(file, accessMode, handler,
+ new ParcelFileDescriptor.OnCloseListener() {
+ @Override
+ public void onClose(IOException e) {
+
+ // Update the file with the cloud server. The client is done
+ // writing.
+ Log.i(TAG, "A file with id " +
+ documentId + " has been closed!
+ Time to " +
+ "update the server.");
+ }
+
+ });
+ } catch (IOException e) {
+ throw new FileNotFoundException("Failed to open document with id "
+ + documentId + " and mode " + mode);
+ }
+ } else {
+ return ParcelFileDescriptor.open(file, accessMode);
+ }
+}
+
+
+Anggaplah penyedia dokumen Anda sebuah layanan penyimpanan cloud yang dilindungi kata sandi +dan Anda ingin memastikan bahwa pengguna sudah login sebelum Anda mulai berbagi file mereka. +Apakah yang harus dilakukan aplikasi Anda jika pengguna tidak login? Solusinya adalah menghasilkan +akar nol dalam implementasi {@link android.provider.DocumentsProvider#queryRoots +queryRoots()} Anda. Yakni, sebuah kursor akar kosong:
+ +
+public Cursor queryRoots(String[] projection) throws FileNotFoundException {
+...
+ // If user is not logged in, return an empty root cursor. This removes our
+ // provider from the list entirely.
+ if (!isUserLoggedIn()) {
+ return result;
+}
+
+
+Langkah lainnya adalah memanggil {@code getContentResolver().notifyChange()}. +Ingat {@link android.provider.DocumentsContract}? Kita menggunakannya untuk membuat +URI ini. Cuplikan berikut memberi tahu sistem untuk membuat query akar penyedia dokumen Anda +kapan saja status login pengguna berubah. Jika pengguna tidak +login, panggilan ke {@link android.provider.DocumentsProvider#queryRoots queryRoots()} akan menghasilkan +kursor kosong, seperti yang ditampilkan di atas. Cara ini akan memastikan bahwa dokumen penyedia hanya +tersedia jika pengguna login ke penyedia itu.
+ +private void onLoginButtonClick() {
+ loginOrLogout();
+ getContentResolver().notifyChange(DocumentsContract
+ .buildRootsUri(AUTHORITY), null);
+}
+
\ No newline at end of file
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/resources/accessing-resources.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/resources/accessing-resources.jd
new file mode 100644
index 0000000000000..6774557b9e62e
--- /dev/null
+++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/resources/accessing-resources.jd
@@ -0,0 +1,337 @@
+page.title=Mengakses Sumber Daya
+parent.title=Sumber Daya Aplikasi
+parent.link=index.html
+@jd:body
+
+Setelah Anda menyediakan sumber daya dalam aplikasi Anda (yang dibicarakan di Menyediakan Sumber Daya), Anda bisa menerapkannya dengan +mengacu ID sumber dayanya. Semua ID sumber daya didefinisikan di kelas {@code R} proyek Anda, yang +dihasilkan oleh alat {@code aapt} secara otomatis.
+ +Bila aplikasi Anda dikompilasi, {@code aapt} akan membuat kelas {@code R}, yang berisi +ID sumber daya untuk semua sumber daya dalam direktori {@code +res/} Anda. Untuk masing-masing tipe sumber daya, ada subkelas {@code R} (misalnya, +{@code R.drawable} untuk semua sumber daya yang bisa ditarik), dan untuk masing-masing sumber daya dari tipe itu, ada satu integer statis + (misalnya, {@code R.drawable.icon}). Integer ini adalah ID sumber daya yang bisa Anda gunakan +untuk mengambil sumber daya Anda.
+ +Walaupun kelas {@code R} adalah tempat menyebutkan ID sumber daya, Anda tidak perlu +melihat ke sana untuk menemukan ID sumber daya. ID sumber daya selalu terdiri dari:
+Ada dua cara untuk mengakses sumber daya:
+R.string.hello+
{@code string} adalah tipe sumber daya dan {@code hello} adalah nama sumber daya. Ada banyak +API Android yang bisa mengakses sumber daya Anda bila Anda menyediakan ID sumber daya dengan format ini. Lihat +Mengakses Sumber Daya dalam Kode.
+@string/hello+
{@code string} adalah tipe sumber daya dan {@code hello} adalah nama sumber daya. Anda bisa menggunakan +sintaks ini dalam sumber daya XML di mana saja Anda ingin menyediakan sebuah nilai dalam sebuah sumber daya. Lihat Mengakses Sumber Daya dari XML.
+Anda bisa menggunakan sumber daya dalam kode dengan menyalurkan ID sumber daya sebagai sebuah parameter metode. Misalnya, + Anda bisa mengatur sebuah {@link android.widget.ImageView} agar menggunakan sumber daya{@code res/drawable/myimage.png} +dengan menggunakan {@link android.widget.ImageView#setImageResource(int) setImageResource()}:
++ImageView imageView = (ImageView) findViewById(R.id.myimageview); +imageView.setImageResource(R.drawable.myimage); ++ +
Anda juga bisa mengambil tiap sumber daya dengan menggunakan berbagai metode di {@link +android.content.res.Resources}, di mana Anda bisa mendapatkan instance + {@link android.content.Context#getResources()}.
+ +Walaupun tidak lazim, Anda mungkin perlu mengakses file dan direktori asli Anda. Jika demikian, maka +menyimpan file Anda di {@code res/} tidak akan berhasil, karena satu-satunya cara untuk membaca sebuah sumber daya dari +{@code res/} adalah dengan ID sumber daya. Sebagai gantinya, Anda bisa menyimpan sumber daya dalam direktori +{@code assets/}.
+File yang tersimpan di direktori {@code assets/} tidak diberi ID +sumber daya, sehingga Anda tidak bisa mengacunya melalui kelas {@code R} atau dari sumber daya XML. Sebagai gantinya, Anda bisa melakukan +query file di direktori {@code assets/} seperti sebuah sistem file biasa dan membaca data mentah dengan menggunakan +{@link android.content.res.AssetManager}.
+Akan tetapi, jika yang Anda butuhkan hanya kemampuan membaca data mentah (misalnya sebuah file video atau audio), +maka simpanlah file itu di direktori {@code res/raw/} dan baca aliran byte dengan menggunakan {@link +android.content.res.Resources#openRawResource(int) openRawResource()}.
+ +Inilah sintaks untuk mengacu sumber daya dalam kode:
+ ++[<package_name>.]R.<resource_type>.<resource_name> ++ +
Lihat Tipe Sumber Daya untuk +informasi selengkapnya tentang masing-masing tipe sumber daya dan cara mengacunya.
+ + +Ada banyak metode yang menerima parameter ID sumber daya dan Anda bisa mengambil sumber daya dengan menggunakan +metode di {@link android.content.res.Resources}. Anda bisa mengambil instance {@link +android.content.res.Resources} dengan {@link android.content.Context#getResources +Context.getResources()}.
+ + +Berikut adalah beberapa contoh cara mengakses sumber daya dalam kode:
+ +
+// Load a background for the current screen from a drawable resource
+{@link android.app.Activity#getWindow()}.{@link
+android.view.Window#setBackgroundDrawableResource(int)
+setBackgroundDrawableResource}(R.drawable.my_background_image) ;
+
+// Set the Activity title by getting a string from the Resources object, because
+// this method requires a CharSequence rather than a resource ID
+{@link android.app.Activity#getWindow()}.{@link android.view.Window#setTitle(CharSequence)
+setTitle}(getResources().{@link android.content.res.Resources#getText(int)
+getText}(R.string.main_title));
+
+// Load a custom layout for the current screen
+{@link android.app.Activity#setContentView(int)
+setContentView}(R.layout.main_screen);
+
+// Set a slide in animation by getting an Animation from the Resources object
+mFlipper.{@link android.widget.ViewAnimator#setInAnimation(Animation)
+setInAnimation}(AnimationUtils.loadAnimation(this,
+ R.anim.hyperspace_in));
+
+// Set the text on a TextView object using a resource ID
+TextView msgTextView = (TextView) findViewById(R.id.msg);
+msgTextView.{@link android.widget.TextView#setText(int)
+setText}(R.string.hello_message);
+
+
+
+Perhatian: Anda tidak boleh memodifikasi file {@code +R.java} secara manual—, ini dihasilkan oleh alat {@code aapt} bila proyek Anda telah +dikompilasi. Perubahan apa pun akan ditimpa bila nanti Anda mengompilasi.
+ + + +Anda bisa mendefinisikan nilai untuk beberapa atribut dan elemen XML dengan menggunakan +acuan ke sumber daya yang ada. Anda akan sering melakukannya saat membuat file layout, untuk +memasok string dan gambar bagi widget Anda.
+ +Misalnya, jika Anda menambahkan sebuah {@link android.widget.Button} ke layout, Anda harus menggunakan +sebuah sumber daya string bagi teks tombolnya:
+ ++<Button + android:layout_width="fill_parent" + android:layout_height="wrap_content" + android:text="@string/submit" /> ++ + +
Berikut adalah sintaks untuk mengacu sumber daya di sumber daya XML:
+ ++@[<package_name>:]<resource_type>/<resource_name> ++ +
Lihat Tipe Sumber Daya untuk +informasi selengkapnya tentang masing-masing tipe sumber daya dan cara mengacunya.
+ + +Dalam beberapa kasus, Anda harus menggunakan sumber daya untuk suatu nilai dalam XML (misalnya, untuk menerapkan gambar yang bisa ditarik +pada widget), namun Anda juga bisa menggunakan sumber daya di XML mana saja yang menerima nilai sederhana. Misalnya, jika +Anda mempunyai file sumber daya berikut yang berisi sumber daya warna dan sumber daya string:
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<resources> + <color name="opaque_red">#f00</color> + <string name="hello">Hello!</string> +</resources> ++ +
Anda bisa menggunakan sumber daya ini dalam file layout berikut untuk mengatur warna teks dan +string teks:
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<EditText xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android" + android:layout_width="fill_parent" + android:layout_height="fill_parent" + android:textColor="@color/opaque_red" + android:text="@string/hello" /> ++ +
Dalam hal ini, Anda tidak perlu menyebutkan nama paket dalam sumber daya acuan karena +sumber daya berasal dari paket Anda sendiri. Untuk +mengacu sumber daya sistem, Anda perlu memasukkan nama paketnya. Misalnya:
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<EditText xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android" + android:layout_width="fill_parent" + android:layout_height="fill_parent" + android:textColor="@android:color/secondary_text_dark" + android:text="@string/hello" /> ++ +
Catatan: Anda harus menggunakan sumber daya string sepanjang +waktu, sehingga aplikasi Anda bisa dilokalkan untuk bahasa lain. +Untuk informasi tentang cara menciptakan +sumber daya alternatif (seperti string lokal), lihat Menyediakan Sumber Daya Alternatif +. Untuk panduan lengkap melokalkan aplikasi Anda ke bahasa lain, +lihat Pelokalan.
+ +Anda bahkan bisa menggunakan sumber daya dalam XML untuk membuat alias. Misalnya, Anda bisa membuat +sumber daya yang bisa ditarik yang merupakan alias bagi sumber daya yang bisa ditarik lainnya:
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<bitmap xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android" + android:src="@drawable/other_drawable" /> ++ +
Hal ini terdengar berlebihan, namun bisa sangat berguna saat menggunakan sumber daya alternatif. Baca selengkapnya tentang +Membuat sumber daya alias.
+ + + +Sumber daya atribut gaya memungkinkan Anda mengacu nilai +suatu atribut dalam tema yang diterapkan saat ini. Dengan mengacu sebuah atribut gaya memungkinkan Anda +menyesuaikan tampilan elemen UI dengan mengatur gayanya agar cocok dengan beragam variasi standar yang dipasok oleh +tema saat ini, sebagai ganti memasok nilai yang ditanamkan (hard-coded). Mengacu sebuah atribut gaya +pada dasarnya adalah "gunakan gaya yang didefinisikan oleh atribut ini, dalam tema saat ini".
+ +Untuk mengacu sebuah atribut gaya, sintaks namanya hampir sama dengan format sumber daya normal +, namun sebagai ganti simbol @ ({@code @}), gunakan sebuah tanda tanya ({@code ?}), dan +porsi tipe sumber daya bersifat opsional. Sebagai contoh:
+ ++?[<package_name>:][<resource_type>/]<resource_name> ++ +
Misalnya, begini cara Anda mengacu suatu atribut untuk mengatur warna teks agar cocok dengan +warna teks "utama" tema sistem:
+ ++<EditText id="text" + android:layout_width="fill_parent" + android:layout_height="wrap_content" + android:textColor="?android:textColorSecondary" + android:text="@string/hello_world" /> ++ +
Di sini, atribut {@code android:textColor} menyebutkan nama atribut gaya
+dalam tema saat ini. Android kini menggunakan nilai yang diterapkan pada atribut gaya {@code android:textColorSecondary}
+sebagai nilai untuk {@code android:textColor} dalam widget ini. Karena alat sumber daya
+mengetahui bahwa atribut sumber daya diharapkan dalam konteks ini,
+maka Anda tidak perlu menyatakan tipenyanya secara eksplisit (yang akan berupa
+?android:attr/textColorSecondary)—Anda bisa mengecualikan tipe {@code attr}.
Android berisi sejumlah sumber daya standar, seperti gaya, tema, dan layout. Untuk
+mengakses semua sumber daya ini, tetapkan acuan sumber daya Anda dengan nama paket
+android. Misalnya, Android menyediakan sumber daya layout yang bisa Anda gunakan untuk
+item daftar dalam{@link android.widget.ListAdapter}:
+{@link android.app.ListActivity#setListAdapter(ListAdapter)
+setListAdapter}(new {@link
+android.widget.ArrayAdapter}<String>(this, android.R.layout.simple_list_item_1, myarray));
+
+
+Dalam contoh ini, {@link android.R.layout#simple_list_item_1} adalah sumber daya layout yang didefinisikan oleh +platform untuk item di {@link android.widget.ListView}. Anda bisa menggunakannya sebagai ganti menciptakan +layout sendiri untuk item daftar. Untuk informasi selengkapnya, lihat panduan pengembang +List View.
+ diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/resources/overview.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/resources/overview.jd new file mode 100644 index 0000000000000..def4932f4af46 --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/resources/overview.jd @@ -0,0 +1,103 @@ +page.title=Ikhtisar Sumber Daya +@jd:body + +Anda harus selalu mengeksternalkan sumber daya seperti gambar dan string dari kode +aplikasi, agar Anda bisa memeliharanya secara independen. Mengeksternalkan +sumber daya juga membuat Anda dapat menyediakan sumber daya alternatif yang mendukung konfigurasi +perangkat tertentu seperti bahasa atau ukuran layar yang berbeda, yang semakin penting +seiring semakin banyak tersedianya perangkat berbasis Android dengan konfigurasi berbeda. Untuk +memberikan kompatibilitas dengan konfigurasi berbeda, Anda harus menata sumber daya dalam +direktori {@code res/} proyek Anda, menggunakan berbagai subdirektori yang mengelompokkan sumber daya menurut tipe +dan konfigurasinya.
+ +
++Gambar 1. Dua perangkat berbeda, masing-masing menggunakan layout default +(aplikasi tidak menyediakan layout alternatif).
+
++Gambar 2. Dua perangkat berbeda, masing-masing menggunakan layout berbeda yang tersedia untuk +ukuran layar berbeda.
+Bagi setiap tipe sumber daya, Anda bisa menetapkan sumber daya default dan sumber daya +alternatif untuk aplikasi Anda:
+Misalnya, walaupun layout +UI default Anda disimpan dalam direktori {@code res/layout/}, Anda dapat menetapkan layout berbeda +untuk digunakan saat layar dalam orientasi lanskap, dengan menyimpannya dalam direktori {@code res/layout-land/} +. Android secara otomatis memberlakukan sumber daya yang sesuai dengan mencocokkan konfigurasi perangkat +saat ini dengan nama direktori sumber daya.
+ +Gambar 1 mengilustrasikan cara sistem memberlakukan layout yang sama untuk +dua perangkat berbeda saat sumber daya alternatif tidak tersedia. Gambar 2 menunjukkan +aplikasi yang sama saat menambahkan sumber daya layout alternatif untuk layar yang lebih besar.
+ +Dokumen-dokumen berikut berisi panduan lengkap mengenai cara menata sumber daya aplikasi, +menetapkan sumber daya alternatif, mengaksesnya dalam aplikasi, dan banyak lagi:
+ +Anda harus selalu mengeksternalkan sumber daya aplikasi seperti gambar dan string dari kode +, agar Anda bisa memeliharanya secara independen. Anda juga harus menyediakan sumber daya alternatif untuk +konfigurasi perangkat tertentu, dengan mengelompokkannya dalam direktori sumber daya bernama khusus. Saat +runtime, Android menggunakan sumber daya yang sesuai berdasarkan konfigurasi saat ini. Misalnya, Anda mungkin +ingin menyediakan layout UI berbeda bergantung pada ukuran layar atau string berbeda bergantung pada +pengaturan bahasa.
+ +Setelah mengeksternalkan sumber daya aplikasi, Anda dapat mengaksesnya menggunakan +ID sumber daya yang dibuat dalam kelas {@code R} proyek Anda. Cara menggunakan +sumber daya dalam aplikasi dibahas dalam Mengakses +Sumber Daya. Dokumen ini menampilkan cara mengelompokkan sumber daya +dalam proyek Android Anda dan menyediakan sumber daya alternatif untuk konfigurasi perangkat tertentu.
+ + +Anda harus menempatkan setiap tipe sumber daya dalam subdirektori spesifik pada direktori +{@code res/} proyek. Misalnya, inilah hierarki file untuk proyek sederhana:
+ ++MyProject/ + src/ + MyActivity.java + res/ + drawable/ + graphic.png + layout/ + main.xml + info.xml + mipmap/ + icon.png + values/ + strings.xml ++ +
Seperti yang Anda lihat dalam contoh ini, direktori {@code res/} berisi semua sumber daya (dalam +subdirektori): sumber daya gambar, dua sumber daya layout, direktori {@code mipmap/} untuk ikon +launcher, dan satu file sumber daya string. Nama direktori +sumber daya penting dan dijelaskan dalam tabel 1.
+ +Catatan: Untuk informasi selengkapnya tentang menggunakan folder mipmap, lihat +Mengelola Ikhtisar Proyek.
+ +Tabel 1. Direktori sumber daya +didukung dalam direktori proyek {@code res/}.
+ +| Direktori | +Tipe Sumber Daya | +
|---|---|
animator/ |
+ File XML yang mendefinisikan animasi +properti. | +
anim/ |
+ File XML yang mendefinisikan animasi +tween. (Animasi properti juga dapat disimpan dalam direktori ini, namun +direktori {@code animator/} lebih disukai bagi animasi properti agar kedua tipe +ini dapat dibedakan.) | +
color/ |
+ File XML yang mendefinisikan daftar status warna. Lihat Sumber Daya +Daftar Status Warna | +
drawable/ |
+
+ File bitmap ({@code .png}, {@code .9.png}, {@code .jpg}, {@code .gif}) atau file XML yang +dikompilasi menjadi subtipe sumber daya drawable berikut: +
Lihat Sumber Daya Drawable. + |
+
mipmap/ |
+ File drawable untuk densitas ikon launcher yang berbeda. Untuk informasi selengkapnya tentang + mengelola ikon launcher dengan folder {@code mipmap/}, lihat +Mengelola Ikhtisar Proyek. | +
layout/ |
+ File XML yang mendefinisikan layout antarmuka pengguna. + Lihat Sumber Daya Layout. | +
menu/ |
+ File XML yang mendefinisikan menu aplikasi, seperti Menu Opsi, Menu Konteks, atau Sub +Menu. Lihat Sumber Daya Menu. | +
raw/ |
+ File tak didukung yang akan disimpan dalam bentuk mentah. Untuk membuka sumber daya ini dengan +{@link java.io.InputStream} mentah, panggil {@link android.content.res.Resources#openRawResource(int) +Resources.openRawResource()} dengan ID sumber daya, yaitu {@code R.raw.filename}. +Akan tetapi, jika Anda butuh akses ke nama file asli dan hierarki file, Anda bisa mempertimbangkan +untuk menyimpan beberapa sumber daya dalam direktori {@code +assets/} (sebagai ganti {@code res/raw/}). File dalam {@code assets/} tidak diberi +ID sumber daya, jadi Anda bisa membacanya hanya dengan menggunakan {@link android.content.res.AssetManager}. |
+
values/ |
+ File XML yang berisi nilai-nilai sederhana, seperti string, integer, dan warna. +Walaupun file sumber daya XML dalam subdirektori {@code res/} lainnya mendefinisikan satu sumber daya +berdasarkan nama file XML, file dalam direktori {@code values/} menggambarkan beberapa sumber daya. +Untuk file dalam direktori ini, setiap anak elemen {@code <resources>} mendefinisikan satu sumber +daya. Misalnya, elemen {@code <string>} membuat sumber daya +{@code R.string} dan elemen {@code <color>} membuat sumber daya {@code R.color} +. +Karena setiap sumber daya didefinisikan dengan elemen XML-nya sendiri, Anda bisa bebas menamai file +ini dan menempatkan tipe sumber daya berbeda dalam satu file. Akan tetapi, agar jelas, Anda mungkin +perlu menempatkan tipe sumber daya unik dalam file berbeda. Misalnya, berikut ini adalah beberapa ketentuan +penamaan file untuk sumber daya yang dapat Anda buat dalam direktori ini: +
Lihat Sumber Daya String, + Sumber Daya Gaya, dan + Tipe Sumber Daya Lainnya. + |
+
xml/ |
+ File XML tak didukung yang bisa dibaca saat runtime dengan memanggil {@link +android.content.res.Resources#getXml(int) Resources.getXML()}. Berbagai file konfigurasi XML +harus disimpan di sini, seperti konfigurasi yang dapat dicari. + | +
Perhatian: Jangan menyimpan file sumber daya secara langsung dalam +direktori {@code res/}— karena akan menyebabkan kesalahan compiler.
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang tipe sumber daya tertentu, lihat dokumentasi Tipe Sumber Daya.
+ +Sumber daya yang disimpan dalam subdirektori yang didefinisikan dalam tabel 1 adalah sumber daya +"default" Anda. Berarti sumber daya ini mendefinisikan desain default dan konten untuk aplikasi Anda. +Akan tetapi, beberapa tipe perangkat berbasis Android mungkin memanggil tipe sumber daya yang berbeda. +Misalnya, jika perangkat memiliki layar yang lebih besar daripada layar normal, maka Anda harus +menyediakan sumber daya layout berbeda yang memanfaatkan ruang layar yang lebih besar. Atau, jika perangkat +memiliki pengaturan bahasa berbeda, maka Anda harus menyediakan sumber daya string berbeda yang menerjemahkan teks dalam +antarmuka pengguna Anda. Untuk menyediakan sumber daya berbeda ini bagi +konfigurasi perangkat yang berbeda, Anda harus menyediakan sumber daya alternatif, selain sumber +daya default.
+ + +
++Gambar 1. Dua perangkat berbeda, masing-masing menggunakan sumber daya layout berbeda.
+Hampir setiap aplikasi harus menyediakan sumber daya alternatif untuk mendukung konfigurasi +perangkat tertentu. Misalnya, Anda harus menyertakan sumber daya drawable alternatif untuk densitas layar +berbeda dan sumber daya string alternatif untuk bahasa yang berbeda. Saat runtime, Android +akan mendeteksi konfigurasi perangkat aktif dan memuat +sumber daya yang sesuai untuk aplikasi Anda.
+ +Untuk menyebutkan alternatif konfigurasi tertentu untuk satu set sumber daya:
+Anda bisa menambahkan lebih dari satu {@code <qualifier>}. Pisahkan masing-masing +dengan tanda hubung.
+Perhatian: Saat menambahkan beberapa qualifier, Anda +harus menempatkannya dalam urutan yang sama dengan yang tercantum dalam tabel 2. Jika urutan qualifier +salah, sumber daya akan diabaikan.
+Misalnya, berikut ini beberapa sumber daya default dan sumber daya alternatif:
+ ++res/ + drawable/ + icon.png + background.png + drawable-hdpi/ + icon.png + background.png ++ +
Qualifier {@code hdpi} menunjukkan bahwa sumber daya dalam direktori itu diperuntukkan bagi perangkat dengan +layar densitas tinggi. Gambar di masing-masing direktori drawable memiliki ukuran untuk densitas layar +tertentu, namun nama filenya persis +sama. Dengan demikian, ID sumber daya yang Anda gunakan untuk mengacu gambar {@code icon.png} atau @code +background.png} selalu sama, namun Android memilih +versi masing-masing sumber daya yang paling cocok dengan perangkat saat ini, dengan membandingkan informasi konfigurasi +perangkat dengan qualifier dalam nama direktori sumber daya.
+ +Android mendukung beberapa qualifier konfigurasi dan Anda dapat +menambahkan beberapa qualifier ke satu nama direktori, dengan memisahkan setiap qualifier dengan tanda hubung. Tabel 2 +berisi daftar qualifier konfigurasi yang valid, dalam urutan prioritas—jika Anda menggunakan beberapa +qualifier sebagai direktori sumber daya, Anda harus menambahkannya ke nama direktori sesuai urutan +yang tercantum dalam tabel.
+ + +Tabel 2. Nama-nama +qualifier konfigurasi.
+| Konfigurasi | +Nilai-nilai Qualifier | +Keterangan | +
|---|---|---|
| MCC dan MNC | +Contoh: + mcc310+ + mcc208-mnc00+ dll. + |
+
+ Kode negara seluler (MCC), bisa diikuti dengan kode jaringan seluler (MNC)
+ dari kartu SIM dalam perangkat. Misalnya, Jika perangkat menggunakan koneksi radio (ponsel GSM), nilai-nilai MCC dan MNC berasal +dari kartu SIM. +Anda juga dapat menggunakan MNC saja (misalnya, untuk menyertakan sumber daya legal +spesifik untuk negara itu di aplikasi Anda). Jika Anda perlu menetapkan hanya berdasarkan bahasa, maka gunakan qualifier +bahasa dan wilayah sebagai gantinya (akan dibahas nanti). Jika Anda memutuskan untuk menggunakan qualifier MCC dan +MNC, Anda harus melakukannya dengan hati-hati dan menguji apakah qualifier itu berjalan sesuai harapan. +Lihat juga bidang konfigurasi {@link +android.content.res.Configuration#mcc}, dan {@link +android.content.res.Configuration#mnc}, yang masing-masing menunjukkan kode negara seluler saat ini +dan kode jaringan seluler. + |
+
| Bahasa dan wilayah | +Contoh: + en+ fr+ en-rUS+ fr-rFR+ fr-rCA+ dll. + |
+ Bahasa didefinisikan oleh kode bahasa dua huruf ISO +639-1, bisa juga diikuti dengan kode wilayah +dua huruf ISO +3166-1-alpha-2 (diawali dengan huruf kecil "{@code r}"). + + Kode tidak membedakan huruf besar atau kecil; awalan {@code r} akan digunakan untuk +membedakan bagian wilayah. + Anda tidak bisa menetapkan wilayah saja. +Ini bisa berubah selama masa pakai +aplikasi Anda jika pengguna mengubah bahasanya dalam pengaturan sistem. Lihat Menangani Perubahan Runtime untuk informasi tentang +bagaimana hal ini dapat memengaruhi aplikasi Anda selama runtime. +Lihat Pelokalan untuk panduan lengkap melokalkan +aplikasi Anda ke bahasa lain. +Lihat juga bidang konfigurasi {@link android.content.res.Configuration#locale} yang menunjukkan +bahasa setempat yang digunakan saat ini. + |
+
| Arah Layout | +ldrtl+ ldltr+ |
+ Arah layout aplikasi Anda. {@code ldrtl} berarti "arah layout dari kanan ke kiri". + {@code ldltr} berarti "arah layout dari kiri ke kanan" dan merupakan nilai implisit default. + +Ini bisa berlaku untuk sumber daya mana pun seperti layout, drawable, atau nilai-nilai. + +Misalnya, jika Anda ingin memberikan beberapa layout khusus untuk bahasa Arab dan beberapa +layout umum untuk setiap bahasa lainnya yang menggunakan "kanan-ke-kiri" lainnya (seperti bahasa Persia atau Ibrani) maka Anda akan memiliki: + ++res/ + layout/ + main.xml (Default layout) + layout-ar/ + main.xml (Specific layout for Arabic) + layout-ldrtl/ + main.xml (Any "right-to-left" language, except + for Arabic, because the "ar" language qualifier + has a higher precedence.) ++ Catatan: Untuk mengaktifkan fitur +layout kanan-ke-kiri untuk aplikasi, Anda harus mengatur {@code + supportsRtl} ke {@code "true"} dan mengatur {@code targetSdkVersion} ke 17 atau yang lebih tinggi. +Ditambahkan dalam API level 17. + |
+
| smallestWidth | +sw<N>dp+ Contoh: + sw320dp+ sw600dp+ sw720dp+ dll. + |
+
+ Ukuran dasar layar, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dimensi terpendek dari area layar +yang tersedia. Secara spesifik, smallestWidth perangkat adalah yang terpendek dari +tinggi dan lebar layar yang tersedia (Anda dapat menganggapnya sebagai "lebar terkecil yang memungkinkan" untuk layar). Anda bisa +menggunakan qualifier ini untuk memastikan bahwa, apa pun orientasi layar saat ini, aplikasi +Anda memiliki paling tidak {@code <N>} dps dari lebar yang tersedia untuk UI-nya. +Misalnya, jika layout mengharuskan dimensi layar terkecilnya setiap saat paling tidak +600 dp, maka Anda dapat menggunakan qualifer ini untuk membuat sumber daya layout, {@code +res/layout-sw600dp/}. Sistem akan menggunakan sumber daya ini hanya bila dimensi layar terkecil yang +tersedia paling tidak 600 dp, tanpa mempertimbangkan apakah sisi 600 dp adalah tinggi atau +lebar yang dipersepsikan pengguna. SmallestWidth adalah karakteristik ukuran layar tetap dari perangkat; smallestWidth +perangkat tidak berubah saat orientasi layar berubah. +SmallestWidth perangkat memperhitungkan dekorasi layar dan UI sistem. Misalnya +, jika perangkat memiliki beberapa elemen UI persisten pada layar yang menghitung ruang di sepanjang +sumbu smallestWidth, sistem akan mendeklarasikan smallestWidth lebih kecil daripada ukuran layar sebenarnya, +karena itu adalah piksel layar yang tidak tersedia untuk UI Anda. Sehingga nilai yang Anda +gunakan haruslah merupakan dimensi terkecil sebenarnya yang dibutuhkan oleh layout Anda (biasanya, nilai ini adalah +"lebar terkecil" yang didukung layout Anda, apa pun orientasi layar saat ini). +Sebagian nilai yang mungkin Anda gunakan untuk ukuran layar umum: +
Bila aplikasi Anda menyediakan beberapa direktori sumber daya dengan nilai yang berbeda untuk +qualifier smallestWidth terkecil, sistem akan menggunakan nilai terdekat dengan (tanpa melebihi) +smallestWidth perangkat. +Ditambahkan dalam API level 13. +Lihat juga atribut {@code +android:requiresSmallestWidthDp}, yang mendeklarasikan smallestWidth minimum yang +kompatibel dengan aplikasi Anda, dan bidang konfigurasi {@link +android.content.res.Configuration#smallestScreenWidthDp}, yang menyimpan nilai +smallestWidth perangkat. +Untuk informasi selengkapnya tentang mendesain untuk layar berbeda dan menggunakan +qualifier ini, lihat panduan pengembang Mendukung +Multi Layar. + |
+
| Lebar yang tersedia | +w<N>dp+ Contoh: + w720dp+ w1024dp+ dll. + |
+
+ Menetapkan lebar layar minimum yang tersedia, di unit {@code dp} yang
+menggunakan sumber daya—yang didefinisikan oleh nilai Bila aplikasi Anda menyediakan beberapa direktori sumber daya dengan nilai yang berbeda + untuk konfigurasi ini, sistem akan menggunakan nilai terdekat dengan (tanpa melebihi) + lebar layar perangkat saat ini. Nilai +di sini memperhitungkan dekorasi layar akun, jadi jika perangkat memiliki beberapa +elemen UI persisten di tepi kiri atau kanan, layar +menggunakan nilai lebar yang lebih kecil daripada ukuran layar sebenarnya, yang memperhitungkan +elemen UI ini dan mengurangi ruang aplikasi yang tersedia. +Ditambahkan dalam API level 13. +Lihat juga bidang konfigurasi {@link android.content.res.Configuration#screenWidthDp} + yang menyimpan lebar layar saat ini. +Untuk informasi selengkapnya tentang mendesain untuk layar berbeda dan menggunakan +qualifier ini, lihat panduan pengembang Mendukung +Multi Layar. + |
+
| Tinggi yang tersedia | +h<N>dp+ Contoh: + h720dp+ h1024dp+ dll. + |
+
+ Menetapkan tinggi layar minimum yang tersedia, dalam satuan "dp" yang harus digunakan
+sumber daya —bersama nilai yang didefinisikan oleh Bila aplikasi menyediakan beberapa direktori sumber daya dengan nilai yang berbeda + untuk konfigurasi ini, sistem akan menggunakan nilai yang terdekat dengan (tanpa melebihi) + tinggi layar perangkat saat ini. Nilai +di sini memperhitungkan dekorasi layar akun, jadi jika perangkat memiliki beberapa +elemen UI persisten di tepi atas atau bawah, layar akan +menggunakan nilai tinggi yang lebih kecil daripada ukuran layar sebenarnya, memperhitungkan +elemen UI ini dan mengurangi ruang aplikasi yang tersedia. Dekorasi +layar yang tidak tetap (misalnya baris status (status-bar) telepon yang bisa +disembunyikan saat layar penuh) di sini tidak diperhitungkan, demikian pula +dekorasi jendela seperti baris judul (title-bar)atau baris tindakan (action-bar), jadi aplikasi harus disiapkan +untuk menangani ruang yang agak lebih kecil daripada yang ditetapkan. + Ditambahkan dalam API level 13. +Lihat juga bidang konfigurasi {@link android.content.res.Configuration#screenHeightDp} + yang menyimpan lebar layar saat ini. +Untuk informasi selengkapnya tentang mendesain untuk layar berbeda dan menggunakan +qualifier ini, lihat panduan pengembang Mendukung +Multi Layar. + |
+
| Ukuran layar | +
+ small+ normal+ large+ xlarge
+ |
+
+
Catatan: Menggunakan qualifier ukuran tidak berarti bahwa +sumber daya hanya untuk layar ukuran itu saja. Jika Anda tidak menyediakan sumber +daya alternatif dengan qualifier yang lebih cocok dengan konfigurasi perangkat saat ini, sistem dapat menggunakan sumber daya +mana saja yang paling cocok. +Perhatian: Jika semua sumber daya Anda menggunakan +qualifier yang berukuran lebih besar daripada layar saat ini, sistem tidak akan menggunakannya dan aplikasi +Anda akan crash saat runtime (misalnya, jika semua sumber daya layout ditandai dengan qualifier {@code +xlarge}, namun perangkat memiliki ukuran layar normal). +Ditambahkan dalam API level 4. + +Lihat Mendukung Beberapa +Layar untuk informasi selengkapnya. +Lihat juga bidang konfigurasi {@link android.content.res.Configuration#screenLayout}, + yang menunjukkan apakah layar berukuran kecil, normal, atau +besar. + |
+
| Aspek layar | +
+ long+ notlong
+ |
+
+
Ditambahkan dalam API level 4. +Ini berdasarkan sepenuhnya pada rasio aspek layar (layar "panjang" lebih lebar). Ini +tidak ada kaitannya dengan orientasi layar. +Lihat juga bidang konfigurasi {@link android.content.res.Configuration#screenLayout}, + yang menunjukkan apakah layar panjang. + |
+
| Orientasi layar | +
+ port+ land
+ |
+
+
Ini bisa berubah selama masa pakai aplikasi Anda jika pengguna memutar +layar. Lihat Menangani Perubahan Runtime untuk + informasi tentang bagaimana hal ini memengaruhi aplikasi Anda selama runtime. +Lihat juga bidang konfigurasi {@link android.content.res.Configuration#orientation}, +yang menunjukkan orientasi perangkat saat ini. + |
+
| Mode UI | +
+ car+ desk+ television+ appliance
+ watch
+ |
+
+
Ditambahkan dalam API level 8, televisi ditambahkan dalam API 13, jam ditambahkan dalam API 20. +Untuk informasi tentang cara aplikasi merespons saat perangkat dimasukkan +ke dalam atau dilepaskan dari dudukannya, bacalah Menentukan +dan Memantau Kondisi dan Tipe Dudukan. +Ini bisa berubah selama masa pakai aplikasi jika pengguna menempatkan perangkat di +dudukannya. Anda dapat mengaktifkan atau menonaktifkan sebagian mode ini menggunakan {@link +android.app.UiModeManager}. Lihat Menangani Perubahan Runtime untuk +informasi tentang bagaimana hal ini memengaruhi aplikasi Anda selama runtime. + |
+
| Mode malam | +
+ night+ notnight
+ |
+
+
Ditambahkan dalam API level 8. +Ini bisa berubah selama masa pakai aplikasi jika mode malam dibiarkan dalam +mode otomatis (default), dalam hal ini perubahan mode berdasarkan pada waktu hari. Anda dapat mengaktifkan +atau menonaktifkan mode ini menggunakan {@link android.app.UiModeManager}. Lihat Menangani Perubahan Runtime untuk informasi tentang bagaimana hal ini memengaruhi +aplikasi Anda selama runtime. + |
+
| Densitas piksel layar (dpi) | +
+ ldpi+ mdpi+ hdpi+ xhdpi+ xxhdpi+ xxxhdpi+ nodpi+ tvdpi
+ |
+
+
Terdapat rasio skala 3:4:6:8:12:16 antara enam densitas utama (dengan mengabaikan densitas +tvdpi). Jadi bitmap 9x9 di ldpi adalah 12x12 di mdpi, 18x18 di hdpi, 24x24 di xhdpi dan seterusnya. + +Jika Anda memutuskan bahwa sumber daya gambar tidak terlihat cukup baik di televisi +atau perangkat tertentu lainnya dan ingin mencoba sumber daya tvdpi, faktor skalanya adalah 1,33*mdpi. Misalnya, +gambar 100px x 100px untuk layar mdpi harus 133px x 133px untuk tvdpi. +Catatan: Menggunakan qualifier densitas tidak berarti bahwa +sumber daya hanya untuk layar dengan ukuran itu saja. Jika Anda tidak menyediakan sumber +daya alternatif dengan qualifier yang lebih cocok dengan konfigurasi perangkat saat ini, sistem dapat menggunakan sumber daya +mana saja yang paling cocok. +Lihat Mendukung Beberapa +Layar untuk informasi selengkapnya tentang cara menangani densitas layar yang berbeda dan cara Android +menurunkan skala bitmap Anda agar sesuai dengan densitas saat ini. + |
+
| Tipe layar sentuh | +
+ notouch+ finger
+ |
+
+
Lihat juga bidang konfigurasi {@link android.content.res.Configuration#touchscreen}, yang +menunjukkan tipe layar sentuh pada perangkat. + |
+
| Ketersediaan keyboard | +
+ keysexposed+ keyshidden+ keyssoft
+ |
+
+
Jika Anda menyediakan sumber daya Ini bisa berubah selama masa pakai aplikasi jika pengguna membuka keyboard +fisik. Lihat Menangani Perubahan Runtime untuk informasi tentang bagaimana +hal ini memengaruhi aplikasi Anda selama runtime. +Lihat juga bidang konfigurasi {@link +android.content.res.Configuration#hardKeyboardHidden} dan {@link +android.content.res.Configuration#keyboardHidden}, yang menunjukkan visibilitas +keyboard fisik dan visibilitas segala jenis keyboard (termasuk keyboard perangkat lunak), masing-masing. + |
+
| Metode input teks utama | +
+ nokeys+ qwerty+ 12key
+ |
+
+
Lihat juga bidang konfigurasi {@link android.content.res.Configuration#keyboard}, +yang menunjukkan metode utama input teks yang tersedia. + |
+
| Ketersediaan tombol navigasi | +
+ navexposed+ navhidden
+ |
+
+
Ini bisa berubah selama masa pakai aplikasi jika pengguna menyingkap tombol +navigasi. Lihat Menangani Perubahan Runtime untuk +informasi tentang bagaimana hal ini memengaruhi aplikasi Anda selama runtime. +Lihat juga bidang konfigurasi {@link android.content.res.Configuration#navigationHidden}, yang menunjukkan +apakah tombol navigasi disembunyikan. + |
+
| Metode navigasi non-sentuh utama | +
+ nonav+ dpad+ trackball+ wheel
+ |
+
+
Lihat juga bidang konfigurasi {@link android.content.res.Configuration#navigation}, +yang menunjukkan tipe metode navigasi yang tersedia. + |
+
| Versi Platform (level API) | +Contoh: + v3+ v4+ v7+ dll. |
+
+ Level API yang didukung perangkat. Misalnya, |
+
Catatan: Sebagian qualifier konfigurasi telah ditambahkan sejak Android
+1.0, jadi tidak semua versi Android mendukung semua qualifier. Menggunakan qualifier baru secara implisit
+akan menambahkan qualifier versi platform sehingga perangkat yang lebih lama pasti mengabaikannya. Misalnya, menggunakan qualifier
+w600dp secara otomatis akan menyertakan qualifier v13, karena
+qualifier lebar yang tersedia baru di API level 13. Untuk menghindari masalah, selalu sertakan satu set
+sumber daya default (satu set sumber daya tanpa qualifier). Untuk informasi selengkapnya, lihat
+bagian tentang Menyediakan Kompatibilitas Perangkat Terbaik dengan
+Sumber Daya.
Inilah beberapa aturan tentang penggunaan nama qualifier konfigurasi:
+ +drawable-en-rUS-land berlaku untuk perangkat bahasa Inggris-AS dalam orientasi
+lanskap.drawable-hdpi-port/drawable-port-hdpi/res/drawable/drawable-en/.drawable-rES-rFR/. Sebagai gantinya, Anda perlu dua direktori sumber daya, seperti
+drawable-rES/ dan drawable-rFR/, berisi file yang sesuai.
+Akan tetapi, Anda tidak harus benar-benar menggandakan file yang sama di kedua lokasi. Sebagai gantinya, Anda
+bisa membuat alias ke satu sumber daya. Lihat Membuat
+sumber daya alias di bawah ini.Setelah Anda menyimpan sumber daya alternatif ke dalam direktori yang diberi nama dengan +qualifier ini, Android secara otomatis menerapkan sumber daya dalam +aplikasi Anda berdasarkan pada konfigurasi perangkat saat ini. Setiap kali sumber daya diminta, Android akan memeriksa direktori sumber daya +alternatif berisi file sumber daya yang diminta, lalu mencari sumber daya yang +paling cocok(dibahas di bawah). Jika tidak ada sumber daya alternatif yang cocok +dengan konfigurasi perangkat tertentu, Android akan menggunakan sumber daya default terkait (set +sumber daya untuk tipe sumber daya tertentu yang tidak termasuk qualifier +konfigurasi).
+ + + +Bila memiliki sumber daya yang ingin Anda gunakan untuk lebih dari satu konfigurasi +perangkat (namun tidak ingin menyediakannya sebagai sumber daya default), Anda tidak perlu menempatkan sumber daya +yang sama di lebih dari satu direktori sumber daya alternatif. Sebagai gantinya, (dalam beberapa kasus) Anda bisa membuat +sumber daya alternatif +yang berfungsi sebagai alias untuk sumber daya yang disimpan dalam direktori sumber daya default.
+ +Catatan: Tidak semua sumber daya menawarkan mekanisme yang memungkinkan Anda +membuat alias ke sumber daya lain. Khususnya, animasi, menu, raw, dan +sumber daya lain yang tidak ditetapkan dalam direktori {@code xml/} tidak menawarkan fitur ini.
+ +Misalnya, bayangkan Anda memiliki ikon aplikasi {@code icon.png}, dan membutuhkan versi uniknya +untuk lokal berbeda. Akan tetapi, dua lokal, bahasa Inggris-Kanada dan bahasa Prancis-Kanada, harus menggunakan +versi yang sama. Anda mungkin berasumsi bahwa Anda perlu menyalin gambar +yang sama ke dalam direktori sumber daya baik untuk bahasa Inggris-Kanada maupun bahasa Prancis-Kanada, namun +bukan demikian. Sebagai gantinya, Anda bisa menyimpan gambar yang sama-sama digunakan sebagai {@code icon_ca.png} (nama +apa saja selain {@code icon.png}) dan memasukkannya +dalam direktori default {@code res/drawable/}. Lalu buat file {@code icon.xml} dalam {@code +res/drawable-en-rCA/} dan {@code res/drawable-fr-rCA/} yang mengacu ke sumber daya {@code icon_ca.png} +yang menggunakan elemen {@code <bitmap>}. Hal ini memungkinkan Anda menyimpan satu versi saja dari +file PNG dan dua file XML kecil yang menunjuk ke sana. (Contoh file XML ditampilkan di bawah.)
+ + +Untuk membuat alias ke drawable yang ada, gunakan elemen {@code <bitmap>}. +Misalnya:
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<bitmap xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android" + android:src="@drawable/icon_ca" /> ++ +
Jika Anda menyimpan file ini sebagai {@code icon.xml} (dalam direktori sumber daya alternatif, seperti +{@code res/drawable-en-rCA/}), maka file akan dikompilasi menjadi sumber daya yang dapat Anda acu +sebagai {@code R.drawable.icon}, namun sebenarnya merupakan alias untuk sumber daya {@code +R.drawable.icon_ca} (yang disimpan dalam {@code res/drawable/}).
+ + +Untuk membuat alias ke layout yang ada, gunakan elemen {@code <include>}, +yang dibungkus dalam {@code <merge>}. Misalnya:
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<merge> + <include layout="@layout/main_ltr"/> +</merge> ++ +
Jika Anda menyimpan file ini sebagai {@code main.xml}, file akan dikompilasi menjadi sumber daya yang dapat Anda acu +sebagai {@code R.layout.main}, namun sebenarnya merupakan alias untuk sumber daya {@code R.layout.main_ltr} +.
+ + +Untuk membuat alias ke string yang ada, cukup gunakan ID sumber daya +dari string yang diinginkan sebagai nilai untuk string baru. Misalnya:
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<resources> + <string name="hello">Hello</string> + <string name="hi">@string/hello</string> +</resources> ++ +
Sumber daya {@code R.string.hi} sekarang merupakan alias untuk {@code R.string.hello}.
+ +Nilai sederhana lainnya sama +cara kerjanya. Misalnya, sebuah warna:
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<resources> + <color name="yellow">#f00</color> + <color name="highlight">@color/red</color> +</resources> ++ + + + +
Agar aplikasi Anda mendukung beberapa konfigurasi perangkat, +Anda harus selalu menyediakan sumber daya default untuk setiap tipe sumber daya yang menggunakan aplikasi Anda.
+ +Misalnya, jika aplikasi Anda mendukung beberapa bahasa, sertakan selalu direktori {@code +values/} (tempat string Anda disimpan) tanpa qualifier bahasa dan wilayah. Jika sebaliknya Anda menempatkan semua file +string dalam direktori yang memiliki qualifier bahasa dan wilayah, maka aplikasi Anda akan crash saat berjalan +pada perangkat yang telah diatur ke bahasa yang tidak didukung string Anda. Namun asalkan Anda menyediakan sumber daya default +{@code values/}, aplikasi akan berjalan lancar (meskipun pengguna +tidak memahami bahasa itu—, ini lebih baik daripada crash).
+ +Demikian pula, jika Anda menyediakan sumber daya layout berbeda berdasarkan orientasi layar, Anda harus +memilih satu orientasi sebagai default. Misalnya, sebagai ganti menyediakan sumber daya dalam {@code +layout-land/} untuk lanskap dan {@code layout-port/} untuk potret, biarkan salah satu sebagai default, seperti +{@code layout/} untuk lanskap dan {@code layout-port/} untuk potret.
+ +Sumber daya default perlu disediakan bukan hanya karena aplikasi mungkin berjalan pada +konfigurasi yang belum Anda antisipasi, namun juga karena versi baru Android terkadang menambahkan +qualifier konfigurasi yang tidak didukung oleh versi lama. Jika Anda menggunakan qualifier sumber daya baru, +namun mempertahankan kompatibilitas kode dengan versi Android yang lebih lama, maka saat versi lama +Android menjalankan aplikasi, aplikasi itu akan crash jika Anda tidak menyediakan sumber daya default, aplikasi +tidak bisa menggunakan sumber daya yang dinamai dengan qualifier baru. Misalnya, jika {@code +minSdkVersion} Anda diatur ke 4, dan Anda memenuhi syarat semua sumber daya drawable dengan menggunakan mode malam ({@code night} atau {@code notnight}, yang ditambahkan di API +Level 8), maka perangkat API level 4 tidak bisa mengakses sumber daya drawable dan akan crash. Dalam hal +ini, Anda mungkin ingin {@code notnight} menjadi sumber daya default, jadi Anda harus mengecualikan +qualifier itu agar sumber daya drawable Anda ada dalam {@code drawable/} atau {@code drawable-night/}.
+ +Jadi, agar bisa menyediakan kompatibilitas perangkat terbaik, sediakan selalu sumber daya +default untuk sumber daya yang diperlukan aplikasi Anda untuk berjalan dengan benar. Selanjutnya buatlah sumber daya +alternatif untuk konfigurasi perangkat tertentu dengan menggunakan qualifier konfigurasi.
+ +Ada satu eksepsi untuk aturan ini: Jika {@code minSdkVersion} aplikasi Anda adalah 4 atau +lebih, Anda tidak memerlukan sumber daya drawable default saat menyediakan sumber daya +drawable alternatif dengan qualifier densitas layar. Tanpa sumber daya +drawable default sekali pun, Android bisa menemukan yang paling cocok di antara densitas layar alternatif dan menskalakan +bitmap sesuai kebutuhan. Akan tetapi, demi pengalaman terbaik pada semua jenis perangkat, Anda harus +menyediakan drawable alternatif untuk ketiga tipe densitas.
+ + + +Saat Anda meminta sumber daya yang Anda berikan alternatifnya, Android akan memilih +sumber daya alternatif yang akan digunakan saat runtime, bergantung pada konfigurasi perangkat saat ini. Untuk +mendemonstrasikan cara Android memilih sumber daya alternatif, anggaplah direktori drawable berikut +masing-masing berisi versi berbeda dari gambar yang sama:
+ ++drawable/ +drawable-en/ +drawable-fr-rCA/ +drawable-en-port/ +drawable-en-notouch-12key/ +drawable-port-ldpi/ +drawable-port-notouch-12key/ ++ +
Dan anggaplah yang berikut ini merupakan konfigurasi perangkatnya:
+ +
+Lokal = en-GB
+Orientasi layar = port
+Densitas piksel layar = hdpi
+Tipe layar sentuh = notouch
+Metode input teks utama = 12key
+
Dengan membandingkan konfigurasi perangkat dengan sumber daya alternatif yang tersedia, Android akan memilih +drawable dari {@code drawable-en-port}.
+ +Sistem akan menentukan keputusannya mengenai sumber daya yang akan digunakan dengan logika +berikut:
+ + +
+Gambar 2. Bagan alur cara Android menemukan +sumber daya yang paling cocok.
+Direktori drawable-fr-rCA/ dihapus karena bertentangan
+dengan lokal en-GB.
+drawable/ +drawable-en/ ++drawable-fr-rCA/+drawable-en-port/ +drawable-en-notouch-12key/ +drawable-port-ldpi/ +drawable-port-notouch-12key/ +
Eksepsi: Densitas piksel layar adalah satu qualifier yang
+tidak dihapus karena bertentangan. Meskipun densitas layar perangkat adalah hdpi,
+drawable-port-ldpi/ tidak dihapus karena setiap densitas layar
+dianggap cocok untuk saat ini. Informasi selengkapnya tersedia dalam dokumen Mendukung Beberapa
+Layar.
++drawable/+drawable-en/ +drawable-en-port/ +drawable-en-notouch-12key/ +drawable-port-ldpi/+drawable-port-notouch-12key/+
Eksepsi: Jika qualifier yang dimaksud adalah densitas piksel layar, +Android akan memilih opsi yang paling cocok dengan densitas layar perangkat. +Secara umum, Android lebih suka menurunkan skala gambar asli yang lebih besar daripada menaikkan skala +atas gambar asli yang lebih kecil. Lihat Mendukung Beberapa +Layar.
+ + +++drawable-en/+drawable-en-port/ +drawable-en-notouch-12key/+
Direktori yang tersisa adalah {@code drawable-en-port}.
+Meskipun prosedur dijalankan untuk setiap sumber daya yang diminta, sistem akan mengoptimalkan beberapa aspek +lebih lanjut. Satu optimalisasi tersebut adalah bahwa setelah konfigurasi perangkat diketahui, sistem mungkin +akan menghapus sumber daya alternatif yang sama sekali tidak cocok. Misalnya, jika bahasa konfigurasi +adalah bahasa Inggris ("en"), maka setiap direktori sumber daya yang memiliki qualifier bahasa akan diatur ke +selain bahasa Inggris tidak akan pernah disertakan dalam pool sumber daya yang diperiksa (meskipun +direktori sumber daya tanpa qualifier bahasa masih disertakan).
+ +Saat memilih sumber daya berdasarkan qualifier ukuran layar, sistem akan menggunakan +sumber daya yang didesain untuk layar yang lebih kecil daripada layar saat ini jika tidak ada sumber daya yang lebih cocok +(misalnya, layar ukuran besar akan menggunakan sumber daya layar ukuran normal jika diperlukan). Akan tetapi, +jika satu-satunya sumber daya yang tersedia lebih besar daripada layar saat ini, sistem +tidak akan menggunakannya dan aplikasi Anda akan crash jika tidak ada sumber daya lain yang cocok dengan konfigurasi +perangkat (misalnya, jika semua sumber daya layout ditandai dengan qualifier {@code xlarge}, +namun perangkat memiliki ukuran layar normal).
+ +Catatan: Kedudukan qualifier (dalam tabel 2) lebih penting
+daripada jumlah qualifier yang benar-benar pas dengan perangkat. Misalnya, dalam langkah 4 di atas, pilihan
+terakhir pada daftar berisi tiga qualifier yang bebar-benar cocok dengan perangkat (orientasi, tipe
+layar sentuh, dan metode input), sementara drawable-en hanya memiliki satu parameter yang cocok
+(bahasa). Akan tetapi, bahasa memiliki kedudukan lebih tinggi dari pada qualifier lainnya, sehingga
+drawable-port-notouch-12key tidak masuk.
Untuk mengetahui selengkapnya tentang cara menggunakan sumber daya dalam aplikasi, lanjutkan ke Mengakses Sumber Daya.
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/resources/runtime-changes.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/resources/runtime-changes.jd new file mode 100644 index 0000000000000..09ad60c369ff1 --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/resources/runtime-changes.jd @@ -0,0 +1,281 @@ +page.title=Menangani Perubahan Runtime +page.tags=aktivitas,daur hidup +@jd:body + +Sebagian konfigurasi perangkat bisa berubah selama runtime +(seperti orientasi layar, ketersediaan keyboard, dan bahasa). Saat perubahan demikian terjadi, +Android akan me-restart +{@link android.app.Activity} yang berjalan ({@link android.app.Activity#onDestroy()} dipanggil, diikuti oleh {@link +android.app.Activity#onCreate(Bundle) onCreate()}). Perilaku restart didesain untuk membantu +aplikasi Anda beradaptasi dengan konfigurasi baru melalui pemuatan kembali aplikasi Anda secara otomatis dengan +sumber daya alternatif sumber yang sesuai dengan konfigurasi perangkat baru.
+ +Untuk menangani restart dengan benar, aktivitas Anda harus mengembalikan +statusnya seperti semula melalui Daur hidup +aktivitas normal, dalam hal ini Android akan memanggil +{@link android.app.Activity#onSaveInstanceState(Bundle) onSaveInstanceState()} sebelum menghentikan +aktivitas Anda sehingga Anda dapat menyimpan data mengenai status aplikasi. Selanjutnya Anda bisa mengembalikan status +selama {@link android.app.Activity#onCreate(Bundle) onCreate()} atau {@link +android.app.Activity#onRestoreInstanceState(Bundle) onRestoreInstanceState()}.
+ +Untuk menguji bahwa aplikasi me-restart sendiri dengan status tak berubah, Anda harus +memanggil perubahan konfigurasi (seperti mengubah orientasi layar) saat melakukan berbagai +tugas dalam aplikasi. Aplikasi Anda harus dapat me-restart setiap saat tanpa kehilangan +data pengguna atau status untuk menangani kejadian seperti perubahan konfigurasi atau bila pengguna menerima panggilan telepon +masuk lalu kembali ke aplikasi setelah proses +aplikasi Anda dimusnahkan. Untuk mengetahui cara mengembalikan status aktivitas, bacalah tentang Daur hidup aktivitas.
+ +Akan tetapi, Anda mungkin menemui situasi ketika me-restart aplikasi dan +mengembalikan data dalam jumlah besar malah menjadi mahal dan menghasilkan pengalaman pengguna yang buruk. Dalam situasi +demikian, Anda memiliki dua opsi lain:
+ +Izinkan aktivitas Anda me-restart saat konfigurasi berubah, namun bawa objek +berstatus (stateful) ke instance baru aktivitas Anda.
+ +Cegah sistem me-restart aktivitas selama perubahan konfigurasi +tertentu, namun terima callback saat konfigurasi benar-benar berubah, agar Anda bisa memperbarui +aktivitas secara manual bila diperlukan.
+Jika me-restart aktivitas mengharuskan pemulihan seperangkat data dalam jumlah besar, menghubungkan kembali koneksi +jaringan, atau melakukan operasi intensif lainnya, maka restart penuh karena perubahan konfigurasi mungkin +menjadi pengalaman pengguna yang lambat. Selain itu, Anda mungkin tidak bisa sepenuhnya mengembalikan status +aktivitas dengan {@link android.os.Bundle} yang disimpan sistem untuk Anda dengan callback {@link +android.app.Activity#onSaveInstanceState(Bundle) onSaveInstanceState()}—itu tidaklah +didesain untuk membawa objek besar (seperti bitmap) dan data di dalamnya harus diserialkan kemudian +dinon-serialkan, yang bisa menghabiskan banyak memori dan membuat perubahan konfigurasi menjadi lambat. Dalam situasi +demikian, Anda bisa meringankan beban memulai kembali aktivitas Anda dengan mempertahankan {@link +android.app.Fragment} saat aktivitas Anda di-restart karena perubahan konfigurasi. Fragmen ini +bisa berisi acuan ke objek stateful yang ingin Anda pertahankan.
+ +Bila sistem Android menghentikan aktivitas Anda karena perubahan konfigurasi, fragmen +aktivitas yang telah ditandai untuk dipertahankan tidak akan dimusnahkan. Anda dapat menambahkan fragmen tersebut ke +aktivitas untuk mempertahankan objek stateful.
+ +Untuk mempertahankan objek stateful dalam fragmen selama perubahan konfigurasi runtime:
+ +Misalnya, definisikan fragmen sebagai berikut:
+ +
+public class RetainedFragment extends Fragment {
+
+ // data object we want to retain
+ private MyDataObject data;
+
+ // this method is only called once for this fragment
+ @Override
+ public void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
+ super.onCreate(savedInstanceState);
+ // retain this fragment
+ setRetainInstance(true);
+ }
+
+ public void setData(MyDataObject data) {
+ this.data = data;
+ }
+
+ public MyDataObject getData() {
+ return data;
+ }
+}
+
+
+Perhatian: Meskipun bisa menyimpan objek apa saja, Anda +sama sekali tidak boleh meneruskan objek yang terkait dengan {@link android.app.Activity}, seperti {@link +android.graphics.drawable.Drawable}, {@link android.widget.Adapter}, {@link android.view.View} +atau objek lainnya mana pun yang terkait dengan {@link android.content.Context}. Jika Anda melakukannya, hal tersebut akan +membocorkan semua tampilan dan sumber daya instance aktivitas semula. (Sumber daya yang bocor +berarti bahwa aplikasi Anda tetap menyimpannya dan tidak bisa dijadikan kumpulan sampah, sehingga bisa banyak +memori yang hilang.)
+ +Selanjutnya gunakan {@link android.app.FragmentManager} untuk menambahkan fragmen ke aktivitas. +Anda bisa memperoleh objek data dari fragmen saat aktivitas memulai kembali selama perubahan +konfigurasi runtime. Misalnya, definisikan aktivitas Anda sebagai berikut:
+ +
+public class MyActivity extends Activity {
+
+ private RetainedFragment dataFragment;
+
+ @Override
+ public void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
+ super.onCreate(savedInstanceState);
+ setContentView(R.layout.main);
+
+ // find the retained fragment on activity restarts
+ FragmentManager fm = getFragmentManager();
+ dataFragment = (DataFragment) fm.findFragmentByTag(“data”);
+
+ // create the fragment and data the first time
+ if (dataFragment == null) {
+ // add the fragment
+ dataFragment = new DataFragment();
+ fm.beginTransaction().add(dataFragment, “data”).commit();
+ // load the data from the web
+ dataFragment.setData(loadMyData());
+ }
+
+ // the data is available in dataFragment.getData()
+ ...
+ }
+
+ @Override
+ public void onDestroy() {
+ super.onDestroy();
+ // store the data in the fragment
+ dataFragment.setData(collectMyLoadedData());
+ }
+}
+
+
+Dalam contoh ini, {@link android.app.Activity#onCreate(Bundle) onCreate()} menambahkan fragmen +atau mengembalikan referensinya. {@link android.app.Activity#onCreate(Bundle) onCreate()} juga +menyimpan objek stateful dalam instance fragmen. +{@link android.app.Activity#onDestroy() onDestroy()} akan memperbarui objek stateful dalam +instance fragmen yang dipertahankan.
+ + + + + +Jika aplikasi Anda tidak memerlukan pembaruan sumber daya selama perubahan konfigurasi +tertentu dan Anda memiliki keterbatasan kinerja yang mengharuskan Anda untuk +menghindari restart aktivitas, maka Anda bisa mendeklarasikan agar aktivitas Anda menangani sendiri perubahan +konfigurasinya, sehingga mencegah sistem me-restart aktivitas.
+ +Catatan: Menangani sendiri perubahan konfigurasi bisa jauh lebih +mempersulit penggunaan sumber daya alternatif, karena sistem tidak menerapkannya secara otomatis +untuk Anda. Teknik ini harus dianggap sebagai usaha terakhir bila Anda harus menghindari restart +karena perubahan konfigurasi dan tidak disarankan untuk sebagian besar aplikasi.
+ +Untuk mendeklarasikan agar aktivitas Anda menangani perubahan konfigurasi, edit elemen {@code <activity>} yang sesuai +dalam file manifes Anda agar menyertakan atribut {@code +android:configChanges} dengan nilai yang mewakili konfigurasi yang ingin +ditangani. Nilai yang memungkinkan tercantum dalam dokumentasi untuk atribut {@code +android:configChanges} (nilai paling sering digunakan adalah {@code "orientation"} untuk +mencegah restart saat orientasi layar berubah dan {@code "keyboardHidden"} untuk mencegah +restart saat ketersediaan keyboard berubah). Anda dapat mendeklarasikan beberapa nilai konfigurasi +dalam atribut dengan memisahkannya menggunakan karakter pipa {@code |}.
+ +Misalnya, kode manifes berikut menyatakan aktivitas yang menangani +perubahan orientasi layar maupun perubahan ketersediaan keyboard:
+ ++<activity android:name=".MyActivity" + android:configChanges="orientation|keyboardHidden" + android:label="@string/app_name"> ++ +
Sekarang, bila salah satu konfigurasi ini berubah, {@code MyActivity} tidak akan me-restart. +Sebagai gantinya, {@code MyActivity} akan menerima panggilan ke {@link +android.app.Activity#onConfigurationChanged(Configuration) onConfigurationChanged()}. Metode ini +meneruskan objek {@link android.content.res.Configuration} yang menetapkan +konfigurasi perangkat baru. Dengan membaca bidang-bidang dalam {@link android.content.res.Configuration}, +Anda dapat menentukan konfigurasi baru dan membuat perubahan yang sesuai dengan memperbarui +sumber daya yang digunakan dalam antarmuka. Pada saat +metode ini dipanggil, objek {@link android.content.res.Resources} aktivitas Anda akan diperbarui untuk +mengembalikan sumber daya berdasarkan konfigurasi baru, jadi Anda bisa dengan mudah +me-reset elemen UI tanpa membuat sistem me-restart aktivitas Anda.
+ +Perhatian: Mulai Android 3.2 (API level 13), +"ukuran layar" juga berubah bila perangkat beralih orientasi antara potret +dan lanskap. Jadi jika Anda tidak ingin runtime di-restart karena perubahan orientasi saat mengembangkan +API level 13 atau yang lebih tinggi (sebagaimana dideklarasikan oleh atribut {@code minSdkVersion} dan {@code targetSdkVersion} +), Anda harus menyertakan nilai {@code "screenSize"} selain nilai {@code +"orientation"}. Yaitu Anda harus mendeklarasikan {@code +android:configChanges="orientation|screenSize"}. Akan tetapi, jika aplikasi Anda menargetkan API level +12 atau yang lebih rendah, maka aktivitas Anda akan selalu menangani sendiri perubahan konfigurasi ini (perubahan +konfigurasi ini tidak me-restart aktivitas Anda, bahkan saat berjalan pada perangkat Android 3.2 atau yang lebih tinggi).
+ +Misalnya, implementasi {@link +android.app.Activity#onConfigurationChanged(Configuration) onConfigurationChanged()} berikut akan +memeriksa orientasi perangkat saat ini:
+ +
+@Override
+public void onConfigurationChanged(Configuration newConfig) {
+ super.onConfigurationChanged(newConfig);
+
+ // Checks the orientation of the screen
+ if (newConfig.orientation == Configuration.ORIENTATION_LANDSCAPE) {
+ Toast.makeText(this, "landscape", Toast.LENGTH_SHORT).show();
+ } else if (newConfig.orientation == Configuration.ORIENTATION_PORTRAIT){
+ Toast.makeText(this, "portrait", Toast.LENGTH_SHORT).show();
+ }
+}
+
+
+Objek {@link android.content.res.Configuration} mewakili semua konfigurasi +saat ini, tidak hanya konfigurasi yang telah berubah. Seringkali Anda tidak perlu memperhatikan dengan persis bagaimana +konfigurasi berubah dan cukup menetapkan kembali semua sumber daya yang memberikan alternatif untuk +konfigurasi sedang ditangani. Misalnya, karena objek {@link +android.content.res.Resources} sekarang diperbarui, Anda dapat me-reset +setiap {@link android.widget.ImageView} dengan {@link android.widget.ImageView#setImageResource(int) +setImageResource()} +dan sumber daya yang sesuai untuk konfigurasi baru yang digunakan (seperti dijelaskan dalam Menyediakan Sumber Daya).
+ +Perhatikan bahwa nilai-nilai dari bidang {@link +android.content.res.Configuration} adalah integer yang sesuai dengan konstanta spesifik +dari kelas {@link android.content.res.Configuration}. Untuk dokumentasi tentang konstanta +yang harus digunakan di setiap bidang, lihat bidang yang sesuai dalam referensi {@link +android.content.res.Configuration}.
+ +Ingatlah: Saat mendeklarasikan aktivitas untuk menangani perubahan +konfigurasi, Anda bertanggung jawab untuk me-reset setiap elemen yang alternatifnya Anda berikan. Jika Anda +mendeklarasikan aktivitas untuk menangani perubahan orientasi dan memiliki gambar yang harus berubah +antara lanskap dan potret, Anda harus menetapkan kembali setiap sumber daya elemen selama {@link +android.app.Activity#onConfigurationChanged(Configuration) onConfigurationChanged()}.
+ +Jika Anda tidak perlu memperbarui aplikasi berdasarkan perubahan +konfigurasi ini, sebagai gantinya Anda bisa saja tidak mengimplementasikan {@link +android.app.Activity#onConfigurationChanged(Configuration) onConfigurationChanged()}. Dalam +hal ini, semua sumber daya yang digunakan sebelum perubahan konfigurasi akan tetap digunakan +dan Anda hanya menghindari restart aktivitas. Akan tetapi, aplikasi Anda harus selalu +bisa dimatikan dan di-restart dengan status sebelumnya tetap utuh, sehingga Anda jangan menganggap teknik +ini sebagai jalan keluar untuk mempertahankan status selama daur hidup aktivitas normal. Tidak hanya +karena ada perubahan konfigurasi lainnya yang tidak bisa Anda cegah untuk me-restart aplikasi, namun +juga karena Anda harus menangani kejadian seperti saat pengguna meninggalkan aplikasi dan +dimusnahkan sebelum pengguna kembali ke aplikasi.
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang perubahan konfigurasi yang bisa Anda tangani dalam aktivitas, lihat dokumentasi {@code +android:configChanges} dan kelas {@link android.content.res.Configuration} +.
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/controls.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/controls.jd new file mode 100644 index 0000000000000..3ebf48b5c9d4c --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/controls.jd @@ -0,0 +1,90 @@ +page.title=Kontrol Input +parent.title=Antarmuka Pengguna +parent.link=index.html +@jd:body + +
+Kontrol input adalah komponen interaktif dalam antarmuka pengguna aplikasi Anda. Android menyediakan +aneka ragam kontrol yang bisa Anda gunakan dalam UI, seperti tombol, bidang teks, bilah pencarian, +kotak cek, tombol zoom, tombol toggle, dan masih banyak lagi.
+ +Menambahkan sebuah kontrol input ke UI adalah semudah menambahkan satu elemen XML ke layout XML. Misalnya, inilah sebuah +layout dengan satu bidang teks dan satu tombol:
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<LinearLayout xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android" + android:layout_width="fill_parent" + android:layout_height="fill_parent" + android:orientation="horizontal"> + <EditText android:id="@+id/edit_message" + android:layout_weight="1" + android:layout_width="0dp" + android:layout_height="wrap_content" + android:hint="@string/edit_message" /> + <Button android:id="@+id/button_send" + android:layout_width="wrap_content" + android:layout_height="wrap_content" + android:text="@string/button_send" + android:onClick="sendMessage" /> +</LinearLayout> ++ +
Tiap kontrol input mendukung satu set kejadian input sehingga Anda bisa menangani berbagai kejadian seperti saat +pengguna memasukkan teks atau menyentuh tombol.
+ + +Berikut adalah daftar beberapa kontrol umum yang bisa Anda gunakan dalam aplikasi. Ikuti tautan ini untuk mengetahui +selengkapnya tentang penggunaannya masing-masing.
+ +Catatan: Android menyediakan beberapa kontrol lain yang tidak tercantum +di sini. Telusuri paket {@link android.widget} untuk mengetahui selengkapnya. Jika aplikasi Anda memerlukan +semacam kontrol input tertentu, Anda bisa membangun komponen custom sendiri.
+ +| Tipe Kontrol | +Keterangan | +Kelas Terkait | +
|---|---|---|
| Tombol | +Tombol tekan yang bisa ditekan, atau diklik, oleh pengguna untuk melakukan suatu tindakan. | +{@link android.widget.Button Button} | +
| Bidang teks | +Bidang teks yang bisa diedit. Anda bisa menggunakan widget AutoCompleteTextView untuk membuat widget entri teks yang menyediakan saran pelengkapan otomatis |
+ {@link android.widget.EditText EditText}, {@link android.widget.AutoCompleteTextView} | +
| Kotak cek | +Switch aktif/nonaktif yang bisa diubah oleh pengguna. Anda harus menggunakan kotak cek saat menampilkan sekumpulan opsi yang bisa dipilih pengguna dan bila keduanya mungkin terjadi bersamaan. | +{@link android.widget.CheckBox CheckBox} | +
| Tombol radio | +Mirip dengan kotak cek, hanya saja cuma satu opsi yang bisa dipilih dalam kumpulan tersebut. | +{@link android.widget.RadioGroup RadioGroup}
+ {@link android.widget.RadioButton RadioButton} |
+
| Tombol toggle | +Tombol aktif/nonaktif dengan indikator cahaya. | +{@link android.widget.ToggleButton ToggleButton} | +
| Spinner | +Daftar tarik-turun yang memungkinkan pengguna memilih salah satu dari serangkaian nilai. | +{@link android.widget.Spinner Spinner} | +
| Picker | +Dialog bagi pengguna untuk memilih satu nilai dari satu kumpulan dengan menggunakan tombol naik/turun atau dengan gerakan mengusap. Gunakan widget DatePickercode> untuk memasukkan nilai tanggal (bulan, hari, tahun) atau widget TimePicker untuk memasukkan nilai waktu (jam, menit, AM/PM), yang akan diformat secara otomatis untuk lokasi pengguna tersebut. |
+ {@link android.widget.DatePicker}, {@link android.widget.TimePicker} | +
Layout mendefinisikan struktur visual untuk antarmuka pengguna, seperti UI sebuah aktivitas atau widget aplikasi. +Anda dapat mendeklarasikan layout dengan dua cara:
+Kerangka kerja Android memberi Anda fleksibilitas untuk menggunakan salah satu atau kedua metode ini guna mendeklarasikan dan mengelola UI aplikasi Anda. Misalnya, Anda bisa mendeklarasikan layout default aplikasi Anda dalam XML, termasuk elemen-elemen layar yang akan muncul di dalamnya dan di propertinya. Anda nanti bisa menambahkan kode dalam aplikasi yang akan memodifikasi status objek layar, termasuk yang dideklarasikan dalam XML, saat runtime.
+ +Keuntungan mendeklarasikan UI dalam XML adalah karena hal ini memungkinkan Anda memisahkan penampilan aplikasi dari kode yang mengontrol perilakunya dengan lebih baik. Keterangan UI Anda bersifat eksternal bagi kode aplikasi Anda, yang berarti bahwa Anda bisa memodifikasi atau menyesuaikannya tanpa harus memodifikasi dan mengompilasi ulang kode sumber. Misalnya, Anda bisa membuat layout XML untuk berbagai orientasi layar, berbagai ukuran layar perangkat, dan berbagai bahasa. Selain itu, mendeklarasikan layout dalam XML akan mempermudah Anda memvisualisasikan struktur UI, sehingga lebih mudah merunut masalahnya. Karena itu, dokumen ini berfokus pada upaya mengajari Anda cara mendeklarasikan layout dalam XML. Jika Anda +tertarik dalam membuat instance objek View saat runtime, lihat referensi kelas {@link android.view.ViewGroup} dan +{@link android.view.View}.
+ +Secara umum, kosakata XML untuk mendeklarasikan elemen UI mengikuti dengan sangat mirip struktur serta penamaan kelas dan metode, dengan nama elemen dipadankan dengan nama kelas dan nama atribut dipadankan dengan metode. Sebenarnya, pemadanan ini kerap kali begitu jelas sehingga Anda bisa menebak atribut XML yang berpadanan dengan sebuah metode kelas, atau menebak kelas yang berpadanan dengan sebuah elemen XML. Akan tetapi, perhatikan bahwa tidak semua kosakata identik. Dalam beberapa kasus, ada sedikit perbedaan penamaan. Misalnya
+, elemen EditText memiliki atribut text yang berpadanan dengan
+EditText.setText().
Tip: Ketahui selengkapnya berbagai tipe layout dalam Objek +Layout Umum. Ada juga sekumpulan tutorial tentang cara membangun berbagai layout dalam panduan tutorial +Hello Views.
+ +Dengan menggunakan kosakata XML Android, Anda bisa mendesain secara cepat layout UI dan elemen layar yang dimuatnya, sama dengan cara membuat halaman web dalam HTML — dengan serangkaian elemen tersarang.
+ +Tiap file layout harus berisi persis satu elemen akar, yang harus berupa sebuah objek View atau ViewGroup. Setelah mendefinisikan elemen akar, Anda bisa menambahkan objek atau widget layout tambahan sebagai elemen anak untuk membangun hierarki View yang mendefinisikan layout Anda secara bertahap. Misalnya, inilah layout XML yang menggunakan {@link android.widget.LinearLayout} +vertikal untuk menyimpan {@link android.widget.TextView} dan {@link android.widget.Button}:
++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<LinearLayout xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android" + android:layout_width="match_parent" + android:layout_height="match_parent" + android:orientation="vertical" > + <TextView android:id="@+id/text" + android:layout_width="wrap_content" + android:layout_height="wrap_content" + android:text="Hello, I am a TextView" /> + <Button android:id="@+id/button" + android:layout_width="wrap_content" + android:layout_height="wrap_content" + android:text="Hello, I am a Button" /> +</LinearLayout> ++ +
Setelah Anda mendeklarasikan layout dalam XML, simpanlah file dengan ekstensi .xml,
+dalam direktori res/layout/ proyek Android, sehingga nanti bisa dikompilasi dengan benar.
Informasi selengkapnya tentang sintaks untuk file XML layout tersedia dalam dokumen Sumber Daya Layout.
+ +Saat mengompilasi aplikasi, masing-masing file layout XML akan dikompilasi dalam sebuah sumber daya
+{@link android.view.View}. Anda harus memuat sumber daya layout dari kode aplikasi, dalam implementasi
+callback {@link android.app.Activity#onCreate(android.os.Bundle) Activity.onCreate()}.
+Lakukan dengan memanggil {@link android.app.Activity#setContentView(int) setContentView()},
+dengan meneruskan acuan ke sumber daya layout berupa:
+R.layout.layout_file_name.
+Misalnya, jika XML layout Anda disimpan sebagai main_layout.xml, Anda akan memuatnya
+untuk Activity seperti ini:
+public void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
+ super.onCreate(savedInstanceState);
+ setContentView(R.layout.main_layout);
+}
+
+
+Metode callback onCreate() dalam Activity dipanggil oleh kerangka kerja Android saat
+Activity Anda dijalankan (lihat diskusi tentang daur hidup, dalam dokumen
+Aktivitas
+).
Setiap objek View dan ViewGroup mendukung variasi atribut XML-nya sendiri.
+Sebagian atribut bersifat spesifik untuk objek View (misalnya, TextView mendukung atribut textSize
+), namun atribut ini juga diwarisi oleh sembarang objek View yang dapat memperluas kelas ini.
+Sebagian atribut bersifat umum untuk semua objek View, karena diwarisi dari kelas View akar (seperti
+atribut id). Dan, atribut lain dianggap sebagai "parameter layout" yaitu
+atribut yang menjelaskan orientasi layout tertentu dari objek View, seperti yang didefinisikan oleh objek ViewGroup induk
+dari objek itu.
Objek View apa saja dapat memiliki ID integer yang dikaitkan dengannya, untuk mengidentifikasi secara unik View dalam pohon.
+Bila aplikasi dikompilasi, ID ini akan diacu sebagai integer, namun ID biasanya
+ditetapkan dalam file XML layout sebagai string, dalam atribut id.
+Ini atribut XML yang umum untuk semua objek View
+(yang didefinisikan oleh kelas {@link android.view.View}) dan Anda akan sering sekali menggunakannya.
+Sintaks untuk ID dalam tag XML adalah:
android:id="@+id/my_button"+ +
Simbol "at" (@) pada awal string menunjukkan parser XML harus mengurai dan memperluas
+ID string selebihnya dan mengenalinya sebagai ID sumber daya. Simbol tanda tambah (+) berarti ini nama sumber daya baru yang harus
+dibuat dan ditambahkan ke sumber daya kita (dalam file R.java). Ada sejumlah sumber daya ID lain yang
+ditawarkan oleh kerangka kerja Android. Saat mengacu sebuah ID sumber daya Android, Anda tidak memerlukan simbol tanda tambah,
+namun harus menambahkan namespace paket android, sehingga:
android:id="@android:id/empty"+
Dengan namespace paket android yang tersedia, kita sekarang mengacu ID dari kelas sumber daya android.R
+, daripada kelas sumber daya lokal.
Untuk membuat tampilan dan mengacunya dari aplikasi, pola yang umum adalah:
++<Button android:id="@+id/my_button" + android:layout_width="wrap_content" + android:layout_height="wrap_content" + android:text="@string/my_button_text"/> ++
{@link android.app.Activity#onCreate(Bundle) onCreate()}):
++Button myButton = (Button) findViewById(R.id.my_button); ++
Mendefinisikan ID untuk objek tampilan adalah penting saat membuat {@link android.widget.RelativeLayout}. +Dalam layout relatif, tampilan saudara bisa mendefinisikan layout secara relatif terhadap tampilan saudara lainnya, +yang diacu melalui ID unik.
+ID tidak perlu unik di seluruh pohon, namun harus +unik di bagian pohon yang Anda cari (yang mungkin sering kali seluruh pohon, jadi lebih baik +benar-benar unik bila memungkinkan).
+ + +Atribut layout XML bernama layout_something mendefinisikan
+parameter layout View yang cocok untuk ViewGroup tempatnya berada.
Setiap kelas ViewGroup mengimplementasikan kelas tersarang yang memperluas {@link +android.view.ViewGroup.LayoutParams}. Subkelas ini +berisi tipe properti yang mendefinisikan ukuran dan posisi masing-masing tampilan anak, sebagaimana +mestinya untuk grup tampilan. Seperti yang bisa Anda lihat dalam gambar 1, +grup tampilan induk mendefinisikan parameter layout untuk masing-masing tampilan anak (termasuk grup tampilan anak).
+ +
+Gambar 1. Visualisasi hierarki tampilan dengan parameter layout +yang dikaitkan dengan tiap tampilan.
+ +Perhatikan bahwa setiap subkelas LayoutParams memiliki sintaksnya sendiri untuk menetapkan +nilai-nilai. Tiap elemen anak harus mendefinisikan LayoutParams yang semestinya bagi induknya, +meskipun elemen itu bisa juga mendefinisikan LayoutParams untuk anak-anaknya sendiri.
+ +Semua grup tampilan berisi lebar dan tinggi (layout_width dan
+layout_height), dan masing-masing tampilan harus mendefinisikannya. Banyak
+LayoutParams yang juga menyertakan margin dan border opsional.
+ +
Anda bisa menetapkan lebar dan tinggi dengan ukuran persis, meskipun Anda mungkin +tidak ingin sering-sering melakukannya. Lebih sering, Anda akan menggunakan salah satu konstanta ini untuk +mengatur lebar atau tinggi:
+ +Secara umum, menetapkan lebar dan tinggi layout dengan satuan mutlak seperti +piksel tidaklah disarankan. Melainkan dengan menggunakan ukuran relatif seperti +satuan piksel yang tidak bergantung pada kerapatan (dp), wrap_content, atau +match_parent, adalah sebuah pendekatan yang lebih baik, karena membantu memastikan bahwa +aplikasi Anda akan ditampilkan dengan benar pada berbagai ukuran layar perangkat. +Tipe ukuran yang diterima didefinisikan dalam dokumen + +Sumber Daya yang Tersedia.
+ + ++ Geometri tampilan adalah persegi panjang. Sebuah tampilan memiliki lokasi, + yang dinyatakan berupa sepasang koordinat kiri dan atas, dan + dua dimensi, yang dinyatakan berupa lebar dan tinggi. Satuan untuk lokasi + dan dimensi adalah piksel. +
+ +
+ Lokasi tampilan dapat diambil dengan memanggil metode
+ {@link android.view.View#getLeft()} dan {@link android.view.View#getTop()}. Metode terdahulu menghasilkan koordinat kiri, atau X,
+ persegi panjang yang mewakili tampilan. Metode selanjutnya menghasilkan koordinat
+ atas, atau Y, persegi panjang yang mewakili tampilan. Kedua metode ini
+ menghasilkan lokasi tampilan relatif terhadap induknya. Misalnya,
+ bila getLeft() menghasilkan 20, berarti tampilan berlokasi 20 piksel ke
+ kanan dari tepi kiri induk langsungnya.
+
+ Selain itu, beberapa metode praktis ditawarkan untuk menghindari komputasi yang tidak perlu,
+ yakni {@link android.view.View#getRight()} dan {@link android.view.View#getBottom()}.
+ Kedua metode ini menghasilkan koordinat tepi kanan dan bawah
+ persegi panjang yang mewakili tampilan. Misalnya, memanggil {@link android.view.View#getRight()}
+ serupa dengan komputasi berikut: getLeft() + getWidth().
+
+ Ukuran tampilan dinyatakan dengan lebar dan tinggi. Tampilan sebenarnya + memiliki dua pasang nilai lebar dan tinggi. +
+ ++ Sepasang pertama disebut lebar terukur dan + tinggi terukur. Dimensi ini mendefinisikan seberapa besar tampilan yang diinginkan + dalam induknya. Dimensi + terukur bisa diperoleh dengan memanggil {@link android.view.View#getMeasuredWidth()} + dan {@link android.view.View#getMeasuredHeight()}. +
+ ++ Sepasang kedua cukup disebut dengan lebar dan tinggi, atau + kadang-kadang lebar penggambaran dan tinggi penggambaran. Dimensi-dimensi ini + mendefinisikan ukuran tampilan sebenarnya pada layar, saat digambar dan + setelah layout. Nilai-nilai ini mungkin, namun tidak harus, berbeda dengan + lebar dan tinggi terukur. Lebar dan tinggi bisa diperoleh dengan memanggil + {@link android.view.View#getWidth()} dan {@link android.view.View#getHeight()}. +
+ ++ Untuk mengukur dimensinya, tampilan akan memperhitungkan pengisinya (padding). Pengisi + dinyatakan dalam piksel untuk bagian kiri, atas, kanan, dan bawah tampilan. + Pengisi bisa digunakan untuk meng-offset isi tampilan dengan + piksel dalam jumlah tertentu. Misalnya, pengisi kiri sebesar 2 akan mendorong isi tampilan sebanyak + 2 piksel ke kanan dari tepi kiri. Pengisi bisa diatur menggunakan + metode {@link android.view.View#setPadding(int, int, int, int)} dan diketahui dengan memanggil + {@link android.view.View#getPaddingLeft()}, {@link android.view.View#getPaddingTop()}, + {@link android.view.View#getPaddingRight()}, dan {@link android.view.View#getPaddingBottom()}. +
+ ++ Meskipun bisa mendefinisikan pengisi, tampilan tidak menyediakan dukungan untuk + margin. Akan tetapi, grup tampilan menyediakan dukungan tersebut. Lihat + {@link android.view.ViewGroup} dan + {@link android.view.ViewGroup.MarginLayoutParams} untuk informasi lebih jauh. +
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang dimensi, lihat + Nilai-Nilai Dimensi. +
+ + + + + + + + + + + +Tiap subkelas dari kelas {@link android.view.ViewGroup} menyediakan cara unik untuk menampilkan +tampilan yang Anda sarangkan di dalamnya. Di bawah ini adalah beberapa tipe layout lebih umum yang dibuat +ke dalam platform Android.
+ +Catatan: Walaupun Anda bisa menyarangkan satu atau beberapa layout dalam +layout lain untuk mendapatkan desain UI, Anda harus berusaha menjaga hierarki layout sedangkal +mungkin. Layout Anda akan digambar lebih cepat jika memiliki layout tersarang yang lebih sedikit (hierarki tampilan yang melebar +lebih baik daripada hierarki tampilan yang dalam).
+ + + + +
+ Layout yang mengatur anak-anaknya menjadi satu baris horizontal atau vertikal. Layout ini + akan membuat scrollbar jika panjang jendela melebihi panjang layar.
+
+ Memungkinkan Anda menentukan lokasi objek anak relatif terhadap satu sama lain (anak A di +kiri anak B) atau terhadap induk (disejajarkan dengan atas induknya).
+Bila isi layout bersifat dinamis atau tidak dipastikan sebelumnya, Anda bisa menggunakan layout yang menjadi +subkelas {@link android.widget.AdapterView} untuk mengisi layout dengan tampilan saat runtime. +Subkelas dari kelas {@link android.widget.AdapterView} menggunakan {@link android.widget.Adapter} untuk +mengikat data ke layoutnya. {@link android.widget.Adapter} berfungsi sebagai penghubung antara sumber data +dan layout{@link android.widget.AdapterView}—{@link android.widget.Adapter} +menarik data (dari suatu sumber seperti larik (array) atau query database) dan mengubah setiap entri +menjadi tampilan yang bisa ditambahkan ke dalam layout {@link android.widget.AdapterView}.
+ +Layout umum yang didukung oleh adaptor meliputi:
+ + + + + + + +Anda bisa mengisi {@link android.widget.AdapterView} seperti {@link android.widget.ListView} atau +{@link android.widget.GridView} dengan mengikat instance {@link android.widget.AdapterView} ke +{@link android.widget.Adapter}, yang akan mengambil data dari sumber eksternal dan membuat {@link +android.view.View} yang mewakili tiap entri data.
+ +Android menyediakan beberapa subkelas {@link android.widget.Adapter} yang berguna untuk +menarik berbagai jenis data dan membangun tampilan untuk {@link android.widget.AdapterView}. Dua + adaptor yang paling umum adalah:
+ +Misalnya, jika Anda memiliki satu larik string yang ingin ditampilkan dalam {@link +android.widget.ListView}, buatlah {@link android.widget.ArrayAdapter} baru dengan konstruktor +untuk menentukan layout setiap string dan larik string:
++ArrayAdapter<String> adapter = new ArrayAdapter<String>(this, + android.R.layout.simple_list_item_1, myStringArray); ++
Argumen-argumen untuk konstruktor ini adalah:
+Kemudian tinggal panggil +{@link android.widget.ListView#setAdapter setAdapter()} pada {@link android.widget.ListView} Anda:
++ListView listView = (ListView) findViewById(R.id.listview); +listView.setAdapter(adapter); ++ +
Untuk menyesuaikan penampilan setiap item, Anda bisa mengesampingkan metode {@link +java.lang.Object#toString()} bagi objek dalam larik Anda. Atau, untuk membuat tampilan tiap +elemen selain {@link android.widget.TextView} (misalnya, jika Anda menginginkan +{@link android.widget.ImageView} bagi setiap item larik), perluas kelas {@link +android.widget.ArrayAdapter} dan kesampingkan {@link android.widget.ArrayAdapter#getView +getView()} agar memberikan tipe tampilan yang Anda inginkan bagi tiap item.
+ +
+String[] fromColumns = {ContactsContract.Data.DISPLAY_NAME,
+ ContactsContract.CommonDataKinds.Phone.NUMBER};
+int[] toViews = {R.id.display_name, R.id.phone_number};
+
+Bila Anda membuat instance {@link android.widget.SimpleCursorAdapter}, teruskan layout yang akan digunakan untuk +setiap hasil, {@link android.database.Cursor} yang berisi hasil tersebut, dan dua larik ini:
++SimpleCursorAdapter adapter = new SimpleCursorAdapter(this, + R.layout.person_name_and_number, cursor, fromColumns, toViews, 0); +ListView listView = getListView(); +listView.setAdapter(adapter); ++
{@link android.widget.SimpleCursorAdapter} kemudian membuat tampilan untuk tiap baris dalam +{@link android.database.Cursor} dengan layout yang disediakan dengan memasukkan setiap item {@code +fromColumns} ke dalam tampilan {@code toViews} yang sesuai.
Jika, selama aplikasi berjalan, Anda mengubah data sumber yang dibaca oleh +adaptor, maka Anda harus memanggil {@link android.widget.ArrayAdapter#notifyDataSetChanged()}. Hal ini akan +memberi tahu tampilan yang bersangkutan bahwa data telah berubah dan tampilan harus memperbarui dirinya sendiri.
+ + + +Anda bisa merespons kejadian klik pada setiap item dalam {@link android.widget.AdapterView} dengan +menerapkan antarmuka {@link android.widget.AdapterView.OnItemClickListener}. Misalnya:
+ +
+// Create a message handling object as an anonymous class.
+private OnItemClickListener mMessageClickedHandler = new OnItemClickListener() {
+ public void onItemClick(AdapterView parent, View v, int position, long id) {
+ // Do something in response to the click
+ }
+};
+
+listView.setOnItemClickListener(mMessageClickedHandler);
+
+
+
+
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/dialogs.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/dialogs.jd
new file mode 100644
index 0000000000000..06a25ac5bcd3d
--- /dev/null
+++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/dialogs.jd
@@ -0,0 +1,798 @@
+page.title=Dialog
+page.tags=alertdialog,dialogfragment
+
+@jd:body
+
+
+
+Dialog adalah jendela kecil yang meminta pengguna untuk +membuat keputusan atau memasukkan informasi tambahan. Dialog tidak mengisi layar dan +biasanya digunakan untuk kejadian modal yang mengharuskan pengguna untuk melakukan tindakan sebelum bisa melanjutkan.
+ +Desain Dialog
+Untuk informasi tentang cara mendesain dialog, termasuk saran + untuk bahasa, bacalah panduan Desain dialog.
+
+
+Kelas {@link android.app.Dialog} adalah kelas basis untuk dialog, namun Anda +harus menghindari pembuatan instance {@link android.app.Dialog} secara langsung. +Sebagai gantinya, gunakan salah satu subkelas berikut:
+Android menyertakan kelas dialog lain yang disebut +{@link android.app.ProgressDialog} yang menampilkan dialog berisi progress-bar. Akan tetapi, jika Anda +perlu menunjukkan kemajuan pemuatan ataupun kemajuan yang tidak pasti, maka Anda harus mengikuti +panduan desain untuk Kemajuan & +Aktivitas dan menggunakan {@link android.widget.ProgressBar} dalam layout Anda.
+Kelas-kelas ini mendefinisikan gaya dan struktur dialog Anda, namun Anda harus +menggunakan {@link android.support.v4.app.DialogFragment} sebagai kontainer dialog Anda. +Kelas {@link android.support.v4.app.DialogFragment} menyediakan semua kontrol yang Anda +perlukan untuk membuat dialog dan mengelola penampilannya, sebagai ganti memanggil metode +pada objek {@link android.app.Dialog}.
+ +Menggunakan {@link android.support.v4.app.DialogFragment} untuk mengelola dialog +akan memastikan bahwa kelas itu menangani kejadian daur hidup +dengan benar seperti ketika pengguna menekan tombol Back atau memutar layar. Kelas {@link +android.support.v4.app.DialogFragment} juga memungkinkan Anda menggunakan ulang dialog UI sebagai +komponen yang bisa ditanamkan dalam UI yang lebih besar, persis seperti {@link +android.support.v4.app.Fragment} tradisional (seperti saat Anda ingin dialog UI muncul berbeda +pada layar besar dan kecil).
+ +Bagian-bagian berikutnya dalam panduan ini akan menjelaskan cara menggunakan {@link +android.support.v4.app.DialogFragment} yang dikombinasikan dengan objek {@link android.app.AlertDialog} +. Jika Anda ingin membuat picker tanggal atau waktu, Anda harus membaca panduan +Picker.
+ +Catatan:
+Karena kelas {@link android.app.DialogFragment} mulanya ditambahkan pada
+Android 3.0 (API level 11), dokumen ini menjelaskan cara menggunakan kelas {@link
+android.support.v4.app.DialogFragment} yang disediakan bersama Pustaka Dukungan. Dengan menambahkan pustaka ini
+ke aplikasi, Anda bisa menggunakan {@link android.support.v4.app.DialogFragment} dan berbagai
+API lain pada perangkat yang menjalankan Android 1.6 atau yang lebih tinggi. Jika versi minimum yang didukung aplikasi Anda
+adalah API level 11 atau yang lebih tinggi, maka Anda bisa menggunakan versi kerangka kerja {@link
+android.app.DialogFragment}, namun ketahuilah bahwa tautan dalam dokumen ini adalah untuk API
+pustaka dukungan. Saat menggunakan pustaka dukungan,
+pastikan Anda mengimpor kelas android.support.v4.app.DialogFragment
+dan bukan android.app.DialogFragment.
Anda bisa menghasilkan beragam rancangan dialog—termasuk +layout custom dan desain yang dijelaskan dalam panduan desain Dialog +—dengan memperluas +{@link android.support.v4.app.DialogFragment} dan membuat {@link android.app.AlertDialog} +dalam metode callback {@link android.support.v4.app.DialogFragment#onCreateDialog +onCreateDialog()}.
+ +Misalnya, berikut ini sebuah {@link android.app.AlertDialog} dasar yang dikelola dalam +{@link android.support.v4.app.DialogFragment}:
+ +
+public class FireMissilesDialogFragment extends DialogFragment {
+ @Override
+ public Dialog onCreateDialog(Bundle savedInstanceState) {
+ // Use the Builder class for convenient dialog construction
+ AlertDialog.Builder builder = new AlertDialog.Builder(getActivity());
+ builder.setMessage(R.string.dialog_fire_missiles)
+ .setPositiveButton(R.string.fire, new DialogInterface.OnClickListener() {
+ public void onClick(DialogInterface dialog, int id) {
+ // FIRE ZE MISSILES!
+ }
+ })
+ .setNegativeButton(R.string.cancel, new DialogInterface.OnClickListener() {
+ public void onClick(DialogInterface dialog, int id) {
+ // User cancelled the dialog
+ }
+ });
+ // Create the AlertDialog object and return it
+ return builder.create();
+ }
+}
+
+
+
+Gambar 1. +Dialog dengan satu pesan dan dua tombol tindakan.
+Sekarang, bila Anda membuat instance kelas ini dan memanggil {@link +android.support.v4.app.DialogFragment#show show()} pada objek itu, dialog akan muncul seperti +yang ditampilkan dalam gambar 1.
+ +Bagian berikutnya menjelaskan lebih jauh tentang penggunaan API {@link android.app.AlertDialog.Builder} +untuk membuat dialog.
+ +Bergantung pada seberapa rumit dialog tersebut, Anda bisa menerapkan berbagai metode callback lain +dalam {@link android.support.v4.app.DialogFragment}, termasuk semua +metode daur hidup fragmen dasar. + + + + + +
Kelas {@link android.app.AlertDialog} memungkinkan Anda membuat berbagai desain dialog dan +seringkali satu-satunya kelas dialog yang akan Anda perlukan. +Seperti yang ditampilkan dalam gambar 2, ada tiga area pada dialog peringatan:
+ +
+Gambar 2. Layout dialog.
+Area ini opsional dan hanya boleh digunakan bila area konten + ditempati oleh pesan terperinci, daftar, atau layout custom. Jika Anda perlu menyatakan + pesan atau pertanyaan sederhana (seperti dialog dalam gambar 1), Anda tidak memerlukan judul.
Area ini bisa menampilkan pesan, daftar, atau layout custom lainnya.
Tidak boleh ada lebih dari tiga tombol tindakan dalam sebuah dialog.
Kelas {@link android.app.AlertDialog.Builder} + menyediakan API yang memungkinkan Anda membuat {@link android.app.AlertDialog} +dengan jenis konten ini, termasuk layout custom.
+ +Untuk membuat {@link android.app.AlertDialog}:
+ +
+// 1. Instantiate an {@link android.app.AlertDialog.Builder} with its constructor
+AlertDialog.Builder builder = new AlertDialog.Builder(getActivity());
+
+// 2. Chain together various setter methods to set the dialog characteristics
+builder.setMessage(R.string.dialog_message)
+ .setTitle(R.string.dialog_title);
+
+// 3. Get the {@link android.app.AlertDialog} from {@link android.app.AlertDialog.Builder#create()}
+AlertDialog dialog = builder.create();
+
+
+Topik-topik selanjutnya menampilkan cara mendefinisikan berbagai atribut dialog dengan menggunakan +kelas {@link android.app.AlertDialog.Builder}.
+ + + + +Untuk menambahkan tombol tindakan seperti dalam gambar 2, +panggil metode {@link android.app.AlertDialog.Builder#setPositiveButton setPositiveButton()} dan +{@link android.app.AlertDialog.Builder#setNegativeButton setNegativeButton()}:
+ +
+AlertDialog.Builder builder = new AlertDialog.Builder(getActivity());
+// Add the buttons
+builder.setPositiveButton(R.string.ok, new DialogInterface.OnClickListener() {
+ public void onClick(DialogInterface dialog, int id) {
+ // User clicked OK button
+ }
+ });
+builder.setNegativeButton(R.string.cancel, new DialogInterface.OnClickListener() {
+ public void onClick(DialogInterface dialog, int id) {
+ // User cancelled the dialog
+ }
+ });
+// Set other dialog properties
+...
+
+// Create the AlertDialog
+AlertDialog dialog = builder.create();
+
+
+Metode set...Button() mengharuskan adanya judul bagi tombol (disediakan
+oleh suatu sumber daya string) dan
+{@link android.content.DialogInterface.OnClickListener} yang mendefinisikan tindakan yang diambil
+bila pengguna menekan tombol.
Ada tiga macam tombol tindakan yang Anda bisa tambahkan:
+Anda hanya bisa menambahkan salah satu tipe tombol ke {@link +android.app.AlertDialog}. Artinya, Anda tidak bisa memiliki lebih dari satu tombol "positif".
+ + + +
+Gambar 3. +Dialog dengan satu judul dan daftar.
+Ada tiga macam daftar yang tersedia pada API {@link android.app.AlertDialog}:
+Untuk membuat daftar pilihan tunggal seperti dalam gambar 3, +gunakan metode {@link android.app.AlertDialog.Builder#setItems setItems()}:
+ +
+@Override
+public Dialog onCreateDialog(Bundle savedInstanceState) {
+ AlertDialog.Builder builder = new AlertDialog.Builder(getActivity());
+ builder.setTitle(R.string.pick_color)
+ .setItems(R.array.colors_array, new DialogInterface.OnClickListener() {
+ public void onClick(DialogInterface dialog, int which) {
+ // The 'which' argument contains the index position
+ // of the selected item
+ }
+ });
+ return builder.create();
+}
+
+
+Karena daftar muncul dalam area konten dialog, +dialog tidak bisa menampilkan pesan dan daftar sekaligus dan Anda harus menetapkan judul untuk +dialog dengan {@link android.app.AlertDialog.Builder#setTitle setTitle()}. +Untuk menentukan item daftar, panggil {@link +android.app.AlertDialog.Builder#setItems setItems()}, dengan meneruskan larik. +Atau, Anda bisa menetapkan daftar menggunakan {@link +android.app.AlertDialog.Builder#setAdapter setAdapter()}. Hal ini memungkinkan Anda mendukung daftar +dengan data dinamis (seperti dari database) dengan menggunakan {@link android.widget.ListAdapter}.
+ +Jika Anda memilih untuk mendukung daftar dengan {@link android.widget.ListAdapter}, +selalu gunakan sebuah {@link android.support.v4.content.Loader} agar konten dimuat +secara asinkron. Hal ini dijelaskan lebih jauh dalam panduan +Membuat Layout +dengan Adaptor dan Loader +.
+ +Catatan: Secara default, menyentuh sebuah item daftar akan menutup dialog, +kecuali Anda menggunakan salah satu daftar pilihan persisten berikut ini.
+ +
+Gambar 4. +Daftar item pilihan ganda.
+Untuk menambahkan daftar item pilihan ganda (kotak cek) atau +item pilihan tunggal (tombol radio), gunakan masing-masing metode +{@link android.app.AlertDialog.Builder#setMultiChoiceItems(Cursor,String,String, +DialogInterface.OnMultiChoiceClickListener) setMultiChoiceItems()}, atau +{@link android.app.AlertDialog.Builder#setSingleChoiceItems(int,int,DialogInterface.OnClickListener) +setSingleChoiceItems()}.
+ +Misalnya, berikut ini cara membuat daftar pilihan ganda seperti +yang ditampilkan dalam gambar 4 yang menyimpan item +yang dipilih dalam {@link java.util.ArrayList}:
+ +
+@Override
+public Dialog onCreateDialog(Bundle savedInstanceState) {
+ mSelectedItems = new ArrayList(); // Where we track the selected items
+ AlertDialog.Builder builder = new AlertDialog.Builder(getActivity());
+ // Set the dialog title
+ builder.setTitle(R.string.pick_toppings)
+ // Specify the list array, the items to be selected by default (null for none),
+ // and the listener through which to receive callbacks when items are selected
+ .setMultiChoiceItems(R.array.toppings, null,
+ new DialogInterface.OnMultiChoiceClickListener() {
+ @Override
+ public void onClick(DialogInterface dialog, int which,
+ boolean isChecked) {
+ if (isChecked) {
+ // If the user checked the item, add it to the selected items
+ mSelectedItems.add(which);
+ } else if (mSelectedItems.contains(which)) {
+ // Else, if the item is already in the array, remove it
+ mSelectedItems.remove(Integer.valueOf(which));
+ }
+ }
+ })
+ // Set the action buttons
+ .setPositiveButton(R.string.ok, new DialogInterface.OnClickListener() {
+ @Override
+ public void onClick(DialogInterface dialog, int id) {
+ // User clicked OK, so save the mSelectedItems results somewhere
+ // or return them to the component that opened the dialog
+ ...
+ }
+ })
+ .setNegativeButton(R.string.cancel, new DialogInterface.OnClickListener() {
+ @Override
+ public void onClick(DialogInterface dialog, int id) {
+ ...
+ }
+ });
+
+ return builder.create();
+}
+
+
+Walaupun daftar tradisional maupun daftar dengan tombol radio +menyediakan tindakan "pilihan tunggal", Anda harus menggunakan {@link +android.app.AlertDialog.Builder#setSingleChoiceItems(int,int,DialogInterface.OnClickListener) +setSingleChoiceItems()} jika ingin mempertahankan pilihan pengguna. +Yakni, jika nanti membuka dialog lagi untuk menunjukkan pilihan pengguna, +maka Anda perlu membuat daftar dengan tombol radio.
+ + + + + +
+Gambar 5. Layout dialog custom.
+Jika Anda menginginkan layout custom dalam dialog, buatlah layout dan tambahkan ke +{@link android.app.AlertDialog} dengan memanggil {@link +android.app.AlertDialog.Builder#setView setView()} pada objek {@link +android.app.AlertDialog.Builder} Anda.
+ +Secara default, layout custom akan mengisi jendela dialog, namun Anda masih bisa +menggunakan metode {@link android.app.AlertDialog.Builder} untuk menambahkan tombol dan judul.
+ +Misalnya, berikut ini adalah file layout untuk dialog dalam Gambar 5:
+ +res/layout/dialog_signin.xml
++<LinearLayout xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android" + android:orientation="vertical" + android:layout_width="wrap_content" + android:layout_height="wrap_content"> + <ImageView + android:src="@drawable/header_logo" + android:layout_width="match_parent" + android:layout_height="64dp" + android:scaleType="center" + android:background="#FFFFBB33" + android:contentDescription="@string/app_name" /> + <EditText + android:id="@+id/username" + android:inputType="textEmailAddress" + android:layout_width="match_parent" + android:layout_height="wrap_content" + android:layout_marginTop="16dp" + android:layout_marginLeft="4dp" + android:layout_marginRight="4dp" + android:layout_marginBottom="4dp" + android:hint="@string/username" /> + <EditText + android:id="@+id/password" + android:inputType="textPassword" + android:layout_width="match_parent" + android:layout_height="wrap_content" + android:layout_marginTop="4dp" + android:layout_marginLeft="4dp" + android:layout_marginRight="4dp" + android:layout_marginBottom="16dp" + android:fontFamily="sans-serif" + android:hint="@string/password"/> +</LinearLayout> ++ +
Tip: Secara default, bila Anda telah mengatur sebuah elemen {@link android.widget.EditText} +agar menggunakan tipe input {@code "textPassword"}, keluarga font akan diatur ke spasi tunggal, sehingga +Anda harus mengubah keluarga font ke {@code "sans-serif"} sehingga kedua bidang teks menggunakan +gaya font yang cocok.
+ +Untuk memekarkan layout dalam {@link android.support.v4.app.DialogFragment} Anda, +ambillah {@link android.view.LayoutInflater} dengan +{@link android.app.Activity#getLayoutInflater()} dan panggil +{@link android.view.LayoutInflater#inflate inflate()}, dengan parameter pertama +adalah ID sumber daya layout dan parameter kedua adalah tampilan induk untuk layout. +Selanjutnya Anda bisa memanggil {@link android.app.AlertDialog#setView setView()} +untuk menempatkan layout dalam dialog.
+ +
+@Override
+public Dialog onCreateDialog(Bundle savedInstanceState) {
+ AlertDialog.Builder builder = new AlertDialog.Builder(getActivity());
+ // Get the layout inflater
+ LayoutInflater inflater = getActivity().getLayoutInflater();
+
+ // Inflate and set the layout for the dialog
+ // Pass null as the parent view because its going in the dialog layout
+ builder.setView(inflater.inflate(R.layout.dialog_signin, null))
+ // Add action buttons
+ .setPositiveButton(R.string.signin, new DialogInterface.OnClickListener() {
+ @Override
+ public void onClick(DialogInterface dialog, int id) {
+ // sign in the user ...
+ }
+ })
+ .setNegativeButton(R.string.cancel, new DialogInterface.OnClickListener() {
+ public void onClick(DialogInterface dialog, int id) {
+ LoginDialogFragment.this.getDialog().cancel();
+ }
+ });
+ return builder.create();
+}
+
+
+Tip: Jika Anda menginginkan dialog custom, +Anda bisa menampilkan {@link android.app.Activity} sebagai dialog +daripada menggunakan API {@link android.app.Dialog}. Cukup buat satu aktivitas dan mengatur temanya ke +{@link android.R.style#Theme_Holo_Dialog Theme.Holo.Dialog} +di elemen manifes {@code +<activity>}:
+ ++<activity android:theme="@android:style/Theme.Holo.Dialog" > ++
Demikian saja. Aktivitas sekarang ditampilkan dalam jendela dialog, sebagai ganti layar penuh.
+Bila pengguna menyentuh salah satu tombol tindakan dialog atau memilih satu item dari daftarnya, +{@link android.support.v4.app.DialogFragment} Anda bisa melakukan sendiri tindakan yang diperlukan +, namun sering kali Anda perlu mengirim kejadian itu ke aktivitas atau fragmen yang +membuka dialog. Caranya, definisikan antarmuka dengan sebuah metode untuk masing-masing tipe kejadian klik. +Lalu implementasikan antarmuka itu dalam komponen host yang akan +menerima kejadian tindakan dari dialog.
+ +Misalnya, berikut ini adalah {@link android.support.v4.app.DialogFragment} yang mendefinisikan +antarmuka yang akan digunakan untuk mengirim kembali suatu kejadian ke aktivitas host:
+ +
+public class NoticeDialogFragment extends DialogFragment {
+
+ /* The activity that creates an instance of this dialog fragment must
+ * implement this interface in order to receive event callbacks.
+ * Each method passes the DialogFragment in case the host needs to query it. */
+ public interface NoticeDialogListener {
+ public void onDialogPositiveClick(DialogFragment dialog);
+ public void onDialogNegativeClick(DialogFragment dialog);
+ }
+
+ // Use this instance of the interface to deliver action events
+ NoticeDialogListener mListener;
+
+ // Override the Fragment.onAttach() method to instantiate the NoticeDialogListener
+ @Override
+ public void onAttach(Activity activity) {
+ super.onAttach(activity);
+ // Verify that the host activity implements the callback interface
+ try {
+ // Instantiate the NoticeDialogListener so we can send events to the host
+ mListener = (NoticeDialogListener) activity;
+ } catch (ClassCastException e) {
+ // The activity doesn't implement the interface, throw exception
+ throw new ClassCastException(activity.toString()
+ + " must implement NoticeDialogListener");
+ }
+ }
+ ...
+}
+
+
+Aktivitas yang menjadi host dialog tersebut akan membuat instance dialog +dengan konstruktor fragmen dialog dan menerima kejadian dialog +melalui implementasi antarmuka {@code NoticeDialogListener}:
+ +
+public class MainActivity extends FragmentActivity
+ implements NoticeDialogFragment.NoticeDialogListener{
+ ...
+
+ public void showNoticeDialog() {
+ // Create an instance of the dialog fragment and show it
+ DialogFragment dialog = new NoticeDialogFragment();
+ dialog.show(getSupportFragmentManager(), "NoticeDialogFragment");
+ }
+
+ // The dialog fragment receives a reference to this Activity through the
+ // Fragment.onAttach() callback, which it uses to call the following methods
+ // defined by the NoticeDialogFragment.NoticeDialogListener interface
+ @Override
+ public void onDialogPositiveClick(DialogFragment dialog) {
+ // User touched the dialog's positive button
+ ...
+ }
+
+ @Override
+ public void onDialogNegativeClick(DialogFragment dialog) {
+ // User touched the dialog's negative button
+ ...
+ }
+}
+
+
+Karena aktivitas host mengimplementasikan {@code NoticeDialogListener}—yang +diberlakukan oleh metode callback {@link android.support.v4.app.Fragment#onAttach onAttach()} +di atas,—fragmen dialog bisa menggunakan +metode callback antarmuka untuk mengirimkan kejadian klik ke aktivitas:
+ +
+public class NoticeDialogFragment extends DialogFragment {
+ ...
+
+ @Override
+ public Dialog onCreateDialog(Bundle savedInstanceState) {
+ // Build the dialog and set up the button click handlers
+ AlertDialog.Builder builder = new AlertDialog.Builder(getActivity());
+ builder.setMessage(R.string.dialog_fire_missiles)
+ .setPositiveButton(R.string.fire, new DialogInterface.OnClickListener() {
+ public void onClick(DialogInterface dialog, int id) {
+ // Send the positive button event back to the host activity
+ mListener.onDialogPositiveClick(NoticeDialogFragment.this);
+ }
+ })
+ .setNegativeButton(R.string.cancel, new DialogInterface.OnClickListener() {
+ public void onClick(DialogInterface dialog, int id) {
+ // Send the negative button event back to the host activity
+ mListener.onDialogNegativeClick(NoticeDialogFragment.this);
+ }
+ });
+ return builder.create();
+ }
+}
+
+
+
+
+Bila Anda ingin menampilkan dialog, buatlah instance {@link +android.support.v4.app.DialogFragment} dan panggil {@link android.support.v4.app.DialogFragment#show +show()}, dengan meneruskan {@link android.support.v4.app.FragmentManager} dan nama tag +untuk fragmen dialognya.
+ +Anda bisa mendapatkan {@link android.support.v4.app.FragmentManager} dengan memanggil +{@link android.support.v4.app.FragmentActivity#getSupportFragmentManager()} dari + {@link android.support.v4.app.FragmentActivity} atau {@link +android.support.v4.app.Fragment#getFragmentManager()} dari {@link +android.support.v4.app.Fragment}. Misalnya:
+ +
+public void confirmFireMissiles() {
+ DialogFragment newFragment = new FireMissilesDialogFragment();
+ newFragment.show(getSupportFragmentManager(), "missiles");
+}
+
+
+Argumen kedua, {@code "missiles"}, adalah nama tag unik yang digunakan sistem untuk menyimpan +dan memulihkan status fragmen bila diperlukan. Tag ini juga memungkinkan Anda mendapatkan handle ke +fragmen dengan memanggil {@link android.support.v4.app.FragmentManager#findFragmentByTag +findFragmentByTag()}.
+ + + + +Anda mungkin memiliki desain UI yang di dalamnya Anda ingin UI muncul sebagai dialog dalam beberapa +situasi, namun sebagai layar penuh atau fragmen tertanam dalam situasi lain (mungkin bergantung pada apakah +perangkat memiliki layar besar atau layar kecil). Kelas {@link android.support.v4.app.DialogFragment} +menawarkan fleksibilitas ini karena masih bisa berperilaku sebagai {@link +android.support.v4.app.Fragment} yang bisa ditanamkan.
+ +Akan tetapi, dalam hal ini Anda tidak bisa menggunakan {@link android.app.AlertDialog.Builder AlertDialog.Builder} +atau objek {@link android.app.Dialog} lain untuk membangun dialog. Jika +Anda ingin {@link android.support.v4.app.DialogFragment} +bisa ditanamkan, Anda harus mendefinisikan dialog UI dalam layout, lalu memuat layout itu dalam metode callback +{@link android.support.v4.app.DialogFragment#onCreateView +onCreateView()}.
+ +Berikut ini adalah contoh {@link android.support.v4.app.DialogFragment} yang bisa muncul sebagai
+dialog maupun fragmen yang bisa ditanamkan (menggunakan layout bernama purchase_items.xml):
+public class CustomDialogFragment extends DialogFragment {
+ /** The system calls this to get the DialogFragment's layout, regardless
+ of whether it's being displayed as a dialog or an embedded fragment. */
+ @Override
+ public View onCreateView(LayoutInflater inflater, ViewGroup container,
+ Bundle savedInstanceState) {
+ // Inflate the layout to use as dialog or embedded fragment
+ return inflater.inflate(R.layout.purchase_items, container, false);
+ }
+
+ /** The system calls this only when creating the layout in a dialog. */
+ @Override
+ public Dialog onCreateDialog(Bundle savedInstanceState) {
+ // The only reason you might override this method when using onCreateView() is
+ // to modify any dialog characteristics. For example, the dialog includes a
+ // title by default, but your custom layout might not need it. So here you can
+ // remove the dialog title, but you must call the superclass to get the Dialog.
+ Dialog dialog = super.onCreateDialog(savedInstanceState);
+ dialog.requestWindowFeature(Window.FEATURE_NO_TITLE);
+ return dialog;
+ }
+}
+
+
+Dan berikut ini adalah beberapa kode yang memutuskan apakah akan menampilkan fragmen sebagai dialog +atau UI layar penuh, berdasarkan ukuran layar:
+ +
+public void showDialog() {
+ FragmentManager fragmentManager = getSupportFragmentManager();
+ CustomDialogFragment newFragment = new CustomDialogFragment();
+
+ if (mIsLargeLayout) {
+ // The device is using a large layout, so show the fragment as a dialog
+ newFragment.show(fragmentManager, "dialog");
+ } else {
+ // The device is smaller, so show the fragment fullscreen
+ FragmentTransaction transaction = fragmentManager.beginTransaction();
+ // For a little polish, specify a transition animation
+ transaction.setTransition(FragmentTransaction.TRANSIT_FRAGMENT_OPEN);
+ // To make it fullscreen, use the 'content' root view as the container
+ // for the fragment, which is always the root view for the activity
+ transaction.add(android.R.id.content, newFragment)
+ .addToBackStack(null).commit();
+ }
+}
+
+
+Untuk informasi selengkapnya tentang melakukan transaksi fragmen, lihat panduan +Fragmen.
+ +Dalam contoh ini, nilai boolean mIsLargeLayout menentukan apakah perangkat saat ini
+harus menggunakan desain layout besar aplikasi (dan dengan demikian menampilkan fragmen ini sebagai dialog, bukan
+layar penuh). Cara terbaik untuk mengatur jenis boolean ini adalah mendeklarasikan
+nilai sumber daya boolean
+dengan nilai sumber daya alternatif untuk berbagai ukuran layar. Misalnya, berikut ini adalah dua
+versi sumber daya boolean untuk berbagai ukuran layar:
res/values/bools.xml
++<!-- Default boolean values --> +<resources> + <bool name="large_layout">false</bool> +</resources> ++ +
res/values-large/bools.xml
++<!-- Large screen boolean values --> +<resources> + <bool name="large_layout">true</bool> +</resources> ++ +
Selanjutnya Anda bisa menetapkan nilai {@code mIsLargeLayout} selama +metode {@link android.app.Activity#onCreate onCreate()} aktivitas:
+ +
+boolean mIsLargeLayout;
+
+@Override
+public void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
+ super.onCreate(savedInstanceState);
+ setContentView(R.layout.activity_main);
+
+ mIsLargeLayout = getResources().getBoolean(R.bool.large_layout);
+}
+
+
+
+
+Sebagai ganti menampilkan dialog berupa UI layar penuh saat di layar kecil, Anda bisa memperoleh +hasil yang sama dengan menampilkan {@link android.app.Activity} sebagai dialog saat di +layar besar. Pendekatan yang Anda pilih bergantung pada desain aplikasi, namun +menampilkan aktivitas sebagai dialog sering kali berguna bila aplikasi Anda sudah didesain untuk +layar kecil dan Anda ingin meningkatkan pengalaman pada tablet dengan menampilkan aktivitas berjangka pendek +sebagai dialog.
+ +Untuk menampilkan aktivitas sebagai dialog hanya saat di layar besar, +terapkan tema {@link android.R.style#Theme_Holo_DialogWhenLarge Theme.Holo.DialogWhenLarge} + pada elemen manifes {@code +<activity>}:
+ ++<activity android:theme="@android:style/Theme.Holo.DialogWhenLarge" > ++ +
Untuk informasi selengkapnya tentang mengatur gaya aktivitas Anda dengan tema, lihat panduan Gaya dan Tema.
+ + + +Bila pengguna menyentuh salah satu tombol tindakan yang dibuat dengan +{@link android.app.AlertDialog.Builder}, sistem akan menutup dialog untuk Anda.
+ +Sistem juga menutup dialog bila pengguna menyentuh sebuah item dalam daftar dialog, kecuali +bila daftar itu menggunakan tombol radio atau kotak cek. Jika tidak, Anda bisa menutup dialog secara manual +dengan memanggil {@link android.support.v4.app.DialogFragment#dismiss()} pada {@link +android.support.v4.app.DialogFragment} Anda.
+ +Jika Anda perlu melakukan +tindakan tertentu saat dialog menghilang, Anda bisa menerapkan metode {@link +android.support.v4.app.DialogFragment#onDismiss onDismiss()} dalam {@link +android.support.v4.app.DialogFragment} Anda.
+ +Anda juga bisa membatalkan dialog. Ini merupakan kejadian khusus yang menunjukkan bahwa pengguna +secara eksplisit meninggalkan dialog tanpa menyelesaikan tugas. Hal ini terjadi jika pengguna menekan tombol +Back, menyentuh layar di luar area dialog, +atau jika Anda secara eksplisit memanggil {@link android.app.Dialog#cancel()} pada {@link +android.app.Dialog} (seperti saat merespons tombol "Cancel" dalam dialog).
+ +Seperti yang ditampilkan dalam contoh di atas, Anda bisa merespons kejadian batal dengan menerapkan +{@link android.support.v4.app.DialogFragment#onCancel onCancel()} dalam kelas {@link +android.support.v4.app.DialogFragment} Anda.
+ +Catatan: Sistem akan memanggil +{@link android.support.v4.app.DialogFragment#onDismiss onDismiss()} pada tiap kejadian yang +memanggil callback {@link android.support.v4.app.DialogFragment#onCancel onCancel()}. Akan tetapi, +jika Anda memanggil {@link android.app.Dialog#dismiss Dialog.dismiss()} atau {@link +android.support.v4.app.DialogFragment#dismiss DialogFragment.dismiss()}, +sistem akan memanggil {@link android.support.v4.app.DialogFragment#onDismiss onDismiss()} namun +bukan {@link android.support.v4.app.DialogFragment#onCancel onCancel()}. Jadi biasanya Anda harus +memanggil {@link android.support.v4.app.DialogFragment#dismiss dismiss()} bila pengguna menekan tombol +positif dalam dialog untuk menghilangkan tampilan dialog.
+ + diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/menus.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/menus.jd new file mode 100644 index 0000000000000..1ee0244c1a9af --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/menus.jd @@ -0,0 +1,1031 @@ +page.title=Menu +parent.title=Antarmuka Pengguna +parent.link=index.html +@jd:body + +Menu adalah komponen antarmuka pengguna yang lazim dalam banyak tipe aplikasi. Untuk menyediakan pengalaman pengguna yang sudah akrab +dan konsisten, Anda harus menggunakan API {@link android.view.Menu} untuk menyajikan +tindakan dan opsi lain dalam aktivitas kepada pengguna.
+ +Mulai dengan Android 3.0 (API level 11), perangkat berbasis Android tidak perlu lagi +menyediakan tombol Menu tersendiri. Dengan perubahan ini, aplikasi Android harus bermigrasi dari +dependensi pada panel menu 6 item biasa, dan sebagai ganti menyediakan action-bar untuk menyajikan +berbagai tindakan pengguna yang lazim.
+ +Walaupun desain dan pengalaman pengguna untuk sebagian item menu telah berubah, semantik untuk mendefinisikan +serangkaian tindakan dan opsi masih berdasarkan pada API {@link android.view.Menu}. Panduan ini +menampilkan cara membuat tiga tipe dasar penyajian menu atau tindakan pada semua +versi Android:
+ +Jika Anda mengembangkan aplikasi untuk Android 2.3 atau yang lebih rendah, pengguna bisa +menampilkan panel menu opsi dengan menekan tombol Menu.
+Pada Android 3.0 dan yang lebih tinggi, item menu opsi disajikan melalui action-bar sebagai kombinasi item tindakan +di layar dan opsi overflow. Mulai dengan Android 3.0, tombol Menu dihilangkan (sebagian +perangkat +tidak memilikinya), sehingga Anda harus bermigrasi ke penggunaan action-bar untuk menyediakan akses ke tindakan dan +opsi lainnya.
+Lihat bagian tentang Membuat Menu Opsi.
+Saat mengembangkan aplikasi untuk Android 3.0 dan yang lebih tinggi, sebagai gantinya Anda harus menggunakan mode tindakan kontekstual untuk memungkinkan tindakan pada konten yang dipilih. Mode ini menampilkan +item tindakan yang memengaruhi konten yang dipilih dalam baris di bagian atas layar dan memungkinkan pengguna +memilih beberapa item sekaligus.
+Lihat bagian tentang Membuat Menu Kontekstual.
+Lihat bagian tentang Membuat Menu Popup.
+Untuk semua tipe menu, Android menyediakan sebuah format XML standar untuk mendefinisikan item menu. +Sebagai ganti membuat menu dalam kode aktivitas, Anda harus mendefinisikan menu dan semua itemnya dalam +sumber daya menu XML. Anda kemudian bisa +memekarkan sumber daya menu (memuatnya sebagai objek {@link android.view.Menu}) dalam aktivitas atau +fragmen.
+ +Menggunakan sumber daya menu adalah praktik yang baik karena beberapa alasan:
+Untuk mendefinisikan menu, buatlah sebuah file XML dalam direktori res/menu/
+proyek dan buat menu dengan elemen-elemen berikut:
<menu><menu> harus menjadi simpul akar untuk file dan bisa menampung salah satu atau beberapa dari elemen
+<item> dan <group>.<item><menu> tersarang guna untuk membuat submenu.<group>Berikut ini adalah contoh menu bernama game_menu.xml:
+<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<menu xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"> + <item android:id="@+id/new_game" + android:icon="@drawable/ic_new_game" + android:title="@string/new_game" + android:showAsAction="ifRoom"/> + <item android:id="@+id/help" + android:icon="@drawable/ic_help" + android:title="@string/help" /> +</menu> ++ +
Elemen <item> mendukung beberapa atribut yang bisa Anda gunakan untuk mendefinisikan penampilan dan perilaku
+item. Item menu di atas mencakup atribut berikut:
Ini adalah atribut-atribut terpenting yang harus Anda gunakan, namun banyak lagi yang tersedia. +Untuk informasi tentang semua atribut yang didukung, lihat dokumen Sumber Daya Menu.
+ +Anda bisa menambahkan submenu ke sebuah item di menu (kecuali submenu) apa saja dengan menambahkan elemen {@code <menu>} +sebagai anak {@code <item>}. Submenu berguna saat aplikasi Anda memiliki banyak +fungsi yang bisa ditata ke dalam topik-topik, seperti item dalam sebuah baris menu aplikasi PC (File, +Edit, Lihat, dsb.). Misalnya:
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<menu xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"> + <item android:id="@+id/file" + android:title="@string/file" > + <!-- "file" submenu --> + <menu> + <item android:id="@+id/create_new" + android:title="@string/create_new" /> + <item android:id="@+id/open" + android:title="@string/open" /> + </menu> + </item> +</menu> ++ +
Untuk menggunakan menu dalam aktivitas, Anda perlu memekarkan sumber daya menu (mengonversi sumber daya XML +menjadi objek yang bisa diprogram) dengan menggunakan {@link android.view.MenuInflater#inflate(int,Menu) +MenuInflater.inflate()}. Di bagian berikut, Anda akan melihat cara memekarkan menu untuk tiap +tipe menu.
+ + + +
+ Gambar 1. Menu opsi di +Browser, pada Android 2.3.
+Menu opsi adalah tempat Anda harus menyertakan tindakan dan opsi lain yang relevan dengan +konteks aktivitas saat ini, seperti "Cari", "Tulis email", dan "Pengaturan".
+ +Tempat item dalam menu opsi muncul di layar bergantung pada versi aplikasi yang Anda +kembangkan:
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang item tindakan dan perilaku action-bar lainnya, lihat panduan Action-Bar.
+Catatan: Sekalipun Anda tidak mengembangkan aplikasi untuk Android 3.0 atau +yang lebih tinggi, Anda bisa membuat layout action-bar sendiri untuk mendapatkan efek serupa. Untuk contoh cara +mendukung versi Android yang lebih lama dengan action-bar, lihat contoh Kompatibilitas Action-Bar +.
+
+Gambar 2. Action-bar dari aplikasi Honeycomb Gallery, yang menampilkan +tab-tab navigasi dan item tindakan kamera (plus tombol kelebihan tindakan).
+ +Anda bisa mendeklarasikan item untuk menu opsi dari subkelas {@link android.app.Activity} +atau subkelas {@link android.app.Fragment}. Jika aktivitas maupun fragmen Anda +mendeklarasikan item menu opsi, keduanya akan dikombinasikan dalam UI. Item aktivitas akan muncul +lebih dahulu, diikuti oleh item tiap fragmen sesuai dengan urutan penambahan fragmen ke +aktivitas. Jika perlu, Anda bisa menyusun ulang item menu dengan atribut {@code android:orderInCategory} +dalam setiap {@code <item>} yang perlu Anda pindahkan.
+ +Untuk menetapkan menu opsi suatu aktivitas, kesampingkan {@link +android.app.Activity#onCreateOptionsMenu(Menu) onCreateOptionsMenu()} (fragmen-fragmen menyediakan +callback {@link android.app.Fragment#onCreateOptionsMenu onCreateOptionsMenu()} sendiri). Dalam metode ini +, Anda bisa memekarkan sumber daya menu (yang didefinisikan dalam XML) menjadi {@link +android.view.Menu} yang disediakan dalam callback. Misalnya:
+ +
+@Override
+public boolean onCreateOptionsMenu(Menu menu) {
+ MenuInflater inflater = {@link android.app.Activity#getMenuInflater()};
+ inflater.inflate(R.menu.game_menu, menu);
+ return true;
+}
+
+
+Anda juga bisa menambahkan item menu dengan menggunakan {@link android.view.Menu#add(int,int,int,int) +add()} dan mengambil item dengan {@link android.view.Menu#findItem findItem()} untuk merevisi propertinya +dengan API {@link android.view.MenuItem}.
+ +Jika Anda mengembangkan aplikasi untuk Android 2.3.x dan yang lebih rendah, sistem akan memanggil {@link +android.app.Activity#onCreateOptionsMenu(Menu) onCreateOptionsMenu()} untuk membuat menu opsi +bila pengguna membuka menu untuk pertama kali. Jika Anda mengembangkan aplikasi untuk Android 3.0 dan yang lebih tinggi, +sistem akan memanggil {@link android.app.Activity#onCreateOptionsMenu(Menu) onCreateOptionsMenu()} saat +memulai aktivitas, untuk menampilkan item menu pada action-bar.
+ + + +Bila pengguna memilih item dari menu opsi (termasuk item tindakan dalam action-bar), +sistem akan memanggil metode {@link android.app.Activity#onOptionsItemSelected(MenuItem) +onOptionsItemSelected()} aktivitas Anda. Metode ini meneruskan {@link android.view.MenuItem} yang dipilih. Anda +bisa mengidentifikasi item dengan memanggil {@link android.view.MenuItem#getItemId()}, yang menghasilkan +ID unik untuk item menu itu (yang didefinisikan oleh atribut {@code android:id} dalam sumber daya menu atau dengan +integer yang diberikan ke metode {@link android.view.Menu#add(int,int,int,int) add()}). Anda bisa mencocokkan +ID ini dengan item menu yang diketahui untuk melakukan tindakan yang sesuai. Misalnya:
+ +
+@Override
+public boolean onOptionsItemSelected(MenuItem item) {
+ // Handle item selection
+ switch (item.getItemId()) {
+ case R.id.new_game:
+ newGame();
+ return true;
+ case R.id.help:
+ showHelp();
+ return true;
+ default:
+ return super.onOptionsItemSelected(item);
+ }
+}
+
+
+Bila Anda berhasil menangani sebuah item menu, kembalikan {@code true}. Jika tidak menangani item menu +, Anda harus memanggil implementasi superkelas {@link +android.app.Activity#onOptionsItemSelected(MenuItem) onOptionsItemSelected()} (implementasi default +menghasilkan false).
+ +Jika aktivitas Anda menyertakan fragmen, sistem akan memanggil lebih dahulu {@link +android.app.Activity#onOptionsItemSelected(MenuItem) onOptionsItemSelected()} untuk aktivitas, kemudian +untuk setiap fragmen (sesuai dengan urutan penambahan fragmen) hingga satu fragmen mengembalikan +{@code true} atau semua fragmen telah dipanggil.
+ +Tip: Android 3.0 menambahkan kemampuan mendefinisikan perilaku on-click +untuk item menu dalam XML, dengan menggunakan atribut {@code android:onClick}. Nilai atribut +harus berupa nama metode yang didefinisikan aktivitas dengan menggunakan menu. Metode +harus bersifat publik dan menerima satu parameter {@link android.view.MenuItem}—bila sistem +memanggilnya, metode ini akan meneruskan item menu yang dipilih. Untuk informasi selengkapnya dan contoh, lihat dokumen Sumber Daya Menu.
+ +Tip: Jika aplikasi Anda berisi banyak aktivitas dan +sebagian menyediakan menu opsi yang sama, pertimbangkan untuk membuat +aktivitas yang tidak mengimplementasikan apa-apa kecuali metode {@link android.app.Activity#onCreateOptionsMenu(Menu) +onCreateOptionsMenu()} dan {@link android.app.Activity#onOptionsItemSelected(MenuItem) +onOptionsItemSelected()}. Kemudian perluas kelas ini untuk setiap aktivitas yang harus menggunakan +menu opsi yang sama. Dengan begini, Anda bisa mengelola satu set kode untuk menangani tindakan menu +dan setiap kelas turunan mewarisi perilaku menu. +Jika ingin menambahkan item menu ke salah satu aktivitas turunan, +kesampingkan {@link android.app.Activity#onCreateOptionsMenu(Menu) +onCreateOptionsMenu()} dalam aktivitas itu. Panggil {@code super.onCreateOptionsMenu(menu)} agar +item menu asli dibuat, kemudian tambahkan item menu yang baru dengan {@link +android.view.Menu#add(int,int,int,int) menu.add()}. Anda juga bisa mengesampingkan +perilaku superkelas untuk setiap item menu.
+ + +Setelah sistem memanggil {@link android.app.Activity#onCreateOptionsMenu(Menu) +onCreateOptionsMenu()}, sistem akan mempertahankan instance {@link android.view.Menu} yang Anda tempatkan dan +tidak akan memanggil {@link android.app.Activity#onCreateOptionsMenu(Menu) onCreateOptionsMenu()} +lagi kecuali menu diinvalidkan karena suatu alasan. Akan tetapi, Anda harus menggunakan {@link +android.app.Activity#onCreateOptionsMenu(Menu) onCreateOptionsMenu()} hanya untuk membuat +status menu awal dan tidak untuk membuat perubahan selama daur hidup aktivitas.
+ +Jika Anda ingin mengubah menu opsi berdasarkan +kejadian yang terjadi selama daur hidup aktivitas, Anda bisa melakukannya dalam metode +{@link android.app.Activity#onPrepareOptionsMenu(Menu) onPrepareOptionsMenu()}. Metode ini +meneruskan objek {@link android.view.Menu} sebagaimana adanya saat ini sehingga Anda bisa mengubahnya, +seperti menambah, menghapus, atau menonaktifkan item. (Fragmen juga menyediakan callback {@link +android.app.Fragment#onPrepareOptionsMenu onPrepareOptionsMenu()}.)
+ +Pada Android 2.3.x dan yang lebih rendah, sistem akan memanggil {@link +android.app.Activity#onPrepareOptionsMenu(Menu) +onPrepareOptionsMenu()} setiap kali pengguna membuka menu opsi (menekan tombol Menu +).
+ +Pada Android 3.0 dan yang lebih tinggi, menu opsi dianggap sebagai selalu terbuka saat item menu +ditampilkan pada action-bar. Bila ada kejadian dan Anda ingin melakukan pembaruan menu, Anda harus +memanggil {@link android.app.Activity#invalidateOptionsMenu invalidateOptionsMenu()} untuk meminta +sistem memanggil {@link android.app.Activity#onPrepareOptionsMenu(Menu) onPrepareOptionsMenu()}.
+ +Catatan: +Anda tidak boleh mengubah item dalam menu opsi berdasarkan {@link android.view.View} yang saat ini +difokus. Saat dalam mode sentuh (bila pengguna tidak sedang menggunakan trackball atau d-pad), tampilan +tidak bisa mengambil fokus, sehingga Anda tidak boleh menggunakan fokus sebagai dasar untuk mengubah +item dalam menu opsi. Jika Anda ingin menyediakan item menu yang peka konteks pada {@link +android.view.View}, gunakan Menu Konteks.
+ + + + +
+ Gambar 3. Cuplikan layar menu konteks mengambang (kiri) +dan action-bar kontekstual (kanan).
+Menu kontekstual menawarkan tindakan yang memengaruhi item atau bingkai konteks tertentu dalam UI. Anda +bisa menyediakan menu konteks untuk setiap tampilan, tetapi menu ini paling sering digunakan untuk item pada {@link +android.widget.ListView}, {@link android.widget.GridView}, atau kumpulan tampilan lainnya yang bisa digunakan +pengguna untuk melakukan tindakan langsung pada setiap item.
+ +Ada dua cara menyediakan tindakan kontekstual:
+Catatan: Mode tindakan kontekstual tersedia pada Android 3.0 (API +level 11) dan yang lebih tinggi dan merupakan teknik yang lebih disukai untuk menampilkan tindakan kontekstual bila +tersedia. Jika aplikasi Anda mendukung versi yang lebih rendah daripada 3.0, maka Anda harus mundur ke +menu konteks mengambang pada perangkat-perangkat itu.
+ + +Untuk menyediakan menu konteks mengambang:
+Jika aktivitas Anda menggunakan {@link android.widget.ListView} atau {@link android.widget.GridView} dan +Anda ingin setiap item untuk menyediakan menu konteks yang sama, daftarkan semua item ke menu konteks dengan +meneruskan {@link android.widget.ListView} atau {@link android.widget.GridView} ke {@link +android.app.Activity#registerForContextMenu(View) registerForContextMenu()}.
+Bila tampilan yang terdaftar menerima kejadian klik-lama, sistem akan memanggil metode {@link +android.view.View.OnCreateContextMenuListener#onCreateContextMenu onCreateContextMenu()} +Anda. Inilah tempat Anda mendefinisikan item menu, biasanya dengan memekarkan sumber daya menu. Misalnya: +
+
+@Override
+public void onCreateContextMenu(ContextMenu menu, View v,
+ ContextMenuInfo menuInfo) {
+ super.onCreateContextMenu(menu, v, menuInfo);
+ MenuInflater inflater = getMenuInflater();
+ inflater.inflate(R.menu.context_menu, menu);
+}
+
+
+{@link android.view.MenuInflater} memungkinkan Anda untuk memekarkan menu konteks sumber daya menu. Parameter metode callback +menyertakan {@link android.view.View} +yang dipilih pengguna dan objek {@link android.view.ContextMenu.ContextMenuInfo} yang menyediakan +informasi tambahan tentang item yang dipilih. Jika aktivitas Anda memiliki beberapa tampilan yang masing-masingnya menyediakan +menu konteks berbeda, Anda bisa menggunakan parameter ini untuk menentukan menu konteks yang harus +dimekarkan.
+Bila pengguna memilih item menu, sistem akan memanggil metode ini sehingga Anda bisa melakukan +tindakan yang sesuai. Misalnya:
+ +
+@Override
+public boolean onContextItemSelected(MenuItem item) {
+ AdapterContextMenuInfo info = (AdapterContextMenuInfo) item.getMenuInfo();
+ switch (item.getItemId()) {
+ case R.id.edit:
+ editNote(info.id);
+ return true;
+ case R.id.delete:
+ deleteNote(info.id);
+ return true;
+ default:
+ return super.onContextItemSelected(item);
+ }
+}
+
+
+Metode {@link android.view.MenuItem#getItemId()} melakukan query ID untuk +item menu yang dipilih, yang harus Anda tetapkan ke setiap item menu dalam XML dengan menggunakan atribut {@code +android:id}, seperti yang ditampilkan di bagian tentang Mendefinisikan Menu dalam +XML.
+ +Bila Anda berhasil menangani sebuah item menu, kembalikan {@code true}. Jika tidak menangani item menu, +Anda harus meneruskan item menu ke implementasi superkelas. Jika aktivitas Anda menyertakan fragmen, +aktivitas akan menerima callback ini lebih dahulu. Dengan memanggil superkelas bila tidak ditangani, sistem +meneruskan kejadian ke metode callback di setiap fragmen, satu per satu (sesuai dengan urutan +penambahan fragmen) hingga {@code true} atau {@code false} dikembalikan. (Implementasi default +untuk {@link android.app.Activity} dan {@code android.app.Fragment} mengembalikan {@code +false}, sehingga Anda harus selalu memanggil superkelas bila tidak ditangani.)
+Mode tindakan kontekstual adalah implementasi sistem {@link android.view.ActionMode} yang +memfokuskan interaksi pengguna pada upaya melakukan tindakan kontekstual. Bila seorang +pengguna mengaktifkan mode ini dengan memilih item, action-bar kontekstual akan muncul di bagian atas +layar untuk menampilkan tindakan yang bisa dilakukan pengguna pada item yang dipilih saat ini. Selagi mode ini +diaktifkan, pengguna bisa memilih beberapa item (jika Anda mengizinkan), membatalkan pilihan item, dan melanjutkan +penelusuran dalam aktivitas (sebanyak yang ingin Anda izinkan). Mode tindakan dinonaktifkan +dan action-bar kontekstual menghilang bila pengguna membatalkan pilihan semua item, menekan tombol BACK, +atau memilih tindakan Done di sisi kiri action-bar.
+ +Catatan: Action-bar kontekstual tidak harus +terkait dengan action-bar. Action-bar ini beroperasi +secara independen, walaupun action-bar kontekstual secara visual mengambil alih +posisi action-bar.
+ +Jika Anda mengembangkan aplikasi untuk Android 3.0 (API level 11) atau yang lebih tinggi, Anda +biasanya harus menggunakan mode tindakan kontekstual untuk menampilkan tindakan kontekstual, sebagai ganti menu konteks mengambang.
+ +Untuk tampilan yang menyediakan tindakan kontekstual, Anda biasanya harus memanggil mode tindakan kontekstual +pada salah satu dari dua kejadian (atau keduanya):
+Cara aplikasi memanggil mode tindakan kontekstual dan mendefinisikan perilaku setiap +tindakan bergantung pada desain Anda. Pada dasarnya ada dua desain:
+Bagian berikut ini menjelaskan penyiapan yang diperlukan untuk setiap skenario.
+ + +Jika Anda ingin memanggil mode tindakan kontekstual hanya bila pengguna memilih +tampilan tertentu, Anda harus:
+Misalnya:
+ +
+private ActionMode.Callback mActionModeCallback = new ActionMode.Callback() {
+
+ // Called when the action mode is created; startActionMode() was called
+ @Override
+ public boolean onCreateActionMode(ActionMode mode, Menu menu) {
+ // Inflate a menu resource providing context menu items
+ MenuInflater inflater = mode.getMenuInflater();
+ inflater.inflate(R.menu.context_menu, menu);
+ return true;
+ }
+
+ // Called each time the action mode is shown. Always called after onCreateActionMode, but
+ // may be called multiple times if the mode is invalidated.
+ @Override
+ public boolean onPrepareActionMode(ActionMode mode, Menu menu) {
+ return false; // Return false if nothing is done
+ }
+
+ // Called when the user selects a contextual menu item
+ @Override
+ public boolean onActionItemClicked(ActionMode mode, MenuItem item) {
+ switch (item.getItemId()) {
+ case R.id.menu_share:
+ shareCurrentItem();
+ mode.finish(); // Action picked, so close the CAB
+ return true;
+ default:
+ return false;
+ }
+ }
+
+ // Called when the user exits the action mode
+ @Override
+ public void onDestroyActionMode(ActionMode mode) {
+ mActionMode = null;
+ }
+};
+
+
+Perhatikan bahwa kejadian callback ini hampir persis sama dengan callback untuk menu opsi, hanya saja setiap callback ini juga meneruskan objek {@link +android.view.ActionMode} yang terkait dengan kejadian. Anda bisa menggunakan API {@link +android.view.ActionMode} untuk membuat berbagai perubahan pada CAB, seperti merevisi judul dan +subjudul dengan {@link android.view.ActionMode#setTitle setTitle()} dan {@link +android.view.ActionMode#setSubtitle setSubtitle()} (berguna untuk menunjukkan jumlah item +yang dipilih).
+ +Juga perhatikan bahwa contoh di atas mengatur variabel {@code mActionMode} ke nol bila +mode tindakan dimusnahkan. Dalam langkah berikutnya, Anda akan melihat cara variabel diinisialisasi dan kegunaan menyimpan +variabel anggota dalam aktivitas atau fragmen.
+
+someView.setOnLongClickListener(new View.OnLongClickListener() {
+ // Called when the user long-clicks on someView
+ public boolean onLongClick(View view) {
+ if (mActionMode != null) {
+ return false;
+ }
+
+ // Start the CAB using the ActionMode.Callback defined above
+ mActionMode = getActivity().startActionMode(mActionModeCallback);
+ view.setSelected(true);
+ return true;
+ }
+});
+
+
+Bila Anda memanggil {@link android.app.Activity#startActionMode startActionMode()}, sistem akan mengembalikan +{@link android.view.ActionMode} yang dibuat. Dengan menyimpannya dalam variabel anggota, Anda bisa +membuat perubahan ke action-bar kontekstual sebagai respons terhadap kejadian lainnya. Dalam contoh di atas, +{@link android.view.ActionMode} digunakan untuk memastikan bahwa instance {@link android.view.ActionMode} +tidak dibuat kembali jika sudah aktif, dengan memeriksa apakah anggota bernilai nol sebelum memulai +mode tindakan.
+Jika Anda memiliki sekumpulan item dalam {@link android.widget.ListView} atau {@link +android.widget.GridView} (atau ekstensi {@link android.widget.AbsListView} lainnya) dan ingin +mengizinkan pengguna melakukan tindakan batch, Anda harus:
+ +Misalnya:
+ +
+ListView listView = getListView();
+listView.setChoiceMode(ListView.CHOICE_MODE_MULTIPLE_MODAL);
+listView.setMultiChoiceModeListener(new MultiChoiceModeListener() {
+
+ @Override
+ public void onItemCheckedStateChanged(ActionMode mode, int position,
+ long id, boolean checked) {
+ // Here you can do something when items are selected/de-selected,
+ // such as update the title in the CAB
+ }
+
+ @Override
+ public boolean onActionItemClicked(ActionMode mode, MenuItem item) {
+ // Respond to clicks on the actions in the CAB
+ switch (item.getItemId()) {
+ case R.id.menu_delete:
+ deleteSelectedItems();
+ mode.finish(); // Action picked, so close the CAB
+ return true;
+ default:
+ return false;
+ }
+ }
+
+ @Override
+ public boolean onCreateActionMode(ActionMode mode, Menu menu) {
+ // Inflate the menu for the CAB
+ MenuInflater inflater = mode.getMenuInflater();
+ inflater.inflate(R.menu.context, menu);
+ return true;
+ }
+
+ @Override
+ public void onDestroyActionMode(ActionMode mode) {
+ // Here you can make any necessary updates to the activity when
+ // the CAB is removed. By default, selected items are deselected/unchecked.
+ }
+
+ @Override
+ public boolean onPrepareActionMode(ActionMode mode, Menu menu) {
+ // Here you can perform updates to the CAB due to
+ // an {@link android.view.ActionMode#invalidate} request
+ return false;
+ }
+});
+
+
+Demikian saja. Kini bila pengguna memilih item dengan klik-lama, sistem akan memanggil metode {@link +android.widget.AbsListView.MultiChoiceModeListener#onCreateActionMode onCreateActionMode()} +dan menampilkan action-bar kontekstual bersama tindakan yang ditetapkan. Saat +action-bar kontekstual terlihat, pengguna bisa memilih item tambahan.
+ +Dalam beberapa kasus di mana tindakan kontekstual menyediakan item tindakan umum, Anda mungkin +ingin menambahkan kotak cek atau elemen UI serupa yang memungkinkan pengguna memilih item, karena pengguna +mungkin tidak menemukan perilaku klik-lama. Bila pengguna memilih kotak cek itu, Anda +bisa memanggil mode tindakan kontekstual dengan mengatur item daftar yang bersangkutan ke +status diberi tanda cek dengan {@link android.widget.AbsListView#setItemChecked setItemChecked()}.
+ + + + +
+Gambar 4. Menu popup dalam aplikasi Gmail, dikaitkan pada +tombol kelebihan di sudut kanan atas.
+{@link android.widget.PopupMenu} adalah menu modal yang dikaitkan pada {@link android.view.View}. +Menu ini muncul di bawah tampilan jangkar jika ada ruang, atau di atas tampilan jika tidak ada. Menu ini berguna untuk:
+Catatan: Ini tidak sama dengan menu konteks, yang umumnya +untuk tindakan yang memengaruhi konten yang dipilih. Untuk tindakan yang memengaruhi +konten yang dipilih, gunakan mode tindakan kontekstual atau menu konteks mengambang.
Catatan: {@link android.widget.PopupMenu} tersedia dengan API +level 11 dan yang lebih tinggi.
+ +Jika Anda mendefinisikan menu dalam XML, berikut ini adalah cara Anda menampilkan menu popup:
+Misalnya, berikut ini adalah tombol dengan atribut {@link android.R.attr#onClick android:onClick} +yang menampilkan menu popup:
+ ++<ImageButton + android:layout_width="wrap_content" + android:layout_height="wrap_content" + android:src="@drawable/ic_overflow_holo_dark" + android:contentDescription="@string/descr_overflow_button" + android:onClick="showPopup" /> ++ +
Aktivitas nanti bisa menampilkan menu popup seperti ini:
+ +
+public void showPopup(View v) {
+ PopupMenu popup = new PopupMenu(this, v);
+ MenuInflater inflater = popup.getMenuInflater();
+ inflater.inflate(R.menu.actions, popup.getMenu());
+ popup.show();
+}
+
+
+Dalam API level 14 dan yang lebih tinggi, Anda bisa menggabungkan dua baris yang memekarkan menu dengan {@link +android.widget.PopupMenu#inflate PopupMenu.inflate()}.
+ +Menu akan menghilang bila pengguna memilih item atau menyentuh di luar +area menu. Anda bisa mendengarkan kejadian menghilangkan dengan menggunakan {@link +android.widget.PopupMenu.OnDismissListener}.
+ +Untuk melakukan suatu +tindakan bila pengguna memilih item menu, Anda harus mengimplementasikan antarmuka {@link +android.widget.PopupMenu.OnMenuItemClickListener} dan mendaftarkannya pada {@link +android.widget.PopupMenu} dengan memanggil {@link android.widget.PopupMenu#setOnMenuItemClickListener +setOnMenuItemclickListener()}. Bila pengguna memilih item, sistem akan memanggil callback {@link +android.widget.PopupMenu.OnMenuItemClickListener#onMenuItemClick onMenuItemClick()} dalam +antarmuka Anda.
+ +Misalnya:
+ +
+public void showMenu(View v) {
+ PopupMenu popup = new PopupMenu(this, v);
+
+ // This activity implements OnMenuItemClickListener
+ popup.setOnMenuItemClickListener(this);
+ popup.inflate(R.menu.actions);
+ popup.show();
+}
+
+@Override
+public boolean onMenuItemClick(MenuItem item) {
+ switch (item.getItemId()) {
+ case R.id.archive:
+ archive(item);
+ return true;
+ case R.id.delete:
+ delete(item);
+ return true;
+ default:
+ return false;
+ }
+}
+
+
+
+Grup menu adalah sekumpulan item menu yang sama-sama memiliki ciri (trait) tertentu. Dengan grup, Anda +bisa:
+Anda bisa membuat grup dengan menyarangkan elemen-elemen {@code <item>} dalam elemen {@code <group>} +dalam sumber daya menu atau dengan menetapkan ID grup dengan metode {@link +android.view.Menu#add(int,int,int,int) add()}.
+ +Berikut ini adalah contoh sumber daya menu yang berisi sebuah grup:
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<menu xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"> + <item android:id="@+id/menu_save" + android:icon="@drawable/menu_save" + android:title="@string/menu_save" /> + <!-- menu group --> + <group android:id="@+id/group_delete"> + <item android:id="@+id/menu_archive" + android:title="@string/menu_archive" /> + <item android:id="@+id/menu_delete" + android:title="@string/menu_delete" /> + </group> +</menu> ++ +
Item yang berada dalam grup akan muncul pada level yang sama dengan item pertama—ketiga item +dalam menu adalah bersaudara. Akan tetapi, Anda bisa memodifikasi ciri kedua +item dalam grup dengan mengacu ID grup dan menggunakan metode yang tercantum di atas. Sistem +juga tidak akan memisahkan item yang telah dikelompokkan. Misalnya, jika Anda mendeklarasikan {@code +android:showAsAction="ifRoom"} untuk tiap item, item tersebut akan muncul dalam +action-bar atau dalam kelebihan tindakan.
+ + +
+ Gambar 5. Cuplikan layar submenu dengan +item yang bisa diberi tanda cek.
+Menu bisa digunakan sebagai antarmuka untuk mengaktifkan dan menonaktifkan opsi, menggunakan kotak cek untuk +opsi mandiri, atau tombol radio untuk grup +opsi yang saling eksklusif. Gambar 5 menampilkan submenu dengan item yang bisa diberi tanda cek dengan +tombol radio.
+ +Catatan: Item menu dalam Icon Menu (dari menu opsi) tidak bisa +menampilkan kotak cek atau tombol radio. Jika Anda memilih untuk membuat item dalam Icon Menu yang bisa diberi tanda cek, +Anda harus menandai status diberi tanda cek secara manual dengan menukar ikon dan/atau teks +tiap kali statusnya berubah.
+ +Anda bisa mendefinisikan perilaku yang bisa diberi tanda cek untuk tiap item menu dengan menggunakan atribut {@code +android:checkable} dalam elemen {@code <item>}, atau untuk seluruh grup dengan +atribut {@code android:checkableBehavior} dalam elemen {@code <group>}. Misalnya +, semua item dalam grup menu ini bisa diberi tanda cek dengan tombol radio:
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<menu xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"> + <group android:checkableBehavior="single"> + <item android:id="@+id/red" + android:title="@string/red" /> + <item android:id="@+id/blue" + android:title="@string/blue" /> + </group> +</menu> ++ +
Atribut {@code android:checkableBehavior} menerima: +
Anda bisa menerapkan status diberi tanda cek default pada suatu item dengan menggunakan atribut {@code android:checked} dalam +elemen {@code <item>} dan mengubahnya dalam kode dengan metode {@link +android.view.MenuItem#setChecked(boolean) setChecked()}.
+ +Bila item yang bisa diberi tanda cek dipilih, sistem akan memanggil metode callback setiap item yang dipilih +(seperti {@link android.app.Activity#onOptionsItemSelected(MenuItem) onOptionsItemSelected()}). Di sinilah +Anda harus mengatur status kotak cek itu, karena kotak cek atau tombol radio tidak +mengubah statusnya secara otomatis. Anda bisa melakukan query status saat ini suatu item (seperti sebelum +pengguna memilihnya) dengan {@link android.view.MenuItem#isChecked()} kemudian mengatur status diberi tanda cek dengan +{@link android.view.MenuItem#setChecked(boolean) setChecked()}. Misalnya:
+ +
+@Override
+public boolean onOptionsItemSelected(MenuItem item) {
+ switch (item.getItemId()) {
+ case R.id.vibrate:
+ case R.id.dont_vibrate:
+ if (item.isChecked()) item.setChecked(false);
+ else item.setChecked(true);
+ return true;
+ default:
+ return super.onOptionsItemSelected(item);
+ }
+}
+
+
+Jika Anda tidak mengatur status diberi tanda cek dengan cara ini, maka status item (kotak cek atau +tombol radio) yang terlihat tidak akan +berubah bila pengguna memilihnya. Bila Anda telah mengatur status, aktivitas akan menjaga status diberi tanda cek +suatu item sehingga bila nanti pengguna membuka menu, status diberi tanda cek yang Anda +atur akan terlihat.
+ +Catatan: +Item menu yang bisa diberi tanda cek dimaksudkan untuk digunakan hanya atas dasar per sesi dan tidak disimpan setelah +aplikasi dimusnahkan. Jika Anda memiliki pengaturan aplikasi yang ingin disimpan untuk pengguna, +Anda harus menyimpan data dengan menggunakan Shared Preferences.
+ + + +Kadang-kadang Anda ingin supaya item menu menjalankan aktivitas dengan menggunakan {@link android.content.Intent} +(baik aktivitas berada dalam aplikasi Anda maupun di aplikasi lain). Bila Anda mengetahui intent +yang ingin digunakan dan memiliki item menu tertentu yang harus memulai intent, Anda bisa mengeksekusi +intent dengan {@link android.app.Activity#startActivity(Intent) startActivity()} selama +metode callback bila-item-dipilih yang sesuai (seperti callback {@link +android.app.Activity#onOptionsItemSelected(MenuItem) onOptionsItemSelected()}).
+ +Akan tetapi, jika Anda tidak yakin apakah perangkat pengguna +berisi aplikasi yang menangani intent, maka menambahkan item menu yang memanggilnya bisa mengakibatkan +item menu tidak berfungsi, karena intent tidak bisa diterjemahkan menjadi +aktivitas. Untuk mengatasi hal ini, Android memungkinkan Anda menambahkan item menu secara dinamis ke menu +bila Android menemukan aktivitas pada perangkat yang menangani intent Anda.
+ +Untuk menambahkan item menu berdasarkan aktivitas tersedia yang menerima intent:
+Jika tidak ada aplikasi terinstal +yang memenuhi intent, maka tidak ada item menu yang ditambahkan.
+ +Catatan: +{@link android.content.Intent#CATEGORY_SELECTED_ALTERNATIVE} digunakan untuk menangani +elemen yang saat ini dipilih pada layar. Jadi, metode hanya digunakan saat membuat Menu dalam {@link +android.app.Activity#onCreateContextMenu(ContextMenu,View,ContextMenuInfo) +onCreateContextMenu()}.
+ +Misalnya:
+ +
+@Override
+public boolean onCreateOptionsMenu(Menu menu){
+ super.onCreateOptionsMenu(menu);
+
+ // Create an Intent that describes the requirements to fulfill, to be included
+ // in our menu. The offering app must include a category value of Intent.CATEGORY_ALTERNATIVE.
+ Intent intent = new Intent(null, dataUri);
+ intent.addCategory(Intent.CATEGORY_ALTERNATIVE);
+
+ // Search and populate the menu with acceptable offering applications.
+ menu.addIntentOptions(
+ R.id.intent_group, // Menu group to which new items will be added
+ 0, // Unique item ID (none)
+ 0, // Order for the items (none)
+ this.getComponentName(), // The current activity name
+ null, // Specific items to place first (none)
+ intent, // Intent created above that describes our requirements
+ 0, // Additional flags to control items (none)
+ null); // Array of MenuItems that correlate to specific items (none)
+
+ return true;
+}
+
+Untuk setiap aktivitas yang diketahui menyediakan filter intent yang cocok dengan intent yang didefinisikan, item menu
+akan ditambahkan, menggunakan nilai dalam filter intent android:label sebagai
+judul item menu dan ikon aplikasi sebagai ikon item menu. Metode
+{@link android.view.Menu#addIntentOptions(int,int,int,ComponentName,Intent[],Intent,int,MenuItem[])
+addIntentOptions()} mengembalikan jumlah item menu yang ditambahkan.
Catatan: Bila Anda memanggil {@link +android.view.Menu#addIntentOptions(int,int,int,ComponentName,Intent[],Intent,int,MenuItem[]) +addIntentOptions()}, metode ini akan mengesampingkan setiap dan semua item menu menurut grup menu yang ditetapkan dalam argumen +pertama.
+ + +Anda juga bisa menawarkan layanan aktivitas Anda pada aplikasi lainnya, sehingga +aplikasi Anda bisa disertakan dalam menu aplikasi lain (membalik peran yang dijelaskan di atas).
+ +Agar bisa dimasukkan dalam menu aplikasi lain, Anda perlu mendefinisikan +filter intent seperti biasa, tetapi pastikan menyertakan nilai-nilai {@link android.content.Intent#CATEGORY_ALTERNATIVE} +dan/atau {@link android.content.Intent#CATEGORY_SELECTED_ALTERNATIVE} untuk +kategori filter intent. Misalnya:
++<intent-filter label="@string/resize_image"> + ... + <category android:name="android.intent.category.ALTERNATIVE" /> + <category android:name="android.intent.category.SELECTED_ALTERNATIVE" /> + ... +</intent-filter> ++ +
Baca selengkapnya tentang penulisan filter intent dalam dokumen +Intent dan Filter Intent.
+ +Untuk contoh aplikasi yang menggunakan teknik ini, lihat contoh kode +Note +Pad.
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/multi-window.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/multi-window.jd new file mode 100644 index 0000000000000..5e7b3d927202f --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/multi-window.jd @@ -0,0 +1,589 @@ +page.title=Dukungan Multi-Jendela +page.metaDescription=Dukungan baru di Android N untuk menampilkan lebih dari satu aplikasi sekaligus. +page.keywords="multi-window", "android N", "split screen", "free-form" + +@jd:body + ++ Android N menambahkan dukungan untuk menampilkan lebih dari satu aplikasi + sekaligus. Pada perangkat genggam, dua aplikasi bisa berjalan berdampingan atau + atas-bawah dalam mode layar terbagi. Pada perangkat TV, aplikasi bisa + menggunakan mode gambar-dalam-gambar untuk melanjutkan pemutaran video selagi pengguna + berinteraksi dengan aplikasi lain. +
+ ++ Jika Anda membangun aplikasi Anda dengan N Preview SDK, Anda bisa mengonfigurasi cara aplikasi + menangani tampilan multi-jendela. Misalnya, Anda bisa menetapkan dimensi + minimum yang diizinkan aktivitas Anda. Anda juga bisa menonaktifkan tampilan multi-jendela untuk + aplikasi, sehingga memastikan sistem hanya menampilkan aplikasi Anda dalam mode + layar penuh. +
+ ++ Android N memungkinkan beberapa aplikasi berbagi layar sekaligus. Misalnya, + pengguna bisa membagi layar, melihat halaman web di sisi kiri + sambil menulis email di sisi kanan. Pengalaman pengguna bergantung pada + perangkat: +
+ +
++ Gambar 1. Dua aplikasi berjalan berdampingan dalam mode layar terbagi. +
+ ++ Pengguna bisa beralih ke mode multi-jendela dengan cara berikut: +
+ ++ Pengguna bisa seret dan + lepas data dari aktivitas satu ke aktivitas lain sewaktu aktivitas berbagi + layar. (Sebelumnya, pengguna hanya bisa menyeret dan melepas data dalam aktivitas + tunggal.) +
+ ++ Mode multi-jendela tidak mengubah daur hidup + aktivitas. +
+ ++ Dalam mode multi-jendela, hanya aktivitas yang paling sering digunakan pengguna + yang akan aktif pada waktu tertentu. Aktivitas ini dianggap teratas. + Semua aktivitas lainnya dalam keadaan berhenti sementara, sekalipun terlihat. + Akan tetapi, sistem memberikan aktivitas, yang berhenti-sementara-namun-terlihat ini, prioritas lebih tinggi + daripada aktivitas yang tidak terlihat. Jika pengguna berinteraksi dengan salah satu + aktivitas yang berhenti sementara, aktivitas tersebut akan dilanjutkan kembali, dan aktivitas + teratas sebelumnya akan dihentikan sementara. +
+ ++ Catatan: Dalam mode multi-jendela, aplikasi bisa berada dalam keadaan berhenti sementara + dan masih terlihat oleh pengguna. Sebuah aplikasi mungkin perlu melanjutkan aktivitasnya + bahkan saat berhenti sementara. Misalnya, aplikasi pemutar video yang ada dalam + mode berhenti sementara namun terlihat harus tetap menampilkan videonya. Karena alasan + ini, kami menyarankan aktivitas yang memutar video tidak menghentikan sementara video + dalam handler {@link android.app.Activity#onPause onPause()} mereka. + Sebagai gantinya, aktivitas itu harus menghentikan sementara video di {@link android.app.Activity#onStop + onStop()}, dan melanjutkan pemutaran di {@link android.app.Activity#onStart + onStart()}. +
+ ++ Bila pengguna menempatkan aplikasi dalam mode multi-jendela, sistem akan memberi tahu + aktivitas tersebut mengenai perubahan konfigurasi, sebagaimana ditetapkan dalam Menangani Perubahan + Waktu Proses. Hal ini juga terjadi ketika pengguna mengubah skala aplikasi, atau menempatkan kembali aplikasi + ke mode layar penuh. + Pada dasarnya, perubahan ini memiliki implikasi daur hidup aktivitas yang sama + seperti saat sistem memberi tahu aplikasi bahwa perangkat telah beralih + dari mode potret ke mode lanskap, kecuali dimensi perangkat + telah berubah sebagai ganti bertukar posisi. Seperti yang dibahas di Menangani Perubahan + Waktu Proses, aktivitas Anda bisa menangani perubahan konfigurasi itu sendiri, atau + mengizinkan sistem memusnahkan aktivitas dan membuatnya kembali dengan dimensi + baru. +
+ +
+ Jika pengguna mengubah ukuran jendela dan membuat dimensinya lebih besar, sistem
+ akan mengubah ukuran aktivitas untuk menyesuaikan dengan tindakan pengguna dan mengeluarkan perubahan waktu proses
+ bila diperlukan. Jika aplikasi tertinggal dibandingkan gambar di area yang baru diekspos,
+ sistem untuk sementara mengisi area tersebut dengan warna yang ditetapkan oleh atribut {@link
+ android.R.attr#windowBackground windowBackground} atau dengan atribut gaya
+ windowBackgroundFallback secara default.
+
+ Jika aplikasi Anda menargetkan Android N, Anda bisa mengonfigurasi bagaimana dan
+ apakah aktivitas aplikasi Anda mendukung tampilan multi-jendela. Anda bisa menyetel
+ atribut dalam manifes untuk mengontrol ukuran dan layoutnya.
+ Setelan atribut aktivitas root berlaku pada semua aktivitas
+ dalam tumpukan tugasnya. Misalnya, jika aktivitas root memiliki
+ android:resizeableActivity yang disetel ke true, maka semua aktivitas
+ dalam tumpukan tugas bisa diubah ukurannya.
+
+ Catatan: Jika Anda membangun aplikasi multi-orientasi dengan versi + SDK lebih rendah dari Android N, dan pengguna menggunakan aplikasi + dalam mode multi-jendela, sistem akan mengubah ukuran aplikasi secara paksa. Sistem akan menampilkan kotak + dialog yang memperingatkan pengguna bahwa aplikasi mungkin berperilaku tidak terduga. Sistem + tidak mengubah ukuran aplikasi yang berorientasi tetap; jika + pengguna berusaha membuka aplikasi berorientasi tetap saat mode multi-jendela, + aplikasi akan menggunakan seluruh layar. +
+ +
+ Setel atribut ini dalam manifes <activity> Anda atau simpul
+ <application> untuk mengaktifkan atau menonaktifkan tampilan
+ multi-jendela:
+
+android:resizeableActivity=["true" | "false"] ++ +
+ Jika atribut ini disetel ke true, aktivitas bisa dijalankan di + mode layar terbagi dan mode bentuk bebas. Jika atribut ini disetel ke false, aktivitas + tidak akan mendukung mode multi-jendela. Jika nilai ini false, dan pengguna + berusaha memulai aktivitas dalam mode multi-jendela, aktivitas akan menggunakan + layar penuh. +
+ ++ Jika aplikasi Anda menargetkan Android N, namun Anda tidak menetapkan nilai + untuk atribut ini, nilai atribut default adalah true. +
+ +
+ Setel atribut ini dalam simpul <activity> manifes Anda untuk
+ menunjukkan apakah aktivitas mendukung tampilan gambar-dalam-gambar. Atribut ini
+ diabaikan jika android:resizeableActivity bernilai false.
+
+android:supportsPictureInPicture=["true" | "false"] ++ +
+ Dengan Android N, elemen manifes <layout>
+ mendukung beberapa atribut yang memengaruhi cara aktivitas berperilaku dalam
+ mode multi-jendela:
+
android:defaultWidth
+ android:defaultHeight
+ android:gravity
+ android:minimalHeight, android:minimalWidth
+ + Misalnya, kode berikut menampilkan cara menetapkan ukuran dan lokasi default + aktivitas, dan ukuran minimumnya, bila aktivitas ditampilkan dalam + mode bentuk bebas: +
+ ++<activity android:name=".MyActivity"> + <layout android:defaultHeight="500dp" + android:defaultWidth="600dp" + android:gravity="top|end" + android:minimalHeight="450dp" + android:minimalWidth="300dp" /> +</activity> ++ +
+ Android N menawarkan fungsionalitas baru untuk mendukung aplikasi yang bisa berjalan + dalam mode multi-jendela. +
+ ++ Fitur tertentu akan dinonaktifkan atau diabaikan bila perangkat berada dalam mode + multi-jendela, karena dianggap tidak logis bagi suatu aktivitas yang mungkin berbagi + layar perangkat dengan aktivitas atau aplikasi lainnya. Fitur tersebut meliputi: + +
android:screenOrientation.
+ + Metode baru berikut telah ditambahkan ke kelas {@link android.app.Activity} + untuk mendukung tampilan multi-jendela. Untuk mengetahui detail tentang setiap + metode, lihat Referensi N + Preview SDK. +
+ +Activity.isInMultiWindowMode()
+ Activity.isInPictureInPictureMode()
+
+ Catatan: Mode gambar-dalam-gambar adalah kasus khusus pada
+ mode multi-jendela. Jika myActivity.isInPictureInPictureMode()
+ mengembalikan nilai true, maka myActivity.isInMultiWindowMode() juga
+ mengembalikan nilai true.
+
Activity.onMultiWindowModeChanged()
+ Activity.onPictureInPictureModeChanged()
+
+ Ada juga versi {@link android.app.Fragment} untuk setiap
+ metode ini, misalnya Fragment.isInMultiWindowMode().
+
+ Untuk menempatkan aktivitas dalam mode gambar-dalam-gambar, panggil metode baru
+ Activity.enterPictureInPictureMode(). Metode ini tidak berpengaruh jika
+ perangkat tidak mendukung mode gambar-dalam-gambar. Untuk informasi selengkapnya,
+ lihat dokumentasi Gambar-dalam-Gambar.
+
+ Bila meluncurkan aktivitas baru, Anda bisa memberi petunjuk pada sistem bahwa aktivitas
+ baru harus ditampilkan bersebelahan dengan aktivitas yang sedang aktif, jika memungkinkan. Caranya,
+ gunakan flag
+ Intent.FLAG_ACTIVITY_LAUNCH_TO_ADJACENT. Meneruskan
+ flag ini akan meminta perilaku berikut:
+
+ Jika perangkat dalam mode bentuk bebas dan Anda menjalankan aktivitas baru, Anda bisa
+ menetapkan dimensi aktivitas baru dan lokasi layar dengan memanggil
+ ActivityOptions.setLaunchBounds(). Metode ini tidak berpengaruh jika
+ perangkat tidak berada dalam mode multi-jendela.
+
+ Catatan: Jika Anda meluncurkan aktivitas dalam tumpukan tugas, aktivitas + tersebut akan menggantikan aktivitas pada layar, dengan mewarisi semua + properti multi-jendelanya. Jika Anda ingin meluncurkan aktivitas baru sebagai jendela + terpisah dalam mode multi-jendela, Anda harus meluncurkannya dalam tumpukan tugas baru. +
+ ++ Pengguna bisa menyeret dan + melepas data dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain selagi kedua aktivitas + berbagi layar. (Sebelumnya, pengguna hanya bisa menyeret dan melepas data dalam + aktivitas tunggal.) Karena alasan ini, Anda mungkin perlu menambahkan fungsionalitas + seret dan lepas ke aplikasi jika aplikasi saat ini belum mendukungnya. +
+ +
+ N Preview SDK menambahkan paket android.view
+ untuk mendukung seret dan lepas lintas-aplikasi. Untuk mengetahui detail tentang kelas dan metode
+ berikut, lihat Referensi N
+ Preview SDK.
+
android.view.DropPermissions
+ View.startDragAndDrop()
+ View.DRAG_FLAG_GLOBAL. Jika Anda perlu memberikan izin URI ke
+ aktivitas penerima, teruskan flag baru,
+ View.DRAG_FLAG_GLOBAL_URI_READ atau
+ View.DRAG_FLAG_GLOBAL_URI_WRITE, sebagaimana mestinya.
+ View.cancelDragAndDrop()
+ View.updateDragShadow()
+ Activity.requestDropPermissions()
+ + Apakah Anda memperbarui aplikasi untuk Android N atau tidak, Anda harus + verifikasi bagaimana perilakunya di mode multi-jendela saat pengguna mencoba untuk menjalankannya + dalam mode multi-jendela pada perangkat yang menjalankan Android N. +
+ ++ Jika Anda pasang Android N pada perangkat, mode + layar terbagi secara otomatis didukung. +
+ ++ Jika Anda tidak membangun aplikasi dengan N Preview SDK dan pengguna berupaya menggunakan + aplikasi dalam mode multi-jendela, sistem secara paksa akan mengubah ukuran aplikasi kecuali jika aplikasi + mendeklarasikan orientasi tetap. +
+ ++ Jika aplikasi Anda tidak mendeklarasikan orientasi tetap, Anda harus meluncurkan aplikasi + pada perangkat yang menjalankan Android N dan berupaya menempatkan aplikasi tersebut dalam + mode layar terbagi. Verifikasi pengalaman pengguna + bisa diterima bila aplikasi secara paksa diubah ukurannya. +
+ ++ Jika aplikasi mendeklarasikan orientasi tetap, Anda harus berupaya menempatkan aplikasi dalam + mode multi-jendela. Verifikasi apakah saat Anda melakukannya, aplikasi tetap berada dalam + mode layar penuh. +
+ ++ Jika Anda membuat aplikasi Anda dengan N Preview SDK dan belum menonaktifkan + dukungan multi-jendela, verifikasi perilaku berikut dalam mode layar terbagi + dan mode bentuk bebas. +
+ ++ Untuk verifikasi kinerja aplikasi Anda dalam mode multi-jendela, cobalah operasi + berikut. Anda harus mencoba semua operasi ini dalam mode layar terbagi dan + dan mode multi-jendela, kecuali jika dinyatakan berbeda. +
+ +
+ Jika Anda menonaktifkan dukungan multi-jendela dengan menyetel
+ android:resizableActivity="false", Anda harus menjalankan aplikasi pada
+ perangkat yang menjalankan Android N dan berusaha menempatkan aplikasi dalam
+ mode bentuk bebas dan mode layar terbagi. Verifikasi apakah saat Anda melakukannya, aplikasi tetap berada dalam
+ mode layar penuh.
+
+ Pemberitahuan adalah pesan yang bisa Anda tampilkan kepada pengguna di luar + UI normal aplikasi. Bila Anda memberi tahu sistem untuk mengeluarkan pemberitahuan, pemberitahuan akan muncul lebih dahulu sebagai ikon dalam + area pemberitahuan. Untuk melihat detail pemberitahuan, pengguna membuka + laci pemberitahuan. Baik area pemberitahuan maupun laci pemberitahuan + adalah area-area yang dikontrol sistem yang bisa dilihat pengguna kapan saja. +
+
++ Gambar 1. Pemberitahuan di area pemberitahuan. +
+
++ Gambar 2. Pemberitahuan di laci pemberitahuan. +
+ +Catatan: Kecuali disebutkan, panduan ini mengacu pada +kelas {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder NotificationCompat.Builder} +dalam Support Library versi 4. +Kelas {@link android.app.Notification.Builder Notification.Builder} telah ditambahkan pada Android +3.0 (API level 11).
+ +Pemberitahuan, sebagai bagian penting dari antarmuka pengguna Android, memiliki panduan desainnya sendiri. +Perubahan desain materi yang diperkenalkan dalam Android 5.0 (API level 21) adalah sangat +penting, dan Anda harus meninjau pelatihan Desain Bahan +untuk informasi selengkapnya. Untuk mengetahui cara mendesain pemberitahuan dan interaksinya, bacalah panduan desain +Pemberitahuan.
+ +Anda menetapkan informasi dan tindakan UI bagi pemberitahuan dalam +objek {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder NotificationCompat.Builder}. +Untuk membuat pemberitahuan itu sendiri, panggil +{@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder#build NotificationCompat.Builder.build()}, +yang akan mengembalikan objek {@link android.app.Notification} berisi spesifikasi Anda. Untuk mengeluarkan +pemberitahuan, Anda meneruskan objek {@link android.app.Notification} ke sistem dengan memanggil +{@link android.app.NotificationManager#notify NotificationManager.notify()}.
+ ++ Objek {@link android.app.Notification} harus berisi yang berikut ini: +
++ Semua isi dan pengaturan pemberitahuan lainnya bersifat opsional. Untuk mengetahui selengkapnya tentang semua itu, + lihat dokumentasi acuan untuk {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder}. +
+ ++ Walaupun bersifat opsional, Anda harus menambahkan setidaknya satu tindakan pada pemberitahuan. + Tindakan memungkinkan pengguna beralih langsung dari pemberitahuan ke + {@link android.app.Activity} dalam aplikasi Anda, tempat pengguna bisa melihat satu atau beberapa kejadian + atau melakukan pekerjaan lebih jauh. +
++ Pemberitahuan bisa menyediakan beberapa tindakan sekaligus. Anda harus selalu mendefinisikan tindakan yang + akan diaktifkan bila pengguna mengklik pemberitahuan; biasanya tindakan ini akan membuka + {@link android.app.Activity} dalam aplikasi Anda. Anda juga bisa menambahkan tombol pada pemberitahuan + yang melakukan tindakan tambahan seperti mendiamkan alarm atau segera merespons + pesan teks; fitur ini tersedia mulai Android 4.1. Jika menggunakan tombol tindakan tambahan, Anda + juga harus membuat fungsionalitasnya tersedia dalam {@link android.app.Activity} di aplikasi Anda; lihat + bagian Menangani kompatibilitas untuk detail selengkapnya. +
++ Dalam {@link android.app.Notification}, tindakan itu sendiri didefinisikan oleh + {@link android.app.PendingIntent} berisi + {@link android.content.Intent} yang memulai + {@link android.app.Activity} dalam aplikasi Anda. Untuk mengaitkan + {@link android.app.PendingIntent} dengan gestur, panggil metode + {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder} yang sesuai. Misalnya, jika ingin memulai + {@link android.app.Activity} bila pengguna mengklik teks pemberitahuan pada + laci pemberitahuan, tambahkan {@link android.app.PendingIntent} dengan memanggil + {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder#setContentIntent setContentIntent()}. +
++ Memulai {@link android.app.Activity} bila pengguna mengklik pemberitahuan adalah + skenario tindakan yang paling umum. Anda juga bisa memulai {@link android.app.Activity} bila pengguna + menghilangkan pemberitahuan. Dalam Android 4.1 dan yang lebih baru, Anda bisa memulai + {@link android.app.Activity} dari tombol tindakan. Untuk mengetahui selengkapnya, bacalah panduan acuan untuk + {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder}. +
+ ++ Jika diinginkan, Anda bisa mengatur prioritas pemberitahuan. Prioritas berfungsi + sebagai petunjuk bagi UI perangkat tentang cara menampilkan pemberitahuan. + Untuk mengatur prioritas pemberitahuan, panggil {@link + android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder#setPriority(int) + NotificationCompat.Builder.setPriority()} dan teruskan salah satu konstanta prioritas {@link + android.support.v4.app.NotificationCompat}. Ada + lima level prioritas, mulai dari {@link + android.support.v4.app.NotificationCompat#PRIORITY_MIN} (-2) hingga {@link + android.support.v4.app.NotificationCompat#PRIORITY_MAX} (2); jika tidak diatur, + prioritas default akan ditetapkan {@link + android.support.v4.app.NotificationCompat#PRIORITY_DEFAULT} (0). +
+Untuk informasi tentang mengatur level prioritas, lihat "Mengatur + dan mengelola prioritas pemberitahuan dengan benar" dalam panduan +Desain Pemberitahuan. +
+ ++ Cuplikan berikut mengilustrasikan pemberitahuan sederhana yang menetapkan aktivitas untuk dibuka bila + pengguna mengklik pemberitahuan. Perhatikan bahwa kode ini membuat + objek {@link android.support.v4.app.TaskStackBuilder} dan menggunakannya untuk membuat + {@link android.app.PendingIntent} untuk tindakan. Pola ini dijelaskan secara lebih detail + di bagian + Mempertahankan Navigasi saat Memulai Aktivitas: +
+
+NotificationCompat.Builder mBuilder =
+ new NotificationCompat.Builder(this)
+ .setSmallIcon(R.drawable.notification_icon)
+ .setContentTitle("My notification")
+ .setContentText("Hello World!");
+// Creates an explicit intent for an Activity in your app
+Intent resultIntent = new Intent(this, ResultActivity.class);
+
+// The stack builder object will contain an artificial back stack for the
+// started Activity.
+// This ensures that navigating backward from the Activity leads out of
+// your application to the Home screen.
+TaskStackBuilder stackBuilder = TaskStackBuilder.create(this);
+// Adds the back stack for the Intent (but not the Intent itself)
+stackBuilder.addParentStack(ResultActivity.class);
+// Adds the Intent that starts the Activity to the top of the stack
+stackBuilder.addNextIntent(resultIntent);
+PendingIntent resultPendingIntent =
+ stackBuilder.getPendingIntent(
+ 0,
+ PendingIntent.FLAG_UPDATE_CURRENT
+ );
+mBuilder.setContentIntent(resultPendingIntent);
+NotificationManager mNotificationManager =
+ (NotificationManager) getSystemService(Context.NOTIFICATION_SERVICE);
+// mId allows you to update the notification later on.
+mNotificationManager.notify(mId, mBuilder.build());
+
+Demikian saja. Pengguna Anda kini telah diberi tahu.
+ ++ Agar pemberitahuan muncul dalam tampilan yang diperluas, buat dahulu + objek {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder} dengan opsi tampilan normal + yang Anda inginkan. Berikutnya, panggil {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder#setStyle + Builder.setStyle()} dengan objek layout yang diperluas sebagai argumennya. +
++ Ingatlah bahwa pemberitahuan yang diperluas tidak tersedia pada platform-platform sebelum Android 4.1. Untuk + mengetahui cara menangani pemberitahuan untuk Android 4.1 dan untuk platform-platform sebelumnya, bacalah + bagian Menangani kompatibilitas. +
++ Misalnya, cuplikan kode berikut memperagakan cara mengubah pemberitahuan yang dibuat + dalam cuplikan sebelumnya untuk menggunakan layout yang diperluas: +
+
+NotificationCompat.Builder mBuilder = new NotificationCompat.Builder(this)
+ .setSmallIcon(R.drawable.notification_icon)
+ .setContentTitle("Event tracker")
+ .setContentText("Events received")
+NotificationCompat.InboxStyle inboxStyle =
+ new NotificationCompat.InboxStyle();
+String[] events = new String[6];
+// Sets a title for the Inbox in expanded layout
+inboxStyle.setBigContentTitle("Event tracker details:");
+...
+// Moves events into the expanded layout
+for (int i=0; i < events.length; i++) {
+
+ inboxStyle.addLine(events[i]);
+}
+// Moves the expanded layout object into the notification object.
+mBuilder.setStyle(inBoxStyle);
+...
+// Issue the notification here.
+
+
++ Tidak semua fitur pemberitahuan tersedia untuk versi tertentu, walaupun + metode untuk mengaturnya ada dalam kelas pustaka dukungan + {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder NotificationCompat.Builder}. + Misalnya, tombol tindakan, yang bergantung pada pemberitahuan yang diperluas, hanya muncul pada Android + 4.1 dan lebih tinggi, karena pemberitahuan yang diperluas itu sendiri hanya tersedia pada + Android 4.1 dan yang lebih tinggi. +
++ Untuk memastikan kompatibilitas terbaik, buatlah pemberitahuan dengan + {@link android.support.v4.app.NotificationCompat NotificationCompat} dan subkelasnya, + khususnya {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder + NotificationCompat.Builder}. Selain itu, ikutilah proses ini bila Anda mengimplementasikan pemberitahuan: +
++ Misalnya, jika Anda ingin menggunakan + {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder#addAction addAction()} untuk + menyediakan kontrol yang menghentikan dan memulai pemutaran media, implementasikan dahulu + kontrol ini pada {@link android.app.Activity} dalam aplikasi Anda. +
++ Bila perlu mengeluarkan pemberitahuan beberapa kali untuk tipe kejadian yang sama, +hindari membuat pemberitahuan yang sama sekali baru. Sebagai gantinya, Anda harus mempertimbangkan untuk memperbarui + pemberitahuan sebelumnya, baik dengan mengubah sebagian nilainya atau dengan menambahkan nilai, atau keduanya. +
++ Misalnya, Gmail akan memberi tahu pengguna bila ada email baru dengan menambah hitungan + pesan tidak terbaca dan dengan menambahkan rangkuman tiap email ke pemberitahuan. Ini disebut dengan + "stacking" (menumpuk) pemberitahuan; hal ini dijelaskan lebih detail dalam panduan + Desain Pemberitahuan. +
++ Catatan: Fitur Gmail ini mensyaratkan layout "kotak masuk" diperluas, yang merupakan + bagian dari fitur pemberitahuan diperluas yang tersedia mulai Android 4.1. +
++ Bagian berikut menjelaskan cara memperbarui pemberitahuan dan cara menghapusnya. +
++ Untuk menyiapkan pemberitahuan agar bisa diperbarui, keluarkan pemberitahuan bersama ID pemberitahuan dengan + memanggil {@link android.app.NotificationManager#notify(int, android.app.Notification) NotificationManager.notify()}. + Untuk memperbarui pemberitahuan ini setelah Anda + mengeluarkan, memperbarui, atau membuat objek {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder}, + buat objek {@link android.app.Notification} darinya, dan keluarkan + {@link android.app.Notification} bersama ID yang sama dengan yang Anda gunakan sebelumnya. Jika + pemberitahuan sebelumnya tetap terlihat, sistem akan memperbaruinya dari konten + objek {@link android.app.Notification}. Jika pemberitahuan sebelumnya telah dihilangkan, sebuah + pemberitahuan baru akan dibuat. +
++ Cuplikan berikut memperagakan pemberitahuan yang diperbarui untuk mencerminkan + jumlah kejadian yang telah terjadi. Cuplikan ini menumpuk pemberitahuan, yang menampilkan rangkuman: +
+
+mNotificationManager =
+ (NotificationManager) getSystemService(Context.NOTIFICATION_SERVICE);
+// Sets an ID for the notification, so it can be updated
+int notifyID = 1;
+mNotifyBuilder = new NotificationCompat.Builder(this)
+ .setContentTitle("New Message")
+ .setContentText("You've received new messages.")
+ .setSmallIcon(R.drawable.ic_notify_status)
+numMessages = 0;
+// Start of a loop that processes data and then notifies the user
+...
+ mNotifyBuilder.setContentText(currentText)
+ .setNumber(++numMessages);
+ // Because the ID remains unchanged, the existing notification is
+ // updated.
+ mNotificationManager.notify(
+ notifyID,
+ mNotifyBuilder.build());
+...
+
+
+
++ Pemberitahuan tetap terlihat hingga salah satu kejadian berikut terjadi: +
++ Bila memulai {@link android.app.Activity} dari pemberitahuan, Anda harus mempertahankan + pengalaman navigasi yang diharapkan pengguna. Mengklik Back harus membawa pengguna kembali melalui + aliran pekerjaan normal aplikasi ke layar Home, dan mengklik Recents harus menampilkan + {@link android.app.Activity} sebagai tugas terpisah. Untuk mempertahankan pengalaman navigasi, Anda + harus memulai {@link android.app.Activity} dalam tugas baru. Cara menyiapkan + {@link android.app.PendingIntent} untuk memberi Anda tugas baru bergantung pada sifat + {@link android.app.Activity} yang Anda mulai. Ada dua situasi umum: +
++ Pemberitahuan dari aplikasi Gmail memperagakan hal ini. Bila Anda mengklik pemberitahuan untuk + satu pesan email, Anda akan melihat pesan itu sendiri. Menyentuh Back akan membawa Anda + kembali melalui Gmail ke layar Home, persis seperti jika memasuki Gmail dari + layar Home bukannya memasukinya dari pemberitahuan. +
++ Hal ini terjadi terlepas dari aplikasi tempat Anda berada saat menyentuh + pemberitahuan. Misalnya, jika Anda dalam Gmail sedang menulis pesan, dan Anda mengklik + pemberitahuan untuk satu email, Anda akan segera dibawa ke email itu. Menyentuh Back + akan membawa Anda ke kotak masuk kemudian layar Home, bukannya membawa Anda ke + pesan yang sedang ditulis. +
++ Untuk menyiapkan {@link android.app.PendingIntent} yang memulai entri langsung + {@link android.app.Activity}, ikuti langkah-langkah ini: +
+<meta-data>
+ sebagai anak
+<activity>.
+
+ Untuk elemen ini, atur
+android:name="android.support.PARENT_ACTIVITY".
+ Atur
+android:value="<parent_activity_name>"
+ dengan <parent_activity_name> sebagai nilai
+android:name
+ untuk elemen induk
+<activity>
+. Lihat XML berikut sebagai contoh.
+
android:parentActivityName
+ pada elemen
+<activity>
+ dari {@link android.app.Activity} yang Anda mulai.
+ + XML akhir akan terlihat seperti ini: +
++<activity + android:name=".MainActivity" + android:label="@string/app_name" > + <intent-filter> + <action android:name="android.intent.action.MAIN" /> + <category android:name="android.intent.category.LAUNCHER" /> + </intent-filter> +</activity> +<activity + android:name=".ResultActivity" + android:parentActivityName=".MainActivity"> + <meta-data + android:name="android.support.PARENT_ACTIVITY" + android:value=".MainActivity"/> +</activity> ++
+ Catatan: Walaupun argumen untuk + {@link android.support.v4.app.TaskStackBuilder#addParentStack addParentStack()} + adalah acuan ke {@link android.app.Activity} yang dimulai, panggilan metode + tidak akan menambahkan {@link android.content.Intent} yang memulai + {@link android.app.Activity}. Sebagai gantinya, hal itu ditangani dalam langkah berikutnya. +
++ Cuplikan kode berikut memperagakan prosesnya: +
++... +Intent resultIntent = new Intent(this, ResultActivity.class); +TaskStackBuilder stackBuilder = TaskStackBuilder.create(this); +// Adds the back stack +stackBuilder.addParentStack(ResultActivity.class); +// Adds the Intent to the top of the stack +stackBuilder.addNextIntent(resultIntent); +// Gets a PendingIntent containing the entire back stack +PendingIntent resultPendingIntent = + stackBuilder.getPendingIntent(0, PendingIntent.FLAG_UPDATE_CURRENT); +... +NotificationCompat.Builder builder = new NotificationCompat.Builder(this); +builder.setContentIntent(resultPendingIntent); +NotificationManager mNotificationManager = + (NotificationManager) getSystemService(Context.NOTIFICATION_SERVICE); +mNotificationManager.notify(id, builder.build()); ++ +
+ Bagian berikut menjelaskan cara menyiapkan aktivitas khusus + {@link android.app.PendingIntent}. +
++ {@link android.app.Activity} khusus tidak memerlukan back-stack, sehingga Anda tidak perlu + mendefinisikan hierarki {@link android.app.Activity}-nya dalam manifes, dan Anda tidak perlu + memanggil + {@link android.support.v4.app.TaskStackBuilder#addParentStack addParentStack()} untuk membuat + back-stack. Sebagai gantinya, gunakan manifes untuk menyiapkan opsi tugas {@link android.app.Activity}, + dan buat {@link android.app.PendingIntent} dengan memanggil + {@link android.app.PendingIntent#getActivity getActivity()}: +
+<activity>
+ untuk {@link android.app.Activity}
+ android:name="activityclass"
+ android:taskAffinity=""
+ android:excludeFromRecents="true"
+ + Cuplikan ini menampilkan elemen: +
++<activity + android:name=".ResultActivity" +... + android:launchMode="singleTask" + android:taskAffinity="" + android:excludeFromRecents="true"> +</activity> +... ++
+ Cuplikan kode berikut memperagakan prosesnya: +
++// Instantiate a Builder object. +NotificationCompat.Builder builder = new NotificationCompat.Builder(this); +// Creates an Intent for the Activity +Intent notifyIntent = + new Intent(this, ResultActivity.class); +// Sets the Activity to start in a new, empty task +notifyIntent.setFlags(Intent.FLAG_ACTIVITY_NEW_TASK + | Intent.FLAG_ACTIVITY_CLEAR_TASK); +// Creates the PendingIntent +PendingIntent notifyPendingIntent = + PendingIntent.getActivity( + this, + 0, + notifyIntent, + PendingIntent.FLAG_UPDATE_CURRENT +); + +// Puts the PendingIntent into the notification builder +builder.setContentIntent(notifyPendingIntent); +// Notifications are issued by sending them to the +// NotificationManager system service. +NotificationManager mNotificationManager = + (NotificationManager) getSystemService(Context.NOTIFICATION_SERVICE); +// Builds an anonymous Notification object from the builder, and +// passes it to the NotificationManager +mNotificationManager.notify(id, builder.build()); ++
+ Pemberitahuan bisa menyertakan indikator kemajuan beranimasi yang menampilkan status +operasi yang berjalan kepada pengguna. Jika Anda bisa memperkirakan lamanya operasi berlangsung dan berapa banyak + yang sudah selesai pada suatu waktu, gunakan bentuk indikator yang "pasti" + (baris kemajuan). Jika Anda tidak bisa memperkirakan lamanya operasi, gunakan + bentuk indikator "tidak pasti" (indikator aktivitas). +
++ Indikator kemajuan ditampilkan bersama implementasi platform + kelas {@link android.widget.ProgressBar}. +
++ Untuk menggunakan indikator kemajuan pada platform mulai dari Android 4.0, panggil + {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder#setProgress setProgress()}. Untuk + versi sebelumnya, Anda harus membuat layout pemberitahuan custom sendiri yang +menyertakan tampilan {@link android.widget.ProgressBar}. +
++ Bagian berikut ini menjelaskan cara menampilkan kemajuan dalam pemberitahuan dengan menggunakan + {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder#setProgress setProgress()}. +
+ +
+ Untuk menampilkan baris kemajuan pasti, tambahkan baris itu ke pemberitahuan dengan memanggil
+ {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder#setProgress
+ setProgress(max, progress, false)}, kemudian keluarkan pemberitahuan. Selagi operasi berlangsung,
+ tambah progress, dan perbarui pemberitahuan. Di akhir operasi,
+ progress harus sama dengan max. Satu cara umum memanggil
+ {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder#setProgress setProgress()}
+ adalah mengatur max ke 100, kemudian tambah progress sebagai
+ nilai "persen selesai"untuk operasi itu.
+
+ Anda bisa membiarkan baris kemajuan ditampilkan saat operasi selesai, atau menghilangkannya. Dalam + hal apa pun, ingatlah memperbarui teks pemberitahuan untuk menampilkan bahwa operasi telah selesai. + Untuk menghapus baris kemajuan, panggil + {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder#setProgress + setProgress(0, 0, false)}. Misalnya: +
+
+...
+mNotifyManager =
+ (NotificationManager) getSystemService(Context.NOTIFICATION_SERVICE);
+mBuilder = new NotificationCompat.Builder(this);
+mBuilder.setContentTitle("Picture Download")
+ .setContentText("Download in progress")
+ .setSmallIcon(R.drawable.ic_notification);
+// Start a lengthy operation in a background thread
+new Thread(
+ new Runnable() {
+ @Override
+ public void run() {
+ int incr;
+ // Do the "lengthy" operation 20 times
+ for (incr = 0; incr <= 100; incr+=5) {
+ // Sets the progress indicator to a max value, the
+ // current completion percentage, and "determinate"
+ // state
+ mBuilder.setProgress(100, incr, false);
+ // Displays the progress bar for the first time.
+ mNotifyManager.notify(0, mBuilder.build());
+ // Sleeps the thread, simulating an operation
+ // that takes time
+ try {
+ // Sleep for 5 seconds
+ Thread.sleep(5*1000);
+ } catch (InterruptedException e) {
+ Log.d(TAG, "sleep failure");
+ }
+ }
+ // When the loop is finished, updates the notification
+ mBuilder.setContentText("Download complete")
+ // Removes the progress bar
+ .setProgress(0,0,false);
+ mNotifyManager.notify(ID, mBuilder.build());
+ }
+ }
+// Starts the thread by calling the run() method in its Runnable
+).start();
+
+
+
++ Untuk menampilkan indikator aktivitas tidak pasti, tambahkan aktivitas ke pemberitahuan dengan + {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder#setProgress setProgress(0, 0, true)} + (dua argumen pertama akan diabaikan), dan keluarkan pemberitahuan. Hasilnya adalah indikator + yang memiliki gaya yang sama dengan baris kemajuan, hanya saja animasinya terus berjalan. +
++ Keluarkan pemberitahuan di awal operasi. Animasi akan berjalan hingga Anda + memodifikasi pemberitahuan. Bila operasi selesai, panggil + {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder#setProgress setProgress(0, 0, false)} + kemudian perbarui pemberitahuan untuk menghapus indikator aktivitas. + Selalu lakukan ini; jika makan animasi akan terus berjalan sekalipun operasi telah selesai. Juga + ingatlah mengubah teks pemberitahuan untuk menunjukkan bahwa operasi telah selesai. +
++ Untuk melihat cara kerja indikator aktivitas, lihat cuplikan terdahulu. Cari lokasi baris-baris berikut: +
++// Sets the progress indicator to a max value, the current completion +// percentage, and "determinate" state +mBuilder.setProgress(100, incr, false); +// Issues the notification +mNotifyManager.notify(0, mBuilder.build()); ++
+ Ganti baris yang telah Anda temukan dengan baris berikut: +
++ // Sets an activity indicator for an operation of indeterminate length +mBuilder.setProgress(0, 0, true); +// Issues the notification +mNotifyManager.notify(0, mBuilder.build()); ++ +
Pemberitahuan dapat disortir sesuai metadata yang Anda tetapkan dengan +metode {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder} berikut:
+ +
+ + Gambar 3. Aktivitas layar penuh yang menampilkan pemberitahuan pendahuluan +
+Dengan Android 5.0 (API level 21), pemberitahuan bisa muncul dalam jendela kecil mengambang +(yang disebut juga dengan pemberitahuan pendahuluan) saat perangkat aktif +(yakni, perangkat dibuka kuncinya dan layarnya menyala). Pemberitahuan ini +muncul seperti bentuk ringkas pemberitahuan Anda, hanya saja +pemberitahuan pendahuluan juga menampilkan tombol tindakan. Pengguna bisa menindaklanjuti atau mengabaikan, +pemberitahuan pendahuluan tanpa meninggalkan aplikasi saat ini.
+ +Contoh-contoh kondisi yang dapat memicu pemberitahuan pendahuluan antara lain:
+ +Dengan rilis Android 5.0 (API level 21), pemberitahuan kini dapat muncul pada +layar kunci. Aplikasi Anda bisa menggunakan fungsionalitas ini untuk menyediakan kontrol pemutaran media dan +tindakan umum lainnya. Pengguna bisa memilih lewat Settings apakah akan menampilkan pemberitahuan pada layar kunci, dan +Anda bisa mendesain apakah pemberitahuan aplikasi akan terlihat pada layar kunci.
+ +Aplikasi Anda bisa mengatur level detail terlihat pada pemberitahuan yang ditampilkan di +layar kunci aman. Anda memanggil {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder#setVisibility(int) setVisibility()} +dan menetapkan salah satu nilai berikut:
+ +Bila {@link android.support.v4.app.NotificationCompat#VISIBILITY_PRIVATE} telah diatur, Anda juga bisa +menyediakan versi alternatif isi pemberitahuan yang menyembunyikan detail tertentu. Misalnya, +aplikasi SMS dapat menampilkan pemberitahuan yang menampilkan Anda memiliki 3 pesan teks baru, namun menyembunyikan +isi dan pengirim pesan. Untuk menyediakan pemberitahuan alternatif ini, buat dahulu pemberitahuan +pengganti menggunakan {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder}. Bila Anda membuat +objek pemberitahuan privat, lampirkan pemberitahuan pengganti melalui metode +{@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder#setPublicVersion(android.app.Notification) setPublicVersion()} +.
+ +Dalam Android 5.0 (API level 21) layar kunci tidak lagi menampilkan kontrol media +berdasarkan {@link android.media.RemoteControlClient}, yang sekarang telah dihilangkan. Sebagai gantinya, gunakan +template {@link android.app.Notification.MediaStyle} dengan metode +{@link android.app.Notification.Builder#addAction(android.app.Notification.Action) addAction()} +, yang mengubah tindakan menjadi ikon yang bisa diklik.
+ +Catatan: Template dan metode {@link android.app.Notification.Builder#addAction(android.app.Notification.Action) addAction()} +tidak disertakan dalam pustaka dukungan, sehingga fitur-fitur ini berjalan pada Android 5.0 dan yang lebih tinggi +saja.
+ +Untuk menampilkan kontrol pemutaran media di layar kunci dalam Android 5.0, atur visibilitas +ke {@link android.support.v4.app.NotificationCompat#VISIBILITY_PUBLIC}, seperti dijelaskan di atas. Kemudian tambahkan +tindakan dan atur template {@link android.app.Notification.MediaStyle}, seperti dijelaskan dalam contoh kode +berikut:
+ +
+Notification notification = new Notification.Builder(context)
+ // Show controls on lock screen even when user hides sensitive content.
+ .setVisibility(Notification.VISIBILITY_PUBLIC)
+ .setSmallIcon(R.drawable.ic_stat_player)
+ // Add media control buttons that invoke intents in your media service
+ .addAction(R.drawable.ic_prev, "Previous", prevPendingIntent) // #0
+ .addAction(R.drawable.ic_pause, "Pause", pausePendingIntent) // #1
+ .addAction(R.drawable.ic_next, "Next", nextPendingIntent) // #2
+ // Apply the media style template
+ .setStyle(new Notification.MediaStyle()
+ .setShowActionsInCompactView(1 /* #1: pause button */)
+ .setMediaSession(mMediaSession.getSessionToken())
+ .setContentTitle("Wonderful music")
+ .setContentText("My Awesome Band")
+ .setLargeIcon(albumArtBitmap)
+ .build();
+
+
+Catatan: Dihilangkannya {@link android.media.RemoteControlClient} +memiliki implikasi lebih jauh untuk mengontrol media. Lihat +Kontrol Pemutaran Media +untuk informasi selengkapnya tentang API baru untuk mengelola sesi media dan mengontrol pemutaran.
+ + + ++ Kerangka kerja pemberitahuan memungkinkan Anda mendefinisikan layout pemberitahuan custom, yang + mendefinisikan penampilan pemberitahuan dalam objek {@link android.widget.RemoteViews}. + Pemberitahuan dengan layout custom serupa pemberitahuan normal, namun dibuat berdasarkan + {@link android.widget.RemoteViews} yang didefinisikan dalam file layout XML. +
++ Tinggi yang tersedia untuk layout pemberitahuan custom bergantung pada tampilan pemberitahuan. Layout + tampilan normal dibatasi hingga 64 dp, dan layout tampilan yang diperluas dibatasi hingga 256 dp. +
++ Untuk mendefinisikan layout pemberitahuan custom, mulailah dengan membuat instance + objek {@link android.widget.RemoteViews} yang memekarkan file layout XML. Kemudian, + sebagai ganti memanggil metode seperti + {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder#setContentTitle setContentTitle()}, + panggil {@link android.support.v4.app.NotificationCompat.Builder#setContent setContent()}. Untuk mengatur + detail isi pemberitahuan custom, gunakan metode dalam + {@link android.widget.RemoteViews} untuk mengatur nilai anak tampilan: +
+.xml
+ + Kelas {@link android.widget.RemoteViews} juga menyertakan metode yang bisa Anda gunakan untuk + menambahkan {@link android.widget.Chronometer} atau {@link android.widget.ProgressBar} +dengan mudah ke layout pemberitahuan Anda. Untuk informasi selengkapnya tentang cara membuat layout custom + pemberitahuan Anda, lihat dokumentasi acuan {@link android.widget.RemoteViews}. +
++ Perhatian: Bila Anda menggunakan layout pemberitahuan custom, berhati-hatilah + untuk memastikan bahwa layout custom itu bekerja pada berbagai orientasi dan resolusi perangkat. Walaupun + berlaku bagi semua layout View, nasihat ini khususnya penting untuk pemberitahuan karena + ruang di laci pemberitahuan sangat terbatas. Jangan buat layout custom terlalu + kompleks, dan pastikan mengujinya di berbagai konfigurasi. +
+ ++ Selalu gunakan sumber daya gaya untuk teks pemberitahuan custom. Warna latar belakang + pemberitahuan bisa bervariasi di berbagai perangkat dan versi, dan menggunakan sumber daya gaya + membantu Anda menangani hal ini. Mulai Android 2.3, sistem mendefinisikan sebuah gaya untuk + teks layout pemberitahuan standar. Jika Anda menggunakan gaya yang sama dalam aplikasi yang menargetkan Android + 2.3 atau yang lebih tinggi, Anda akan memastikan bahwa teks terlihat pada latar belakang tampilan. +
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/overview.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/overview.jd new file mode 100644 index 0000000000000..ca8b42085ac27 --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/overview.jd @@ -0,0 +1,71 @@ +page.title=Ikhtisar UI +@jd:body + + +Semua elemen antarmuka pengguna dalam aplikasi Android dibangun menggunakan objek {@link android.view.View} dan +{@link android.view.ViewGroup}. {@link android.view.View} adalah objek yang menarik +sesuatu di layar dan dapat berinteraksi dengan pengguna. {@link android.view.ViewGroup} merupakan sebuah +objek yang menyimpan objek {@link android.view.View} lainnya (dan {@link android.view.ViewGroup}) untuk +mendefinisikan layout antarmuka.
+ +Android menyediakan sekumpulan subkelas {@link android.view.View} dan {@link +android.view.ViewGroup} yang menawarkan kontrol input umum (seperti tombol dan bidang +teks) serta berbagai model layout (seperti layout linear atau relatif).
+ + +Antarmuka pengguna untuk setiap komponen aplikasi Anda didefinisikan menggunakan hierarki objek {link +android.view.View} dan {@link android.view.ViewGroup}, seperti yang ditampilkan dalam gambar 1. Setiap kelompok tampilan +merupakan kontainer tak terlihat yang mengelola tampilan anak, sementara tampilan anak ini dapat menjadi kontrol +input atau widget lain yang +menarik sebagian dari UI. Pohon hierarki ini bisa sederhana atau bisa juga kompleks bergantung kebutuhan +(namun yang sederhana paling baik untuk kinerja).
+ +
+Gambar 1. Ilustrasi dari hierarki tampilan, yang mendefinisikan layout +UI.
+ +Untuk mendeklarasikan layout, Anda dapat menyediakan objek {@link android.view.View} dalam kode dan mulai +membangun pohon, namun cara termudah dan terefektif untuk mendefinisikan layout adalah dengan file XML. +XML menawarkan struktur layout yang dapat dibaca manusia, serupa dengan HTML.
+ +Nama elemen XML untuk tampilan sesuai dengan kelas Android yang diwakilinya. Dengan demikian elemen
+<TextView> membuat widget {@link android.widget.TextView} dalam UI Anda,
+dan elemen <LinearLayout> membuat kelompok tampilan {@link android.widget.LinearLayout}
+.
Misalnya, layout vertikal sederhana dengan tampilan teks dan tombol akan tampak seperti ini:
++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<LinearLayout xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android" + android:layout_width="fill_parent" + android:layout_height="fill_parent" + android:orientation="vertical" > + <TextView android:id="@+id/text" + android:layout_width="wrap_content" + android:layout_height="wrap_content" + android:text="I am a TextView" /> + <Button android:id="@+id/button" + android:layout_width="wrap_content" + android:layout_height="wrap_content" + android:text="I am a Button" /> +</LinearLayout> ++ +
Saat Anda memuat sumber daya layout di aplikasi, Android akan menginisialisasi setiap simpul layout menjadi +objek runtime yang bisa Anda gunakan untuk mendefinisikan perilaku tambahan, query status objek, atau memodifikasi +layout.
+ +Untuk mendapatkan panduan lengkap mengenai pembuatan layout UI, lihat Layout +XML. + + +
Anda tidak harus membuat semua UI menggunakan objek {@link android.view.View} dan {link +android.view.ViewGroup}. Android menyediakan beberapa komponen aplikasi yang menawarkan +layout UI standar yang tinggal Anda definisikan kontennya. Komponen UI ini masing-masing +memiliki set API unik yang dijelaskan dalam masing-masing dokumennya, seperti Action-Bar, Dialog, dan Pemberitahuan Status.
+ + diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/settings.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/settings.jd new file mode 100644 index 0000000000000..89be52fc2a73a --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/settings.jd @@ -0,0 +1,1202 @@ +page.title=Pengaturan +page.tags=preference,preferenceactivity,preferencefragment + +@jd:body + + +Aplikasi sering kali menyertakan pengaturan yang memungkinkan pengguna memodifikasi fitur dan perilaku aplikasi. Misalnya, +beberapa aplikasi memungkinkan pengguna untuk menetapkan apakah pemberitahuan diaktifkan atau menetapkan seberapa sering +aplikasi menyinkronkan data dengan cloud.
+ +Jika ingin menyediakan pengaturan untuk aplikasi, Anda harus menggunakan +API Android {@link android.preference.Preference} untuk membangun antarmuka yang konsisten dengan +pengalaman pengguna di aplikasi Android yang lain (termasuk pengaturan sistem). Dokumen ini menjelaskan +cara membangun pengaturan aplikasi Anda menggunakan API {@link android.preference.Preference}.
+ +Desain Pengaturan
+Untuk informasi tentang cara mendesain pengaturan Anda, bacalah panduan desain Pengaturan.
+
+Gambar 1. Cuplikan layar dari pengaturan +aplikasi Messaging Android. Memilih item yang didefinisikan oleh {@link android.preference.Preference} +akan membuka antarmuka untuk mengubah pengaturan.
+ + + + +Sebagai ganti menggunakan objek {@link android.view.View} untuk membangun antarmuka pengguna, pengaturan +dibangun menggunakan berbagai subkelas dari kelas {@link android.preference.Preference} yang Anda +deklarasikan dalam file XML.
+ +Objek {@link android.preference.Preference} adalah blok pembangun untuk pengaturan +tunggal. Setiap {@link android.preference.Preference} muncul sebagai item dalam daftar dan menyediakan UI +yang sesuai bagi pengguna untuk memodifikasi pengaturan. Misalnya, {@link +android.preference.CheckBoxPreference} membuat item daftar yang menampilkan kotak cek, dan {@link +android.preference.ListPreference} membuat item yang membuka dialog berisi daftar pilihan.
+ +Setiap {@link android.preference.Preference} yang Anda tambahkan memiliki pasangan nilai-kunci yang sesuai yang +digunakan sistem untuk menyimpan pengaturan dalam file {@link android.content.SharedPreferences} +default untuk pengaturan aplikasi Anda. Bila pengguna mengubah pengaturan, sistem akan memperbarui nilai +yang bersangkutan dalam file {@link android.content.SharedPreferences} untuk Anda. Satu-satunya saat di mana Anda harus +berinteraksi langsung dengan file {@link android.content.SharedPreferences} yang terkait adalah bila Anda +perlu membaca nilai untuk menentukan perilaku aplikasi berdasarkan pengaturan pengguna.
+ +Nilai yang tersimpan di {@link android.content.SharedPreferences} untuk setiap pengaturan bisa berupa +tipe data berikut:
+ +Oleh karena UI pengaturan aplikasi Anda dibangun menggunakan objek {@link android.preference.Preference} +sebagai ganti +objek {@link android.view.View}, Anda perlu menggunakan {@link android.app.Activity} khusus atau +subkelas {@link android.app.Fragment} untuk menampilkan pengaturan daftar:
+ +Cara mengatur {@link android.preference.PreferenceActivity} Anda dan instance {@link +android.preference.PreferenceFragment} dibahas di bagian tentang Membuat Aktivitas Preferensi dan Menggunakan +Fragmen Preferensi.
+ + +Setiap pengaturan untuk aplikasi Anda diwakili oleh subkelas khusus dari kelas {@link +android.preference.Preference}. Setiap subkelas menyertakan seperangkat properti utama yang memungkinkan Anda +untuk menetapkan berbagai hal seperti judul pengaturan dan nilai default. Setiap subkelas juga menyediakan +antarmuka pengguna dan properti khusus miliknya sendiri. Misalnya, gambar 1 menampilkan cuplikan layar dari + pengaturan aplikasi Messaging. Setiap item daftar dalam layar pengaturan didukung oleh objek {@link +android.preference.Preference} berbeda.
+ +Beberapa preferensi yang paling umum adalah:
+ +true jika diberi tanda cek).Lihat kelas {@link android.preference.Preference} untuk mengetahui daftar subkelas lain dan +propertinya.
+ +Tentu saja, kelas bawaan tidak mengakomodasi setiap kebutuhan dan aplikasi Anda mungkin memerlukan +sesuatu yang lebih khusus. Misalnya, platform saat ini tidak menyediakan kelas {@link +android.preference.Preference} untuk mengambil nomor atau tanggal. Anda mungkin perlu mendefinisikan +subkelas {@link android.preference.Preference} sendiri. Untuk bantuan melakukannya, lihat bagian tentang Membangun Preferensi Custom.
+ + + +Meskipun bisa membuat instance objek {@link android.preference.Preference} baru saat runtime, Anda +harus mendefinisikan daftar pengaturan dalam XML dengan hierarki objek +{@link android.preference.Preference}. Menggunakan file XML untuk mendefinisikan sekumpulan pengaturan lebih disukai karena file +menyediakan struktur yang mudah dibaca dan diperbarui. Selain itu, pengaturan aplikasi Anda +umumnya telah ditetapkan sebelumnya, meskipun Anda masih bisa memodifikasi kumpulan tersebut saat runtime.
+ +Setiap subkelas {@link android.preference.Preference} bisa dideklarasikan dengan elemen XML yang +cocok dengan nama kelas, seperti {@code <CheckBoxPreference>}.
+ +Anda harus menyimpan file XML dalam direktori {@code res/xml/}. Meskipun bisa memberi nama file +sesuka Anda, biasanya file diberi nama {@code preferences.xml}. Biasanya Anda hanya memerlukan satu file, +karena cabang di hierarki (yang membuka daftar pengaturanny sendiri) dideklarasikan menggunakan instance +tersarang {@link android.preference.PreferenceScreen}.
+ +Catatan: Jika ingin membuat layout multipanel untuk +pengaturan, Anda memerlukan file XML terpisah untuk setiap fragmen.
+ +Simpul akar untuk file XML harus merupakan elemen {@link android.preference.PreferenceScreen +<PreferenceScreen>}. Dalam elemen inilah tempat Anda menambahkan setiap {@link +android.preference.Preference}. Setiap anak yang Anda tambahkan dalam elemen +{@link android.preference.PreferenceScreen <PreferenceScreen>} akan tampak sebagai item +tunggal dalam daftar pengaturan.
+ +Misalnya:
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<PreferenceScreen xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"> + <CheckBoxPreference + android:key="pref_sync" + android:title="@string/pref_sync" + android:summary="@string/pref_sync_summ" + android:defaultValue="true" /> + <ListPreference + android:dependency="pref_sync" + android:key="pref_syncConnectionType" + android:title="@string/pref_syncConnectionType" + android:dialogTitle="@string/pref_syncConnectionType" + android:entries="@array/pref_syncConnectionTypes_entries" + android:entryValues="@array/pref_syncConnectionTypes_values" + android:defaultValue="@string/pref_syncConnectionTypes_default" /> +</PreferenceScreen> ++ +
Dalam contoh ini, terdapat {@link android.preference.CheckBoxPreference} dan {@link +android.preference.ListPreference}. Kedua item tersebut menyertakan tiga atribut berikut:
+ +Instance satu-satunya di mana atribut ini tidak diperlukan adalah bila preferensi berupa +{@link android.preference.PreferenceCategory} atau {@link android.preference.PreferenceScreen}, atau +preferensi menetapkan {@link android.content.Intent} untuk dipanggil (dengan elemen {@code <intent>}) atau {@link android.app.Fragment} untuk ditampilkan (dengan atribut {@code +android:fragment}).
+Untuk informasi tentang semua atribut lain yang didukung, lihat dokumentasi {@link +android.preference.Preference} (dan subkelas masing-masing).
+ + +
+ Gambar 2. Mengatur kategori
+ dengan judul.
1. Kategori ditetapkan oleh elemen {@link
+android.preference.PreferenceCategory <PreferenceCategory>}.
2. Judul
+ditetapkan dengan atribut {@code android:title}.
Bila daftar pengaturan Anda melebihi sekitar 10 item, Anda mungkin perlu menambahkan judul untuk +mendefinisikan grup pengaturan atau menampilkan grup tersebut di +layar terpisah. Opsi ini dijelaskan di bagian berikut.
+ + +Jika Anda menampilkan daftar 10 pengaturan atau lebih, pengguna +mungkin akan kesulitan dalam memindai, memahami dan memprosesnya. Anda bisa mengatasinya dengan +membagi sebagian atau semua pengaturan ke dalam beberapa grup, yang secara efektif akan mengubah satu daftar panjang menjadi beberapa daftar +yang lebih pendek. Suatu grup pengaturan terkait bisa ditampilkan dalam salah satu dari dua cara:
+ + + +Anda bisa menggunakan salah satu atau keduanya untuk mengelola pengaturan aplikasi Anda. Saat +memutuskan mana yang akan digunakan dan cara membagi pengaturan, Anda harus mengikuti pedoman dalam +Panduan Pengaturan Desain Android.
+ + +Jika ingin menyediakan divider dengan heading di antara grup pengaturan (seperti yang ditampilkan dalam gambar 2), +tempatkan setiap grup objek {@link android.preference.Preference} di dalam {@link +android.preference.PreferenceCategory}.
+ +Misalnya:
+ ++<PreferenceScreen xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"> + <PreferenceCategory + android:title="@string/pref_sms_storage_title" + android:key="pref_key_storage_settings"> + <CheckBoxPreference + android:key="pref_key_auto_delete" + android:summary="@string/pref_summary_auto_delete" + android:title="@string/pref_title_auto_delete" + android:defaultValue="false"... /> + <Preference + android:key="pref_key_sms_delete_limit" + android:dependency="pref_key_auto_delete" + android:summary="@string/pref_summary_delete_limit" + android:title="@string/pref_title_sms_delete"... /> + <Preference + android:key="pref_key_mms_delete_limit" + android:dependency="pref_key_auto_delete" + android:summary="@string/pref_summary_delete_limit" + android:title="@string/pref_title_mms_delete" ... /> + </PreferenceCategory> + ... +</PreferenceScreen> ++ + +
Jika ingin menempatkan grup pengaturan ke dalam sublayar (seperti yang ditampilkan dalam gambar 3), tempatkan grup +objek {@link android.preference.Preference} di dalam {@link +android.preference.PreferenceScreen}.
+ +
+Gambar 3. Mengatur sublayar. Elemen {@code +<PreferenceScreen>} +membuat item yang, bila dipilih, akan membuka daftar terpisah untuk menampilkan pengaturan tersarang.
+ +Misalnya:
+ ++<PreferenceScreen xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"> + <!-- opens a subscreen of settings --> + <PreferenceScreen + android:key="button_voicemail_category_key" + android:title="@string/voicemail" + android:persistent="false"> + <ListPreference + android:key="button_voicemail_provider_key" + android:title="@string/voicemail_provider" ... /> + <!-- opens another nested subscreen --> + <PreferenceScreen + android:key="button_voicemail_setting_key" + android:title="@string/voicemail_settings" + android:persistent="false"> + ... + </PreferenceScreen> + <RingtonePreference + android:key="button_voicemail_ringtone_key" + android:title="@string/voicemail_ringtone_title" + android:ringtoneType="notification" ... /> + ... + </PreferenceScreen> + ... +</PreferenceScreen> ++ + +
Dalam beberapa kasus, Anda mungkin ingin item preferensi untuk membuka beberapa aktivitas sebagai ganti +layar pengaturan, seperti browser web untuk melihat halaman web. Untuk memanggil {@link +android.content.Intent} saat pengguna memilih item preferensi, tambahkan elemen {@code <intent>} +sebagai anak dari elemen {@code <Preference>} yang bersangkutan.
+ +Misalnya, berikut ini cara menggunakan item preferensi untuk membuka halaman web:
+ ++<Preference android:title="@string/prefs_web_page" > + <intent android:action="android.intent.action.VIEW" + android:data="http://www.example.com" /> +</Preference> ++ +
Anda bisa membuat intent implisit maupun eksplisit menggunakan atribut berikut:
+ +Untuk menampilkan pengaturan Anda dalam suatu aktivitas, perluas kelas {@link +android.preference.PreferenceActivity}. Ini adalah ekstensi dari kelas {@link +android.app.Activity} biasa yang menampilkan daftar pengaturan berdasarkan hierarki objek {@link +android.preference.Preference}. {@link android.preference.PreferenceActivity} +secara otomatis mempertahankan pengaturan yang dikaitkan dengan setiap {@link +android.preference.Preference} bila pengguna membuat perubahan.
+ +Catatan: Jika Anda mengembangkan aplikasi untuk Android 3.0 dan +yang lebih tinggi, sebaiknya gunakan {@link android.preference.PreferenceFragment}. Pindah ke bagian +berikutnya tentang Menggunakan Fragmen Preferensi.
+ +Hal paling penting untuk diingat adalah jangan memuat layout tampilan selama callback {@link +android.preference.PreferenceActivity#onCreate onCreate()}. Sebagai gantinya, panggil {@link +android.preference.PreferenceActivity#addPreferencesFromResource addPreferencesFromResource()} untuk +menambahkan preferensi yang telah Anda deklarasikan dalam file XML ke aktivitas. Misalnya, berikut ini adalah kode minimum +polos yang diperlukan untuk {@link android.preference.PreferenceActivity} fungsional:
+ +
+public class SettingsActivity extends PreferenceActivity {
+ @Override
+ public void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
+ super.onCreate(savedInstanceState);
+ addPreferencesFromResource(R.xml.preferences);
+ }
+}
+
+
+Ini sebenarnya kode yang cukup untuk beberapa aplikasi, karena segera setelah pengguna memodifikasi preferensi, +sistem akan menyimpan perubahan tersebut ke file {@link android.content.SharedPreferences} default yang +bisa dibaca oleh komponen aplikasi Anda lainnya bila Anda perlu memeriksa pengaturan pengguna. Akan tetapi, +banyak aplikasi, yang memerlukan kode lebih sedikit untuk mendengarkan perubahan yang terjadi pada preferensi. +Untuk informasi tentang mendengarkan perubahan di file {@link android.content.SharedPreferences}, +lihat bagian tentang Preferensi Membaca.
+ + + + +Jika Anda mengembangkan Android 3.0 (API level 11) dan yang lebih tinggi, Anda harus menggunakan {@link +android.preference.PreferenceFragment} untuk menampilkan daftar objek {@link android.preference.Preference} +Anda. Anda bisa menambahkan {@link android.preference.PreferenceFragment} ke aktivitas apa pun,—Anda tidak +perlu menggunakan {@link android.preference.PreferenceActivity}.
+ +Fragmen menyediakan arsitektur yang lebih +fleksibel untuk aplikasi Anda, dibandingkan hanya menggunakan aktivitas, apa pun jenis +aktivitas yang Anda bangun. Dengan sendirinya, kami menyarankan Anda menggunakan {@link +android.preference.PreferenceFragment} untuk mengontrol tampilan pengaturan Anda sebagai ganti {@link +android.preference.PreferenceActivity} bila memungkinkan.
+ +Implementasi {@link android.preference.PreferenceFragment} Anda bisa semudah +mendefinisikan metode {@link android.preference.PreferenceFragment#onCreate onCreate()} untuk memuat +file preferensi dengan {@link android.preference.PreferenceFragment#addPreferencesFromResource +addPreferencesFromResource()}. Misalnya:
+ +
+public static class SettingsFragment extends PreferenceFragment {
+ @Override
+ public void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
+ super.onCreate(savedInstanceState);
+
+ // Load the preferences from an XML resource
+ addPreferencesFromResource(R.xml.preferences);
+ }
+ ...
+}
+
+
+Anda nanti bisa menambahkan fragmen ini ke {@link android.app.Activity} seperti yang Anda lakukan untuk +{@link android.app.Fragment} lainnya. Misalnya:
+ +
+public class SettingsActivity extends Activity {
+ @Override
+ protected void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
+ super.onCreate(savedInstanceState);
+
+ // Display the fragment as the main content.
+ getFragmentManager().beginTransaction()
+ .replace(android.R.id.content, new SettingsFragment())
+ .commit();
+ }
+}
+
+
+Catatan: {@link android.preference.PreferenceFragment} tidak memiliki +objek {@link android.content.Context} sendiri. Jika memerlukan objek {@link android.content.Context} +, Anda bisa memanggil {@link android.app.Fragment#getActivity()}. Akan tetapi, berhati-hatilah untuk memanggil +{@link android.app.Fragment#getActivity()} hanya bila fragmen telah dikaitkan dengan aktivitas. Bila +fragmen belum dikaitkan, atau terlepas saat akhir daur hidupnya, {@link +android.app.Fragment#getActivity()} akan mengembalikan nol.
+ + +Preferensi yang Anda buat mungkin mendefinisikan beberapa perilaku penting untuk aplikasi, jadi Anda +perlu menginisialisasi file {@link android.content.SharedPreferences} yang terkait dengan +nilai default untuk setiap {@link android.preference.Preference} bila pengguna menggunakan aplikasi +Anda untuk pertama kali.
+ +Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah menetapkan nilai default untuk setiap objek {@link +android.preference.Preference} +di file XML Anda menggunakan atribut {@code android:defaultValue}. Nilainya bisa berupa tipe data +apa saja yang sesuai untuk objek {@link android.preference.Preference} bersangkutan. Misalnya: +
+ ++<!-- default value is a boolean --> +<CheckBoxPreference + android:defaultValue="true" + ... /> + +<!-- default value is a string --> +<ListPreference + android:defaultValue="@string/pref_syncConnectionTypes_default" + ... /> ++ +
Kemudian, dari metode {@link android.app.Activity#onCreate onCreate()} dalam aktivitas utama aplikasi +Anda—dan dalam aktivitas lainnya yang digunakan pengguna untuk masuk ke aplikasi Anda untuk pertama kali +—panggil {@link android.preference.PreferenceManager#setDefaultValues +setDefaultValues()}:
+ ++PreferenceManager.setDefaultValues(this, R.xml.advanced_preferences, false); ++ +
Memanggil ini selama {@link android.app.Activity#onCreate onCreate()} akan memastikan aplikasi +Anda diinisialisasi dengan pengaturan default, yang mungkin perlu +dibaca oleh aplikasi Anda untuk menentukan beberapa perilaku (seperti apakah akan mengunduh data pada +jaringan seluler).
+ +Metode ini membutuhkan tiga argumen:
+Bila false, sistem akan mengatur nilai default hanya jika metode ini belum pernah
+dipanggil sebelumnya (atau {@link android.preference.PreferenceManager#KEY_HAS_SET_DEFAULT_VALUES}
+dalam file preferensi berbagi nilai default salah).
Selama Anda mengatur argumen ketiga ke false, Anda bisa dengan aman memanggil metode ini
+setiap kali aktivitas Anda memulai tanpa mengesampingkan preferensi tersimpan pengguna dengan mengatur ulang preferensi tersebut ke
+default. Akan tetapi, jika mengatur ke true, Anda akan mengesampingkan nilai
+sebelumnya dengan default.
Dalam kasus yang jarang terjadi, Anda mungkin perlu mendesain pengaturan agar layar pertama +hanya menampilkan daftar sublayar (seperti dalam aplikasi Setting pada sistem, +seperti yang ditampilkan dalam gambar 4 dan 5). Bila mengembangkan desain seperti itu untuk Android 3.0 dan yang lebih tinggi, Anda +harus menggunakan fitur "header" yang baru di Android 3.0, sebagai ganti membangun sublayar dengan elemen +{@link android.preference.PreferenceScreen} tersarang.
+ +Untuk membangun pengaturan dengan header, Anda perlu:
+Manfaat besar dalam menggunakan desain ini adalah karena {@link android.preference.PreferenceActivity} +secara otomatis akan menampilkan layout dua panel yang ditampilkan dalam gambar 4 bila dijalankan pada layar besar.
+ +Bahkan jika aplikasi Anda mendukung versi Android yang lebih lama dari 3.0, Anda bisa membangun +aplikasi untuk menggunakan {@link android.preference.PreferenceFragment} bagi presentasi dua panel pada perangkat +yang lebih baru sementara tetap mendukung hierarki multilayar biasa pada perangkat +yang lebih lama (lihat bagian tentang Mendukung versi yang lebih lama dengan +header preferensi).
+ +
+Gambar 4. Layout dua panel dengan header.
1. Header
+didefinisikan dengan file header XML.
2. Setiap grup pengaturan didefinisikan dengan
+{@link android.preference.PreferenceFragment} yang ditetapkan oleh elemen {@code <header>} dalam
+file header.
+Gambar 5. Perangkat handset dengan header pengaturan. Bila sebuah +item dipilih, {@link android.preference.PreferenceFragment} terkait akan menggantikan +header.
+ + +Setiap grup pengaturan dalam daftar header Anda akan ditetapkan oleh elemen {@code <header>} +tunggal dalam elemen {@code <preference-headers>} akar. Misalnya:
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<preference-headers xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"> + <header + android:fragment="com.example.prefs.SettingsActivity$SettingsFragmentOne" + android:title="@string/prefs_category_one" + android:summary="@string/prefs_summ_category_one" /> + <header + android:fragment="com.example.prefs.SettingsActivity$SettingsFragmentTwo" + android:title="@string/prefs_category_two" + android:summary="@string/prefs_summ_category_two" > + <!-- key/value pairs can be included as arguments for the fragment. --> + <extra android:name="someKey" android:value="someHeaderValue" /> + </header> +</preference-headers> ++ +
Dengan atribut {@code android:fragment}, setiap header mendeklarasikan instance {@link +android.preference.PreferenceFragment} yang harus terbuka saat pengguna memilih header.
+ +Elemen {@code <extras>} memungkinkan Anda meneruskan pasangan nilai-kunci ke fragmen di {@link +android.os.Bundle}. Fragmen bisa mengambil argumen dengan memanggil {@link +android.app.Fragment#getArguments()}. Anda bisa meneruskan argumen ke fragmen dengan berbagai +alasan, namun satu alasan yang baik adalah untuk menggunakan kembali subkelas yang sama dari {@link +android.preference.PreferenceFragment} untuk setiap grup dan menggunakan argumen untuk menetapkan file +XML preferensi mana yang harus dimuat fragmen.
+ +Misalnya, ada fragmen yang bisa digunakan ulang untuk berbagai grup pengaturan, bila setiap +header mendefinisikan argumen {@code <extra>} dengan kunci {@code "settings"}:
+ +
+public static class SettingsFragment extends PreferenceFragment {
+ @Override
+ public void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
+ super.onCreate(savedInstanceState);
+
+ String settings = getArguments().getString("settings");
+ if ("notifications".equals(settings)) {
+ addPreferencesFromResource(R.xml.settings_wifi);
+ } else if ("sync".equals(settings)) {
+ addPreferencesFromResource(R.xml.settings_sync);
+ }
+ }
+}
+
+
+
+
+Untuk menampilkan header preferensi, Anda harus mengimplementasikan metode callback {@link +android.preference.PreferenceActivity#onBuildHeaders onBuildHeaders()} dan memanggil +{@link android.preference.PreferenceActivity#loadHeadersFromResource +loadHeadersFromResource()}. Misalnya:
+ +
+public class SettingsActivity extends PreferenceActivity {
+ @Override
+ public void onBuildHeaders(List<Header> target) {
+ loadHeadersFromResource(R.xml.preference_headers, target);
+ }
+}
+
+
+Bila pengguna memilih item dari daftar header, sistem akan membuka {@link +android.preference.PreferenceFragment} terkait.
+ +Catatan: Saat menggunakan header preferensi, subkelas {@link +android.preference.PreferenceActivity} Anda tidak perlu mengimplementasikan metode {@link +android.preference.PreferenceActivity#onCreate onCreate()}, karena tugas +yang diperlukan untuk aktivitas hanyalah memuat header.
+ + +Jika aplikasi Anda mendukung versi Android yang lebih lama dari 3.0, Anda tetap bisa menggunakan header untuk +menyediakan layout dua panel saat berjalan pada Android 3.0 dan yang lebih tinggi. Anda hanya perlu membuat +file XML preferensi tambahan yang menggunakan elemen {@link android.preference.Preference +<Preference>} dasar yang berperilaku seperti item header (untuk digunakan oleh Android +versi yang lebih lama).
+ +Akan tetapi, sebagai ganti membuka {@link android.preference.PreferenceScreen} baru, setiap elemen {@link +android.preference.Preference <Preference>} mengirimkan {@link android.content.Intent} ke +{@link android.preference.PreferenceActivity} yang menetapkan file XML preferensi mana yang +akan dimuat.
+ +Misalnya, ini adalah file XML untuk header preferensi yang menggunakan Android 3.0 +dan yang lebih tinggi ({@code res/xml/preference_headers.xml}):
+ ++<preference-headers xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"> + <header + android:fragment="com.example.prefs.SettingsFragmentOne" + android:title="@string/prefs_category_one" + android:summary="@string/prefs_summ_category_one" /> + <header + android:fragment="com.example.prefs.SettingsFragmentTwo" + android:title="@string/prefs_category_two" + android:summary="@string/prefs_summ_category_two" /> +</preference-headers> ++ +
Dan ini adalah file preferensi yang menyediakan header yang sama untuk versi yang lebih lama dari +Android 3.0 ({@code res/xml/preference_headers_legacy.xml}):
+ ++<PreferenceScreen xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"> + <Preference + android:title="@string/prefs_category_one" + android:summary="@string/prefs_summ_category_one" > + <intent + android:targetPackage="com.example.prefs" + android:targetClass="com.example.prefs.SettingsActivity" + android:action="com.example.prefs.PREFS_ONE" /> + </Preference> + <Preference + android:title="@string/prefs_category_two" + android:summary="@string/prefs_summ_category_two" > + <intent + android:targetPackage="com.example.prefs" + android:targetClass="com.example.prefs.SettingsActivity" + android:action="com.example.prefs.PREFS_TWO" /> + </Preference> +</PreferenceScreen> ++ +
Karena dukungan untuk {@code <preference-headers>} telah ditambahkan di Android 3.0, sistem akan memanggil +{@link android.preference.PreferenceActivity#onBuildHeaders onBuildHeaders()} di {@link +android.preference.PreferenceActivity} hanya saat berjalan pada Android 3.0 atau yang lebih tinggi. Untuk memuat +file header "lama" ({@code preference_headers_legacy.xml}), Anda harus memeriksa versi Android +dan, jika versi tersebut lebih lama dari Android 3.0 ({@link +android.os.Build.VERSION_CODES#HONEYCOMB}), panggil {@link +android.preference.PreferenceActivity#addPreferencesFromResource addPreferencesFromResource()} untuk +memuat file header lama. Misalnya:
+ +
+@Override
+public void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
+ super.onCreate(savedInstanceState);
+ ...
+
+ if (Build.VERSION.SDK_INT < Build.VERSION_CODES.HONEYCOMB) {
+ // Load the legacy preferences headers
+ addPreferencesFromResource(R.xml.preference_headers_legacy);
+ }
+}
+
+// Called only on Honeycomb and later
+@Override
+public void onBuildHeaders(List<Header> target) {
+ loadHeadersFromResource(R.xml.preference_headers, target);
+}
+
+
+Satu-satunya hal yang perlu dilakukan adalah menangani {@link android.content.Intent} yang diteruskan ke +aktivitas untuk mengidentifikasi file preferensi yang akan dimuat. Jadi ambillah tindakan intent dan bandingkan dengan +string tindakan yang diketahui yang telah Anda gunakan dalam tag {@code <intent>} XML preferensi:
+ +
+final static String ACTION_PREFS_ONE = "com.example.prefs.PREFS_ONE";
+...
+
+@Override
+public void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
+ super.onCreate(savedInstanceState);
+
+ String action = getIntent().getAction();
+ if (action != null && action.equals(ACTION_PREFS_ONE)) {
+ addPreferencesFromResource(R.xml.preferences);
+ }
+ ...
+
+ else if (Build.VERSION.SDK_INT < Build.VERSION_CODES.HONEYCOMB) {
+ // Load the legacy preferences headers
+ addPreferencesFromResource(R.xml.preference_headers_legacy);
+ }
+}
+
+
+Ketahuilah bahwa panggilan berturut-turut ke {@link +android.preference.PreferenceActivity#addPreferencesFromResource addPreferencesFromResource()} akan +menumpuk semua preferensi ke dalam satu daftar, jadi pastikan bahwa ini hanya dipanggil sekali dengan mengikatkan syarat +ke pernyataan else-if.
+ + + + + +Secara default, semua preferensi aplikasi Anda disimpan ke file yang bisa diakses dari mana saja +di dalam aplikasi dengan memanggil metode statis {@link +android.preference.PreferenceManager#getDefaultSharedPreferences +PreferenceManager.getDefaultSharedPreferences()}. Ini akan mengembalikan objek {@link +android.content.SharedPreferences} berisi semua pasangan nilai-kunci yang terkait +dengan objek {@link android.preference.Preference} yang digunakan di {@link +android.preference.PreferenceActivity} Anda.
+ +Misalnya, inilah cara membaca salah satu nilai preferensi dari aktivitas lain dalam aplikasi +Anda:
+ ++SharedPreferences sharedPref = PreferenceManager.getDefaultSharedPreferences(this); +String syncConnPref = sharedPref.getString(SettingsActivity.KEY_PREF_SYNC_CONN, ""); ++ + + +
Ada beberapa alasan yang membuat Anda perlu mendapatkan pemberitahuan segera setelah pengguna mengubah salah satu +preferensi. Untuk menerima callback saat perubahan terjadi pada salah satu preferensi, +implementasikan antarmuka {@link android.content.SharedPreferences.OnSharedPreferenceChangeListener +SharedPreference.OnSharedPreferenceChangeListener} dan daftarkan listener untuk objek +{@link android.content.SharedPreferences} dengan memanggil {@link +android.content.SharedPreferences#registerOnSharedPreferenceChangeListener +registerOnSharedPreferenceChangeListener()}.
+ +Antarmuka hanya memiliki satu metode callback, {@link +android.content.SharedPreferences.OnSharedPreferenceChangeListener#onSharedPreferenceChanged +onSharedPreferenceChanged()}, dan mungkin lebih mudah mengimplementasikan antarmuka sebagai bagian dari +aktivitas Anda. Misalnya:
+ +
+public class SettingsActivity extends PreferenceActivity
+ implements OnSharedPreferenceChangeListener {
+ public static final String KEY_PREF_SYNC_CONN = "pref_syncConnectionType";
+ ...
+
+ public void onSharedPreferenceChanged(SharedPreferences sharedPreferences,
+ String key) {
+ if (key.equals(KEY_PREF_SYNC_CONN)) {
+ Preference connectionPref = findPreference(key);
+ // Set summary to be the user-description for the selected value
+ connectionPref.setSummary(sharedPreferences.getString(key, ""));
+ }
+ }
+}
+
+
+Dalam contoh ini, metode akan memeriksa apakah pengaturan yang diubah adalah untuk kunci preferensi yang diketahui. Ini akan +memanggil {@link android.preference.PreferenceActivity#findPreference findPreference()} untuk mendapatkan objek +{@link android.preference.Preference} yang diubah agar bisa memodifikasi rangkuman item +menjadi keterangan pada pilihan pengguna. Ini berarti, bila pengaturan adalah {@link +android.preference.ListPreference} atau pengaturan multipilihan, Anda harus memanggil {@link +android.preference.Preference#setSummary setSummary()} bila pengaturan berubah ke tampilkan +status saat ini (seperti pengaturan Sleep yang ditampilkan dalam gambar 5).
+ +Catatan: Seperti dijelaskan dalam dokumen Desain Android tentang Pengaturan, kami merekomendasikan Anda untuk memperbarui +rangkuman {@link android.preference.ListPreference} setiap kali pengguna mengubah preferensi untuk +menjelaskan pengaturan saat ini.
+ +Untuk manajemen daur hidup yang baik di aktivitas, kami merekomendasikan Anda untuk mendaftarkan dan mencabut pendaftaran +{@link android.content.SharedPreferences.OnSharedPreferenceChangeListener} selama callback {@link +android.app.Activity#onResume} dan {@link android.app.Activity#onPause}:
+ +
+@Override
+protected void onResume() {
+ super.onResume();
+ getPreferenceScreen().getSharedPreferences()
+ .registerOnSharedPreferenceChangeListener(this);
+}
+
+@Override
+protected void onPause() {
+ super.onPause();
+ getPreferenceScreen().getSharedPreferences()
+ .unregisterOnSharedPreferenceChangeListener(this);
+}
+
+
+Perhatian: Bila Anda memanggil {@link +android.content.SharedPreferences#registerOnSharedPreferenceChangeListener +registerOnSharedPreferenceChangeListener()}, pengelola preferensi saat ini tidak akan +menyimpan referensi kuat ke listener. Anda harus menyimpan referensi +kuat bagi listener, atau referensi akan rentan terhadap pengumpulan sampah. Kami +merekomendasikan Anda untuk mempertahankan referensi bagi listener dalam data instance objek +yang akan ada selama Anda memerlukan listener tersebut.
+ +Misalnya, dalam kode berikut, caller tidak menyimpan referensi ke +listener. Akibatnya, listener akan dikenakan pengumpulan sampah, +dan suatu saat nanti akan gagal:
+ +
+prefs.registerOnSharedPreferenceChangeListener(
+ // Bad! The listener is subject to garbage collection!
+ new SharedPreferences.OnSharedPreferenceChangeListener() {
+ public void onSharedPreferenceChanged(SharedPreferences prefs, String key) {
+ // listener implementation
+ }
+});
+
+
+Sebagai gantinya, simpan referensi ke listener dalam bidang data instance +objek yang akan ada selama listener dibutuhkan:
+ +
+SharedPreferences.OnSharedPreferenceChangeListener listener =
+ new SharedPreferences.OnSharedPreferenceChangeListener() {
+ public void onSharedPreferenceChanged(SharedPreferences prefs, String key) {
+ // listener implementation
+ }
+};
+prefs.registerOnSharedPreferenceChangeListener(listener);
+
+
+Mulai Android 4.0, aplikasi Settings untuk sistem memungkinkan pengguna melihat seberapa besar +data jaringan yang digunakan aplikasi mereka saat berada di latar depan dan latar belakang. Kemudian pengguna bisa +menonaktifkan penggunaan data latar belakang untuk aplikasi individual. Agar pengguna tidak menonaktifkan akses +aplikasi ke data dari latar belakang, Anda harus menggunakan koneksi data secara efisien dan mengizinkan +pengguna untuk menyaring penggunaan data aplikasi melalui pengaturan aplikasi Anda.
+ +
Misalnya, Anda bisa mengizinkan pengguna untuk mengontrol seberapa sering aplikasi menyinkronkan data, apakah aplikasi +hanya melakukan pengunggahan/pengunduhan bila ada Wi-Fi, apakah aplikasi menggunakan data saat roaming, dll. Dengan +tersedianya kontrol ini bagi pengguna, mereka kemungkinan besar tidak akan menonaktifkan akses aplikasi ke data +saat mendekati batas yang mereka tetapkan dalam Settings pada sistem, karena mereka bisa mengontrol secara tepat +seberapa besar data yang digunakan aplikasi Anda.
+ +Setelah menambahkan preferensi yang diperlukan dalam {@link android.preference.PreferenceActivity} Anda +untuk mengontrol kebiasaan data aplikasi, Anda harus menambahkan filter intent untuk {@link +android.content.Intent#ACTION_MANAGE_NETWORK_USAGE} dalam file manifes Anda. Misalnya:
+ ++<activity android:name="SettingsActivity" ... > + <intent-filter> + <action android:name="android.intent.action.MANAGE_NETWORK_USAGE" /> + <category android:name="android.intent.category.DEFAULT" /> + </intent-filter> +</activity> ++ +
Filter intent ini menunjukkan pada sistem bahwa ini adalah aktivitas yang mengontrol penggunaan +data aplikasi Anda. Jadi, saat pengguna memeriksa seberapa banyak data yang digunakan oleh aplikasi dari +aplikasi Settings pada sistem, tombol View application settings akan tersedia dan menjalankan +{@link android.preference.PreferenceActivity} sehingga pengguna bisa menyaring seberapa besar data yang digunakan +aplikasi Anda.
+ + + + + + + +Kerangka kerja Android menyertakan berbagai subkelas {@link android.preference.Preference} yang +memungkinkan Anda membangun UI untuk beberapa macam tipe pengaturan. +Akan tetapi, Anda mungkin menemukan pengaturan yang diperlukan bila tidak ada solusi bawaan, seperti +picker nomor atau picker tanggal. Dalam hal demikian, Anda akan perlu membuat preferensi custom dengan memperluas +kelas {@link android.preference.Preference} atau salah satu subkelas lainnya.
+ +Bila memperluas kelas {@link android.preference.Preference}, ada beberapa hal +penting yang perlu Anda lakukan:
+ +Bagian berikut menjelaskan cara melakukan setiap tugas ini.
+ + + +Jika secara langsung memperluas kelas {@link android.preference.Preference}, Anda perlu mengimplementasikan +{@link android.preference.Preference#onClick()} untuk mendefinisikan tindakan yang terjadi bila pengguna +memilih item tersebut. Akan tetapi, sebagian besar pengaturan custom memperluas {@link android.preference.DialogPreference} untuk +menampilkan dialog, sehingga menyederhanakan prosedur. Bila memperluas {@link +android.preference.DialogPreference}, Anda harus memanggil {@link +android.preference.DialogPreference#setDialogLayoutResource setDialogLayoutResourcs()} selama di +konstruktor kelas untuk menetapkan layout dialog.
+ +Misalnya, beri ini konstruktor untuk {@link +android.preference.DialogPreference} custom yang mendeklarasikan layout dan menetapkan teks untuk tombol dialog +negatif dan positif default:
+ +
+public class NumberPickerPreference extends DialogPreference {
+ public NumberPickerPreference(Context context, AttributeSet attrs) {
+ super(context, attrs);
+
+ setDialogLayoutResource(R.layout.numberpicker_dialog);
+ setPositiveButtonText(android.R.string.ok);
+ setNegativeButtonText(android.R.string.cancel);
+
+ setDialogIcon(null);
+ }
+ ...
+}
+
+
+
+
+Anda bisa menyimpan nilai pengaturan kapan saja dengan memanggil salah satu metode {@code persist*()} kelas {@link +android.preference.Preference}, seperti {@link +android.preference.Preference#persistInt persistInt()} jika nilai pengaturan adalah integer atau +{@link android.preference.Preference#persistBoolean persistBoolean()} untuk menyimpan boolean.
+ +Catatan: Setiap {@link android.preference.Preference} hanya bisa menyimpan satu +tipe data, jadi Anda harus menggunakan metode {@code persist*()} yang tepat untuk tipe data yang digunakan +oleh {@link android.preference.Preference} custom Anda.
+ +Bila Anda memilih untuk mempertahankannya, pengaturan bisa bergantung pada kelas {@link +android.preference.Preference} yang Anda perluas. Jika Anda memperluas {@link +android.preference.DialogPreference}, maka Anda harus mempertahankan nilai hanya jika dialog +tertutup karena hasil positif (pengguna memilih tombol "OK").
+ +Bila {@link android.preference.DialogPreference} tertutup, sistem akan memanggil metode {@link
+android.preference.DialogPreference#onDialogClosed onDialogClosed()}. Metode mencakup argumen
+boolean yang menetapkan apakah hasil pengguna "positif"—jika nilainya
+true, maka pengguna memilih tombol positif dan Anda harus menyimpan nilai baru. Misalnya:
+
+@Override
+protected void onDialogClosed(boolean positiveResult) {
+ // When the user selects "OK", persist the new value
+ if (positiveResult) {
+ persistInt(mNewValue);
+ }
+}
+
+
+Dalam contoh ini, mNewValue adalah anggota kelas yang menampung nilai
+pengaturan saat ini. Memanggil {@link android.preference.Preference#persistInt persistInt()} akan menyimpan nilai
+ke file {@link android.content.SharedPreferences} (secara otomatis menggunakan kunci yang
+ditetapkan dalam file XML untuk {@link android.preference.Preference} ini).
Bila sistem menambahkan {@link android.preference.Preference} Anda ke layar, ia +akan memanggil {@link android.preference.Preference#onSetInitialValue onSetInitialValue()} untuk memberi tahu +Anda apakah pengaturan memiliki nilai yang dipertahankan. Jika tidak ada nilai yang dipertahankan, panggilan ini +akan menyediakan nilai default bagi Anda.
+ +Metode {@link android.preference.Preference#onSetInitialValue onSetInitialValue()} akan meneruskan
+boolean, restorePersistedValue, untuk menunjukkan apakah nilai dipertahankan
+untuk pengaturan. Jika true, maka Anda harus mengambil nilai yang dipertahankan dengan memanggil
+salah satu metode {@code getPersisted*()} kelas {@link
+android.preference.Preference}, seperti {@link
+android.preference.Preference#getPersistedInt getPersistedInt()} untuk nilai integer. Anda biasanya
+perlu mengambil nilai yang dipertahankan agar bisa memperbarui UI dengan benar untuk merefleksikan
+nilai yang tersimpan sebelumnya.
Jika restorePersistedValue adalah false, maka Anda
+harus menggunakan nilai default yang diteruskan dalam argumen kedua.
+@Override
+protected void onSetInitialValue(boolean restorePersistedValue, Object defaultValue) {
+ if (restorePersistedValue) {
+ // Restore existing state
+ mCurrentValue = this.getPersistedInt(DEFAULT_VALUE);
+ } else {
+ // Set default state from the XML attribute
+ mCurrentValue = (Integer) defaultValue;
+ persistInt(mCurrentValue);
+ }
+}
+
+
+Setiap metode {@code getPersisted*()} memerlukan argumen yang menetapkan +nilai default untuk digunakan jika tidak ada nilai yang dipertahankan atau kunci tidak ada. Dalam contoh +di atas, konstanta lokal yang digunakan untuk menetapkan nilai default dalam kasus {@link +android.preference.Preference#getPersistedInt getPersistedInt()} tidak bisa mengembalikan nilai yang dipertahankan.
+ +Perhatian: Anda tidak bisa menggunakan
+defaultValue sebagai nilai default dalam metode {@code getPersisted*()}, karena
+nilainya selalu nol bila restorePersistedValue adalah true.
Jika instance kelas {@link android.preference.Preference} Anda menetapkan nilai default +(dengan atribut {@code android:defaultValue}), maka +sistem akan memanggil {@link android.preference.Preference#onGetDefaultValue +onGetDefaultValue()} bila membuat instance objek untuk mengambil nilai. Anda harus mengimplementasikan +metode ini agar sistem bisa menyimpan nilai default dalam {@link +android.content.SharedPreferences}. Misalnya:
+ +
+@Override
+protected Object onGetDefaultValue(TypedArray a, int index) {
+ return a.getInteger(index, DEFAULT_VALUE);
+}
+
+
+Argumen metode menyediakan semua hal yang Anda perlukan: larik atribut dan posisi +indeks dari {@code android:defaultValue}, yang harus Anda ambil. Alasan Anda harus +mengimplementasikan metode ini untuk mengekstrak nilai default dari atribut adalah karena Anda harus menetapkan +nilai default lokal untuk atribut jika nilai tidak didefinisikan.
+ + + +Seperti halnya {@link android.view.View} di layout, subkelas {@link android.preference.Preference} +Anda bertanggung jawab menyimpan dan memulihkan statusnya jika aktivitas atau fragmen +di-restart (seperti saat pengguna memutar layar). Untuk menyimpan +dan memulihkan status kelas {@link android.preference.Preference} dengan benar, Anda harus mengimplementasikan +metode callback daur hidup {@link android.preference.Preference#onSaveInstanceState +onSaveInstanceState()} dan {@link +android.preference.Preference#onRestoreInstanceState onRestoreInstanceState()}.
+ +Status {@link android.preference.Preference} Anda didefinisikan oleh objek yang mengimplementasikan +antarmuka {@link android.os.Parcelable}. Kerangka kerja Android menyediakan objek seperti itu untuk Anda gunakan +sebagai titik mulai untuk mendefinisikan objek status Anda: kelas {@link +android.preference.Preference.BaseSavedState}.
+ +Untuk mendefinisikan cara kelas {@link android.preference.Preference} menyimpan statusnya, Anda harus +memperluas kelas {@link android.preference.Preference.BaseSavedState}. Anda hanya perlu mengesampingkan + beberapa metode dan mendefinisikan objek {@link android.preference.Preference.BaseSavedState#CREATOR} +.
+ +Untuk sebagian besar aplikasi, Anda bisa menyalin implementasi berikut dan cukup mengubah baris yang +menangani {@code value} jika subkelas {@link android.preference.Preference} Anda menyimpan tipe +data selain integer.
+ +
+private static class SavedState extends BaseSavedState {
+ // Member that holds the setting's value
+ // Change this data type to match the type saved by your Preference
+ int value;
+
+ public SavedState(Parcelable superState) {
+ super(superState);
+ }
+
+ public SavedState(Parcel source) {
+ super(source);
+ // Get the current preference's value
+ value = source.readInt(); // Change this to read the appropriate data type
+ }
+
+ @Override
+ public void writeToParcel(Parcel dest, int flags) {
+ super.writeToParcel(dest, flags);
+ // Write the preference's value
+ dest.writeInt(value); // Change this to write the appropriate data type
+ }
+
+ // Standard creator object using an instance of this class
+ public static final Parcelable.Creator<SavedState> CREATOR =
+ new Parcelable.Creator<SavedState>() {
+
+ public SavedState createFromParcel(Parcel in) {
+ return new SavedState(in);
+ }
+
+ public SavedState[] newArray(int size) {
+ return new SavedState[size];
+ }
+ };
+}
+
+
+Dengan implementasi {@link android.preference.Preference.BaseSavedState} di atas yang ditambahkan +ke aplikasi Anda (biasanya sebagai subkelas dari subkelas {@link android.preference.Preference}), Anda +nanti perlu mengimplementasikan metode {@link android.preference.Preference#onSaveInstanceState +onSaveInstanceState()} dan {@link +android.preference.Preference#onRestoreInstanceState onRestoreInstanceState()} untuk subkelas +{@link android.preference.Preference} Anda.
+ +Misalnya:
+ +
+@Override
+protected Parcelable onSaveInstanceState() {
+ final Parcelable superState = super.onSaveInstanceState();
+ // Check whether this Preference is persistent (continually saved)
+ if (isPersistent()) {
+ // No need to save instance state since it's persistent,
+ // use superclass state
+ return superState;
+ }
+
+ // Create instance of custom BaseSavedState
+ final SavedState myState = new SavedState(superState);
+ // Set the state's value with the class member that holds current
+ // setting value
+ myState.value = mNewValue;
+ return myState;
+}
+
+@Override
+protected void onRestoreInstanceState(Parcelable state) {
+ // Check whether we saved the state in onSaveInstanceState
+ if (state == null || !state.getClass().equals(SavedState.class)) {
+ // Didn't save the state, so call superclass
+ super.onRestoreInstanceState(state);
+ return;
+ }
+
+ // Cast state to custom BaseSavedState and pass to superclass
+ SavedState myState = (SavedState) state;
+ super.onRestoreInstanceState(myState.getSuperState());
+
+ // Set this Preference's widget to reflect the restored state
+ mNumberPicker.setValue(myState.value);
+}
+
+
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/ui-events.jd b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/ui-events.jd
new file mode 100644
index 0000000000000..0307b34a85c1e
--- /dev/null
+++ b/docs/html-intl/intl/id/guide/topics/ui/ui-events.jd
@@ -0,0 +1,291 @@
+page.title=Kejadian Input
+parent.title=Antarmuka Pengguna
+parent.link=index.html
+@jd:body
+
+Di Android, ada lebih dari satu cara untuk mencegat kejadian dari interaksi pengguna dengan aplikasi Anda. +Saat mempertimbangkan kejadian dalam antarmuka pengguna Anda, pendekatannya adalah menangkap kejadian +dari objek View tertentu yang digunakan pengguna untuk berinteraksi. Kelas View menyediakan sarana untuk melakukannya.
+ +Dalam berbagai kelas View yang akan digunakan untuk menyusun layout, Anda mungkin melihat beberapa metode callback
+publik yang tampak berguna untuk kejadian UI. Metode ini dipanggil oleh kerangka kerja Android ketika masing-masing
+tindakan terjadi pada objek itu. Misalnya, bila View (seperti Button/Tombol) disentuh,
+metode onTouchEvent() akan dipanggil pada objek itu. Akan tetapi, untuk mencegatnya, Anda harus memperluas
+kelas dan mengesampingkan metode itu. Akan tetapi, memperluas setiap objek View
+untuk menangani kejadian seperti itu tidaklah praktis. Karena itulah kelas View juga berisi
+sekumpulan antarmuka tersarang dengan callback yang jauh lebih mudah didefinisikan. Antarmuka ini,
+yang disebut event listener, merupakan tiket Anda untuk menangkap interaksi pengguna dengan UI.
Walaupun Anda akan lebih sering menggunakan event listener ini untuk interaksi pengguna, +mungkin ada saatnya Anda ingin memperluas kelas View, untuk membuat komponen custom. +Mungkin Anda ingin memperluas kelas {@link android.widget.Button} +untuk membuat sesuatu yang lebih menarik. Dalam hal ini, Anda akan dapat mendefinisikan perilaku kejadian default untuk kelas Anda dengan menggunakan +kelas event handler.
+ + +Event listener merupakan antarmuka di kelas {@link android.view.View} yang berisi metode +callback tunggal. Metode ini akan dipanggil oleh kerangka kerja Android bila View yang +telah didaftarkan dengan listener dipicu oleh interaksi pengguna dengan item dalam UI.
+ +Yang juga disertakan dalam antarmuka event listener adalah metode callback berikut ini:
+ +onClick()onLongClick()onFocusChange()onKey()onTouch()onCreateContextMenu()Metode ini satu-satunya yang menempati antarmukanya masing-masing. Untuk mendefinisikan salah satu metode ini
+dan menangani kejadian Anda, implementasikan antarmuka tersarang dalam Aktivitas Anda atau definisikan sebagai kelas anonim.
+Kemudian, teruskan satu
+instance implementasi Anda pada masing-masing metode View.set...Listener(). (Misalnya, panggil
+{@link android.view.View#setOnClickListener(View.OnClickListener) setOnClickListener()}
+dan teruskan implementasi {@link android.view.View.OnClickListener OnClickListener} Anda.)
Contoh di bawah menunjukkan cara mendaftarkan on-click listener untuk Button.
+ +
+// Create an anonymous implementation of OnClickListener
+private OnClickListener mCorkyListener = new OnClickListener() {
+ public void onClick(View v) {
+ // do something when the button is clicked
+ }
+};
+
+protected void onCreate(Bundle savedValues) {
+ ...
+ // Capture our button from layout
+ Button button = (Button)findViewById(R.id.corky);
+ // Register the onClick listener with the implementation above
+ button.setOnClickListener(mCorkyListener);
+ ...
+}
+
+
+Anda juga akan merasa lebih praktis mengimplementasikan OnClickListener sebagai bagian dari Aktivitas. +Ini akan menghindari beban kelas ekstra dan alokasi objek. Misalnya:
+
+public class ExampleActivity extends Activity implements OnClickListener {
+ protected void onCreate(Bundle savedValues) {
+ ...
+ Button button = (Button)findViewById(R.id.corky);
+ button.setOnClickListener(this);
+ }
+
+ // Implement the OnClickListener callback
+ public void onClick(View v) {
+ // do something when the button is clicked
+ }
+ ...
+}
+
+
+Perhatikan bahwa callback onClick() dalam contoh di atas tidak memiliki
+nilai hasil, namun beberapa metode event listener lainnya harus mengembalikan boolean. Sebabnya
+bergantung pada kejadian. Untuk sebagian yang mengembalikan boolean, ini sebabnya:
{@link android.view.View.OnLongClickListener#onLongClick(View) onLongClick()} -
+ Ini mengembalikan boolean untuk menunjukkan apakah Anda telah menggunakan kejadian dan tidak boleh dibawa lebih jauh.
+ Yaitu, mengembalikan benar untuk menunjukkan apakah Anda telah menangani kejadian dan semestinya berhenti di sini;
+ mengembalikan salah jika Anda tidak menanganinya dan/atau kejadian semestinya berlanjut ke
+ on-click listener lainnya.{@link android.view.View.OnKeyListener#onKey(View,int,KeyEvent) onKey()} -
+ Ini mengembalikan boolean untuk menunjukkan apakah Anda telah menggunakan kejadian dan tidak boleh dibawa lebih jauh.
+ Yaitu, mengembalikan benar untuk menunjukkan apakah Anda telah menangani kejadian dan semestinya berhenti di sini;
+ mengembalikan salah jika Anda tidak menanganinya dan/atau kejadian semestinya berlanjut ke
+ on-key listener lainnya.{@link android.view.View.OnTouchListener#onTouch(View,MotionEvent) onTouch()} -
+ Ini mengembalikan boolean untuk menunjukkan apakah listener Anda telah menggunakan kejadian ini. Yang penting adalah
+kejadian ini bisa memiliki beberapa tindakan yang saling mengikuti. Jadi, jika Anda mengembalikan salahsaat
+kejadian tindakan turun diterima, itu menunjukkan bahwa Anda belum menggunakan kejadian itu dan juga
+tidak tertarik dengan tindakan berikutnya dari kejadian ini. Karena itu, Anda tidak akan diminta untuk melakukan tindakan
+ lainnya dalam kejadian, seperti gerakan jari, atau kejadian tindakan naik yang akan terjadi.Ingatlah bahwa kejadian tombol fisik selalu disampaikan ke View yang sedang difokus. Kejadian ini dikirim mulai dari atas
+hierarki View, kemudian turun hingga tujuan yang sesuai. Jika View Anda (atau anak View Anda)
+saat ini sedang fokus, maka Anda dapat melihat kejadian berpindah melalui metode.{@link android.view.View#dispatchKeyEvent(KeyEvent)
+dispatchKeyEvent()} Sebagai pengganti untuk menangkap kejadian penting melalui View, Anda juga dapat menerima
+semua kejadian dalam Aktivitas Anda dengan {@link android.app.Activity#onKeyDown(int,KeyEvent) onKeyDown()}
+dan {@link android.app.Activity#onKeyUp(int,KeyEvent) onKeyUp()}.
Selain itu, saat memikirkan tentang input teks aplikasi Anda, ingatlah bahwa banyak perangkat yang hanya memiliki
+metode input perangkat lunak. Metode seperti itu tidak harus berbasis tombol; sebagian mungkin menggunakan input suara, tulisan tangan, dan seterusnya. Meskipun
+metode input menyajikan antarmuka seperti keyboard, itu umumnya tidak memicu keluarga kejadian
+{@link android.app.Activity#onKeyDown(int,KeyEvent) onKeyDown()}. Anda sama sekali tidak boleh
+membangun UI yang mengharuskan penekanan tombol tertentu dikontrol kecuali jika Anda ingin membatasi aplikasi Anda pada perangkat yang memiliki
+keyboard fisik. Khususnya, jangan mengandalkan metode ini untuk memvalidasi input saat pengguna menekan tombol
+enter; melainkan, gunakan tindakan seperti {@link android.view.inputmethod.EditorInfo#IME_ACTION_DONE} untuk menandai
+metode input mengenai reaksi yang diharapkan aplikasi Anda, sehingga bisa mengubah UI-nya secara signifikan. Hindari anggapan
+tentang bagaimana metode input perangkat lunak seharusnya bekerja dan percayalah bahwa metode akan menyediakan teks yang sudah diformat bagi aplikasi Anda.
Catatan: Android akan memanggil event handler terlebih dahulu kemudian handler +default yang sesuai dari definisi kelas. Karena itu, mengembalikan benar dari event listener ini akan menghentikan +penyebaran kejadian ke event listener lain dan juga akan memblokir callback ke +event handler default di View. Pastikan bahwa Anda ingin mengakhiri kejadian saat mengembalikan true.
+ + +Jika Anda membuat komponen custom dari View, maka Anda dapat mendefinisikan penggunaan beberapa +metode callback sebagai event handler default. +Dalam dokumen tentang Komponen +Custom, Anda akan melihat penggunaan beberapa callback umum untuk penanganan kejadian, +termasuk:
+{@link android.view.View#onKeyDown} - Dipanggil bila terjadi kejadian tombol baru.{@link android.view.View#onKeyUp} - Dipanggil bila terjadi kejadian tombol naik.{@link android.view.View#onTrackballEvent} - Dipanggil bila terjadi kejadian gerakan trackball.{@link android.view.View#onTouchEvent} - Dipanggil bila terjadi kejadian gerakan layar sentuh.{@link android.view.View#onFocusChanged} - Dipanggil bila View memperoleh atau kehilangan fokus.Ada beberapa metode lain yang harus Anda ketahui, yang bukan bagian dari kelas View, +namun bisa berdampak langsung pada kemampuan Anda menangani kejadian. Jadi, saat mengelola kejadian yang lebih kompleks dalam +layout, pertimbangkanlah metode-metode lain ini:
+{@link android.app.Activity#dispatchTouchEvent(MotionEvent)
+ Activity.dispatchTouchEvent(MotionEvent)} - Ini memungkinkan {@link
+ android.app.Activity} Anda mencegat semua kejadian sentuh sebelum dikirim ke jendela.{@link android.view.ViewGroup#onInterceptTouchEvent(MotionEvent)
+ ViewGroup.onInterceptTouchEvent(MotionEvent)} - Ini memungkinkan {@link
+ android.view.ViewGroup} memantau kejadian saat dikirim ke View anak.{@link android.view.ViewParent#requestDisallowInterceptTouchEvent(boolean)
+ ViewParent.requestDisallowInterceptTouchEvent(boolean)} - Panggil ini
+ pada View induk untuk menunjukan larangan mencegat kejadian sentuh dengan {@link
+ android.view.ViewGroup#onInterceptTouchEvent(MotionEvent)}.+Saat pengguna menyusuri antarmuka pengguna dengan tombol pengarah atau trackball, Anda +perlu memberikan fokus pada item tindakan (seperti tombol) agar pengguna bisa mengetahui apa +yang akan menerima input. Akan tetapi jika perangkat memiliki kemampuan sentuh, dan pengguna +mulai berinteraksi dengan antarmuka dengan menyentuhnya, maka Anda tidak perlu lagi +menyorot item, atau memfokuskan pada View tertentu. Karena itu, ada mode +untuk interaksi yang bernama "mode sentuh". +
++Untuk perangkat berkemampuan sentuh, setelah pengguna menyentuh layar, perangkat +akan masuk ke mode sentuh. Dari sini dan selanjutnya, hanya View dengan +{@link android.view.View#isFocusableInTouchMode} benar yang akan dapat difokus, seperti widget pengedit teks. +View lain yang dapat disentuh, seperti tombol, tidak akan difokus bila disentuh; View ini akan +langsung memicu on-click listener bila ditekan. +
++Kapan saja pengguna menekan tombol pengarah atau menggulir dengan trackball, perangkat akan +keluar dari mode sentuh, dan mencari tampilan untuk difokuskan. Kini pengguna bisa melanjutkan interaksi +dengan antarmuka pengguna tanpa menyentuh layar. +
++Status mode sentuh dipertahankan di seluruh sistem (semua jendela dan aktivitas). +Untuk query status saat ini, Anda bisa memanggil +{@link android.view.View#isInTouchMode} untuk mengetahui apakah perangkat saat ini sedang dalam mode sentuh. +
+ + +Kerangka kerja ini akan menangani gerakan fokus rutin sebagai respons input pengguna.
+Ini termasuk mengubah fokus saat View dihapus atau disembunyikan, atau saat tersedia View
+baru. View menunjukkan kesediaannya untuk mengambil fokus
+melalui metode {@link android.view.View#isFocusable()}. Untuk mengubah apakah View bisa mengambil
+fokus, panggil {@link android.view.View#setFocusable(boolean) setFocusable()}. Saat dalam mode sentuh,
+Anda dapat me-query apakah View memungkinkan fokus dengan {@link android.view.View#isFocusableInTouchMode()}.
+Anda bisa mengubahnya dengan {@link android.view.View#setFocusableInTouchMode(boolean) setFocusableInTouchMode()}.
+
Gerakan fokus berdasarkan pada algoritma yang mencari tetangga terdekat dalam +arah yang diberikan. Dalam kasus yang jarang terjadi, algoritma default mungkin +tidak cocok dengan perilaku yang diinginkan pengembang. Dalam situasi ini, Anda bisa memberikan +pengesampingan eksplisit dengan mengikuti atribut XML berikut dalam file layout: +nextFocusDown, nextFocusLeft, nextFocusRight, dan +nextFocusUp. Tambahkan salah satu atribut ini ke View dari mana fokus +meninggalkan. Definisikan nilai atribut untuk menjadi ID View +ke mana fokus harus diberikan. Misalnya:
++<LinearLayout + android:orientation="vertical" + ... > + <Button android:id="@+id/top" + android:nextFocusUp="@+id/bottom" + ... /> + <Button android:id="@+id/bottom" + android:nextFocusDown="@+id/top" + ... /> +</LinearLayout> ++ +
Biasanya, dalam layout vertikal ini, navigasi ke atas dari Button pertama tidak akan membawa ke +mana pun, tidak pula akan menyusuri ke bawah dari Button kedua. Karena sekarang Button atas telah +mendefinisikan Button bawah sebagai nextFocusUp (dan sebaliknya), fokus navigasi akan +silih berganti dari atas ke bawah dan bawah ke atas.
+ +Jika Anda ingin mendeklarasikan View sebagai dapat difokus dalam UI (bila biasanya tidak dapat difokus),
+tambahkan atribut XML android:focusable ke View, dalam deklarasi layout Anda.
+Atur nilai true. Anda juga bisa mendeklarasikan View
+sebagai dapat difokus saat dalam Mode Sentuh dengan android:focusableInTouchMode.
Untuk meminta View tertentu difokus, panggil {@link android.view.View#requestFocus()}.
Untuk mendengarkan kejadian fokus (diberi tahu bila View menerima atau kehilangan fokus), gunakan
+{@link android.view.View.OnFocusChangeListener#onFocusChange(View,boolean) onFocusChange()}
+, seperti yang dibahas di bagian Event Listener, di atas.
Android N berjalan dalam mode Direct Boot yang aman +bila perangkat telah dihidupkan namun pengguna tidak membuka +kunci perangkat. Untuk mendukung hal ini, sistem menyediakan dua lokasi penyimpanan untuk data:
+ +Secara default, aplikasi tidak berjalan selama mode Direct Boot. +Jika aplikasi Anda perlu melakukan tindakan selama mode Direct Boot, Anda bisa mendaftarkan +komponen aplikasi yang harus dijalankan selama mode ini. Beberapa kasus penggunaan umum +untuk aplikasi yang perlu dijalankan selama mode Direct Boot antara lain:
+ +Jika aplikasi Anda perlu mengakses data saat dijalankan dalam mode Direct Boot, gunakan +penyimpanan yang dienkripsi dengan perangkat. Penyimpanan yang dienkripsi dengan perangkat berisi data +yang dienkripsi dengan kunci yang hanya tersedia setelah perangkat melakukan +booting yang berhasil diverifikasi.
+ +Untuk data yang harus dienkripsi dengan kunci yang dikaitkan dengan kredensial +pengguna, seperti PIN atau kata sandi, gunakan penyimpanan yang dienkripsi dengan kredensial. +Penyimpanan yang dienkripsi dengan kredensial hanya tersedia setelah pengguna berhasil +membuka kunci perangkat, hingga saat pengguna menghidupkan ulang perangkat lagi. Jika +pengguna mengaktifkan layar kunci setelah membuka kunci perangkat, hal ini tidak akan mengunci +penyimpanan yang dienkripsi dengan kredensial.
+ +Aplikasi harus mendaftarkan komponennya pada sistem agar
+bisa berjalan selama mode Direct Boot atau mengakses
+penyimpanan yang dienkripsi dengan perangkat. Aplikasi mendaftar pada sistem dengan menandai komponen sebagai
+peka enkripsi. Untuk menandai komponen Anda sebagai peka enkripsi, setel atribut
+android:directBootAware ke true dalam manifes Anda.
+ +
Komponen yang peka enkripsi bisa mendaftar untuk menerima pesan siaran
+LOCKED_BOOT_COMPLETED dari
+sistem bila perangkat telah dihidupkan ulang. Pada tahap ini
+penyimpanan yang dienkripsi dengan perangkat akan tersedia, dan komponen Anda bisa mengeksekusi tugas-tugas yang perlu
+dijalankan selama mode Direct Boot, seperti memicu alarm yang terjadwal.
Cuplikan kode berikut adalah contoh cara mendaftarkan
+{@link android.content.BroadcastReceiver} sebagai peka enkripsi, dan menambahkan sebuah
+filter intent untuk LOCKED_BOOT_COMPLETED, dalam manifes aplikasi:
+<receiver + android:directBootAware="true" > + ... + <intent-filter> + <action android:name="android.intent.action.LOCKED_BOOT_COMPLETED" /> + </intent-filter> +</receiver> ++ +
Setelah pengguna membuka kunci perangkat, semua komponen bisa mengakses +penyimpanan yang dienkripsi dengan perangkat serta penyimpanan yang dienkripsi dengan kredensial.
+ +Untuk mengakses penyimpanan yang dienkripsi dengan perangkat, buat instance
+{@link android.content.Context} kedua dengan memanggil
+Context.createDeviceProtectedStorageContext(). Semua panggilan
+API penyimpanan yang dibuat menggunakan konteks ini mengakses penyimpanan yang dienkripsi dengan perangkat. Contoh
+berikut mengakses penyimpanan yang dienkripsi dengan perangkat dan membuka file data aplikasi
+yang ada:
+Context directBootContext = appContext.createDeviceProtectedStorageContext(); +// Access appDataFilename that lives in device encrypted storage +FileInputStream inStream = directBootContext.openFileInput(appDataFilename); +// Use inStream to read content... ++ +
Gunakan penyimpanan yang dienkripsi dengan perangkat hanya untuk +informasi yang harus bisa diakses selama mode Direct Boot. +Jangan gunakan penyimpanan yang dienkripsi dengan perangkat sebagai penyimpanan terenkripsi serba guna. +Untuk informasi pengguna yang bersifat pribadi, atau data terenkripsi yang tidak diperlukan selama +mode Direct Boot, gunakan penyimpanan yang dienkripsi dengan kredensial.
+ +Setelah pengguna membuka kunci perangkat setelah restart, aplikasi Anda bisa beralih untuk +mengakses penyimpanan yang dienkripsi dengan kredensial dan menggunakan layanan sistem biasa yang +bergantung pada kredensial pengguna.
+ +Agar diberi tahu bila pengguna membuka kunci perangkat setelah boot ulang,
+daftarkan {@link android.content.BroadcastReceiver} dari komponen yang berjalan
+untuk mendengarkan pesan ACTION_USER_UNLOCKED. Atau, Anda bisa
+menerima pesan {@link android.content.Intent#ACTION_BOOT_COMPLETED
+ACTION_BOOT_COMPLETED} yang ada, yang sekarang menunjukkan bahwa perangkat telah dihidupkan dan
+pengguna telah membuka kunci perangkat.
Anda bisa langsung kueri apakah pengguna telah membuka kunci perangkat dengan memanggil
+UserManager.isUserUnlocked().
Jika pengguna memperbarui perangkat mereka untuk menggunakan mode Direct Boot,
+data Anda yang ada mungkin perlu dipindahkan ke penyimpanan yang dienkripsi dengan perangkat. Gunakan
+Context.moveSharedPreferencesFrom() dan
+Context.moveDatabaseFrom() untuk memindahkan data preferensi dan
+basis data antara penyimpanan yang dienkripsi dengan kredensial dan penyimpanan yang dienkripsi dengan perangkat.
Pertimbangkan dengan baik saat memutuskan data apa yang akan dipindahkan dari +penyimpanan yang dienkripsi dengan kredensial ke penyimpanan yang dienkripsi dengan perangkat. Anda sebaiknya tidak memindahkan +informasi pengguna yang bersifat rahasia, seperti kata sandi atau token otorisasi, ke +penyimpanan yang dienkripsi dengan perangkat. Dalam beberapa skenario, Anda mungkin perlu mengelola +set data terpisah pada dua tempat penyimpanan yang dienkripsi.
+ +Uji aplikasi peka enkripsi Anda menggunakan mode Direct Boot baru. Ada +dua cara untuk mengaktifkan Direct Boot.
+ +Perhatian: Mengaktifkan Direct Boot +akan menghapus semua data pengguna pada perangkat.
+ +Pada perangkat yang didukung dengan Android N terpasang, aktifkan +Direct Boot dengan melakukan salah satu hal berikut:
+ ++$ adb reboot-bootloader +$ fastboot --wipe-and-use-fbe ++
Mode emulasi Direct Boot juga tersedia, jika Anda perlu mengganti +mode pada perangkat pengujian. Mode emulasi sebaiknya hanya digunakan selama +pengembangan dan bisa menyebabkan kehilangan data. Untuk mengaktifkan mode emulasi Direct Boot, +setel pola kunci pada perangkat, pilih "No thanks" jika ditanya mengenai +layar start-up aman saat menetapkan pola kunci, kemudian gunakan +perintah shell adb berikut:
+ ++$ adb shell sm set-emulate-fbe true ++ +
Untuk menonaktifkan mode emulasi Direct Boot, gunakan perintah berikut:
+ ++$ adb shell sm set-emulate-fbe false ++ +
Menggunakan perintah ini akan menyebabkan perangkat melakukan boot ulang.
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/training/articles/scoped-directory-access.jd b/docs/html-intl/intl/id/training/articles/scoped-directory-access.jd new file mode 100644 index 0000000000000..30aed6fbb2a46 --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/training/articles/scoped-directory-access.jd @@ -0,0 +1,148 @@ +page.title=Scoped Directory Access +page.keywords=pratinjau,sdk,scoped directory access +page.tags=androidn + +@jd:body + +Aplikasi seperti aplikasi foto biasanya hanya memerlukan akses ke direktori tertentu dalam
+penyimpanan eksternal, seperti direktori Pictures. Pendekatan
+yang ada dalam mengakses penyimpanan eksternal tidak didesain untuk memberi kemudahan
+akses direktori tertarget untuk tipe aplikasi ini. Misalnya:
Android N menyediakan API baru yang disederhanakan untuk mengakses +direktori penyimpanan eksternal umum.
+ +Gunakan kelas StorageManager untuk mendapatkan instance
+StorageVolume yang tepat. Kemudian, buat intent dengan memanggil metode
+StorageVolume.createAccessIntent() dari instance itu.
+Gunakan intent ini untuk mengakses direktori penyimpanan eksternal. Untuk mendapatkan daftar
+semua volume yang tersedia, termasuk volume media lepas-pasang, gunakan
+StorageManager.getVolumesList().
Jika Anda memiliki informasi tentang file spesifik, gunakan
+StorageManager.getStorageVolume(File) untuk mendapatkan
+StorageVolume yang berisi file tersebut. Panggil
+createAccessIntent() pada StorageVolume ini untuk mengakses
+direktori penyimpanan eksternal untuk file tersebut.
+Di volume kedua, seperti kartu SD eksternal, teruskan null saat memanggil
+StorageVolume.createAccessIntent() untuk meminta akses ke seluruh
+volume, sebagai ganti direktori spesifik.
+StorageVolume.createAccessIntent() akan mengembalikan null jika Anda meneruskan
+null ke volume utama, atau jika Anda meneruskan nama direktori yang tidak valid.
+
Cuplikan kode berikut adalah contoh cara membuka direktori
+Pictures dalam penyimpanan bersama utama:
+StorageManager sm = (StorageManager)getSystemService(Context.STORAGE_SERVICE); +StorageVolume volume = sm.getPrimaryVolume(); +Intent intent = volume.createAccessIntent(Environment.DIRECTORY_PICTURES); +startActivityForResult(intent, request_code); ++ +
Sistem ini mencoba untuk memberikan akses ke direktori eksternal, dan jika +diperlukan mengonfirmasi akses dengan pengguna menggunakan UI yang disederhanakan:
+ +
+Gambar 1. Sebuah aplikasi yang meminta +akses ke direktori Pictures.
+ +Jika pengguna memberi akses, sistem akan memanggil penggantian
+onActivityResult() Anda dengan kode hasil
+Activity.RESULT_OK, dan data intent yang berisi URI. Gunakan
+URI yang disediakan untuk mengakses informasi direktori, serupa dengan menggunakan URI
+yang dikembalikan oleh
+Storage
+Access Framework.
Jika pengguna tidak memberi akses, sistem akan memanggil penggantian
+onActivityResult() Anda dengan kode hasil
+Activity.RESULT_CANCELED, dan data intent nol.
Catatan: Mendapatkan akses ke direktori eksternal tertentu +juga akan memperoleh akses ke subdirektori dalam direktori tersebut.
+ +Untuk menggunakan Scoped Directory Access guna mengakses direktori pada media lepas-pasang, +pertama tambahkan {@link android.content.BroadcastReceiver} yang akan mendengarkan pemberitahuan +{@link android.os.Environment#MEDIA_MOUNTED}, misalnya:
+ ++<receiver + android:name=".MediaMountedReceiver" + android:enabled="true" + android:exported="true" > + <intent-filter> + <action android:name="android.intent.action.MEDIA_MOUNTED" /> + <data android:scheme="file" /> + </intent-filter> +</receiver> ++ +
Bila pengguna memasang media lepas-pasang, seperti kartu SD, sistem akan mengirimkan pemberitahuan
+{@link android.os.Environment#MEDIA_MOUNTED}. Pemberitahuan ini
+memberikan sebuah objek StorageVolume dalam data intent yang bisa
+Anda gunakan untuk mengakses direktori pada media lepas-pasang. Contoh berikut
+mengakses direktori Pictures pada media lepas-pasang:
+// BroadcastReceiver has already cached the MEDIA_MOUNTED +// notification Intent in mediaMountedIntent +StorageVolume volume = (StorageVolume) + mediaMountedIntent.getParcelableExtra(StorageVolume.EXTRA_STORAGE_VOLUME); +volume.createAccessIntent(Environment.DIRECTORY_PICTURES); +startActivityForResult(intent, request_code); ++ +
Bila memungkinkan, pertahankan URI akses direktori eksternal sehingga Anda tidak perlu
+berulang kali meminta akses ke pengguna. Setelah pengguna memberikan akses, panggil
+getContentResolver().takePersistableUriPermssion() bersama
+URI akses direktori. Sistem akan mempertahankan URI dan permintaan
+akses berikutnya akan mengembalikan RESULT_OK dan tidak menampilkan UI konfirmasi kepada
+pengguna.
Jika pengguna menolak akses ke direktori eksternal, jangan langsung +meminta akses lagi. Berulang kali meminta akses akan menghasilkan pengalaman +pengguna yang buruk. Jika permintaan ditolak oleh pengguna, dan aplikasi meminta akses +lagi, UI akan menampilkan kotak centang Don't ask again:
+ +
+Gambar 1. Sebuah aplikasi membuat +permintaan kedua untuk mengakses media lepas-pasang.
+ +Jika pengguna memilih Don't ask again dan menolak permintaan, +semua permintaan berikutnya untuk direktori yang diberikan dari aplikasi +Anda secara otomatis akan ditolak, dan tidak ada UI permintaan yang akan ditampilkan ke pengguna.
\ No newline at end of file diff --git a/docs/html-intl/intl/id/training/articles/security-config.jd b/docs/html-intl/intl/id/training/articles/security-config.jd new file mode 100644 index 0000000000000..e13429dec04e4 --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/training/articles/security-config.jd @@ -0,0 +1,747 @@ +page.title=Konfigurasi Keamanan Jaringan +page.keywords=androidn,keamanan,jaringan +page.image=images/cards/card-nyc_2x.jpg + +@jd:body + ++ Android N menyertakan fitur + Network Security Configuration yang memungkinkan aplikasi menyesuaikan setelan keamanan jaringan mereka dalam + file konfigurasi deklaratif yang aman tanpa memodifikasi kode aplikasi. Setelan ini bisa + dikonfigurasi untuk domain dan aplikasi tertentu. Kemampuan + utama fitur ini adalah sebagai berikut: +
+ ++ Fitur Network Security Configuration menggunakan file XML tempat Anda menetapkan + setelan untuk aplikasi. Anda harus menyertakan sebuah entri dalam manifes aplikasi + untuk menunjuk ke file ini. Kutipan kode berikut dari sebuah manifes + yang memperagakan cara membuat entri ini: +
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<manifest ... > + <application ... > + <meta-data android:name="android.security.net.config" + android:resource="@xml/network_security_config" /> + ... + </application> +</manifest> ++ +
+ Aplikasi mungkin perlu mempercayai set CA khusus sebagai ganti default + platform. Alasannya yang paling umum adalah: +
+ ++ Secara default koneksi (mis. TLS, HTTPS) aman dari semua aplikasi mempercayai + CA yang telah dipasang oleh sistem, dan aplikasi yang menargetkan API level 23 + (Android M) ke bawah, juga mempercayai penyimpanan CA yang ditambahkan pengguna secara default. Aplikasi + bisa menyesuaikan koneksinya menggunakan {@code base-config} (untuk + penyesuaian lebar-aplikasi) atau {@code domain-config} (untuk penyesuaian + per-domain). +
+ + ++ Anggaplah Anda ingin menghubungkan ke host Anda yang menggunakan sertifikat + SSL yang ditandatangani sendiri atau ke host yang sertifikat SSL-nya dikeluarkan oleh CA non-publik + yang Anda percaya, seperti CA internal perusahaan Anda. +
+ +
+ res/xml/network_security_config.xml:
+
+<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<network-security-config> + <domain-config> + <domain includeSubdomains="true">example.com</domain> + <trust-anchors> + <certificates src="@raw/my_ca"/> + </trust-anchors> + </domain-config> +</network-security-config> ++ + +
+ Menambahkan sertifikat CA yang ditandatangani sendiri atau sertifikat CA non-publik, dalam format PEM atau DER, ke + {@code res/raw/my_ca}. +
+ + ++ Aplikasi yang tidak ingin mempercayai semua CA yang dipercaya oleh sistem + sebagai gantinya bisa menetapkan set CA sendiri yang telah dikurangi untuk dipercaya. Ini akan melindungi + aplikasi dari sertifikat palsu yang dikeluarkan oleh selain CA. +
+ ++ Konfigurasi untuk membatasi set CA tepercaya mirip dengan mempercayai CA khusus untuk domain tertentu selain + beberapa CA disediakan dalam sumber daya. +
+ +
+res/xml/network_security_config.xml:
+
+<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<network-security-config> + <domain-config> + <domain includeSubdomains="true">secure.example.com</domain> + <domain includeSubdomains="true">cdn.example.com</domain> + <trust-anchors> + <certificates src="@raw/trusted_roots"/> + </trust-anchors> + </domain-config> +</network-security-config> ++ + +
+ Menambahkan CA tepercaya, dalam format PEM atau DER, ke {@code res/raw/trusted_roots}.
+ Perhatikan, jika menggunakan format PEM, file hanya boleh berisi data PEM
+ dan tidak ada teks tambahan. Anda juga bisa menyediakan beberapa elemen
+ <certificates>
+sebagai ganti satu elemen.
+
+ Sebuah aplikasi mungkin perlu mempercayai CA tambahan yang tidak dipercaya oleh sistem, + hal ini bisa disebabkan karena sistem belum menyertakan CA atau CA tidak + memenuhi persyaratan untuk memasukkan ke dalam sistem Android. Aplikasi + bisa melakukannya dengan menetapkan beberapa sumber sertifikat untuk + konfigurasi. +
+
+res/xml/network_security_config.xml:
+
+<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<network-security-config> + <base-config> + <trust-anchors> + <certificates src="@raw/extracas"/> + <certificates src="system"/> + </trust-anchors> + </base-config> +</network-security-config> ++ + + +
+ Saat men-debug aplikasi yang terhubung melalui HTTPS, Anda mungkin perlu + menghubungkan ke server pengembangan lokal, yang tidak memiliki sertifikat + SSL untuk server produksi Anda. Untuk mendukungnya tanpa + memodifikasi kode aplikasi, Anda bisa menetapkan CA hanya-debug + yang hanya dipercaya bila +android:debuggable + adalah {@code true} dengan menggunakan {@code debug-overrides}. Biasanya IDE dan alat + build menyetel flag ini secara otomatis untuk build non-rilis. +
+ ++ Ini lebih aman daripada kode kondisional biasa karena, sebagai tindakan + pencegahan keamanan, toko aplikasi tidak menerima aplikasi yang ditandai + bisa-di-debug. +
+ +
+res/xml/network_security_config.xml:
+
+<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<network-security-config> + <debug-overrides> + <trust-anchors> + <certificates src="@raw/debug_cas"/> + </trust-anchors> + </debug-overrides> +</network-security-config> ++ + + +
+ Aplikasi bermaksud menyambung ke tujuan hanya menggunakan koneksi + aman dapat memilih keluar dari dukungan cleartext (menggunakan protokol + HTTP yang tidak terenkripsi sebagai ganti HTTPS) ke tujuan tersebut. Opsi ini akan membantu mencegah + regresi tidak disengaja dalam aplikasi karena perubahan dalam URL yang disediakan oleh sumber-sumber + eksternal seperti server backend. + Lihat {@link android.security.NetworkSecurityPolicy#isCleartextTrafficPermitted + NetworkSecurityPolicy.isCleartextTrafficPermitted()} untuk detail selengkapnya. +
+ ++ Misalnya, aplikasi mungkin ingin memastikan semua koneksi ke {@code + secure.example.com} selalu dilakukan melalui HTTPS untuk melindungi lalu lintas sensitif + dari jaringan yang berbahaya. +
+ +
+res/xml/network_security_config.xml:
+
+<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<network-security-config> + <domain-config usesCleartextTraffic="false"> + <domain includeSubdomains="true">secure.example.com</domain> + </domain-config> +</network-security-config> ++ + + +
+ Biasanya aplikasi mempercayai semua CA yang telah terpasang. Jika salah satu dari CA ini + mengeluarkan sertifikat palsu, aplikasi akan berisiko terkena serangan + MiTM. Beberapa aplikasi memilih untuk membatasi set sertifikat yang mereka terima + baik dengan membatasi set CA yang mereka percaya atau dengan menyematkan sertifikat. +
+ ++ Penyematan sertifikat dilakukan dengan memberikan seperangkat sertifikat dengan hash + kunci publik (SubjectPublicKeyInfo pada sertifikat X.509). Rantai + sertifikat nanti hanya berlaku jika rantai sertifikat berisi setidaknya salah satu + dari kunci publik yang disematkan. +
+ ++ Perhatikan, saat menggunakan penyematan sertifikat, Anda harus selalu menyertakan kunci + cadangan sehingga jika Anda terpaksa beralih ke kunci baru, atau mengubah CA (saat + menyematkan ke sertifikat CA atau perantara CA tersebut), konektivitas + aplikasi Anda tidak terpengaruh. Jika tidak, Anda harus mendorong + pembaruan ke aplikasi tersebut untuk memulihkan konektivitas. +
+ ++ Selain itu dimungkinkan juga menyetel waktu habis masa berlaku untuk pin setelah + penyematan tidak dilakukan. Hal ini membantu mencegah masalah konektivitas dalam + aplikasi yang belum diperbarui. Akan tetapi, menyetel waktu kedaluwarsa + pada pin mungkin akan membuat penyematan bisa diabaikan. +
+ +
+res/xml/network_security_config.xml:
+
+<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<network-security-config> + <domain-config> + <domain includeSubdomains="true">example.com</domain> + <pin-set expiration="2018-01-01"> + <pin digest="SHA-256">7HIpactkIAq2Y49orFOOQKurWxmmSFZhBCoQYcRhJ3Y=</pin> + <!-- backup pin --> + <pin digest="SHA-256">fwza0LRMXouZHRC8Ei+4PyuldPDcf3UKgO/04cDM1oE=</pin> + </pin-set> + </domain-config> +</network-security-config> ++ + + +
+ Nilai yang tidak disetel dalam konfigurasi tertentu akan diwariskan. Perilaku ini memungkinkan konfigurasi + yang lebih kompleks sambil menjaga file konfigurasi tetap terbaca. +
+ ++ Jika nilai tidak disetel dalam entri tertentu maka nilai dari entri berikutnya yang lebih + umum akan digunakan. Nilai yang tidak disetel dalam {@code domain-config} akan + diambil dari {@code domain-config} induk, jika tersarang, atau dari {@code + base-config} jika tidak. Nilai yang tidak disetel dalam {@code base-config} akan menggunakan + nilai default platform. +
+ ++ Misalnya pertimbangkan, bila semua koneksi ke subdomain {@code + example.com} harus menggunakan set CA khusus. Selain itu, lalu lintas cleartext ke + domain ini diizinkan kecuali saat menghubungkan ke {@code + secure.example.com}. Dengan menyarangkan konfigurasi untuk {@code + secure.example.com} dalam konfigurasi untuk {@code example.com}, + {@code trust-anchors} tidak perlu digandakan. +
+ +
+res/xml/network_security_config.xml:
+
+<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<network-security-config> + <domain-config> + <domain includeSubdomains="true">example.com</domain> + <trust-anchors> + <certificates src="@raw/my_ca"/> + </trust-anchors> + <domain-config cleartextTrafficPermitted="false"> + <domain includeSubdomains="true">secure.example.com</domain> + </domain-config> + </domain-config> +</network-security-config> ++ + + +
+ Fitur Network Security Configuration menggunakan format file XML. + Struktur keseluruhan file ditampilkan dalam contoh kode berikut: +
+ ++<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> +<network-security-config> + <base-config> + <trust-anchors> + <certificates src="..."/> + ... + </trust-anchors> + </base-config> + + <domain-config> + <domain>android.com</domain> + ... + <trust-anchors> + <certificates src="..."/> + ... + </trust-anchors> + <pin-set> + <pin digest="...">...</pin> + ... + </pin-set> + </domain-config> + ... + <debug-overrides> + <trust-anchors> + <certificates src="..."/> + ... + </trust-anchors> + </debug-overrides> +</network-security-config> ++ +
+ Bagian berikut menjelaskan sintaks dan detail lainnya dari format + file. +
+ +<base-config><domain-config><debug-overrides>
+ +<base-config usesCleartextTraffic=["true" | "false"]> + ... +</base-config> ++
<trust-anchors>
+ domain-config.
+
++ Nilai yang tidak disetel akan menggunakan nilai default platform. Konfigurasi + default untuk aplikasi yang menargetkan API level 24 ke atas: +
+ ++<base-config usesCleartextTraffic="true"> + <trust-anchors> + <certificates src="system" /> + </trust-anchors> +</base-config> ++Konfigurasi default untuk aplikasi yang menargetkan API level 23 ke bawah: +
+<base-config usesCleartextTraffic="true"> + <trust-anchors> + <certificates src="system" /> + <certificates src="user" /> + </trust-anchors> +</base-config> ++ +
<domain-config usesCleartextTraffic=["true" | "false"]> + ... +</domain-config>+
<domain>
+<trust-anchors>
+<pin-set>
+<domain-config> tersarangPerhatikan, jika beberapa elemen {@code domain-config} mencakup suatu tujuan, konfigurasi dengan aturan domain paling spesifik (terpanjang) yang cocok +akan digunakan.
+<domain includeSubdomains=["true" | "false"]>example.com</domain> ++
+<debug-overrides> + ... +</debug-overrides> ++
<trust-anchors>
+ +<trust-anchors> +... +</trust-anchors> ++
<certificates>
+ <certificates src=["system" | "user" | "raw resource"] + overridePins=["true" | "false"] /> +
+ Menetapkan apakah CA dari sumber akan mengabaikan penyematan sertifikat. Jika {@code + "true"} kemudian rangkaian sertifikat melalui salah satu CA dari + sumber ini maka tidak dilakukan penyematan. Hal ini bisa berguna untuk debug CA + atau untuk mendukung dengan memungkinkan pengguna melakukan MiTM atas lalu lintas aman aplikasi Anda. +
+ ++ Default-nya adalah {@code "false"} kecuali jika ditetapkan dalam elemen {@code debug-overrides}, + dalam hal demikian default-nya adalah {@code "true"}. +
++<pin-set expiration="date"> +... +</pin-set> ++
<pin>
+ <pin> untuk mengetahui format pin.
+ + Tanggal kedaluwarsa membantu mencegah masalah konektivitas di aplikasi yang + tidak mengambil pembaruan untuk set pin mereka, misalnya karena pengguna + menonaktifkan pembaruan aplikasi. +
++<pin digest=["SHA-256"]>base64 encoded digest of X.509 + SubjectPublicKeyInfo (SPKI)</pin> ++
+ Selama penggunaan ponsel cerdas, biaya paket data seluler bisa saja + melebihi harga perangkat itu sendiri. Di N Developer Preview, pengguna bisa + mengaktifkan Data Saver berdasarkan lingkup perangkat untuk menghemat data, baik saat + roaming, mendekati akhir siklus penagihan, atau pada paket data prabayar kecil. +
+ ++ Bila pengguna mengaktifkan Data Saver di Settings dan perangkat + berada dalam jaringan berkuota, sistem akan memblokir penggunaan data latar belakang dan memberi tahu + aplikasi untuk menghemat penggunaan data latar depan bila memungkinkan. Pengguna bisa + memasukkan aplikasi tertentu ke daftar putih untuk memungkinkan penggunaan data berkuota bila Data + Saver diaktifkan. +
+ ++ N Developer Preview memperluas {@link android.net.ConnectivityManager} + API untuk menyediakan cara pada aplikasi untuk menerima preferensi Data Saver + pengguna dan memantau perubahan + preferensi. Hal ini dianggap praktik terbaik bagi aplikasi untuk memeriksa apakah + pengguna telah mengaktifkan DataSaver dan berusaha membatasi penggunaan data latar depan dan + data latar belakang. +
+ ++ Di N Developer Preview, aplikasi bisa menggunakan {@link + android.net.ConnectivityManager} API untuk menentukan pembatasan penggunaan data + apa yang sedang diterapkan. Metode {@code getRestrictBackgroundStatus()} + akan mengembalikan salah satu dari nilai berikut: +
+ ++ Hal ini dianggap praktik terbaik untuk membatasi penggunaan data bila perangkat + terhubung ke jaringan berkuota, meskipun Data Saver telah dinonaktifkan atau aplikasi + telah dimasukkan dalam daftar putih. Kode contoh berikut menggunakan {@link + android.net.ConnectivityManager#isActiveNetworkMetered + ConnectivityManager.isActiveNetworkMetered()} dan {@code + ConnectivityManager.getRestrictBackgroundStatus()} untuk menentukan berapa banyak data + yang harus digunakan aplikasi: +
+ +
+ConnectivityManager connMgr = (ConnectivityManager)
+ getSystemService(Context.CONNECTIVITY_SERVICE);
+// Checks if the device is on a metered network
+if (connMgr.isActiveNetworkMetered()) {
+ // Checks user’s Data Saver settings.
+ switch (connMgr.getRestrictBackgroundStatus()) {
+ case RESTRICT_BACKGROUND_STATUS_ENABLED:
+ // Background data usage is blocked for this app. Wherever possible,
+ // the app should also use less data in the foreground.
+
+ case RESTRICT_BACKGROUND_STATUS_WHITELISTED:
+ // The app is whitelisted. Wherever possible,
+ // the app should use less data in the foreground and background.
+
+ case RESTRICT_BACKGROUND_STATUS_DISABLED:
+ // Data Saver is disabled. Since the device is connected to a
+ // metered network, the app should use less data wherever possible.
+ }
+} else {
+ // The device is not on a metered network.
+ // Use data as required to perform syncs, downloads, and updates.
+}
+
+
+
+ Jika aplikasi Anda perlu menggunakan data di latar belakang, aplikasi bisa meminta izin
+ daftar putih dengan mengirim
+ Settings.ACTION_IGNORE_BACKGROUND_DATA_RESTRICTIONS_SETTINGS
+ yang mengandung URI dari nama paket aplikasi Anda: misalnya,
+ package:MY_APP_ID.
+
+ Mengirim intent dan URI akan membuka aplikasi Settings dan + menampilkan setelan penggunaan data untuk aplikasi Anda. Pengguna nanti bisa memutuskan apakah akan + mengaktifkan data latar belakang untuk aplikasi Anda. Sebelum Anda mengirim intent ini, sebaiknya + tanyakan kepada pengguna terlebih dahulu apakah mereka ingin membuka aplikasi + Settings untuk keperluan mengaktifkan penggunaan + data latar belakang. +
+ ++ Aplikasi bisa memantau perubahan pada preferensi Data Saver dengan membuat {@link + android.content.BroadcastReceiver} untuk memantau {@code + ConnectivityManager.ACTION_RESTRICT_BACKGROUND_CHANGED} dan secara dinamis + mendaftarkan penerima pada {@link android.content.Context#registerReceiver + Context.registerReceiver()}. Bila menerima siaran ini, aplikasi harus + memeriksa apakah preferensi Data Saver baru memengaruhi + izinnya dengan memanggil {@code + ConnectivityManager.getRestrictBackgroundStatus()}. +
+ ++ Catatan: Sistem hanya mengirim siaran ini ke aplikasi yang + secara dinamis mendaftar padanya dengan {@link + android.content.Context#registerReceiver Context.registerReceiver()}. Aplikasi + yang mendaftar untuk menerima siaran ini dalam manifes mereka + tidak akan menerimanya. +
+ +$ adb shell dumpsys netpolicy
+ $ adb shell cmd netpolicy
+ $ adb shell cmd netpolicy set restrict-background
+ <boolean>
+ true atau
+ false, masing-masing.
+ $ adb shell cmd netpolicy add restrict-background-whitelist
+ <UID>
+ $ adb shell cmd netpolicy remove restrict-background-whitelist
+ <UID>
+ Animasi dalam desain bahan memberi pengguna umpan balik tentang tindakannya dan menyediakan +kesinambungan visual saat pengguna berinteraksi dengan aplikasi Anda. Tema bahan menyediakan beberapa animasi default +untuk tombol dan transisi aktivitas, dan Android 5.0 (API level 21) ke atas memungkinkan Anda menyesuaikan +animasi ini dan membuat yang baru:
+ +Umpan balik sentuh dalam desain bahan menyediakan konfirmasi visual seketika pada +titik kontak bila pengguna berinteraksi dengan elemen UI. Animasi umpan balik sentuh default +untuk tombol menggunakan kelas {@link android.graphics.drawable.RippleDrawable} baru, yang bertransisi +di antara berbagai status dengan efek riak.
+ +Di sebagian besar kasus, Anda harus menerapkan fungsionalitas ini dalam XML tampilan dengan menetapkan +latar belakang tampilan sebagai:
+ +?android:attr/selectableItemBackground untuk riak berbatas.?android:attr/selectableItemBackgroundBorderless untuk riak yang meluas ke luar
+tampilan. Latar belakang ini akan digambar di atas, dan dibatasi oleh, induk tampilan terdekat dengan
+latar belakang non-null.Catatan: selectableItemBackgroundBorderless adalah
+atribut baru yang diperkenalkan di API level 21.
Atau, Anda bisa mendefinisikan {@link android.graphics.drawable.RippleDrawable}
+sebagai sumber daya XML dengan menggunakan elemen ripple.
Anda bisa menetapkan warna ke objek-objek {@link android.graphics.drawable.RippleDrawable}. Untuk mengubah
+warna default umpan balik sentuh, gunakan atribut android:colorControlHighlight
+tema.
Untuk informasi selengkapnya, lihat referensi API bagi kelas {@link +android.graphics.drawable.RippleDrawable}.
+ + +Animasi singkap memberi pengguna kesinambungan visual saat menampilkan atau menyembunyikan sekelompok +elemen UI. Metode {@link android.view.ViewAnimationUtils#createCircularReveal +ViewAnimationUtils.createCircularReveal()} memungkinkan Anda menganimasikan lingkaran terpangkas +untuk memperlihatkan atau menyembunyikan tampilan.
+ +Untuk memperlihatkan tampilan yang sebelumnya tidak terlihat dengan menggunakan efek ini:
+ ++// previously invisible view +View myView = findViewById(R.id.my_view); + +// get the center for the clipping circle +int cx = (myView.getLeft() + myView.getRight()) / 2; +int cy = (myView.getTop() + myView.getBottom()) / 2; + +// get the final radius for the clipping circle +int finalRadius = Math.max(myView.getWidth(), myView.getHeight()); + +// create the animator for this view (the start radius is zero) +Animator anim = + ViewAnimationUtils.createCircularReveal(myView, cx, cy, 0, finalRadius); + +// make the view visible and start the animation +myView.setVisibility(View.VISIBLE); +anim.start(); ++ +
Untuk menyembunyikan sebuah tampilan yang sebelumnya terlihat dengan menggunakan efek ini:
+ +
+// previously visible view
+final View myView = findViewById(R.id.my_view);
+
+// get the center for the clipping circle
+int cx = (myView.getLeft() + myView.getRight()) / 2;
+int cy = (myView.getTop() + myView.getBottom()) / 2;
+
+// get the initial radius for the clipping circle
+int initialRadius = myView.getWidth();
+
+// create the animation (the final radius is zero)
+Animator anim =
+ ViewAnimationUtils.createCircularReveal(myView, cx, cy, initialRadius, 0);
+
+// make the view invisible when the animation is done
+anim.addListener(new AnimatorListenerAdapter() {
+ @Override
+ public void onAnimationEnd(Animator animation) {
+ super.onAnimationEnd(animation);
+ myView.setVisibility(View.INVISIBLE);
+ }
+});
+
+// start the animation
+anim.start();
+
+
+
+Gambar 1 - Transisi + dengan elemen bersama.
+ Untuk memutar ulang film, klik layar perangkat +Transisi aktivitas dalam aplikasi desain bahan memberikan koneksi visual antar berbagai status +melalui gerakan dan transformasi di antara elemen umum. Anda bisa menetapkan animasi custom untuk +masuk ke dan keluar dari transisi dan untuk transisi elemen bersama di antara aktivitas.
+ +Android 5.0 (API level 21) mendukung transisi masuk dan transisi keluar ini:
+ +Transisi apa pun yang memperluas kelas {@link android.transition.Visibility} didukung +sebagai transisi masuk atau transisi keluar. Untuk informasi selengkapnya, lihat referensi API untuk kelas +{@link android.transition.Transition}.
+ +Android 5.0 (API level 21) juga mendukung transisi elemen bersama ini:
+ +Bila Anda mengaktifkan transisi aktivitas dalam aplikasi, transisi memudar-silang default akan +diaktifkan di antara aktivitas masuk dan aktivitas keluar.
+ +
++Â Gambar 2 - Transisi babak dengan satu elemen bersama. +
+ +Pertama, aktifkan transisi konten jendela dengan atribut android:windowContentTransitions
+bila Anda mendefinisikan gaya yang mewarisi tema bahan. Anda juga bisa menetapkan
+transisi-transisi masuk, keluar, dan elemen bersama dalam definisi gaya:
+<style name="BaseAppTheme" parent="android:Theme.Material"> + <!-- enable window content transitions --> + <item name="android:windowContentTransitions">true</item> + + <!-- specify enter and exit transitions --> + <item name="android:windowEnterTransition">@transition/explode</item> + <item name="android:windowExitTransition">@transition/explode</item> + + <!-- specify shared element transitions --> + <item name="android:windowSharedElementEnterTransition"> + @transition/change_image_transform</item> + <item name="android:windowSharedElementExitTransition"> + @transition/change_image_transform</item> +</style> ++ +
Transisi change_image_transform dalam contoh ini didefinisikan sebagai berikut:
+<!-- res/transition/change_image_transform.xml --> +<!-- (see also Shared Transitions below) --> +<transitionSet xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"> + <changeImageTransform/> +</transitionSet> ++ +
Elemen changeImageTransform menunjukkan
+kelas {@link android.transition.ChangeImageTransform}. Untuk informasi selengkapnya, lihat referensi
+API untuk {@link android.transition.Transition}.
Sebaliknya, untuk mengaktifkan transisi konten jendela dalam kode Anda, panggil +metode {@link android.view.Window#requestFeature Window.requestFeature()}:
+ ++// inside your activity (if you did not enable transitions in your theme) +getWindow().requestFeature(Window.FEATURE_CONTENT_TRANSITIONS); + +// set an exit transition +getWindow().setExitTransition(new Explode()); ++ +
Untuk menetapkan transisi dalam kode Anda, panggil metode-metode ini dengan objek {@link +android.transition.Transition}:
+ +Metode {@link android.view.Window#setExitTransition setExitTransition()} dan {@link +android.view.Window#setSharedElementExitTransition setSharedElementExitTransition()} mendefinisikan +transisi keluar untuk aktivitas yang memanggil. Metode {@link android.view.Window#setEnterTransition +setEnterTransition()} dan {@link android.view.Window#setSharedElementEnterTransition +setSharedElementEnterTransition()} mendefinisikan transisi masuk untuk aktivitas yang dipanggil.
+ +Untuk mendapatkan efek penuh sebuah transisi, Anda harus mengaktifkan transisi konten jendela pada +aktivitas yang memanggil maupun aktivitas yang dipanggil. Jika tidak, aktivitas yang memanggil akan memulai transisi keluar, +namun kemudian Anda akan melihat transisi jendela (seperti mengelupas atau memudar).
+ +Untuk memulai transisi masuk sesegera mungkin, gunakan metode +{@link android.view.Window#setAllowEnterTransitionOverlap Window.setAllowEnterTransitionOverlap()} +pada aktivitas yang dipanggil. Ini memungkinkan Anda mendapatkan transisi masuk yang lebih dramatis.
+ +Jika Anda mengaktifkan transisi dan mengatur transisi keluar untuk aktivitas, transisi itu akan diaktifkan +bila Anda menjalankan aktivitas lain sebagai berikut:
+ ++startActivity(intent, + ActivityOptions.makeSceneTransitionAnimation(this).toBundle()); ++ +
Jika Anda telah mengatur transisi masuk untuk aktivitas kedua, transisi juga akan diaktifkan
+bila aktivitas dimulai. Untuk menonaktifkan transisi bila Anda memulai aktivitas lain, sediakan
+bundel opsi null.
Untuk membuat animasi transisi layar di antara dua aktivitas yang memiliki satu elemen bersama:
+ +android:transitionName.
+// get the element that receives the click event
+final View imgContainerView = findViewById(R.id.img_container);
+
+// get the common element for the transition in this activity
+final View androidRobotView = findViewById(R.id.image_small);
+
+// define a click listener
+imgContainerView.setOnClickListener(new View.OnClickListener() {
+ @Override
+ public void onClick(View view) {
+ Intent intent = new Intent(this, Activity2.class);
+ // create the transition animation - the images in the layouts
+ // of both activities are defined with android:transitionName="robot"
+ ActivityOptions options = ActivityOptions
+ .makeSceneTransitionAnimation(this, androidRobotView, "robot");
+ // start the new activity
+ startActivity(intent, options.toBundle());
+ }
+});
+
+
+Untuk tampilan dinamis bersama yang Anda hasilkan dalam kode, gunakan +metode {@link android.view.View#setTransitionName View.setTransitionName()} untuk menetapkan +nama elemen umum di kedua aktivitas.
+ +Untuk membalik animasi transisi babak bila Anda menyelesaikan aktivitas kedua, panggil metode +{@link android.app.Activity#finishAfterTransition Activity.finishAfterTransition()} +sebagai ganti {@link android.app.Activity#finish Activity.finish()}.
+ +Untuk membuat animasi transisi babak antara dua aktivitas yang memiliki lebih dari satu
+elemen bersama, definisikan elemen bersama di kedua layout dengan atribut android:transitionName
+ (atau gunakan metode {@link android.view.View#setTransitionName View.setTransitionName()}
+di kedua aktivitas), dan buat sebuah objek {@link android.app.ActivityOptions} sebagai berikut:
+ActivityOptions options = ActivityOptions.makeSceneTransitionAnimation(this, + Pair.create(view1, "agreedName1"), + Pair.create(view2, "agreedName2")); ++ + +
Animasi dalam desain bahan mengandalkan kurva untuk pola interpolasi waktu dan +gerakan spasial. Dengan Android 5.0 (API level 21) ke atas, Anda bisa mendefinisikan kurva pewaktuan custom dan +pola gerakan melengkung untuk animasi.
+ +Kelas {@link android.view.animation.PathInterpolator} adalah interpolator baru berdasarkan sebuah +kurva Bézier atau objek {@link android.graphics.Path}. Interpolator ini menetapkan kurva gerakan +dalam bujur sangkar 1x1, dengan titik-titik jangkar di (0,0) dan (1,1) dan titik-titik kontrol sebagaimana ditetapkan menggunakan +argumen konstruktor. Anda juga bisa mendefinisikan interpolator path sebagai sumber daya XML:
+ ++<pathInterpolator xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android" + android:controlX1="0.4" + android:controlY1="0" + android:controlX2="1" + android:controlY2="1"/> ++ +
Sistem menyediakan sumber daya XML untuk tiga kurva dasar dalam +spesifikasi desain bahan:
+ +@interpolator/fast_out_linear_in.xml@interpolator/fast_out_slow_in.xml@interpolator/linear_out_slow_in.xmlAnda bisa meneruskan objek {@link android.view.animation.PathInterpolator} ke metode {@link +android.animation.Animator#setInterpolator Animator.setInterpolator()}.
+ +Kelas {@link android.animation.ObjectAnimator} memiliki konstruktor-konstruktor baru yang memungkinkan Anda menganimasikan +koordinat bersama sebuah path dengan menggunakan dua atau beberapa properti sekaligus. Misalnya, animator berikut +menggunakan objek {@link android.graphics.Path} untuk menganimasikan properti X dan Y sebuah tampilan:
+ ++ObjectAnimator mAnimator; +mAnimator = ObjectAnimator.ofFloat(view, View.X, View.Y, path); +... +mAnimator.start(); ++ + +
Kelas {@link android.animation.StateListAnimator} memungkinkan Anda mendefinisikan animator yang berjalan bila +status tampilan berubah. Contoh berikut menampilkan cara mendefinisikan {@link +android.animation.StateListAnimator} sebagai sumber daya XML:
+ ++<!-- animate the translationZ property of a view when pressed --> +<selector xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"> + <item android:state_pressed="true"> + <set> + <objectAnimator android:propertyName="translationZ" + android:duration="@android:integer/config_shortAnimTime" + android:valueTo="2dp" + android:valueType="floatType"/> + <!-- you could have other objectAnimator elements + here for "x" and "y", or other properties --> + </set> + </item> + <item android:state_enabled="true" + android:state_pressed="false" + android:state_focused="true"> + <set> + <objectAnimator android:propertyName="translationZ" + android:duration="100" + android:valueTo="0" + android:valueType="floatType"/> + </set> + </item> +</selector> ++ +
Untuk menyertakan animasi status tampilan custom ke tampilan, definisikan animator menggunakan
+elemen selector dalam sumber daya file XML sebagaimana dalam contoh ini, dan tetapkan ke
+tampilan Anda dengan atribut android:stateListAnimator. Untuk menetapkan animator daftar status
+ke sebuah tampilan dalam kode Anda, gunakan metode {@link android.animation.AnimatorInflater#loadStateListAnimator
+AnimationInflater.loadStateListAnimator()}, dan tetapkan animator ke tampilan dengan
+metode {@link android.view.View#setStateListAnimator View.setStateListAnimator()}.
Bila tema Anda memperluas tema bahan, tombol-tombol akan memiliki animasi Z secara default. Untuk menghindari
+perilaku ini di tombol Anda, aturlah atribut android:stateListAnimator ke
+@null.
Kelas {@link android.graphics.drawable.AnimatedStateListDrawable} memungkinkan Anda membuat drawable +yang menampilkan animasi di antara perubahan status tampilan terkait. Sebagian widget sistem di +Android 5.0 menggunakan animasi ini secara default. Contoh berikut menampilkan cara +mendefinisikan {@link android.graphics.drawable.AnimatedStateListDrawable} sebagai sumber daya XML:
+ ++<!-- res/drawable/myanimstatedrawable.xml --> +<animated-selector + xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"> + + <!-- provide a different drawable for each state--> + <item android:id="@+id/pressed" android:drawable="@drawable/drawableP" + android:state_pressed="true"/> + <item android:id="@+id/focused" android:drawable="@drawable/drawableF" + android:state_focused="true"/> + <item android:id="@id/default" + android:drawable="@drawable/drawableD"/> + + <!-- specify a transition --> + <transition android:fromId="@+id/default" android:toId="@+id/pressed"> + <animation-list> + <item android:duration="15" android:drawable="@drawable/dt1"/> + <item android:duration="15" android:drawable="@drawable/dt2"/> + ... + </animation-list> + </transition> + ... +</animated-selector> ++ + +
Drawable Vektor +bisa diubah skalanya tanpa kehilangan definisi. Kelas {@link android.graphics.drawable.AnimatedVectorDrawable} +memungkinkan Anda menganimasikan properti drawable vektor.
+ +Anda biasanya mendefinisikan drawable vektor yang dianimasikan dalam tiga file XML:
+ +<vector> dalam
+res/drawable/<animated-vector> dalam
+res/drawable/<objectAnimator> dalam
+res/anim/Drawable vektor yang dianimasikan bisa menganimasikan atribut elemen <group> dan
+<path>. Elemen <group> mendefinisikan satu set
+path atau subgrup, dan elemen <path> mendefinisikan path yang harus digambar.
Bila Anda mendefinisikan drawable vektor yang ingin dianimasikan, gunakan atribut android:name
+untuk menetapkan nama unik ke grup dan path, sehingga Anda bisa merujuknya dari
+definisi animator Anda. Misalnya:
+<!-- res/drawable/vectordrawable.xml --> +<vector xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android" + android:height="64dp" + android:width="64dp" + android:viewportHeight="600" + android:viewportWidth="600"> + <group + android:name="rotationGroup" + android:pivotX="300.0" + android:pivotY="300.0" + android:rotation="45.0" > + <path + android:name="v" + android:fillColor="#000000" + android:pathData="M300,70 l 0,-70 70,70 0,0 -70,70z" /> + </group> +</vector> ++ +
Definisi drawable vektor yang dianimasikan merujuk pada grup dan path dalam drawable vektor +berdasarkan namanya:
+ ++<!-- res/drawable/animvectordrawable.xml --> +<animated-vector xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android" + android:drawable="@drawable/vectordrawable" > + <target + android:name="rotationGroup" + android:animation="@anim/rotation" /> + <target + android:name="v" + android:animation="@anim/path_morph" /> +</animated-vector> ++ +
Definisi animasi menyatakan objek {@link android.animation.ObjectAnimator} atau {@link +android.animation.AnimatorSet}. Animator pertama dalam contoh ini memutar +grup target sebanyak 360 derajat:
+ ++<!-- res/anim/rotation.xml --> +<objectAnimator + android:duration="6000" + android:propertyName="rotation" + android:valueFrom="0" + android:valueTo="360" /> ++ +
Animator kedua dalam contoh ini perlahan-lahan mengubah bentuk path drawable vektor dari satu bentuk ke +bentuk yang lain. Kedua path harus kompatibel untuk morphing: keduanya harus memiliki jumlah perintah yang sama +dan jumlah parameter yang sama untuk setiap perintah.
+ ++<!-- res/anim/path_morph.xml --> +<set xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"> + <objectAnimator + android:duration="3000" + android:propertyName="pathData" + android:valueFrom="M300,70 l 0,-70 70,70 0,0 -70,70z" + android:valueTo="M300,70 l 0,-70 70,0 0,140 -70,0 z" + android:valueType="pathType" /> +</set> ++ +
Untuk informasi selengkapnya, lihat referensi API bagi {@link +android.graphics.drawable.AnimatedVectorDrawable}.
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/training/material/compatibility.jd b/docs/html-intl/intl/id/training/material/compatibility.jd new file mode 100644 index 0000000000000..ef444c359b57d --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/training/material/compatibility.jd @@ -0,0 +1,168 @@ +page.title=Mempertahankan Kompatibilitas + +@jd:body + +Sebagian fitur desain bahan seperti tema bahan dan transisi aktivitas custom +hanya tersedia pada Android 5.0 (API level 21) ke atas. Akan tetapi, Anda bisa mendesain aplikasi untuk menggunakan +fitur-fitur ini saat dijalankan pada perangkat yang mendukung desain bahan dan tetap kompatibel +dengan perangkat yang menjalankan rilis Android sebelumnya.
+ + +Anda bisa mengonfigurasi aplikasi untuk menggunakan tema bahan pada perangkat yang mendukungnya dan mengembalikan +ke tema lama pada perangkat yang menjalankan versi Android terdahulu:
+ +res/values/styles.xml.res/values-v21/styles.xml.Catatan: +Jika aplikasi Anda menggunakan tema bahan namun tidak menyediakan tema alternatif dengan cara ini, +aplikasi itu tidak akan berjalan pada versi Android sebelum 5.0. +
+ + +Jika layout yang Anda desain sesuai dengan panduan desain bahan tidak menggunakan salah satu +atribut XML baru yang diperkenalkan di Android 5.0 (API level 21), layout itu akan berfungsi pada +versi Android sebelumnya. Jika tidak, Anda bisa menyediakan layout alternatif. Anda juga bisa menyediakan +layout alternatif untuk menyesuaikan cara aplikasi ditampilkan pada versi Android terdahulu.
+ +Buatlah file layout untuk Android 5.0 (API level 21) dalam res/layout-v21/ dan
+file layout alternatif untuk versi Android terdahulu dalam res/layout/.
+Misalnya, res/layout/my_activity.xml adalah layout alternatif untuk
+res/layout-v21/my_activity.xml.
Untuk menghindari duplikasi kode, definisikan gaya dalam res/values/, modifikasi
+gaya di res/values-v21/ untuk API baru, dan gunakan pewarisan gaya, dengan mendefinisikan
+gaya dasar di res/values/ dan mewarisi gaya di res/values-v21/.
v7 Support Library +r21 ke atas menyertakan fitur desain bahan berikut:
+ +Theme.AppCompat.Theme.AppCompat.Tema-tema Theme.AppCompat menyediakan gaya desain bahan untuk widget ini:
Untuk memperoleh gaya desain bahan dan menyesuaikan palet warna dengan Android v7 Support
+Library, terapkan salah satu tema Theme.AppCompat:
+<!-- extend one of the Theme.AppCompat themes --> +<style name="Theme.MyTheme" parent="Theme.AppCompat.Light"> + <!-- customize the color palette --> + <item name="colorPrimary">@color/material_blue_500</item> + <item name="colorPrimaryDark">@color/material_blue_700</item> + <item name="colorAccent">@color/material_green_A200</item> +</style> ++ +
Widget {@link android.support.v7.widget.RecyclerView} dan {@link +android.support.v7.widget.CardView} tersedia di versi Android terdahulu melalui +Android v7 Support Library dengan pembatasan ini:
+Untuk menggunakan fitur-fitur ini di versi Android sebelum 5.0 (API level 21), sertakan +Android v7 Support Library dalam proyek Anda sebagai dependensi Gradle:
+ +
+dependencies {
+ compile 'com.android.support:appcompat-v7:21.0.+'
+ compile 'com.android.support:cardview-v7:21.0.+'
+ compile 'com.android.support:recyclerview-v7:21.0.+'
+}
+
+
+
+Fitur berikut hanya tersedia di Android 5.0 (API level 21) ke atas:
+ +Untuk menjaga kompatibilitas dengan versi Android terdahulu, periksa {@link +android.os.Build.VERSION#SDK_INT version} sistem saat runtime sebelum Anda memanggil API untuk salah satu +fitur ini:
+ +
+// Check if we're running on Android 5.0 or higher
+if (Build.VERSION.SDK_INT >= Build.VERSION_CODES.LOLLIPOP) {
+ // Call some material design APIs here
+} else {
+ // Implement this feature without material design
+}
+
+
+Catatan: Untuk menetapkan versi Android yang didukung aplikasi Anda,
+gunakan atribut android:minSdkVersion dan android:targetSdkVersion
+dalam file manifes. Untuk menggunakan fitur desain bahan di Android 5.0, atur
+atribut android:targetSdkVersion ke 21. Untuk informasi selengkapnya, lihat
+panduan API
+<uses-sdk>.
Kemampuan berikut untuk drawable membantu Anda mengimplementasikan desain bahan dalam aplikasi Anda:
+ +Pelajaran ini menampilkan cara menggunakan fitur-fitur ini dalam aplikasi Anda.
+ + +Dengan Android 5.0 (API level 21) ke atas, Anda bisa mewarnai bitmap dan sembilan-tambalan yang didefinisikan sebagai
+alpha-mask. Anda bisa mewarnainya dengan sumber daya warna atau atribut tema yang mencocokkan ke
+sumber daya warna (misalnya, ?android:attr/colorPrimary). Biasanya, Anda membuat aset ini
+hanya sekali dan mewarnainya secara otomatis agar cocok dengan tema Anda.
Anda bisa menerapkan warna ke objek {@link android.graphics.drawable.BitmapDrawable} atau {@link
+android.graphics.drawable.NinePatchDrawable} dengan metode {@code setTint()}. Anda juga bisa
+mengatur warna dan mode dalam layout dengan atribut android:tint dan
+android:tintMode.
Android Support Library r21 ke atas menyertakan kelas {@link +android.support.v7.graphics.Palette}, yang memungkinkan Anda mengekstrak warna mencolok dari gambar. +Kelas ini mengekstrak warna mencolok berikut:
+ +Untuk mengekstrak warna-warna ini, teruskan objek {@link android.graphics.Bitmap} ke +metode statis {@link android.support.v7.graphics.Palette#generate Palette.generate()} dalam +thread latar belakang tempat Anda memuat gambar. Jika Anda tidak bisa menggunakan thread itu, panggil metode +{@link android.support.v7.graphics.Palette#generateAsync Palette.generateAsync()} dan +sediakan listener sebagai gantinya.
+ +Anda bisa mengambil warna mencolok dari gambar dengan metode getter di kelas
+Palette, misalnya Palette.getVibrantColor.
Untuk menggunakan kelas {@link android.support.v7.graphics.Palette} dalam proyek Anda, tambahkan +dependensi Gradle berikut ke +modul aplikasi Anda:
+ +
+dependencies {
+ ...
+ compile 'com.android.support:palette-v7:21.0.0'
+}
+
+
+Untuk informasi selengkapnya, lihat referensi API untuk kelas {@link android.support.v7.graphics.Palette}. +
+ + +Grafis Vektor Android
+Di Android 5.0 (API Level 21) ke atas, Anda bisa mendefinisikan drawable vektor, yang berubah skala tanpa
+kehilangan definisi. Anda hanya memerlukan satu file aset per gambar vektor, bukan file aset untuk
+setiap densitas layar seperti pada gambar bitmap. Untuk membuat gambar vektor, Anda mendefinisikan detail
+bentuknya dalam sebuah elemen XML <vector>.
Contoh berikut mendefinisikan gambar vektor berbentuk hati:
+ ++<!-- res/drawable/heart.xml --> +<vector xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android" + <!-- intrinsic size of the drawable --> + android:height="256dp" + android:width="256dp" + <!-- size of the virtual canvas --> + android:viewportWidth="32" + android:viewportHeight="32"> + + <!-- draw a path --> + <path android:fillColor="#8fff" + android:pathData="M20.5,9.5 + c-1.955,0,-3.83,1.268,-4.5,3 + c-0.67,-1.732,-2.547,-3,-4.5,-3 + C8.957,9.5,7,11.432,7,14 + c0,3.53,3.793,6.257,9,11.5 + c5.207,-5.242,9,-7.97,9,-11.5 + C25,11.432,23.043,9.5,20.5,9.5z" /> +</vector> ++ +
Gambar vektor direpresentasikan di Android sebagai objek {@link android.graphics.drawable.VectorDrawable}.
+ Untuk informasi selengkapnya tentang sintaks pathData, lihat Referensi Path SVG. Untuk informasi selengkapnya
+tentang menganimasikan properti drawable vektor, lihat
+Menganimasikan Drawable Vektor.
Untuk membuat aplikasi dengan desain bahan:
+ +Anda bisa menambahkan banyak fitur desain bahan ke aplikasi sekaligus mempertahankan kompatibilitas dengan +versi Android sebelum 5.0. Untuk informasi selengkapnya, lihat +Mempertahankan Kompatibilitas.
+ +Untuk memperbarui aplikasi yang ada guna memasukkan desain bahan, perbarui layout Anda dengan mengikuti +panduan desain bahan. Juga pastikan memasukkan kedalaman, umpan balik sentuh, dan +animasi.
+ +Jika Anda sedang membuat aplikasi baru dengan fitur desain bahan, panduan desain bahan akan memberi Anda +kerangka kerja desain yang kohesif. Ikuti panduan itu dan gunakan fungsionalitas baru di +kerangka kerja Android untuk mendesain dan mengembangkan aplikasi Anda.
+ + +Untuk menerapkan tema bahan dalam aplikasi Anda, tetapkan gaya yang mewarisi
+android:Theme.Material:
+<!-- res/values/styles.xml --> +<resources> + <!-- your theme inherits from the material theme --> + <style name="AppTheme" parent="android:Theme.Material"> + <!-- theme customizations --> + </style> +</resources> ++ +
Tema bahan menyediakan widget sistem terbaru yang memungkinkan Anda mengatur palet warnanya dan +animasi default untuk umpan balik sentuh dan transisi aktivitas. Untuk detail selengkapnya, lihat +Menggunakan Tema Bahan.
+ + +Selain menerapkan dan menyesuaikan tema bahan, layout Anda harus mematuhi +panduan desain bahan. Bila Anda mendesain +layout, berikan perhatian khusus pada hal-hal berikut:
+ +Tampilan bisa menghasilkan bayangan, dan nilai ketinggian tampilan
+menentukan ukuran bayangan dan urutan penggambarannya. Untuk mengatur ketinggian tampilan, gunakan
+atribut android:elevation dalam layout:
+<TextView + android:id="@+id/my_textview" + android:layout_width="wrap_content" + android:layout_height="wrap_content" + android:text="@string/next" + android:background="@color/white" + android:elevation="5dp" /> ++ +
Properti translationZ baru memungkinkan Anda membuat animasi yang mencerminkan
+perubahan sementara pada ketinggian tampilan. Perubahan ketinggian bisa berguna saat
+merespons
+gerakan sentuh.
Untuk detail selengkapnya, lihat Mendefinisikan +Bayangan dan Memangkas Tampilan.
+ + +{@link android.support.v7.widget.RecyclerView} adalah versi {@link +android.widget.ListView} yang lebih mudah dimasukkan dan mendukung beragam tipe layout serta memberikan peningkatan kinerja. +{@link android.support.v7.widget.CardView} memungkinkan Anda menampilkan potongan informasi dalam kartu dengan +tampilan konsisten di seluruh aplikasi. Contoh kode berikut memperagakan cara menyertakan +{@link android.support.v7.widget.CardView} dalam layout Anda:
+ ++<android.support.v7.widget.CardView + android:id="@+id/card_view" + android:layout_width="200dp" + android:layout_height="200dp" + card_view:cardCornerRadius="3dp"> + ... +</android.support.v7.widget.CardView> ++ +
Untuk informasi selengkapnya, lihat Membuat Daftar +dan Kartu.
+ + +Android 5.0 (API level 21) menyertakan API baru untuk membuat animasi custom di aplikasi Anda. +Misalnya, Anda bisa mengaktifkan transisi aktivitas dan mendefinisikan transisi keluar di +aktivitas:
+ +
+public class MyActivity extends Activity {
+
+ @Override
+ protected void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
+ super.onCreate(savedInstanceState);
+ // enable transitions
+ getWindow().requestFeature(Window.FEATURE_CONTENT_TRANSITIONS);
+ setContentView(R.layout.activity_my);
+ }
+
+ public void onSomeButtonClicked(View view) {
+ getWindow().setExitTransition(new Explode());
+ Intent intent = new Intent(this, MyOtherActivity.class);
+ startActivity(intent,
+ ActivityOptions
+ .makeSceneTransitionAnimation(this).toBundle());
+ }
+}
+
+
+Bila Anda memulai aktivitas lain dari aktivitas ini, transisi keluar akan diaktifkan.
+ +Untuk mengetahui selengkapnya tentang API animasi yang baru, lihat Mendefinisikan Animasi Custom.
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/training/material/index.jd b/docs/html-intl/intl/id/training/material/index.jd new file mode 100644 index 0000000000000..53697d2ea6669 --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/training/material/index.jd @@ -0,0 +1,60 @@ +page.title=Desain Bahan untuk Pengembang +page.image=images/cards/material_2x.png +page.metaDescription=Pelajari cara menerapkan desain bahan pada aplikasi Anda. + + +@jd:body + +Desain bahan adalah panduan komprehensif untuk desain visual, gerak, dan interaksi di +berbagai platform dan perangkat. Untuk menggunakan desain bahan di aplikasi Android, ikuti panduan +yang dijelaskan dalam +spesifikasi desain bahan + dan gunakan komponen serta fungsionalitas baru yang tersedia di Android 5.0 +(API level 21).
+ +Kelas ini menampilkan kepada Anda cara membuat aplikasi desain bahan dengan elemen-elemen berikut:
+ +Kelas ini juga mengajarkan cara mempertahankan kompatibilitas dengan versi Android sebelum +5.0 (API level 21) bila Anda menggunakan fitur desain bahan dalam aplikasi.
+ +Untuk membuat daftar dan kartu yang kompleks dengan gaya desain bahan di aplikasi, Anda bisa menggunakan widget +{@link android.support.v7.widget.RecyclerView} dan {@link android.support.v7.widget.CardView}. +
+ + +Widget {@link android.support.v7.widget.RecyclerView} adalah +versi {@link android.widget.ListView} yang lebih maju dan fleksibel. Widget ini adalah kontainer untuk menampilkan set data +besar yang bisa digulir secara sangat efisien dengan mempertahankan tampilan dalam jumlah terbatas. Gunakan +widget {@link android.support.v7.widget.RecyclerView} bila Anda memiliki kumpulan data dengan elemen +yang berubah saat runtime berdasarkan tindakan pengguna atau kejadian jaringan.
+ +Kelas {@link android.support.v7.widget.RecyclerView} menyederhanakan penampilan dan penanganan +set data yang besar dengan menyediakan:
+ +Anda juga memiliki keluwesan untuk mendefinisikan pengelola layout custom dan animasi untuk widget {@link +android.support.v7.widget.RecyclerView}.
+ +
+
+Gambar 1. Widget RecyclerView.
+
Untuk menggunakan widget {@link android.support.v7.widget.RecyclerView}, Anda harus menetapkan +adaptor dan pengelola layout. Untuk membuat adaptor, perluas kelas {@link +android.support.v7.widget.RecyclerView.Adapter RecyclerView.Adapter}. Detail +implementasi bergantung pada detail set data Anda dan tipe tampilan. Untuk informasi selengkapnya, + lihat contoh-contoh di bawah.
+ +
+
+Gambar 2 - Daftar berisi RecyclerView.
+
Pengelola layout memosisikan tampilan item dalam {@link +android.support.v7.widget.RecyclerView} dan menentukan waktu untuk menggunakan ulang tampilan item yang tidak +lagi terlihat oleh pengguna. Untuk menggunakan ulang (atau mendaur ulang) tampilan, pengelola layout bisa meminta +adaptor untuk mengganti konten tampilan dengan elemen lain dalam dataset. Mendaur ulang +tampilan dengan cara ini akan meningkatkan kinerja karena menghindari pembuatan tampilan yang tidak diperlukan atau +melakukan pencarian {@link android.app.Activity#findViewById findViewById()} yang mahal.
+ +{@link android.support.v7.widget.RecyclerView} menyediakan semua pengelola layout bawaan ini:
+ +Untuk membuat pengelola layout custom, perluas kelas {@link +android.support.v7.widget.RecyclerView.LayoutManager RecyclerView.LayoutManager}.
+ +Animasi untuk menambahkan dan menghapus item diaktifkan secara default di {@link +android.support.v7.widget.RecyclerView}. Untuk menyesuaikan animasi ini, perluas kelas +{@link android.support.v7.widget.RecyclerView.ItemAnimator RecyclerView.ItemAnimator}dan gunakan +metode {@link android.support.v7.widget.RecyclerView#setItemAnimator RecyclerView.setItemAnimator()}. +
+ +Contoh kode berikut memperagakan cara menambahkan +{@link android.support.v7.widget.RecyclerView} ke layout:
+ ++<!-- A RecyclerView with some commonly used attributes --> +<android.support.v7.widget.RecyclerView + android:id="@+id/my_recycler_view" + android:scrollbars="vertical" + android:layout_width="match_parent" + android:layout_height="match_parent"/> ++ +
Begitu Anda menambahkan widget {@link android.support.v7.widget.RecyclerView} ke layout, +dapatkan pengatur atau handle objek itu, hubungkan dengan pengelola layout, dan sertakan adaptor untuk data +yang akan ditampilkan:
+ +
+public class MyActivity extends Activity {
+ private RecyclerView mRecyclerView;
+ private RecyclerView.Adapter mAdapter;
+ private RecyclerView.LayoutManager mLayoutManager;
+
+ @Override
+ protected void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
+ super.onCreate(savedInstanceState);
+ setContentView(R.layout.my_activity);
+ mRecyclerView = (RecyclerView) findViewById(R.id.my_recycler_view);
+
+ // use this setting to improve performance if you know that changes
+ // in content do not change the layout size of the RecyclerView
+ mRecyclerView.setHasFixedSize(true);
+
+ // use a linear layout manager
+ mLayoutManager = new LinearLayoutManager(this);
+ mRecyclerView.setLayoutManager(mLayoutManager);
+
+ // specify an adapter (see also next example)
+ mAdapter = new MyAdapter(myDataset);
+ mRecyclerView.setAdapter(mAdapter);
+ }
+ ...
+}
+
+
+Adaptor menyediakan akses ke item dataset Anda, membuat tampilan untuk item, dan +mengganti konten sebagian tampilan dengan item data baru bila item semula tidak lagi +terlihat. Contoh kode berikut menampilkan implementasi sederhana untuk sebuah dataset yang terdiri dari +larik string yang ditampilkan dengan menggunakan widget {@link android.widget.TextView}:
+ +
+public class MyAdapter extends RecyclerView.Adapter<MyAdapter.ViewHolder> {
+ private String[] mDataset;
+
+ // Provide a reference to the views for each data item
+ // Complex data items may need more than one view per item, and
+ // you provide access to all the views for a data item in a view holder
+ public static class ViewHolder extends RecyclerView.ViewHolder {
+ // each data item is just a string in this case
+ public TextView mTextView;
+ public ViewHolder(TextView v) {
+ super(v);
+ mTextView = v;
+ }
+ }
+
+ // Provide a suitable constructor (depends on the kind of dataset)
+ public MyAdapter(String[] myDataset) {
+ mDataset = myDataset;
+ }
+
+ // Create new views (invoked by the layout manager)
+ @Override
+ public MyAdapter.ViewHolder onCreateViewHolder(ViewGroup parent,
+ int viewType) {
+ // create a new view
+ View v = LayoutInflater.from(parent.getContext())
+ .inflate(R.layout.my_text_view, parent, false);
+ // set the view's size, margins, paddings and layout parameters
+ ...
+ ViewHolder vh = new ViewHolder(v);
+ return vh;
+ }
+
+ // Replace the contents of a view (invoked by the layout manager)
+ @Override
+ public void onBindViewHolder(ViewHolder holder, int position) {
+ // - get element from your dataset at this position
+ // - replace the contents of the view with that element
+ holder.mTextView.setText(mDataset[position]);
+
+ }
+
+ // Return the size of your dataset (invoked by the layout manager)
+ @Override
+ public int getItemCount() {
+ return mDataset.length;
+ }
+}
+
+
+
+
++Gambar 3. Contoh kartu. +
+{@link android.support.v7.widget.CardView} memperluas kelas {@link android.widget.FrameLayout} +dan memungkinkan Anda menampilkan informasi dalam kartu yang memiliki tampilan konsisten lintas platform. Widget {@link +android.support.v7.widget.CardView} bisa memiliki bayangan dan sudut membulat.
+ +Untuk membuat kartu dengan bayangan, gunakan atribut card_view:cardElevation.
+{@link android.support.v7.widget.CardView} menggunakan elevasi nyata dan bayangan dinamis pada Android 5.0
+(API level 21) ke atas dan memundurkan ke implementasi bayangan terprogram pada versi terdahulu.
+Untuk informasi selengkapnya, lihat Mempertahankan
+Kompatibilitas.
Gunakan properti-properti ini untuk menyesuaikan penampilan +widget {@link android.support.v7.widget.CardView}:
+ +card_view:cardCornerRadius.
+CardView.setRadius.card_view:cardBackgroundColor.
+Contoh kode berikut menampilkan cara menyertakan widget {@link android.support.v7.widget.CardView} +dalam layout:
+ ++<LinearLayout xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android" + xmlns:tools="http://schemas.android.com/tools" + xmlns:card_view="http://schemas.android.com/apk/res-auto" + ... > + <!-- A CardView that contains a TextView --> + <android.support.v7.widget.CardView + xmlns:card_view="http://schemas.android.com/apk/res-auto" + android:id="@+id/card_view" + android:layout_gravity="center" + android:layout_width="200dp" + android:layout_height="200dp" + card_view:cardCornerRadius="4dp"> + + <TextView + android:id="@+id/info_text" + android:layout_width="match_parent" + android:layout_height="match_parent" /> + </android.support.v7.widget.CardView> +</LinearLayout> ++ +
Untuk informasi selengkapnya, lihat referensi API untuk {@link android.support.v7.widget.CardView}.
+ + +Widget {@link android.support.v7.widget.RecyclerView} dan {@link android.support.v7.widget.CardView} +adalah bagian dari v7 Support +Library. Untuk menggunakan widget dalam proyek Anda, tambahkan +dependensi Gradle ini ke +modul aplikasi Anda:
+ +
+dependencies {
+ ...
+ compile 'com.android.support:cardview-v7:21.0.+'
+ compile 'com.android.support:recyclerview-v7:21.0.+'
+}
+
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/training/material/shadows-clipping.jd b/docs/html-intl/intl/id/training/material/shadows-clipping.jd
new file mode 100644
index 0000000000000..5431926721593
--- /dev/null
+++ b/docs/html-intl/intl/id/training/material/shadows-clipping.jd
@@ -0,0 +1,133 @@
+page.title=Mendefinisikan Bayangan dan Memangkas Tampilan
+
+@jd:body
+
+Desain bahan memperkenalkan elevasi untuk elemen-elemen UI. Elevasi membantu pengguna memahami +arti penting relatif masing-masing elemen dan memfokuskan perhatian pada tugas yang ada.
+ +Elevasi tampilan, yang dinyatakan dengan properti Z, menentukan tampilan visual +bayangannya: tampilan dengan nilai Z lebih tinggi menghasilkan bayangan lebih besar dan lebih halus. Tampilan dengan nilai Z lebih tinggi menutupi +tampilan dengan nilai Z lebih rendah; akan tetapi, nilai Z tampilan tidak memengaruhi ukuran tampilan.
+ +Bayangan digambar oleh induk tampilan yang dinaikkan, sehingga terkena pemangkasan standar tampilan, +yang dipangkas oleh induk secara default.
+ +Elevasi juga berguna untuk membuat animasi tempat memunculkan widget untuk sementara di atas +bidang tampilan saat melakukan beberapa tindakan.
+ +Untuk informasi selengkapnya tentang elevasi dalam desain bahan, lihat +Objek +di ruang 3D.
+ + +Nilai Z untuk tampilan memiliki dua komponen: + +
Z = elevation + translationZ
+Gambar 1 - Bayangan untuk berbagai elevasi tampilan.
+ +Untuk mengatur elevasi tampilan dalam definisi layout, gunakan atribut android:elevation.
+ Untuk mengatur elevasi tampilan dalam kode aktivitas, gunakan
+metode {@link android.view.View#setElevation View.setElevation()}.
Untuk mengatur transformasi tampilan, gunakan metode {@link android.view.View#setTranslationZ +View.setTranslationZ()}.
+ +Metode {@link android.view.ViewPropertyAnimator#z ViewPropertyAnimator.z()} dan {@link +android.view.ViewPropertyAnimator#translationZ ViewPropertyAnimator.translationZ()} yang baru memudahkan +Anda menganimasikan elevasi tampilan. Untuk informasi selengkapnya, lihat referensi API untuk +{@link android.view.ViewPropertyAnimator} dan panduan pengembang Animasi Properti. +
+ +Anda juga bisa menggunakan {@link android.animation.StateListAnimator} +untuk menetapkan animasi ini secara deklaratif. Ini khususnya berguna bila +perubahan status memicu animasi, seperti saat seorang pengguna menekan tombol. Untuk informasi selengkapnya, lihat +Menganimasikan Perubahan Status Tampilan.
+ +Nilai Z diukur dengan satuan dp (density-independent pixel).
+ + +Batas-batas drawable latar belakang tampilan menentukan bentuk default bayangannya. +Garis luar menyatakan bentuk luar objek grafis dan mendefinisikan +bidang riak untuk umpan balik sentuh.
+ +Perhatikan tampilan ini, yang didefinisikan dengan drawable latar belakang:
+ ++<TextView + android:id="@+id/myview" + ... + android:elevation="2dp" + android:background="@drawable/myrect" /> ++ +
Drawable latar belakang didefinisikan sebagai persegi panjang dengan sudut membulat:
+ ++<!-- res/drawable/myrect.xml --> +<shape xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android" + android:shape="rectangle"> + <solid android:color="#42000000" /> + <corners android:radius="5dp" /> +</shape> ++ +
Tampilan ini menghasilkan bayangan dengan sudut membulat, karena drawable latar belakang mendefinisikan +garis luar tampilan. Memberikan garis luar custom akan mengesampingkan bentuk default bayangan tampilan.
+ +Untuk mendefinisikan garis luar custom suatu tampilan dalam kode Anda:
+ +
Anda bisa membuat garis luar lonjong dan persegi panjang yang bersudut membulat dengan menggunakan metode dalam
+kelas {@link android.graphics.Outline}. Penyedia garis luar default untuk tampilan memperoleh garis luar
+dari latar belakang tampilan. Untuk mencegah tampilan menghasilkan bayangan, atur penyedia garis luarnya
+ke null.
Memangkas tampilan memudahkan Anda mengubah bentuk tampilan. Anda bisa memangkas tampilan agar
+konsistensi dengan elemen desain lainnya atau mengubah bentuk tampilan untuk merespons input pengguna.
+Anda bisa memangkas tampilan hingga area garis luarnya dengan menggunakan metode {@link android.view.View#setClipToOutline
+View.setClipToOutline()} atau atribut android:clipToOutline. Hanya
+garis-garis luar persegi panjang, lingkaran, dan persegi panjang bersudut bulat yang mendukung pemangkasan, seperti yang ditentukan oleh
+metode {@link android.graphics.Outline#canClip Outline.canClip()}.
Untuk memangkas tampilan ke bentuk drawable, atur drawable sebagai latar belakang tampilan +(seperti yang ditampilkan di atas) dan panggil metode {@link android.view.View#setClipToOutline View.setClipToOutline()}. +
+ +Memangkas tampilan adalah operasi yang mahal; jadi, jangan animasikan bentuk yang Anda gunakan +untuk memangkas tampilan. Untuk memperoleh efek ini, gunakan animasi Reveal Effect.
diff --git a/docs/html-intl/intl/id/training/material/theme.jd b/docs/html-intl/intl/id/training/material/theme.jd new file mode 100644 index 0000000000000..5acdcd2d0692c --- /dev/null +++ b/docs/html-intl/intl/id/training/material/theme.jd @@ -0,0 +1,131 @@ +page.title=Menggunakan Tema Bahan + +@jd:body + +Tema bahan yang baru menyediakan:
+ +Anda bisa menyesuaikan tampilan tema bahan +sesuai dengan identitas merek Anda dengan palet warna yang Anda kontrol. Anda bisa mewarnai action-bar dan +baris status dengan menggunakan atribut tema, seperti yang ditampilkan dalam Gambar 3.
+ +Widget sistem memiliki desain baru dan animasi umpan balik sentuh. Anda bisa menyesuaikan +palet warna, animasi umpan balik sentuh, dan transisi aktivitas untuk aplikasi.
+ +Tema bahan didefinisikan sebagai:
+ +@android:style/Theme.Material (versi gelap)@android:style/Theme.Material.Light (versi terang)@android:style/Theme.Material.Light.DarkActionBarUntuk daftar gaya bahan yang bisa Anda gunakan, lihat referensi API untuk +{@link android.R.style R.style}.
+ + +
+ Gambar 1. Tema bahan gelap
+
+ Gambar 2. Tema bahan terang
++Catatan: Tema bahan hanya tersedia di Android 5.0 (API level 21) +ke atas. v7 Support Library +menyediakan tema dengan gaya desain bahan untuk beberapa widget dan dukungan untuk menyesuaikan +palet warna. Untuk informasi selengkapnya, lihat +Mempertahankan Kompatibilitas. +
+ + +Untuk menyesuaikan warna dasar tema agar cocok dengan merek Anda, definisikan +warna custom menggunakan atribut tema saat Anda mewariskan dari tema bahan:
+ ++<resources> + <!-- inherit from the material theme --> + <style name="AppTheme" parent="android:Theme.Material"> + <!-- Main theme colors --> + <!-- your app branding color for the app bar --> + <item name="android:colorPrimary">@color/primary</item> + <!-- darker variant for the status bar and contextual app bars --> + <item name="android:colorPrimaryDark">@color/primary_dark</item> + <!-- theme UI controls like checkboxes and text fields --> + <item name="android:colorAccent">@color/accent</item> + </style> +</resources> ++ +
++Gambar 3. Menyesuaikan tema bahan.
+Tema bahan memungkinkan Anda menyesuaikan baris status dengan mudah; jadi Anda bisa menetapkan
+warna yang cocok dengan merek Anda dan memberikan kontras yang cukup untuk menampilkan ikon status putih. Untuk
+mengatur warna custom bagi baris status, gunakan atribut android:statusBarColor bila
+Anda memperluas tema bahan. Secara default, android:statusBarColor mewarisi
+nilai android:colorPrimaryDark.
Anda juga bisa menggambar sendiri di belakang baris status. Misalnya, jika Anda ingin menampilkan
+baris status secara transparan di atas foto, dengan gradasi gelap yang halus untuk memastikan
+ikon status putih tetap terlihat. Caranya, atur atribut android:statusBarColor ke
+@android:color/transparent dan sesuaikan flag jendela seperti yang diperlukan. Anda juga bisa
+menggunakan metode {@link android.view.Window#setStatusBarColor Window.setStatusBarColor()} untuk
+animasi atau pemudaran.
+Catatan: Baris status harus selalu memiliki delineasi yang jelas dari +toolbar utama, kecuali bila Anda menampilkan gambar detail atau konten media tepi-ke-tepi di belakang +baris ini dan bila Anda menggunakan gradasi untuk memastikan ikon tetap terlihat. +
+ +Bila Anda menyesuaikan baris navigasi dan baris status, jadikan keduanya transparan atau modifikasi +baris status saja. Baris navigasi harus tetap hitam di semua kasus lainnya.
+ + +Elemen dalam definisi layout XML bisa menetapkan atribut android:theme,
+yang merujuk sumber daya tema. Atribut ini memodifikasi tema untuk elemen itu dan setiap
+elemen anak, yang berguna untuk mengubah palet warna tema dalam porsi tertentu
+pada antarmuka.
Di Android N, pengguna Android TV sekarang bisa menonton video +dalam jendela yang disematkan di sudut layar saat menyusuri +aplikasi. Mode gambar-dalam-gambar (PIP) memungkinkan aplikasi menjalankan aktivitas +video dalam jendela yang disematkan selagi aktivitas lain tetap berjalan di +latar belakang. Jendela PIP memungkinkan pengguna melakukan multitasking saat menggunakan aplikasi Anda, yang +membantu pengguna menjadi lebih produktif.
+ +Aplikasi Anda bisa memutuskan kapan memicu mode PIP. Inilah beberapa contoh +kapan memasuki mode PIP:
+ +Jendela PIP memiliki luas 240x135 dp dan ditampilkan di layer paling atas pada salah satu +dari empat sudut layar, yang dipilih oleh sistem. Pengguna bisa memunculkan +menu PIP yang memungkinkan mereka untuk beralih mode dari jendela PIP ke layar penuh, atau menutup jendela +PIP, dengan menekan dan menahan tombol Beranda pada remote. Jika video +lain mulai diputar pada layar utama, jendela PIP secara otomatis +ditutup. Pengguna juga bisa menutup jendela PIP melalui Recents.
+ +
+Gambar 1. Video +Gambar-dalam-gambar terlihat di sudut layar selagi pengguna menjelajahi materi pada layar +utama.
+ +PIP memanfaatkan API multi-jendela yang tersedia di Android N untuk +menyediakan jendela hamparan video yang disematkan. Untuk menambahkan PIP ke aplikasi, Anda harus +mendaftarkan aktivitas yang mendukung PIP, mengalihkan aktivitas Anda ke mode PIP bila +diperlukan, serta memastikan elemen UI disembunyikan dan pemutaran video berlanjut bila +aktivitas dalam mode PIP.
+ +Secara default, sistem tidak secara otomatis mendukung PIP untuk aplikasi.
+Jika Anda ingin mendukung PIP dalam aplikasi, daftarkan aktivitas
+video Anda dalam manifes dengan menyetel
+android:supportsPictureInPicture dan
+android:resizeableActivity ke true. Juga, tetapkan
+bahwa aktivitas Anda menangani perubahan konfigurasi layout sehingga aktivitas
+Anda tidak diluncurkan ulang saat terjadi perubahan layout selama transisi mode PIP.
+<activity android:name="VideoActivity" + android:resizeableActivity="true" + android:supportsPictureInPicture="true" + android:configChanges= + "screenSize|smallestScreenSize|screenLayout|orientation" + ... ++ +
Saat mendaftarkan aktivitas Anda, ingatlah bahwa dalam mode PIP aktivitas +Anda akan ditampilkan pada jendela hamparan kecil pada layar TV. Aktivitas +pemutaran video dengan UI minimal akan memberikan pengalaman pengguna terbaik. Aktivitas yang +mengandung elemen UI kecil mungkin tidak memberikan pengalaman pengguna yang baik +ketika beralih ke mode PIP, karena pengguna tidak dapat melihat elemen UI secara jelas +di jendela PIP.
+ +Activity.enterPictureInPictureMode(). Contoh berikut mengalihkan
+ke mode PIP bila pengguna memilih tombol PIP khusus pada baris
+kontrol media:
+
+
+@Override
+public void onActionClicked(Action action) {
+ if (action.getId() == R.id.lb_control_picture_in_picture) {
+ getActivity().enterPictureInPictureMode();
+ return;
+ }
+ ...
+
+
+Menambahkan tombol PIP ke baris kontrol media Anda akan memungkinkan pengguna dengan mudah beralih +ke mode PIP selagi mengontrol pemutaran video.
+ +
+Gambar 1. Tombol +gambar-dalam-gambar pada baris kontrol media.
+ +Android N menyertakan kelas
+PlaybackControlsRow.PictureInPictureAction baru yang mendefinisikan
+tindakan PIP baris kontrol dan menggunakan ikon PIP.
Bila aktivitas memasuki mode PIP, aktivitas Anda seharusnya hanya menampilkan pemutaran
+video. Buang elemen UI sebelum aktivitas Anda memasuki PIP,
+dan pulihkan elemen ini bila aktivitas Anda beralih ke layar penuh lagi.
+Ganti Activity.onPictureInPictureModeChanged() atau
+Fragment.onPictureInPictureModeChanged() dan aktifkan atau
+nonaktifkan elemen UI saat diperlukan, misalnya:
+@Override
+public void onPictureInPictureModeChanged(boolean isInPictureInPictureMode) {
+ if (isInPictureInPictureMode) {
+ // Hide the controls in picture-in-picture mode.
+ ...
+ } else {
+ // Restore the playback UI based on the playback status.
+ ...
+ }
+}
+
+
+Bila aktivitas Anda beralih ke PIP, sistem akan menganggap aktivitas tersebut berada dalam
+keadaan berhenti sementara, dan akan memanggil metode onPause() aktivitas Anda. Pemutaran
+video tidak boleh berhenti sementara dan harus terus diputar jika aktivitas tersebut
+berhenti sementara karena mode PIP. Periksa PIP dalam metode
+onPause() aktivitas Anda dan tangani pemutaran dengan tepat,
+misalnya:
+@Override
+public void onPause() {
+ // If called while in PIP mode, do not pause playback
+ if (isInPictureInPictureMode()) {
+ // Continue playback
+ ...
+ }
+ // If paused but not in PIP, pause playback if necessary
+ ...
+}
+
+
+Bila aktivitas meninggalkan mode PIP dan kembali ke mode layar penuh, sistem
+akan melanjutkan aktivitas Anda dan memanggil metode onResume().
Di aplikasi Anda, seorang pengguna bisa memilih video baru saat menyusuri materi di +layar utama, selagi aktivitas pemutaran video dalam mode PIP. Putar +video baru di aktivitas pemutaran yang ada dalam mode layar penuh, sebagai ganti +meluncurkan aktivitas baru yang dapat membingungkan pengguna.
+ +Guna memastikan aktivitas tunggal digunakan untuk permintaan pemutaran video dan
+beralih ke atau dari mode PIP bila dibutuhkan, setel
+android:launchMode aktivitas ke singleTask dalam manifes Anda:
+
+<activity android:name="VideoActivity" + ... + android:supportsPictureInPicture="true" + android:launchMode="singleTask" + ... ++ +
Di aktivitas Anda, ganti {@link android.app.Activity#onNewIntent +Activity.onNewIntent()} dan tangani video baru, yang akan menghentikan pemutaran video +jika diperlukan.
+ +PIP ditujukan untuk aktivitas yang memutar video layar penuh. Saat mengalihkan +aktivitas Anda ke mode PIP, hindari menampilkan apa pun selain materi video. +Pantau saat aktivitas Anda memasuki mode PIP dan sembunyikan elemen UI, seperti dijelaskan +dalam Menangani UI Selama Gambar-dalam-gambar.
+ +Karena jendela PIP ditampilkan sebagai jendela mengambang di sudut +layar, Anda harus menghindari menampilkan informasi penting di layar utama +di area mana saja yang bisa terhalang oleh jendela PIP.
+ +Bila aktivitas ada berada dalam mode PIP, secara default aktivitas itu tidak mendapatkan fokus masukan. Untuk
+menerima kejadian masukan saat dalam mode PIP, gunakan
+MediaSession.setMediaButtonReceiver().
Layanan masukan TV memungkinkan pengguna menghentikan sementara dan melanjutkan pemutaran saluran melalui +API perekaman. Android N telah berkembang hingga ke perekaman +dengan memungkinkan pengguna menyimpan beberapa sesi rekaman.
+ +Pengguna bisa menjadwalkan rekaman terlebih dahulu, atau memulai rekaman sambil menonton +suatu acara. Setelah sistem menyimpan rekaman, pengguna bisa menjelajah, menata, +dan memutar kembali rekaman tersebut menggunakan aplikasi TV di sistem.
+ +Jika Anda ingin menyediakan fungsi perekaman untuk layanan masukan TV, +Anda harus menunjukkan pada sistem bahwa aplikasi Anda mendukung perekaman, mengimplementasikan +kemampuan merekam program, menangani dan mengomunikasikan kesalahan yang muncul +selama perekaman, dan mengelola sesi perekaman Anda.
+ +Catatan: Aplikasi Live Channels belum +menyediakan cara bagi pengguna untuk membuat atau mengakses perekaman. Hingga dibuat perubahan +di aplikasi Live Channels, mungkin sulit menguji sepenuhnya pengalaman +perekaman untuk layanan masukan TV Anda.
+ +Untuk memberi tahu sistem bahwa layanan masukan TV Anda mendukung perekaman, setel
+atribut android:canRecord di file XML metadata layanan Anda
+ke true:
+
+<tv-input xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android" + android:canRecord="true" + android:setupActivity="com.example.sampletvinput.SampleTvInputSetupActivity" /> ++ +
Untuk informasi selengkapnya mengenai layanan file metadata, lihat +Mendeklarasikan Layanan Masukan TV Anda +di Manifes. +
+ +Atau, Anda bisa menunjukkan dukungan perekaman dalam kode Anda menggunakan +langkah-langkah ini:
+ +TvInputService.onCreate() Anda, buat objek
+TvInputInfo baru menggunakan kelas TvInputInfo.Builder.
+TvInputInfo baru, panggil
+setCanRecord(true) sebelum memanggil build() untuk
+ menunjukkan layanan Anda mendukung perekaman.TvInputInfo Anda pada sistem dengan memanggil
+TvInputManager.updateTvInputInfo().Setelah layanan masukan TV Anda mendaftar bahwa mendukung fungsionalitas
+perekaman, sistem akan memanggil
+TvInputService.onCreateRecordingSession() bila perlu untuk mengakses
+implementasi perekaman aplikasi Anda. Implementasikan subkelas
+TvInputService.RecordingSession Anda sendiri dan kembalikan
+bila callback onCreateRecordingSession() dipicu.
+ Subkelas ini bertanggung jawab mengalihkan ke saluran data yang benar,
+merekam data yang diminta, dan memberitahukan status perekaman serta kesalahan ke
+sistem.
Bila sistem memanggil RecordingSession.onTune(), dengan meneruskan
+URI saluran, setel ke saluran yang ditetapkan URI. Beri tahu sistem bahwa
+aplikasi Anda telah disetel ke saluran yang diinginkan dengan memanggil notifyTuned(),
+atau, jika aplikasi Anda tidak bisa disetel ke saluran yang tepat, panggil
+notifyError().
Sistem berikutnya akan memanggil callback RecordingSession.onStartRecording().
+ Aplikasi Anda harus segera mulai merekam. Bila sistem memanggil
+callback ini, sistem mungkin akan memberikan URI yang berisi informasi tentang program
+yang akan direkam. Bila perekaman selesai, Anda perlu menyalin data
+ini ke tabel data RecordedPrograms.
Terakhir, sistem akan memanggil RecordingSession.onStopRecording().
+Pada tahap ini, aplikasi Anda harus segera berhenti merekam. Anda juga perlu
+membuat entri dalam tabel RecordedPrograms. Entri ini harus
+menyertakan URI data sesi yang direkam dalam kolom
+RecordedPrograms.COLUMN_RECORDING_DATA_URI, dan informasi
+program yang diberikan sistem dalam panggilan awal ke
+onStartRecording().
Untuk detail selengkapnya tentang cara mengakses tabel RecordedPrograms
+lihat Mengelola Sesi yang Direkam.
Jika terjadi kesalahan selama perekaman, yang menghasilkan data terekam yang tidak bisa digunakan,
+beri tahu sistem dengan memanggil RecordingSession.notifyError().
+Begitu juga, Anda bisa memanggil notifyError() setelah sesi rekaman dibuat
+agar sistem mengetahui bahwa aplikasi Anda tidak bisa lagi merekam sesi.
Jika terjadi kesalahan selama perekaman, namun Anda ingin menyediakan rekaman parsial
+yang bisa digunakan pengguna untuk pemutaran, panggil
+RecordingSession.notifyRecordingStopped() untuk memungkinkan sistem
+menggunakan sesi parsial.
Sistem menyimpan informasi untuk semua sesi yang direkam dari semua
+aplikasi saluran yang mampu merekam dalam tabel penyedia materi TvContract.RecordedPrograms.
+ Informasi ini bisa diakses lewat URI materi
+RecordedPrograms.Uri. Gunakan API penyedia materi untuk
+membaca, menambahkan, dan menghapus entri dari tabel ini.
Untuk informasi selengkapnya tentang menangani data penyedia materi, lihat + +Dasar-Dasar Penyedia Materi.
+ +Perangkat TV mungkin memiliki penyimpanan terbatas, jadi pertimbangkan sebaik mungkin saat
+mengalokasikan penyimpanan untuk menyimpan sesi rekaman. Gunakan
+RecordingCallback.onError(RECORDING_ERROR_INSUFFICIENT_SPACE) bila
+tidak cukup ruang untuk menyimpan sesi rekaman.
Bila pengguna memulai perekaman, Anda harus memulai perekaman data
+secepatnya. Untuk memfasilitasinya, selesaikan setiap tugas yang memakan waktu di awal,
+seperti mengakses dan mengalokasikan ruang penyimpanan, saat sistem memanggil callback
+onCreateRecordingSession(). Hal ini akan memungkinkan Anda memulai
+perekaman dengan segera bila callback onStartRecording()
+dipicu.